Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

PERENUNGAN KEBAJIKAN

PERENUNGAN KEBAJIKAN

bagian I

Apabila pada hari ini atau sebelumnya, mereka yang lain telah berbuat salah pada saya; lewat jasmani, perkataan atau pikiran, besar ataupun kecil, dengki ataupun kurang bijaksana; sekarang saya dengan ini didepan Sang Buddha dengan tulus memaafkan mereka dan menghapus dendam ini.

Saya memaafkan, karena mengingat betapa seringnya saya juga berbuat salah.

Saya memaafkan, karena menyadari betapa saya selalu membela diri, padahal mengharapkan maaf atas kesalahan sendiri.

Saya memaafkan, karena mengetahui bahwa dengan menyimpan keinginan jahat, saya akan merugikan diri sendiri lebih besar dari pada yang dapat diperbuat orang lain pada saya.
Saya memaafkan, berjanji dalam hati tidak akan membicarakan kesalahannya ini pada orang lain.

Saya memaafkan, karena mengetahui bahwa keinginan membalas hanya akan menyebabkan kekalutan dan kegoncangan hati.

Saya memaafkan, karena dengan jalan inilah cinta-kasih dan penglepasan akan berkembang dalam hati.

Saya memaafkan, karena mengetahui bahwa sama seperti saya, merekapun masih terbakar oleh keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin.

Semoga pemberian maaf hari ini akan membantu saya agar dapat memberi maaf lagi esok hari.

Semoga pemberian maaf ini mendorong mereka yang lain agar juga memberi maaf pada saya.

Semoga pemberian maaf ini memupuk penglepasan, kebaikan dan membantu pembebasan hati.
Bagian II

Apabila pada hari ini atau sebelumnya, saya telah berbuat salah pada orang lain; lewat jasmani, perkataan atau pikiran, besar ataupun kecil, dengki ataupun kurang bijaksana; sekarang saya dengan ini didepan Sang Buddha mengakui pelanggaran-pelanggaran itu dan memohon maaf.

Saya mohon maaf, bukan untuk menutupi kesalahan-kesalahan saya atau beralasan pada mereka.

Saya mohon maaf, karena mengetahui betapa tak berarti, seharusnya saya mengeluh bila seseorang berbuat salah pada saya.

Saya memohon maaf, berharap agar perbuatan saya yang jelek tidak akan dicontohi mereka yang lain.

Saya memohon maaf, benar-benar merasa menyesal dan berjanji akan memperbaiki-diri.

Saya memohon maaf, dan berjanji untuk melaksanakan pengendalian diri di kemudian hari.

Semoga semua makhluk bebas dari pembalasan. Semoga semua makhluk dimaafkan atas kesalahan-kesalahannya.

Semoga kesalahan-kesalahan saya selalu tak berarti dan mudah teratasi.
Bagian III

Apabila pada hari ini atau sebelumnya, saya telah berbuat baik pada orang lain; lewat jasmani, perkataan atau pikiran, besar ataupun kecil, demi kebahagiaan orang lain, berkat hasrat melatih diri atau penghormatan pada Tiga Permata, saya dengan ini didepan Sang Buddha mengingat perbuatan-perbuatan baik itu, dan oleh karenanya hati saya bergembira.

Saya bergembira karena perbuatan baik saya, berjanji tidak akan memperbandingkan diri saya dengan orang lain atau membicarakan kebaikan-kebaikan yang telah saya perbuat.

Saya bergembira karena perbuatan baik saya, dan dengan bahagia membagi kegembiraan ini pada semua makhluk dimana-pun berada.

Saya bergembira karena perbuatan baik saya, dan dikarenakan kegembiraan itu, hati saya akan lebih murni.

Saya bergembira karena perbuatan baik saya, dengan pengharapan agar perbuatan-perbuatan itu akan membangkitkan keinginan orang-orang lainnya agar melaksanakan Dhamma.

Semoga perbuatan-perbuatan baik saya melepaskan beban-beban makhluk lain.

Semoga perbuatan-perbuatan baik saya melindungi saya dari segala kejahatan dan penderitaan.

Semoga perbuatan-perbuatan baik saya dan jasa yang ditimbulkan oleh-nya membantu pembebasan hati.
Bagian IV

Apabila pada hari ini atau sebelumnya, saya telah melihat atau mendengar perbuatan-baik dilakukan oleh orang lain; lewat jasmani, perkataan atau pikiran, besar ataupun kecil, demi keberuntungan saya ataupun orang lainnya, saya dengan ini didepan Sang Buddha mengingat perbuatan-perbuatan baik itu, dan oleh karenanya hati saya bergembira.

Saya bergembira karena perbuatan-baik orang-lain, semata-mata karena itu, bukan karena perbuatan salah yang telah mereka perbuat.

Saya bergembira karena perbuatan-baik orang-lain, senantiasa akan memuji mereka yang baik dan menjadikannya suri tauladan.

Saya bergembira karena perbuatan-baik orang-lain, dan menyadari bahwa walau dunia ini dipenuhi rasa ke-aku-an ini, namun masih banyak orang yang berhati mulia.

Saya bergembira karena perbuatan-baik orang-lain, senantiasa bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan-kebaikannya.

Saya bergembira karena perbuatan-baik orang-lain, dan dikarenakan kegembiraan itu, hati saya akan lebih murni.

Semoga perbuatan-perbuatan baik orang lain tidak pernah menimbulkan cemburu, dengki dan iri-hati.

Semoga perbuatan-perbuatan baik orang-lain membantu mengembangkan rasa terimakasih dan kepedulian.

Semoga perbuatan-perbuatan baik orang-lain memelihara kebajikan dalam diriku dan membantu pembebasan hati.

153. Pada pelaksanaan Perenungan Kemurahan-hati, kita merenungkan nilai-nilai kemurahan-hati (kedermawaan) dan juga agar kita dapat menambah kemurahan-hati itu pada orang lain. Sang Buddha menyarankan merenungkannya dengan cara berikut:

Engkau hendaknya merenungkan kemurahan-hati dirimu sendiri seperti ini: “Ini adalah keberuntungan saya sendiri. Sebenarnya, ini adalah suatu keberuntungan dengan berdiri teguh diantara yang picik, saya berumah-tangga dengan batin yang bebas dari kepicikan; tangan saya terbuka; tangan saya murni, bergembira bila dapat membagi pada siapa saja, orang tempat memohon kebaikan pula orang yang bergembira bila memberi sesuatu.”26

Perenungan Kemurahan-hati

Apakah hari ini saya membagi keberuntungan besar yang saya nikmati, namun dengan perasaan enggan? Terbenam di dalam milik saya, tanpa memikirkan mereka yang lain; apakah saya menikmatinya sendiri? Tanpa kepicikan atau keserakahan, apakah saya telah bergembira karena dapat memberi? Sekarang saya disini didepan Sang Buddha berjanji menjadi seorang yang selalu memberi dan membagi.

Saya akan memberi, tapi tak memberikannya benda yang bisa mencelakakannya, walaupun diminta.

Saya akan memberi, tidak hanya pada mereka yang saya senangi, tapi juga pada orang tak dikenal, pada mereka yang memusuhi sekalipun.

Saya akan memberi karena menyadari kebutuhan mereka, tak menunggu permintaan.

Saya akan memberi dengan kerendahan-hati, tanpa keinginan akan penghargaan.

Saya akan memberi dan juga memberi kesempatan pada mereka untuk juga memberi pada saya.

Saya akan memberi, tak akan membiarkan pikiran lain menodai kemurahan-hati saya.

Saya akan memberi, menyadari bahwa kemurahan-hati akan membantu pengembangan penglepasan.

Semoga kemurahan-hati saya, menghapus kepicikan dan meredakan permusuhan.

Semoga kemurahan-hati saya, mengundang persahabatan baru dan menggembirakan mereka yang tak berbahagia.

Semoga kemurahan-hati saya, melumerkan semua keserakahan dan keterikatan dan membantu pembebasan hati.

154. Pada perenungan yang berikut Sang Buddha berkata:

Engkau hendaknya merenungkan para sahabat spiritual seperti ini: “Sebenarnya adalah keberuntungan bagi saya. Sebenarnyalah, sangat baik bagi saya memiliki sahabat-sahabat yang indah, penuh kasih-sayang, senantiasa mengharap kesejahteraan bagi saya, senantiasa memberi dorongan dan mengajar saya.27

Perenungan Sahabat Spiritual mendorong kita untuk memikirkan hubungan kita dengan orang lain dan usaha-usaha yang hendaknya kita lakukan demi menambah erat tali persahabatan yang saling mengasihi itu.
Perenungan Persahabatan

Apakah hari ini saya gagal menunjukkan persahabatan sejati pada mereka yang saya temui? Apakah saya, melalui badan, ucapan dan pikiran: memusuhi, tak mengacuhkan atau bersikap kasar pada makhluk lain? Apakah saya berusaha mengambil keuntungan dari yang lainnya, tidak memperlakukan mereka seakan mereka adalah kakek dan nenek, ayah dan ibu, saudara lelaki dan wanita, sendiri? Sekarang saya disini didepan Sang Buddha berjanji berlaku seperti Yang Mulia, sahabat sejati dari seluruh dunia.

Sebagai sahabat, saya akan menolong yang kesulitan, mengarahkan yang sesat, dan menghibur yang kesepian.

Sebagai sahabat, saya tidak akan menyalahgunakan kepercayaan orang lain pada saya dengan berlaku curang dan menipunya.

Sebagai sahabat, saya tidak akan membiarkan mereka berbuat-kejahatan dan berbuat-kebodohan, sebab bila saya membiarkannya, siapa lagi yang akan membimbingnya?

Sebagai sahabat, saya mengabaikan rasa tak berterima-kasih, pula rasa tak percaya; saya akan terus menawarkan persahabatan.

Sebagai sahabat, senantiasa mengharapkan kedamaian, saya akan membicarakan perbuatan baik seseorang dan tak akan membicarakan kesalahan-kesalahannya.

Sebagai sahabat, saya akan senantiasa mengingat perbuatan baik yang telah diperbuat pada saya dan segera terlupakan yang tidak baik.

Semoga keramahan saya memenangkan persahabatan pada yang lainnya.

Semoga keramahan saya melindungi saya dari sikap bermusuhan, kemarahan dan penyerangan.

Semoga keramahan saya bertumbuh menjadi cinta-kasih dan welas-asih dan membantu membebaskan hati.

Perenungan pada Kematian, yang adalah merenungkan maut yang senantiasa membayangi diri kita, akan bermanfaat untuk mendorong kita untuk hidup sebagaimana seharusnya dan agar tidak dihantui ketakutan bila kematian telah mendekati kita.
155. Perenungan Kematian

Saya duduk saat ini didepan Sang Buddha dan merenungkan, bahwa Beliau dan Mereka yang mengenal-Nya, sekarang telah tiada. Sejak kemangkatan-Nya, tak terhitung makhluk telah datang, menunggu waktunya, lalu pergi lagi. Nama-nama dan amal-perbuatannya hanya sedikit yang masih dikenang. Penderitaan mereka, kegembiraan mereka, kemenangan mereka, kekalahan mereka, seperti halnya mereka sendiri, saat ini hanya bayangan. Hal yang sama akan terjadi diantara yang saya kenal. Bersamaan dengan waktu, maka akan terjadi bencana yang saya kwatirkan, kemungkinan yang saya takutkan; kesenangan yang saya kejar menjadi bayangan semata. Oleh karenanya, saya akan merenungkan kenyataan akan kematian saya sendiri, agar saya mengerti nilai hidup yang sejati.

Sebab kematian mungkin akan segera datang, saya akan melunasi segala hutang saya, memaafkan segala kesalahan dan tak bertengkat dengan siapapun.

Sebab kematian mungkin akan segera datang, saya tidak akan menghabiskan waktu menyesali kesalahan-kesalahan di masa yang lalu, tapi akan merencanakan hari-hari dengan baik seakan itulah hari terakhir.

Sebab kematian mungkin akan segera datang, saya akan memurnikan batin saya, bukannya memanjakan jasmani saya.

Sebab kematian mungkin akan segera datang, pula perpisahan dengan yang saya cintai, saya akan mengembangkan perasaan kasih-sayang yang bebas, bukannya kepemilikan dan ketergantungan.

Sebab kematian mungkin akan segera datang, saya akan menggunakan hari-hari saya sebaik mungkin, tidak menghamburkannya mengejar dan merindukan hal-hal yang tak berguna.

Semoga saya telah siap sewaktu kematian datang.

Semoga saya tidak takut sewaktu kehidupan terbenam.

Semoga keterlepasan saya akan membebaskan hati ini.

156. Tujuan Perenungan pada Kedamaian adalah sebagai pendorong agar kita hidup selaras dengan yang lainnya, mengembangkan perdamaian dan menghindari pertikaian. Juga mengingatkan kita bahwa kedamaian abadi hanya dapat dialami dengan tercapainya Nibbana.
Perenungan pada Perdamaian

Saya duduk saat ini didepan Sang Buddha dan merenungkan, bahwa dengan melihat unsur-kehidupan sebagai kekosongan, Beliau dapat mencapai kedamaian. Ketenangan-Nya yang kokoh dan cinta-Nya yang damai akan menjiwai saya. Mereka yang murka karena ketak-adilan, tak sabar untuk perubahan, putus-asa karena bencana, ceria hari ini dan murung besok hari, akan segera kehabisan tenaga dengan sendirinya. Tapi mereka yang batinnya senantiasa tenang dan mereka yang hidup dalam kedamaian akan berlimpah tenaga. Mereka, seperti Sang Buddha, adalah pulau kedamaian di lautan nan penuh gejolak, yang menjadi pulau perlindungan bagi semua makhluk.

Oleh karenanya, saya akan mencari kedamaian dan ketenangan; menghindari kelantangan, keributan dan dia yang senang perselisihan.

Saya akan berusaha sekuat mungkin untuk meselaraskan kembali mereka yang sedang berselisih.

Saya akan bertutur tidak menyimpang dan tidak kasar; senantiasa tepat dengan kata-kata yang baik dan benar.

Saya akan berusaha sekuat mungkin berdamai dan mengalah, dan tidak akan menjadi penyebab pertengkaran di antara mereka yang lain.

Semoga mereka yang hidup dalam kekacauan menemukan kedamaian yang didambakannya.

Semoga hati saya bebas dari rongrongan kotoran batin.

Semoga dengan hidup dalam kedamaian saya, akan membebaskan hati ini.

157. Berapa lama meditasi perenungan dilaksanakan? Tergantung pada perasaan kita pada waktu-waktu tertentu. Sekali waktu, mungkin cukup lima sampai sepuluh menit untuk melakukannya dengan tenang, pada waktu lain mungkin diperlukan waktu dua puluh sampai tiga puluh menit. Hal lain yang penting diingat ialah, bahwa walau sangat baik untuk melakukan salah satu meditasi perenungan setiap hari setelah meditasi pernapasan, namun meditasi perenungan sendiri dapat dilakukan setiap saat. Sang Buddha berpesan meditasi perenungan “hendaknya dikembangkan sementara engkau berjalan, sementara berdiri dan berbaring, sementara melaksanakan usaha dan sementara berada di rumah yang penuh dengan anak-anak.”28
158. Meditasi Cinta-Kasih

Pelaksanaan meditasi berikut yang kita pelajari adalah Meditasi Cinta-Kasih (metta bhavana). Tujuan dari meditasi ini adalah untuk menghalau permusuhan dan menguatkan nilai yang paling tinggi dari segalanya, yakni cinta-kasih (metta).
Buddhaghosa melukiskan cinta-kasih sebagai berikut:

Cinta-kasih ditandai dengan hasrat memajukan kesejahteraan orang lain. Gunanya adalah menginginkan kesejahteraan. Perwujudannya adalah hilangnya kekesalan-kekesalan. Penyebab terdekatnya adalah ingin melihat cinta di antara makhluk-makhluk.29

Cinta-kasih, dengan demikian, adalah perasaan yang kuat dalam bentuk kehangatan dan kasih-sayang yang dicurahkan kepada mereka yang lain, yang diwujudkan dalam bentuk usaha untuk menyenangkan mereka yang dicintai (lihat 79-80). Cinta-kasih (metta) adalah salah satu dari empat nilai yang disebut sebagai Empat Keadaan Luhur (brahma vihara), tiga yang lain adalah Welas-Asih (karuna), Bersimpati (mudita) dan Keseimbangan-Batin (upekkha).
Welas-Asih adalah perasaan kasihan yang timbul ketika kita menyaksikan penderitaan makhluk-makhluk lain. Dhammapada Atthakata secara jitu mendefinisikan Welas-Asih sebagai berikut:

Welas-Asih adalah sesuatu yang menggerakkan hati karena menyaksikan penderitaan orang-lain. Menghancurkan dan meleburkan penderitaan orang-lain, jadi disebut Welas-Asih. Disebut Welas-Asih karena menaungi dan merangkul mereka yang menderita.30

Yang mengimbangi Welas-Asih adalah Simpati, yang adalah perasaan turut bergembira atas kebahagiaan atau keberhasilan orang lain. Keseimbangan-Batin adalah keadaan batin yang bebas dari perasaan yang menonjol, yang mendukung atau melawan salah satu pihak. Keseimbangan-Batin adalah keseimbangan emosi.

159. Empat Keadaan Luhur dapat dilihat dari beberapa sudut pandang – sebagai empat nilai yang berhubungan tapi terpisah atau sebagai aspek-aspek berbeda dari Cinta. Tentang Empat Keadaan Luhur sebagai nilai-nilai yang terpisah tapi saling mendukung, Nyanaponika berkata:

Cinta-Kasih secara bebas mengawal Welas-Asih agar tidak memihak, mencegahnya agar tidak membeda-bedakan dengan memilih atau mengeluarkan pihak tertentu, dengan demikian melindunginya agar tidak terjatuh ke pemihakan atau keengganan pada pihak yang dikeluarkan.

Cinta-Kasih membagi pada Keseimbangan-Batin, perasaan yang tak mementingkan diri sendiri, perasaan yang tak terikat, dan malah kesungguhannya. Karena sesungguhan sendiri, merubah dan mengendalikan, adalah juga bagian dari Keseimbangan-Batin yang sempurna, memperkokoh kekuatannya pada penghayatan yang dalam dan pengendalian diri yang bijaksana.

Welas-Asih mencegah Cinta-Kasih dan Simpati agar tidak terlupa, pada waktu keduanya sedang menikmati atau memberi kebahagiaan yang sementara dan terbatas, bahwa masih ada kesengsaraan yang sangat mengerikan di dunia pada saat itu. Welas-Asih mengingatkan ke duanya bahwa kebahagiaan timbul bersamaan dengan penderitaan tak terukur, yang mungkin hanya di depan pintu. Welas-Asih adalah pengingat pada Cinta-Kasih dan Simpati bahwa masih lebih banyak penderitaan di dunia ini dari pada yang mereka (cinta-kasih dan simpati) telah berhasil mereka kurangi; bahwa, setelah dampak dari pengurangan itu hilang, penyesalan dan penderitaan pasti akan timbul lagi sampai penderitaan ditumbangkan sama sekali sewaktu pencapaian Nibbana. Welas-Asih tidak memperbolehkan Cinta-Kasih dan Simpati menutup diri diri dari dunia luar dengan sekadar mengikat diri mereka pada kedangkalan tertentu saja.

Welas-Asih tidak akan membiarkan Cinta-Kasih dan Simpati berputar haluan pada kepuasan diri di dalam kebahagiaan yang diiringi oleh iri hati. Welas-Asih mendesak dan mendorong Cinta-Kasih untuk meluaskan cakupannya; mendesak dan mendorong Simpati untuk mencari penyegaran. Jadi menolong keduanya untuk bertumbuh dalam Keadaan Tak Terikat yang sejati (appamañña).

Welas-Asih menjaga Keseimbangan-Batin agar tidak terjatuh pada keengganan yang dingin, dan menjauhkannya dari kelambanan atau menyendiri demi kepentingan diri sendiri. Welas-Asih akan mendesak Keseimbangan Batin agar memasuki lagi kancah pertempuran duniawi berulang kali, agar dapat menahan ujian, dengan memperteguh dan menguatkan dirinya sendiri, sampai pada akhirnya Keseimbangan-Batin mencapai kesempurnaan.

Simpati menjaga Welas-Asih agar tidak terselubungi melulu oleh pemandangan kesengsaraan duniawi, agar tidak terlarut oleh karenanya dan dengan demikian melalaikan segala yang lainnya. Simpati melepaskan ketegangan batin, menyejukkan keperihan hati yang berwelas-asih. Simpati menjaga Welas-Asih agar tidak bermurung tanpa tujuan, agar tidak terlarut sia-sia dalam keharuan yang hanya akan melemahkan dan melelahkan batin dan hati. Simpati mengembangkan belas-kasih menjadi simpati yang aktif.

Simpati memberi ketentraman pada Keseimbangan-Batin yang kemudian dapat melunakkan ketegangannya. Simpati adalah senyum luhur pada wajah Yang Tercerahi, senyum yang menetap, walau Beliau melihat keperihan yang mendalam di dunia ini, senyum yang memberi harapan dan hiburan, menghilangkan ketakutan serta menanamkan kepercayaan diri: “Pintu menuju Pembebasan telah terbuka lebar,” demikian dilantungkannya.

Keseimbangan-Batin tertanam dihayati pada tiga Keadaan Luhur lainnya lewat kekuatan menuntun dan menahan dari ke tiganya, menunjukkan mereka arah yang seharusnya diambil, dan memperlihatkan padanya jalan yang seharusnya diikuti.

Keseimbangan-Batin menjaga Cinta-Kasih dan Welas-Asih agar tidak menghamburkan waktu dalam pencarian yang sia-sia, agar tidak tersesat dalam labirin emosi yang tak terkendali. Keseimbangan-Batin adalah kendali diri yang demi pencapaian tujuan akhir, tidak akan memperbolehkan Keseimbangan-Batin berpuas-diri pada hasil tak bermakna, dan yang karenanya melupakan tujuan perjuangan kita yang sejati.

Keseimbangan-Batin, yang berarti ‘berpikir seimbang’, memberi kesetiaan dan keteguhan yang kokoh dan seimbang pada Cinta-Kasih. Keseimbangan-Batin memberkati Cinta-Kasih dengan harkat tertinggi dari kesabaran. Keseimbangan-Batin melengkapi Welas-Asih dengan keberanian dan ketakgentaran yang seimbang dan tak tergoyahkan, memungkinannya untuk menghadapi jurang kesengsaraan dan keputusasaan yang mengerikan, yang olehnya Welas-Asih diperhadapkan berkali-kali. Pada sisi yang aktif dari Welas-Asih, Keseimbangan-Batin adalah tangan yang kokoh dan tenang, dengan diarahkan oleh kebijaksanaan, diulurkan pada mereka yang hendak melaksanakan seni menolong orang lain yang terkadang memang sulit. Sekali lagi, disini Keseimbangan-Batin berarti kesabaran, kesetiaan menunggu hasil kerja Welas-Asih.31

Dari sisi yang lain, Empat Keadaan Luhur dapat dilihat sebagai cara-cara yang berbeda untuk mewujudkan cinta tergantung situasi; ibarat cahaya yang dapat memantulkan bermacam-macam warna dari permukaan-permukaan berbeda dari suatu permata yang sama. Dengan demikian Cinta-Kasih, dalam arti kasih-sayang dan kehangatan, adalah jawaban Buddhis bagi orang-orang yang terbuka dan bersahabat, Welas-Asih adalah jawaban bagi mereka yang tercekam, Simpati adalah jawaban bagi mereka yang dalam keadaan berbahagia, dan Keseimbangan-Batin adalah jawaban bagi mereka yang bersikap bermusuhan atau tak menyenangkan.

160. Setiap orang merasakan cinta sekurangnya pada beberapa orang tertentu – ayah dan ibu, suami atau isteri, anak-anak atau kawan-kawan. Tetapi, pada waktu yang bersamaan, cinta itu kadang-kadang terwarnai atau timbul bersama perasaan cemburu, rasa pemilikan dan keinginan untuk menguasai atau mengendalikan. Demikian pula, adalah mungkin seseorang mencintai beberapa orang, namun membenci ataupun tidak memihak pada yang lainnya. Cinta yang lebih beradab dan bernilai tinggi adalah yang terbebas dari kekotoran batin negatif dan menembus kemana-mana, dapat dirasakan merata oleh semua makhluk – pada semua manusia maupun binatang – kepada mereka yang bersahabat maupun yang bersikap bermusuhan – kepada mereka yang baik maupun yang jahat. Sebenarnyalah, memiliki hati yang mencintai adalah teragung dibanding semua sikap dan perbuatan baik lain.

Apabila seseorang memberi pemberian seratus uang logam pada pagi hari lalu siang hari dan sekali lagi pada malam harinya, dibanding seorang lain yang mengembangkan batin yang penuh cinta-kasih pada pagi hari, siangnya dan malamnya walau hanya sepemerahan susu sapi; maka akan jauh lebih bermanfaat yang ke dua. Oleh karenanya, hendaknya engkau melatih dirimu, dengan berpikir: “Kami akan mengembangkan pembebasan batin melalui cinta-kasih. Kami akan sering berlatih. Kami akan menjadikannya sarana serta mendasari semua perbuatan. Kami akan berdiri kokoh diatasnya, menimbunnya dan lalu menganjurkannya.”32

Inilah cinta-kasih yang mewarnai setiap aspek kehidupan Sang Buddha, Siswa-siswa-Nya, dan kita hendaknya berupaya sekuat mungkin untuk mengembangkan cinta-kasih yang sama.

Meditasi Cinta-Kasih hendaknya
Dilakukan demi diri sendiri dan orang lain.
Semua hendaknya diliputi cinta-kasih.
Inilah ajaran Sang Buddha.33

161. Bagaimana Meditasi pengembangan Cinta-Kasih dilaksanakan? Bila, sementara atau sesudah melakukan latihan harian Kesadaran pada pernapasan, batin kita terasa tentram, damai dan bahagia, inilah waktu yang terbaik untuk melatih Meditasi Cinta-Kasih. Tetaplah pada posisi meditasi, renungkanlah keadaan diri sendiri terlebih dahulu, sadarilah betapa kita telah merasakan kebahagiaan dan kedamaian, lalu berharaplah agar senantiasa dalam keadaan sejahtera. Hal diatas dapat dilaksanakan dengan berkata dalam hati: “Semoga saya senantiasa sejahtera dan bahagia. Semoga saya terbebas dari ketakutan dan kekwatiran. Semoga batin saya terbebas dari pikiran jahat. Semoga hati saya diisi dengan cinta-kasih. Semoga saya senantiasa sejahtera dan bahagia.” Setelah itu, kita melangkah memikirkan orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang netral, lalu terakhir pada orang yang kita tidak senangi satu demi satu, berharap agar setiap dari mereka sejahtera seperti yang kita harapkan pada diri kita sendiri, dengan mengulangi kata-kata seperti telah kita ucapkan dalam hati diatas. Setelah itu, kita mengucapkan: “Semoga semua makhluk sejahtera dan bahagia. Semoga mereka bebas dari ketakutan ketakutan dan kekwatiran. Semoga batin mereka terbebas dari keinginan jahat. Semoga hati mereka diisi dengan cinta-kasih. Semoga semua makhluk senantiasa sejahtera dan bahagia.” Meditasi Cinta-Kasih hendaknya tidak dilaksanakan tergesa-gesa, ambillah waktu kira-kira sepuluh sampai lima belas menit untuk melaksanakannya.

162. Pada pelaksanaan Meditasi Cinta-Kasih, kadang-kadang sementara pikiran cinta-kasih kita pancarkan pada orang yang tidak kita senangi dan berharap mereka bahagia dan sejahtera, namun juga terasa betapa kita tidak merasa mencintai dan menyayangi orang tersebut sama sekali. Apakah ini, seperti dikatakan sementara orang, adalah tindakan berpura-pura saja? Tidak, sama sekali tidak. Walau, mungkin saja kita saat itu, belum merasakan itikad baik pada orang tersebut, namun keinginan merubah perasaan negatif itu menjadi perasaan positif, adalah sasuatu yang sangat penting. Akan tiba saatnya, berkat usaha itu, kebencian akan berubah menjadi keseimbangan dan dari situ akan berubah lagi menjadi persahabatan dan kepedulian. Bila, melalui pelaksanaan Meditasi Cinta-Kasih, kita telah belajar untuk tidak menghiraukan segala penghinaan (bukannya menjadi dendam), melupakan (bukannya merencanakan pembalasan), menjadi baik (bukannya kasar, lancang atau tak punya kepedulian); maka interaksi kita pada orang-lain akan secara nyata lebih dinikmati dan hidup kita secara umum akan lebih bahagia. Sang Buddha menyebutkan beberapa dampak positif dari pelaksana Meditasi Cinta-Kasih dan kesemuanya berhubungan dengan kebahagiaan.

Sebelas keuntungan dapat dicari dalam pembebasan batin melalui pelaksanaan cinta-kasih, dengan menumbuhkan cinta-kasih, dengan menambahnya, dengan menjadikan cinta-kasih dasar dan sarana dalam segala tindakan, dengan berdiri kokoh diatasnya, membiasakannya, dan mengembangkannya dengan baik. Apa yang sebelas itu? Seorang akan tidur dan bangun dalam keadaan bahagia, tidak bermimpi buruk, disayangi semua manusia maupun makhluk lain, dijaga para dewata; racun, api dan pedang tidak akan mencelakakannya, pikirannya dapat cepat berkonsentrasi, wajahnya bersih bercahaya, bila dia mati akan tiada kegelisahan dalam dirinya, dan bila dia tidak mengembangkan lebih jauh sekurang-kurangnya dia akan mencapai alam Brahma.34

163. Apa yang telah kita perbincangkan diatas adalah apa yang dapat disebut sebagai pengembangan cinta-kasih melalui cara pasif, namun tentunya adalah sama pentingnya dengan pengembangan cinta-kasih melalui cara aktif. Hal terakhir ini, mengacu pada usaha untuk meninggikan dan menguatkan cinta-kasih kita dengan bertindak lebih langsung dalam mewujudkan cinta tersebut. Cariyapitaka Atthakata menyebutkan hal ini sebagai berikut:

Seorang hendaknya berpikir: “Saya tidak akan dapat memberi kebahagiaan dan kesejahteraan pada mereka yang lain, dengan berharap mata. Saya harus berusaha untuk mewujudkannya.”35

Mencintai berarti mengesampingkan kepentingan dan keinginan diri sendiri demi kebaikan orang lain. Mencintai berarti bersikap menolong seseorang, walau orang tersebut pernah menyakiti kita sebelumnya. Mencintai berarti meluangkan waktu untuk membantu mereka yang membutuhkan bantuan. Semua tindakan diatas diperlukan demi memurnikan batin. Dengan melaksanakannya tanpa mementingkan diri sendiri dan disertai kehendak yang murni, maka tindakan-tindakan diatas tentunya adalah sama pentingnya dengan duduk bersila melaksanakan Meditasi Cinta-Kasih.

164. Lima Rintangan

Begitu kita mulai melatih meditasi, kita akan merasakan bahwa kita berhadapan dengan bermacam kesulitan. Bila kita tidak sungguh-sungguh berkeinginan bermeditasi, maka kita selalu saja menunda melakukannya atau selalu mencari alasan untuk tidak melakukannya. Pada waktu lain, mungkin segala pikiran-pikiran/rencana-rencana demikian menetap sehingga kita akhirnya tidak dapat bertahan memusatkan kesadaran pada pernapasan. Juga, dari waktu ke waktu, perasaan badan yang kurang nyaman, suara-suara atau khayalan-khayalan, akan lebih menarik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar