Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Tiga permata (TIRATANA): TIKA – KELOMPOK TIGA

Jilid I Tika – Kelompok Tiga


DHAMMA VIBHAGA
(PENGGOLONGAN DHAMMA)
JILID I

TIKA – KELOMPOK TIGA

1. Tiga permata (TIRATANA):

BUDDHA,
Orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna dan mengajar para pengikutnya untuk melatih pikiran, perbuatan dan ucapan sesuai dengan Dhamma dan Vinaya, yang dinamakan Buddha – Sasana.
DHAMMA,
Ajaran (Dhamma) dan peraturan-peraturan disiplin (Vinaya) yang diajarkan oleh Sang Buddha.
SANGHA,
Sekelompok orang yang telah mendengar ajaran-Nya dan menjalani kehidupan sesuai dengan Dhamma dan Vinaya.

2. Sifat-sifat mulia Sang Tiratana:

Sang Buddha, setelah mencapai Pengetahuan Sempurna kemudian mengajar orang lain sehingga mereka dapat mengikuti dan mencapai tingkat kesucian yang sama.
Dhamma, menjaga mereka yang melaksanakan ajaran agar mereka tidak jatuh ke jalan yang sesat.
Sangha, persaudaraan para Bhikkhu yang mempraktikkan Dhamma secara tepat dan merupakan penjaga dari Dhamma Sang Buddha.

3. Tiga cara Sang Buddha mengajar:

Beliau mengajarkan Dhamma agar mereka yang mendengar dapat mengetahui secara mendalam dan melihat dengan benar apa yang pantas untuk diketahui dan dilihat.
Beliau mengajar dengan alasan-alasan sehingga mereka yang mendengar dapat merenungkan (Dhamma) dan melihatnya dengan benar (bagi diri mereka sendiri).
Beliau mengajar dengan cara yang luar biasa sehingga mereka yang mengikuti jalan itu dapat memperoleh faedah-faedah sesuai dengan praktek mereka.

A. I. 276; M. II. 9.

4. Tiga nasihat-nasihat Sang Buddha:

Menghentikan duccarita – dengan kata lain, menghentikan praktek-praktek jahat melalui badan, ucapan, dan pikiran.
Mengembangkan Succarita – dengan kata lain, mengembangkan praktek-praktek yang benar melalui badan, ucapan dan pikiran.
Membuat hati (pikiran) menyingkir dari hal-hal yang menimbulkan kekotoran, yaitu: keserakahan, kebencian dan kebodohan.

5. Tiga Duccarita – cara-cara kelakuan buruk:

Kaya-duccarita : kelakuan buruk dengan badan jasmani
Vaci-duccarita : kelakuan buruk dengan ucapan.
Mano-duccarita : kelakuan buruk dengan pikiran.

Tiga macam Kaya-duccarita :
membunuh makhluk-makhluk hidup.
mencuri dan menipu.
kelakuan seks yang tidak pantas.
Empat macam Vaci-duccarita:
berbohong.
ucapan yang dapat menimbulkan rasa marah dan permusuhan.
kata-kata kasar.
berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna dan tidak bertujuan (omong-kosong).
Tiga macam Mano-duccarita:
Lobha : menginginkan harta orang lain.
Byapada : pikiran ingin menyakiti orang lain.
Micchaditthi : pengertian keliru yang tidak sesuai dengan Dhamma.

Semua tiga Duccarita ini adalah hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Mereka harus dihentikan secara mutlak.

A.V. 281.

6. Tiga Succarita – cara-cara kelakuan baik:

Kaya-succarita : kelakuan baik dengan badan jasmani.
Vaci-succarita : kelakuan baik dengan ucapan.
Mano-succarita : kelakuan baik dengan pikiran.

Tiga macam Kaya-succarita:
menahan diri dari pembunuhan makhluk-makhluk hidup.
menahan diri dari mencuri dan menipu.
menahan diri dari kelakuan seks yang tidak pantas.
Empat macam Vaci-succarita:
menahan diri dari pembohongan.
menahan diri dari pembicaraan yang dapat menimbulkan rasa marah dan rasa permusuhan.
menahan diri dari kata-kata kasar.
menahan diri dari pembicaraan tentang hal-hal yang tidak berguna dan tidak bertujuan.
Tiga macam Mano-succarita:
Alobha : tidak menginginkan harta orang lain.
Abyapada : pikiran-pikiran yang tidak ingin menyakiti orang lain.
Samma-ditthi : pikiran benar yang sesuai dengan Dhamma.

Semua tiga succarita ini adalah hal-hal yang harus dilakukan dan harus dipraktekkan.

A. V. 281.

7. Tiga Akusalamula – akar-akar buruk:
Asal atau sumber dari apa yang buruk adalah disebut Akusalamula. Semuanya ada tiga macam.

Lobha : keserakahan atau menginginkan harta orang lain.
Dosa : berpikir akan menyakiti orang lain karena tidak senang.
Moha : ketidaktahuan atau mengetahui secara salah.

Jika salah satu dari tiga akusalamula ini muncul maka hal-hal buruk lainnya (Akusala) yang belum timbul akan timbul, dan apa yang telah timbul akan berkembang dengan banyak. Untuk alasan ini, maka mereka harus ditinggalkan secara mutlak.

D. III. 273; Iti. 45.

8. Tiga Kusalamula – akar-akar baik:
Asal atau sumber dari apa yang baik disebut Kusalamula. Semuanya ada tiga macam:

Alobha : tidak serakah atau tidak ingin memiliki barang orang lain.
Adosa : tidak ingin menyakiti orang lain, tidak membenci.
Amoha : kebijaksanaan.

Jika salah satu dari tiga kusalamula ini muncul, maka hal-hal lain yang baik (Kusala) yang belum muncul akan muncul, dan apa yang telah timbul akan berkembang dengan subur. Untuk alasan ini, maka mereka harus dikembangkan sehingga menjadi watak seseorang.

D. III. 275.

9. Tiga Sappurisapaññatti: hal-hal yang patut dilakukan.

Dana : pelepasan barang milik sendiri sehingga mereka dapat berguna bagi orang lain.
Pabbajja : meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk terbebas dari perjuangan dan keruwetan-keruwetan dunia.
Matapitu upatthana : merawat ibu dan ayah sehingga mereka berbahagia.

A. I. 151.

10. Tiga Apannaka patipada : praktek-praktek yang bebas dari kesalahan.

Indriyasamvara : mengendalikan enam indria, yaitu: mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran, tidak membiarkan diri terlalu senang atau tidak senang pada saat melihat, mendengar, mencium, merasakan sentuhan-sentuhan pada badan jasmani dan menerima obyek-obyek dari luar melalui pikiran.
Bhojane mattaññuta : mengetahui jumlah yang tepat pada saat menikmati makanan dan mengambil secukupnya, tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit.
Jagariyanuyoga : berusaha sekuat tenaga untuk menyucikan pikiran dan menjadikannya murni tanpa noda serta tidak membiasakan diri untuk berbaring dengan malas.

A.I. 113.

11. Tiga Puññakiriyavatthu – lapangan-lapangan perbuatan berjasa.
Diterangkan dengan ringkas, yaitu:

Danamaya : Jasa yang diperoleh dengan memberikan dana (kemurahan hati yang mempunyai dasar pelepasan).
Silamaya : Jasa yang diperoleh dengan mempertahankan kelakuan bermoral.
Bhavanamaya : Jasa yang diperoleh dengan mengembangkan bhavana (melatih bathin dan pikiran).

A.IV. 241.

12. Tiga Samaññalakhana – corak-corak umum dan semua sankhara (hal-hal yang berkondisi).

Aniccata : mereka adalah hal-hal yang tidak kekal.
Dukkhata : mereka adalah hal-hal yang tidak memuaskan (menderita).
Anattata : mereka adalah hal-hal yang tidak mempunyai inti dan bukan ‘aku’.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar