Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

PERTANYAAN SAKKA RAJA PARA DEWA Sumber: Dῑgha Nikāya, 21Oleh: Bhikkhu Ṭhitaviriyo

PERTANYAAN SAKKA RAJA PARA DEWA

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
PERTANYAAN SAKKA RAJA PARA DEWA


Taṇhāya jāyatῑ soko, taṇhāya jāyatῑ bhayaṁ,
taṇhāya vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṁ
Dari keinginan timbullah kesedihan, dari keinginan timbullah ketakutan,
seseorang yang terbebas dari keinginan tidak akan
mengalami kesedihan dan ketakutan.
(Dhammapada, 216)

Diceritakan Sakka raja para dewa memutuskan untuk bertemu dengan Sang Buddha diiringi para pengikutnya. Sakka punya niat khusus mengapa ia ingin mengunjungi Sang Buddha. Tentu saja alasan utamanya adalah Sakka ingin mendengarkan pembabaran Dhamma dari Sang Buddha. Dewa Sakka memiliki alasan yang sangat pribadi pada kunjungannya kali ini.
Akhir-akhir ini muncul di dalam dirinya pemikiran bahwa masa hidupnya sebagai raja para dewa akan berakhir. Tanda-tanda akan berakhirnya kehidupannya di alam dewa mulai muncul. Ia menjadi sangat cemas. Pemikiran ini membangkitkan hasrat yang sangat kuat dalam diri Sakka untuk mengunjungi Sang Buddha. Untuk mencari cara bagaimana menyelamatkan hidupnya.

PERTANYAAN SAKKA
Sakka raja para dewa bertanya kepada Sang Buddha: ”Yang Mulia, semua makhluk hidup berharap terbebas dari kehendak-kehendak jahat seperti kemarahan atau kebencian. Mereka tak menginginkan munculnya pertengkaran. Mereka juga tak ingin melakukan hal-hal buruk lainnya. Yang mereka harapkan adalah adanya rasa aman, damai, bahagia dan kebebasan. Kenyataannya, mereka tak bisa terbebas dari mara bahaya dan penderitaan. Apa yang menyebabkan hal ini?”
Sang Buddha menjawab: ”O raja para dewa, semua makhluk hidup mengharapkan rasa aman, damai, bahagia, dan kebebasan. Kenyataannya mereka tak bisa terbebas dari konflik, mara bahaya, kebencian dan penderitaan. Kondisi-kondisi yang tak membahagiakan makhluk hidup ini disebabkan adanya dua belenggu yakni rasa iri hati (issa) dan kekikiran (macchariya).”
Setelah puas dengan jawaban Sang Buddha di atas, Sakka mengajukan pertanyaan lain: ”Yang Mulia, apa yang menjadi sebab munculnya iri hati dan kekikiran?” Sang Buddha menjawab: ”O raja para dewa, issa dan macchariya muncul disebabkan oleh perasaan suka dan tidak suka (piya & appiya). Jika tak ada landasan berupa suka dan tidak suka, maka iri hati dan kikir tidak muncul.”
”Tetapi, Yang Mulia, apakah yang menimbulkan suka dan tidak suka? Apakah yang menyebabkan hal-hal tersebut muncul, karena tidak adanya apakah, hal-hal tersebut tidak muncul?” ”Hal-hal tersebut muncul, Raja para Dewa, karena ada keinginan (chanda), jika tidak adanya keinginan, maka hal-hal tersebut tidak muncul.” Keinginan adalah suatu hasrat untuk meraih kenikmatan dari apa-apa yang dirindukannya.
”Tetapi, Yang Mulia, apakah yang menimbulkan keinginan?” Sang Buddha menjawab: “Adanya nafsu keinginan disebabkan oleh pemikiran (vitakka)”. Dalam Visuddhi Magga tertulis vitakka artinya berpikir dan memutuskan, ketika pikiran memikirkan sesuatu, maka keinginan muncul; ketika pikiran tidak memikirkan apa-apa, maka keinginan tidak muncul.
”Tetapi, Yang Mulia, apakah yang menimbulkan pemikiran?” Sang Buddha menjawab bahwa vitakka bersandar pada persepsi atau prasangka atau kecenderungan untuk mendapatkan lebih banyak. Persepsi berarti memperluas atau memperpanjang sesuatu atau melebih-lebihkan sesuatu. Ada tiga jenis prasangka yaitu: tanha (bersifat kerinduan), mana (bersifat sombong), dan diṭṭhi (pandangan salah).
”Jadi, Yang Mulia, praktik apakah yang telah dijalankan oleh bhikkhu itu, yang telah mencapai jalan benar yang diperlukan yang menuju kepada lenyapnya kecenderungan untuk mendapatkan lebih banyak?”
”Sakka, saya mengajarkan adanya dua jenis perasaan menyenangkan (vedana) yaitu perasaan menyenangkan yang harus dipelihara dan perasaan menyenangkan yang harus dihindari.”
”Jika engkau tahu bahwa suatu perasaan menyenangkan menolong membantu tumbuhnya kesadaran serta menuju ke arah perkembangan batin yang lebih baik, dimana perasaan ini juga mampu menghambat munculnya bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik, engkau seharusnya memelihara perasaan ini. Jika, engkau tahu perasaan menyenangkan yang muncul menghambat munculnya proses kematangan batin dan menghambat munculnya bentuk-bentuk pikiran yang baik, sebaiknya perasaan-perasaan ini kamu hindari.” Sang Buddha berkata demikian pada Sakka, ”O raja para dewa, para bhikkhu yang menghindari yang tak bermanfaat serta mencari Dhamma bermanfaat berada di tengah jalan kehidupan suci yang akan membawanya ke nibbāna, tempat lenyapnya segala kekotoran batin.”
Pertanyaan Sakka berikutnya tentang pentingnya moralitas bagi kehidupan suci. Pertanyaannya demikian, ”Yang mulia, praktik sila (moral) macam apakah yang bisa melindungi seseorang dari jatuh ke alam-alam rendah? Perbuatan tak bermanfaat macam apa yang harus dihindari, dimana ini bisa melindungi seseorang terjatuh ke alam-alam rendah? Kata-kata atau pikiran macam apa yang harus dihindari sehingga bisa melindungi seseorang dari kejatuhan ke alam-alam rendah?”
Sang Buddha menjelaskan perbuatan terbagi menjadi dua jenis. Pertama, perbuatan bermanfaat. Kedua, perbuatan tidak bermanfaat. Demikian pula mata pencaharian dan pikiran terbagi dua yakni yang bermanfaat dan tidak bermanfaat.
Mata pencaharian, perkataan atau tindakan yang menumbuhkan karma baik adalah bermanfaat. Sementara, segala perkataan atau perbuatan yang membawa akibat karma buruk adalah tak bermanfaat.
Sakka bertanya bagaimana para bhikkhu menjaga panca indranya? Ini berhubungan dengan penjagaan atas ke enam indra yakni, mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Di mana keberadaan indra menjadi salah satu sebab terjadinya proses melihat, mendengar, membau, merasa, kontak, dan proses kesadaran.
Sang Buddha membagi obyek indra menjadi dua. Pertama obyek indra yang harus diterima. Kedua obyek indra yang harus dihindari. Seseorang harus menerima obyek indra yang bisa menumbuhkan karma baik serta menghindari obyek yang mendatangkan karma buruk.
Kita harus menghindari obyek-obyek yang membawa kenikmatan indra, kemarahan dan lain-lain. Jika tak bisa menghindar, kita harus berhenti memikirkannya dan sesegera mungkin melakukan perenungan atau mencatat dalam batin dari proses melihat. Inilah cara-cara menghindari obyek indra yang tak berfaedah.
Kemudian Sakka menyimpulkan seluruh kebahagiaannya dengan kalimat demikian, ”Yang Mulia, hari ini saya memberi hormat kepadaMu. Engkaulah sebenar-benarnya Buddha. Engkaulah guru sejati yang bisa memberi petunjuk kepada dewa dan manusia untuk kesejahteraan mereka. Engkau tak ada bandingannya.”
Inilah akhir uraian Sakka Pañha Sutta. Sutta ini telah memberi pencerahan bagi banyak mahkluk sebagaimana yang terjadi pada Sakka dan para pengikutnya. Bagi siapa saja yang mempraktikkan ajaran pasti akan memperoleh pandangan terang.

Sumber: Dῑgha Nikāya, 21

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar