Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Anicca : Bhikkhu Santaviro

Anicca



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Ratiyā jāyatī soko, ratiyā jāyatī bhayaṁ
Ratiyā vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṁ
Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan; bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan
(Dhammapada 214)


Bagi orang yang pertama kali belajar agama Buddha, sulit untuk menerima pernyataan Sang Buddha bahwa kehidupan ini adalah penderitaan, kehidupan ini adalah tidak memuaskan, dukkha. Sehingga kemudian, orang menilai bahwa agama Buddha sangat pesimistis, agama Buddha tidak ceria. Sebenarnya, ketika menerangkan fenomena itu, Sang Buddha memberikan penjelasan yang terus terang, blak-blakan, dan tanpa ditutup-tutupi.

Kalau kita mengakui secara jujur, kehidupan sekarang ini bukanlah suatu kenikmatan yang tertinggi. Kehidupan ini bukan suatu puncak, bukan suatu keadaan yang sesuai dengan harapan kita yang sesungguhnya. Kalau kita konsekuen bahwa kehidupan ini adalah kenikmatan tertinggi, maka kehidupan ini adalah memuaskan, sehingga kita tidak perlu berjuang, tidak perlu meningkatkan kesejahteraan hidup, dan kita tidak perlu beragama. Kenyataannya, kita harus terus-menerus berjuang, untuk mewujudkan cita-cita luhur yang ingin kita capai.

Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, Saṁyutta Nikāya Sang Buddha menjelaskan Empat Kebenaran Mulia yang Beliau temukan. Adanya penderitaan merupakan kebenaran mulia yang pertama. Tidak berhenti di situ, Sang Buddha menerangkan kebenaran-kebenaran mulia lainnya, yaitu; sebab dari penderitaan, penderitaan dapat dilenyapkan, dan ada jalan untuk melenyapkan penderitaan. Empat Kebenaran Mulia ini juga dapat diibaratkan dengan identifikasi dan diagnosis suatu penyakit, kesembuhan, dan cara-cara untuk mendapatkan kesembuhan.

Karena manusia tidak suka menderita, sebagian besar manusia menghalangi kesadarannya pada kenyataan penderitaan, sehingga manusia tidak menyadari kondisi yang sebenarnya. Manusia bisa saja berpura-pura bahwa segala sesuatu adalah memuaskan walaupun kenyataannya tidak demikian. Manusia bisa saja menolak untuk memperhatikan penderitaan dengan manyalahgunakan alkohol dan obat-obatan, atau melalui pengaturan jadwal yang ketat sehingga tidak memiliki waktu untuk melakukan refleksi atas dirinya sendiri. Tetapi sampai kapan? Sampai kapan manusia harus lari dari kenyataan penderitaan? Lari dari kenyataan hanya akan menambah masalah baru yang tidak perlu.

Penderitaan itu untuk diatasi, bukan untuk ditakuti ataupun dihindari. Penderitaan juga untuk disadari, dipahami, kemudian diatasi. Satu ilustrasi, kalau kita mengidap penyakit, kita harus mau mengakui bahwa kita sedang sakit. Kita hendaknya mengakui kenyataan itu. Kita harus sadar bahwa demikianlah adanya kehidupan ini sehingga melalui kesadaran adanya penyakit, kita akan mengobatinya melepaskan diri dari jeratannya. Bukan dengan berpura-pura tidak sakit, tidak peduli, sehingga kita menjauhi obat. Akibatnya, penyakit terus menggerogoti kita. Fatal, bukan?

Sang Buddha mengajarkan kita untuk menjadi dewasa dalam menghadapi kehidupan, menghadapi kenyataan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Jangan melekat pada keduanya atau hanyut dalam kesenangan dan penderitaan. Kita diajarkan untuk menjadi dewasa dalam menghadapi perubahan dan tidak mungkin menghentikan perubahan. Kita tidak mungkin menolak perubahan, karena perubahan adalah sifat kehidupan ini. Perubahan adalah corak dasar kehidupan ini.

Ajaran Sang Buddha bukan untuk menghentikan perubahan, tetapi untuk menghentikan penderitaan. Tidak menderita dalam menghadapi perubahan, itulah yang diajarkan Sang Buddha. Kalau suatu ketika kita memiliki kedudukan yang tinggi, maka mau tidak mau kita harus siap turun dari kedudukan itu.

Sayangnya, sekali menjadi pejabat, manusia ingin menduduki jabatan itu selamanya. Mereka yang seperti ini sedang menderita penyakit AIDS (aku ingin di atas selalu). Manusia lupa bahwa kehidupan ini adalah perubahan. Manusia lupa bahwa kehidupan ini tidak kekal, tidak statis, dan dinamis. Demikianlah, orang yang menolak perubahan adalah orang yang paling menderita di dunia ini.

Sang Buddha telah menunjukkan kepada kita bahwa kita mempunyai potensi untuk maju, mempunyai potensi untuk berubah menjadi lebih baik. Bagi mereka yang senang meratapi penderitaannya, tentu saja mereka beranggapan bahwa kesuksesan tidak berada dalam genggamannya. Tetapi, bagi mereka yang sudah terlepas dari pandangan sempit dan telah menggali kemampuan dirinya, maka kesuksesan berada dalam genggamannya. Ia yang menyadari potensi dirinya akan selalu siap menghadapi kehidupan ini. Ia yang mempercayai kemampuannya tidak akan ragu-ragu, tidak akan bimbang dalam menghadapi setiap masalah. 
(13 Mei 2007)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar