Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Sutta Pitaka Majjhima Nikaya II; ANANGANA SUTTA : Percakapan antara Sariputta dan Moggallana mengenai kekotoran batin

ANANGANA SUTTA

Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya II
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : Hanuman Sakti, Jakarta, 1997

Demikianlah yang saya dengar:

Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava berada di Jetavana, milik Anathapindika, di Savatthi. Sementara Beliau berada di sana, Bhikkhu Sariputta berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu”, Para bhikkhu menjawab: “Ya, bhante”. Selanjutnya bhikkhu Sariputta berkata:
“Avuso, ada empat macam orang di dunia; apakah mereka? Avuso, di dunia ini ada orang yang ‘bermental ternoda’ (angana) dan yang tidak mengetahui dengan benar: “Saya bermental ternoda”. Ada orang yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: “Saya bermental ternoda”. Ada orang tidak bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: “Saya tidak bermental ternoda”. Ada orang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: “Saya tidak bermental ternoda”.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang bermental ternoda, ia yang bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: “Saya bermental ternoda”, adalah disebut inferior.Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang bermental ternoda, ia yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: “Saya bermental ternoda”, adalah disebut superior.Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang tidak bermental ternoda, ia yang tidak bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: “Saya tidak bermental ternoda”, adalah disebut inferior.

Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang tidak bermental ternoda, ia yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: “Saya tidak bermental ternoda,” adalah disebut superior.”
Setelah hal ini dikatakan, maka Bhikkhu Mahamoggallana bertanya kepada Bhikkhu Sariputta:
“Avuso Sariputta! Dari dua macam orang yang bermental ternoda, seorang disebut inferior dan yang lain disebut superior. Apakah alasan dan apa sebabnya?
“Avuso Sariputta! Dari dua macam orang yang tidak bermental ternoda, seorang disebut inferior dan yang lain disebut superior. Apakah alasan dan sebabnya?”
“Avuso, di antara dua macam orang, orang yang bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: “Saya bermental ternoda”, tidak akan memunculkan keinginan, tidak berusaha, atau tidak mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Ia akan meninggal dunia dengan batin dipenuhi kemelekatan, kemarahan, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.Avuso, sebagai contoh sebuah “wadah perunggu” (kamsapati) yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang diliputi oleh abu dan kotoran, yang mungkin dibiarkan tidak digunakan oleh pemiliknya, tidak dibersihkan dan dibiarkan dipenuhi debu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu patta perunggu itu akan lebih ternoda dan kotor oleh kotoran?”"Ya, avuso.”

“Avuso, dengan cara yang sama, orang yang bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: “Saya bermental ternoda”, tidak akan memunculkan keinginan, tidak berusaha, atau tidak mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Ia akan meninggal dunia dengan batin dipenuhi kemelekatan, kemarahan, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, di antara mereka, orang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: “Saya bermental ternoda”, akan memunculkan keinginan, berusaha atau mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Akan meninggal dunia dengan pikiran tanpa kemelekatan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan, tanpa noda-noda mental dan tanpa ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.Avuso, sebagai contoh, sebuah “wadah perunggu” (kamsapati) yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang diliputi oleh debu dan kotoran, yang mungkin dibersihkan oleh pemiliknya, tidak dibiarkan diliputi debu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu patta perunggu itu menjadi bersih dan tanpa noda?”"Ya, avuso.”

“Avuso, sama halnya, orang yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: “Saya bermental ternoda”, akan memunculkan keinginan, berusaha atau mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Akan meninggal dunia dengan pikiran tanpa kemelekatan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan, tanpa noda-noda mental dan tanpa ketidaksucian. Pasti, hal inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, di antara mereka, orang yang tidak bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: “Saya tidak bermental ternoda” akan tertarik pada hal-hal yang menyenangkan, karena tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya akan ternoda karena kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang agak bersih dan tidak ternoda, tetapi yang mungkin tidak digunakan dan tidak dibersihkan oleh pemiliknya dan dibiarkan di tempat berdebu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu patta perunggu itu ternoda dan kotor oleh kotoran?”"Ya, avuso.”

“Avuso, sama halnya orang yang tidak bermental ternoda tetapi tidak mengetahui dengan benar: “Saya tidak bermental ternoda”, akan tertarik pada hal-hal yang menyenangkan, karena tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin diliputi kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, di antara mereka, orang yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: “Saya tidak bermental ternoda” tidak akan tertarik pada hal-hal menyenangkan, karena tidak tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya tidak akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin tidak diliputi kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang agak bersih dan agak tidak ternoda, tetapi yang mungkin digunakan dan dibersihkan oleh pemiliknya dan tidak dibiarkan di tempat berdebu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu patta perunggu itu menjadi lebih bersih dan tidak ternoda?”"Ya, avuso.”

“Avuso, sama halnya, orang yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: “Saya tidak bermental ternoda” tidak akan tertarik pada hal-hal menyenangkan, karena tidak tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya tidak akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin tanpa kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidak sucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso Moggallana! Inilah alasan dan sebab dari pernyataan bahwa dari dua macam yang bermental ternoda, seorang disebut inferior dan orang yang lain disebut superior.Avuso Moggallana! Inilah alasan dan sebab dari pernyataan bahwa dari dua macam orang yang tidak bermental ternoda, seorang disebut inferior dan orang yang lain disebut superior.
“Avuso, telah tersebut: ‘Noda, noda.’ Apa yang dimaksud dengan ‘noda’?Avuso, ‘noda’ ini adalah sebutan untuk faktor-faktor jahat (papakanam) yang muncul dari ‘keinginan-keinginan buruk’ (akusalaiccha).Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Saya akan melakukan pelanggaran peraturan (apatti), mungkin para bhikkhu tidak mengetahui perbuatanku.” Kemudian bhikkhu itu berpikir, “Para bhikkhu tahu bahwa saya telah melakukan apatti”, lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.

Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Saya akan melakukan apatti, mungkin para bhikkhu akan menuduhku secara pribadi dan tidak di tengah-tengah sangha.” Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu menuduhnya di tengah-tengah sangha dan bukan secara pribadi. Kemudian bhikkhu itu berpikir, “Para bhikkhu menuduhku di tengah-tengah sangha, bukan secara pribadi,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Saya akan melakukan apatti, mungkin saya akan dituduh oleh teman (yang telah melakukan apatti) dan bukan oleh ‘bukan temanku’ (yang tidak melakukan apatti).” Avuso, mungkin bahwa ia tidak dituduh oleh temannya, tetapi oleh bukan temannya. Bhikkhu itu berpikir, “Saya dituduh oleh ‘bukan temanku’, namun bukan oleh temanku,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sangat baik bila Guru (sattha) membabarkan dhamma kepada para bhikkhu, hanya bertanya kepada saya dan bukan kepada bhikkhu lain.” Avuso, tetapi mungkin Guru membabarkan dhamma kepada para bhikkhu dan bertanya kepada bhikkhu lain dan tidak bertanya kepada bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir, “Guru mengajar dhamma kepada para bhikkhu dan bertanya kepada bhikkhu lain, tetapi tidak kepadaku,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan saya selalu sebagai pemimpin dan bukan bhikkhu lain yang memimpin.” Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan dipimpin oleh bhikkhu lain dan bukan bhikkhu itu yang memimpin. Bhikkhu itu berpikir, “Para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan dipimpin oleh bhikkhu lain dan bukan saya yang selalu memimpin,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila saya sendiri mendapat tempat yang terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu yang lain tidak mendapat hal-hal itu.” Avuso, tetapi mungkin bhikkhu yang lain mendapat tempat terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu itu tidak mendapat hal-hal itu. Bhikkhu itu berpikir, “Para bhikkhu mendapat tempat terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan saya tidak mendapat hal-hal itu,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila saya sendiri membabarkan dhamma sebagai pernyataan ‘anumodana’ (membabar dhamma setelah menerima dana), setelah makan dana-makanan, di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu lain tidak melakukannya. Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain membabarkan dhamma setelah makan dana-makanan di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir, “Bhikkhu lain membabarkan dhamma setelah makan dana-makanan di tempat makan yang ditentukan, sedangkan saya tidak melakukannya,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila saya sendiri yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara dan tidak ada bhikkhu lain yang melakukannya.” Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir, “Bhikkhu lain membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara, sedangkan saya tidak melakukannya,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila saya sendiri yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhuni … dst .. … kepada upasaka yang mengunjungi vihara… dst .. … kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu lain tidak melakukannya.” Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain yang membabarkan dhamma kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir, “Bhikkhu lain membabarkan dhamma kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan saya tidak melakukannya,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai saya sendiri, sedangkan para bhikkhu tidak menghormati, memuja, memuji atau menghargai bhikkhu lain.” Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan para bhikkhu tidak menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: “Para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan saya tidak dihormat, dipuja, dipuji dan dihormati oleh para bhikkhu,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila para bhikkhuni … para upasaka sendiri, sedangkan para upasika tidak menghormat, memuja, memuji atau menghargai bhikkhu lain.” Avuso, tetapi mungkin para upasika menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan para upasika tidak menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: “Para upasika menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan saya tidak dihormat, dipuja, dipuji dan dihormati oleh para upasika,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila hanya saya sendiri menerima jubah yang bagus, sedangkan bhikkhu lain tidak menerima jubah yang bagus.” Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain menerima jubah yang bagus, sedangkan bhikkhu itu tidak menerima jubah yang bagus. Bhikkhu itu berpikir: “Bhikkhu lain menerima jubah yang bagus, sedangkan saya tidak menerima jubah yang bagus,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan tidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: “Sungguh baik bila hanya saya sendiri menerima dana-makanan yang baik … tempat tinggal saya bagus … obat-obatan yang bagus dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan bhikkhu yang lain tidak menerima hal-hal itu.” Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain menerima obat-obatan dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan bhikkhu itu tidak menerima hal-hal itu. Bhikkhu itu berpikir, “Bhikkhu lain menerima obat-obatan yang bagus dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan saya tidak menerima hal-hal itu,” lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, marah dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.Avuso, ‘noda’ ini adalah sebutan untuk faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu tidak melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun bhikkhu itu melakukan ‘praktik keras’, seperti, ‘tinggal dihutan’ (arannako) atau ‘tempat terpencil’ (pantasenasano), menerima dana-makanan (pindapatiko) atau ‘menerima makanan dari rumah-rumah’ (sapadanacari), mengenakan jubah yang dibuat dari kain bekas pembungkus mayat’ (pamsukuliko) atau jubah yang dibuat dari kain-kain kasar yang kurang berharga’ (lukhacivara), ia tidak akan dihormati, dipuja, dipuji atau dihargai oleh rekan-rekannya yang ‘melaksanakan penghidupan suci’ (sabrahmacari). Apa alasannya? Karena melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu belum melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.Avuso, sebagai contoh, sebuah ‘wadah perunggu’ (kamsapati) bersih dan tidak ternoda yang dibeli dari toko atau tukang perunggu dan pemiliknya pergi ke pasar mengisinya dengan (potongan) bangkai ular membusuk, bangkai anjing atau potongan mayat manusia dan menutupi wadah itu dengan wadah perunggu lain. Orang-orang yang melihat wadah perunggu itu, mungkin berkata: “Kawan, mengapa anda membawa hadiah bagus ini?” bangkit dari duduk, membukanya dan melihat ke dalamnya. Namun, segera setelah mereka melihat isinya, mereka akan merasa mau muntah, jijik dan muak, sehingga orang yang lapar pun tidak berkeinginan untuk makan, apalagi mereka yang kenyang.Avuso, begitu pula halnya, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu tidak melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun bhikkhu itu melakukan ‘praktik keras’, seperti, ‘tinggal dihutan’ (arannako) atau ‘tempat terpencil’ (pantasenasano), menerima dana makanan (pindapatiko) atau ‘menerima makanan dari rumah-rumah’ (sapadanacari), mengenakan jubah yang dibuat dari kain pembungkus mayat (pamsukuliko) atau jubah yang dibuat dari kain-kain kasar yang kurang berharga (lukhacivara), ia tidak akan dihormati, dipuja, dipuji atau dihargai oleh rekan-rekannya yang ‘melaksanakan penghidupan suci’ (sabrahmacari). Apa alasannya? Karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu belum melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun ia menetap di sebuah vihara desa, menerima dana-makanan dari mereka yang mengundangnya dan mengenakan jubah yang didanakan para umat, ia akan dihormati, dipuja, dipuji dan dihargai oleh para rekannya yang melaksanakan penghidupan suci. Apakah alasannya? Karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu bersih dan tak ternoda yang dibeli dari toko atau tukang perunggu, lalu pemiliknya pergi ke pasar, mengisinya dengan nasi matang yang bagus, tanpa bijian hitam, bersama banyak kari kacang, daging dan ikan, setelah itu menutupinya dengan wadah perunggu lain. Orang-orang yang melihat wadah perunggu itu, mungkin berkata: “Kawan! Mengapa anda membawa hadiah bagus ini?” bangkit dari duduk, membukanya dan melihat ke dalamnya. Namun, segera setelah mereka melihat isinya, mereka akan merasa gembira, tanpa merasa muak atau jijik. Sehingga orang yang telah kenyang pun berkeinginan untuk makan, apalagi mereka yang lapar.Avuso, begitu pula halnya, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun menetap di sebuah vihara desa, menerima dana-makanan dari mereka yang mengundangnya dan mengenakan jubah yang didanakan para umat, ia akan dihormati, dipuja, dipuji dan dihargai oleh para rekannya yang melaksanakan penghidupan suci. Apakah alasannya? Karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Setelah hal ini dikatakan, lalu Bhikkhu Moggallana berkata kepada Bhikkhu Sariputta: “Avuso Sariputta, sebuah perumpamaan muncul dalam pikiranku.”"Avuso Moggallana, ungkapkanlah perumpamaan itu.”"Avuso, saya pernah menetap di Giribbaje, dekat kota Rajagaha. Pada suatu pagi, setelah saya mengenakan jubah dan membawa patta serta civara, pergi ke Rajagaha untuk pindapata (menerima makanan). Ketika itu, Samiti, putra pembuat kereta, sedang membentuk bagian sisi roda kereta, sedangkan petapa telanjang (ajiviko) bernama Panduputta, mantan pembuat kereta, sedang berdiri di dekatnya.

Avuso, kemudian muncul ide pada petapa telanjang Panduputta: “Akan baik bila Samiti memperbaiki lengkungan, bagian yang bengkok dan kerusakan dari bagian sisi roda kereta. Dengan demikian maka bagian sisi roda kereta akan tanpa lengkungan, bagian yang bengkok dan rusak, maka bagian sisi roda kereta akan tanpa cacad dan bagus.

Avuso, Samiti memperbaiki lengkungan, bagian yang bengkok dan yang rusak, sesuai dengan ide petapa telanjang Panduputta. Kemudian petapa telanjang Panduputta gembira, dengan mengucapkan teriakan kegembiraan: “Nampaknya ia melakukan perbaikan (bagian luar dari roda) bagaikan ia, melalui pikirannya, mengetahui pikiran orang lain.”

Avuso, begitu pula halnya, orang-orang yang tanpa keyakinan (Tiratana), meninggalkan kehidupan berumah-tangga menjadi petapa yang bukan karena berdasarkan pada kepercayaan (pada hukum kamma), tetapi sebagai mata pencaharian. Mereka licik, penipu, pemalsu, bingung, arogan, keji, pesolek dan cerewet; mereka tidak menjaga indera-indera, makan tidak sederhana (bhojane amattannuta), tidak selalu waspada (jagariya ananuyutta), tidak berkehidupan samana dengan baik (samane anapekhavanto), tidak melaksanakan peraturan dengan baik (sikkhaya na tibbagarava), ingin hidup mewah, lalai, kemauan baik menurun, tak bertanggung jawab dalam usaha untuk melenyapkan dukkha (nibbana), malas, kurang bersemangat, tidak berperhatian, tidak berpengertian, tidak menenangkan pikiran, pikiran tidak tetap, pikiran tak terkendali, tidak bijak dan pikiran tumpul. Nampaknya seperti ayasma (saudara) Sariputta mengetahui pikiran mereka melalui pikiran yang mengatur (membentuk) pikiran mereka dengan uraian Dhamma.

Tetapi, ada pula orang-orang dengan keyakinan meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa, yang tidak licik, tidak menipu, bukan memalsu, tidak bingung, tidak arogan, tidak keji, tidak pesolek dan tidak cerewet; menjaga indera-indera, makan sederhana, selalu waspada, berkehidupan samana dengan baik, melaksanakan peraturan dengan baik, hidup sederhana, bersemangat, berkemauan baik, berusaha untuk melenyapkan dukkha, rajin, berperhatian, berpengertian, pikiran tenang, pikiran tetap, pikiran terkendali, bijak dan pintar. Setelah mereka mendengar uraian dhamma dari Ayasma Sariputta, bagaikan mereka minum (saripati) ungkapannya dan makan maknanya, dengan berkata: “Baik sekali! Ayasma Sariputta telah menyebabkan rekan brahmacari-nya meninggalkan hal-hal buruk (akusala) dan mengembangkan hal-hal yang baik (kusala).

Avuso, seperti seorang wanita atau pria, remaja dan berusia muda yang biasa merias diri, mandi, mengambil bunga teratai, melati, akasia dan membawanya dengan kedua tangan atau menaruh itu di kepala, begitu pula orang-orang itu dengan keyakinan meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa, yang tidak licik, tidak menipu, bukan memalsu, tidak bingung, tidak arogan, tidak keji, tidak pesolek dan tidak cerewat; menjaga indera-indera, makan sederhana, selalu waspada, berkehidupan samana dengan baik, melaksanakan peraturan dengan baik, hidup sederhana, bersemangat, berkemauan baik, berusaha untuk melenyapkan dukkha, rajin, berperhatian, berpengertian, pikiran tenang, pikiran tetap, pikiran terkendali, bijak dan pintar. Setelah mereka mendengar uraian dhamma dari Ayasma Sariputta, bagaikan mereka minum (saripati) ungkapannya dan makan maknanya, dengan berkata: “Baik sekali! Ayasma Sariputta telah menyebabkan rekan brahmacarinya meninggalkan hal-hal buruk (akusala) dan mengembangkan hal-hal yang baik (kusala).

Dengan cara ini kedua maha arahat (mahanaga) gembira dalam pembicaraan mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar