Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

DAYA UPAYA SEJATI

DAYA UPAYA SEJATI

135. Dhamma terdiri atas idaman dan gagasan, asas-asas dan ajaran-ajaran yang di dalam dirinya sendiri adalah pasif. Upaya atau usaha adalah katalisator yang menyebabkannya bergerak dan menimbulkan kekuatan yang dinamis yang pada gilirannya dapat merubah kehidupan kita. Dhamma hanya dapat merubah hidup kita bila kita mempunyai kemauan untuk menerapkan dan melaksanakannya. Seperti dikatakan Aryasura:

Tenaga adalah mutlak,
Tak ada sesuatu dapat diperbuat tanpa tenaga,
Tenaga membuat semuanya jadi mungkin.
Bila tak ada tenaga, semua tak ada kecuali kejahatan.

Seorang akan mendapatkan air,
Bila dia menggali dengan tenaga.
Api dapat timbul,
Bila kayu api saling digosokkan dengan tenaga.

Dengan mengalir terus menerus,
Sungai dapat mencuci semuanya, gunung sekalipun.
Dan dengan meditasi,
Seorang dapat memperoleh buah dari jerih payahnya
Dengan membajak tanah
Dan merawat ladangnya dengan rajin
Seorang memperoleh panen yang gemilang
Dengan menyelam jauh kedalam lautan
Seorang memperoleh mutiara

Dengan menaklukkan musuh dengan panah,
Seorang menikmati kemegahan martabat sebagai raja
Karenanya berupayalah untuk mencapai ketenangan,
Karena semua kesejahteraan datang dari tenaga.1

136. Sang Buddha bersabda, bahwa Daya-Upaya Sejati (samma vayama) bermanifestasi dalam empat bentuk:

Ada empat daya-upaya yang sejati. Apa empat itu? Menyangkut hal ini: seorang membangkitkan keinginan untuk mencegah timbulnya pikiran jahat tak menguntungkan yang belum timbul; dia berupaya, dengan sekuat tenaga, menanggulangi dan menguasai pikiran untuk tujuan itu. Dia membangkitkan keinginan untuk melepaskan pikiran jahat tak menguntungkan yang telah timbul; dia berupaya, dengan sekuat tenaga, menanggulangi dan menguasai pikiran untuk tujuan itu. Dia membangkitkan keinginan untuk menimbulkan pikiran baik menguntungkan yang belum timbul; dia berupaya, dengan sekuat tenaga, menanggulangi dan menguasai pikiran untuk tujuan itu. Dan, dia mempertahankan pikiran baik yang tak membingungkan, berkembang lebih jauh, meningkat, menyuburkan dan memuaskan; dia berupaya, dengan sekuat tenaga, menanggulangi dan menguasai pikiran untuk tujuan itu.2

Bila kita teliti empat manifestasi dari upaya ini, terlihat mempersyaratkan beberapa hal penting: mempertimbangkan, kewaspadaan dan adanya dambaan/idaman. Kita seharusnya mempunyai pikiran dan pertimbangan dalam membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Kita seharusnya dapat mundur, bila diperlukan, dan mengembangkan kewaspadaan pada apa yang semestinya kita pikir, kita ucapkan dan kita perbuat. Dan akhirnya, kita seharusnya mempunyai kepercayaan pada kemampuan diri sendiri untuk berubah dan memiliki idaman yang kita ingin perjuangkan. Bila kita telah melakukan kesemua diatas, keinginan untuk menghindari kejahatan dan mengembangkan kebaikan, pula tekad untuk mengembangkan moral akan timbul dengan sendirinya.

137. Tapi tentunya, walau kita telah bertekad bulat untuk membersihkan batin, grafik upaya kita senantiasa akan naik-turun; terkadang kita sangat antusias, lain waktu merosot, kadang-kadang kita sangat bersemangat, kadang pula menjadi malas. Ada beberapa hal yang dapat kita perbuat untuk membangkitkan kemauan pada saat gairah tersebut menurun. Seringkali, sangatlah bermanfaat untuk merenungkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan yang dihadapai oleh orang-orang sekeliling kita, dan merenungkan bahwa kita bisa saja terbebani masalah serupa di kemudian hari. Hal diatas akan menggairahkan dan membulatkan tekad untuk kembali menggunakan waktu sebaik mungkin, dan menggelorakan tenaga kita selama kita masih mampu.

Menyangkut hal ini, seseorang merenungkan: “Saya sekarang masih muda, dengan rambut hitam, masih perkasa, masih dalam tahap pertama dalam hidup saya. Tapi akan tiba waktunya, ketika badan saya akan dicengkeram oleh usia tua dan saya tidak dengan mudah lagi dapat merenungkan kata-kata Sang Buddha, tidak dengan mudah lagi dapat tinggal di hutan atau menyepikan diri. Sebelum keadaan yang tak dihendaki, tak diinginkan dan tak disetujui itu datang, mengapa saya tidak berusaha keras untuk mencapai yang belum tercapai, menggapai apa yang belum digapai, mewujudkan apa yang belum terwujud, sebab dengan keadaan seperti itu, bukankah saya akan berbahagia walau dalam keadaan sakit?”
Kemudian, dia merenungkan: “Saya sekarang sehat dan baik, dengan pencernaan yang tidak terlalu dingin ataupun panas, tapi seimbang dan cocok untuk berusaha-keras. Tapi mungkin akan tiba waktunya, ketika badan saya dicengkeram oleh usia tua dan daya tidak dengan mudah lagi dapat untuk merenungkan kata-kata Sang Buddha, tidak dengan mudah lagi dapat tinggal di hutan atau menyepikan diri. Sebelum keadaan yang tak dihendaki, tak diinginkan dan tak disetujui ini datang, mengapa saya tidak berusaha keras untuk mencapai yang belum tercapai, menggapai apa yang belum digapai, mewujudkan apa yang belum terwujud, sebab dengan keadaan seperti itu, bukankah saya akan berbahagia walau dalam keadaan sakit?”
Kemudian, dia merenungkan: “Sekarang banyak makanan tersedia, panen lagi baik, mudah memperoleh pemberian makanan dan hidup dari persembahan. Tapi sekali waktu, mungkin datang paceklik dan panen tak berhasil; mungkin akan sulit memperoleh pemberian makanan dan hidup dari persembahan. Dalam musim paceklik, orang-orang akan berpindah tempat dimana ada makanan, dan tempat seperti itu akan penuh sesak dan kacau balau, dengan demikian akan sulit untuk merenungkan kata-kata Sang Buddha.
Sebelum keadaan yang tak dihendaki, tak diinginkan dan tak disetujui ini datang, mengapa saya tidak berusaha keras untuk mencapai yang belum tercapai, menggapai apa yang belum digapai, mewujudkan apa yang belum terwujud, sebab dengan keadaan seperti itu, bukankah saya akan berbahagia walau dalam keadaan paceklik?”
Sekali lagi, dia merenungkan: “Sekarang orang-orang hidup rukun dan bersahabat dengan pandangan kasih sayang. Tapi mungkin akan tiba waktu yang dipenuhi ketakutan, ketika terjadi kerusuhan diantara suku-suku di hutan, ketika orang-orang mengemasi kereta dan mengungsi ketempat yang aman. Tempat seperti itu akan penuh sesak dan kacau balau, dengan demikian akan sulit untuk merenungkan kata-kata Sang Buddha. Sebelum keadaan yang tak dihendaki, tak diinginkan dan tak disetujui ini datang, mengapa saya tidak berusaha keras untuk mencapai yang belum tercapai, menggapai apa yang belum digapai, mewujudkan apa yang belum terwujud, sebab dengan keadaan seperti itu, bukankah saya akan berbahagia walau dalam waktu orang-orang ketakutan?”3

138. Dengan merenungkan hal-hal diatas kita akan berpikir betapa bahagianya kita berada dalam situasi seperti sekarang. Kadang-kadang kita harus membiarkan hal-hal kecil yang menghalangi kemajuan batin kita dan juga membiarkan kesulitan-kesulitan yang sebenarnya tak perlu dirisaukan yang dapat mengendurkan usaha kita. Bila, sebaliknya, kita merenungkan keberuntungan sejati yang telah kita nikmati, akan timbul tekad agar orang lain dapat menikmati kesempatan yang sama. Tenaga yang kita buang untuk mencari-cari alasan, penyesalan pada diri sendiri dan segala keluh kesah dapat diarahkan ke pencarian nilai spiritual. Perenungan seperti ini dapat membantu kita menanamkan di kalbu kita:

Tak terhitung jumlah dan wujud dari kelahiran yang pernah dialami setiap makhluk. Saya telah terlahir sebagai manusia.

Tak terhitung, mereka yang tak dapat berbicara atau mendengar apa yang dikatakan kepadanya, mereka yang tak dapat melihat untuk membaca dan mereka yang tak bertenaga untuk memberi alasan dan pertimbangan. Saya telah lahir dengan anggota badan dan indera yang lengkap.

Banyak diantara mereka yang tinggal di tempat yang penuh pertentangan dan permusuhan serta terampas keamanan dan kesejahteraannya. Saya sekarang tinggal di tempat yang penuh kedamaian.

Tak dapat dihitung mereka yang terpaksa membanting tulang tanpa akhir, menanggung lapar dan serba kekurangan. Saya memiliki kekayaan untuk memelihara badan dan waktu untuk memberinya istirahat.

Amat banyak yang badan dan batinnya terikat, mereka tidak memiliki dirinya sendiri, tak dapat pergi kemana mereka kehendaki, tak dapat berpikir sebagaimana mereka kehendaki. Saya menikmati kebebasan.

Tanpa dihitung lagi mereka yang tinggal di daerah dimana Dhamma tak bersinar, atau dimana pesan-pesan Dhamma tak terdengar, teratasi oleh hingar-hingar ajaran yang tidak benar. Saya telah mendengar dan mengerti Dhamma yang baik.

Sangatlah berharga nilai kehidupan manusia ini dan sangatlah besar berkah yang saya nikmati. Saya, disini dan sekarang, didepan Sang Buddha merenungkan keberuntungan saya sendiri dan berketetapan hati untuk memanfaatkan kesempatan yang langka ini untuk bekerja demi kebaikan saya dan kebaikan orang lain. Dengan tekad yang kuat, saya akan mengatasi segala rintangan besar dan kecil.4

139. Hal lain yang dapat membangkitkan gairah yang telah menurun adalah dengan merenungkan kenyataan bahwa kita sekarang adalah murid Sang Buddha, yang oleh karenanya telah mewarisi suatu tradisi spiritual yang agung yang telah berkembang selama ribuan tahun dan telah dipeluk jutaan orang. Sang Buddha berkata pada kita:

Jadilah pewaris Dhamma, bukannya pewaris benda-benda materi.5

Untuk menjadi pewaris Dhamma yang benar, dan berharga di depan Guru kita, kita harus melaksanakannya dengan rajin dan konsisten. Buddhagosa memberi nasehat pada kita untuk senantiasa merenungkan:

Saya harus menjadi pewaris Dhamma nan agung, dan ini tidak dapat dilaksanakan oleh seorang pemalas.6

Kenyataannya, sebagian mereka yang mengaku Buddhis meremehkan Tiga Permata (Sang Ti Ratana), mereka tidak sepenuhnya melaksanakan ajaran Sang Buddha atau malah tidak sama sekali. Bila kita mengenal Dhamma dengan benar, bila kita melaksanakannya sepenuhnya, dan bila kita berbagi dengan orang lainnya, bermurah-hati dan penolong; maka dengan cara diatas kita telah turut menunjukkan tata-cara kehidupan yang diajarkan Sang Buddha, kita telah bertindak lebih tepat dari pada beradu argumentasi. Berkehidupan murni dan bersemangat adalah cara terbaik untuk menghormati Sang Buddha.

Lihatlah para Siswa yang selaras dengan sempurna,
Berteguh-hati dan selalu berupaya,
Selalu teguh didalam kemajuannya;
Inilah cara terbaik untuk memuja Sang Buddha.7

140. Sering terjadi, sewaktu kita baru mulai menjalani Jalan, kegairahan kita menggelora dengan pengharapan yang sangat tinggi. Tapi setelah disadari, bahwa ada kebiasaan-kebiasaan lama misalnya sifat keras kepala serta bahwa dalam usaha merubah sifat tersebut, diperlukan usaha yang keras dan penuh kesabaran; maka minat mungkin mulai berkurang. Atau sebaliknya, kegairahan awal kita demikian membara sehingga menguras habis tenaga kita, sehingga tidak tersisa tenaga lagi untuk menjalani Jalan pada langkah selanjutnya. Kita hendaknya mawas pada upaya kita dengan bersabar dan senantiasa menilai kemampuan diri sendiri secara realistis. Tidaklah penting seberapa banyak upaya yang telah kita lakukan, tapi adalah lebih penting “kapan dan bagaimana” kita berupaya. Upaya akan berhasil-guna bila dilakukan dengan seimbang, walau harus diselesaikan secara bertahap dari waktu ke waktu. Seperti diumpamakan Sang Buddha sebagai “menangkap burung puyuh dengan tangan”. Bila kita menggunakan terlalu banyak tenaga, burung puyuhnya akan mati terperas; bila kita tidak menggunakan tenaga sama sekali burung puyuhnya akan terbang melewati jari-jari kita. Pada suatu kesempatan Sang Buddha mengibaratkan upaya dengan cara seseorang menyetem peralatan musik.

Yang Mulia Sona, bermeditasi dengan kusuknya, berpikir dalam dirinya sendiri: “Para Siswa Sang Buddha hidup dengan aktif bersemangat, padahal pikiran saya belum terlepas dan bebas dari kotoran batin. Keluargaku kaya; saya bisa meninggalkan latihan, kembali ke kehidupan berumah tangga, menikmati kekayaan sambil berbuat baik.”
Saat itu, Sang Buddha membaca pikirannya, dan semudah seperti merentangkan lengannya, Sang Buddha muncul dihadapan Sona dan berkata: “Apa yang kau pikirkan, Sona? Dimasa lampau sewaktu kau masih di rumah, bukankah engkau ahli dalam musik kecapi?”
“Ya, demikianlah, Tuanku.”
“Dan bila tali kecapi terlalu kencang, apakah kecapi dapat dimainkan dan memberi nada yang baik?”
“Tidak, Tuanku.”
“Bila tali kecapi terlalu longgar, apakah kecapi dapat dimainkan dan memberi nada yang baik?”
“Tidak, Tuanku.”
“Tapi, bila tali kecapi tidak terlalu kencang, juga tidak terlalu longgar, namun disetem pada nada yang sedang, apakah kecapi kemudian dapat dimainkan dan memberi nada yang baik?’
“Ya, Tuanku.”
“Demikian pula, Sona, upaya yang terlalu kencang akan berakhir dengan kebingungan, bila terlalu longgar akan berakhir dengan kemalasan. Oleh karenanya, teguhlah dalam keseimbangan, kembangkan keseimbangan indera dan dengannya tercapailah hal-hal yang bernilai.”8

Demikian pula pada beberapa aspek dalam Jalan; jalan tengah antara ketelitian berlebihan, terlalu kokoh dan kekuatan yang kasar dipihak yang satu dan sikap lesu di pihak yang lain, akan memantapkan perjalanan kita dengan laju ke Nibbana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar