Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

MAKNA dan MANFAAT TASBIH DLM AGAMA BUDDHA

MAKNA dan MANFAAT TASBIH DLM AGAMA BUDDHA”
Diskusi Dharma Facebook.


Tanya: Bhante ada sedikit pertanyaan polos dari aku apa manfaat tasbih? Apakah setiap butiran biji tasbih yang dimasukkan doa bisa melindungi dan memberkati kita ketika sedang dibawa keluar rumah? terimakasih Bhante Sudhammacaro, mohon pencerahannya.


Jawaban Bhante Sudhammacaro:
Tasbih lebih banyak digunakan oleh aliran Mahayana dan Vajrayana/ Tibetan, alasannya aliran ini tujuannya untuk mencapai tingkat Buddha. Jadi bisa diibaratkan perjalanan mereka sangat jauh, dan banyak godaan, rintangan, dan melelahkan. Juga aliran Mahayana dan Tibetan cenderung mengembangkan Metta dan Bodhicitta, maka ada Mantra: Om-Mani-Pedme-Hum, dsb, yang kata-katanya singkat agar lebih mudah dan cepat diingat bila menggunakan tasbih.

Sementara aliran Therawada; Jarang menggunakan tasbih, alasannya tujuan mereka lebih singkat hanya mencapai Arahat.
Metodenya juga simple: Sila, Samadhi dan Panya. Namun, aliran Therawada bukan berarti tidak boleh dan tidak ada yang menggunakan tasbih, di India, Srilanka dan Thailand sebagian mereka juga menggunakan tasbih dalam laku meditasi dengan sebutan Bud – dho, dsb.
Bila diamati: Menggunakan tasbih lebih tepat bagi orang yang super aktif pikirannya.


Menurut bhante: Walaupun aliran Threwada jarang menggunakan Tasbih, tapi jangan fanatik terhadap benda Tasbih, dengan mengatakan menyudutkan aliran lainnya. Sebab, untuk mencapai tingkat kesucian Arahat-pun tidak mudah, ingat Y.A. Ananda yang bisa mengingat semua isi khotbah Buddha Gotama, dan suka ikut kemanapun pergi.

Namun, Y.A.Ananda tidak bisa mencapai Arahat hingga Buddha Gotama wafat. Hal ini menunjukkan bahwa orang untuk mencapai Arahat bukan berarti harus ahli Dharma dan hafal semua isi Tipitaka. Bukan hanya ahli berdebat Dahrma, juga bukan ahli teori Dharma setinggi langit, lalu orang tersebut bisa cepat mencapai Arahat.

Yang paling penting; kita harus berusaha menjadi orang baik dan benar menurut Dharma, itu saja dulu jangan terlalu muluk-muluk punya ambisi Arahat, tapi prilaku fanatik bahkan Munafik tidak terpuji. Ada nasihat: Bila tidak sanggup latihan meditasi yang tinggi, alangkah baiknya jika tidak berniat jahat dengan pikiran, ucapan, dan melakukannya kepada orang lain dan semua makhluk.


===================================================

BUDDHA MENJAWAB PERTANYAAN DEWA
FAKTA & REALITA
(Untuk kalangan sendiri)


BUDDHA MENJAWAB PERTANYAAN DEWA.

Demikian apa yang telah Aku (Y.M. Ananda Thera) dengar, ketika Bhagawa menetap di Sawatthi di hutan Jeta, Taman milik Ananthapindhika. Begitu menjelang pagi Dewa berkunjung dengan raut wajah ceria dan sumringah, lalu menghampiri dan bersujud menghormat Bhagawa, sambil bercerita dengan penuh pertanyaan sbb:

Pertanyaan Dewa: “Pedang apakah yang paling tajam? Racun apakah yang sangat menjijikan? Api apakah yang berkobar? Kegelapan apakah yang sangat kelam?”.

Jawaban Buddha: “Ucapan yang sangat kasar adalah pedang yang sangat tajam. Keserakahan dan nafsu keinginan adalah racun yang sangat menjijikan. Kebencian adalah Api yang berkobar-kobar. Kebodohan adalah Kegelapan yang sangat kelam”.

Pertanyaan Dewa: “Bagaimanakah yang disebut Manusia yang menerima manfaat? Bagaimanakah yang disebut Manusia yang kehilangan manfaat? Cinta apakah yang sangat kuat? Senjata apakah yang sangat tajam?”.

Buddha menjawab: “ Siapapun yang memberi, sebenarnya dialah yang menerima manfaat (buah karma baiknya). Sebaliknya siapapun yang menerima dialah sebenarnya yang kehilangan manfaat (karma baiknya habis). Kesabaran adalah Cinta yang sangat kuat. Kebijaksanaan adalah senjata yang sangat tajam”.

Pertanyaan Dewa: “Apakah yang disebut Perampok? Apakah harta dari Kebijaksanaan? Siapakah yang punya kekuatan untuk merampok baik di surga atau di dunia ini?

Buddha menjawab: “ Pikiran yang salah adalah Perampok yang sangat lihai. Sila atau Moralitas adalah harta Kebijaksanaan. Orang yang suka melanggar Sila adalah yang punya kemampuan sebagai Perampok ulung baik di dunia maupun di surga”.

Pertanyaan Dewa: “Siapakah yang paling berbahagia? Siapakah yang paling kaya dan dihormati? Siapakah yang patut dihormati? Siapak yang paling buruk?”.

Buddha menjawab: “Orang yang sedikit keinginan adalah yang paling bahagia. Orang yang merasa puas adalah yang paling kaya dan dihormati. Orang yang suka melanggar Sila adalah yang sangat buruk”.

Pertanyaan Dewa: “Siapakah kerabat yang paling baik? Siapak musuh dari pikiran jahat? Apakah penderitaan yang paling berat? Apakah kebahagiaan yang tertinggi?”.

Buddha menjawab: “Jasa kebajikan merupakan kerabat yang terbaik. Metta (cinta-kasih) merupakan musuh dari pikiran jahat. Neraka adalah adalah penderitaan yang paling berat. Tak terlahir kembali di alam manapun adalah kebahagiaan yang tertinggi”.

Pertanyaa Dewa: “Apakah yang tak pantas dan bernafsu keinginan? Apa pantas dan tak bernafsu keinginan? Demam apa yang terhebat? Siapa yang merupakan tabib ahli dan terlatih?”

Buddha menjawab: “Kesenangan dalam kepuasan hawa nafsu adalah tidak pantas dan bernafsu keinginan. Terbebas dari nafsu keinginan adalah pantas dan tak bernafsu keinginan. Kesrakahan adalah Demam yang terhebat. Buddha adalah tabib yang ahli dan terlatih”.

Pertanyaan Dewa: “Apa yang mampu menutupi dunia? Oleh siapakah dunia dibutakan? Apa penyebab seseorang ditinggalkan keluarga dan teman-temanya? Apa yang merintangi orang untuk terlahir di alam surga (Dewa)?”

Buddha menjawab: “Ketidakmengertian mampu menutupi dunia. Kebodohan dan kegelapan batin menyebabkan dunia dibutakan. Kekikiran dan keserakahan adalah penyebab orang ditinggalkannya oleh keluarga dan teman-temannya. Kemelekatan akan kekotoran batin penghalang orang untuk terlahir di alam Dewa”.

Pertanyaan Dewa: “Benda apa yang tidak dapat terbakar oleh api, juga tidak dapat dihancurkan oleh angin, tidak lapuk oleh air, tapi mampu menhan dunia?” Siapakah yang berani menghadapi Raja mapupun Pencuri dan bisa ditangkap oleh manusia dan bukan manusia?”

Buddha menjawab: “Jasa kebajikan tidak dapat terbakar oleh api, juga tidak dapat dihancurkan oleh angin, tidak alpuk oleh air, namun mampu menahan dunia. Jasa kebajikan yang mampu mengahdapi Raja dan Pencuri, juga tidak bisa dibawa pergi oleh manusia maupun bukan mansuia.”

Pertanyaan Dewa: ”Kami masih punya keraguan, mohon Buddha untuk mengatasinya, dalam dunia ini maupun dunia mendatang, siapakah yang membodohi dirinya sendiri?”

Buddha menjawab: “Orang yang punya harta kekayaan, tapi tidak mau menanam jasa kebajikan, dalam dunia ini maupun dunia mendatang, dialah orang yang paling membodohi dirinya sendiri”.

Setelah mendengakan Dhammadesana dari Buddha, maka Dewa itu dipenuhi rasa bahagia, hingga merasa kagum dan memujinya, lalu Dewa itupun beranjali dan bersujud menghormat kepada Buddha yang maha tahu, kemudian pergi tanpa bekas.”

Sumber: Dhamma Bagi Pemula oleh Y.M. Phra Rajavaracariya (Bhnate Vin Vijjano)
===================================================

Dharma ajaran Buddha bukan agama seperti pada umumnya
Dharma ajaran Buddha bukan agama seperti pada umumnya. Dharma adalah Ilmu Pengetahuan tentang kehidupan untuk mencapai kebahagiaan lahir batin saat ini atau kehidupan selanjutnya. Alasannya, Dharma tidak mengajarkan meminta kepada Makhluk Adi Kuasa dalam segala hal, sebab cara seperti itu tak pernah ada bukti akurat. Contoh orang berdoa kepada Makhluk Adi Kuasa minta makan, apakah tiba-tiba langsung datang makanan dari langit? Demikian pula minta kaya, minta sembuh, minta selamat semua minta kepada Makhluk Adi Kuasa, namun fakta orang sakit pergi ke dokter bisa sembuh setelah makan obat, orang bermodal usaha dengan gigih, ulet, secara benar baru bisa kaya, bukan hasil minta-minta kepada Makhluk Adi Kuasa. Sebaliknya orang berdoa minta kepada Makhluk Adi Kuasa jangan ada musibah dan bencana alam, jangan ada perang. Tapi buktinya bencana alam, musibah dan perang masih terus terjadi bahkan makin seru lihat perang Irak, perang Pelestina-Israel, di Maluku-Ambon, justru mereka semua adalah orang yang taat beragama dan berdoa kepada Makhluk Adi Kuasa minta damai. Saya hanya menulis fakta & realita untuk menyadarkan manusia yang mau maju dalam hidupnya”.

Sabbe satta bhawantu sukhitatta.
Semoga semua mkhluk hidup bahagia.


Salam damai dan bahagia dari jauh..Bhikkhu Sudhammacaro

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar