Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

EMPAT KESUNYATAAN MULIA; Kesunyataan Mulia Keempat : Magga (4)

Bab VI – Kesunyataan Mulia Keempat : Magga

DHAMMA-SARI

Disusun oleh : Maha Pandita Sumedha Widyadharma

Penerbit : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda

Cetakan Kesembilan, 1994

BAB VI

KESUNYATAAN MULIA KEEMPAT

M A G G A: JALAN YANG MENUJU KE TERHENTINYA DUKKHA

Kesunyataan Mulia Keempat ialah Jalan yang menuju ke Terhentinya Dukkha (Dukkha nirodha gaminipatipada-Ariyasacca). Ia juga dikenal dengan nama “Jalan Tengah” (Majjhima-Patipada), karena ia menghindari dua hal yang ekstrim, yaitu:

mencari kebahagiaan dengan menuruti nafsu-nafsu indria, yang dianggap rendah, biasa, tidak berfaedah dan cara-cara dari orang biasa.
mencari kebahagiaan dengan menyiksa diri dalam berbagai cara, yang menyakiti sekali, tidak berharga, dan tidak berfaedah

Sang Bodhisatva sendiri telah mencoba kedua hal ekstrim tersebut dan akhirnya menyadari bahwa itu tidak berguna; maka melalui pengalamannya sendiri Beliau menemukan Jalan Tengah yang dapat menghasilkan pandangan dan pengetahuan yang membawa Beliau ke Pandangan Terang, Penerangan Agung, Nibbana.

Jalan Tengah ini juga sering disebut sebagai Delapan Jalan Utama (Ariya Atthangika Magga) karena ia terdiri dari delapan bagian:

1. Samma Ditthi – Pengertian Benar

2. Samma Sankappa – Pikiran Benar

3. Samma Vaca – Ucapan Benar

4. Samma Kammanta – Perbuatan Benar

5. Samma Ajiva – Penghidupan Benar

6. Samma Vayama – Daya Upaya Benar

7. Samma Sati – Perhatian Benar

8. Samma Samadhi – Konsentrasi Benar

Pada hakekatnya seluruh ajaran Sang Buddha yang Beliau sendiri siarkan selama empat puluh lima tahun sedikit banyak ada hubungannya dengan Jalan ini. Beliau telah menerangkan dalam berbagai cara dan dengan memakai bahasa yang mudah dimengerti, kepada beraneka ragam orang dengan tingkatan pengetahuan dan kesanggupan yang berbeda-beda. Pelajaran yang terdapat dalam ribuan sutta dari kitab-kitab suci Buddhis membahas Delapan Jalan Utama ini.

Tetapi, harap jangan disalahtafsirkan, bahwa Jalan ini harus dilaksanakan menurut nomor urut daftar tersebut di atas. Sedikit banyak mereka harus dikembangkan bersama-sama, yang tentu saja tergantung pada keadaan dan kesanggupan dari tiap-tiap orang. Bagian-bagian itu sebenarnya satu sama lain saling bergantungan dan saling mengisi.

Delapan Jalan Utama ini bertujuan untuk mengembangkan dan menyempurnakan tiga persoalan pokok dalam latihan dan disiplin seorang Buddhis, yaitu :

1. Sila – tata hidup yang bersusila

2. Samadhi – disiplin mental

3. Pañña – kebijaksanaan luhur.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih baik serta pengertian yang lebih mendalam tentang Delapan Jalan Utama tersebut, maka pembahasannya akan dilakukan sesuai dengan tiga kelompok di atas.

SILA

Sila mempunyai dasar permikiran cinta kasih universal dan belas kasihan terhadap semua makhluk hidup, yang juga menjadi dasar ajaran Sang Buddha. Karena itu harus disesalkan bahwa cita-cita serta pemikiran yang luhur ini sering dilupakan oleh banyak ilmuwan (penulis) yang hanya menulis tentang agama Buddha yang berhubungan dengan filsafat dan metafisika yang tinggi dan kering.

Ajaran Sang Buddha sebenarnya “untuk kepentingan orang banyak” dan “untuk kebahagiaan orang banyak” yang tercetus keluar dalam perasaan cinta kasih dan belas kasihan yang murni terhadap dunia ini serta seluruh isinya (Bahujanahitaya bahujanakhaya lokanukampaya).

Menurut agama Buddha, untuk memperoleh kesempurnaan hidup, dua sifat luhur harus dikembangkan secara bersamaan, yaitu :

metta-karuna (cinta kasih-belas kasihan)
pañña (kebijaksanaan)

Metta-karuna mencakup cinta kasih, suka beramal, ramah tamah, toleransi dan sifat-sifat luhur lainnya yang ada hubungannya dengan perasaan (emosi) atau sifat-sifat yang timbul dari hati, sedangkan pañña ada hubungan dengan intelek (kecerdasan) atau sifat-sifiat yang timbul dari pikiran.

Kalau orang hanya mengembangkan segi perasaannya saja dengan mengabaikan segi inteleknya (kecerdasannya), maka orang ini kelak akan menjadi seorang edan yang baik hati. Sebaliknya, kalau orang hanya mengembangkan segi inteleknya dengan mengabaikan segi perasaannya, maka orang itu akan menjadi seorang intelek yang “berhati batu” dan tidak mempunyai perasaan kasihan sedikit pun terhadap orang lain. Oleh karena itu, untuk memperoleh kesempurnaan hidup orang harus mengembangkan sifat-sifat yang tersebut di atas secara berbarengan.

Inilah tujuan dari “way of life” seorang Buddhis: yaitu, kebijaksanaan dan cinta kasih belas kasihan berpadu secara harmonis dalam satu kesatuan yang utuh.


Sila yang berlandaskan cinta kasih dan belas kasihan meliputi tiga bagian dari Delapan Jalan Utama, yaitu:

No. 3 Ucapan Benar

No. 4 Perbuatan Benar

No. 5 Penghidupan Benar

Ucapan Benar

Dapat digolongkan sebagai Ucapan Benar, jika empat syarat di bawah ini dipenuhi :

ucapan itu benar
ucapan itu belarasan
ucapan itu berfaedah

ucapan itu tepat pada waktunya
(Majjhima Nikaya 58)

Ini berarti membebaskan diri dari:

kata-kata yang tidak benar (berdusta)
kata-kata yang dapat menimbulkan kebencian, perpecahan dan perselisihan di antara perorangan atau golongan
kata-kata cabul dan kasar yang menyakiti hati orang lain
kata-kata yang kosong dan tidak ada artinya, desas-desus dan berbicara tentang keburukan orang lain.

Kalau orang dapat membebaskan diri dari kata-kata dan pembicaraan yang salah dan tidak baik, orang tentu akan bicara tentang hal-hal yang benar, memakai kata-kata yang manis dan bersahabat, enak didengar dan lemah lembut, yang mempunyai arti dan berguna. Dengan demikian ia tidak akan bicara seenaknya saja dan hanya bicara pada saat yang tepat. Jadi, kalau ia tidak dapat mengutarakan sesuatu yang berguna, dengan sendirinya ia akan membisu dalam seribu bahasa.

Perbuatan Benar

Ini bertujuan untuk mengembangkan perbuatan-perbuatan yang bersusila, terhormat dan menjauhkan diri dari keributan-keributan. Hal ini berarti bahwa ia tak akan membunuh, mencuri, melakukan perbuatan yang tercela, melakukan perzinahan dan ia senantiasa bersedia untuk menolong orang lain agar dapat juga menjalani kehidupan yang tenang, bersih, terhormat dan dengan cara yang benar.

Pengbidupan Benar


Ini berarti bahwa orang seharusnya mempunyai penghidupan yang tidak mencelakakan atau merugikan orang lain.

Lima pencaharian salah harus dihindari (M. 117), yaitu:

penipuan
ketidaksetiaan
penujuman
kecurangan
memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)

Di samping itu seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan, yaitu :

berdagang alat senjata
berdagang mahluk hidup
berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup)
berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan
berdagang racun

Sebaiknya, ia memilih satu usaha atau pekerjaan yang terhormat, tidak merugikan orang lain dan tidak mencelakakan atau menyakiti orang/makhluk lain. Dari sini dapat kita lihat bahwa agama Buddha menentang tiap bentuk peperangan dengan tidak membenarkan perdagangan alat-alat perang dan senjata tajam.

Tiga bagian dari Delapan Jalan Utama ini dapat digolongkan dalam perbuatan yang bersusila. Hendaknya disadari bahwa Sila ini bertujuan untuk memperoleh satu penghidupan yang bahagia dan harmonis untuk orang itu sendiri dan juga untuk masyarakat ramai di sekelilingnya. Sila ini dianggap sebagai dasar yang mutlak harus dikembangkan untuk memperoleh hasil batiniah yang tinggi dan perkembangan batiniah tidaklah mungkin tanpa Sila sebagai dasar.

SAMADHI

Sekarang kita akan membahas disiplin mental yang terdiri dari tiga bagian lain dari Delapan Jalan Utama, yaitu:


No. 6 – Daya Upaya Benar

No. 7 – Perhatian Benar

No. 8 – Konsentrasi Benar

Daya Upaya Benar

Ini berarti pengerahan kekuatan kemauan untuk:

dengan sekuat tenaga mencegah munculnya unsur-unsur jahat dan tidak baik di dalam batin
dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan unsur-unsur jahat dan tidak baik, yang sudah ada di dalam batin
dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan unsur-unsur baik dan sehat di dalam batin
berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat unsur-unsur baik dan sehat yang sudah ada di dalam batin.

Perhatian Benar

Perhatian Benar ini terdiri dari latihan-latihan Vipassana-Bhavana (meditasi untuk memperoleh pandangan terang tentang hidup), yaitu :

Kaya-nupassana – Perenungan terhadap tubuh
Vedana-nupassana – Perenungan terhadap perasaan
Citta-nupassana – Perenungan terhadap keadaan batin
Dhamma-nupassana – Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran

Salah satu cara latihan terkenal yang berhubungan dengan badan jasmani ialah mengkonsentrasikan pikiran terhadap pernapasan (Anapanasati), yang bertujuan untuk mendapatkan kemajuan spiritual. Masih terdapat banyak lagi cara yang dipakai dalam melakukan latihan konsentrasi yang berhubungan dengan badan jasmani kita.

Mengenai perasaan, seseorang harus mengamat-amatinya dengan cermat dan benar-benar sadar terhadap semua bentuk perasaan, yang menyenangkan, yang tidak-menyenangkan dan yang netral, dan sadar pula bagaimana ia muncul dan kemudian lenyap kembali.

Mengenai keadaan batin, hendaknya ia selalu waspada, apakah pikirannya penuh dengan hawa nafsu atau tidak, penuh dengan kebencian atau tidak, gelisah atau tidak, sedang melamun atau terkonsentrasi, dst.. Dengan ini ia akan selalu waspada terhadap semua gerak gerik pikirannya dan juga bagaimana ia timbul dan lenyap kembali.

Mengenai ide-ide, pikiran, konsepsi-konsepsi dan benda-benda, ia hendaknya dapat mengetahui dengan terang keadaannya yang sebenarnya, bagaimana ia timbul dan lenyap, bagaimana ia berkembang, bagaimana ia dapat ditekan, bagaimana ia dapat dihancurkan, dst…

Keempat cara meditasi atau latihan mental ini dibahas panjang lebar dalam Satipatthana-Sutta (Majjhima Nikaya 10) dan Maha-Satipatthana-Sutta (Digha Nikaya 22).

Konsentrasi Benar

Bagian ketiga dan yang terakhir dari Samadhi ini ialah Konsentrasi Benar yang dapat membawa orang kepada empat tingkatan Dhyana (Jhana) atau yang umum dikenal sebagai trance atau recueillement

Pada Dhyana/Jhana tingkat ke satu, keinginan hawa nafsu dan pikiran-pikiran tertentu yang tidak sehat seperti keinginan indria-indria, keinginan jahat (ill-will), keruwetan pikiran, kesal, gelisah dan keragu-raguan yang skeptis telah lenyap, dan perasaan gembira dan bahagia dicapai, bersama-sama dengan aktivitas-aktivitas mental tertentu.

Pada Dhyana/Jhana tingkat kedua, semua aktivitas intelek telah dikekang, keseimbangan batin dan pikiran yang menunggal dikembangkan, sedangkan perasaan gembira dan bahagia masih ada.

Pada Dhyana/Jhana tingkat ketiga, perasaan gembira yang merupakan perasaan yang aktif juga lenyap, tetapi kebahagiaan masih ada di samping batin yang penuh keseimbangan.

Pada Dhyana/Jhana tingkat ke empat, semua perasaan yang bahagia maupun yang tidak bahagia, kegembiraan dan kesedihan telah lenyap; hanya keseimbangan dan kesadaran murni yang masih tertinggal.

Demikianlah pikiran itu dilatih, dikekang dan dikembangkan dengan Daya Upaya Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar.

P A N N A


Dua bagian yang masih tersisa, yakni:

No. 1 Pengertian Benar

No. 2 Pikiran Benar

merupakan bagian-bagian dari Pañña (Kebijaksanaan Luhur).

Pikiran Benar

Ini berarti pikiran yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak terpengaruh lagi oleh “Sang Aku”, pikiran cinta kasih dan tanpa-kekerasan kepada semua makhluk. Sangat menarik hati dan penting untuk ditekankan di sini bahwa pikiran yang tidak mementingkan diri sendiri, cinta kasih dan tanpa-kekerasan digolongkan sebagai bagian dari kebijaksanaan. Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa Kebijaksanaan sejati harus disertai sifat-sifat luhur ini dan sumua pikiran yang mementingkan diri sendiri, pikiran jahat, kebencian dan segala sesuatu yang mengandung sifat kekerasan, merupakan bukti-bukti tentang masih kurangnya Kebijaksanaan di dalam semua segi kehidupan, baik sebagai perorangan, dalam lapangan sosial maupun dalam lapangan politik.

Pengertian Benar

Ini berarti bahwa kita harus mengerti benda-benda menurut keadaan yang sebenarnya dan Empat Kesunyataan Mulia inilah yang menerangkan benda-benda menurut keadaan yang sebenarnya.

Oleh karena itu, Pengertian Benar secara singkat dapat diartikan sebagai pengertian tentang Empat Kesunyataan Mulia ini. Pengertian ini merupakan kebijaksanaan tertinggi yang dapat menembus arti dan melihat secara terang Kesunyataan Mutlak, Nibbana.

Menurut paham Buddhis, terdapat dua jenis pengertian. Apa yang umum anggap sebagai pengertian ialah pengetahuan, timbunan dari ingatan, pemahaman secara intelek akan sebuah pokok persoalan sesuai dengan data tertentu. Hal ini disebut sebagai Anubodha. Pengertian ini tidak begitu mendalam.

Pengertian yang lebih mendalam disebut Pativedha (menembus), melihat benda-benda dalam keadaan yang sebenarnya, tanpa nama dan merek. Tetapi penembusan ini hanya dimungkinkan, apabila pikiran benar-benar bersih dari noda-noda dan dikembangkan dengan sempurna melalui meditasi.

Dari uraian singkat di atas dapat kita lihat bahwa Jalan itu merupakan “way of life” yang harus dilaksanakan dan dikembangkan oleh setiap individu. Ia merupakan pengekangan-diri (self-discipline) dari badan jasmani, dari ucapan dan dari pikiran, mengembangkan dan melatih diri, dan membersihkan diri. Ia tidak ada sangkut pautnya dengan kepercayaan, sembahyang, memuja atau upacara keagamaan. Ia merupakan Jalan yang menuju ke Kesunyataan Mutlak, kebebasan sempurna, kebahagiaan dan kedamaian hati melalui kesempurnaan moral, spiritual dan intelektual.

Di negara-negara Buddhis masih banyak dilakukan upacara-upacara keagamaan yang sewaktu-waktu sederhana dan sewaktu-waktu megah. Hal ini hanya sedikit sangkut pautnya dengan Jalan Yang Mulia ini. Tetapi ada juga kegunaannya, yaitu memberi kepuasan kepada emosi-emosi keagamaan tertentu dan kebutuhan spiritual dari mereka yang masih belum maju, untuk kemudian dengan perlahan-lahan dibimbing ke Jalan yang benar.

Berhubung dengan Empat Kesunyataan Mulia ini kita harus melakukan empat tugas:

Kesunyataan Mulia Pertama ialah Dukkha, yang membahas mengenai penghidupan seseorang, penderitaannya, kesedihan dan kegembiraannya, ketidaksempurnaan dan ketidakpuasannya, ketidakkekalannya dan kenyataan bahwa tidak terdapatnya satu inti yang kekal abadi. Berhubung dengan keadaan ini tugas kita ialah mengerti dan menerimanya sebagai fakta yang jelas dan menyeluruh (Pariññeyya).
Kesunyataan Mulia kedua ialah tentang Sumber Dukkha, yang berupa keinginan, kehausan disertai dengan semua nafsu-nafsu yang lain, noda-noda serta kekotoran-kekotoran batin. Mengerti saja fakta ini tidaklah cukup. Di sini tugas kita ialah menyingkirkan, menghancurkan dan mencabut sampai ke akar-akarnya (Pahatabba).
Kesunyataan Mulia Ketiga ialah tentang Terhentinya Dukkha, Nibbana, Kesunyataan Mutlak, Kesunyataan Terakhir. Di sini tugas kita ialah untuk merealisasinya, menyelaminya (Sacchikatabba).
Kesunyataan Mulia keempat ialah tentang Jalan yang menuju ke terhentinya dukkha, Nibbana. Pengertian belaka dari Jalan ini, biarpun bagaimana sempurna, tidak akan berguna. Tugas kita di sini ialah melaksanakannya dengan baik dan konsekwen (Bhavetabba).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar