Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

ENAM CARITA Oleh: Bhikkhu Vipulasῑlo

Enam Carita

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
ENAM CARITA

Attanova avekkheyya katāni akatāni ca
Perhatikanlah apa yang telah dikerjakan
dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.
(Dhammapada 50)


Carita terdapat pada setiap orang. Sejak masih berusia satu tahun, bahkan ketika dia masih dalam kandungan pun, seseorang sudah memiliki carita-carita. Sejalan dengan bertambahnya usia dan berkembangnya kemampuan pikiran, pribadi itu pun akan memiliki berbagai macam penilaiannya sendiri dan membentuk carita-caritanya sendiri. Jadi, kita semua memiliki carita, tapi sebenarnya carita itu ada berapa banyak dan berapakah jumlah carita yang kita miliki?

Carita adalah watak atau kecenderungan. Selama kondisi batin suatu makhluk hidup belum mencapai tingkat kesucian tertinggi maka dia masih memiliki carita (kecenderungan). Dalam Visuddhimagga 101, terdapat pembahasan dan penjelasan tentang carita. Sesungguhnya jika carita digolongkan, maka pada manusia biasa hanya terdapat sebanyak enam jenis carita (kecenderungan) saja, yaitu:
1. Rāga-carita (watak kenafsuan /keserakahan)
Orang dengan rāga-carita mempunyai kecenderungan terhadap objek-objek yang menyenangkan. Ia cenderung melaksanakan segala sesuatu berdasarkan nafsu ketamakan. Dalam hal ini batinnya gampang menyukai keindahan dan kecantikan dan mudah kagum bahkan terhadap sesuatu dengan aspek yang kecil sekali pun. Ia menyenangi pemandangan yang indah, suara merdu, wewangian, menikmati kenikmatan dari sentuhan, rasa lezat dari makanan. Ciri-ciri lainnya adalah mudah melupakan kesalahan orang lain, cerdik, sombong, berambisi besar, mementingkan diri sendiri. Ada pun obyek meditasi yang sesuai untuk watak rāga-carita adalah 10 asubha (wujud ketidakindahan) dan kāyagatāsati (perenungan hakekat dari badan jasmani).
2. Dosa-carita (watak kebencian)
Dosa-carita adalah kecenderungan melakukan sesuatu berdasarkan kebencian. Hal-hal dan kesalahan kecil saja dapat membuat orang dengan dosa-carita tersinggung. Dia gampang naik darah, kesal, dan mudah terhasut dengan masalah yang sepele. Ciri-ciri lain adalah kurang peduli terhadap kebajikan orang lain walaupun besar, iri hati, memandang rendah orang lain, senang bertengkar, suka memerintah dan mendikte orang lain. Untuk melemahkan dosa-carita, maka obyek yang sesuai dalam melaksanakan meditasi adalah 4 brahmavihāra/kediaman luhur (mettā, karunā, muditā, upekkhā) dan 4 kasiṇa warna (biru, kuning, merah dan putih).
3. Moha-carita (watak kebodohan /ketidaktahuan batin)
Memiliki moha-carita berarti cenderung bertindak berdasarkan kebodohan batin. Karena itu, dia memiliki sifat suka ragu-ragu, khawatir tanpa alasan, kurang berinisiatif, menggantungkan diri pada opini orang lain, pikirannya ruwet dan tidak tetap, tapi kadang-kadang bisa kukuh dalam memegang pendiriannya. Senang menerima, tetapi tidak senang memberi, juga salah satu ciri-cirinya. Ini bukan menunjukkan orangnya tidak cerdas hanya saja lemah dalam hal kebijaksanaan batin. Obyek meditasi yang sesuai adalah ānāpānasati (keluar masuknya aliran nafas secara alamiah).
4. Saddha-carita (cenderung kuat keyakinannya)
Adanya saddha-carita membuat seseorang cenderung mendasarkan pada keyakinannya dalam melakukan sesuatu. Ia juga cenderung bersifat rendah hati, jujur, suka membantu, senang akan hal-hal yang dianggap sakral, suka mendengarkan Ajaran, mudah percaya pada sesuatu yang dianggapnya baik. Obyek meditasi yang sesuai untuk mereka adalah enam anussati (Buddhānussati, Dhammānussati, Sanghānussati, Silānussati, Cāgānussati, dan Devatānussati). Dengan demikian mereka akan terhindar dari salah meyakini/mempercayai hal-hal yang tak baik.
5. Buddhi-carita (watak keintelekan)
Ciri-ciri seseorang memiliki buddhi-carita adalah ia mendasarkan tindakannya setelah berpikir secara intelektual. Ia sering bermeditasi, bersedia mendengarkan saran atau nasehat orang lain, mempunyai kawan-kawan yang baik. Ia cenderung merenungkan 3 corak umum (tilakkhaṇa) yaitu ketidakkekalan (anicca), derita (dukkha) dan tanpa inti yang kekal (anattā). Obyek meditasi yang sesuai untuk jenis buddhi-carita adalah perenungan tentang makanan (āhārepatikūlasaññā), perenungan pada kematian (maraṇāsati), analisa atas empat unsur badan jasmani (catudhātuvatthāna), dan perenungan keadaan Nibbāna (upasamānussati).
6. Vitakka-carita (cenderung suka melamun)
Vitakka-carita ialah berupa pikiran
yang sering melamun atau kekhawatiran (pikiran berkeliaran tanpa tujuan). Jenis orang ini cenderung melaksanakan sesuatu dengan tergesa-gesa, mengarah pada kegugupan. Ia suka berteori, hanya sedikit keyakinan pada nilai perbuatan baik, dan tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. Obyek meditasi yang cocok untuk vitakka-carita adalah ānāpānasati (keluar masuknya nafas). Tempat yang cocok berupa tempat sederhana yang tertutup agar perhatiannya tidak berkeliaran. Misalnya gua, kamar yang kosong, dan lain-lain.

Tiap orang tentu memiliki carita-carita yang berbeda terhadap suatu peristiwa yang terjadi. Diharapkan dengan mengetahui jenis carita yang ada, dapat membuat Anda lebih mudah memahami orang lain dan menghargai diri sendiri. Dengan begitu, dunia kita di masa-masa yang akan datang dapat menjadi semakin lebih...lebih…jauh lebih baik lagi bagi seluruh sesama manusia dan makhluk lainnya.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Oleh: Bhikkhu Vipulasῑlo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar