Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

EMPAT KESUNYATAAN MULIA; Kesunyataan Mulia ke tiga: Dukkha Nirodha (3)

Bab V – Kesunyataan Mulia Ketiga : Dukkha Nirodha

DHAMMA-SARI

Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma

Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda

Cetakan Kesembilan, 1994

BAB V

KESUNYATAAN MULIA KETIGA

DUKKHA NIRODHA: TERHENTINYA DUKKHA

Kesunyataan Mulia Ketiga membahas tentang pembebasan diri dari penderitaan, dari terus berlangsungnya dukkha. Oleh karena itu, ia dinamakan Kesunyataan Mulia Tentang Terhentinya Dukkha (Dukkha Nirodha Ariyasacca); yang berarti Nibbana (Pali) atau mungkin lebih populer dengan istilah Nirvana (Sansekerta).

Untuk menyingkirkan dukkha secara total, kita harus menyingkirkan akar dukkha, yang sebagaimana kita lihat di halaman-halaman bagian depan dinamakan tanha. Oleh karena itu, Nibbana juga dikenal dengan istilah Tanhakkhaya (Padamnya nafsu keinginan).

Mungkin anda akan bertanya: Apakah sebenarnya Nibbana itu? Buku-buku tebal ditulis untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang sederhana dan biasa ini, namun kenyataannya mungkin lebih mengacaukah persoalan ini daripada menerangkannya.

Jawaban yang saya anggap dapat dipertanggungjawabkan ialah bahwa itu tidak mungkin dapat dijawab secara menyeluruh dan memuaskan dengan kata-kata karena kata-kata terlalu “miskin” untuk mengungkapkan arti yang sebenarnya dari Kebenaran Sejati, Kesunyataan atau Nibbana itu.

Bahasa diciptakan dan dipakai oleh manusia untuk mengungkapkan dengan kata-kata, sesuatu tentang benda-benda dan ide-ide yang pernah dialami sendiri melalui keenam indria mereka. Pengalaman “halus luar biasa” seperti mengalami Kebenaran Sejati tidaklah dapat digolongkan sebagai pengalaman biasa.

Dari itu, tidak terdapat kata-kata untuk mengutarakan pengalaman seperti itu, seperti juga seekor ikan tidak memiliki kata-kata untuk mengutarakan ujud tanah dataran. Seekor kura-kura memberitahukan kawannya, seekor ikan, bahwa ia kembali ke telaga sesudah berjalan-jalan di tanah datar. “Tentu saja”, si ikan menjawab, “engkau maksudkan berenang.” Si kura-kura mencoba menerangkan bahwa ia tidak dapat berenang di tanah dataran yang padat melainkan harus berjalan di atas tanah tersebut. Tetapi ikan itu kukuh dengan pendapatnya bahwa hal itu tidak mungkin, sebab menurut hematnya dunia ini terdiri dari air seperti telaga yang didiaminya dan makhluk-makhluk harus dapat menyelam dan berenang di dalamnya.

Kata-kata merupakan lambang yang mewakili benda-benda dan bentuk-bentuk pikiran yang kita kenal, dan lambang-lambang ini tidak mungkin dapat mengungkapkan hakekat sesungguhnya dari benda atau bentuk pikiran, meskipun dari yang paling sederhana. Untuk memahami dengan baik Kesunyataan, kata-kata bahkan dapat dianggap menyesatkan dan mengacaukan. Dalam Lankavatara-Sutra dapat kita baca bahwa orang bodohlah yang membenamkan diri dalam kata-kata seperti seekor gajah di dalam lumpur.

Biarpun begitu, kita tetap memerlukan bahasa dan kata-kata. Tetapi, kalau kita mau mengungkapkan dan menerangkan Nibbana dengan kata-kata, kita berkecenderungan untuk memakai istilah-istilah yang justru mempunyai arti sebaliknya. Dari itu Nibbana seringkali diutarakan dalam istilah negatif, yang mungkin dianggap sebagai kurang berbahaya, misalnya seperti Tanhakkhaya (Padamnya nafsu keinginan), Asankhata (Tidak berkondisi), Viraga (Hapusnya keinginan), Nirodha (Terhentinya atau akhir dukkha), Nibbana (Padamnya keinginan).

Sekarang, marilah kita tinjau beberapa definisi tentang Nibbana yang terdapat dalam kitab Tipitaka Pali.

“Nibbana ialah terhentinya tanha secara total, melepaskan diri, menolak, terbebas dan terlepas dari tanha.”

“Pudarnya benda-benda yang tercipta, terbebas dari semua noda dan kekotoran batin, padamnya nafsu keinginan, tidak terpengaruh, terhenti, itulah Nibbana.”

“O bhikkhu, apakah “Yang Tidak Tercipta” (asankhata) itu? Itu adalah, padamnya hawa nafsu (ragakkhayo), padamnya kebencian (dosakkhayo) dan padamnya kebodohan (mohakkhayo). Itulah, O bhikkhu yang disebut “Yang Tidak Tercipta”.

“O Radha, padamnya tanha adalah Nibbana.”

“O bhikkhu, di antara benda apa pun juga, yang tercipta maupun yang tidak tercipta, maka Viraga (sikap yang tidak terpengaruh) adalah yang paling tinggi. Itu berarti bebas dari kesombongan, menghancurkan kehausan, membasmi ikatan-ikatan, memutuskan kelangsungan, padamnya tanha, tidak terpengaruh, terhenti, itulah Nibbana.”

Jawaban dari Ayasma Sariputta, siswa utama Sang Buddha, atas pertanyaan dari Parivrajaka tentang “Apakah Nibbana?” adalah sama dengan definisi dari Asankhata yang diberikan oleh Sang Buddha sendiri yaitu: “Padamnya hawa nafsu, padamnya kebencian, padamnya kebodohan”.

“Penglepasan dan pelenyapan nafsu keinginan dan kemelekatan kepada Lima Kelompok Kegemaran inilah akhir dari dukkha.”

“Penghentian kelangsungan dan tumimbal-lahir (Bhavanirodha) adalah Nibbana.”

“O bhikkhu, ada yang tidak dilahirkan, tidak bertumbuh dan tidak tercipta. Kalau tidak ada yang tidak dilahirkan, tidak bertumbuh dan tidak tercipta, maka tidak ada kemungkinan untuk terbebas dari yang dilahirkan, yang bertumbuh dan yang tercipta. Tetapi, karena ada yang tidak dilahirkan, tidak bertumbuh dan tidak tercipta, maka ada kemungkinan untuk terbebas dari yang dilahirkan, yang bertumbuh dan yang tercipta. Di sini benda padat, benda cair, panas dan gerak (mahabhuta) tidak mempunyai tempat: pengertian tentang panjang dan lebar, tentang kecil dan besar, tentang baik dan buruk, tentang nama dan rupa, semuanya telah dihancurkan; dan tidak dapat ditemukan lagi dunia ini atau dunia yang lain, yang datang, berjalan atau berdiri, kematian atau kelahiran dan semua obyek-obyek indria.” (Udana VIII: 1-3)

Karena Nibbana selalu digambarkan dengan istilah-istilah negatif, maka banyak orang yang salah paham bahwa Nibbana itu negatif dan mencerminkan penghancuran diri. Nibbana dengan tegas dinyatakan bukan penghancuran diri, sebab memang tidak ada “diri” yang harus dihancurkan. Yang harus dihancurkan sebenarnya pandangan yang menyesatkan tentang adanya “diri” itu sendiri.

Juga tidak dapat dibenarkan mengatakan Nibbana sebagai positif. Pemikiran negatif dan positif adalah relatif dan menggambarkan satu keadaan yang dualistis. Kedua istilah ini tentu saja tidak dapat dipakai untuk menerangkan Nibbana, Kesunyataan Mutlak, yang berada di luar hal-hal yang dualistis dan relatif.

Satu kata yang negatif bukan secara mutlak harus menggambarkan satu keadaan yang negatif pula. Misalnya kata Pali atau Sansekerta untuk sehat adalah arogya, yang berarti tidak sakit. Tetapi arogya (sehat) tidak menggambarkan satu keadaan yang negatif. Kata abadi (Pali, Amata; Skrt. Amrta), sinonim untuk Nibbana, juga sebuah kata negatif, namun tidak menggambarkan satu keadaan yang negatif.

Satu sinonim lain yang terkenal untuk Nibbana adalah mutti (kebebasan). Tak seorang pun akan berkata bahwa kebebasan adalah negatif. Namun, kebebasan pun mempunyai segi negatif; kebebasan selalu berarti memerdekakan diri dari satu penindasan, dari sesuatu yang jahat, dari sesuatu yang negatif. Tetapi kebebasan jelas tidak negatif. Dengan demikian Nibbana, Mutti atau Vimutti, Kebebasan Mutlak adalah kebebasan dari semua bentuk kejahatan, kebebasan dari keinginan yang tidak habis-habisnya, dari kebencian dan kebodohan, kebebasan dari sesuatu yang bersifat dualistis dan relatif, dan kebebasan dari waktu dan tempat.

Marilah sekarang kita meninjau penjelasan tentang Nibbana sebagai Kesunyataan Mutlak dalam Dhatuvibhanga-Sutta (No. 140 dari Majjhima-Nikaya). Sutta yang sangat penting ini dikhotbahkan oleh Sang Buddha kepada Pukkusati (yang kita sudah kenal) pada suatu malam yang sunyi di pondok seorang pembuat guci tanah liat, yang oleh Sang Guru dipandang sebagai orang yang cerdik dan berkermauan keras. Intisari sutta tersebut adalah sbb.:

Seorang manusia terdiri dari enam unsur: padat, cair, panas, gerak, ruang dan kesadaran. Setelah kita menganalisa enam unsur tersebut, maka kita harus menarik kesimpulan bahwa tidak satu pun dari unsur-unsur di atas dapat dikatakan sebagai “kepunyaanku”, atau “aku”, atau “diriku”. Ia memahami, bagaimana kesadaran itu timbul dan kemudian lenyap kembali, bagaimana perasaan yang menyenangkan, perasaan yang tidak menyenangkan dan perasaan netral itu timbul dan lenyap kembali. Dengan adanya pengetahuan ini lalu batinnya tidak terpengaruh lagi. Lalu, ia akan mencapai batin yang penuh keseimbangan (upekha), yang dapat diarahkan untuk mencapai satu keadaan spiritual yang tinggi, dan ia tahu bahwa keseimbangan batin yang murni ini dapat berlangsung untuk waktu yang lama. Setelah itu ia berpikir: “Kalau aku mengkonsentrasikan pikiranku yang telah mencapai keseimbangan murni ke “alam yang tak terbatas” dan mengembangkan batin yang sesuai dengan keadaan itu, maka itu pun merupakan ciptaan pikiran (sankhatang). Kalau aku kemudian mengkonsentrasikan pikiranku yang mencapai keseimbangan murni ke “alam dari kesadaran yang tak terbatas” … ke “alam dari kekosongan” … atau ke “alam dari bukan-pencerapan dan juga bukan bukan-pencerapan” dan mengembangkan batin yang sesuai dengan keadaan itu, maka itu pun merupakan ciptaan pikiran”.

Sesudah itu, ia tak lagi mencipta dengan pikiran, juga tak menginginkan kelangsungan dan kelahiran kembali (bhava) atau pemusnaan diri (vibhava). Karena ia tidak lagi mencipta sesuatu atau ingin kelangsungan dan kelahiran-kembali atau pemusnaan diri, ia tidak melekat pada apa pun juga di dunia ini; karena tidak melekat ia tidak lagi gelisah; karena tidak gelisah ia memperoleh ketenangan batin yang sempurna (terpadam seluruhnya – paccattang yeva parinibhiyati).

Sekarang ia tahu: “Ia sudah terbebas dari tumimbal-lahir, kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada sesuatu apa pun yang masih harus dikerjakan.”

Kalau ia sekarang mengalami satu perasaan yang menyenangkan, perasaan yang tidak menyenangkan atau perasaan yang netral, ia tahu bahwa itu adalah tidak kekal, dan ia tidak akan terpikat oleh perasaan itu dan perasaan itu diterimanya dengan murni tanpa disertai nafsu apa pun (visamyutto). Ia tahu bahwa semua perasaan itu baru akan berhenti bergejolak dengan hancurnya badan jasmani, seperti juga api dari sebuah lampu padam oleh karena minyak dan sumbunya habis terbakar.

“Dengan demikian, O bhikkhu, orang yang diberkahi tersebut akan diberkahi pula dengan Kebijaksanaan Tertinggi, sebab pengetahuan tentang padamnya semua dukkha merupakan Kebijaksanaan Tertinggi yang mulia. Keyakinannya terhadap Kesunyataan tak dapat digoyahkan lagi. O bhikkhu, segala sesuatu yang tidak nyata adalah palsu (mosadhamma) dan segala suatu yang nyata (amosadhamma), Nibbana adalah Kesunyataan (sacca). Dengan demikian, O bhikkhu, orang yang diberkahi tersebut akan diberkahi pula dengan Kesunyataan ini. Karena Kesunyataan Mulia (paramang ariyasaccang) itulah yang nyata, Nibbana.”

Pada kesempatan lain Sang Buddha menggunakan perkataan Kesunyataan sebagai pengganti dari perkataan Nibbana: “Aku akan mengajarmu Kesunyataan dan Jalan Yang Menuju Ke Kesunyataan”. Di sini Kesunyataan dengan jelas diartikan Nibbana.

Sekarang, apakah arti Kesunyataan? Menurut paham agama Buddha, merupakan Kebenaran Mutlak (Kesunyataan) bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang mutlak (absolute); segala sesuatu adalah relatif, berkondisi dan tidak kekal, dan tidak terdapat unsur yang tidak berubah, kekal dan mutlak seperti “aku”, “jiwa” atau Atman, baik di dalam maupun di luar dirinya. Inilah Kesunyataan Mulia.

Realisasi dari Kesunyataan ialah melihat benda-benda menurut keadaan yang sebenarnya (yathabhutang – to see things as they are) tanpa khayalan (ilusi) atau avijja (kebodohan) sehingga tanha dapat terkikis habis dan dukkha dapat dilenyapkan, yang berarti Nibbana.

Dalam hubungan ini, menarik sekali dan juga berguna untuk kita ingat kembali pandangan agama Buddha aliran Mahayana bahwa Nirvana tidaklah berbeda dari Samsara. Samsara dan Nirvana adalah sama dan tergantung pada cara kita memandangnya, secara subyektif atau obyektif. Pandangan aliran Mahayana ini mungkin dikembangkan dari pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam kitab Theravada asli dalam bahasa Pali.

Kuranglah tepat untuk mengatakan bahwa Nibbana adalah hasil dari padamnya nafsu keinginan karena Nibbana bukan merupakan hasil dari sesuatu. Kalau sekiranya ia merupakan hasil, maka itu adalah akibat yang ditimbulkan oleh satu sebab. Dalam hal ini, ia akan menjadi sankhata, yaitu dihasilkan dan diciptakan, padahal Nibbana bukanlah sebab maupun akibat. Ia berada di luar / di atas sebab dan akibat. Kesunyataan bukanlah merupakan hasil dari satu keadaan mistik, spiritual atau keadaan mental seperti dhayana atau samadhi. Kesunyataan adalah sama dengan Nibbana (Trurt is, Nibbana is).

Yang dapat Anda lakukan ialah untuk melihatnya dan untuk merealisasinya (to see and to realize it). Memang terdapat jalan yang menuju ke Nibbana, namun Nibbana bukanlah hasil dari jalan itu. Misalnya Anda dapat mencapai puncak gunung dengan melalui sebuah jalan, namun jelas kiranya bahwa puncak gunung itu bukanlah hasil dari jalan tersebut. Demikian pula kalau anda melihat api. Api itu juga jelas bukan hasil dari bekerjanya indria mata Anda.

Orang sering berkata : “Ada apakah setelah Nibbana?” Pertanyaan ini sebenarnya tidak boleh timbul karena Nibbana merupakan Kesunyataan Terakhir. Karena ia merupakan yang terakhir maka setelah itu tak mungkin akan ada apa-apa lagi.

Seorang bhikkhu bernama Radha telah mengajukan pertanyaan ini kepada Sang Budha dalam bentuk lain : “Untuk tujuan apakah Nibbana itu?” Dalam pertanyaan ini terdapat satu konsepsi tentang adanya sesuatu setelah Nibbana. Oleh karena itu, Sang Buddha menjawab : “O Radha, pertanyaanmu tidak relevan. Orang menuntut kehidupan suci dengan Nibbana sebagai tujuan, sebagai tujuan yang terakhir.” (Samyutta Nikaya III : 187).

Juga istilah populer tetapi kurang tepat seperti “Sang Buddha memasuki Nibbana atau Parinibbana setelah Beliau mangkat” banyak menimbulkan pemikiran yang salah tentang Nibbana. Pada waktu Anda mendengar “Sang Buddha memasuki Nibbana atau Parinibbana” Anda tentu menganggap bahwa Nibbana merupakan sorga atau alam, di mana masih terdapat kehidupan dan Anda akan membayang-bayangkannya dalam rangka tata-bahasa yang Anda kenal di dunia ini.

Sebutulnya pepatah “Memasuki Nibbana” yang populer itu tidak dapat ditemukan dalam teks yang asli. Dalam kitab Tipitaka memang tidak terdapat ungkapan seperti “memasuki Nibbana setelah meninggal dunia”. Di sini hanya terdapat istilah Parinibbuto yang dipakai untuk mengisyaratkan mangkatnya seorang Buddha atau Arahat yang telah merealisasi Nibbana, tetapi ini bukan berarti “memasuki Nibbana”. Parinibhuto hanya berarti “meninggal dunia secara sempurna”, “seluruhnya tertiup habis” atau “padam seluruhnya”; seorang Buddha atau seorang Arahat tidak akan bertumimbal-lahir lagi setelah mengangkat.

Sekarang sebuah pertanyaan lain dapat timbul: Apa yang terjadi setelah seorang Buddha atau seorang Arahat mangkat, Parinibbana? Ini termasuk dalam kelompok pertanyaan yang tidak dapat dijawab (avyakata). Ketika Sang Buddha berbicara mengenai hal ini, Beliau mengatakan dengan jelas bahwa tidak terdapat kata-kata dalam tata-bahasa kita yang dapat menerangkan apa yang sebenarnya terjadi setelah seorang Arahat mangkat.

Menjawab pertanyaan seorang Parivrajaka bernama Vacchagotta, Sang Buddha berkata bahwa istilah “dilahirkan” atau “tidak-dilahirkan” tidak dapat dipakai terhadap seorang Arahat karena perkataan seperti benda, perasaan, pencerapan, kegiatan pikiran, kesadaran, yang berhubungan dengan istilah “dilahirkan” atau “tidak-dilahirkan” telah dihancurluluhkan sampai ke akar-akarnya dan tidak akan timbul lagi setelah Beliau mangkat (Majjhima Nikaya 62, Aggi-Vacchagotta-Sutta).

Seorang Arahat setelah mangkat seringkali diumpamakan sebagai api yang padam kalau bahan kayunya / bakarnya telah habis terbakar atau sebagai api dari sebuah lampu yang padam karena sumbu dan minyaknya habis terbakar.

Untuk memperoleh pengertian yang jelas dan tepat dan untuk menjaga agar kita jangan bingung, maka apa yang diumpamakan sebagai api yang padam bukanlah Nibbana tetapi makhluk yang terdiri dari Lima Khanda yang telah merealisasi Nibbana.

Hal ini perlu ditekankan kembali secara khusus karena ternyata masih banyak sarjana terkenal yang masih saja menyalah artikan dan menyalah tafsirkan perumpamaan tersebut di atas. Nibbana tidak pernah diumpamakan sebagai api atau lampu yang telah padam.

Ada lagi pertanyaan yang seringkali diajukan: Kalau tidak ada Diri, Jiwa atau Atma, siapa sebenarnya yang menyelami (merealisasi) Nibbana?

Sebelum melanjutkan uraian tentang Nibbana, marilah kita coba dulu menjawab pertanyaan ini: Siapa gerangan yang berpikir kalau tidak ada Diri atau Atma?

Kita telah melihat dari uraian di halaman depan, bahwa pikiran itu sendirilah yang berpikir dan tidak ada “diri” yang berdiri di belakang pikiran tersebut.

Dalam hal yang sama, maka Panna atau “kebijaksanaan” pengalamanlah yang menyelami (merealisasi). Tidak ada diri yang lain yang berdiri di belakang penyelaman (realization) itu.

Dalam perbincangan kita tentang sebab dari dukkha, kita telah melihat bahwa di dalam makhluk, benda atau sistem apa pun juga yang mengandung kekuatan untuk menimbulkannya (menciptakannya) terdapat juga kekuatan atau bibit yang dapat menghentikan dan menghancurkannya. Di dalam dukkha, samsara (roda tumimbal lahir), terkandung kekuatan untuk menimbulkan dan karena itu juga terdapat kekuatan untuk menghentikannya.

Dukkha disebabkan oleh tanha dan ia terhenti oleh pañña (kebijaksanaan). Tanha dan pañña kedua-duanya terdapat di dalam Lima Kelompok Kegemaran (Lima Khandha) seperti yang kita lihat pada bagian sebelumnya.

Kita dapat menarik kesimpulan bahwa bibit atau kekuatan yang menimbulkan dan yang kemudian dapat menghentikannya, kedua-duanya ada di dalam Lima Kelompok Kegemaran.

Inilah arti sebenarnya dari pernyataan Sang Buddha yang terkenal: “Di dalam badan jasmani itu sendiri yang tidak seberapa jengkal besarnya, Aku melihat dunia ini, timbulnya dunia ini, terhentinya dunia ini dan jalan yang menuju ke terhentinya dunia ini.” (Anguttara Nikaya II:48).

Hal di atas berarti bahwa Empat Kesunyataan Mulia itu seutuhnya dapat ditemukan di dalam Lima Kelompok Kegemaran, yaitu di dalam diri kita sendiri. Di sini kata dunia / alam (loka) dipakai sebagai kiasan dari dukkha.

Ini pula berarti tidak terdapat kekuatan di luar badan jasmani kita yang dapat mengakibatkan timbulnya dan terhentinya dukkha.

Kalau kebijaksanaan dikembangkan dan dilatih sesuai dengan Empat Kesunyataan Mulia, maka ia akan dapat melihat rahasia dari kehidupan, yaitu keadaan benda-benda dalam wujudnya yang sebenarnya (the reality of things as they are). Kalau rahasianya telah ditemukan, apabila Kesunyataan telah dapat dilihat, semua kekuatan yang dengan suburnya dapat menciptakan kelanjutan dari samsara akan menjadi tenang dan tak mampu lagi menciptakan benih-benih kamma lebih lanjut sebab tidak lagi terdapat avijja (ketidaktahuan, kebodohan) dan tidak ada lagi “kehausan” untuk tetap berlangsung. Seperti juga orang yang sakit mental dan kemudian dapat disembuhkan karena sebab dari penyakitnya dapat ditemukan dan dilihat oleh si penderita.

Hampir di semua agama “Summum Bonum” hanya dapat dicapai setelah orang meninggal dunia; tetapi Nibbana dapat direalisasi dalam kehidupan ini juga dan orang tidak usah menunggu sampai ia meninggal dunia.

Orang yang berhasil merealisasi (menyelami) Kesunyataan, Nibbana, adalah orang yang paling bahagia dalam dunia ini. Ia telah terbebas dari semua keruwetan dan gangguan pikiran, ketakutan, kekesalan dan kekecewaan yang menyiksa orang lain. Kesehatan mentalnya sempurna. Ia tidak menghiraukan apa yang akan datang. Ia hidup sepenuhnya pada saat sekarang.

Dari itu ia menghargai dan menikmati benda-benda dalam arti semurni-murninya tanpa konsepsi tentang “Sang Aku” Ia penuh kegembiraan, menikmati penghidupan suci, indria-indrianya terkekang, bebas dari kegelisahan, tenang dan penuh kedamaian.

Karena ia terbebas dari keinginan yang mementingkan diri sendiri, dari kebencian, kebodohan, kesombongan, tinggi hati dan kekotoran batin lainnya; ia menjadi orang yang mempunyai hati bersih dan lemah lembut, penuh dengan cinta-kasih yang universal, belas kasihan, ramah-tamah, penuh pengertian dan toleransi.

Bantuan yang diberikan kepada orang lain dilakukan dengan hati yang tulus dan bersih karena ia tidak lagi berpikir dalam rangka “Sang Aku”. Ia tidak ingin memiliki apa-apa, ia tidak menimbun apa-apa sekalipun yang ada hubungannya dengan hal-hal spiritual karena ia sudah terbebas dari ilusi tentang adanya “Sang Aku” dan terbebas pula dari kehausan untuk bertumimbal-lahir kembali.

Nibbana berada di luar istilah yang dualistis dan relatif; oleh karena itu, ia di luar konsepsi kita tentang baik dan buruk, benar atau salah, hidup dan tidak-hidup. Bahkan, perkataan sukha (kebahagiaan) yang dipakai untuk menggambarkan Nibbana mempunyai arti yang lain. Sariputta pernah berkata “O sahabat, Nibbana itulah sukha (kebahagiaan)! Nibbana itulah sukha!”

Kemudian Udayi bertanya: “Tetapi, sahabat Sariputta, kebahagiaan yang bagaimanakah yang anda maksudkan, kalau sudah tidak ada perasaan?” Sariputta memberi jawaban yang mengandung filsafat tinggi dan sulit dimengerti oleh orang awam: “Justru tanpa perasaan itulah kebahagiaan.” (Anguttara Nikaya IX: 34)

Nibbana berada di luar logika dan akal manusia (atakkavacara). Seorang anak di taman kanak-kanak tidak akan bertengkar tentang teori relativitas. Sebaliknya, kalau ia tekun dan rajin belajar, pada suatu hari ia akan memahaminya dengan sendirinya.

Nibbana harus diselami (direalisasi) oleh para arif bijaksana di dalam diri masing-masing (paccattang veditabbo viññuhiti). Kalau kita melaksanakan “Jalan” dengan sabar, rajin dan ulet, melatih dan membersihkan diri dengan tekun dan memperoleh tingkatan spiritual yang diperlukan, kita pun pada suatu hari dapat merealisasi Nibbana, tanpa membuat otak kita pusing dengan kata-kata yang muluk dan penuh teka-teki.

Sekarang, marilah kita meningkat untuk membahas “Jalan” yang menuju ke realisasi Nibbana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar