Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

DELAPAN KONDISI DUNIA INI

Delapan kondisi dunia ini

"Delapan kondisi dunia ini, para bhikkhu, membuat dunia terus berputar, dan dunia memutar delapan kondisi dunia ini.
Apakah yang delapan itu?
Perolehan (untung) dan kehilangan (rugi), ketenaran dan nama buruk, pujian dan celaan, kesenangan dan penderitaan.

"Delapan kondisi dunia ini, para bhikkhu, dialami oleh manusia yang tidak belajar, dan dialami juga oleh siswa mulia yang belajar.
Sekarang, apakah kelainan, perbedaan, ketidaksamaan antara siswa mulia yang belajar dan manusia yang tidak belajar?"

"Yang Mulia, pengetahuan kami tentang hal ini berakar pada Yang Terberkahi, pengetahuan kami berdasar pada Yang Terberkahi sebagai pembimbing dan sumbernya. Akan sangat baik, Yang Mulia, jika arti pernyataan ini dijelaskan oleh Yang Terberkahi. Setelah mendengar dari Beliau, para bhikkhu akan menyimpannya di dalam pikiran."

"Jika demikian, dengarkanlah, para bhikkhu, dan perhatikan dengan saksama. Aku akan berbicara".

"Ya, Yang Mulia," jawab para bhikkhu.
Kemudian Yang Terberkahi berkata demikian:

"Ketika manusia yang tidak belajar, O para bhikkhu, memperoleh sesuatu, dia tidak berpikir seperti ini:
"Perolehan yang telah datang padaku ini tidak kekal, menyatu dengan penderitaan, pasti akan berubah."
Dia tidak mengetahui hal itu seperti apa adanya.
Dan ketika dia kehilangan sesuatu, memperoleh ketenaran dan nama buruk, pujian dan celaan, dia tidak berpikir seperti ini:
"Semuanya ini tidak kekal, menyatu dengan penderitaan, pasti akan berubah."
Dia tidak mengetahui hal-hal itu seperti apa adanya.
Pada orang seperti itu, perolehan dan kehilangan ... kesenangan dan penderitaan membuat pikirannya goncang.
Ketika perolehan datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mengalami kehilangan dia amat sangat sedih.
Ketika ketenaran datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mendapat nama buruk dia amat sangat sedih.
Ketika pujian datang dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mendapat celaan dia amat sangat sedih.
Ketika mengalami kesenangan dia amat sangat gembira, sedangkan ketika mengalami penderitaan dia amat sangat sedih.
Karena sangat terlibat di dalam suka dan tak suka, dia tidak akan terbebas dari kelahiran, usia tua dan kematian, dari kesedihan, ratap tangis, kesengsaraan, duka dan keputusasaan,
dia tidak akan terbebas dari penderitaan, demikian kunyatakan.

"Tetapi, O para bhikkhu, ketika seorang siswa mulia yang belajar memperoleh sesuatu, dia akan berpikir seperti ini:
"Perolehan yang telah datang padaku ini tidak kekal, menyatu dengan penderitaan, pasti akan berubah."
Dan dia juga akan berpikir seperti itu ketika kehilangan dan hal-hal lain menimpanya.
Dia memahami semua hal ini seperti apa adanya dan hal-hal ini tidak menguasai pikirannya.
Dengan demikian dia tidak akan amat sangat gembira karena perolehan atau amat sangat sedih karena kehilangan, amat sangat gembira karena ketenaran atau amat sangat sedih karena nama buruk,
amat sangat gembira karena pujian atau amat sangat sedih karena celaan.
amat sangat gembira karena kesenangan atau amat sangat sedih karena penderitaan.
Karena telah melepaskan suka dan tak-suka, dia akan terbebas dari kelahiran, usia tua dan kematian, dari kesedihan, ratap tangis, kesengsaraan, duka dan keputusasaan; dia akan terbebas dari penderitaan, demikian kunyatakan.

"Inilah, para bhikkhu, kelainan, perbedaan, ketidaksamaan antara siswa mulia yang belajar dan manusia yang tidak belajar."

Kehilangan (rugi) dan perolehan (untung), nama buruk dan ketenaran
Pujian dan celaan, kesenangan dan penderitaan -
Hal-hal ini berlalu di dalam kehidupan manusia,
Tidak tetap dan pasti berubah.
Orang bijaksana yang waspada memahaminya dengan baik,
Mengamati perubahannya.
Hal-hal yang menyenangkan tidak menggoyahkan pikirannya
Dan yang tidak menyenangkan tidak menjengkelkannya.
Semua suka dan tak-suka disingkirkan olehnya,
Dihilangkan dan dilenyapkan.
Menyadari sekarang tentang keadaan tanpa-cela dan tanpa duka,(2)
Dia sepenuhnya mengetahui, setelah melewatinya ke seberang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar