Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Lima Macam Penderitaan Seorang Ibu : Bhikkhu Gunasilo

Lima Macam Penderitaan Seorang Ibu



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Brahmāti mātāpitaro, pubbācariyāti vuccare;
Āhuneyyā ca puttānaṁ, pajāya anukampaka’ti

Ayah dan ibu laksana dewa brahma, ayah dan ibu adalah guru awal;
Ayah dan ibu patut dipuja, karena penuh kasih sayang kepada anak-anaknya

Sabrahmaka Sutta, Catukkanipāta, Itivuttaka, Khuddaka Nikāya


Secara psikologi wanita itu memiliki lima macam penderitaan, apakah lima macam penderitaan itu? Lima penderitaan itu adalah datang bulan, mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat anak-anak.

Penderitaan pertama bagi kaum wanita adalah datang bulan. Penderitaan pertama ini hanya dialami oleh kaum wanita saja, tidak mungkin dialami oleh kaum pria. Pada saat datang bulan, biasanya kaum wanita merasa tidak nyaman, memiliki perasaan sensitif, marah, merasa kurang enak pada saat bergaul dengan teman-temannya. Kadang-kadang terasa sakit di bagian perut, kepala, bahkan ada yang muntah-muntah. Secara ekonomi, ini merupakan pemborosan karena ia harus membeli alat untuk melindungi dirinya sewaktu datang bulan tiba.

Penderitaan kedua adalah jika seorang wanita sudah bersuami biasanya ia akan mengandung. Pada saat mengandung, seorang wanita harus benar-benar menjaga kandungannya agar jangan sampai keguguran. Di samping itu, berat badannya semakin hari semakin bertambah sehingga pada saat berjalan ia mengalami keberatan dan lelah. Bayangkan, kondisi seperti ini dirasakan oleh sang ibu selama sembilan bulan mengandung. Kadang ia juga suka mengidam, seperti ingin makan buah mangga, durian, anggur, sirsak, rambutan, dan sebagainya. Menurut cerita orang-orang dahulu, apabila sang istri sedang mengidam maka kemauannya harus dituruti, jika tidak maka anaknya akan sering mengeluarkan air liur. Permasalahannya adalah jika buah yang diidamkan tidak ada di pasar dan belum musimnya.

Penderitaan yang ketiga adalah melahirkan anak. Coba bayangkan, melahirkan anak tidaklah mudah, apabila gagal maka hidup yang menjadi taruhannya. Pada saat melahirkan sakitnya luar biasa sekali, perut rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan pisau, bagaikan seribu sayatan pedang yang tajam menusuk perut sang ibu. Berhubung sakitnya tidak tertahankan maka ibu menjerit sekuat-kuatnya, bersamaan itu darah mengalir dengan deras seperti menyembelih seekor kambing. Bisa jadi jika tidak kuat maka ibu akan meninggal dunia ataupun sebaliknya. Inilah penderitaan terberat bagi seorang ibu.

Penderitaan yang keempat adalah menyusui. Seorang ibu setelah melahirkan, tugas selanjutnya adalah menyusui. Pada saat menyusui seorang ibu harus mengkonsumsi makanan yang bergizi agar bayinya mendapat nilai gizi yang cukup sehingga menjadi sehat dan kuat. Sesungguhnya susu ibu yang diberikan kepada anaknya merupakan darah dari ibu itu sendiri. Maka dari itu, banyaknya susu yang diberikan kepada bayinya menjadikan badan ibu terasa lemah. Ada kala pada waktu menyusui, anak itu menggigit ibunya, meskipun terasa sangat sakit ibu tetap menahan sakitnya dan ia tidak pernah mengeluh karena kasih sayang kepada anaknya.

Penderitaan kelima adalah merawat anaknya. Seorang ibu dalam merawat anaknya sangat perhatian sekali. Ketika anaknya masih kecil ibunya selalu menjaga, membelai, dan menggendongnya, bahkan memberi makan yang enak dan bergizi agar anaknya tumbuh dengan sehat. Apabila ibu ingin tidur ia selalu menunggu anaknya sampai anaknya itu benar-benar sudah tidur. Pada saat merawat anak, ibu sangat beduka sekali, misalnya; pada saat anaknya sakit ia harus menunggunya, baik pada waktu hujan, dingin, panas ia rela untuk menemani anaknya. Maka dari itu, cinta kasih seorang ibu sepanjang masa, hanya memberi dan tidak mengharapkan kembali, bagaikan sang surya yang menyinari dunia. Itulah penderitaan seorang ibu yang harus ditanggung.

Dalam petikan Aṅguttara Nikāya i, 61 (Kataññu Sutta) dituliskan sabda Sang Buddha sebagai berikut:
Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan ayah.

Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana bahkan perbuatan itu pun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orangtuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orangtua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak memiliki keyakinan, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orangtuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan -orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.

Dalam kitab komentar juga dikatakan tentang perbandingan jasa ibu, ayah, guru agama, dan guru biasa adalah sebagai berikut:
- Apabila ada satu orang guru agama jasanya sebanding dengan sepuluh guru biasa.
- Apabila ada satu ayah jasanya sebanding dengan seratus guru agama.
- Apabila ada satu orang ibu jasanya sebanding dengan seribu ayah.

Demikianlah begitu besarnya jasa ibu terhadap anak-anaknya, oleh karena itu janganlah kita menyakiti hati ibu kita sendiri, sebab ibu memiliki nilai jasa yang cukup besar dan sangat sulit untuk dibalas budinya. Karena itu selama orangtua kita masih hidup, cintailah kedua orangtua kita, hormati, dan patuhi nasihatnya dan rawatlah mereka dengan baik agar mereka hidup sehat dan bahagia.
(6 Januari 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar