Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

TIGA AKAR KEJAHATAN

TIGA AKAR KEJAHATAN

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Natthi dosasamo gaho.
Natthi mohasamaṁ jālaṁ.
Natthi tanhā samā nadῑ.
Tidak ada cengkraman yang lebih kuat dari kebencian.
Tidak ada jaringan yang lebih rapat dari kebodohan.
Tidak ada sungai yang arusnya lebih deras dari nafsu keinginan.
(Dhammapada 251)

Tiga akar kejahatan adalah lobha, dosa, dan moha. Semua akar kejahatan ini ada pada setiap manusia, namun kadar atau kualitas dari masing-masing akar kejahatan ini berbeda-beda. Ada manusia yang lobha-nya lebih menonjol daripada dosa dan moha-nya, begitu juga ada manusia yang dosa-nya lebih tinggi daripada lobha dan moha-nya, serta ada juga manusia yang moha-nya lebih dominan daripada lobha dan dosa-nya. Tetapi ketiga akar kejahatan ini saling kait mengait, dimana semuanya saling mempengaruhi. Tiga akar kejahatan ini sangat berbahaya sekali pada kehidupan semua makhluk, jika makhluk-makhluk dikuasai oleh ketiga akar kejahatan ini, maka akan menderita dalam kehidupan ini dan juga kehidupan yang akan datang, dan akan terus-menerus mengalami kelahiran dan kematian tanpa henti.

Lobha adalah keserakahan, menginginkan barang milik orang lain, bisa juga dikatakan tidak puas dengan apa yang telah dimiliki, ingin terus-menerus mencari kesenangan-kesenangan, apapun caranya akan ditempuh demi keinginannya terpenuhi, keinginan pada kepuasan indera (mata, telinga, mulut, hidung, kulit). Kemelekatan dan kerinduan atau kesenangan terhadap kenangan yang indah, terhadap seseorang. Kemelekatan dan kerinduan atau keinginan untuk tetap cantik atau gagah, keinginan untuk menjadi terkenal, dan lain-lain yang tergolong keinginan untuk memiliki sesuatu dan tidak mau melepaskan segala yang dimiliki.

Dosa adalah kebencian, tidak suka terhadap seseorang, tidak suka kepada diri sendiri, cemburu pada seseorang, iri hati/sirik atas keberhasilan yang dicapai oleh orang lain, curiga, takut, cemas, was-was, dendam kesumat, serta hal-hal lainnya yang tergolong keinginan untuk menolak sesuatu.

Moha adalah kebodohan batin. Pengertian bodoh disini bukan bodoh karena tidak bisa menulis, bukan bodoh karena tidak bisa membaca, tetapi bodoh yang dimaksud adalah bodoh batinnya. Ia tidak bisa membedakan perbuatan baik yang harus dilakukan dan perbuatan jahat yang semestinya ditinggalkan. Perbuatannya cenderung pada hal-hal yang jahat. Karena bodoh batinnya, ia menganggap kejahatan wajar dilakukan, termasuk juga dalam kebodohan batin ini adalah malas melakukan kebajikan, sifat egois, gengsi, sombong, keangkuhan, kemunafikan.

Tiga akar kejahatan ini sangat berbahaya bagi kehidupan makhluk-makhluk, tidak hanya dalam kehidupan ini akan membuat penderitaan, tetapi juga dalam kehidupan yang akan datang akan mengkondisikan terlahir ke alam-alam rendah/derita. Di dalam Itivuttaka dijelaskan bahwa sebagian besar makhluk-makhluk meninggal dan lahir di alam-alam rendah/sengsara yaitu alam peta/setan, neraka dan binatang karena kekuatan dari lobha, dosa, dan moha.

Lobha, dosa, dan moha ini diibaratkan seperti air kotor yang mengandung kuman dan bakteri, mengandung benih-benih penyakit. Bilamana diminum akan menimbulkan berbagai penyakit bagi tubuh kita. Begitu juga dengan batin kita yang diliputi oleh lobha, dosa, dan moha akan merusak lingkungan dimanapun kita berada, dan bukan saja lingkungan kita yang akan rusak, tetapi lebih bahaya lagi akan membuat penderitaan bagi kita dalam kehidupan sekarang maupun dalam kehidupan kita selanjutnya. Air yang kotor bisa disteril, difilter atau disaring, dibersihkan dari segala benih-benih penyakit, sehingga bisa berguna untuk tubuh kita. Seperti air yang dikemas dalam botol-botol yang banyak dijual dimana-mana, awalnya adalah air yang kurang bersih, namun setelah difilter, disteril, disaring dan dibersihkan dari kuman-kuman penyakit menjadi bersih dan dapat digunakan oleh orang banyak, sehingga bermanfaat untuk kelangsungan hidup. Demikian juga halnya dengan lobha, dosa, dan moha yang bersarang di dalam batin kita, bila disingkirkan, dibersihkan, maka kita akan bahagia, karena kita akan hidup tenang dan damai, dan kita akan disenangi oleh orang lain.

Air kotor selalu merusak lingkungan dan selalu meninggalkan kotoran pada tempat-tempat di mana air itu tergenang. Sebagai contoh pada saat banjir melanda, ketika banjir melanda suatu daerah, air yang mengandung berbagai kotoran sampah dan lumpur masuk ke halaman rumah bahkan masuk ke dalam rumah. Meskipun banjir telah surut, namun lumpur dan sampah tetap tertinggal dimana-mana, demikian juga dengan lobha, dosa, dan moha di dalam batin kita, akan selalu membuat kekacauan dimana-mana. Tidak ada kecocokan dengan orang lain, selalu ingin menang sendiri, mau enak sendiri, tidak peduli dengan orang lain yang menderita, yang penting saya bahagia. Hal ini akan mengakibatkan orang lain menjadi marah dan tidak senang diperlakukan seperti itu, dan akhirnya akan menimbulkan pertengkaran dan keributan, hidup menjadi tidak aman, hidup menjadi tidak damai, maka sangat baik bila kita dapat mengikis lobha, dosa, dan moha ini.

Bagaimanakah agar kita terbebas dari ketiga akar kejahatan ini? Kita mencegah ketiga akar kejahatan ini, dengan cara:

- Lobha/nafsu serakah dicegah dengan alobha/tidak nafsu serakah yaitu dengan cara mengembangkan santuṭṭhῑ/merasa puas dengan apa yang telah dimiliki dan merenungkan serta memahami tentang ketidakkekalan dan kelapukan dari tubuh ini.

- Dosa/kebencian dicegah dengan adosa/tidak membenci yaitu dengan cara mengembangkan mettā bhāvanā/cinta kasih.

- Moha/kebodohan batin dicegah dengan amoha/batin yang tidak bodoh, yaitu mengembangkan paññā/kebijaksanaan, mengerti bahwa perbuatan baik akan mengakibatkan kebahagiaan, dan perbuatan jahat akan mengakibatkan penderitaan. Bila bisa meninggalkan dan melenyapkan tiga akar kejahatan ini, maka tercapai kesucian, dan untuk mengikis atau melenyapkan tiga akar kejahatan ini, maka hendaknya kita melakukan praktik vipassanā bhāvanā.

Dengan mengerti bahwa betapa bahayanya tiga akar kejahatan ini, maka mari kita berusaha untuk mengikisnya. Kalaupun kita belum mampu mengikisnya, setidaknya kita berusaha untuk menekan agar jangan sampai tiga akar kejahatan ini terus berkembang.


Oleh: Bhikkhu Hemadhammo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar