Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Kisah Anathapindika (Bhikkhu Sukhemo)

Kisah Anathapindika

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddassa

Pāpopi passati bhadraṁ, yāva pāpaṁ na paccati

Yadā ca paccati pāpaṁ, atha pāpo pāpāni passati

Bhadropi passati pāpaṁ, yāva bhadraṁ na paccati

Yadā ca paccati bhadraṁ, atha bhadro bhadrāni passati

(Dhammapada 119-120)

Anathapiṇḍika adalah pendana Vihara Jetavana yang didirikan dengan biaya lima puluh empat crores. Ia tidak hanya dermawan, tetapi juga benar-benar berbakti kepada Sang Buddha. Dia pergi ke Vihara Jetavana dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha tiga kali sehari. Pada pagi hari dia membawa bubur nasi, siang hari dia membawa beberapa macam makanan yang pantas atau obat-obatan, dan pada malam hari dia membawa bunga dan dupa.

Setelah beberapa waktu Anathapiṇḍika menjadi miskin, tetapi sebagai orang yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapanna, batinnya tidak terguncang dengan kemiskinannya, dan dia terus melakukan perbuatan rutinnya setiap hari, yaitu berdana. Suatu malam, satu makhluk halus penjaga pintu rumah Anathapiṇḍika menampakkan diri dalam wujud manusia menemui Anathapiṇḍika, dan berkata: ”Saya adalah penjaga pintu rumahmu, Anda telah memberikan kekayaan Anda kepada Samana Gotama tanpa memikirkan masa depan Anda. Hal itulah yang menyebabkan Anda miskin sekarang. Oleh karena itu Anda seharusnya tidak memberikan dana lagi kepada Samana Gotama dan Anda seharusnya memperhatikan urusan dagang Anda sendiri sehingga menjadi kaya kembali.”

Anathapiṇḍika mengusir penjaga pintu tersebut keluar dari rumahnya. Karena Anathapiṇḍika sudah mencapai tingkat kesucian Sotapanna, makhluk halus penjaga pintu tersebut tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Dia tidak dapat pergi ke tempat mana pun dan ingin kembali ke rumah Anathapiṇḍika, tetapi takut kepada Anathapiṇḍika. Jadi dia mendekati Raja Sakka, raja para dewa. Sakka memberi saran kepadanya, pertama dia harus berbuat baik kepada Anathapiṇḍika dan setelah itu meminta maaf kepadanya. Kemudian Sakka melanjutkan, ”Ada kira-kira delapan belas crores yang dipinjam oleh beberapa pedagang yang belum dikembalikan kepada Anathapiṇḍika; delapan belas crores lainnya disembunyikan oleh leluhur (nenek moyang) Anathapiṇḍika, dan telah dihanyutkan ke dalam laut. Dan delapan belas crores lainnya yang bukan milik siapa-siapa yang dikuburkan di tempat tertentu. Pergi dan kumpulkanlah semua kekayaan ini dengan kemampuan batin luar biasamu, penuhilah ruangan-ruangan Anathapiṇḍika. Setelah melakukan itu, kamu boleh meminta maaf kepadanya”. Makhluk halus penjaga pintu tersebut melakukan petunjuk Sakka, dan Anathapiṇḍika kembali menjadi kaya.

Ketika makhluk halus penjaga pintu memberitahu Anathapiṇḍika mengenai keterangan dan petunjuk yang diberikan oleh Sakka, perihal pengumpulan kekayaannya dari dalam bumi, dari dasar samudra, dan dari peminjam-peminjamnya, Anathapiṇḍika terkesan dan kagum. Kemudian Anathapiṇḍika membawa makhluk halus penjaga pintu tersebut menghadap Sang Buddha. Kepada mereka berdua, Sang Buddha berkata, ”Seseorang tidak akan menikmati keuntungan dari perbuatan baiknya, atau menderita akibat dari perbuatan jahat untuk selamanya; tetapi akan tibalah waktunya kapan perbuatan baik atau buruknya berbuah menjadi matang”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhammapada syair 119 dan 120 berikut:

Selama akibat dari perbuatan jahat belum masak, si pembuat kejahatan akan merasakan keberuntungan, tetapi ketika akibat dari perbuatan jahatnya masak, ia akan mengalami penderitaan dari perbuatan jahat tersebut.

Selama akibat dari perbuatan baik belum masak, si pembuat kebaikan akan mengalami penderitaan, tetapi ketika akibat dari perbuatan baiknya masak, ia akan mengalami keberuntungan dari perbuatan baik tersebut.

Makhluk halus penjaga pintu rumah itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

Sumber: Dhammapada Aṭṭhakathā

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar