Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Karma Buruk Melalui Ucapan : Bhikkhu Gunasilo

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Saccaṁ bhae na kujjheyya, dajjā appasmimpi yācito
Etehi tīhi hānehi, gacche devāna santike
Hendaknya orang berbicara benar, hendaknya orang tidak marah;
hendaknya orang memberi walaupun sedikit kepada mereka yang membutuhkan. Dengan tiga cara ini, orang dapat pergi ke hadapan para dewa.
 

(Dhammapada XVII: 4)
Ucapan buruk adalah ucapan yang disampaikan tidak baik, buruk, ternoda, dan tercela. Kita sering sekali mendengarkan kata-kata yang kasar dalam kehidupan sehari-hari, apakah di rumah, di kantor, lingkungan masyarakat, atau di tempat-tempat lainnya. Mereka sering berkata dan berucap kata-kata kotor, kasar, tanpa berpikir terlebih dahulu. Pokoknya kalau tidak suka dengan orang lain, apapun akan keluar dari mulutnya, sampai-sampai penghuni kebun binatang dibawa-bawa demi melampiaskan kemarahannya. Kita tahu bahwa ucapan yang kasar itu akan membawa akibat bagi dirinya dan orang lain yang diajak bicara. Contoh yang sederhana saja, adalah jika kita membentak orang lain, tentu orang itu akan marah dan benci dengan kita. Tetapi sebaliknya, jika kita berucap dengan kata yang lemah lembut dan sopan kepada orang lain, maka akan menimbulkan kebahagiaan bagi orang tersebut dan kita pun merasa bahagia dengan orang yang kita ajak bicara.

Kata-kata yang kita ucapkan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita terutama dalam berkomunikasi terhadap teman atau orang lain. Kata-kata yang kita ucapkan dengan niat yang baik akan membawa kebahagiaan, sebaliknya jika diucapkan dengan kata-kata yang tidak ramah atau kotor dan kasar, sudah barang tentu akan merusak hubungan komunikasi, menimbulkan permusuhan, kebencian, kekecewaan, dendam, dan sakit hati. Kita sering membaca koran, majalah, dan yang lainnya, bahwa ucapan yang tidak baik atau kasar akan membawa akibat penderitaan bagi si pembuatnya. Hal ini pernah terjadi, ada seorang suami yang tega membunuh istrinya gara-gara ucapan. Ceritanya sebagai berikut: ”Pada suatu hari sang suami pulang kerja, kemudian ia meminta diambilkan makanan oleh istrinya, lalu sang istri menjawab dengan kata-kata yang pedas, maka terjadilah perang berdarah yang menimbulkan korban jiwa, sungguh merupakan peristiwa yang tragis sekali.”

Kasihan kan! Kalau hanya gara-gara urusan sepele saja sang istri menjadi korban pembunuhan sang suami, akibatnya bukan saja istri yang menjadi korban meninggal dunia, sang suami pun ikut masuk dalam penjara, anak-anak pun menjadi terlantar. Kalau sudah begini semuanya ikut menderita, terutama anak-anak yang tidak tahu permasalahannya. Hal serupa juga pernah terjadi pada jaman Sang Buddha, seperti yang terdapat dalam Dhammapada Aññhakathā, dikisahkan bahwa pada masa Buddha Kassapa terdapat seorang bhikkhu bernama Kapila yang sangat terpelajar, ia memperoleh kemasyhuran dan keberuntungan. Ia menjadi sangat sombong dan memandang rendah bhikkhu-bhikkhu lain. Bila bhikkhu lain menunjukkan keadaannya yang pantas dan apa yang tidak pantas, ia selalu menjawab dengan kata-kata yang kasar dan pedas. Hal ini menandakan bahwa ia tahu lebih banyak daripada bhikkhu-bhikkhu yang lain. Dengan demikian, lama-kelamaan semua bhikkhu yang baik menjauhinya. Pada suatu hari di hari uposatha, ketika para bhikkhu mengulang patimokkha, Kapila berbicara melecehkan para bhikkhu, kemudian ia meninggalkan para bhikkhu yang berkumpul. Jadi Kapila merupakan rintangan bagi para bhikkhu. Berhubung perbuatannya yang jahat, setelah kematiannya ia dilahirkan sebagai ikan emas di Sungai Acirawati. Ikan tersebut mempunyai tubuh berwarna keemasan yang sangat indah, tetapi mulutnya berbau busuk.

Suatu hari ikan tersebut ditangkap oleh beberapa nelayan dan membawanya ke hadapan raja dan kemudian raja membawa ikan tersebut kepada Sang Buddha. Ketika ikan membuka mulutnya, bau busuk sangat menusuk hidung dan menyebar ke sekeliling. Kemudian raja bertanya kepada Sang Bhagava; ’Mengapa ikan yang seindah ini memiliki bau busuk?’ O Raja, pada masa Buddha Kassapa ada seorang bhikkhu yang sangat terpelajar yang mengajarkan Dhamma pada yang lainnya, karena perbuatan baik itu, ia lahir kembali pada kehidupan yang lain. Meskipun sebagai ikan, ia mempunyai tubuh keemasan, tetapi bhikkhu itu sangat serakah, sombong, dan memandang rendah orang lain. Karena perbuatan yang buruk ia dilahirkan di alam neraka, dan sekarang ia menjadi seekor ikan yang indah dengan mulut yang berbau busuk. Dengan dipenuhi perasaan sedih pada saat kematiannya, ikan tersebut dilahirkan kembali di alam neraka untuk menerima akibatnya.

Dari cerita ini bisa diambil kesimpulan bahwa ternyata ucapan itu apabila diucapkan dengan kata-kata kasar, melecehkan atau merendahkan orang lain, nantinya akan membawa akibat bagi kita, menimbulkan kelahiran di alam yang rendah.

Seperti seorang bhikkhu yang bernama Kapila, meskipun ia pandai, pintar, tetapi karena tidak bisa menjaga ucapan dan selalu merendahkan serta melecehkan orang lain, maka ia terlahir di alam neraka, dan setelah lahir di alam neraka ia terlahir kembali menjadi ikan emas yang bertubuh indah tetapi mulutnya berbau busuk. Untuk itu, kita sebagai umat Buddha, kita harus berbicara yang benar. Sang Buddha pernah menerangkan bahwa bagaimana cara yang baik dan benar dalam berbicara. Dalam petikan Aïguttara Nikāya (kelompok V, 198), dijelaskan bahwa kata-kata yang diucapkan dengan baik memiliki lima khandha, apakah lima khandha itu? Ucapan yang tepat waktu, ucapan yang benar, ucapan lembut, ucapan bertujuan, ucapan yang diucapkan dengan pikiran cinta kasih. Inilah lima tanda ucapan yang baik. Kalau kita ingin berbicara hendaklah berpikir terlebih dahulu jangan sampai merugikan orang lain. Untuk itu, marilah kita sebagai umat Buddha janganlah melakukan perbuatan yang salah melalui ucapan, karena ucapan yang tidak baik akan merugikan kita dan semua makhluk.
Sumber: Dhammapada Aṭṭhakathā, XXIV: 1-4;Petikan Aguttara Nikāya II.
(20 Mei 2007)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar