Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Empat Jenis Manusia Luhur di Duni Sumber: Dhammapada & Aṅgutara Nikāya Oleh: Bhikkhu Gunasilo

Empat Jenis Manusia Luhur di Dunia

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Empat Jenis Manusia Luhur di Dunia


Asso yathā bhadro kasāniviṭṭho, ātāpino saṁvegino bhavātha
saddhāya sῑlena ca vῑriyena ca, samādhinā dhammavinicchayena ca
sampannavijjācaraṇā paṭissatā, pahassatha dukkhamidaṁ anappakaṁ
Bagaikan seekor kuda yang terlatih baik, walaupun sekali saja merasakan cambukan lantas jadi bersemangat dan berlari cepat; demikian pula halnya dengan orang yang rajin, penuh keyakinan, yang memiliki sila, semangat, konsentrasi dan menyelidiki Ajaran Benar, dengan bekal pengetahuan dan tingkah laku sempurna serta memiliki kesadaran, akan segera meninggalkan penderitaan yang berat ini.
(Dhammapada 144)

Terdapat empat jenis kuda keturunan murni di dunia. Tipe yang pertama akan merasa gelisah dan siap untuk bereaksi segera setelah bayangan tongkat menghalaunya. Tipe yang kedua tidak bergerak pada penglihatan demikian, tetapi menjadi gelisah dan siap untuk pergi hanya setelah kulitnya dicambuk. Tipe yang ketiga tidak siap untuk pergi bahkan setelah dicambuk dengan tongkat penghalau, tetapi hanya setelah dagingnya ditusuk, barulah ia siap untuk pergi. Tipe yang keempat masih tidak akan pergi setelah dagingnya ditusuk, tetapi ia siap pergi hanya setelah ditusuk sampai ke tulang.

Demikian juga menurut Sang Buddha, terdapat empat jenis manusia luhur di dunia ini. Yang pertama, ketika ia mendengar penderitaan atau kematian seseorang, ia akan menjadi khawatir dan menyadari bahwa penderitaan dan kematian akan ia alami juga. Jadi ia melepaskan keterikatan duniawi untuk menempuh hidup suci. Tipe yang kedua siap untuk melepaskannya hanya ketika ia melihat dengan matanya sendiri penderitaan dan kematian seseorang. Ini sangat mengejutkan dan membuatnya melihat ketidakkekalan dari kehidupan. Tipe yang ketiga masih belum melepaskan keduniawian ketika ia mendengar atau melihat penderitaan dan kematian seseorang, tetapi hanya ketika kerabatnya sendiri menderita atau mengalami kematian, rasa sakit dan kesedihan yang membuatnya melihat kenyataan. Tipe yang keempat masih belum berkeinginan melepaskan keduniawian sampai ia sendiri menjadi sakit dengan penyakit yang serius dan menyengsarakan sampai ke ujung kematian, hanya ketika itulah ia menyadari dan siap untuk melepaskan keduniawian. Yang menjadi catatan penting di sini: biasanya yang membuat makhluk tersadarkan dan kemudian bangkit untuk kemudian pergi meninggalkan keduniawian adalah karena melihat peristiwa yaitu usia tua, sakit, dan kematian.

Jadi orang yang demikian akan melihat dengan terang dan jelas tentang penderitaan dan kematian makhluk-makhluk setelah ia sendiri mengalaminya sendiri. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang dapat membebaskan dirinya dari lingkaran kehidupan sementara ia sendiri berada di tengah-tengah kesenangan duniawi, menikmati kesenangan duniawi, tanpa melepaskan nafsu keinginan terhadap kesenangan dunia. Pertama, ia mungkin tidak siap untuk melepaskan keduniawian dalam kehidupan tanpa rumah. Dia boleh saja tinggal di rumah tetapi sepatutnya menjauhkan diri dari tindakan seksual dan urusan dunia. Ia mulai melatih kehidupan suci di rumah, dan suatu hari nanti ia akan menyadari bahwa sangat sulit menempuh kehidupan suci, semurni mutiara, di rumah. Ia akan menyadari bahwa kebenaran mulia yang dibabarkan oleh Sang Buddha adalah untuk dirinya sendiri setelah melalui banyak usaha dengan tekun. Namun, pada jaman sekarang ini, banyak sekali orang yang tidak mau menyadari tentang kesedihan, penderitaan, dan kematian manusia. Walaupun dia melihat, mendengar dan mengalami sendiri di dalam keluarganya ada yang meninggal atau menderita bahkan ia pun melihat sendiri kematian seseorang dan juga mengalami penderitaan yang terjadi, namun ia tetap saja belum tersadarkan. Orang seperti ini bukan termasuk golongan orang yang berbudi luhur, tetapi orang seperti ini merupakan kelompok orang bodoh. Meskipun ia tahu ia masih juga tidak mengerti tentang penderitaan dan kematian manusia, padahal semua itu sudah jelas-jelas didengar, dilihat, bahkan dialaminya sendiri. Namun karena diliputi oleh kebodohan batin, ia tetap tidak mau mencari jalan agar ia dapat terbebas dari penderitaan. Jangankan menjadi bhikkhu atau pertapa, bahkan berbuat baik saja ia tidak mau melakukannya. Banyak orang yang memiliki pandangan salah tentang kehidupan ini, mengira bahwa hidup ini merupakan kesempatan emas untuk selalu hidup bersenang-senang. Karena diliputi oleh kebodohan dan pandangan salah ini, akibatnya ia lupa daratan, yang selalu diinginkan hanyalah kebahagiaan dan nafsu-nafsu indrawi. Orang bodoh ini tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk dan selalu memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Menurut ajaran Sang Buddha, sesungguhnya kebahagiaan itu adalah tidak kekal dan selalu berubah. Pada suatu saat nanti kalau jasa kebajikan kita sudah habis, maka kita akan mengalami penderitaan dan kesedihan didalam hidup ini maupun di kehidupan yang akan datang.

Sebenarnya kebahagiaan dan kesenangan yang kita alami sekarang ini adalah akibat daripada perbuatan baik yang kita lakukan pada masa lampau, bukan datang dengan tiba-tiba atau hanya memohon kepada suatu makhluk atau kepada maha brahma. Oleh karena itu kalau kita sedang hidup bahagia atau hidup senang, misalnya menjadi orang kaya, konglomerat, banyak rejeki, uang, dan harta materi lainnya, kita jangan lupa untuk selalu berbuat baik. Karena perbuatan baik itu penting sekali untuk kita lakukan di dalam kehidupan ini. Jika kita sering menanam jasa kebajikan, terlebih di ladang yang subur, maka kebahagiaan itu akan terus menyertai kita. Hal ini dikarenakan kita memetik buahnya tetapi kita tidak lupa untuk menanamnya kembali, sehingga kebahagiaan kita terus bertambah dan terus kita nikmati. Namun, apabila kita tidak melakukan kebaikan di dalam kehidupan ini, maka kita sekarang hanya menikmati buah yang pernah kita tanam di kehidupan masa lampau. Sementara itu kita tidak lagi menanam pohon yang baru, akibatnya nanti apabila jasa kebajikan kita telah habis maka kita akan mengalami penderitaan dan kesengsaraan baik di dunia ini maupun di alam berikutnya. Oleh karena itu lakukanlah kebajikan sebanyak-banyaknya kapan pun dimanapun kita berada, jangan menunggu terlalu lama. Pepatah mengatakan sesal kemudian tiada guna. Demikian juga ketika kita telah mendengar dan melihat sendiri penderitaan dan kematian seseorang, kita tetap saja hidup berfoya-foya, tidak mau melakukan perbuatan-perbuatan baik, di hari tua barulah kita menyadari tentang kehidupan ini. Kita menyadari kematian dan ketidakkekalan hidup ketika kaki kita sudah tidak lagi mampu berjalan, duduk dikursi roda, makan harus dilayani, tangan tidak dapat bergerak, bahkan untuk bepergian kemanapun kita tidak bisa. Namun demikian sudah terlambat dan sangat sulit untuk melakukan kebajikan apalagi meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi seorang petapa atau bhikkhu. Bagaimana mungkin bisa, membawa dirinya saja sudah sulit. Sungguh sangat disayangkan bukan? Dahulu ketika kaki dan tangannya masih kuat serta didukung dengan harta yang melimpah, orang ini tidak mau meninggalkan keduniawian atau melakukan perbuatan baik, sekarang baru ia menyesali dirinya sendiri. Sang Buddha bersabda: “Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi muda, akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya”.

Oleh karena itu ketika kita sudah mendengar, melihat bahkan mengalami sendiri penderitaan, kesengsaraan dan kematian manusia, hendaklah kita jadikan renungan, agar kita dapat memiliki pengertian yang benar tentang kehidupan ini. Bahwa apapun didunia ini tidak ada yang kekal abadi. Pada suatu saat cepat atau lambat kita semua akan mengalami kematian, dan tidak ada sesuatu yang dapat kita bawa. Oleh karena itu jalankanlah kehidupan suci ini dan bergegaslah berbuat kebajikan sebelum terlambat.

Sumber: Dhammapada & Aṅgutara Nikāya

Oleh: Bhikkhu Gunasilo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar