Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

catatan ajahn chah - (1)

Page 1
Kelahiran dan Kematian
1.
Latihan yang baik adalah bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh,
“Mengapa saya dilahirkan?” Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini pada
pagi hari, siang hari, dan malam hari... setiap hari.
2.
Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu
tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang
menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-rang gembira dan
senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih
baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena
bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal
ini?
3.
Anda akan berpikir bahwa orang mengerti apa yang akan terjadi jika hidup di dalam
kandungan seseorang. Betapa tidak nyaman! Bayangkan saja bila diam di dalam gubuk
hanya sehari saja rasanya sudah sulit. Kunci semua pintu dan jendela, Anda sudah
merasa tertekan. Jadi bagaimana rasanya tinggal di dalam kandungan seseorang selama
sembilan bulan? Tapi Anda tetap mau dilahirkan kembali! Anda tahu ketidak
nyamannya dalam kandungan, dan Anda masih mau menempelkan kepala di sana,
untuk menaruh leher Anda di dalam jerat itu sekali lagi.
4.
Mengapa kita dilahirkan? Kita dilahirkan agar kita tidak akan dilahirkan kembali.
5.
Ketika seseorang tidak mengerti tentang kematian, hidup dapat menjadi sangat
membingungkan.
6.
Sang Buddha memberitahukan muridnya, Ananda, untuk melihat ketidak-kekalan,
untuk melihat kematian dalam setiap nafas. Kita harus memahami kematian; kita harus
mati agar dapat hidup. Apa artinya ini? Mati adalah jalan menuju akhir dari semua
keraguan, semua pertanyaan kita, dan ada di sini dengan kenyataan saat ini. Anda tidak
akan pernah mati besok. Anda harus mati sekarang. Dapatkah Anda melakukannya?
Bila Anda dapat melakukannya, Anda akan tahu kedamaian tanpa pertanyaan lagi.
7.
Kematian itu sedekat nafas kita.
8.
Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh
sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke rumah sakit
untuk menjalani perawatan, tanamkan di dalam pikiran jika Anda menjadi lebih sehat,
itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda bahwa bila
dokter berkata kepada saya bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan
lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, “Hati-hati, karena kematian juga akan datang
menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi
belakangan.” Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah
kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan
menggunakan obat dari Buddha?
9.
Jika Anda takut sakit, jika Anda takut mati, sebaiknya Anda merenungkan dari mana
mereka berasal. Dari mana mereka datang? Mereka muncul dari kelahiran. Jadi jangan
sedih bila seseorang meninggal. Itu adalah hal yang alami, dan penderitaanya dalam
kehidupan ini berakhir. Jika Anda mau bersedih, bersedihlah pada saat orang
dilahirkan: “Oh tidak, mereka datang lagi. Mereka akan menderita dan mati lagi!”
10.
“Dia yang mengetahui” dengan jelas tahu bahwa semua keadaan yang berkondisi
adalah tidak kekal. Jadi “Dia yang mengetahui” tidak akan menjadi senang atau sedih,
karena tidak mengikuti perubahan kondisi. Untuk menjadi senang, adalah untuk
dilahirkan; untuk menjadi kesal, adalah untuk mati. Setelah mati, kita lahir kembali;
setelah dilahirkan, kita mati lagi. Kelahiran dan kematian dari satu momen ke momen
berikutnya adalah putaran roda samsara yang tidak pernah berakhir.


Jasmani
11.
Bila tubuh bisa berbicara, ia akan berkata kepada kita sepanjang hari, “Kamu bukan
majikanku, kamu tahu.” Sebenarnya dia berkata kepada kita secara terus-menerus,
tetapi dengan bahasa Dhamma. Jadi kita tidak dapat mengerti.
12.
Kondisi bukan milik kita. Kondisi mengikuti jalan alaminya. Kita tidak bisa melakukan
apapun tentang jalannya tubuh. Kita bisa mempercantiknya sedikit, membuatnya
terlihat ceria dan bersih sejenak, seperti gadis muda yang memoles bibirnya dan
membiarkan kukunya tumbuh panjang, tetapi ketika usia tua datang, semua orang akan
mengalami kondisi yang sama. Itulah jalan tubuh kita. Kita tidak dapat mengubahnya
dengan cara apapun juga. Apa yang kita bisa perbaiki dan percantik adalah pikiran.
13.
Kalau tubuh ini benar-benar milik kita, pasti ia akan mematuhi perintah kita. Jika kita
bilang, “Jangan jadi tua,” atau “Saya melarangmu untuk sakit,” apakah dia mematuhi
kita? Tidak! Tubuh ini tidak peduli. Kita hanya menyewa “rumah” ini, tidak
memilikinya. Kalau kita berpikir tubuh ini milik kita, kita akan menderita ketika harus
meninggalkannya. Tetapi dalam kenyataannya, tidak ada yang abadi, tidak ada yang
tidak berubah atau tetap dimana kita bisa bergantung padanya.


Nafas
14.
Ada orang yang lahir dan mati tanpa pernah sekalipun menyadari nafas masuk dan
keluar dari tubuhnya. Itu menunjukkan betapa jauhnya mereka hidup dari dirinya
sendiri.
15.
Waktu adalah nafas kita saat ini.
16.
Anda berkata bahwa Anda terlalu sibuk untuk bermeditasi. Apakah Anda punya waktu
untuk bernafas? Meditasi adalah nafas Anda. Mengapa Anda punya waktu untuk
bernafas tetapi tidak punya waktu untuk bermeditasi? Bernafas adalah sesuatu yang
penting dalam kehidupan seseorang. Jika Anda melihat bahwa latihan Dhamma penting
bagi hidup Anda, maka Anda akan merasa bahwa bernafas dan berlatih Dhamma adalah
sama pentingnya.


Dhamma
17.
Apa Dhamma itu? Tidak ada yang bukan (Dhamma).
18.
Bagaimana Dhamma mengajarkan cara hidup yang semestinya? Dhamma menunjukkan
bagaimana cara kita hidup. Dhamma mempunyai banyak cara untuk menunjukkannya.
Melalui karang atau pohon atau apa saja yang ada di depan Anda. Sebuah pengajaran
tanpa kata-kata. Maka tenangkan pikiran, hati, dan belajar memperhatikan. Anda akan
menemukan keseluruhan Dhamma muncul dengan sendirinya di sini dan sekarang.
Kapan dan dimana lagi Anda hendak mencarinya?
19.
Pertama Anda mengerti Dhamma dengan pikiran Anda. Jika Anda sudah mulai
mengerti, Anda akan melatih Dhamma. Jika Anda melatihnya, Anda akan mulai
melihatnya. Ketika Anda melihatnya, Andalah Dhamma tersebut dan Anda telah
memperoleh kebahagiaan dari Buddha.
20.
Dhamma harus ditemukan dengan melihat ke dalam hati Anda sendiri, dan melihat
mana yang benar dan mana yang salah, mana yang seimbang dan mana yang tidak
seimbang.
21.
Hanya ada satu keajaiban yang sesungguhnya, keajaiban Dhamma. Keajaiban yang lain
seperti ilusi dari sebuah permainan kartu sulap. Ilusi mengalihkan kita dari permainan
yang sesungguhnya: hubungan kita dengan kehidupan manusia, kelahiran, kematian,
dan kebebasan.
22.
Apapun yang Anda lakukan, buatlah menjadi Dhamma. Jika Anda tidak merasa baik,
lihat ke dalam diri Anda. Jika Anda tahu itu salah tetapi tetap melakukannya, itu adalah
kekotoran batin.
23.
Sungguh sulit menemukan mereka yang mendengarkan Dhamma, yang mengingat
Dhamma dan melaksanakannya, yang mencapai Dhamma dan melihatnya.
24.
Semuanya adalah Dhamma bila kita memiliki perhatian penuh. Ketika kita melihat
binatang berlari dari bahaya, kita melihat bahwa mereka seperti kita. Mereka melarikan
diri dari penderitaan dan mencari kebahagiaan. Mereka juga memiliki rasa takut.
Mereka takut akan kehidupannya seperti juga kita. Ketika kita melihatnya menurut
kebenaran, kita melihat bahwa semua binatang dan manusia tidak berbeda. Kita semua
adalah rangkaian dari kelahiran, usia tua, kesakitan, dan kematian.
25.
Tanpa menghiraukan waktu dan tempat, keseluruhan pelaksanaan Dhamma menuju ke
arah penyelesaian di tempat yang tidak ada apa-apa. Itu adalah tempat untuk
melepaskan, kekosongan, untuk meletakkan beban. Ini adalah akhir.
26.
Dhamma berada tidak jauh. Benar-benar dekat kita. Dhamma bukanlah tentang
malaikat di langit atau sesuatu seperti itu. Dhamma adalah tentang kita, tentang apa
yang sedang kita lakukan sekarang. Amati diri Anda sendiri. Kadang-kadang ada
kebahagiaan, kadang penderitaan, kadang nyaman, kadang sakit ...ini inilah Dhamma.
Apakah Anda melihatnya? Untuk mengetahui Dhamma, Anda harus membaca
pengalaman-pengalaman Anda.
27.
Sang Buddha menginginkan kita untuk berhubungan dengan Dhamma, tetapi orang-
orang hanya berhubungan dengan kata-kata, buku-buku, dan kitab suci. Ini hanya
menghubungkan dengan apa yang disebut “tentang” Dhamma, dan bukan berhubungan
dengan Dhamma yang “asli” seperti yang diajarkan oleh Guru Agung kita. Bagaimana
mereka dapat berkata bahwa mereka telah berlatih dengan benar dan semestinya, jika
hanya melakukan itu? Jalan mereka masih jauh sekali.
28.
Ketika Anda mendengarkan Dhamma, Anda harus membuka hati Anda dan
menempatkan diri di tengah hati. Jangan mencoba untuk mengumpulkan apa yang
Anda dengar atau berusaha keras untuk memahami apa yang Anda dengar melalui
ingatan. Biarkan Dhamma mengalir ke dalam hati Anda sampai menampakkan dirinya
sendiri, dan teruslah membuka diri ke arah aliran itu pada saat ini. Apa yang seharusnya
dipahami akan Anda pahami dengan sendirinya, tidak melalui usaha keras yang Anda
tetapkan.
29.
Juga ketika Anda menguraikan Dhamma, Anda tidak boleh memaksakan diri. Uraian
Dhamma harus terjadi dengan sendirinya dan harus mengalir secara spontan pada saat
dan di lingkungan yang ada sekarang. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk
menerima pengetahuan dengan tingkatan yang berbeda, dan ketika Anda berada pada
tingkatan yang sama, aliran Dhamma akan terjadi. Sang Buddha mempunyai
kemampuan untuk mengetahui temperamen dan kemampuan seseorang untuk
menerima ajaran. Beliau menggunakan metode spontan yang sama dalam mengajar. Itu
bukan karena Buddha memiliki kemampuan supranatural untuk mengajar, tetapi karena
Beliau lebih sensitif terhadap kebutuhan batin dari orang-orang yang datang kepada-
Nya. Jadi Beliau mengajar sesuai kebutuhan orang tersebut.


Hati dan Pikiran
30.
Hanya ada satu buku yang patut dibaca: hati.
31.
Buddha mengajarkan kita bahwa apapun yang membuat pikiran kita menderita di dalam
latihan artinya mengenai sasaran. Kekotoran batin adalah penderitaan. Bukan pikiran
yang menderita! Kita tidak tahu apa isi pikiran dan kekotoran batin kita. Terhadap
apapun yang kita rasa tidak puas, kita tidak akan mau berurusan lagi dengan hal itu.
Sebenarnya jalan hidup kita tidaklah sulit. Yang sulit adalah menjadi orang yang tidak
puas, tidak bisa menerima. Kekotoran batin adalah kesulitan yang sebenarnya.
32.
Dunia berada dalam bagian yang sangat tergesa-gesa. Pikiran berubah dari suka
menjadi tidak suka dengan segala tergesa-gesaan yang ada di dunia. Jika kita bisa
belajar untuk membuat pikiran tenang, itu akan menjadi bantuan yang sangat hebat bagi
dunia.
33.
Bila pikiran Anda senang, maka Anda pun akan senang kemana pun Anda pergi. Ketika
kebijaksanaan muncul dalam diri Anda, Anda akan menemukan kebenaran kemana pun
Anda melihat. Kebenaran itu ada dimana-mana. Sama halnya bila Anda telah belajar
membaca, Anda dapat membaca dimana saja.
34.
Jika Anda merasa alergi pada ke suatu tempat, Anda akan merasa alergi di semua
tempat. Namun bukan tempat di luar Anda yang menyebabkan masalah, melainkan
“tempat” di dalam Anda.
35.
Lihatlah pikiran Anda sendiri. Orang yang membawa benda mengira dia mempunyai
benda, tetapi orang yang melihatnya hanya melihat beban berat. Buanglah seluruh
benda, hilangkan, dan temukan keringanan.
36.
Pada hakikatnya, pikiran itu tenang. Di luar ketenangan ini, kegelisahan dan keraguan
muncul. Jika seseorang melihat dan mengetahui adanya keraguan, maka pikiran
menjadi tenang lagi.
37.
Agama Buddha adalah agama hati. Hanya itu. Seseorang yang melatih hatinya adalah
orang yang melatih ajaran Buddha.
38.
Ketika cahaya redup, tidaklah mudah untuk menemukan jaring laba-laba tua di sudut
ruangan. Tetapi ketika cahaya terang, Anda dapat melihatnya dengan jelas dan dapat
membersihkannya. Ketika pikiran Anda terang, Anda akan dapat melihat kekotoran
batin dengan jelas, dan juga membersihkannya.
39.
Menguatkan pikiran tidak dapat dilakukan dengan mengerakkannya seperti menguatkan
tubuh, tetapi dengan membuatnya diam, beristirahat.

40.
Karena orang tidak melihat dirinya sendiri, mereka bisa melakukan segala jenis
perbuatan buruk. Mereka tidak melihat pikirannya sendiri. Ketika orang akan
melakukan perbuatan buruk, mereka akan memastikan ke sekeliling dahulu untuk
melihat apakah ada orang lain yang melihat: “Apakah ibu saya akan melihat?” “Apakah
suami saya akan melihat?” “Apakah anak-anak akan melihat?” “Apakah istri saya akan
melihat?” Bila tidak ada yang melihat, maka mereka akan melakukan perbuatan
buruknya. Ini namanya mempermalukan diri sendiri. Mereka mengatakan tidak ada
yang melihat, jadi mereka segera menyelesaikan perbuatan buruknya sebelum orang
lain melihat. Dan bagaimana dengan dirinya sendiri? Bukankah ada “seseorang” yang
memperhatikan?
41.
Gunakan hatimu untuk mendengarkan ajaran, bukan telingamu.
42.
Ada orang yang melakukan perang terhadap kekotoran batinnya sendiri dan
menaklukkannya. Ini namanya perang batin. Mereka yang berperang secara fisik,
mengambil bom dan pistol untuk dilempar dan ditembak. Mereka menaklukkan dan
ditaklukkan. Menaklukkan orang lain adalah jalan dunia ini. Dalam melaksanakan
Dhamma kita tidak perlu berperang dengan orang lain, melainkan menaklukkan pikiran
sendiri, dengan sabar menyingkirkan semua suasana hati.
43.
Dari mana hujan datang? Hujan datang dari semua air kotor yang menguap dari bumi,
seperti air seni dan air yang Anda buang setelah membersihkan kaki. Bukankah
mengagumkan, bagaimana langit dapat mengambil air kotor dan mengubahnya menjadi
air murni, air bersih? Pikiran Anda dapat melakukan hal yang sama terhadap kekotoran
batin bila Anda membiarkannya bertindak.
44.
Sang Buddha berkata untuk hanya menilai diri sendiri dan tidak menilai orang lain,
tidak peduli seberapa pun baik atau buruknya orang tersebut. Sang Buddha
menunjukkan hal ini dengan berkata, “Kebenaran adalah seperti ini.” Sekarang, apakah
pikiranmu seperti itu atau tidak?


Ketidak-kekalan
45.
Kondisi ada melalui perubahan. Anda tidak dapat mencegahnya. Coba pikirkan,
dapatkah Anda mengeluarkan nafas tanpa menghirupnya? Apakah itu terasa enak? Atau
Anda hanya menarik nafas tanpa mengeluarkannya? Kita ingin agar segala sesuatu
kekal, tetapi tidak bisa. Itu mustahil.
46.
Jika Anda tahu bahwa segala sesuatu tidak kekal, semua pemikiranmu berangsur-angsur
akan terbuka, maka Anda tidak perlu berpikir terlalu banyak. Ketika yang lain muncul,
yang perlu Anda katakan adalah “Oh, satu lagi!” Hanya itu.
47.
Pembicaraan yang mengabaikan ketidak-kekalan bukanlah pembicaraan dari orang
bijaksana.
48.
Jika Anda benar-benar melihat ketidak-pastian dengan jelas, Anda akan melihat mana
yang pasti. Yang pasti adalah bahwa segala sesuatu tidak terelakkan dari ketidakpastian,
tidak mungkin sebaliknya. Apakah Anda mengerti? Hanya dengan memahami hal ini,
Anda dapat memahami Buddha, Anda dapat langsung melakukan penghormatan
kepada-Nya.
49.
Bila pikiran Anda mencoba memberitahu bahwa Anda telah mencapai tingkat kesucian
Sotapanna, pergi dan menghormatlah pada seorang Sotapanna. Dia akan
memberitahumu bahwa semua tidak kekal. Jika Anda bertemu seorang Sakadagami,
pergi dan beri hormat kepadanya. Ketika dia melihatmu, dia akan berkata,”Bukan
sesuatu yang dapat dipastikan!” Jika ada seorang Anagami, pergi dan menghormatlah.
Dia hanya akan memberitahumu satu hal, “Tidak kekal!” Bahkan jika Anda bertemu
seorang Arahat, pergi dan menghormatlah. Dia akan mengatakan kepada Anda dengan
lebih tegas,”Ini bahkan lebih tidak pasti!” Lalu kamu akan mendengar kata-kata
Buddha: “Segala sesuatu tidak kekal. Jangan bergantung pada apapun!”
50.
Kadang saya pergi untuk melihat peninggalan keagamaan dan vihara-vihara kuno. Di
beberapa tempat pasti ada yang retak. Mungkin salah satu teman saya akan berkata,
“Sungguh sayang bukan? Ada retakan.” Saya akan menjawab, “Kalau tidak ada yang
retak, maka juga tidak ada hal seperti Buddha. Juga tidak akan ada Dhamma. Ada yang
retak justru karena ini benar-benar sejalan dengan ajaran Buddha.”
51.
Semua kondisi berjalan sesuai dengan jalannya sendiri. Walaupun kita tertawa atau
menangis, semuanya tetap berjalan sesuai dengan jalannya sendiri. Dan tidak ada ilmu
pengetahuan yang bisa mencegah jalan alami ini. Anda mungkin pergi ke dokter gigi
untuk memeriksa gigi. Walaupun dokter gigi bisa mengobatinya, pada akhirnya gigi
tersebut tetap akan berjalan sesuai dengan jalannya juga. Bahkan dokter gigi pun akan
mengalami hal yang sama. Semuanya akan seperti itu pada akhirnya.
52.
Apa yang bisa kita ambil untuk sebuah kepastian? Tidak ada, semua hanya perasaan.
Penderitaan muncul, tinggal dan pergi. Lalu kebahagiaan muncul menggantikan
penderitaan – hanya itu. Di luar itu, tidak ada apa-apa. Tetapi kita justru berlari dan
berpegang pada perasaan terus-menerus. Perasaan tidaklah nyata, perubahanlah yang
nyata.


Kamma
53.
Ketika orang yang tidak mengerti Dhamma melakukan hal yang tidak seharusnya,
mereka akan melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun
melihatnya. Tetapi kamma kita selalu melihat. Kita tidak pernah benar-benar bisa kabur
dari apapun.
54.
Perbuatan baik menimbulkan hasil yang baik, perbuatan buruk menimbulkan hasil yang
buruk. Jangan mengharapkan para dewa melakukan sesuatu untukmu, atau malaikat dan
dewa penjaga melindungimu, atau hari yang menguntungkan untuk menolongmu.
Karena semua hal ini tidak benar. Jangan percaya padanya. Jika Anda percaya, Anda
akan menderita. Anda akan selalu menunggu hari yang tepat, bulan yang tepat, tahun
yang tepat, para malaikat atau dewa penolong. Anda akan menderita walau hanya
dengan cara itu. Lihatlah dalam perbuatan dan ucapan Anda, dalam kamma Anda
sendiri. Melakukan perbuatan baik, Anda akan mewarisi kebaikan; melakukan
perbuatan buruk, Anda akan mewarisi keburukan.
55.
Melalui latihan benar, Anda membiarkan kamma lampau keluar dengan sendirinya.
Mengetahui bagaimana semua ini muncul dan pergi, Anda hanya bisa mewaspadai dan
membiarkan (kamma) berlari di jalurnya. Seperti mempunyai dua pohon, jika Anda
memberi pupuk dan air pada satu pohon dan tidak mengurusi pohon yang lain, tidak
akan ada pertanyaan mana yang akan tumbuh dan mana yang akan mati.
56.
Beberapa dari Anda telah datang dari tempat yang beribu-ribu mil jauhnya, dari Eropa,
Amerika, dan tempat lainnya untuk mendengarkan Dhamma di sini, di Vihara Nong
Pah Pong. Berpikir bahwa Anda telah datang dari tempat yang sangat jauh dan
melewati banyak rintangan untuk ke sini. Lalu berpikir bahwa ada orang-orang yang
tinggal hanya di luar tembok ini tetapi belum pernah memasuki pagar vihara ini. Ini
membuat Anda semakin menghargai kamma baik, bukan?
57.
Ketika Anda melakukan perbuatan buruk, tidak ada tempat bagi Anda untuk
bersembunyi. Bahkan jika orang lain tidak melihat, kamu dapat melihat diri Anda
sendiri. Bahkan jika Anda masuk ke dalam lubang yang dalam, Anda tetap akan
menemui dirimu sendiri di sana. Tidak mungkin Anda melakukan perbuatan buruk dan
kabur darinya. Dengan cara yang sama, mengapa Anda tidak melihat kesucian sendiri?
Anda akan melihat semuanya. Kedamaian, pergolakan, kebebasan, keterikatan. Anda
akan melihat ini semua untuk diri Anda sendiri.


Latihan Meditasi
58.
Kalau Anda ingin menunggu untuk bertemu Buddha yang akan datang, maka jangan
berlatih. Anda mungkin akan berkeliling cukup lama untuk melihat Buddha ketika
Beliau datang.
59.
Saya mendengar banyak orang berkata,”Oh, tahun ini adalah tahun yang buruk bagi
saya.” “Bagaimana bisa?” “Saya sakit sepanjang tahun,” jawabnya. “Saya tidak dapat
latihan meditasi sama sekali.” Oh! Kalau mereka tidak berlatih ketika kematian sudah
dekat, kapan mereka bisa latihan lagi? Kalau mereka sehat, apakah Anda pikir mereka
akan berlatih? Tidak. Mereka hanya akan tenggelam dalam kebahagiaan. Kalau mereka
menderita, mereka tetap tidak berlatih. Mereka akan kehilangan kesempatan pula. Saya
tidak tahu kapan mereka akan berpikir untuk berlatih.
60.
Saya telah menetapkan jadwal dan peraturan vihara. Jangan melewati batas yang telah
ada. Siapapun yang melanggar bukanlah orang yang datang dengan niat untuk sungguh-
sungguh berlatih. Apa yang diharapkan orang tersebut? Walaupun dia tidur dekat saya
setiap hari, dia tidak akan melihat saya. Walaupun dia tidur dekat Buddha, dia tidak
akan melihat Buddha; jika dia tidak berlatih.
61.
Jangan pernah berpikir bahwa hanya dengan duduk dan mata ditutup berarti telah
berlatih meditasi. Jika kamu berpikir seperti itu, maka segera ubah pemikiranmu.
Latihan yang mantap adalah menjaga kesadaran pikiran di setiap sikap badan, apakah
duduk, berjalan, berdiri, atau berbaring. Ketika selesai duduk, jangan berpikir bahwa
Anda telah keluar dari meditasi tetapi berpikirlah Anda hanya mengubah sikap badan.
Bila Anda dapat melakukan dengan cara ini, Anda akan mendapatkan kedamaian.
Dimanapun Anda berada, Anda akan mempunyai kebiasaan berlatih dalam diri secara
bertahap. Anda akan mempunyai kesadaran yang mantap dalam diri Anda.
62.
“Sebelum saya mencapai Penerangan Sempurna, saya tidak akan beranjak dari tempat
ini, walaupun darah saya mengering.” Anda telah membaca kalimat ini di dalam buku,
dan mungkin akan berpikir untuk mencobanya sendiri. Anda akan melakukan hal yang
sama seperti Buddha. Tetapi Anda belum mempertimbangkan bahwa kendaraan Anda
hanya kendaraan kecil. Kendaraan Buddha adalah kendaraan besar. Buddha dapat
melakukannya secara serentak pada saat bersamaan. Dengan kendaraan Anda yang
terbatas dan kecil, bagaimana mungkin Anda dapat menanggungnya secara serentak?
Ini semuanya adalah cerita yang berbeda.
63.
Saya pergi berkelana untuk mencari tempat meditasi. Saya tidak menyadari bahwa
tempat itu sudah tersedia, di hati saya. Segala meditasi telah ada dalam dirimu.
Kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian ada dalam dirimu. Saya berkeliling ke
segala penjuru sampai jatuh dalam kepenatan. Saat itu, ketika berhenti, saya
menemukan apa yang selama ini saya cari, ada di... dalam diri saya.

64.
Kita tidak bermeditasi untuk melihat surga tetapi untuk mengakhiri penderitaan.
65.
Jangan melekat pada penglihatan atau cahaya dalam meditasi, jangan bangun dan jatuh
karenanya pula. Apa yang hebat dari cahaya? Senter saya memiliki cahaya. Cahaya
tidak dapat menolong kita untuk lepas dari penderitaan.
66.
Anda buta dan tuli tanpa meditasi. Dhamma tidak mudah untuk dilihat. Anda harus
bermeditasi untuk melihat apa yang tidak pernah Anda lihat. Apakah Anda terlahir
sebagai guru? Tidak. Anda harus belajar terlebih dahulu. Lemon terasa asam hanya bila
Anda telah mencicipinya.
67.
Ketika duduk bermeditasi, katakanlah “Itu bukan urusan saya!” pada segala pikiran
yang muncul.
68.
Ketika merasa malas, kita harus berlatih dan tidak hanya ketika merasa bersemangat
atau pada saat suasana hati mendukung. Ini merupakan latihan menurut ajaran Buddha.
Menurut diri kita sendiri, kita berlatih hanya saat suasana hati baik. Bagaimana kita
dapat maju? Bagaimana kita dapat memutus aliran kekotoran batin bila kita berlatih
hanya menurut cara kita yang seperti itu?
69.
Apapun yang kita lakukan, kita harus selalu melihat diri kita sendiri. Membaca buku
tidak akan pernah membangkitkan apapun. Hari terus berlalu, tetapi kita tidak melihat
diri kita sendiri. Memahami latihan adalah berlatih untuk memahami.
70.
Tentu saja terdapat berbagai teknik meditasi, tetapi semua akan kembali ke sini, --
biarkan semua seperti apa adanya. Datanglah ke sini, tenang dan bebas dari perseteruan.
Mengapa Anda tidak mencobanya?
71.
Hanya berpikir mengenai latihan seperti memancing dalam bayangan dan
menghilangkan maknanya.
72.
Ketika saya telah berlatih selama beberapa tahun, saya tetap belum dapat mempercayai
diri sendiri. Tetapi setelah saya mendapat banyak pengalaman, saya belajar untuk
mempercayai hati saya sendiri. Ketika Anda telah memiliki pengertian yang mendalam,
apapun yang terjadi, Anda dapat merasakan semuanya terjadi, semuanya hanya datang
dan pergi. Anda akan mencapai suatu titik dimana hati akan berkata sendiri apa yang
harus Anda lakukan.
73.
Dalam latihan meditasi, sebenarnya adalah lebih buruk terjebak dalam keheningan
dibandingkan terjebak dalam kegelisahan, karena pada akhirnya Anda akan ingin
membebaskan diri dari kegelisahan tersebut, sebaliknya Anda akan terpaku dalam
keheningan dan tidak berlatih lebih lanjut. Ketika kebahagiaan muncul dengan jelas
dalam latihan Vipassana tersebut, jangan melekat padanya.
74.
Meditasi hanya mengenai pikiran dan perasaan. Meditasi bukan sesuatu yang perlu
dikejar atau diperjuangkan. Bernafas secara terus menerus selama bekerja. Alam telah
menjaga proses alami. Yang perlu kita lakukan hanyalah mencoba untuk sadar, secara
batin melihat dengan jelas. Meditasi adalah seperti itu.
75.
Tidak berlatih dengan benar adalah seperti tanpa perhatian. Perhatian yang tidak
terpusat sama seperti mati. Tanyakan diri Anda sendiri apakah Anda mempunyai waktu
untuk berlatih ketika Anda mati? Tanyakan terus pada diri Anda, “Kapan saya akan
mati?” Ketika kita merenung dengan cara ini, pikiran akan waspada setiap saat, pikiran
yang penuh perhatian akan selalu hadir, dan kesadaran penuh akan mengikuti secara
otomatis. Kebijaksanaan akan muncul, melihat segala sesuatu seperti apa adanya
dengan jelas. Kesadaran menjaga pikiran sehingga mengetahui ketika sensasi muncul
setiap saat, siang dan malam. Memiliki kesadaran menimbulkan ketenangan. Menjaga
ketenangan adalah dengan pikiran terpusat. Bila pikiran seseorang terpusat, maka ia
telah berlatih dengan benar.
76.
Dasar dalam latihan kita, yang utama, haruslah selalu jujur dan lurus, --kedua, selalu
waspada terhadap perbuatan salah; --ketiga, selalu rendah hati terhadap orang lain, tak
banyak bicara, dan mudah puas (tidak memiliki banyak keinginan). Bila kita dapat puas
dengan hal kecil saat berbicara dan hal lainnya, kita akan melihat diri kita sendiri, kita
tidak akan terganggu. Pikiran akan mempunyai dasar kemoralan (sila), konsentrasi
(samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
77.
Pada awalnya, Anda tergesa-gesa untuk maju, tergesa-gesa untuk kembali, dan tergesa-
gesa untuk berhenti. Anda terus berlatih seperti ini sampai mencapai suatu tahap
dimana bukan maju, bukan kembali, dan juga bukan berhenti! Selesai. Dimana tidak
ada pemberhentian, tidak maju, dan tidak kembali. Itu telah selesai. Di saat itu, Anda
akan menemukan bahwa segala nya hampa.
78.
Ingatlah bahwa Anda tidak bermeditasi untuk “mendapatkan” sesuatu, tetapi untuk
“melepaskan” sesuatu. Kita melakukan meditasi, tanpa keinginan, tetapi dengan
membiarkannya hilang. Bila Anda “menginginkan” sesuatu, Anda tidak akan
mendapatkannya.
79.
Inti dari Sang Jalan cukup mudah. Tidak ada yang perlu dijelaskan panjang lebar.
Lepaskan cinta dan benci, juga biarkan segalanya berjalan seperti apa adanya. Itulah
yang telah saya lakukan selama ini dalam latihan.
80.
Menanyakan pertanyaan yang salah menunjukkan bahwa Anda tetap terjebak dalam
keragu-raguan. Berbicara mengenai latihan adalah baik, bila hal itu membantu
perenungan. Tetapi itu terserah Anda untuk dapat melihat kebenaran.
81.
Kita berlatih untuk belajar melepaskan sesuatu, bukan untuk menambah keterikatan
pada sesuatu. Pencerahan terjadi ketika Anda berhenti menginginkan sesuatu.
82.
Bila Anda mempunyai waktu untuk menyadari, Anda mempunyai waktu untuk
bermeditasi.
83.
Seseorang pernah bertanya kepada saya, “Saat kita bermeditasi dan banyak hal timbul
dalam pikiran, haruskah kita menyelidikinya atau cukup menyadarinya datang dan
pergi?” Bila Anda melihat seseorang berlalu dan Anda tidak mengenalnya, Anda
mungkin bertanya,”Siapakah dia? Kemana dia hendak pergi? Apa yang dia lakukan?”
Tetapi bila kita mengenalnya, cukup menyadarinya berlalu.
84.
Keinginan dalam berlatih dapat menjadi kawan maupun lawan. Sebagai kawan,
membuat kita mau berlatih, untuk mengerti, dan untuk mengakhiri penderitaan. Namun
untuk selalu menginginkan sesuatu yang belum muncul, menginginkan sesuatu menjadi
lain dari yang ada, hanya menimbulkan lebih banyak penderitaan, dan inilah ketika
keinginan dapat menjadi lawan. Pada akhirnya kita harus belajar untuk melepaskan
semua keinginan, juga keinginan untuk pencerahan. Hanya dengan demikian kita dapat
terbebas.

85.
Seseorang pernah bertanya pada Ajahn Chah mengenai cara ia mengajar meditasi:
“Apakah Anda menggunakan metode wawancara harian untuk meneliti pikiran
seseorang?” Ajahn Chah menjawab dengan berkata, “Di sini saya mengajar murid
untuk meneliti pikirannya sendiri, untuk mewawancarai diri mereka sendiri. Mungkin
seorang bhikkhu marah hari ini, atau mungkin ia mempunyai nafsu dalam pikirannya.
Saya tidak mengetahuinya tetapi ia harus tahu. Dia tidak perlu datang dan bertanya
pada saya tentang itu. Iya, kan?”
86.
Hidup kita adalah rangkaian dari unsur-unsur. Kita menggunakan kebiasaan untuk
menggambarkan sesuatu, tetapi kita telah terikat pada kebiasaan dan memakainya
sebagai sesuatu yang nyata. Sebagai contoh, manusia dan benda diberi nama. Kita dapat
kembali pada permulaan sebelum nama diberikan, dan memanggil pria dengan “wanita”
dan memanggil wanita dengan “pria”, apa ada bedanya? Tetapi sekarang kita terpaku
pada penamaan dan konsep, sehingga kita mendapat pertentangan jenis kelamin dan
pertentangan lainnya yang serupa. Meditasi adalah untuk melihat melampaui semua ini.
Dengan demikian, kita kelak dapat mencapai tahapan tanpa-kondisi dan dalam
kedamaian, bukan peperangan.
87.
Beberapa orang menjadi bhikkhu tanpa keyakinan, tetapi kemudian melanggar ajaran
Buddha. Mereka mengetahui lebih baik tetapi menolak untuk berlatih dengan benar.
Sesungguhnya, mereka yang berlatih dengan benar tinggal sedikit saat ini.
88.
Teori dan praktek, --yang pertama mengetahui nama tanaman obat, lalu yang kedua
keluar mencarinya dan menggunakannya.
89.
Kebisingan --Anda menyukai suara burung tetapi tidak suara mobil. Anda takut
terhadap orang dan kebisingan, dan Anda suka hidup menyendiri dalam hutan.
Lepaskan kebisingan dan merawat bayi. Sang “bayi” adalah latihan Anda.
90.
Seorang yang baru ditahbiskan (samanera) bertanya pada Ajahn Chah apa nasihatnya
bagi pemula dalam berlatih meditasi. “Sama halnya dengan mereka yang telah lama
berlatih,” ia menjawab. Dan apakah itu? “ Tetaplah berlatih,” jawabnya.
91.
Orang mengatakan bahwa ajaran Buddha adalah benar, tetapi sulit untuk dilaksanakan
dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka berkata seperti “Saya masih muda dan tidak
mempunyai kesempatan untuk berlatih, tetapi bila saya tua kelak saya akan berlatih.”
Apakah Anda berkata, “Saya masih muda, jadi tidak punya waktu untuk makan?” Bila
saya menyodok Anda dengan batang kayu yang membara, apakah Anda akan berkata,
“Saya menderita, itu benar, tetapi karena saya hidup dalam masyarakat, saya tidak
dapat melarikan diri dari penderitaan?”
92.
Kemoralan (sila), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna) adalah inti dari
praktek agama Buddha. Kemoralan menjaga tubuh dan ucapan secara menyeluruh. Dan
tubuh adalah rumah dari pikiran. Jadi, latihan adalah jalan dari kemoralan, jalan bagi
konsentrasi dan jalan bagi kebijaksanaan. Seperti sepotong kayu dipotong menjadi tiga
bagian, tetapi sebenarnya hanya satu. Jika kita melepaskan tubuh dan ucapan, kita tidak
bisa. Jika kita ingin melepaskan pikiran, kita tidak bisa. Kita harus berlatih dengan tubuh
dan pikiran. Jadi sebenarnya sila, samadhi, dan panna adalah satu kesatuan harmonis
yang bekerja bersama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar