Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Majjhima Nikaya 5; BRAHMAYU SUTTA(Mengenai tiga puluh dua tanda pada tubuh Sang Buddha dan penerimaan Brahmana Brahmayu)

BRAHMAYU SUTTA

Brahmayu

Sumber : Majjhima Nikaya 5
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris
Oleh : Dra. Wena Cintiawati, Dra. Lanny Anggawati
Penerbit : Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna, 2008

1. DEMIKIAN YANG SAYA DENGAR. Pada suatu ketika, Yang Terberkahi sedang berkelana di negeri orang-orang Videha bersama sekelompok besar Sangha Para bhikkhu, dengan lima ratus bhikkhu.

2. Pada saat itu, brahmana Brahmayu sedang tinggal di Mithila. Dia sudah tua, berumur, terbebani tahun-tahun kehidupan, lanjut dalam kehidupan, dan tiba pada tahap akhir; dia berumur seratus dua puluh tahun. Dia adalah pakar Tiga Veda, dengan kosakatanya, liturgy, fonologi, dan etimologi, serta sejarahnya sebagai yang kelima; ahli dalam filosofi dan tata bahasa, dia sangat ahli mengenai filosofi alam dan tanda-tanda manusia Besar.850

3. Brahmana Brahmayu mendengar: “Petapa Gotama, putra suku Sakya yang telah meninggalkan keduaniawian dari keluarga suku Sakya, telah berkelana di negeri orang-orang Videha bersama sekelompok besar Sangha para bhikkhu, dengan lima ratus bhikkhu. Laporan yang baik tentang Guru Gotama telah menyebar sedemikain: ‘Yang Terberkahi itu telah mantap, sepenuhnya tercerahkan, sempurna dalam pengetahuan sejati dan sempurna dalam perilaku, tinggi, pengenal semua alam, pemimpin yang tiada bandingnya bagi manusia-manusia yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi. Beliau menyatakan dunia ini bersama dengan para dewa, Mara, dan Brahmanya, generasi ini bersama para petapa dan Brahmananya, pangeran dan rakyatnya, yang telah Beliau realisasikan sendiri melalui pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang bagus di awal, bagus di tengah, dan bagus di akhir, dengan arti dan penyusunan kata yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang sepenuhnya sempurna dan murni.’ Sungguh bagus menemui Arahat-arahat seperti ini.”[134]

4. Pada waktu itu brahmana Brahmayu mempunyai siswa seorang brahmana bernama Uttara yang merupakan pakar Tiga veda … dia sangat ahli mengenai filosofi alam dan tanda-tanda Manusia Besar. Brahmana Brahmayu berkaya kepada siswanya: “Uttara, petapa Gotama, putra suku Sakya yang telah meninggalkan keduniawian dari keluarga suku Sakya, telah berkelana di negeri orang-orang Videha bersama sekelompok besar Sangha para bhikkhu, dengan lima ratus bhikkhu … Sungguh bagus menemui Arahat-arahat ini. Uttara, pergilah pada petapa Gotama dan cari tahulah apakah laporan yang menyebar tentang Beliau benar-atau tidak, dan apakah Guru Gotama benar-benar manusia seperti itu atau tidak. Dengan cara ini, kita akan mengetahui tentang Guru Gotama melalui engkau.”

5. “tetapi bagaimana saya mencari tahu, tuan, apakah laporan yang menyebar tentang Guru Gotama itu benar atau tidak, and apakah Guru Gotama benar-benar manusia seperti itu atau tidak?”

“Uttara, tiga puluh dua tanda Manuia Besar telah diturunkan di dalam hymne-hymne kita, dan Manusia Besar yang memiliki tanda-tanda itu hanya punya dua tujuan yang mungkin, tidak ada yang lain.851 Jika beliau menjalani kehidupan berumah-tangga, beliau menjadi seorang Raja Pemutar Roda, seorang raja bijak yang memerintah dengan Dhamma, penguasa empat penjuru, selalu menang, yang telah menstabilkan negaranya dan memiliki tujuh harta. Dia memiliki tujuh harta ini: harta-roda, harta-gajah, harta-kuda, harta-permata, harta-perempuan, harta-pelayan, serta harta-penasihat sebagai yang ke tujuh.852 Anak-anaknya, yang lebih dari seribu, bersifat berani dan berjiwa pahlawan, dan menundukkan pasukan-pasukan lain; di bumi yang terbatas samudera ini, beliau memerintah tanpa tongkat, tanpa senjata, hanya dengan sarana Dhamma. Tetapi jika meninggalkan kehidupan berumah menjadi tak-berumah, beliau menjadi Yang Mantap. Yang Tercerahkan Sempurna, yang menyingkapkan selubung dunia.853 Tetapi aku, Uttara, adalah pemberi hymne; engkaulah yang menjadi penerimanya.”

6. “Ya, tuan,” jawabnya. Dia bangkit dari tempat duduknya, dan setelah memberi hormat kepada brahmana Brahmayu, dengan menjaga agar brahmana Brahmayu tetap di sebelah kanannya, dia berangkat menuju negeri orang-orang Videha, di mana Yang Terberkahi sedang berkelana.[135] Setelah menempuh perjalanan, dia sampai kepada Yang Terberkahi dan bertukar salam dengan Beliau. Ketika sopan santun dan percakapan yang bersahabat ini telah selesai, dia duduk di satu sisi dan mencari tiga puluh dua tanda Manusia Besar pada tubuh Yang Terberkahi. Dia melihat, kurang-lebih, tiga puluh dua tanda Manusia Besar di tubuh Yang Terberkahi, kecuali dua, dia ragu-ragu dan tidak yakin tentang dua tanda itu, dan dia tidak dapat menentukan dan memutuskan tentang hal itu: tentang alat kelamin pria yang terselubung lapisan pelindung dan tentang besarnya lidah.

Kemudian muncul pada Yang Terberkahi: “Siswa brahmana Uttara ini melihat, kurang-lebih, tiga puluh dua tanda Manusia besar pada diriku, kecuali dua hal; dia ragu-ragu dan tidak yakin tentang dua tanda itu, dan dia tidak dapat menentukan dan memutuskan tentang hal itu: tentang alat kelamin pria yang terselubung lapisan pelindung dan tentang besarnya lidah.”

7. Kemudian Yang Terberkahi menggunakan kekuatan supranormal sedemikian sehingga siswa brahmana Uttara melihat bahwa alt kelamin pria Yang Terberkahi terselubung pelindung.854 Kemudian Yang Terberkahi mengeluarkan lidahnya, dan Beliau berkali-kali menyentuh dua lubang telinga dan dua lubag hidung, dan Beliau menutupi seluruh dahinya dengan lidahnya.

8. Kemudian siswa brahana Utta berpikir: “Petapa Gotama memiliki tiga puluh dua tanda manusia Besar. Bagaimana kalau aku mengikuti petapa Gotama dan mengamati perilakunya?”

Maka dia mengikuti Yang Terberkahi selama tujuh bulan seperti bayangan, tanpa pernah meninggalkan Beliau. Pada akhir masa tujuh bulan di negeri orang-orang Videha itu, siswa brahmana Uttara pulang menuju Mithila di mana brahmana Brahmayu berada. Ketika tiba, dia memberikan hormat dan duduk di satu sisi. Pada saat itu, brahmana Brahmayu bertanya kepadanya: “Nah, Uttara, apakah laporan yang menyebar tentang Guru Gotama [136] itu benar atau tidak? Dan apakah Guru Gotama benar-benar menusia seperti itu atau tidak?”

9. “laporan yang menyebar tentang Guru Gotama itu benar, tuan, dan bukan sebaliknya; dan Guru Gotama benar-benar manusia seperti itu dan bukan sebaliknya. Beliau memiliki tiga puluh dua tanda Manusia Besar.

Guru Gotama meletakkan kaki Beliau ke lantai dalam posisi segi empat – ini adalah tanda Manusia Besar pada Guru Gotama.

Di telapak kaki Beliau ada roda-roda dengan seribu jeruji dan batang dan penghubung yang semuanya lengkap…

Beliau memiliki tumit yang runcing…
Beliau memiliki jari tangan dan jari kaki yang panjang….
Tangan dan kaki Beliau halus dan lembut …
Beliau memiliki tangan dan kaki yang berjala….
Telapak kaki Beliau melengkung…
Beliau memiliki kaki seperti kaki kijang …
Ketika Beliau berdiri tanpa membungkuk, dua telapak tangannya menyentuh dan bergesekan dengan lututnya…..
Alat kelamin prianya terselubung lapisan pelindung…
Beliau berwarna keemasan, kulitnya memiliki kilau keemasan …
Beliau berkulit halus, dan karena halusnya kulitnya, debu dan pasir tidak menempel di tubuhnya…
Bulu tubuhnya tumbuh satu per satu, tiap helai bulu tumbuh satu saja di lubangnya….
Ujung bulu tubuhnya menghadap ke atas; bagian bulu yang menghadap ke atas itu berwarna hitam kebiruan, warna collyriun, yang keriting dan melingkar ke kanan …
Beliau memiliki tangan-kaki Brahma yang lurus …
Beliau memiliki tujuh kecembungan …855
Beliau memiliki dada seekor singa…
Alur di antara dua bahunya terisi masuk …
Beliau memiliki bentangan seperti pohon banyan;
Rentangan lengannya sama dengan tinggi tubuhnya, dan
Tinggi tubuhnya sama dengan rentangan lengannya…
Leher dan bahu rata …
Citarasanya sangat kuat …856
Beliau berahang singa …[137]
Beliau memiliki empat puluh gigi ….
Giginya rata …
Giginya tanpa celah …
Giginya sangat putih …
Beliau memiliki lidah yang besar…
Beliau memiliki suara yang merdu, seperti kicau burung Karavika …
Mata biru tua …
Beliau memiliki bulu mata seperti bulu mata lembu jantan …
Beliau memiliki rambut yang tumbuh di antara dua alisnya,
Yang berwarna putih dengan kilau kapas yang lembut…
Kepalanya berbentuk seperti turban – Inilah tanda-tanda
Manusia Besar yang ada pada Guru Gotama.857

Guru Gotama memiliki tiga puluh dua tanda Manusia Besar.

10. “Ketika berjalan, Beliau melangkah dengan kaki kanan terlebih dahulu. Beliau tidak melangkahkan kakinya terlalu jauh atau meletakkannya terlalu dekat. Beliau tidak berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat. Beliau berjalan tanpa lutut saling bersentuhan. Beliau berjalan tanpa pergelangan kaki saling bersentuhan. Beliau berjalan tanpa pergelangan kaki saling bersentuhan. Beliau berjalan tanpa menaikkan atau menurunkan pahanya, dan pahanya tidak saling bersentuhan atau saling berjauhan. Ketika berjalan, hanya tubuh bagian bawahnya yang bergerak ke depan dan ke belakang, dan Beliau berjalan tidak dengan tenaga tubuh. Ketika menengok untuk melihat, Beliau melakukannya dengan seluruh tubuhnya. Beliau tidak melihat ke atas; Beliau tidak melihat ke bawah. Beliau tidak berjalan dengan melihat sekeliling. Beliau melihat ke depan sepanjang tongkat pembajak; di luar itu Beliau memiliki pengetahuan dan pandangan yang tak-terhalang.

11. “Ketika masuk ke dalam ruangan, Beliau tidak menaikkan atau menurunkan tubuhnya, atau membungkuk ke depan atau ke belakang.[138] Beliau memutar badan tidak terlalu jauh atau terlalu dekat dari tempat duduk. Beliau tidak bersandar pada tempat duduk dengan tangannya. Beliau tidak melempar tubuhnya ke atas tempat duduk.

12. “Ketika duduk di dalam ruangan, Beliau tidak bermain-main dengan tangannya karena gelisah. Beliau tidak bermain-main dengan kakinya karena gelisah. Beliau tidak duduk dengan lutut disilangkan. Beliau tidak duduk dengan pergelangan kaki disilangkan. Beliau tidak duduk dengan tangannya memegang dagu. Ketika duduk di dalam rumah, Beliau tidak takut, Beliau tidak menggigil dan gemetar, Beliau tidak gugup. Karena tidak merasa takut, tidak menggigil atau gemetar atau gugup, rambut Beliau tidak berdiri dan Beliau bertahan di dalam kesendirian.

13 “Ketika menerima air untuk mangkuknya, Beliau tidak menaikkan atau menurunkan mangkuk atau memiringkannya ke depan atau ke belakang. Beliau menerima tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak air untuk mangkuknya. Beliau mencuci mangkuk tanpa membuat suara berkecipak. Beliau mencuci mangkuk tanpa memutar-mutarnya. Beliau tidak meletakkan mangkuk itu di lantai ketika mencuci tangan; ketika tangan Beliau telah tercuci, mangkuknya telah tercuci; dan ketika mangkuknya telah tercuci, tangannya telah tercuci. Beliau menuang air untuk mangkuknya tidak terlalu jauh atau terlalu dekat dan Beliau tidak menuang air ke sekeliling.

14 “Ketika menerima nasi, Beliau tidak menaikkan atau menurunkan mangkuk atau memiringkannya ke depan atau kebelakang. Beliau menerima tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak nasi. Beliau menambahkan kuah dalam proporsi yang tepat; Beliau tidak melebihi jumlah takaran kuah untuk satu suapan. Beliau memutar satu suap dua atau tiga kali di mulut dan kemudian menelannya, dan tidak ada butir nasi yang masuk ke tubuh tanpa dikunyah dan tidak ada butir nasi yang tertinggal di mulut; kemudian Beliau mengambil satu suap lagi. Beliau makan makanan itu dengan mengalami citarasanya, meskipun tidak mengalami keserakahan terhadap citarasa itu. Makanan yang Beliau makan memiliki delapan factor: bukan untuk kesenangan dan bukan untuk pemabukan, bukan pula untuk keelokan dan daya tarik fisik, melainkan hanya untuk daya tahan dan kelangsungan hidup, untuk mengakhiri ketidak-nyamanan, dan untuk tidak membantu kehidupan suci; [139] Beliau berpikir: ‘Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan lama tanpa membangkitkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tak-tercela dan akan hidup dalam kenyamanan.’858

15. “Setelah makan dan menerima air untuk mangkuknya, Beliau tidak menaikkan atau menurunkan mangkuk atau memiringkannya ke depan atau ke belakang. Beliau menerima tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak air untuk mangkuknya. Beliau mencuci mangkuk tanpa membuat suara berkecipak. Beliau mencuci mangkuk tanpa memutar-mutarnya. Beliau tidak meletakkan mangkuk itu di lantai ketika mencuci tangan; ketika tangan Beliau telah tercuci, mangkuknya telah tercuci; dan ketika mangkuknya telah tercuci, tangannya telah tercuci. Beliau menuang air untuk mangkuknya tidak terlalu jauh atau terlalu dekat dan Beliau tidak menuang air ke sekeliling.

16. “Setelah makan, Beliau meletakkan mangkuknya di atas lantai tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat; dan Beliau tidak ceribih akan mangkuknya atau terlalu rewel tentang mangkuknya itu.

17. “Setelah makan, Beliau duduk diam selama beberapa saat, tetapi Beliau tidak melewatkan waktu pemberkahan.859 Setelah makan dan memberikan pemberkahan, Beliau tidak mengkritik makanan itu atau mengharapkan makanan yang lain; Beliau memberikan instruksi, mendesak, membangkitkan, dan mendorong para pendengar dengan pembicaraan yang murni tentang Dhamma. Setelah selesai melakukannya, Beliau bangkit dari tempat duduk dan pergi.

18. “Beliau tidak berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat, dan Beliau tidak pergi seperti orang yang ingin melarikan diri.

19. “Jubah Beliau dikenakan tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah di tubuh, atau terlalu ketat melekat di tubuh, atau terlalu longgar di tubuh, dan angin juga tidak meniup jubah dari tubuhnya. Debu dan pasir tidak mengotori tubuhnya.

20. “Setelah pergi ke vihara, Beliau duduk di tempat duduk yang telah disiapkan. Setelah duduk, Beliau mencuci kaki, walaupun Beliau tidak sibuk merawat kakinya. Setelah mencuci kaki, Beliau duduk bersila, mengatur tubuhnya supaya tegak, dan membentuk kewaspadaan di depannya. Beliau tidak mengisi pikiran dengan penderitaan-diri, atau dengan penderitaan orang lain, atau dengan penderitaan keduanya; Beliau duduk dengan pikiran yang terarah pada kesejahteraan diri-sendiri, dan kesejahteraan orang lain, serta kesejahteraan keduanya, bahkan pada kesejahteraan seluruh dunia.[140]

21. “Setelah pergi ke vihara, Beliau mengajar Dhamma pada pendengarannya. Beliau tidak menyanjung atau mencela pendengarannya; Beliau memberikan instruksi, mendesak, membangkitkan, dan mendorong para pendengar dengan pembicaraan yang murni tentang Dhamma. Kata-kata yang keluar dari mulut Beliau memiliki delapan kualitas: jelas, dapat dipahami, berirama, dapat didengar, mengiang, merdu, dalam, dan bergema. Tetapi walaupun suaranya dapat dipahami sejauh lingkup pendengarannya, pokok pembicaraan Beliau tidak di luar jangkauan para pendengarannya. Ketika orang-orang telah diberi instruksi, didesak, dibangkitkan, dan didorong oleh Beliau, mereka bangkit dari tempat duduk dan pergi sementara melihat hanya pada Beliau dan tidak peduli pada apa pun lainnya.

22. “Kami telah melihat Guru Gotama berjalan, tuan, kami telah melihat Beliau berdiri, kami telah melihat Beliau masuk ke dalam ruangan, kami telah melihat Beliau di dalam ruangan duduk dalam keheningan setelah makan, kami telah melihat Beliau memberi pemberkahan setelah makan, kami telah melihat Beliau pergi ke vihara dalam keheningan, kami telah melihat BERliau di vihara megajarkan Dhamma pada para pendengar. Belitulah Guru Gotama; begitulah Beliau, dan lebih dari itu.”860

23. Ketika hal ini dikatakan, brahmana Brahmayu bangkit dari duduknya, dan setelah mengatur jubah atasnya di satu bahu, dia menyatukan tangannya dalam penghormatan kepada Yang terberkahi dan mengatakan seruan ini tiga kali: “Hormat kepada Yang Terberkahi –yang telah mantap dan tercerahkan sempurna! Hormat kepada Yang Terberkahi –yang telah mantap dan tercerahkan sempurna!Hormat kepada Yang Terberkahi yang telah mantap dan tercerahkan sempurna! Mungkin suatu kali atau kali lain kami dapat bertemu Guru Gotama, mungkin kami dapat bercakap-cakap dengan Beliau.”

24. Kemudian, dalam perjalanan berkelana, Yang Terberkahi akhirnya tiba di Mithila. Di sana Yang Terberkahi berdiam di Hutan Mangga milik Makhadeva. Para brahmana perumah-tangga di Mithila mendengar: [141] “Petapa Gotama, putra suku Sakya yang telah meninggalkan keduniawian dari keluarga suku Sakya, telah berkelana di negeri orang-orang Videha bersama sekelompok besar Sangha para bhikkhu, dengan lima ratus bhikkhu, dan sekarang Beliau telah datang di Mithila dan sedang berdiam di Hutan Mangga milik Makhadeva. Sebuah laporan yang baik tentang Guru Gotama telah menyebar sedemikian … (sama seperti § 3 di atas) … Sungguj bagus bertemu dengan Arahat0Arahat seperti ini.”

25. Kemudian para brahmana perumah-tangga di Mithila pergi kepada Yang Terberkahi. Beberapa orang memberi hormat kepada Yang Terberkahi dan duduk di satu sisi; beberapa bertukar salam dengan Beliau, dan setelah ramah tamah dan percakapan yang bersahabat ini selesai, mereka duduk di satu sisi, beberapa menyatukan tangannya dalam penghormatan kepada Beliau dan duduk di satu sisi; beberapa menyebutkan nama dan kelompoknya di hadapan Yang Terberkahi dan duduk di satu sisi; beberapa tetap diam dan duduk di satu sisi.

26. Brahmana Brahmayu mendengar: “Petapa Gotama, putra suku Sakya yang telah meninggalkan keduniawian dari keluarga suku Sakya, telah datang di Mithila dan sedang berdiam di Hutan Mangga miliki Makhadeva di Mithila.”

Kemudian brahmana Brahmayu pergi ke Hutan Mangga milik Makhadeva dngan sejumlah siswa brahmana. Ketika sampai di Hutan Mangga, dia berpikir: “Tidak pantas jika aku datang pada petapa Gotama tanpa memberitahu sebelumnya.” Maka dia berkata kepada seorang siswa brahmana: “Mari, siswa brahmana, pergilah kepada petapa Gotama dan bertanyalah atas namaku apakah petapa Gotama bebas dari penyakit dan derita, dan sehat, kuat, dan berdiam dalam kenyamanan, dengan brkata: ‘Guru Gotama, brahmana Brahmayu bertanya apakah Guru Gotama bebas dari penyakit dan derita … berdiam dalam kenyamanan,” dan katakanlah: ‘Brahmana Brahmayu, Guru Gotama, sudah tua, berumur, terbebani tahun-tahun kehidupan, lanjut dalam kehidupan, dan tiba pada tahap akhir; dia berumur seratus dua puluh tahun. Dia adalah pakar Tiga Veda, dengan kosakata, liturgy, fonologi, dan etimologi, dan sejarahnya sebgai yang ke lima; ahli dalam filosofi dan tata bahasa, dia sangat ahli dalam filosofi alam dan tanda-tanda Manusia Besar. Di antara semua brahmana perumah-tangga yang tinggal di Mithila, brahmana Brahmayu dikatakan yang tertinggi dalam kekayaan, pengetahuan akan hymne, dan di usia serta kemasyuran. [142] Dia ingin bertemu Guru Gotama.’”

“Ya, tuan,” jawab siswa brahmana itu. Dia pergi pada Yang Terberkahi dan bertukar salam dengan Beliau, dan setelah ramah tamah dan percakapan yang bersahabat ini selesai, dia berdiri di satu sisi dan menyatakan pesan itu. [Yang Terberkahi berkata:]

“Sekaranglah saatnya brahmana Brahmayu melakukan apa yang dia pikir sesuai.”

27. Kemudian siswa brahmana itu pergi kepada brahmana Brahmayu dan berkata: “Izin telah diberikan oleh petapa Gotama. Sekaranglah saatnya, tuan untuk melakukan apa yang tuan piker sesuai.”

Maka brahmana Brahmayu pergi kepada Yang Terberkahi. Orang-orang yang berkumpul di sana melihat kedatangannya dari jauh, dan mereka segera memberi jalan kepadanya sebagai orang yang ternama dan terkenal. Kemudian brahmana Brahmayu berkata kepada orang-orang yang berkumpul itu: “cukup, tuan-tuan, silakan duduk di tempat duduk masing-masing. Aku akan duduk di sini di samping petapa Gotama.”
28. Kemudian dia pergi kepada Yang Terberkahi dan bertukar salam dengan Belia. Setalah ramah tamah dan percakapan yang bersahabat ini selesai, dia duduk di satu sisi dan mencari tiga puluh dua tanda Manusia Besar pada tubuh Yang Terberkahi. [143] Dia melihat, kurang-lebih, tiga puluh dua tanda Manusia Besar di tubuh Yang Terberkahi, kecuali dua hal; dia ragu-ragu dan tidak yakin tentang dua tanda itu, dan dia tidak dapat menentukan dan memutuskan tentang itu: tentang alat kelamin pria yang terselubung lapisan pelindung dan tentang besarnya lidah.

29. Maka brahmana Brahmayu berkata kepada Yang Terberkahi dalam bait-bait ini:

“Tiga puluh tanda yang aku pelajar
Adalah tanda-tanda Manusia besar-
Aku masih belum melihat dua dari tanda ini
Di tubuhmu, Gotama.
Apakah sesuatu yang seharusnya tertutup oleh kain
Tersembunyi dalam lapisan pelindung, manusia terbesar?
Meskipun disebut dengan kata yang bergender feminin,861
Mungkinkah lidahmu lidah seorang laki-laki?
Mungkinkah lidahmu juga besar,
Menurut apa yang telah kami pelajari?
Tolong keluarkanlah sedikit
Dan dengan demikian, O Penglihatan, obatilah keraguan kami
Demi kesejahteraan di dalam hidup sekarang ini
Dan kebahagiaan di dalam kehidupan mendatang.
Dan sekarang kami minta izin untuk bertanya
Sesuatu yang sangat ingin kami ketahui.”

30. Kemudian muncul pada Yang Terberkahi: “Brahmana Brahmayu ini melihat, kurang-lebih, tiga puluh dua tanda Manusia besar pada diriku; kecuali dua hal: dia ragu-ragu dan tidak yakin tentang dua tanda itu, dan dia tidak dapat menentukan dan memutuskan tentang hal itu: tentang alat kelamin pria yang terselubung lapisan pelindung dan tentang besarnya lidah.”

Kemudian Yang Terberkahi menggunakan kekuatan supranormal sedemikian sehingga brahmana Brahmayu melihat bahwa alat kelamin pria Yang Terberkahi terselubung lapisan pelindung. Kemudian Yang Terberkahi mengeluarkan lidahnya, dan Beliau berkali-laki menyentuh dua lubang telinga dan dua lubang hidung, dan Beliau menutupi seluruh dahinya dengan lidahnya.

31. Kemudian Yang Terberkahi mengucapkan bait-bait ini sebagai jawaban kepada brahmana Brahmayu:

“Tiga puluh dua tanda yang telah kau pelajari
Adalah tanda-tanda Manusia Besar –
Semua dapat ditemukan di tubuhku:
Maka, brahmana, jangan ragu lagi tentang hal itu.

Apa yang harus diketahui telah diketahui secara langsung,
Apa yang harus dikembangkan telah dikembangkan,
Apa yang harus ditinggalkan telah ditinggalkan,
Karena itu, brahmana, aku adalah Buddha.862[144]
Demi kesejahteraan di dalam hidup sekarang ini
Dan kebahagiaan dalam kehidupan-kehidupan mendatang,
Karena izin telah diberikan kepadamu, silahkan bertanya
Apa pun yang sangat ingin kau ketahui.”

32. Kemudian brahmana Brahmayu berpikir: “Izin telah diberikan kepadaku oleh petapa Gotama. Yang mana yang harus aku tanya kepada Beliau: kebaikan dalam kehidupan ini atau kebaikan dalam kehidupan-kehidupan mendatang?”Kemudian dia berpikir: “Aku sudah terlatih tentang kebaikan dalam kehidupan ini, dan orang-orang lain juga bertanya kepadaku tentang kebaikan dalam kehidupan ini. Mengapa aku tidak bertanya kepada Beliau hanya tentang kebaikan dalam kehidupan-kehidupan mendatang?” Maka dia berkata kepada Yang Terberkahi dalam bait-bait ini:

“Bagaimana orang-menjadi seorang brahmana?
Dan bagaimana orang memperolah pengetahuan?863
Bagaimana orang memperoleh tiga pengetahuan?
Dan bagaimana orang menjadi pelajar yang suci?
Bagaimana orang menjadi Arahat?
Dan bagaimana orang mencapai kelengkapan?
Bagaimana orang menjadi orang suci yang diam?
Dan bagaimana orang dapat disebut Buddha?864

33. Kemudian Yang Terberkahi mengucapkan bait-bait ini sebagai jawaban:

“Dia yang tahu tentang kehidupan-kehidupan masa lalunya,
Melihat surga dan alam yang menyedihkan,
Dan telah sampai pada hancurnya kelahiran –
Orang suci yang mengetahui dengan pengetahuan langsung,
Dia yang tahu bahwa pikirannya telah dimurnikan,
Yang sepenuhnya bebas dari setiap nafsu,
Dia yang telah meninggalkan kelahiran dan kematian,
Dia yang telah lengkap dalam kehidupan suci,
Dia yang telah mentransendenkan segalanya –
Orang seperti ini disebut Buddha.”865

34. Ketika hal ini dikatakan, brahmana Brahmayu bangkit dari tempat duduknya, dan setelah mengatur jubah atasnya pada satu bahu, dia berlutut dengan kepala di kaki Yang Terberkahi, dan dia menciumi dan mengusapi seluruh kaki Yang Terbekahi dengan tangan, sambil menyebutkan namanya: “Aku brahmana Brahmayu, Guru Gotama; aku brahmana Brahmayu, Guru Gotama.”

35. Orang-orang yang berkumpul di sana bertanya-tanya dan terheran-heran, dan mereka berkata: “Sungguh bagus, tuan-tuan, sungguh luar biasa, betapa besar kekuatan dan keagungan petapa Gotama, karena brahmana Brahmayu yang terkenal dan ternama menunjukkan kerendahan hati yang sedemikian!”

Kemudian Yang Terberkahi berkata demikian kepada brahmana Brahmayu:[145] “Cukup, brahmana, bangkitlah; duduklah di tempat dudukmu karena pikiranmu telah memiliki keyakinan kepadaku.”

Brahmana Brahmayu kemudian bangkit dan duduk di tempat duduknya sendiri.

36. Kemudian Yang Terberkahi memberinya instruksi bertingkat,866 yaitu, pembicaraan tentang berdana, berbicara tentang moralitas, berbicara tentang surga; Beliau menjelaskan bahaya, kemunduran, dan kekotoran dalam kesenangan indera dan berkah pelepasan. Ketika Beliau mengetahui bahwa pikiran Brahman brahmayu telah siap, dapat menerima, bebas dan halangan, gembira, dan yakin, Beliau memaparkan kepadanya ajaran yang khusus dari para Buddha: penderitaan, asal mulanya berhentinya, dan sang jalan. Sama seperti sehelai kain putih yang semua nodanya dihilangkan akan menyerap warna dengan rata, demikian juga sementara brahmana Brahmayu duduk di sana, pandangan Dhamma yang murni dan tanpa-noda muncul padanya: “Semuanya yang muncul akan lenyap.” Kemudian brahmana Brahmayu melihat Dhamma, mencapai Dhamma, memahami Dhamma, meresap dalam Dhamma: dia melampaui keraguan, menuntaskan kebingungan, memperolah ketenangan, dan menjadi bebas dari yang lain dalam Ajaran Guru.

37. Kemudian dia berkata kepada Yang Terberkahi: “Luar biasa, Guru Gotama! Luar biasa, Guru Gotama! Guru Gotama telah membuat Dhamma menjadi jelas dengan banyak cara, seakan-akan Beliau menegkakan kembali pa yang tadinya terjungkir-balik, mengungkapkan apa yang tadinya tersembunyi, menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat, atau memberikan penerangan di dalam kegelapan bagi mereka yang mempunyai mata sehingga dapat melihat bentuk. Saya pergi kepada Guru Gotama untuk perlindungan dan kepada Dhamma dan kepada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini, biarlah Guru Gotama mengingat saya sebagai pengikut awam yang telah pergi kepada Beliau untuk perlindungan sepanjang hidup. Semoga Yang Terberkahi, sama Sangha [para bhikkhu, bersedia menerima makanan dari saya besok pagi.”

Yang Terberkahi menyetujui dengan berdiam diri. Kemudian, mengetahui bahwa Yang Terberkahi telah menyetujui, brahmana Brahmayu bangkit dari tempat duduknya. Setelah memberi hormat kepada Yang Terberkahi, dengan menjaga agar Beliau tetap di sebelah kanannya, brahmana Brahmayu pun pergi.

38. Kemudian, ketika malam telah berakhir, brahmana Brahmayu menyuruh menyiapkan berbagai macam makanan yang lezat di tempat tinggalnya, dan dia menyuruh seseorang memberitahu Yang Terberkahi: “Sekaranglah saatnya, Guru Gotama, makanan sudah siap.”[146]

Kemudian, karena hari sudah pagi, Yang Terberkahi berpakaian,membawa mangkuk dan jubah luar Beliau, lalu pergi bersama Sangha para bhikkhu menuju tempat tinggal brahmana Brahmayu dan duduk di tempat yang sudah disiapkan. Dan selama satu minggu, dengan tangannya sendiri, brahmana Brahmayu melayani dan memuaskan Sangha para bhikkhu yang dipimpin Sang Buddha dengan berbagai jenis makanan pilihan.

39. Pada akhir minggu itu, Yang Terberkahi berangkat untuk berkelana di negeri orang-orang Videha. Segera setelah Beliau pergi, brahmana Brahmayu meninggal. Kemudian beberapa orang bhikkhu pergi kepada Yang Terberkahi, dan setelah memberi hormat, mereka duduk di satu sisi dan berkata:

“Bhante, brahmana Brahmayu telah meninggal. Ke mana tempat tujuannya? Bagaimana perjalanan masa depannya?”

“Para bhikkhu, brahmana Brahmayu bijaksana, dia telah masuk ke jalan Dhamma, dan dia tidak menyulitkan aku dalam interpretasi Dhamma. Dengan hancurnya lima penghalang rendah, dia telah lahir kembali secara spontan [di alam Kediaman-kediaman Murni] dan dari sana akan mencapai Nibbana terakhir, tanpa pernah kembali dari dunia itu.”

Demikianlah yang dikatakan Yang Terberkahi. Para bhikkhu puas dan bergembira di dalam kata-kata Yang Terberkahi.

Catatan

850
Ini adalah deskripsi umum tentang brahmana yang terpelajar. Menurut MA, Tiga Veda itu adalah Iru, Yaju, dan Sama (= Rig, Yajur, dan Saman). Veda keempat, Atharva, tidak disebutkan, tetapi MA mengatakan bahwa eksistensinya tersirat ketika sejarah-sejarah (ithasa) disebut “yang kelima”, yaitu karya-karya yang dianggap otoritas oleh para brahmana. Namun demikian, nampaknya lebih mungkin bila sejarah-sejarah itu yang disebut “kelima” sehubungan dengan empat cabang ilmu tambahan Veda yang mendahuluinya di dalam penjelasan itu. Terjemahan istilah-istilah teknis di sini mengikuti MA, dengan bantuan Kamus Sanskerta-Inggris (Sanskrit-English Dictionary, Oxford, 1899) Monier-William. Pada tanda-tanda Manusia Besar, MA mengatakan bahwa ini adalah ilmu yang berdasar pada 12.000 karya yang menjelaskan karakteristik manusia-manusia besar seperti misalnya para Buddha, paccekabuddha, siswa-siswa utama, siswa-siswa besar, Raja-raja Pemutar Roda, dll. Karya-karya ini mencakup 16.000 bait yang disebut “Mantra Buddha”.

851
Tiga puluh dua tanda, yang terdaftar di §9 di bawah, adalah pokok dari seluruh sutta di Digha Nikaya, DN 30, Lakkhana Sutta. Di sana setiap tanda dijelaskan sebagai konsekuensi kamma dari keluhuran tertentu yang telah disempurnakan oleh Sang Buddha selama kehidupan-kehidupan awal Beliau sebagai bodhisatta..

852
Tujuh harta ini dibahas di MN 129.34-41. Perolehan harta-roda menjelaskan mengapa dia disebut “Raja Pemutar-Roda”.

MA: Dunia ini, yang diselimuti kegelapan kekotoran batin, ditutup tujuh selubung: nafsu, kebencian, pandangan salah, kesombongan, pandangan-pandangan, kebodohan, dan perbuatan tak-bermoral. Setelah menyingkirkan selubung-selubung ini, Sang Buddha bermeditasi memancarkan cahaya ke sekeliling.

854
MA menjelaskan bahwa Sang Buddha melakukan tindakan ini setelah sebelumnya memutuskan bahwa guru Uttara, Brahmayu, memiliki potensi untuk mencapai buah Yang-Tidak-Kembali-Lagi, dan bahwa pencapaiannya itu bergantung atas hilangnya keraguan Uttara.

855
Tujuh hal itu adalah bagian belakang dua kaki dan dua tangan, dua bahu, dan sosok tubuh.

856
Rasaggasaggi. Lakkhana Sutta menjelaskan lebih jauh (DN 30.2.7/iii.166): “Apa pun yang Beliau sentuh dengan ujung lidah dirasakan Beliau di tenggorokan, dan citarasa itu menyebar ke mana-mana.” Meskipun demikian, sulit untuk memahami bagaimana kualitas ini dapat dianggap sebagai kualitas fisik atau bagimana hal ini dapat dimengerti oleh orang-orang lain.

857
Tanda ini, unhisa, menjelaskan tonjolan yang sering terlihat di puncak kepala patung Buddha.

858
Ini adalah perenunan standar penggunaan dana makanan yang tepat, seperti di MN 2.14.

859
Pemberkahan (anumodana) adalah ucapan pendek yang diucapkan setelah makan, yang memberikan beberapa instruksi Dhamma pada si pemberi dan mengekspresikan harapan agar kamma baik mereka menghasilkan bauh yang melimpah.

860
MA: Inilah tujuannya: “Kualitas-kualitas elok yang belum saya jelaskan bahkan jauh lebih banyak daripada yang sudah saya jelaskan. Kualitas-kualitas elok Guru Gotama itu bagaikan bumi yang besar dan samudera yang luas; jika dijelaskan secara rinci, kualitas-kualitas itu tak-terbatas dan tak-terukur, seperti ruang angkasa.”

861
Kata bahasa Pali untuk lidah, jivha, adalah feminin.

862
Apa yang harus diketahui secara langsung (abhinneyya) adalah Empat Kebenaran Mulia, apa yang harus dikembangkan (bhavetabba) adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan apa yang harus ditinggalkan (pahatabba) adalah kekotoran-kekotoran batin yang dipimpin oleh nafsu keinginan. Di sini konteksnya menuntut bahwa kata “Buddha” dipahami dalam arti khusus yaitu Yang Sepenuhnya Tercerahkan (sammasambuddha).

863
Vedagu. Istilah ini dan dua berikutnya-tevijja dan sotthiya kelihatannya mewakili jenis-jenis ideal di antara para brahmana; lihat juga MN 39.24,26 dan 27. Istilah yang keenam dan ketujuh-kevali dan muni- mungkin merupakan jenis-jenis ideal di antara kelompok petapa bukan-Veda. Melalui jawaban ini, Sang Buddha melengkapi istilah-istilah ini dengan arti baru beraal dari system spiritual Beliau sendiri.

864
Di sini dan di dalam jawaban itu, kata “Buddha” bisa berarti sekadar orang yang tercerahkan atau terjaga, dengan arti yang bisa diterapkan kepada Arahat mana pun, walaupun tanggapan Brahmayu juga menyarankan bahwa kata itu mungkin dimaksudkan untuk arti yang lebih sempit dibandingkan Yang sepenuhnya Tercerahkan.

865
MA menawarkan penjelasan yang rumit tentang bagaimana Sang Buddha menjawab delapan pertanyaan Brahmayu seluruhnya.

866
Seperti di MN 56.18.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar