Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Manfaat Membaca Paritta (Dhammapada) oleh "Bhikkhu Gunasilo "

Manfaat Membaca Paritta

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Bahum pi ce sahitaṁ bhāsamāno, na takkaro hoti naro pamatto

Gopo va gāvo ganayaṁ paresaṁ, na bhāgavā sāmaññassa hoti.

Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai ajaran, maka orang yang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci.

(Dhammapada 19)

Banyak sekali umat Buddha yang tidak memahami akan pentingnya membaca paritta suci di rumah, mereka lebih senang dengan berdoa saja, alasan mereka katanya; kalau berdoa sangat mudah untuk diucapkan, tidak sulit dan tidak memakan waktu yang terlalu lama serta dapat mencapai segala sesuatu yang diharapkan. Sedangkan membaca paritta menurut mereka sangat sulit dan memakan waktu yang lama. Berdasarkan pandangan inilah banyak umat Buddha yang tidak mau membaca paritta di rumah. Sesungguhnya membaca paritta lebih baik daripada hanya sekedar berdoa. Lagipula membaca paritta itu tidak sulit dan tidak memakan waktu yang terlalu lama, paling hanya sepuluh menit atau lima belas menit, seperti; Namakāra Pāñha, Vandana, Tisaraõa, Pañcasῑla, Buddhānussati, Dhammānussati, Saṅghānussati, Saccakiriya Gāthā, Karaṇῑyametta Sutta, dan diakhiri dengan Ettāvatā. Apabila ingin menambahkan juga lebih baik.

Agama Buddha mengajak kita untuk menjadi tuan bagi dirinya sendiri, kitalah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan dan penderitaan hidup ini. Tidak ada makhluk tertinggi yang menjadi tumpuan dan harapan kita. Tetapi hal seperti ini tidak disadari bagi sebagian orang, sehingga banyak orang yang menangis dengan berdoa untuk mencari rejeki, jodoh, keselamatan dan kebahagiaan agar jauh dari bencana. Mereka memohon-mohon dengan mantra-mantra, dan katanya ada mantra yang sangat ampuh apabila mantra itu dihafal dan diucapkan. Bagaimana sikap umat Buddha terhadap hal ini? ”Sang Buddha menyatakan dengan jelas, bukan dengan mengucapkan ayat-ayat suci, menyiksa diri, tidur di atas tanah, pengulangan doa-doa, penembusan dosa, jimat, mantra, jampi yang dapat membawa kebahagiaan sejati, hanya pemurnian pikiranlah yang dapat membawa kebahagiaan. Sesungguhnya paritta yang dibacakan dalam ritual agama Buddha adalah ajaran yang disampaikan Sang Buddha yang mengandung arti perlindungan, artinya jika seseorang meneladani dan menerapkan pesan-pesan Dhamma dalam paritta itu, maka perlindungan akan dicapainya.

Dalam kehidupan di dunia ini, manusia umumnya tidak dapat terlepas dari pengalaman kebahagiaan dan penderitaan. Dalam setiap kejadian manusia senantiasa membutuhkan suatu kekuatan moril yang merupakan dorongan untuk mengatasi penderitaan. Di samping itu, dalam kehidupan masyarakat ini, kita mengalami berbagai macam peristiwa seperti; pernikahan, kelahiran, ulang tahun, sakit, meninggal dunia, dan sebagainya. Ada juga harapan-harapan agar usaha-usaha dalam hidup memperoleh kemajuan. Para umat Buddha biasanya yakin bahwa peristiwa-peristiwa tersebut bisa diharapkan bila dibacakan paritta-paritta suci, juga yakin bahwa getaran suara dari pembacaan paritta yang disertai dengan pemusatan pikiran dapat menentramkan keadaan saraf serta menghasilkan keheningan dan ketenangan pikiran. Pikiran yang tenang meskipun belum bersih sangatlah bermanfaat bagi hidup kita, sebab kedamaian pikiran sangat dibutuhkan di mana saja. Umat Buddha juga sadar bahwa paritta menyimpan kekuatan yang luar biasa, selalu dapat dimanfaatkan sebagai perlindungan batin serta memperoleh berkah sesuai dengan harapan yang dikehendaki. Kalau begitu apakah setiap paritta yang dibacakan akan selalu mendapat manfaat dan harapan-harapan sesuai dengan yang kita inginkan?

Kita perlu ingat kembali kata-kata Y.A. Nagasena, bahwa paritta tidak selalu dapat memberikan perlindungan karena tiga sebab:

1. Halangan kamma masa lalu,

2. Halangan karena kekotoran batin masa kini, dan

3. Halangan karena kurangnya keyakinan.

Paritta yang merupakan perlindungan bagi para makhluk akan kehilangan kekuatan karena cacat mereka sendiri. Meskipun demikian kita tidak usah khawatir atau takut, pokoknya yang terpenting bagi kita rajin-rajinlah membaca paritta setiap pagi dan sore di rumah. Dengan berbekal kamma baik dan keyakinan yang kuat, semoga nantinya kita dapat mencapai apa yang kita harapkan. Pada jaman Sang Buddha orang-orang yang mendengar paritta, sabda-sabda Sang Buddha, mengerti apa yang diucapkan, pengaruhnya sangat luar biasa terhadap mereka. Kebiasaan ini masih saja dilakukan hingga sekarang khususnya di negara-negara Buddhis.

Menurut Dhamma, pikiran sangat erat hubungannya dengan jasmani, di mana pikiran mempengaruhi kesehatan jasmani. Sejumlah dokter mengatakan bahwa tidak ada suatu penyakitpun yang dikatakan sebagai jasmani yang murni. Oleh karena itu, penting sekali pembacaan paritta sebagai kondisi untuk menjernihkan pikiran. Getaran suara yang dihasilkan oleh paritta meredakan kegelisahan dan menimbulkan ketenangan pikiran serta membawa kedamaian secara menyeluruh. Sebagaimana pengaruh buruk yang datang dari pengaruh jahat, dapat ditiadakan dengan membaca paritta. Pengaruh jahat itu sebenarnya hasil dari pikiran jahat, maka ia dapat dihancurkan dengan pikiran baik hasil dari mendengarkan dan yakin akan syair-syair yang terdapat dalam paritta itu.

Dapat disimpulkan bahwa ada empat manfaat yang diperoleh dari membaca paritta yaitu:

1. Memperkuat keyakinan (saddhā),

2. Memperkuat konsentrasi, sehingga memperoleh ketenangan,

3. Dapat merenungkan sifat-sifat luhur Sang Buddha, dan

4. Memperoleh kebijaksanaan.

Inilah empat manfaat dari membaca paritta. Untuk itu rajin-rajinlah membaca paritta di rumah setiap pagi dan sore, agar kita juga selalu ingat pada ajaran Sang Buddha. Sang Buddha bersabda; mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma yang telah diterangkan dengan baik, akan mencapai pantai seberang, menyeberangi alam kematian yang amat sukar untuk diseberangi.

Sumber: Dhammapada 86 & Petikan Milinda Pa¤ha (IX.14)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar