Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

catatan ajahn chah - (2)

Tanpa Aku
93.
Seorang wanita tua yang beriman dari propinsi terdekat datang berziarah ke Wat Pah
Pong. Dia berkata pada Ajahn Chah bahwa ia hanya singgah sebentar, lalu ia harus
segera kembali untuk menjaga cucunya, dan karena dia seorang wanita tua, ia meminta


apakah ia dapat mendengarkan pesan Dhamma. Ajahn Chah menjawab dengan
desakan, “ Hai, dengarkan! Tak ada seorang pun di sini, hanya ini! Tidak ada pemilik,
tidak ada yang tua, muda, baik atau buruk, kuat atau lemah. Hanya itu, itu saja --hanya
berbagai unsur alami yang berjalan semestinya. Semua kosong. Tidak ada yang lahir
dan tidak ada yang meninggal! Mereka yang membicarakan kelahiran dan kematian
adalah berbicara dengan bahasa anak yang bodoh. Dalam bahasa hati, dari Dhamma,
tidak ada suatu seperti kelahiran dan kematian”.

94.
Dasar yang sebenarnya dalam ajaran (Buddha) adalah untuk melihat diri sendiri
layaknya sebagai makhluk tanpa inti. Tetapi orang datang untuk belajar Dhamma agar
dapat meningkatkan pandangan terhadap diri sendiri, agar mereka tidak mengalami
penderitaan atau kesulitan. Mereka ingin segala sesuatunya menjadi menyenangkan.
Mereka mungkin ingin melepas penderitaan, tetapi bila masih terdapat Aku, bagaimana
mereka dapat melakukannya?

95.
Adalah sangat mudah bila Anda mengerti. Adalah sangat sederhana dan langsung.
Ketika sesuatu yang menyenangkan muncul, pahami bahwa itu hampa. Ketika sesuatu
yang tidak menyenangkan muncul, lihatlah bahwa semua itu bukan milik Anda.
Keduanya akan berlalu. Jangan hubungkan semuanya dengan dirimu atau memandang
dirimu sebagai pemiliknya. Anda berpikir bahwa pohon pepaya milikmu, tetapi
mengapa Anda tidak terluka saat pohon itu ditebang? Bila Anda dapat mengerti ini,
inilah jalan yang benar, ajaran benar dari Buddha, ajaran yang membawa kebebasan.

96.
Orang tidak belajar sesuatu di luar baik dan buruk. Inilah yang seharusnya dipelajari.
“Saya akan menjadi ini,- Saya akan menjadi seperti itu,” kata mereka. Tetapi mereka
tidak pernah mengatakan “Saya tidak akan menjadi apapun karena sebenarnya tidak ada
‘Saya’.” Hal ini yang tidak dipelajari.

97.
Saat Anda mengerti tanpa-aku (anatta), maka belenggu hidu akan sirna. Anda akan
damai dengan dunia ini. Ketika kita melihat keluar diri sendiri, kita tidak lagi melekat
pada kebahagiaan dan kita akan benar-benar bahagia. Belajar untuk melepaskan tanpa
perjuangan, lepaskan dengan mudah. Jadilah sesuai dengan diri anda sendiri- tanpa
memegang, tanpa melekat, bebas.

98.
Seluruh tubuh tersusun dari empat elemen yaitu tanah, air, angin, dan api. Ketika
semuanya bersatu dan membentuk tubuh, kita mengatakan itu adalah pria, wanita,
memberi nama, dan lain-lain, agar kita mengenali satu sama lain dengan mudah. Tetapi
sebenarnya tidak ada satu pun di sana- hanya tanah, air, angin, dan api. Jangan terikat
atau bernafsu. Bila Anda benar-benar mencarinya, Anda tidak akan menemukan apapun
di sana.

Damai
99.
Q : Seperti apakah kedamaian itu?
A : Mengapa dipusingkan? Baik, kedamaian itu akhir dari kebingungan.
100. Kedamaian ada pada diri sendiri, ditemukan di tempat yang sama dengan kesulitan dan
penderitaan. Tidak ditemukan di hutan atau di puncak gunung atau pun diberikan oleh
guru. Ketika Anda merasakan penderitaan, Anda juga dapat menemukan kebebasan dari
penderitaan. Mencoba lari dari penderitaan sebenarnya justru berlari menuju
penderitaan.



101. Bila Anda melepaskan sedikit, Anda akan mendapat sedikit kedamaian. Bila Anda
melepaskan banyak, Anda akan mendapatkan banyak kedamaian. Bila Anda
melepaskan seutuhnya maka Anda akan mendapatkan kedamaian seutuhnya.

102. Sebenarnya, dalam kebenaran, tidak ada apapun pada manusia. Menjadi apapun diri
kita, hanya merupakan tampilan luar. Akan tetapi, bila kita melampaui apa yang tampak
dan melihat kebenaran, kita akan melihat bahwa tidak ada apapun kecuali karakteristik
universal --kelahiran pada awalnya, perubahan pada pertengahan, dan perhentian pada
akhirnya. Inilah keseluruhan yang ada. Bila kita melihat segala sesuatu dengan cara ini,
tidak akan ada masalah yang muncul. Bila kita mengerti hal ini, kita akan mendapatkan
kepuasan dan kedamaian.

103. Mengetahui apa yang baik dan buruk, ketika berpergian atau tinggal di suatu tempat.
Anda tidak akan menemukan kedamaian di gunung atau dalam gua. Anda bahkan dapat
pergi ke tempat Sang Buddha mencapai penerangan tanpa lebih dekat dengan
kebenaran.

104. Melihat keluar diri sendiri adalah untuk membandingkan dan membedakan. Anda tidak
akan menemukan kebahagiaan dengan cara itu. Anda juga tidak akan dapat menemukan
kebahagiaan bila Anda menghabiskan waktu untuk mencari orang atau guru yang
sempurna. Sang Buddha mengajar kita untuk melihat pada Dhamma, kebenaran, dan
tidak melihat pada orang lain.

105. Setiap orang dapat membangun rumah dari kayu dan bata, tetapi Buddha mengajarkan
kita bahwa rumah yang ada bukanlah rumah kita yang sesungguhnya. Itu adalah rumah
di dunia dan mengikuti langkah duniawi. Rumah kita yang sebenarnya adalah
kedamaian di dalam.

106. Hutan penuh kedamaian, mengapa Anda tidak? Anda berpegang pada sesuatu yang
menyebabkan Anda kebingungan. Biarkan alam mengajari Anda. Dengarkan burung
bernyanyi dan lepaskan. Bila Anda mengetahui alam, Anda akan mengetahui Dhamma.
Bila Anda mengenal Dhamma, Anda akan mengetahui alam.

107. Mencari kedamaian seperti mencari kura-kura berjenggot. Anda tidak akan mampu
menemukannya. Tetapi ketika hati Anda siap, kedamaian akan datang mencari Anda.

108. Kebajikan (sila), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan(panna) bersama membuat
Sang Jalan. Tetapi Sang Jalan bukan merupakan ajaran sebenarnya, bukan seperti yang
diinginkan Sang guru, tetapi hanya jalanyang dapat membawamu. Contohnya,
katakanlah Anda melakukan perjalanan dari Bangkok ke Wat Pah Pong. Jalannya perlu
untuk perjalanan Anda, tetapi Anda mencari Wat Pah Pong, vihara, bukan jalannya.
Dengan cara yang sama, kita dapat mengatakan kebajikan, konsentrasi, dan
kebijaksanaan berada di luar kebenaran Buddha tetapi merupakan Jalan yang mengarah
kepada kebenaran. Ketika Anda telah mengembangkan ketiga faktor ini, hasilnya
adalah kedamaian yang terindah.

Penderitaan
109. Ada dua macam penderitaan, penderitaan yang mengarah pada penderitaan lainnya dan
penderitaan yang mengarah pada akhir dari penderitaan. Pertama adalah kesakitan
setelah menikmati kesenangan yang telah berlalu dan penolakan pada ketidak-
senangan, perjuangan terus menerus pada kebanyakan orang dari hari ke hari. Kedua
adalah penderitaan yang datang ketika Anda membiarkan diri Anda sendiri untuk
merasakan secara penuh perubahan terus menerus dari pengalaman --kesenangan,
kesakitan, kebahagiaan, dan kemarahan-- tanpa ketakutan atau menarik kembali.


Penderitaan dari pengalaman kita menuntun pada ketidaktakutan dan kedamaian di
dalam diri.

110. Kita ingin mengambil jalan termudah, tetapi bila tanpa penderitaan, tidak akan ada
kebijaksanaan. Untuk mematangkan kebijaksanaan, Anda harus benar-benar hancur dan
menangis dalam latihan, setidaknya selama tiga kali.

111. Kita tidak menjadi bhikkhu atau bhikkhuni untuk makan enak, tidur nyenyak, dan
menjadi sangat nyaman; tetapi untuk mengenal penderitaan :
- Bagaimana menerimanya ....
- Bagaimana menyingkirkannya ....
- Bagaimana mengakhirinya ....
Jadi, jangan lakukan sesuatu yang dapat menyebabkan penderitaan, seperti menuruti
keserakahan atau penderitaan tidak akan meninggalkan Anda.

112. Sebenarnya, kebahagiaan adalah penderitaan dalam penyamaran namun dalam bentuk
halus yang Anda tidak lihat. Bila Anda melekat pada kebahagiaan, sama halnya dengan
melekat pada penderitaan, tetapi Anda tidak menyadari. Ketika Anda berpegangan pada
kebahagiaan, tidak mungkin membuang penderitaan yang melekat. Keduanya tidak
dapat dipisahkan. Itulah yang diajarkan Sang Buddha pada kita untuk mengenal
penderitaan, melihatnya seperti bahaya yang melekat pada kebahagiaan, melihat
keduanya sepadan. Jadi, berhati-hatilah! Ketika kebahagiaan muncul, jangan terlena
dan jangan terbawa perasaan. Ketika penderitaan datang, jangan putus asa, jangan
tenggelam di dalamnya. Lihat, keduanya memiliki nilai yang setara.

113. Ketika penderitaan muncul, pahamilah bahwa tidak seorangpun bersedia menerimanya.
Bila Anda beranggapan penderitaan milik Anda, kebahagiaan milik Anda, Anda tidak
akan mampu menemukan kedamaian.

114. Orang yang menderita akan langsung memperoleh kebijaksanaan. Bila kita tidak
menderita, kita tidak merenung. Bila kita tidak merenung, tidak ada kebijaksanaan yang
lahir. Tanpa kebijaksanaan, kita tidak akan mengetahui. Tanpa mengetahui, kita tidak
akan dapat bebas dari penderitaan—demikianlah seharusnya. Oleh karena itu kita harus
berlatih dan bertahan dalam latihan kita. Ketika kita merenungkan dunia, kita tidak
akan takut lagi seperti sebelumnya. Sang Buddha bukan mencapai Penerangan di luar
dunia, tetapi di dalam dunia ini.

115. Mengikuti hawa nafsu dan menyiksa diri adalah dua hal yang dihindari Sang Buddha.
Keduanya hanyalah kesenangan dan penderitaan. Kita membayangkan diri kita telah
bebas dari penderitaan, tetapi ternyata belum. Jika kita hanya berpegang teguh pada
kebahagiaan, kita akan menderita lagi. Itulah yang sebenarnya, tetapi orang berpikir
sebaliknya.

116. Orang-orang yang menderita di suatu tempat akan pergi ke tempat lain. Ketika di
tempat tersebut muncul penderitaan, mereka melarikan diri lagi. Mereka berpikir bahwa
mereka sedang menghindari penderitaan, tetapi kenyataannya tidak. Penderitaan pergi
bersamanya. Mereka selalu membawa penderitaan tanpa menyadarinya. Bila kita tidak
mengenal penderitaan, maka kita tidak dapat mengetahui penyebab penderitaan. Bila
kita tidak mengetahui penyebab penderitaan, lalu kita tidak akan mengenal akhir
penderitaan. Tidak akan ada jalan untuk menghindarinya.

117. Pelajar masa kini memiliki lebih banyak pengetahuan dari pelajar sebelumnya. Mereka
telah mendapatkan semua hal yang dibutuhkan, segalanya lebih menyenangkan. Tetapi


mereka juga memiliki lebih banyak penderitaan dan kebingungan dibanding
sebelumnya. Mengapa demikian?
118. Jangan menjadi Bodhisatta, jangan menjadi Arahat, jangan menjadi apapun juga. Bila
Anda seorang Bodhisatta, Anda akan menderita; bila Anda seorang Arahat, Anda akan
menderita; bila Anda menjadi apapun juga, Anda akan menderita.

119. Cinta dan benci sama-sama merupakan penderitaan karena nafsu. Menginginkan
sesuatu merupakan penderitaan, menginginkan untuk tidak memiliki adalah penderitaan
walaupun Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, hal itu juga merupakan
penderitaan. Karena sekali Anda mendapatkan, Anda akan hidup dengan perasaan takut
kehilangan. Bagaimana Anda dapat hidup bahagia bersama ketakutan.

120. Bila Anda sedang marah, apakah terasa baik atau buruk? Bila terasa buruk, mengapa
tidak Anda jauhi? Mengapa terganggu dengan perasaan itu? Bagaimana Anda dapat
mengatakan bahwa Anda bijak dan pandai bila Anda berpegang pada kondisi seperti
itu? Suatu hari pikiran dapat menyebabkan seluruh keluarga bertengkar atau
menyebabkan Anda menangis sepanjang malam. Dan, lalu, kita tetap terus marah dan
menderita. Bila Anda melihat penderitaan dari kemarahan, buanglah. Bila Anda tidak
membuangnya, akan tetap menyebabkan penderitaan, tanpa ada kesempatan untuk
menghentikan. Dunia dari kehidupan yang tidak terpuaskan adalah seperti ini. Bila kita
mengetahui jalannya, maka kita dapat menyelesaikan masalah
.
121. Seorang wanita ingin mengetahui bagaimana mengendalikan kemarahan. Saya bertanya
ketika kemarahan muncul, kemarahan siapakah itu? Dia menjawab, itu kemarahannya.
Baik, bila itu kemarahannya, lalu dia seharusnya dapat memerintah kemarahan itu
untuk pergi, bukankah demikian? Tetapi bukan kemampuannya untuk memerintah.
Berpegang pada kemarahan sebagai milik pribadi hanya akan menyebabkan
penderitaan. Bila penderitaan benar-benar milik kita, seharusnya menurut pada perintah
kita. Bila kemarahan tidak menuruti kita, kemarahan hanyalah muslihat. Jangan
terpancing. Bagaimanapun pikiran itu, sedih atau senang, jangan terpancing. Semua
hanyalah muslihat.

122. Bila Anda melihat kepastian dalam sesuatu yang tidak pasti, Anda terikat pada
penderitaan.

123. Sang Buddha selalu di sini mengajar. Lihatlah diri Anda. Terdapat kebahagiaan dan
ketidakbahagiaan. Terdapat kesenangan dan penderitaan. Dan selalu ada di sini. Ketika
Anda mengerti penderitaan dan kesenangan secara alami, Anda telah melihat Buddha,
di sana Anda melihat Dhamma. Buddha tidak terpisah dari mereka.

124. Merenungkan semuanya bersama-sama, kita melihat kebahagiaan dan penderitaan
seimbang seperti panas dan dingin. Panas dari api dapat membakar kita hingga
meninggal sedangkan dingin dari es dapat membekukan kita hingga meninggal. Tidak
ada yang lebih kuat. Ini sama dengan kebahagiaan dan penderitaan. Di dunia, setiap
orang menginginkan kebahagiaan dan tidak ada yang menginginkan penderitaan.
Nibbana tidak memiliki keinginan. Hanya ada keseimbangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar