Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

MENEMUKAN KEBENARAN

MENEMUKAN KEBENARAN



“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa”



Salam Damai dan Cinta Kasih… ,


Semua manusia senantiasa mencari satu hal yang sama, ialah : KEBENARAN. Kebenaran adalah harta yang sangat berharga bagi manusia.
Saat ini, dunia telah banyak diwarnai oleh ide-ide yang telah menjadi norma-norma, system-sistem nilai, aliran-aliran kepercayaan, system-system filsafat, agama-agama, dan ideology-ideology, yang menawarkan penjelasan-penjelasan mengenai kehidupan, alam kehidupan, alam semesta, tujuan kehidupan, kebahagiaan, dan lain-lain, yang kesemuanya membuat pernyataan “klise” yang sama seperti berbagai aliran kepercayaan dan ideology / sekte-sekte yang ada pada zaman Sang Buddha, yaitu bahwa “Hanya ( ideology ) inilah yang benar, yang lain salah.”
Artikel ini memuat mengenai metode-metode yang patut dicoba untuk menemukan kebenaran, baik secara tersurat maupun tersirat, dan telah saya praktekkan sendiri serta membawa manfaat yang tak ternilai harganya.

KEPERCAYAAN BUKAN = KEBENARAN

Kita terkadang keliru menyimpulkan, bahwa suatu system kepercayaan tertentu merupakan suatu ajaran mengenai “kebenaran”. Kebenaran ( Dhamma ) berbeda dengan kepercayaan / dogma / doktrin.
Seseorang bisa saja menyatakan bahwa ia telah mencapai suatu tataran spiritual tertentu dan “roh”-nya telah mampu “lepas-dari-tubuhnya” lalu menembus berbagai alam kehidupan sehingga telah menemukan “kebenaran”. Lalu membuat cerita-cerita mengenai hasil “pengalaman”-nya itu. Sebagian lalu percaya kepadanya, lalu menyimpulkan itu adalah kebenaran. Tapi, jika hal itu tidak pernah bisa dibuktikan, dan ketika diselidiki pun tidak ditemukan kebenaran pada cerita orang tersebut, maka, itu bukanlah kebenaran, namun : k e p e r c a y a a n, kepercayaan yang dianut oleh para penganutnya.
Suatu kebenaran haruslah bisa dibuktikan, bukan sekedar di-“iya”-kan saja. Misal, seorang menyatakan bahwa aliran / aru air sungai bisa menjadi sumber energi pembangkit listrik. Jika kita bisa membuktikannya, maka itu adalah kebenaran. Kemudian, seseorang yang lain menyatakan dengan memuja suatu dewa / dewi tertentu, kita akan terjamin segalanya, aman, damai sentausa. Tetapi jika itu tidak terbukti, bahwa ternyata meskipun memuja dewa / dewi tertentu tersebut kita tetap mengalami kesusahan, kesedihan, ratap tangis, kemalangan, kehancuran, maka, itu bukanlah kebenaran, itu hanyalah dogma / doktrin dari suatu system-kepercayaan.
Kebenaran, selalu bisa dibuktikan, tetapi kepercayaan, tidak selalu bisa dibuktikan ( bahkan seringkali memang tidak bisa dibuktikan, baik secara logis-ilmiah maupun secara spiritual / kebatinan ). Kesimpang-siuran ini harus dijelaskan terlebih dahulu, supaya kita tidak lagi menganggap bahwa apa yang telah menjadi “kepercayaan” secara turun-temurun adalah otomatis suatu “kebenaran”, tidak begitu. Kebenaran selalu bisa dibuktikan secara empiris, melalui pengalaman kita sendiri, baik itu secara spiritual maupun material, baik secara subjektif maupun objektif.
Ada hukum alam yang sangat “berkuasa” ( hukum alam ada lima, yang disebut dengan “Panca-Niyama”, untuk lebih jelasnya, silakan baca artikel saya di blog ini juga yang berjudul “Bencana Alam dan Wabah Penyakit dalam Perspektif Buddhisme” ) yang membawa keteraturan dalam alam semesta dan kehidupan ini, ya, ADA. Itu kebenaran, itulah “Dhamma”. Tapi, jika disangkut-pautkan dengan sosok “tokoh” tertentu dan “tunggal” yang berada dibalik itu, ini sudah wilayah kepercayaan, artinya, anda mau meyakini silakan, tidak ya silakan. Yang meyakini bisa saja menjadi baik, dan yang tidak meyakini kekuasaan sosok “tokoh” itu ya tidak akan mengalami apa-apa ( selama ia senantiasa berpikir, berbuat, dan berucap sesuai hukum-alam, senantiasa di jalur kebenaran ), seperti terkena bencana, atau “kecemplung-neraka”, misalnya .
Air mengalir kebawah dan selalu menempati ruang, ini adalah hukum alam, ini kebenaran, . Apakah saat air mengalir kebawah dan menempati ruang, harus ada “yang-menggerakkan” air itu ? Api dan sifat panasnya akan membakar kulit kita jika ia dikenakan pada tubuh kita, ini adalah hukum-alam, tapi, apakah harus ada yang mengatur bahwa api dan sifat panasnya itu akan membakar kulit kita jika dikenakan pada kita ?
Mutasi genetika bisa terjadi, dan berbagai makhluk hidup bisa terbentuk atas proses mutasi genetika, evolusi, dan pengaruh “karma” serta keempat hukum alam lainnya ( keempat hukum alam selain hukum karma adalah : Utu Niyama, Bijja  Niyama, Citta Niyama, dan, Dhamma Niyama ),  ini hukum alam, ini kebenaran, tapi jika disangkut-pautkan dengan adanya sesosok “tokoh”  yang “Tunggal” dibalik itu semua, ini adalah wilayah kepercayaan.
Kepercayaan, adalah sesuatu yang sifatnya “diyakini”, “diimani” secara subjektif, tanpa harus bisa dibuktikan secara objektif, dan belum tentu sesuai “apa-adanya”.
Tetapi , Kebenaran, adalah sesuatu yang sifatnya “benar”, “sesuai-apa-adanya”, “objektif”, dan bisa dibuktikan baik secara subjektif ( oleh individu-individu ) maupun objektif.


DUA JENIS KEBENARAN


Buddha-Dhamma mengenal dua jenis kebenaran, yaitu :
1. Kebenaran konvensional ( Sammuti Sacca ), dan,
2. Kebenaran Mutlak ( Paramatha-Sacca ). Kebenaran Mutlak harus memenuhi syarat :
a). Harus BENAR.
b). Tidak terikat oleh WAKTU,
c). Tidak terikat oleh RUANG.


Kebenaran konvensional adalah suatu “persepakatan-bersama”. Ia bisa terwujud dalam suatu system tradisi, adat, dan agama-agama tertentu. Kebenaran konvensional ini sifatnya lapuk dimakan waktu ( sehingga ia bisa menjadi kepercayaan yang usang, kuno, tidak sesuai perkembangan jaman ), dan tidak “universal”, sehingga tidak bisa diterapkan disetiap belahan bumi, hanya sesuai dengan tempat asalnya.

Tetapi Kebenaran-mutlak ( Paramatha-Saccena ), diluar lingkup semua hal tersebut. Kebenaran mutlak hanya bisa disadari dan dicapai dengan pengembangan pikiran melalui Samadhi, dan bukan melalui jalan berspekulasi / berteori. Kebenaran mutlak tak akan pernah lapuk oleh waktu, tidak akan pernah ketinggalan jaman, dan berlaku secara universal. Misal, hukum Karma, dimana setiap perbuatan akan menuai buahnya. Hukum karma ini berlaku secara abadi, tidak lekang oleh waktu, dan berlaku di belahan bumi manapun juga, di alam kehidupan manapun ( di alam para dewa, hukum karma secara relatif “tidak-begitu-kentara”, karena di alam para dewa, mereka menikmati kesenangan dalam jangka waktu panjang ).  Contohnya lagi, Empat Kesunyataan Mulia ( Cattari Ariya Saccani ) yang terdiri dari : 1. Hidup ini  adalah dukkha, 2. Sebab dukkha adalah nafsu keinginan / tanha, 3. Lenyap / berakhirnya penderitaan ( Nirvana ), dan, 4. Jalan menuju lenyapnya penderitaan ( Ariya Athangika Magga ). Keempat kasunyatan mulia ini berlaku di belahan bumi manapun juga, kapanpun juga, tidak terbatas lingkup ruang dan waktu. Contohnya lagi, kenyataan mengenai TRILOKA ( Kamadhatu, Rupadhatu, dan , Arupadhatu ), dan lain-lain hal Dhamma yang diungkapkan Sang Buddha, itu adalah “Kebenaran-Sejati”, “Kebenaran-Mutlak”, yang berlaku secara  u n i v e r s a l  .

Demikianlah, dhamma yang dibabarkan Sang Buddha adalah Kebenaran-Mutlak mengenai dunia. Buddhisme adalah contoh pertama dari penggunaan metode ilmiah murni yang diterapkan atas pertanyaan sehubungan dengan sifat sejati dari alam semesta, kehidupan, dan alam kehidupan. Buddhisme, juga,  secara “ilmiah” dan  “rohani” sekaligus, menerangkan hal yang spiritual maupun non-spiritual, yaitu, spiritualitas dalam Buddhisme bahkan sangat jauh dari “mitos” , dapat dibuktikan oleh setiap individu yang mau membuktikannya, dan secara spiritual pula mampu menerangkan hal-hal ilmiah, menerangkan kebenaran abadi mengenai alam semesta, kehidupan, dan alam kehidupan. Kebenaran-abadi ini, yang telah ada tanpa harus hadirnya seorang Samma-Sambuddha, ditemukan dan disingkapkan oleh Sang Buddha tanpa bantuan Illahi ( wangsit, wahyu, dan hal “mitos” lainnya ). Sang Buddha bukan “Tuhan”, bukan pula utusan “Tuhan”, bahkan menolak adanya sosok “Tuhan” pribadi yang “tunggal” dan disembah serta dianggap sebagai pencipta dan penguasa dari semua di alam semesta ini ( suatu pencapaian tertinggi yang dapat diraih oleh semua ummat manusia, itulah ke-Buddha-an ) .

Karena berakar pada kebenaran-mutlak yang abadi ini, maka Buddhisme bisa bertahan dengan kuat untuk menghadapi tantangan apapun tanpa harus mengubah prinsip dasar dari Dhamma tersebut. Bahkan, Albert Einstein pun sampai menyatakan, “Jika ada suatu agama yang sesuai dengan kebutuhan ilmu pengetahuan modern, maka itu adalah ajaran Sang Buddha.”
Banyak ajaran terpaksa harus  “merevisi” ajarannya. Misal, ketika Einstein menyatakan teori lubang cacing, lubang hitam, dan lubang putih, maka ajaran-ajaran tersebut terpaksa harus merevisi ajaran-ajarannya. Ketika ilmuwan menemukan bahwa bumi ini bulat, dan bersama-sama dengan planet lainnya berputar sesuai garis orbit mengitari matahari, maka banyak ajaran segera menyesuaikan dengan temuan ilmu pengetahuan. Dan hanya Buddhisme yang bisa betahan dan justru sesuai dengan temuan ilmiah para ilmuwan tersebut ( untuk lebih jelasnya, baca artikel saya yang berjudul “ALAM-SEMESTA” ( jilid I s/d III ) ). Buddhisme satu-satunya agama yang tidak pernah menodai dirinya dengan menghukum mati ilmuwan-ilmuwan yang menyatakan sesuatu hal mengenai alam semesta, sebab, pernyataan para ilmuwan itu, telah dinyatakan oleh Sang Buddha 2600-an tahun yang lampau ( 600-an tahun Before Christ (BC) / Sebelum Masehi ( SM ) ) .
Dogma, iman, dan logika ( disunting dari wikipedia Indonesia )
Dogma ( dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadangkala dogmata ) adalah kepercayaan atau doktrin yang tidak dapat ( baca : tidak boleh ) dibantah, yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Bukti, analisis, atau fakta mungkin digunakan, mungkin tidak, tergantung penggunaan.
Ada kesamaan konsep antara dogma dan aksioma yang digunakan sebagai titik awal untuk analisis logika. Aksioma dapat dianggap sebagai konsep dasar atau ‘sudah semestinya demikian’ sehingga tak terbayangkan orang akan membantahnya. Dogma juga bersifat sangat mendasar (misalkan, dogma bahwa ‘Tuhan itu ada’) namun juga mencakup himpunan yang lebih besar dari kesimpulan yang membentuk bidang pikiran (keagamaan) (misalkan, ‘Tuhan menciptakan alam semesta’).
Aksioma adalah pernyataan yang tidak bisa dibuktikan benar atau salah, atau pernyataan yang diterima atas kegunaannya. Filsafat dan teologi menemukan cara untuk membahas semua pernyataan, baik yang diklasifikasikan sebagai aksioma atau dogma.
Mungkin puncak uraian terorganisasi dari sebuah dogma teologi adalah Summa Theologica Katolik Roma yang dicetuskan oleh St Thomas Aquinas, yang mengusulkan hubungan antara iman dan penolakan:

“Bila lawan kita tidak percaya akan wahyu Tuhan, maka tidak akan ada cara lain untuk membuktikan obyek-obyek iman melalui penalaran, melainkan hanya dengan menjawab penolakannya atau penyangkalannya —bila memang dia memilikinya— terhadap iman atau kepercayaan tersebut” (I 1 8).


Dogma dalam agama
Dogma banyak ditemukan dalam agama Kristen dan Islam, di mana mereka dianggap sebagai prinsip utama yang harus dijunjung oleh semua umat agama tersebut. Sebagai unsur dasar dari agama, istilah dogma diberikan kepada ajaran-ajaran teologi yang dianggap telah terbukti baik, sedemikian rupa hingga usul bantahan atau revisinya berarti bahwa orang itu tidak lagi menerima agama tersebut sebagai agamanya sendiri, atau ia mengalami keragu-raguan pribadi.
Dogma dibedakan dari pandangan teologis mengenai hal-hal yang kurang dikenal. Dogmata dapat dijelaskan dan diuraikan tetapi tidak dibantah dalam ajaran-ajaran baru. (mis. Galatia 1:8-9). Penolakan terhadap dogma dianggap ajaran sesat dan dapat menyebabkan seseorang dikeluarkan dari kelompok agamanya, meskipun di dalam Injil Kristen hal ini tidak dilakukan dengan keras Mt 18:15-17).
Bagi sebagian besar anggota Gereja Ortodoks, dogmata sudah dikandung di dalam Doa Syahadat Nicea dan di dalam dua, tiga, atau tujuh konsili ekumenis yang pertama (tergantung apakah orang itu seorang Nestorian, Monofisit, ataukah seorang Kristen Ortodoks Timur. Orang Katolik Roma juga mengakui dogma yang dihasilkan oleh 14 konsili ekumenis yang belakangan dan sejumlah keputusan yang dirumuskan oleh paus yang menjalankan infalibilitas kepausan (lih. mis. Maria ibunda Yesus). Kaum Protestan, pada tingkat yang berbeda-beda mengakui bagian-bagian dari dogmata ini, dan seringkali berpegang pada ‘Pernyataan Iman’ yang khas bagi alirannya, yang menyimpulkan dogma-dogma pilihan mereka.

Dalam Islam, prinsip-prinsip dogma dikandung di dalam aqidah.


Dogma di luar agama
Banyak keyakinan non-agama seringkali digambarkan sebagai dogma, misalnya di bidang politik atau filsafat, maupun di dalam masyarakat sendiri. Istilah dogmatisme mengandung arti bahwa orang berpegang pada keyakinan-keyakinan mereka tanpa berpikir dan hanya ikut-ikutan saja.
Dogmata dianggap anatema bagi ilmu pengetahuan dan analisis ilmiah meskipun orang bisa berdebat bahwa metode ilmiah itu sendiri pun merupakan dogma bagi banyak ilmuwan. Dalam cara yang sama dalam filsafat, seperti misalnya rasionalisme dan skeptisisme, meskipun pertimbangan-pertimbangan metafisika biasanya tidak tampak jelas dalam bidang-bidang itu, dogma-dogma keagamaan yang tradisional cenderung ditolak sementara praduga-praduga yang tidak teruji diterima. Pada dasarnya, dogma adalah suatu kepercayaan yang di-”sakral”-kan, dan tidak boleh “dipertanyakan”, hanya untuk di”imani” saja, di”yakini” saja.

ANJURAN SANG BUDDHA

Sang Buddha selalu menganjurkan seseorang untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan akan sesuatu hal. Penelitian yang sungguh-sungguh haruslah dilakukan, fakta-fakta harus dikumpulkan, disusun dengan benar, dipertimbangkan matang-matang, ditata kembali secara cermat untuk menjadi pijakan dalam penarikan konklusi / kesimpulan, yang tentunya semuanya dilakukan secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa.

Banyak aliran-aliran kepercayaan, agama, maupun ideology-ideology tertentu senantiasa menarik-narik orang untuk masuk memeluk kepercayaannya itu. Jika suatu ketika kita terbujuk, dan suatu saat mengetahui bahwa ternyata ajaran itu salah, maka sudah disiapkan pasal “penjerat” agar kita “takut” untuk meninggalkan kesetiaan kita pada ajaran itu, missal dengan memberikan stempel kita “pengkhianat”, “pendosa”, “murtad”, dan lain-lain istilah yang dipakai. Tidak hanya berlaku dalam agama-agama tertentu, dalam dunia politik, jika kita keluar dari suatu ideology politik tertentu dan “menyeberang” darinya, maka kita akan menjadi “target” untuk dilenyapkan.
Sang Buddha dan para murid-muridnya, dalam sejarah perjalanan agama Buddha, tidak pernah mendesak orang-orang untuk dengan gairah berlebihan, secara tergesa-gesa menerima ajaran Sang Buddha mengenai kasunyatan / hakekat hidup, kehidupan, dan alam semesta. Beliau malah akan menganjurkan orang tersebut untuk meneliti terlebih dahulu dengan seksama dan cermat sehingga ketika menerima Dhamma Sang Buddha, itu adalah hasil penelaahan mendalam, bukan karena “iman-membuta” yang diambil dengan keadaan “buta” ( tergesa-gesa, tanpa pertimbangan, hanya ikut-ikutan ).
Suatu ketika, setelah berdiskusi lama dengan Sang Buddha, seorang tokoh yang bernama Upali berharap agar dapat diterima menjadi siswa oleh Sang Buddha, tetapi Sang Buddha justru berkata kepadanya :

“ Upali, telitilah secara mendalam terlebih dahulu. Penelitian yang mendalam adalah sangat baik, bagi orang yang terkenal seperti dirimu. “
( Majjhima Nikaya I : 379 )


Semua manusia hendaknya merenungkan nasehat ini. Betapa banyak diantara kita yang pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini, memasuki / memeluk sebuah system ideology, aliran kepercayaan ataupun agama hanya karena propaganda bahwa system keyakinan tersebut adalah yang terbenar karena diwartakan oleh “orang-pilihan”, dan merupakan suatu “wangsit” yang “turun-dari-Tuhan”, atau “turun-dari-langit”, dan hanya dengan masuk menjadi bagian sistem ajaran itu saja, tanpa harus berbuat macam-macam, kita pasti akan terjamin baik di dunia maupun “setelah-mati-nanti”. Namun, dalam perjalanan kemudian, ternyata kita secara intuitif menemukan, ada sesuatu yang “salah” dalam system ideology tersebut.

Mempertimbangkan Pendapat Lain
Sistem filsafat, ideology, dan agama-agama memberikan jawaban yang berbeda-beda akan suatu hal yang sama. Misal, agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan berbagai aliran-aliran kepercayaan serta ideology-ideology di dunia akan memberikan jawaban yang berbeda-beda mengenai suatu topic yang sama, entah itu mengenai : alam semesta, kehidupan, alam kehidupan, dan lain-lain hal.
Dalam kesimpang-siuran ajaran-ajaran yang ada, seyogyanya demi mendapatkan pengertian yang benar, seimbang, objektif dan tidak berdasarkan subjektifitas semata, kita harus mempertimbangkan argumentasi-argumentasi yang ada yang diberikan oleh berbagai aliran kepercayaan, agama, maupun ideology yang ada.
Sang Buddha bersabda :

“ Tidak hanya atas dasar pendapat sepihak, seseorang akan dekat dengan kebenaran.

Orang bijaksana adalah mereka yang menyelidiki ceritera dari kedua belah pihak. “
( Dhammapada : 256 )

Suatu saat, dalam masa kehidupan Sang Buddha, ada kelompok Bhikkhu yang mulai mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan Dhamma / kasunyatan. Ummat awam dan para siswa Sang Buddha menjadi bingung, dan ketika mereka mengajukan masalah ini kepada Sang Buddha, Beliau memberikan jawaban yang sekaligus menunjukkan keyakinan-Nya pada kebenaran sejati yang telah beliau ‘singkapkan’ dan juga pada kemampuan umat manusia untuk dapat memahaminya. Beliau berkata kepada mereka :

“ Hendaknya engkau mendengarkan “Dhamma” dari kedua belah pihak, simaklah “dhamma” dari kedua belah pihak ; lalu pilihlah pandangan, pihak, ajakan dan ajaran dari dia yang benar mengucapkan Dhamma. “
( Vinaya IV : 355 )

Beliau tidak memaksakan orang untuk percaya kepada Beliau, tidak menekankan suatu pengertian “siapa yang harus dipercaya”, tetapi Beliau menyarankan agar mereka mendengarkan dulu kedua pandangan yang ada, mempertimbangkannya secara hati-hati dan kemudian baru menarik kesimpulan sendiri. Demikianlah seyogyanya cara ini kita tempuh dalam mencari kebenaran. Jika didalam diri kita sudah tertanam suatu keyakinan, bersikaplah terbuka terhadap pandangan lainnya, karena, belum tentu yang kita ikuti selama ini benar-benar mewartakan suatu kebenaran.
Banyak pemuka-pemuka didunia ini, baik seorang ideolog dan filosof ( Misalnya saja Karl Marx, Hegel, Auguste Comte, Nietzche, dan , boleh dimasukkan juga, Soekarno, dan lain-lainnya) , filsuf , hingga seorang Nabi sekalipun menyatakan menemukan kebenaran, mengajarkan kebenaran, memperoleh “berita” dari “langit”. Kemudian, atas informasi dari mereka ini, maka bermunculanlah para pengikut-pengikut, “ummat-ummat” , dan kebanyakan semuanya menjadi fanatik. Bahkan saat mereka ( para tokoh-tokoh besar penggagas ide-ide tersebut ) hidup, mereka sendiri terlibat adu argument dan pertengkaran-pertengkaran “kecil” ( kalau tidak boleh disebut dengan “peperangan” / “pembantaian” ) dengan ide-ide dan penganut ide-ide diluar dirinya tersebut.
Sang Buddha menceritakan suatu perumpamaan yang sangat menarik untuk menggambarkan hal tersebut :

“ Sekali waktu, ada seorang raja di Savatthi. Dia memanggil pengawalnya dan berkata : “ Kesini, pengawalku yang baik, pergi dan kumpulkanlah mereka yang buta sejak lahir di Savatthi ini, pada suatu tempat.“ “ Baik, tuanku”, sahut pengawalnya, lalu dia melaksanakan titah rajanya, lalu setelah selesai dikumpulkan, raja berseru lagi kepadanya : “ Sekarang, pengawalku yang baik, tunjukkan pada orang-orang buta ini seekor gajah.” “Baik, tuanku”, kata pengawalnya, lalu melaksanakan lagi titah rajanya.

Dia mendekatkan salah seorang dari orang-orang buta itu di kepala gajah, seorang lagi di telinganya, seorang di gadingnya, seorang di belalainya, seorang di kakinya, seorang di punggungnya, soerang di ekornya, seorang lagi di ujung ekornya lalu pengawal berseru : “Wahai, orang-orang buta, inilah yang disebut gajah.”.

Setelah itu, sang pengawal kembali menghadap pada raja dan berkata : “Tuanku, gajah telah ditunjukkan kepada semua orang buta, sesuai titah baginda.” Sang raja kemudian menghampiri orang-orang buta tersebut dan berkata : “Wahai, orang-orang buta, sudahkan engkau tahu bagaimana gajah itu?” “Ya, tuanku, kita telah mengetahuinya,” kata mereka. “Bila demikian, katakana bagaimana yang disebut gajah.”

Orang buta yang memegang kepala gajah berkata,”Gajah menyerupai tempayan.”

Yang memegang telinga berkata,”Gajah menyerupai kipas.”

Demikian seterusnya, mereka mengatakan gading seperti ujung bajak, balalai seperti pegangan bajak, badan gajah seperti lumbung padi, kaki seperti tiang, bokong seperti lesung, dan ekor sebai alunya, ujung ekor disebut sapu. Mereka mulai bertengkar, berteriak : “Ya,begitu!” “Tidak,tidak begitu!” “Gajah tidak seperti itu!” “Ya, seperti itu!”. Mereka kemudian berkelahi, dan sang raja malah menikmati apa yang dilihatnya. “
( Udana : 68 )


Inilah yang terjadi, jika kita menarik kesimpulan secara tergesa-gesa.  Mungkin dari lahir kita diperkenalkan pada suatu system ideology atau ajaran tertentu, dan secara membuta meyakininya sebagai suatu kebenaran mutlak, “credo” yang tidak boleh di-”kritisi”, tidak boleh di-”cermati”, tidak boleh ditelaah dengan benar, dan kita tidak boleh keluar dari sistem ajaran itu. Namun, kita sebagai makhluk ber-“Buddhi”, harus menyelidiki, meneliti, dan jangan “takut” untuk mencari kebenaran atas hal tersebut. Jika kita menutup hati dan batin kita dengan “iman-membuta”, takut akan “azhab-dari-yang-diatas”, maka, kecil kemungkinan bagi kita untuk menemukan kebenaran-sejati.
Misalnya, dulu kala dinyatakan bumi ini datar, juga, bumi adalah pusat tata-surya, dimana matahari berputar mengelilingi bumi ;  hal ini bahkan diajarkan oleh agama-agama besar , selain Buddhisme, yang lahir dari abad setelah tahun “0″ Buddhis Era ( setelah wafatnya Sang Buddha ), hingga kurang lebih abad ke-15 M. Pandangan ini dianut dan bertahan hingga sangat lama, hingga suatu ketika, Nicolas Copernicus ( 1473 – 1543 ) , seorang ilmuwan, menemukan dan menyatakan bahwa bumi ini berbentuk bulat, dan mataharilah justru sebagai pusat tata-surya, dimana bumi serta planet-planet yang lain berputar pada garis orbit mengelilingi matahari ( heliocentric). Mengenai hal ini, penganut aliran-aliran diluar Buddhisme akhirnya harus mengalah dan merombak lagi , “mengothak-athik-gathuk”-kan tafsir ayat-ayatnya kembali, namun siswa Sang Buddha, sejak 2600 tahun yang lampau ( 600-an tahun SM  ) telah mengetahui hal ini, dan tidak pernah berbeda pendapat dengan ilmuwan perihal ini, bahkan lebih maju pengetahuannya ( karena banyak hal yang telah dinyatakan Sang Buddha baru bisa dibuktikan oleh para ilmuwan sekarang ini, dan masih banyak hal lagi yang masih berusaha untuk dibuktikan oleh para ilmuwan ).

Seorang murid Sang Buddha, yang bernama Kumara Kassapa, memberikan suatu perumpamaan yang serupa guna melukiskan suatu jalan bagi kita untuk menemukan Kebenaran ;

“ Sekali waktu, seluruh penduduk dari suatu kecamatan meninggalkan wilayahnya. Lalu ada seorang berkata pada kawannya : “ Mari, kita kembali kesana lagi; mungkin kita masih menemukan sesuatu yang berharga.”

Kawannya menyetujui, dan ketika mereka sampai disana, mereka menemukan setumpuk tali ramin yang dibuang di jalanan desa. “ Mari kita mengikat dan membawanya”, orang itu berkata pada kawannya, yang segera menyetujuinya, dan merekapun melakukannya.

Tidak lama, mereka pun sampai di desa lain, disana mereka menemukan setumpuk kain ramin, dari tali ramn yang telah ditenun, orang itu lalu berkata pada kawannya : “ Demi kain ramin inilah, sehingga kita mengumpulkan tali ramin tadi. Buang saja tali ramin itu, mari kita bawa saja kain ramin ini.” Tetapi kawannya berkata : “Saya telah membawa tali ramin ini sepanjang jalan tadi, lagi pula ini telah terikat rapih. Saya akan tetap membawa tali ramin ini saja. Lakukan saja kehendakmu sendiri.”

Lalu orang pertama tadi membuang tali raminnya dan membawa kain ramin tersebut.

Tak lama dalam perjalanan selanjutnya, mereka menemukan benang linen, kain linen, kapas, benang katun, kain katun, besi, tembaga, kaleng, timah, dan perak ; dan setiap kali menemukan yang lebih berharga, orang tadi mengganti bawaannya, sdan si kawannya tetap membawa tali raminnya.

Tak lama kemudian mereka sampai di suatu desa yang lain, disana mereka menemukan setumpuk emas, dan orang tadi berseru kepada kawannya : “ Emas ini adalah yang paling kita inginkan dari segalanya. Buanglah tali raminmu, saya juga akan membuang perakku, lalu kita bawa emas ini.” Tetapi kawannya berkata : “ Saya telah membawa tali ramin ini sepanjang perjalanan, lagi pula ini telah terikat rapih. Saya tetap akan membawanya. Lakukan saja olehmu sendiri.”

Dengan demikian, orang tadi membuang perak tersebut, lalu membawa emas itu. Ketika mereka akhirnya tiba kembali dirumahnya masing-masing, orang yang membawa tali ramin tidaklah membawa kegembiraan pada keluarganya, juga tidak pada dirinya sendiri ; sedangkan orang yang membawa emas telah pula membawa banyak kegembiraan baik pada keluarganya, maupun pada dirinya sendiri. “
( Digha Nikaya,II : 349 )


Bhante Shravasti Dhammika menyatakan, pandangan atau pendapat tentang kebenaran tak ubahnya bayangan cermin seseorang. Pandangan atau pendapat itu bayangan – cerminnya, sedang kebenaran adalah orang itu sendiri. Pandangan mewakili kenyataan, namun bukanlah kenyataan itu sendiri. Bila kita senantiasa mengingat ini dalam batin, pandangan-pandangan dapat menunjukkan kita kearah kebenaran, dan bila kita tetap berusaha maju, kita akan secara bertahap melepaskan pandangan-pandangan itu dan menggantikannya dengan penghayatan langsung.

Demikian , semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua yang membacanya, terutama yang sangat mencintai “Kebenaran”, dan bahkan masih berjuang mencari “Kebenaran” itu.

Salam Damai dan Cinta Kasih… ,

“Semoga Semua Makhluk Berbahagia dan Terbebas dari Semua Penderitaan!”

– RATANA KUMARO / RATNA KUMARA / RATYA MARDIKA –
Semarang Barat, Jumat, 12 Desember 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar