Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Menjadi Seorang Buddhis Sejati : Bhikkhu Cittānando

Menjadi Seorang Buddhis Sejati


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Dhammapīti sukhaṁ seti, vippasannena cetasā
ariyappavedite dhamme, sadā ramati paṇḍito

Ia yang puas dalam Dhamma, berbatin cemerlang, akan hidup bahagia.
Orang bijak akan gembira setiap saat dalam Dhamma yang telah dibabarkan oleh Sang Ariya.


(Dhammapada 79)
Agama Buddha bukan suatu agama kepercayaan, melainkan agama yang didasari oleh kemoralan (sīla), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā). Ajaran-ajarannya dihargai dunia karena memberikan alasan-alasan mengenai pengetahuan yang lebih luas dan menyingkirkan kepercayaan yang membuta.

Namun, beberapa umat Buddha sendiri masih ada yang berpikir bahwa datang ke vihara dan mempersembahkan bunga-bunga di hadapan patung Sang Buddha, menyalakan lilin dan membakar dupa di dalam vihara merupakan akhir dari semua agama Buddha. Mereka sudah merasa puas karena kewajiban-kewajiban agama tersebut telah terpenuhi. Memang, kita tidak dilarang untuk melakukan hal-hal seperti itu, akan tetapi menurut ajaran Buddha, tidak seharusnya mereka berpuas diri dengan hanya melakukan hal yang demikian sederhana atau membayangkan sudah dapat disebut sebagai umat Buddha. Sewaktu membabarkan ajaran-ajaran Agung, Sang Buddha tidak berharap mempunyai banyak pengikut yang memuja diri-Nya. Yang diinginkan Beliau adalah melihat masyarakat damai dan beradab yang berjuang mencapai Nibbāna atau lenyapnya penderitaan, atau paling tidak dapat mengurangi penderitaan dan dapat memperoleh kebahagiaan serta kesejahteraan dalam hidupnya.

Sayangnya, beberapa dari kita telah melupakan prinsip-prinsip dasar dari warisan yang sangat berharga ini, dan hanya mengikuti kegiatan-kegiatan ritual saja. Seharusnya dimengerti dan diingat bahwa kita menghormat kepada Sang Buddha hanya sebagai pernyataan hormat dan terima kasih kepada penemu jalan dan guru, yang kita anggap sebagai ’contoh kesempurnaan sejati’. Sang Buddhalah yang mengajarkan dan membabarkan jalan mulia dan kehidupan bahagia di dunia dan pencapaian kebahagiaan abadi dalam dunia ini. Selanjutnya, Beliau pulalah yang menemukan jalan menuju Nibbāna, yaitu keadaan lenyapnya penderitaan, yang merupakan satu-satunya bentuk kebebasan abadi.

Seberapapun banyak atau seringnya kita memuja Sang Buddha, itu bukan cara yang menuntun kita ke jalan hidup seorang Buddhis. Untuk menjadi seorang Buddhis sejati, seseorang harus dengan tekun mengikuti prinsip-prinsip dasar dari ajaran-ajaran Buddha. Mereka yang kenal akan literatur Buddhis mengakui fakta bahwa agama Buddha mempertahankan banyak prinsip-prinsip agung. Karena itulah, banyak orang yang bukan Buddhis memuji agama Buddha sebagai jalan hidup yang benar.

Agama Buddha membimbing manusia menuju kedamaian, pengembangan moral, dan berpikir secara logika. Juga, doktrin Buddhis merupakan sumber yang paling benar yang mana didapati jawaban tepat bagi semua pertanyaan yang muncul dalam pikiran manusia. Inilah satu-satunya doktrin yang menerangkan realita kehidupan secara sederhana dan jujur. Tanpa melebih-lebihkan, dapat dinyatakan bahwa dalam meningkatkan batin manusia, agama Buddha tak tertandingi.

Ajaran Sang Buddha memberikan bimbingan kepada kita untuk membebaskan batin dari kemelekatan kepada hal yang selalu berubah (anicca), yang menimbulkan ketidakpuasan (dukkha) karena tidak mempunyai inti yang kekal (anatta). Usaha pembebasan ini dilakukan sesuai dengan kemampuan dan pengertian masing-masing.

Jadi, ajaran Sang Buddha tidak merupakan paksaan untuk dilaksanakan. Sang Buddha hanyalah penunjuk jalan pembebasan. Untuk sampai ke tujuan itu, tergantung pada usaha masing-masing. Bagi mereka yang tidak ragu-ragu lagi dan dengan semangat yang teguh melaksanakan petunjuk itu, pasti akan cepat sampai tujuan dibandingkan dengan mereka yang masih ragu dan kurang semangat.

Sang Buddha sebagai penunjuk jalan tidak menjanjikan suatu hadiah ataupun suatu hukuman bagi para pengikutnya, sebab Beliau mengajarkan Dhamma atas dasar cinta kasih tanpa pamrih apapun bagi diri-Nya.

Adalah bijaksana sebagai umat Buddha, setelah terlahir sebagai manusia tidak tenggelam di dalam kesenangan nafsu indria. Di dunia ini kita telah diberikan warisan yang sangat berharga oleh para bijaksana. Sungguh bahagia bagi manusia menerima ajaran Sang Buddha, yang sampai sekarang ajaran-Nya dapat kita laksanakan. Hal itu karena hadirnya Buddha di dalam kehidupan ini sangat jarang.

Ajaran Sang Buddha, telah dibabarkan kepada manusia bahkan kepada para dewa demi keuntungan manusia dan dewa itu sendiri untuk mencapai kebebasan mutlak. Untuk dapat mencapai kebebasan abadi itu, seorang Buddhis harus berjuang melaksanakan ajaran Sang Buddha yaitu melenyapkan lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kegelapan batin) yang merupakan akar mula dari segala penderitaan.

Mengapa kita tidak mau menggunakannya, kalau hal itu bermanfaat bagi kita? Laksanakanlah ajaran suci itu yang dapat membimbing dan memberikan manfaat kepada kita. Walaupun berat untuk menyingkirkan tiga akar penderitaan tersebut, tetapi masih ada kesempatan bagi kita untuk berjuang. Maka dari itu, janganlah putus asa. Banyak cara yang telah diberikan Sang Buddha kepada murid-Nya. Gunakanlah yang terbaik dari warisan itu. Marilah kita melaksanakan ajaran Sang Buddha untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan bahagia. 

(03 Februari 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar