Check out the Latest Articles:

Selasa, 19 April 2011

MEDITASI : INTI AJARAN BUDDHA - Terjemahan buku Wisdom of Silence - Ajahn Brahm

MEDITASI : INTI AJARAN BUDDHA

Hari ini saya ingin berbicara secara mendalam mengenai sifat ajaran Buddha. Saya sangat sering membaca di surat-surat kabar dan buku-buku mengenai hal-hal aneh yang terdapat dalam ajaran Buddha. Maka di sini, saya akan menunjukkan inti sebenarnya dari ajaran Buddha, bukan sebagai suatu teori melainkan sebagai suatu pengalaman.

Apa yang Bukan Inti Ajaran Buddha

Psikoterapi – Saya tahu bahwa sebagian orang beranggapan ajaran Buddha itu merupakan suatu bentuk psikoterapi, suatu jalan untuk menerapkan tingkah laku yang bijaksana dan terampil agar hidup lebih damai di dunia ini. Tentu saja, di dalam literatur ajaran Buddha yang kaya terdapat banyak hal yang dapat membantu manusia mengurangi permasalahan hidup. Melalui tingkah laku bijaksana dan niat penuh kasih sayang, Buddha mengajarkan sebuah cara efektif dalam menghadapi permasalahan di dunia. Ketika metode Buddha ini benar-benar berhasil, mereka memberikan keyakinan dan kepercayaan diri kepada orang-orang bahwa ada sesuatu yang benar-benar berharga bagi mereka di jalur Buddhis ini.

Saya sering merenungkan mengapa orang-orang datang ke sini, ke Buddhist Society pada setiap Jumat malam. Ini disebabkan mereka mendapatkan sesuatu dari sini. Sesuatu yang mereka dapatkan dari ajaran-ajaran ini adalah cara hidup yang lebih damai, perasaan yang lebih bahagia terhadap diri mereka sendiri dan rasa penerimaan yang lebih terhadap orang lain. Ajaran Buddha ibarat sebuah terapi permasalahan kehidupan, yang benar-benar menunjukkan hasil. Akan tetapi, bukan ini ajaran Buddha sebenarnya, ini hanyalah salah satu dari efek sampingnya.

Filosofi – Sebagian orang mengenal ajaran Buddha dan mengetahui bahwa ajaran itu merupakan filosofi yang mengagumkan. Mereka bisa duduk mengelilingi meja kopi setelah saya memberikan ceramah dan mereka bisa saja berbincang-bincang selama berjam-jam, tetapi masih belum dekat ke arah pencerahan. Orang-orang sangat sering membahas hal hal yang sangat berjiwa besar, otak mereka dapat berbicara dan berpikir mengenai topik yang begitu mulia. Kemudian mereka keluar dan menyumpahi mobil pertama yang memotong jalan mereka dalam perjalanan pulang ke rumah. Mereka langsung melupakan apa yang mereka perbincangkan begitu saja.

Ritual – Selain melihat ajaran Buddha sebagai filosofi, banyak orang memandangnya sebagai agama. Ritual ajaran Buddha sangatlah bermakna dan tidak seharusnya dihilangkan hanya karena seseorang berpikir bahwa ritual itu tidak penting lagi. Saya sadar, orang orang yang terkadang sangat bangga, bahkan sombong dan berpikir mereka tidak membutuhkan ritual apapun. Tetapi sebenarnya ritual itu mempunyai potensi psikologis. Sebagai contoh, ritual akan berguna dalam masyarakat bagi dua orang yang hendak menjalani kehidupan bersama, mereka melangsungkan upacara pernikahan tertentu. Dalam upacara tersebut ada sesuatu yang terjadi di dalam pikiran, sesuatu terjadi di dalam hati. Ada sebuah komitmen mendalam yang menggema dengan mengetahui bahwa sesuatu yang penting telah terjadi. Dalam upacara dan ritual kematian, semua ritual lantunan, perenungan dan kata-kata baik sesungguhnya bermakna bagi orang yang terlibat di dalamnya. Ritual membantu mereka untuk dapat menerima kepergian seseorang yang mereka kasihi dengan lapang dada. Ritual membantu mereka mengakui kenyataan yang telah terjadi, bahwa perpisahan akhir dengan orang tersebut telah terjadi. Dan dalam penerimaan itulah, mereka akan merasa damai.

Dengan cara yang sama, di vihara kami, dalam upaya memaafkan orang lain dan menyembuhkan luka lama, sering dilaksanakan upacara pengampunan. Di gereja ka****k, mereka mempunyai upacara pengakuan dosa. Rincian yang detil mengenai upacara pengampunan itu tidaklah penting, yang terpenting adalah pengampunan telah diberikan, dengan cara-cara fisik melalui upacara atau ritual. Dibandingkan jika kamu hanya berkata, “Oh, maafkan saya”, bukankah akan sangat berbeda apabila permintaan maaf tersebut dibarengi dengan memberikan hadiah atau seikat bunga? Atau bukankah hal ini akan menjadi berbeda apabila kita menemuinya dan berkata “Oh, apa yang saya lakukan pada hari itu benar-benar tidak bisa dimaafkan, bersediakah kamu menerima undangan makan malam dariku malam ini” atau “ini ada dua lembar tiket nonton.” Akan lebih bermakna dan lebih efektif jika kamu merangkai sebuah upacara pengampunan yang indah daripada hanya dengan menggumamkan beberapa patah kata.

Bahkan ritual bersujud kepada rupang Buddha memiliki arti penting. Ini adalah sebuah praktik kerendahan hati. Ini berarti, “Saya belum tercerahkan dan masih ada sesuatu yang belum saya pahami dalam upaya pencapaian cita-citaku.” Hal ini sama seperti kerendahan hati seseorang ketika mereka pergi ke sekolah atau universitas dan mereka mengakui bahwa dosen-dosen dan profesor-profesor mengetahui lebih banyak hal daripada mereka. Jika kamu membantah para profesor ketika kuliah, apakah kamu akan belajar sesuatu? Kerendahan hati bukanlah ketaatan yang berlebihan, yang menampik harga dirimu, tetapi kerendahan hati adalah sikap menghormati berbagai kualitas diri orang yang berbeda-beda. Kadang-kadang tindakan bersujud, jika dilakukan dengan penuh kesadaran, merupakan sebuah upacara, sebuah ritual yang dapat membangkitkan suatu rasa suka cita yang amat luar biasa. Sebagai seorang bhikkhu banyak orang bersujud kepadaku dan saya juga bersujud kepada banyak orang yang lainnya. Selalu ada seseorang yang dapat kamu berikan sujud, tidak peduli betapa seniornya kamu. Setidaknya selalu ada Buddha untuk disujud. Saya menikmati bersujud. Ketika ada seorang bhikkhu yang lebih senior daripada saya, bersujud adalah sebuah cara yang indah untuk mengatasi keakuan dan sikap menghakimi, terutama ketika saya mesti bersujud kepada seorang bhikkhu yang benar-benar payah (kalau bhikkhunya baik, mudah saja untuk disujud). Ini adalah sebuah ritual yang jika dilakukan dengan cara yang benar bisa menghasilkan begitu banyak manfaat. Setidaknya, saya memberitahukan orang-orang di vihara, jika kamu banyak bersujud maka bisa menguatkan otot perutmu dan tidak akan kelihatan bergeledur! Tetapi bersujud lebih daripada sekadar demikian. Maka ritual-ritual Buddhis ini bermanfaat, tetapi ajaran Buddha jauh melebihi hal itu.


Meditasi dan Pencerahan

Ketika kamu bertanya apa sebenarnya ajaran Buddha itu, ini adalah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan beberapa patah kata. Kamu harus kembali kepada proses meditasi karena itulah yang terpenting, titik pangkal ajaran Buddha, inti ajaran Buddha. Sebagaimana yang dapat diketahui oleh setiap orang yang pernah mengenal ajaran Buddha, Buddha adalah seorang manusia yang mencapai pencerahan ketika bermeditasi di bawah sebatang pohon. Beberapa menit yang lalu kamu juga melakukan meditasi yang sama selama setengah jam. Mengapa kamu belum tercerahkan? Pencerahan Buddha itulah yang menciptakan agama Buddha. Itulah artinya, itulah pokoknya. Ajaran Buddha adalah segala hal mengenai pencerahan, bukan hanya sekadar menjalankan hidup sehat, atau hidup bahagia, atau belajar untuk menjadi bijaksana dan mengucapkan hal-hal yang cerdas kepada teman-temanmu di sekeliling meja kopi. Sekali lagi, ajaran Buddha adalah segala sesuatu mengenai Pencerahan ini.

Pertama-tama kamu harus mendapatkan perasaan atau indikasi mengenai apa sebenarnya pencerahan itu. Kadang-kadang orang-orang datang kepadaku dan berkata, “Saya telah tercerahkan”, dan kadang-kadang saya menerima surat dari orang-orang yang berisi, “Terima kasih atas pengajaranmu, ketahuilah bahwa saya telah tercerahkan sekarang.” Dan kadang-kadang saya mendengar pandangan orang mengenai para pengajar atau para guru “Oh yah, tentu saja mereka telah tercerahkan” tanpa benar-benar mengetahui apa makna perkataan tersebut. Kata tercerahkan berarti terbukanya kebijaksanaan, suatu pemahaman tentang lenyapnya semua penderitaan. Orang yang belum melepaskan semua penderitaan tidak akan pernah tercerahkan. Apabila seseorang masih menderita, berarti mereka masih belum melepaskan segala kemelekatan mereka. Orang yang masih mencemaskan harta bendanya, yang masih menangisi kematian dari orang yang ia kasihi, yang masih marah, dan yang masih menikmati kesenangan indrawi seperti seks, mereka belum tercerahkan. Pencerahan adalah sesuatu yang melampaui dan bebas dari semua hal tersebut.

Kadang kala ketika seorang bhikkhu membicarakan hal ini, dengan mudahnya ia dapat membuat orang-orang berdalih. Para bhikkhu kelihatan seperti “Wowsers” [Wowser berarti orang yang luar biasa fanatik, pembunuh kesenangan, berpantang minuman keras, perusak permainan. (Kamus Oxford Australia)], demikian yang mereka katakan di Australia. Mereka tidak nonton film, mereka tidak berhubungan intim, tidak memiliki kerabat, tidak bertamasya pada hari libur, tidak punya kesenangan apapun. Benar-benar gerombolan wowsers! Tetapi hal menarik yang diperhatikan orang banyak adalah bahwa kebanyakan orang yang paling damai dan bahagia yang dapat kamu temui adalah para bhikkhu dan biarawati yang hadir dan duduk serta memberikan ceramah di sini setiap Jumat malam. Para bhikkhu sangat berbeda dengan wowsers, alasannya ada kebahagiaan lain yang diketahui para bhikkhu, yang telah ditunjukkan oleh Buddha kepada mereka. Kamu semua dapat merasakan kebahagiaan yang sama ketika praktik meditasimu mulai tinggal landas.


Pelepasan

Buddha mengajarkan bahwa kemelekatan menyebabkan penderitaan dan pelepasan adalah sumber dari kebahagiaan dan merupakan jalan menuju pencerahan. Lepaskanlah! Sering kali orang menanyakan bagaimana caranya melepaskan? Ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan tidak akan dapat dijawab dengan kata-kata. Jadi saya menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, “Sekarang waktunya untuk bermeditasi, duduk bersila, dan hiduplah pada saat ini”, karena hal ini mengajarkan mereka bagaimana cara melepaskan. Lebih lanjut, waktu terpenting dalam bermeditasi adalah saat-saat terakhir. Selalu camkan hal ini. Pada beberapa menit terakhir tanyakan pada dirimu, “Bagaimana perasaan saya?”, “Seperti apakah perasaan ini dan mengapa?”, “Bagaimana ini dapat terjadi?”

Orang bermeditasi karena meditasi mengasyikkan dan menyenangkan. Mereka tidak bermeditasi untuk “memperoleh sesuatu”, bahkan walaupun bila kamu bermeditasi ada banyak keuntungan yang dapat diraih seperti manfaat kesehatan atau mengurangi tekanan dalam hidupmu. Meditasi mengurangi sikap intoleran dan kemarahanmu. Tetapi ada sesuatu yang lebih dari semua itu – yaitu hanyalah sekelumit kesenangan. Ketika saya masih sebagai bhikkhu muda, hal inilah yang menjadikan saya seorang Buddhis yang sebenarnya. Membaca buku memang sangat mengispirasi, tetapi membaca buku saja tidaklah cukup. Ketika saya bermeditasilah, saya menjadi damai, sangat damai, luar biasa damai, sesuatu memberitahuku bahwa inilah pengalaman yang paling mendalam dalam hidupku. Saya ingin merasakan hal ini lagi. Saya ingin menyelidikinya lebih lanjut. Mengapa? Karena sebuah pengalaman meditasi yang mendalam adalah senilai dengan seribu ceramah, atau argumen, atau buku-buku, atau teori-teori. Hal yang kamu baca dibuku adalah pengalaman orang lain, bukan pengalamanmu. Mereka hanyalah kata-kata dan mungkin bisa memberikan inspirasi, tetapi pengalaman nyata diri sendirilah yang dapat benar-benar menggugah. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan karena akan mengguncangkan hal-hal yang terpendam dalam dirimu selama ini. Dengan menapaki jalur meditasi ini, sebenarnya kamu sedang belajar bagaimana sebenarnya cara melepaskan.


Semoga Semua Makhluk Berbahagia,
Elin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar