Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

KESADARAN SEJATI DAN PEMUSATAN PIKIRAN SEJATI

KESADARAN SEJATI
DAN PEMUSATAN PIKIRAN SEJATI

141. Bila dalam tradisi agama lain perhatian sepenuhnya ditujukan kepada Tuhan, sebab dengan mengerti kehendaknya akan menyebabkan keselamatan; maka dalam agama Buddha perhatian ditujukan pada pikiran, sebab pikiran adalah perantara yang olehnya segala sesuatu berarti, ditafsirkan dan dipahami. Menjinakkan pikiran adalah menjinakkan dunia. Santideva menuangkan hal ini dengan sempurna dalam sajaknya:

Semua harimau dan macan,
Semua gajah, beruang dan ular,
Makhluk-makhluk neraka,
Setan dan dedemit,

Semuanya itu dikuasai
Dengan menguasai pikiran
Dan cukup dengan menundukkan pikiran,
Kesemuanya dapat ditundukkan,

Sebab dengan dibentuk oleh pikiran
Semua ketakutan dan kekwatiran datang
Inilah yang telah diajarkan
Oleh Si Pembicara Kebenaran

Para musuh tak terukur seperti angkasa
Bagaimana saya dapat memerangi semuanya?
Tapi bila saya menghancurkan kemurkaan saya
Pikiran tentang adanya “musuh” terhancurkan

Tidak akan cukup banyak kulit
Untuk menyelimuti dunia
Tapi dengan menggunakan sendal kulit,
Saya dapat menjelajahi dunia
Sama halnya, semua lingkungan diluar
Tak dapat dijaga secara menyeluruh
Tapi bila saya menjaga pikiran saya
Perlindungan apa lagi yang saya butuhkan?1

Dalam banyak khotbah, Sang Buddha menekankan hal yang sama.

Bagi seseorang yang masih belajar dan belum menjadi penguasa dari pikirannya sendiri, tapi tetap bercita-cita agar damai dari ikatan-ikatan, demi kebaikan dirinya sendiri, baginya Saya tidak mengetahui sesuatu yang lebih menolong dari pada memperhatikan dengan ketat pikirannya sendiri.2

Karena pikiran yang sesat, seorang menjadi sesat
Karena pikiran yang murni, seorang menjadi murni.3

Saya tidak mengetahui sesuatu yang paling tak dapat bekerja selain pikiran yang tak dikembangkan. Sebenarnya, pikiran yang tak berkembang adalah sesuatu yang tak dapat bekerja. Saya tidak mengetahui sesuatu yang paling bekerja selain pikiran yang dikembangkan. Sebenarnya, pikiran yang berkembang adalah sesuatu yang dapat bekerja.4

142. Ketika kita lahir, kita datang ke dunia ini dengan pikiran yang telah dipengaruhi oleh kebiasaan mental kita masing-masing, yang terbawa dari kehidupan sebelumnya – kebiasaan mental yang mungkin telah dikembangkan selama kurun waktu yang panjang dan mungkin pula telah sulit untuk dirubah atau diberi nuansa yang lain. Selama masa pertumbuhan dan perkembangan kita pada kehidupan ini, orang-tua dan guru-guru mengajar kita bagaimana seharusnya bertindak, namun tidak banyak diajarkan bagaimana seharusnya mengendalikan pikiran kita. Dengan demikian, walau mungkin kehidupan kita dari luar tampak selaras, namun kehidupan-kehidupan kita-pikiran kita, mungkin kacau tak beraturan. Demi mencapai kebahagiaan abadi, pikiran yang tak disiplin harus dapat dikendalikan dan dirubah. Seperti dikatakan Sang Buddha:

Sangatlah menakjubkan, melatih pikiran itu.
Bergerak lincah, meraih apa yang dikehendakinya.
Sangat baik memiliki pikiran yang terlatih baik.
Karena pikiran yang terlatih baik akan membawa kebahagiaan.

Sulit ditangkap dan sangat licik,
Pikiran meraih apa yang diinginkan.
Oleh karenanya para bijaksana menjaga pikirannya,
Karena pikiran yang terjaga akan membawa kebahagiaan.5

Dalam agama Buddha usaha menjinakkan dan menjaga pikiran dilakukan melalui meditasi. Istilah yang sering diterjemahkan sebagai meditasi adalah kata bhavana, yang secara harfiah berarti ‘mengolah’ atau ‘mengembangkan’. Jadi dalam pengertian Buddhis, meditasi yang benar adalah suatu proses dinamis, dimulai dengan mendisiplinkan, kemudian menanamkan pengertian, lalu terakhir membebaskan pikiran.

143. Ada beberapa teknik meditasi yang berbeda, beberapa diajarkan sendiri oleh Sang Buddha, beberapa yang lain dikembangkan oleh Guru-guru sesudah-Nya, namun keseluruhannya dapat dicakup dalam dua pokok utama, pertama adalah Konsentrasi (Pemusatan-pikiran) Sejati (samma samadhi). Istilah ‘samadhi’ berarti mengumpulkan atau menyatukan, dan mengacu pada pemusatan atau penyatuan pikiran. Siswa wanita Sang Buddha, Dhammadina mendefinisikan pemusatan-pikiran (konsentrasi), sebagai berikut:

Semua penyatuan pikiran adalah konsentrasi.6

Buddhagosa mendefinisikannya lewat kata-kata:

Apa konsentrasi itu? Adalah pemusatan dari kesadaran dan semua yang menyertainya secara merata dan sempurna pada satu titik.7

Dengan demikian jelas, bahwa konsentrasi tiada lain adalah suatu usaha untuk menghentikan pergerakan perhatian pikiran (yang sebelumnya selalu bergerak) dengan memancangkannya pada satu titik. Dengan melaksanakannya, baik badan maupun pikiran cenderung akan diam dan tenang; oleh karenanya teknik-teknik meditasi yang tercakup sebagai konsentrasi (Pemusatan-Pikiran) Sejati sering disebut juga Teknik Penenangan (samatha bhavana).

144. Meditasi ke dua, yakni pelaksanaan meditasi melalui Kesadaran Sejati (samma sati), istilah ‘sati’ berarti pengingatan, kemawasdirian atau perhatian-penuh. Seorang bhikkhu termasyhur Nyanaponika menyebut ‘perhatian penuh’ sebagai perhatian “kosong” dalam bentuknya yang paling mendasar, serta mendefinisikannya sebagai berikut:

…… kesadaran batin yang menyatu dan terang tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kita dan dalam diri kita, pada pencerapan-pencerapan secara berkesinambungan. Disebut ‘kosong’, karena pikiran itu mengikuti fakta-fakta kosong dari pencerapan tanpa bereaksi melalui perbuatan, ucapan atau pikiran.8

Mawas-diri oleh karenanya, walau bersifat pasif tapi adalah suatu kesiagaan batin, pada pikiran-pikiran yang timbul dan pada pengalaman-pengalaman pikiran. Pengaruh-pengaruh yang membelokkan kesiagaan itu, berupa prasangka yang timbul dari dalam pikiran, ide-ide yang timbul sebelumnya, rasa suka dan tidak suka akan berkurang bila ada kemawasan-diri, lalu secara bertahap, seseorang akan dapat melihat segala sesuatu seperti apa adanya. Kenyataan terlihat secara langsung. Oleh karenanya, teknik-teknik yang dicakup sebagai Kesadaran Sejati juga disebut Teknik Pengembangan Wawasan (vipassana bhavana) (Inggris: insight meditation).

145. Walau tidaklah mutlak, bahwa kita harus menenangkan dan memusatkan pikiran (samatha bhavana) dulu sebelum mencoba mengembangkan kesadaran/kemawasan (vipassana bhavana), tapi kebanyakan orang lebih berhasil dengan melaksanakannya berurutan. Adalah penting dipahami, bahwa ada unsur kemawasan dalam pemusatan-pikiran, pula sebaliknya ada unsur pemusatan-pikiran dalam kemawasan, dan bila dilaksanakan, dikembangkan dan dimatangkan, keduanya akan “muncul bersamaan” (yaganadha)9 dan akan saling menguatkan.

Dalam khotbah tentang Buah dari Kehidupan Bermeditasi (Samaññaphala Sutta), Sang Buddha menggambarkan semua langkah-langkah pelaksanaan meditasi secara sangat rinci dan pencapaiannya. Oleh karenanya kita sebaiknya tidak mempelajari Pemusatan-Pikiran Sejati dan Kesadaran Sejati secara terpisah, namun kita memeriksa kedua bagian terakhir dari Jalan Berjalur Delapan ini sebagai satu kesatuan melalui khotbah ini.

146. Persiapan

Sebelum kita mulai bermeditasi, kita hendaknya mempunyai keyakinan (saddha) dan secara moral siap melaksanakan Lima Janji (pañca sila), yang keduanya telah kita lihat sebelumnya. Nilai kebajikan dari meditasi jangan di lebih-lebihkan sebab kebajikan pada dasarnya menuntun ke bahagiaan karena “tak-dipersalahkan” (anavajjasukha)10, dan seperti berulang kali dikatakan Sang Buddha “pikiran dari mereka yang berbahagia menjadi terpusat” (sukhino cittam samadhiyanti).11 Setelah mencapai dengan baik hal diatas, hal penting selanjutnya sebagai persiapan meditasi adalah menjaga pintu indera (indriya samvara). Alat indera kita senantiasa berjaga-jaga menunggu rangsang yang datang. Bila kita selalu menyerah pada permintaan indera atau malah secara aktif mencari rangsangan indriawi, maka baik badan maupun mental selalu dalam keadaan tanpa-istirahat. Mencoba memuaskan rangsangan indera, seperti dikatakan Sang Buddha, adalah seperti anjing yang mencoba menghilangkan laparnya dengan mengunyah tulang kering.12 Lagi pula, kesanggupan batin untuk menghayati dan mengertikan sesuatu akan terhalangi apabila selalu tergoncang. Seperti dikatakan Subasitaratnakhosa:

Keputusan cermat sekalipun akan gagal,
Pikiran tersandung, kebijaksanaan dihancurkan,
Dan keteguhan seorang akan remuk,
Bila pikiran diracuni oleh kesenangan indriawi.13

Menghindari rangsangan indera secara berangsur menuntun pikiran menjadi tenang, yang pada gilirannya akan menyebabkan pelaksanaan meditasi menjadi mudah. Hal diatas dengan sendirinya dapat dilakukan dengan menghindari pergaulan dengan orang-orang kasar, tidak terlalu sering mengunjungi pertunjukan-pertunjukan, pesta-pesta, bioskop-bioskop dan tempat-tempat seperti itu; adalah lebih bijaksana menghabiskan waktu sendiri dengan tenang dari pada mencari teman bergunjing ataupun mencari apa saja yang mengasyikkan dan menyenangkan kita. Bila pintu indera dijaga, kita akan mengalami apa yang disebut Sang Buddha sebagai “kebahagiaan karena tak terganggu” (avyasekasukha)14, dan seperti disebutkan didepan “pikiran yang bahagia akan mudah berkonsentrasi.”

147. Sekarang kita sudah siap bermeditasi. Pertama, kita mencari tempat yang cocok untuk itu. Tempat dimana kita bisa menyendiri tanpa gangguan, adalah yang terbaik. Waktu terbaik untuk bermeditasi tergantung pada suasana dan kecenderungan setiap pribadi. Untuk sebagian orang, pagi yang dini sewaktu lingkungan masih sepi dan setelah beristirahat dengan baik dimalam hari adalah waktu terbaik; untuk sebagian orang lagi, malam hari sebelum tidur adalah waktu terbaik. Setelah mendapat tempat yang tepat, kita lalu “duduk bersila dan badan ditegakkan”.15 Kita dapat saja duduk dengan bermacam posisi, namun yang terbaik adalah duduk dilantai beralaskan batal, kaki dilipat, tangan diletakkan diatas pangkuan, dengan badan yang tegak.

148. Kesadaran Pada Pernapasan.

Meditasi Buddhis yang paling dasar adalah Kesadaran pada pernapasan (anapana sati). Teknik sederhana namun sangkil ini akan berbuah ketenangan (relaksasi) dan mengembangkan disiplin mental serta tentunya memudahkan pemusatan pikiran. Dalam menggambarkan manfaatnya, Sang Buddha berkata:

Pemusatan pikiran yang tekun pada masuk dan keluarnya nafas, bila dipupuk dan dikembangkan, adalah suatu kedamaian dan suatu yang istimewa, suatu yang sempurna dan pula suatu cara hidup yang menyenangkan. Tidak hanya itu, juga akan menghalau pikiran-pikiran jahat tak-terlatih yang telah timbul dan membuatnya hilang seketika. Bagaikan, ketika bulan terakhir dari musim panas, debu dan kotoran beterbangan, lalu hujan deras yang turun tiba-tiba menenangkan dan menurunkannya ke bumi seketika.16

Duduk dengan posisi yang enak sambil menutup mata, lalu perhatian dipusatkan pada gerakan masuk dan keluarnya nafas. Menghitung (ganana) nafas dimulai dari satu sampai tiga-puluh akan membantu mencegah pikiran berkeliaran. Hal lain yang membantu adalah mengusahakan badan agar tetap diam. Namun bila perhatian mulai teralih oleh gangguan dari luar (misalnya suara) ataupun gangguan dari dalam sendiri (misalnya pikiran-pikiran, khayalan, ingatan-ingatan) atau rangsangan pada badan (misalnya gigitan nyamuk) ataupun posisi yang kurang santai kita hendaknya dengan sabar kembali menghitung nafas seperti diatas. Senantiasa membawa perhatian kembali (ke pernafasan) secara berkesinambungan, seperti inilah yang akan menjadi kunci sukses. Kita berteguh-hati sebagai berikut:

Sebelumnya pikiran ini mengembara semaunya,
Sesuai kehendaknya dan sesuai kesenangannya,
Tapi hari ini saya akan menguasainya penuh perhatian
Seperti pawang menguasai gajah dengan kaitannya.17

149. Berapa lama kita bermeditasi? Untuk memulainya, kita hendaknya melaksanakan latihan “kesadaran pada pernapasan” selama lima belas menit sekurang-kurangnya sekali sehari. Waktu kemudian diperpanjang lima menit setiap minggu sehingga kita dapat mencapai empat puluh lima menit. Lalu, hendaknya kita bermeditasi selama empat puluh lima menit setiap hari. Sampai kita mencapai keadaan, yang ditandai dengan kemampuan untuk menyadari secepatnya bila perhatian menyimpang dan dengan mudah dapat kembali menariknya – memperhatikan pernapasan.

Mungkin karena sebelumnya belum pernah mencoba mendisiplinkan pikiran, dan karena pola kebiasaan yang telah tertanam sebelumnya; maka kita akan menghadapi kesulitan dan rintangan-rintangan, paling tidak pada tahap permulaan. Yang paling nyata dalam hal ini adalah pikiran-pikiran yang terus menerus berusaha menarik perhatian kita dari keluar masuknya nafas. Sang Buddha menyarankan lima cara mengatasi pikiran-pikiran seperti itu mengganti, mempertimbangkan untung-ruginya, tak memperdulikan, membiarkannya reda atau-pun dengan menaklukkan pikiran-pikiran itu.

Seseorang yang berkeinginan mengembangkan pikiran yang lebih tinggi, hendaknya memikirkan lima hal dari waktu ke waktu. Apa lima itu?
Bila, sewaktu memikirkan sesuatu, pikiran-pikiran jahat tak-terlatih disertai keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin timbul; dia hendaknya lalu memikirkan sesuatu pikiran yang terlatih. Dengan demikian pikiran-pikiran jahat tak-terlatih akan reda dan batin akan mantap, tenang, terpusat ke satu titik dan terkonsentrasi. Ibarat, tukang kayu atau pembuatnya mengetok, mencabut, menarik keluar pasak besar dengan menggunakan pasak kecil.
Bila, sewaktu memikirkan sesuatu yang terlatih, pikiran jahat tak-terlatih disertai keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin masih muncul; dia hendaknya lalu merenungkan kejelekan-kejelekan dari pikiran seperti itu, dengan berpikir: “Sebenarnya pikiran-pikiran ini tak terlatih, dipersalahkan dan membawa penderitaan.” Dengan demikian pikiran-pikiran tak terlatih yang jahat akan reda dan batin akan mantap, tenang, terpusat ke satu titik dan terkonsentrasi. Ibarat, seorang pemuda atau wanita yang berpakaian indah tapi berkalungkan bangkai ular, anjing atau manusia dilehernya, akan dijauhi, dipermalu dan menimbulkan perasaan jijik.
Namun, bila sementara merenungkan kejelekan-kejelekan pikiran-pikiran ini, pikiran-pikiran jahat tak-terlatih yang disertai keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin masih timbul; dia hendaknya lalu berusaha melupakannya, tidak memperhatikannya. Dengan demikian pikiran-pikiran tak terlatih yang jahat akan reda dan batin akan mantap, tenang, terpusat ke satu titik dan terkonsentrasi. Ibarat, seorang dengan penglihatan yang baik tapi menutup mata atau memalingkan muka agar tidak melihat sesuatu.
Tapi bila, sewaktu berusaha melupakan dan tidak memperhatikan pikiran-pikiran itu, pikiran-pikiran jahat tak-terlatih yang disertai keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin masih timbul; dia hendaknya membiarkan pikiran-pikiran itu menjadi tenang. Dengan demikian pikiran-pikiran tak terlatih yang jahat akan reda dan batin akan mantap, tenang, terpusat ke satu titik dan terkonsentrasi. Ibarat, seorang, yang merasa tak perlu berlari, lalu berjalan; merasa tak perlu berjalan, lalu berdiri-diam; merasa tak perlu berdiri, lalu duduk; merasa tak perlu duduk, lalu berbaring. Jadi, dia yang sebelumnya bergerak dengan susah-payah lalu bisa menjadi santai.
Tapi, bila, sewaktu membiarkan pikiran-pikiran itu menjadi tenang, pikiran-pikiran jahat tak-terlatih yang disertai keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin masih timbul, lalu, dengan gigi terkatup dan lidah ditekan kelangit-langit dia hendaknya menahan, menaklukkan dan menekan batin dengan batin. Dengan demikian pikiran-pikiran tak terlatih yang jahat akan reda dan batin akan mantap, tenang, terpusat ke satu titik dan terkonsentrasi. Ibarat, seorang yang kuat mengalahkan seorang yang lebih lemah dengan memukulnya pada kepala dan bahunya.
Seorang yang melakukan semua diatas disebut penguasa jalan pikiran. Pikiran yang dikehendaki untuk dipikir, dia pikirkan; pikiran yang tak dikehendaki untuk dipikir, dia tidak pikirkan. Dia telah memotong kemelekatan, melepaskan belenggu, menguasai kesombongan dan mengakhiri penderitaan.18

150. Mungkin sekali waktu, sewaktu bermeditasi kita merasakan sesuatu yang aneh, yang kemudian mungkin menarik perhatian kita dan menyebabkan ketegangan atau keingin-tahuan. Perasaan itu mungkin berupa; walau badan masih tetap tegak, badan serasa seakan bersandar pada satu sisi (dinding), tangan atau anggota badan lain terasa menghilang, perasaan aneh dari badan, atau cahaya terang terlintas di batin. Semua hal diatas, juga fenomena-fenomena serupa lain yang bisa terjadi pada kita, sebaiknya dianggap hanyalah sekadar tipuan batin yang mempesonakan dan membetot pikiran kita; semuanya tidak berbahaya, dan semuanya akan hilang berlalu bila tak dihiraukan. Hal lain yang dapat terjadi, terutama bila meditasi kita telah mengalami kemajuan, ialah pernafasan yang menjadi dangkal sedemikian rupa sehingga tak dirasakan lagi. Bila kita menyadari bahwa nafas seakan berhenti, maka mungkin menyebabkan kita kaget dan kwatir. Namun, hendaknya dicatat dalam pikiran, bahwa sebenarnya pernafasan tidak berhenti dan tidak akan berhenti. Secara alami pernafasan memang menjadi lembut dan dangkal, bila badan dalam keadaan tenang, karena tubuh kita membutuhkan hanya sedikit oksigen. Satu hal lagi, yang sering mengganggu para pemeditasi adalah perasaan kesemutan atau yang serupa pada tungkai. Karena perasaan ini biasanya ringan dan akan segera hilang bila tungkai telah bersila, maka sebaiknya perasaan ini dihiraukan saja. Namun, bila perasaan kesemutan ini berlangsung terus dan cenderung menyakitkan, maka mungkin lebih baik kita mencoba posisi lain saja. Hal yang harus dipahami ialah bahwa posisi apapun juga akan menimbulkan perasaan yang tidak enak pada permulaan, dan walau kita bergerak atau merubah posisi kaki, perasaan sedemikian akan tetap juga ada. Bila kita telah dengan mudah bertahan memperhatikan pernafasan, maka kita bisa mengabaikan “cara hitung” tadi, dan dengan demikian pikiran kita terfokus pada gerakan pernafasan semata.

151. Perenungan-perenungan.

Dengan melaksanakan meditasi pernafasan secara teratur; lalu sewaktu kita telah mencapai tingkat dimana perhatian kita telah lebih mantap terpaku pada pernafasan, maka kita telah siap untuk menambah latihan Perenungan (anusati) pada meditasi kita. Ada beberapa Perenungan yang diajarkan oleh Sang Buddha, yang terpenting adalah Perenungan Pada Buddha (Buddhanussati), Dhamma (Dhammanussati) dan Sangha (Sanghanussati); Perenungan Pada Kebajikan (Silanussati), Kemurahan-hati (Caganussati), sahabat-sahabat Spiritual Kedamaian (Kalyanamittanussati)19, Pada Kematian (Maranasati) dan Pada Kedamaian. (Upasamanussati)20 Perenungan dilakukan dengan mengarahkan pikiran kita pada obyek-obyek tertentu dan dengan hati-hati merenungkannya. Sang Buddha bersabda:

Apapun yang sering seseorang renungkan dan pikirkan, batin akan bersandar padanya.21

Pernyataan diatas sangat tepat. Pikiran apapun yang menonjol dalan batin kita, akan berpengaruh pada kepribadian dan perilaku kita. Bila dengan sadar dan sengaja, kita memenuhi batin kita dengan pikiran-pikiran positif, maka pikiran-pikiran sedemikian akan muncul dengan sendirinya, lalu pada gilirannya akan berbuah perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan pikiran-pikiran itu.

Sewaktu Siswa-siswa yang agung merenungkan (hal-hal ini), batinnya akan bebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin. Pada saat itu, batinnya mantap dan tertuju pada hal-hal itu, dan dengan batin yang mantap dia menunjukkan kegembiraan dari kebajikan, kegembiraan dari Dhamma dan kegembiraan berjalan bersama Dhamma. Pada mereka yang gembira, timbul keceriaan; disebabkan keceriaan, jasmani menjadi tenang; dengan jasmani yang tenang seseorang akan bahagia, dan batin seorang yang bahagia senantiasa terkonsentrasi.22

Sewaktu pelaksanaan Puja, kita juga melaksanakan Perenungan pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Perenungan pada Buddha juga dapat dilakukan dengan membaca literatur-literatur peribadatan yang membangkitkan pikiran-pikiran yang seperti yang disajikan dalam Kamalañjli.

Engkau ramah pada yang kejam, adil pada yang semena-mena, baik pada yang jahat, penuh kebaikan pada yang berbahaya, dan Engkau bertindak dengan cara yang tak pernah dilakukan oleh siapapun. Oh, Pemenang, Pengasih, Yang Adil, Tempat Kediaman Kebajikan, Yang Berbudi, Yang hidup-Nya semata demi kesejahteraan orang lain, sebenarnyalah dalam diri-Mu lah hatiku menemukan kebahagiaan.

Walau Engkau hidup dalam Alam Kekacauan, Engkau selalu bertindak penuh kemuliaan, dengan menjaga keseimbangan di-tengah-tengah luapan kesenangan duniawi, Engkau memancarkan Kesempurnaan; dengan mengingat-Mu siang dan malam, dalam mimpi, setiap waktu, Oh, Pemenang, Yang Bijaksana, didalamnyalah hatiku menemukan kebahagiaan.

Engkau memberi hal-hal yang paling sulit diberikan, melakukan hal-hal yang paling sulit dilakukan dan mengampuni mereka yang berbuat kesalahan besar, Oh, Harta Tak Tertandingi – kediaman dari welas-asih dan Oh, Guru Bijaksana, bila saya merenungkan kebajikan-Mu yang tak bernoda, siang ataupun malam, ataupun setiap waktu, hatiku lalu menemukan kebahagiaan.

Sebenarnya Engkau melaksanakan hal yang paling sulit dalam perilaku moral dan menjinakkan mereka yang tak terkendalikan; demikian pula, dengan hati penuh kasih-sayang Engkau mendekatkan cinta-Mu pada mereka yang keras-hati sekalipun; oleh karenanya, Oh, Guru Yang Bijaksana, bila saya merenungkan kebajikan-Mu yang tak bernoda, siang ataupun malam, ataupun setiap waktu, hatiku lalu menemukan kebahagiaan.23

Sebelum kita dapat melakukannya tersendiri, maka untuk membantu menuntun pikiran-pikiran kita; ada baiknya kita membiasakan membaca dengan hikmat dan tenang semua Penerungan dibawah ini.24

152. Sang Buddha bersabda dalam Perenungan Kebajikan:

Engkau hendaknya merenungkan kebajikan-kebajikanmu sendiri sebagai lengkap, utuh, tak bernoda, tak berbercak, memberi-kebebasan; sebagai terpuji oleh para bijaksana, murni dan mengantar kearah konsentrasi pikiran.25

Perenungan Kebajikan dapat dilakukan dalam empat bagian, satu setiap harinya. Olehnya kita akan dituntun agar dapat memaafkan mereka yang mungkin telah menyakiti kita, memaafkan diri sendiri atas kegagalan-kegagalan dan kekurangan-kekurangan, bergembira atas perbuatan-perbuatan baik kita sendiri dan akhirnya bergembira atas perbuatan-perbuatan baik orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar