Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

catatan ajahn chah - (3)

Guru
125. Anda adalah guru bagi diri Anda sendiri. Mencari guru tidak akan menyelesaikan
keraguan Anda sendiri. Periksalah diri Anda untuk menemukan kebenaran- di dalam,
bukan di luar. Mengenali diri Anda adalah sangat penting


126. Salah seorang guru saya makan dengan cepat. Dia bersuara saat makan. Lalu ia berkata
kepada kami agar makan dengan pelan dan penuh perhatian. Saya selalu melihatnya
dengan perasaan kesal. Saya menderita dan ia tidak! Saya melihat keluar. Selanjutnya
saya belajar bahwa beberapa orang berkendaraan sangat cepat tapi hati-hati; lainnya
berkendaraan dengan lambat dan mengalami banyak kecelakaan. Jangan berpegang
pada peraturan, pada kulit luarnya. Bila Anda melihat yang lainnya sekitar sepuluh
persen dari waktumu dan melihat diri Anda sendiri sembilanpuluh persen dari
waktumu, latihan Anda telah baik.

127. Para siswa sulit untuk diajar. Beberapa orang mengetahui, tapi tidak berusaha untuk
berlatih. Beberapa orang tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. Saya tidak tahu
harus berbuat apa pada mereka. Mengapa manusia memiliki pikiran seperti itu. Tidak
baik menjadi orang yang tidak peduli. Walau saya memberitahunya, mereka tetap tidak
mendengarkan. Manusia sungguh penuh dengan keraguan dalam latihannya. Mereka
selalu ragu. Mereka ingin mencapai Nibbana tetapi tidak mau mengikuti Sang Jalan. Ini
membingungkan. Ketika saya menyuruh mereka meditasi, mereka takut, dan bila tidak
takut, mereka hanya mengantuk. Sebenarnya mereka suka melakukan hal yang tidak
saya ajarkan. Inilah penderitaan menjadi guru.

128. Bila kita dapat melihat kebenaran dari ajaran Sang Buddha secara mudah, kita tidak
memerlukan banyak guru. Ketika kita mengerti ajaran-Nya, kita hanya melakukan apa
yang diminta untuk dilakukan. Namun apa yang membuat orang menjadi kesulitan
untuk belajar adalah bahwa mereka tidak menerima ajaran dan berdebat dengan guru
dan ajarannya. Di depan guru, mereka bersikap sedikit lebih baik; tetapi di belakang
guru, mereka menjadi maling. Orang-orang sangat sulit untuk diajar.

129. Saya tidak mengajar murid-murid saya untuk hidup dan latihan tanpa perhatian. Tetapi
itulah yang dilakukan saat saya tidak ada. Ketika polisi ada, maling bertingkah baik.
Ketika polisi bertanya apakah ada maling, tentu saja mereka semua berkata tidak ada
dan mereka tidak pernah melihatnya. Tetapi begitu polisi berlalu, mereka bertingkah
lagi. Hal itu juga terjadi di zaman Sang Buddha. Jadi, lihatlah diri Anda sendiri dan
jangan peduli dengan tingkah laku yang dilakukan orang.

130. Guru yang sesungguhnya hanya berbicara mengenai latihan yang sulit untuk
meninggalkan atau melepaskan ke-aku-an. Apapun yang terjadi, jangan meninggalkan
guru. Biarkan guru membimbing Anda, karena mudah untuk melupakan Sang Jalan.

131. Keraguan tentang guru Anda dapat membantu Anda. Ambillah dari guru Anda apa yang
baik dan waspadalah pada latihan sendiri. Kebijaksanaan itu untuk Anda perhatikan dan
kembangkan.

132. Jangan percaya pada guru karena dia mengatakan buah itu manis dan lezat. Cicipi
sendiri dan semua keraguan akan sirna.

133. Guru adalah mereka yang menunjukkan arah Sang Jalan. Setelah mendengarkan guru,
apakah kita berjalan atau tidak pada jalan tersebut dengan melakukan latihan sendiri
dan mendapat buah dari berlatih, adalah tergantung kita masing-masin.

134. Kadang-kadang, mengajar merupakan pekerjaan yang sulit. Seorang guru seperti tempat
sampah, semua orang membuang frustasi dan masalahnya. Semakin banyak orang yang
Anda ajar, semakin besar kapasitas tempat sampah masalah. Tetapi mengajar adalah
cara yang menakjubkan untuk berlatih Dhamma. Mereka yang mengajar berkembang
dalam kesabaran dan pengertian.



135. Seorang guru tidak akan benar-benar menyelesaikan seluruh kesulitan kita. Dia
hanyalah sumber untuk menyelidiki Sang Jalan. Dia tidak dapat membuat masalah jadi
jelas. Sebenarnya apa yang dikatakannya tidak layak untuk didengar. Sang Buddha
tidak pernah mempercayai orang lain. Kita harus mempercayai diri sendiri. Hal ini sulit,
ya, tetapi inilah yang seharusnya. Kita melihat keluar tetapi tidak pernah benar-benar
memandang. Kita harus memilih untuk benar-benar berlatih. Keraguan tidak hilang
dengan bertanya pada orang lain, tetapi melalui latihan terus-menerus.

 Pengertian dan Kebijaksanaan
136. Tidak ada seseorang dan sesuatu yang dapat membebaskan Anda selain pemahaman
diri Anda sendiri.

137. Seorang yang gila dan seorang Arahat, keduanya tersenyum. Tetapi Arahat mengetahui
mengapa tersenyum sedangkan orang gila tidak.

138. Seorang yang pintar melihat yang lainnya, tetapi dia melihat dengan kebijaksanaan,
tidak dengan kebodohan. Bila seseorang melihat dengan kebijaksanaan, orang itu akan
banyak belajar. Tetapi seseorang yang melihat dengan kebodohan hanya akan
menemukan kesalahan.

139. Masalah sebenarnya pada manusia saat ini adalah mereka mengetahui tetapi tetap tidak
melaksanakan. Masalahnya lain bila mereka tidak melaksanakan karena mereka tidak
tahu. Tetapi bila mereka telah mengetahui dan tetap tidak melaksanakan; apa
masalahnya?

140. Pemahaman kitab suci dari kulitnya tidak penting. Tentu saja buku Dhamma adalah
benar namun tidak betul. Buku Dhamma tidak dapat memberikan Anda pengertian yang
tepat. Untuk melihat kata “amarah” yang tercetak tidak sama dengan merasakan
kemarahan. Hanya merasakan dengan diri Anda sendiri dapat memberi Anda keyakinan
sebenarnya.

141. Bila Anda melihat hal-hal dengan pengertian benar maka tiada kemelekatan dalam
hubungan hal-hal tersebut. Mereka datang --senang dan tidak senang– Anda melihatnya
dan tanpa kemelekatan. Mereka datang dan pergi. Walau bila kekotoran batin yang
terburuk muncul, seperti keserakahan dan kemarahan, ada cukup kebijaksanaan untuk
melihat perubahan secara alami dan membiarkannya memudar. Bila Anda bereaksi,
bagaimanapun, dengan menyukai atau tidak menyukai, itu bukanlah kebijaksanaan.
Anda hanya menciptakan lebih banyak penderitaan untuk diri Anda sendiri.

142. Ketika kita mengetahui kebenaran, kita menjadi orang yang tidak perlu banyak berpikir.
Kita menjadi orang bijaksana. Bila kita tidak mengetahui, kita lebih banyak berpikir
daripada menggunakan kebijaksanaan atau munkgin tanpa kebijaksanaan sedikitpun.
Banyak berpikir tanpa kebijaksanaan adalah penderitaan luar biasa.

143. Saat ini orang tidak mencari Kebenaran. Orang belajar hanya agar dapat memperoleh
pengetahuan yang dibutuhkan untuk hidup, memelihara keluarga dan menjaga diri
mereka sendiri, itu saja. Bagi mereka menjadi pandai adalah lebih penting daripada
menjadi bijaksana.

Kebajikan


144. Berhati-hatilah menjaga sila kita. Kebajikan adalah inti dari rasa malu. Apa yang kita
ragukan, seharusnya kita tidak lakukan atau katakan. Itulah kebajikan. Kemurnian
melewati semua keraguan.

145. Ada dua tingkat latihan. Tingkat pertama membentuk landasan, yaitu pengembangan
kebajikan, sila, agar dapat membawa kebahagiaan dan harmonis di antara manusia.
Tingkat kedua adalah latihan Dhamma dengan tujuan utama membebaskan batin.
Pembebasan adalah sumber dari kebijaksanaan dan kasih sayang, dan ini tujuan
sesungguhnya dari ajaran Sang Buddha. Mengerti kedua tingkatan ini adalah dasar dari
latihan sebenarnya.

146. Kebajikan dan moral adalah ayah dan ibu dari Dhamma yang berkembang dalam diri
kita. Keduanya menyediakan Dhamma dengan memberikan kebutuhan dan bimbingan
yang tepat.

147. Kebajikan adalah dasar untuk dunia yang harmonis dimana manusia dapat hidup benar-
benar sebagai manusia dan bukan sebagai binatang. Mengembangkan kebajikan adalah
inti dari latihan. Jaga sila. Kembangkan cinta kasih dan hormati semua yang hidup.
Sadarlah dalam semua perbuatan dan ucapan Anda. Gunakan kebajikan untuk membuat
hidup Anda sederhana dan murni. Dengan kebajikan sebagai dasar dari segalanya yang
Anda lakukan, pikiran Anda akan menjadi baik, jernih, dan tenang. Meditasi akan
berkembang dalam lingkungan ini dengan mudah.

148. Jagalah kebajikan Anda seperti seorang tukang kebun menjaga tanamannya. Jangan
melekat pada yang besar atau kecil, penting atau tidak penting. Beberapa orang
menginginkan jalan pintas. Mereka berkata,”Lupakan konsentrasi, kita langsung pada
pandangan terang; lupakan kebajikan, kita mulai dengan konsentrasi.” Kita memiliki
banyak alasan untuk kemelekatan kita.

149. Usaha benar dan kebajikan bukanlah apa yang Anda lakukan di luar tetapi lebih
merupakan kesadaran dan pengendalian diri secara tetap. Jadi, berdana, bila diberikan
dengan perhatian yang baik, dapat membawa kebahagiaan pada diri sendiri dan orang
lain. Tetapi kebajikan harus menjadi akar dari dana ini, agar menjadi murni.

150. Sang Buddha mengajarkan kita untuk menahan diri dari perbuatan buruk, lakukan
perbuatan baik, dan sucikan hati. Lalu, latihan kita, adalah meninggalkan apa yang
tidak berharga dan menyimpan apa yang berharga. Apakah Anda masih memiliki
sesuatu yang buruk atau tidak terlatih dalam hati? Tentu saja! Lalu mengapa tidak
membersihkannya? Tetapi latihan sebenarnya tidak hanya melepaskan yang buruk dan
mengembangkan yang baik. Ini hanyalah bagian dari latihan. Pada akhirnya kita harus
melewati keduanya, yang baik dan buruk. Akhirnya hanya ada kebebasan yang meliputi
semua dan tanpa nafsu, darimana cinta dan kebijaksanaan mengalir secara alami.

151. Kita harus memulai dari sini, dimana kita berada, secara langsung dan sederhana.
Ketika dua langkah pertama, kebajikan dan pandangan benar, telah terlengkapi, lalu
cara ketiga mengatasi kekotoran batin akan terjadi secara alami tanpa pertimbangan.
Ketika cahaya dihasilkan, kita tidak lagi kuatir melewati kegelapan, tidak juga ingin
tahu kemana kegelapan pergi. Kita hanya tahu bahwa ada cahaya.

152. Ada tiga tingkatan dalam mempraktekan sila. Pertama, mengerjakan sebagai peraturan
latihan yang diberikan guru kepada kita. Yang kedua muncul ketika kita mengerjakan
dan mematuhi sila oleh kita sendiri. Tetapi untuk mereka yang ada di tingkat tertinggi,
para siswa utama, adalah tidak penting untuk membicarakan sila, baik dan buruk.


Kebajikan sejati datang dari kebijaksanaan yang mengetahui Empat Kebenaran Mulia
dalam hati dan bertingkah laku atas pemahaman ini.

153. Beberapa bhikkhu lepas jubah untuk pergi ke garis depan dimana peluru berterbangan
melewatinya setiap hari. Mereka lebih memilih hal itu. Mereka benar-benar ingin pergi.
Mara bahaya menyergap di sekitar mereka dan mereka tetap saja bersedia untuk pergi.
Mengapa mereka tidak melihat bahaya? Mereka siap mati dengan senjata api tetapi
tidak ada yang mau mati untuk mengembangkan kebajikan. Hal ini benar-benar
mengherankan, iya kan?

Serba-serbi
154. Salah seorang murid Ajahn Chah punya masalah pada lututnya yang hanya dapat
disembuhkan melalui operasi. Biarpun para dokter telah menjamin bahwa lututnya akan
sembuh dalam beberapa minggu, berbulan-bulan telah lewat dan tetap saja belum
sembuh benar. Ketika ia bertemu Ajahn Chah lagi, ia mengeluh, ”Mereka bilang
penyembuhannya tidak akan lama. Ini tidak berjalan semestinya.” Ajahn Chah tertawa
dan berkata, “Bila hal ini tidak seharusnya begini, maka hal ini tidak akan menjadi
begini.”

155. Bila seseorang memberimu sebuah pisang yang besar, berwarna kuning, manis dan
harum tetapi beracun, akankah Anda memakannya? Tidak, kan! Walaupun kita
mengetahui bahwa kesenangan nafsu indera itu “beracun”, kita tetap saja maju dan
“memakannya”!

156. Lihatlah kekotoran batin Anda, kenalilah seperti Anda mengenal racun seekor kobra.
Anda tidak akan menangkap ular kobra karena Anda mengetahui bahwa ular kobra itu
dapat membunuh Anda. Lihatlah bahaya pada sesuatu yang berbahaya dan manfaatkan
sesuatu yang berguna.

157. Kita selalu merasa tidak puas. Dalam buah yang manis, kita merasa kurang asam; dalam
buah asam, kita merasa kurang manis.

158. Bila Anda memiliki sesuatu berbau busuk dalam saku Anda, kemanapun Anda pergi
tetap saja akan berbau busuk. Jangan salahkan tempatnya.

159. Agama Buddha di Timur, sekarang, seperti sebuah pohon besar terlihat penuh
keagungan, tetapi hanya dapat memberi buah yang hambar dan kecil. Agama Buddha di
Barat seperti pohon muda, belum mampu memberikan buah, tetapi memiliki potensi
untuk memberikan buah yang besar dan manis.

160. Orang zaman sekarang terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak hal yang diminati, tetapi
tidak ada satu pun yang membimbing mereka menuju penyelesaian yang benar.

161. Hanya karena Anda mencoba dan menyebut alkohol sebagai “parfum” tidak berarti
dapat membuatnya menjadi parfum, Anda tahu. Tetapi, Anda sekalian, ketika ingin
minum alkohol, Anda berkata ini parfum, lalu Anda tetap meminumnya. Anda sudah
gila!

162. Orang selalu melihat ke luar, pada seseorang dan benda. Mereka melihat sebuah
ruangan besar, sebagai contoh, lalu berkata, “Oh, ruangan ini sangat besar!” Sebenarnya
tidak terlalu besar. Bagaimanapun terlihat besar, tergantung pada cara pandang Anda
terhadapnya. Kenyataannya ruang besar ini memiliki ukuran semestinya, tidak besar
maupun kecil. Orang, bagaimanapun juga, mengikuti perasaannya tiap saat. Mereka


sangat sibuk mencari dan berpendapat tentang apa yang dilihat dan tidak memiliki
waktu untuk melihat dirinya sendiri.

163. Beberapa orang merasa bosan, muak, letih berlatih dan malas. Kelihatannya mereka
tidak dapat mempertahankan Dhamma dalam pikiran. Namun, jika Anda pergi dan
memakinya, mereka tidak akan pernah lupa. Beberapa orang mungkin mengingatnya
seumur hidup dan tidak pernah memaafkan Anda untuk itu. Tetapi ketika hal itu
berkenaan pada ajaran Buddha, mengajarkan kepada kita untuk bersikap tenang, tetap
terkendali, berlatih sungguh-sungguh, mengapa mereka tetap melupakan akan hal ini?
Mengapa orang tidak menyimpannya di dalam hati?

164. Menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain adalah tidak benar. Menganggap
bahwa diri kita sejajar dengan lainnya adalah tidak benar. Menganggap bahwa diri kita
lebih rendah dari orang lain adalah tidak benar. Bila kita menganggap bahwa kita lebih
baik daripada yang lainnya, kesombongan akan muncul. Bila kita berpikir bahwa diri
kita sederajat dengan yang lainnya, kita gagal untuk menunjukkan hormat dan rendah
hati pada waktu yang tepat. Bila kita berpikir lebih rendah dari orang lain, kita menjadi
tertekan memikirkan kita lebih rendah, terlahir di bawah naungan bintang yang buruk
dan sebagainya. Lepaskanlah semuanya!

165. Kita harus belajar untuk membiarkan suatu keadaan dan tidak mencoba untuk melawan
atau menahannya. Kita berharap agar kondisi sesuai dengan keinginan kita. Kita
mencari segala cara untuk menghadapinya. Jika tubuh jatuh sakit dan menderita, kita
tidak ingin seperti ini, lalu kita mencari berbagai sutta untuk dibaca. Kita ingin
mengontrolnya. Pembacaan sutta ini menjadi semacam upacara mistik, membuat kita
semakin terjerat dalam kemelekatan. Hal ini karena kita membaca paritta untuk
mengusir penderitaan, memperpanjang umur dan sebagainya. Sebenarnya Sang Buddha
memberi kita ajaran ini untuk membantu kita mengenal kebenaran dari tubuh, sehingga
kita dapat membiarkan seperti apa adanya dan melepaskan keinginan kita, tetapi kita
justru membacakan paritta untuk meningkatkan kekotoran batin.

166. Kenalilah tubuh Anda sendiri, hati, dan pikiran. Puaslah terhadap hal yang kecil. Jangan
melekat pada ajaran. Jangan terpaku dan terikat pada emosi.

167. Beberapa orang takut berdana. Mereka merasa bahwa mereka akan diperas atau ditekan.
Selain mengembangkan dana, kita hanya menekan keserakahan dan kemelekatan. Hal
ini membiarkan sifat alami kita menunjukkan dirinya dan menjadi lebih ringan dan
bebas.

168. Bila Anda keluar dan menaruh api di rumah tetangga, api itu akan membakar. Bila
Anda menaruh api di rumah Anda sendiri, seperti hal sebelumnya, api itu akan
membakar. Jadi jangan menaruh api yang dapat membakar Anda, tidak peduli apa dan
dimana.

169. Orang luar mungkin menyebut kami gila, hidup di hutan seperti ini, duduk seperti
patung. Tetapi bagaimana mereka hidup? Mereka tertawa, menangis, mereka telah
terperangkap pada ketamakan dan kebencian sampai-sampai mereka membunuh dirinya
sendiri atau satu dengan lainnya. Siapa yang sebenarnya gila?

170. Tidak hanya mengajar umat, Ajahn Chah juga melatih mereka dengan menciptakan
suatu lingkungan umum dan situasi tertentu dimana mereka dapat belajar tentang diri
sendiri. Ia akan berkata, “Terhadap apa yang telah saya ajarkan, mungkin Anda
mengerti 15%.” Atau “Ia telah menjadi bhikkhu selama lima tahun, jadi ia mengerti
5%.” Seorang bhikkhu yang lebih muda menanggapi kata-kata terakhirnya, “Jadi saya


memiliki 1%, saya sudah di sini selama setahun.” “Tidak.” jawab Ajahn Chah. “Empat
tahun pertama Anda tidak memiliki apapun, lalu pada tahun kelima, Anda memiliki
5%.”

171. Suatu ketika salah satu murid Ajahn Chah ditanya apakah ia berencana melepas jubah,
apakah ia akan meninggal dengan jubah kuningnya. Murid itu berkata bahwa hal itu
sangat sulit untuk dipikirkan, walaupun ia tidak berencana lepas jubah, ia benar-benar
tidak dapat memutuskan bahwa ia tidak akan melakukannya. Ketika ia melihat lebih
dalam, katanya, pikirannya serasa tidak berarti. Ajahn Chah menjawab dengan berkata,
“Segala yang tidak berarti adalah Dhamma yang sebenarnya.”

172. Ketika seseorang bertanya pada Ajahn Chah mengapa begitu banyak kejahatan di
Thailand, sebuah negara Buddhist, atau mengapa Indochina begitu berantakan.
Katanya, “Bukan umat Buddha yang melakukan segala hal tersebut. Bukan pula ajaran
agama Buddha yang melakukan. Orang-orang itulah yang melakukan. Sang Buddha
tidak pernah mengajarkan begitu.”

173. Suatu ketika seorang pengunjung bertanya pada Ajahn Chah apakah ia seorang Arahat.
Ajahn Chah menjawab, “Saya seperti pohon di hutan. Burung datang ke pohon, hinggap
di dahan, dan makan buah. Bagi burung, buahnya mungkin manis atau asam atau
lainnya. Tetapi pohon itu tidak mengetahui apapun. Burung itu berkata manis atau
berkata asam, tetapi dari sudut pandang pohon itu, hal ini hanyalah celoteh burung.”

174. Seseorang berkomentar, “Saya dapat memperhatikan keinginan dan kemalasan dalam
pikiran saya, tetapi sulit untuk meneliti khayalan.” “Anda menunggang kuda dan
bertanya kemana kuda itu?” jawab Ajahn Chah.

175. Beberapa orang menjadi bhikkhu tanpa keyakinan namun kemudian menjelek-jelekkan
ajaran Sang Buddha. Mereka tidak mengetahui dirinya lebih baik. Orang yang benar-
benar berlatih sedikit saat ini karena mereka harus mengatasi banyak rintangan. Tetapi
bila hal itu tidak baik, biarkan mati; bila tidak mati, buatlah menjadi baik.

176. Anda berkata Anda mencintai kekasih Anda seratus persen. Baik, buatlah terbalik dan
lihat berapa persen dari dia yang tetap Anda cintai. Atau bila Anda merindukan kekasih
Anda saat tidak bersama, mengapa tidak meminta padanya untuk mengirimkan sebotol
kecil kotorannya. Dengan cara ini, ketika Anda memikirkan keberadaannya, Anda dapat
membuka botol itu dan menciumnya. Menjijikan? Apakah itu yang Anda cintai?
Apakah yang membuat hati Anda tertumbuk seperti penumbuk padi, setiap seorang
wanita bergaya menarik datang menghampiri atau Anda mencium parfumnya di udara?
Apakah itu? Apakah dorongan itu? Mereka menarik dan menghisap Anda kedalamnya,
tetapi Anda tidak berusaha berjuang, betulkah? Ada harga yang harus dibayar akhirnya,
kenalilah!

177. Suatu hari Ajahn Chah terhadang sebuah dahan besar dan berat yang merintangi jalan
dan ia mau menyingkirkannya. Ia menyuruh muridnya untuk memegang salah satu sisi
sedang ia mengangkat sisi lainnya. Ketika mereka memegang dahan tersebut dan siap
untuk melemparkannya, ia memandang (muridnya) dan bertanya, “Apakah berat?” Dan
setelah mereka melemparnya ke hutan, ia bertanya kembali, “Sekarang, apakah berat?”
Seperti inilah yang diajarkan Ajahn Chah pada muridnya untuk melihat Dhamma pada
setiap hal yang mereka katakan dan lakukan. Dalam kasus ini, ia menunjukkan
keuntungan “melepaskan.”

178. Seorang murid Ajahn Chah sedang melepas kabel radio tape ketika tiba-tiba secara
tanpa sengaja menyentuh bagian logam dari kabel itu ketika sedang tercolok. Ia terkejut


dan menjatuhkannya seketika. Ajahn Chah memperhatian dan berkata, “Oh! Bagaimana
kau dapat melepaskannya dengan mudah? Siapa yang menyuruh?”

179. Saat Natal, para bhikkhu asing memutuskan untuk merayakannya. Mereka mengundang
beberapa umat awam dan juga Ajahn Chah untuk bergabung bersama. Umat awam
umumnya kecewa dan tidak menyetujui hal tersebut. Mengapa, mereka bertanya, umat
Buddha merayakan Natal? Ajahn Chah memberikan komentar mengenai agama dengan
berkata, “Selama yang saya mengerti, umat Kristen mengajarkan orang untuk
melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan, seperti ajaran Buddha, lalu apa
masalahnya? Namun, bila orang kecewa dengan ide merayakan Natal, hal ini dapat
dengan mudah diatasi. Kita tidak akan menyebutnya Natal. Katakanlah saja “Natal-
Buddha.” Apa saja yang dapat menginspirasikan kita untuk melihat apa yang benar dan
melakukan apa yang baik adalah latihan yang pantas. Anda dapat menyebutnya dengan
sebutan apa saja yang Anda suka.”

180. Selama pengungsi membanjiri Thailand dari Laos dan Kamboja, organisasi
kemanusiaan yang datang menolong begitu banyak. Hal ini membuat para bhikkhu dari
Barat berpikir adalah tidak benar para bhikkhu dan bhikkhuni hanya duduk di hutan
sedangkan organisasi beragama lainnya dengan aktif berpartisipasi meringankan
penderitaan para pengungsi. Lalu mereka menghampiri Ajahn Chah untuk
mengungkapkan keperduliannya dan inilah yang dikatakan, “Membantu di tenda
pengungsian adalah baik. Adalah seharusnya tugas kita sebagai manusia untuk saling
membantu. Tetapi melewati kegilaan sendiri agar kita dapat membawa orang lain
melewatinya, itulah satu-satunya penyembuhan. Setiap orang bisa pergi dan
membagikan pakaian dan membangun tenda, tetapi berapa yang dapat datang ke hutan
dan duduk untuk mengenali pikirannya? Selama kita tidak tahu bagaimana cara
“memberi pakaian” dan “memberi makan” pikiran orang, selalu akan ada masalah
pengungsi dimana saja di dunia ini.”

181. Ajahn Chah mendengar salah seorang muridnya mengumandangkan Sutra Hati. Ketika
telah selesai, Ajahn Chah berkata, “Tidak ada kekosongan juga... tidak ada Bodhisatta.”
Lalu Beliau bertanya, “Darimana sutra itu berasal?” “Hal ini telah dianggap sebagai
sabda Sang Buddha.” jawab pengikutnya. “Tidak ada Buddha.” tegas Ajahn Chah. Lalu
ia berkata, “Ini adalah pembicaraan mengenai kebijaksanaan yang dalam, melampaui
semua kebiasaan. Bagaimana kita mengajar tanpa mereka? Kita harus memberikan
nama untuk semua hal, bukankah begitu?”

182. Untuk menjadi orang suci, kita harus mengalami perubahan sampai hanya tubuh saja
yang tertinggal. Pikiran berubah seluruhnya tetapi tubuh masih ada. Masih terdapat
panas, dingin, sakit, dan penderitaan seperti biasanya. Tetapi pikiran telah berubah dan
sekarang melihat kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian dalam cahaya kebenaran.

183. Seseorang pernah bertanya pada Ajahn Chah untuk membicarakan tentang Penerangan;
dapatkah ia menjelaskan Penerangannya? Saat semua orang dengan antusias mendengar
jawabannya, Ajahn Chah menjawab, “Penerangan tidak sulit untuk dimengerti.
Ambillah pisang dan letakkan di mulut Anda, lalu Anda akan mengetahui seperti apa
rasanya. Anda harus berlatih untuk merealisasi, dan Anda harus tekun. Bila sangat
mudah untuk mengalami Penerangan, setiap orang telah melakukannya. Saya mulai
mendatangi vihara ketika saya berumur delapan tahun, dan saya telah menjadi bhikkhu
selama lebih dari empatpuluh tahun. Tetapi Anda mau bermeditasi dalam semalam atau
dua malam dan langsung mencapai Nibbana. Anda tidak hanya duduk dan –sim
salabim- jadilah Anda. Anda tahu, Anda tidak dapat meminta seseorang untuk meniup
kepala Anda dan juga membuat Anda mencapai Penerangan.



184. Cara duniawi adalah melakukan sesuatu dengan alasan untuk mendapatkan sesuatu
sebagai balasan. Tetapi dalam agama Buddha kita melakukan sesuatu tanpa
menginginkan keuntungan. Tetapi jika kita tidak menginginkan apapun, apa yang akan
kita peroleh? Kita tidak mendapatkan apa-apa! Apa pun yang kita peroleh hanyalah
sebab dari penderitaan, jadi kita berlatih untuk tidak mendapatkan apa-apa. Buatlah
pikiran damai dan lakukan dengan pikiran damai.

185. Sang Buddha mengajarkan untuk meletakkan segala sesuatu tanpa inti yang kekal. Bila
Anda meletakkan segala sesuatu, Anda akan melihat kebenaran. Jika tidak, Anda tidak
akan melihatnya. Dan ketika kebijaksanaan muncul bersama Anda, Anda akan melihat
Kebenaran kemanapun anda melihat. Kebenaran adalah semua yang Anda lihat.

186. Batin yang ‘kosong’ tidak berarti batin kosong seperti tidak ada apa-apanya di dalam.
Batin tersebut kosong dari keburukan tetapi dipenuhi dengan kebijaksanaan.

187. Orang-orang tidak merenungkan usia tua, penyakit, dan kematian. Mereka hanya suka
berbicara tentang anti-penuaan, tanpa penyakit, dan tanpa-kematian. Mereka tidak
pernah mengembangkan perasaan yang benar untuk berlatih Dhamma.

188. Kebahagiaan sebagian besar orang tergantung pada hal-hal yang sejalan dengan
kehendak mereka. Mereka harus dikelilingi orang yang hanya mengatakan hal-hal yang
menyenangkan. Begitukah cara Anda untuk menemukan kebahagiaan? Apakah
mungkin dikelilingi orang dalam dunia ini yang hanya berbicara hal-hal yang
menyenangkan? Jika demikian, kapan Anda akan menemukan kebahagiaan?

189. Pohon, gunung, dan tanaman; semuanya hidup menurut kebenarannya sendiri. Mereka
lahir dan mati mengikuti sifat alaminya; mereka tetap tenang. Tetapi manusia tidak.
Mereka mengeluh terhadap semua hal. Tetapi tubuh hanya mengikuti sifat alaminya:
lahir, tumbuh menjadi tua, dan akhirnya mati. Jika mengikuti sifat alami, dengan cara
ini. Barang siapa berharap sebaliknya, maka orang tersebut hanya akan menderita.

190. Janganlah berpikir bahwa dengan banyak belajar dan banyak mengetahui, Anda akan
mengetahui Dhamma. Ini seperti mengatakan Anda telah melihat segala sesuatu yang
dapat dilihat hanya karena Anda punya mata. Atau Anda telah mendengar segala
sesuatu yang dapat didengar karena Anda punya telinga. Anda mungkin melihat namun
Anda tidak benar-benar melihat. Anda hanya melihat dengan ‘mata luar’, tidak dengan
‘mata dalam’. Anda mendengar dengan ‘telinga luar’, tidak dengan ‘telinga dalam’.

191. Sang Buddha mengajarkan kita untuk menghentikan segala bentuk kejahatan dan
meningkatkan kebajikan. Inilah jalan yang benar. Mengajar dengan cara ini adalah
seperti Sang Buddha memungut kita dan meletakkan kita di awal jalan. Setelah
mencapai jalan, apakah kita berjalan di sepanjang jalan atau tidak, tergantung pada kita.
Tugas Sang Buddha telah selesai di sana. Beliau menunjukkan jalan, inilah yang benar
dan inilah yang salah. Ini sudah cukup, sisanya tergantung pada diri kita.

192. Anda harus tahu Dhamma untuk diri sendiri. Mengetahui untuk diri sendiri artinya
berlatih untuk diri sendiri. Anda dapat tergantung pada seorang guru hanya limapuluh
persen dari seluruhnya. Bahkan ajaran yang saya berikan kepada anda tidak berguna
sepenuhnya, walaupun itu berharga untuk didengar. Tetapi jika Anda mempercayainya
hanya karena saya yang mengatakan maka Anda tidak akan menjalankan ajaran tersebut
secara baik. Jika Anda percaya pada saya sepenuhnya maka Anda bodoh. Dengarkan
ajaran, lihat manfaatnya, praktekan ajaran tersebut untuk dirimu sendiri, lihatlah di
dalam dirimu … maka hal itu lebih berguna.



193. Kadang-kadang ketika melakukan meditasi berjalan, gerimis mulai turun. Saya ingin
segera mengakhiri dan pergi ke dalam, tetapi kemudian saya berpikir ketika saya
bekerja di sawah. Celana saya menjadi basah sejak hari sebelumnya tetapi saya harus
bangkit sebelum subuh dan memakainya kembali. Kemudian, saya harus turun ke
bawah rumah untuk membawa kerbau ke luar kandang. Banyak Lumpur di sana. Saya
meraih talinya yang tertutup kotoran kerbau. Kemudian, kerbau mengibaskan ekornya
dan menebarkan kotorannya kearah saya. Kaki saya akan terkena kutu air dan saya
berjalan sambil berpikir, “Mengapa hidup sangat tidak menyenangkan?” Dan sekarang,
di sini saya ingin menghentikan meditasi berjalan … apa artinya sedikit gerimis untuk
saya? Dengan berpikir seperti itu, saya membesarkan hati saya untuk latihan.

194. Saya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Kita membicarakan mengenai sesuatu
yang dikembangkan dan dilepaskan, tetapi sebenarnya tidak ada yang dikembangkan
dan tidak ada yang dilepaskan.

Undangan
Apa yang telah saya katakan hingga sekarang hampir seluruhnya hanya berupa kata-kata yang
biasa. Ketika orang datang bertemu dengan saya, saya harus mengatakan sesuatu. Tetapi lebih
baik tidak membicarakan mengenai hal ini terlalu banyak. Lebih baik mulai berlatih tanpa
menunda. Saya seperti teman baik mengundang Anda untuk pergi ke suatu tempat. Jangan
ragu, lakukanlah. Anda tidak akan menyesalinya.

Daftar Kata/Istilah
Kecuali memiliki makna lainnya, semua kata di bawah adalah bahasa Pali.
Ajahn: (Thailand) Guru.
Anagami: “Tidak kembali.” Tahap ketiga dalam merealisasikan Nibbana.
Arahat: “Yang Suci.” Sebuah Penerangan yang terbebaskan dari segala kekotoran batin
dengan merealisasikan Nibbana dalam tahap keempat dan yang terakhir, yang telah bebas dari
kelahiran kembali.
Bodhisatta: Dalam aliran Theravada, hal ini mengacu pada mahluk yang bertekad kuat untuk
mencapai Penerangan.
Dhamma: Ajaran Sang Buddha, Kebenaran sejati.
Empat Kebenaran Mulia:Ajaran pertama Sang Buddha, dimana Beliau menjelaskan
kebenaran dari penderitaan, sebab penderitaan, akhir penderitaan, dan jalan menuju akhir
penderitaan.
Kamma: kehendak untuk bertindak.
Nibbana: Penerangan Sempurna --bentuk batin dimana keserakahan, kebencian, dan
kegelapan batin seluruhnya telah musnah total.
Siswa Utama: mereka yang telah mencapai satu dari empat tahap Penerangan: Sotapanna,
Sakadagami, Anagami, dan Arahat.
Sakadagami: “Terlahir sekali lagi.” Tahap kedua dalam perealisasian Nibbana.
Samsara: Lingkaran kelahiran kembali.
Sotapanna: “pemasuk-arus.” Tahap pertama dalam merealisasi Nibbana.
Wat: (Thailand) Kuil, Vihara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar