Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

latihan memurnikan pikiran

CARITA, KAMMATTHANA,

DAN

MAJJHIMA PATIPADA
“ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “
Salam Damai dan Cinta Kasih … ,

Setiap manusia mempunyai watak / kecenderungan / karakter, yang masing-masing bersifat “unik”. Darimanakah asal watak / kecenderungan / karakter ini berasal ? Apakah karena ditakdirkan sehingga tidak bisa “disucikan” ? Bukan, watak / kecenderungan / karakter, terbentuk dari timbunan akumulasi karma ( Sanskerta ; kehendak / perbuatan ) setiap “individu” tersebut sejak kehidupan-kehidupan lampaunya, semenjak milyaran tahun kita berkelana dalam samsara. Oleh karena itu, watak tersebut dapat diubah, dimurnikan ; dan inilah salah satu tujuan dari samma-samadhi ( samadhi-benar, latihan-latihan untuk mencapai Jhana ) dan samma-sati ( latihan-latihan vipassana ). Dalam Buddhisme, karakter yang melekat pada tiap “diri” manusia ini disebut dengan “CARITA” ( Pali ).

Carita ( kecenderungan ) adalah kondisi batin setiap orang yang belum mencapai kesucian. Dengan meditasi, kita berlatih untuk “memurnikan” batin kita dari kecenderungan-kecenderungan yang “kurang-baik” tersebut. Untuk itu, sebagai seorang yogi, kita pertama-tama harus mengenali carita kita masing-masing, sebelum akhirnya kita memilih “pokok-landasan-pemusatan-perhatian” ( Kammatthana ) yang sesuai dengan carita kita tersebut, inilah kaitan antara carita dan kammatthana.
Sang Buddha mengklafisikasian kecenderungan atau watak ( carita ) ini ada enam ( 6 ), dan mengajarkan empat-puluh (40 ) landasan pemusatan perhatian ( Kammatthana ) yang sesuai dengan masing-masing watak / carita tersebut. Pertama-tama, saya akan menjelaskan mengenai carita, baru kemudian nanti saya akan menjelaskan mengenai kammatthana, dan terakhir, praktek “Jalan-Tengah” yang diajarkan oleh Guru Agung, Guru para dewa dan manusssa, ialah Sang Buddha Gotama.

Keenam klasifikasi carita menurut Sang Buddha, yaitu :

1. RAGA CARITA
Ialah karakter yang memiliki kecenderungan “bernafsu” terhadap objek-objek yang menyenangkan, suara yang merdu, wangi-wangian, sentuhan-sentuhan yang lembut dan mesra. Ini adalah khayalan yang diinginkan batin dan merupakan tempat yang sangat dicintai.
Seseorang yang memiliki raga carita, cenderung bersifat mementingkan diri sendiri, sombong, berambisi besar. Ada sisi positif yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki raga carita, yaitu ia akan mudah kagum melihat suatu kebajikan meskipun itu kecil sekali, ia juga mudah melupakan kesalahan orang lain. Bagi anda yang memiliki raga carita, kammatthana yang sesuai adalah sepuluh asubha dan satu kayagatasati.

2. DOSA CARITA
Ialah karakter manusia yang memiliki kecenderungan mudah naik pitam, pemarah, dan kebencian yang tanpa alasan. Orang yang memiliki karakter “dosa carita” ini, bila di “senggol” dengan persoalan kecil saja, akan tersulut kemarahannya.
Ironisnya, seseorang yang berkarakter “dosa carita” ini SANGAT SUKA dengan watak pemarah ( Jawa : Getapan ) yang dimilikinya ini. Ia justru merasa bangga karena ia adalah seseorang yang berkarakter “keras”, bila ia seorang laki-laki, maka ia merasa “jantan” karena ke-“keras”-annya ini. Baginya, kebencian atau kemarahan merupakan harta yang mulia karena bila sehari saja tidak marah atau membenci terhadap orang lain , maka ada sesuatu yang “hilang” dari dirinya.
Biasanya, ada ciri-ciri / pola perilaku yang nampak dalam kehidupan sehari-hari bagi seseorang yang berkarakter “dosa carita” ini, yaitu misalnya, kalau bicara suaranya kasar, bila berjalan langkahnya selalu tergesa-gesa, bila melakukan pekerjaan biasanya kasar, perangainya kaku dan hatinya cepat panas, karena itu orang yang memiliki watak pemarah atau kebencian ini lekas tua. Orang mempunyai dosa carita juga suka iri hati, tidak suka melihat orang lain memperoleh suatu kebahagiaan dan kesejahteraan, tidak senang melihat suatu kesalahan dilakukan oleh orang lain meskipun kecil ( maunya sempurna ; perfectionist ), tak mau mengingat jasa baik orang lain walaupun besar, suka bermusuhan, memandang rendah orang lain, sangat suka mendikte dan memerintah orang lain. Bagi anda yang mempunyai dosa carita, maka kammatthana yang sesuai baginya adalah empat appamañña dan empat kasina (nila kasina, pita kasina, lohita kasina, dan odata kasina).

3. MOHA CARITA
Adalah watak / karakter yang diliputi “kebodohan batin”, yaitu ketidak-tahuan mengenai “ilusi” dari semua yang “ada” ini, baik harta dunia maupun harta surgawi.
Orang yang memiliki watak ketidahtahuan atau kebodohan beranggapan bahwa dengan menimbun harta benda maka ia akan medapatkan kebahagiaan. Karena kurangnya pengetahuan atau kebodohan ia sayang untuk melepas benda miliknya, bahkan benda yang tidak berharga sekalipun, tetapi ia sangat menginginkan barang orang lain. Bila ia diberi maka ia akan cepat-cepat menerima dengan bernafsu, sebaliknya ia sangat sukar untuk memberikan miliknya pada orang lain. Bila ia melakukan suatu pekerjaan, ia akan bekerja sama dengan orang lain, tetapi dalam menerima imbalan ia ingin lebih banyak dari yang lain. Orang yang memiliki watak “moha carita” / kebodohan batin ini lebih suka menerima daripada memberi atau berdana pada orang lain.
Orang yang mempunyai mohacarita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin, cenderung ke arah kelemahan batin, suka bingung, suka ragu-ragu, suka khawatir, menggantungkan diri pada pendapat orang lain, pikiran ruwet, malas, pendiriannya tidak tetap, kadang-kadang kukuh memegang suatu pandangan. Bagi anda yang mempunyai mohacarita, kammatthana yang sesuai ialah anapanasati.

4. VITAKKA CARITA
Ialah watak seseorang yang tidak tegas. Seseorang yang berkarakter “vitakka carita” ini memiliki kekhawatiran atau pikiran yang tidak terkendalikan, mempunyai kebimbangan dalam hal pekerjaan mana yang lebih dulu dikerjakan, tidak memiliki keputusan yang tetap. Seseorang yang berwatak vitakka carita ini selalu melaksanakan sesuatu dengan tergesa-gesa ( karena pikirannya tidak terkendalikan ), cenderung ke arah kegugupan, sering mengalami kegagalan usaha, suka berteori, tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial.
Orang yang memiliki watak “vitakka carita” tidak berani mengambil suatu keputusan dalam pekerjaan yang digelutinya. Watak ini kemudian kait mengait dengan gangguan saraf, terlihat wajahnya lesu, tidak bergairah, loyo, dan kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya dan ia sulit mencari kebahagiaan dan ketenangan. Batinnya senantiasa diliputi kegelisahan, penuh angan-angan, kebimbangan, bahkan tak jarang “ketakutan” ( seperti misalnya takut akan nasib hidupnya, takut akan masa depannya, takut gagal, dan lain sebagainya ) dalam kadar-kadar yang tidak wajar. Bagi anda yang memiliki vitakka carita, kammatthana yang sesuai adalah Anapanasati.

5. SADDHA CARITA
Ialah watak yang mudah percaya, orang yang berwatak seperti ini tidak memiliki keteguhan hati dan mudah percaya pada orang lain tanpa mempertimbangkan dan menyelidiki terlebih dahulu. Umumnya, orang seperti ini mudah ditipu orang lain. Dalam pergaulan, acapkali rekan-rekannya seringkali “menggoda” dengan menceritakan suatu hal yang merupakan rekaan semata dan ia akan sekonyong-konyong mempercayai cerita rekan-rekannya tersebut. Juga, siapapun yang memberinya suatu saran atau nasehat akan sesuatu hal, maka ia pasti akan langsung percaya dan tidak mempertimbangkan dan menyelidiki terlebih dahulu.
Sisi positif dari seseorang yang mempunyai saddhacarita ialah, dia akan melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan, cenderung ke arah rendah hati, dermawan, jujur, suka menemui orang-orang suci, suka mendengarkan Dhamma, yakin pada sesuatu yang dianggap baik. Bagi anda yang mempunyai saddhacarita, kammatthana yang sesuai ialah enam anussati (Buddhanussati, Dhammanussati, Sanghanussati, silanussati, caganussati, dan devatanussati).

6. BUDDHI CARITA
Ialah watak / karakter “intelek” atau “cerdas”. Pun demikian, seseorang yang mempunyai watak intelek / cerdas belum tentu selalu merupakan keuntungan bagi dirinya. Kelebihan darinya dapat menjadi suatu kerugian apabila tanpa suatu sikap batin yang pantas. Bila kecerdasan ini tidak berarah, atau meyakini sesuatu tidak berdasarkan pada pengetahuan benar, dapat menyeret seseorang ke dalam jurang pandangan-pandangan keliru yang ekstrim ( seperti misalnya, menjadi “dalang” suatu pemberontakan berdarah, menjadi “otak” suatu kelompok teroris, dan lain-lain ) . Jadi, keintelekan atau kecerdasan harus diimbangi atau disertai dengan pengetahuan benar, pengetahuan yang memberikan gambaran nyata / kasunyatan mengenai kehidupan, alam kehidupan dan semua fenomena.

Sisi positif dari seseorang yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita ialah, ia akan melaksanakan sesuatu dengan berhati-hati, cenderung ke arah perenungan terhadap Tiga Corak Umum (Tilakkhana), sering bermeditasi, bersedia mendengarkan omongan orang lain, mempunyai kawan-kawan yang baik. Untuk mereka yang mempunyai buddhicarita atau ñanacarita, maka obyek yang baik diambil dalam melaksanakan Samatha Bhavana ialah marananussati, upasamanussati, aharapatikulasañña, dan catudhatuvavatthana.

Demikianlah klasifikasi watak / karakter manusia yang belum mencapai PEMBEBASAN / PENCERAHAN. Kadangkala seseorang memiliki salah satu dari enam carita ini ada juga yang memiliki keenam watak tersebut sekaligus.

KAMMATTHANA ( Pokok Landasan Pemusatan Perhatian ) SESUAI DENGAN CARITA

Sebagaimana yang sudah kita bicarakan pada awal-awal artikel ini, untuk keperluan melatih Samma-Samadhi ( yang berisi latihan mencapai Jhana-Jhana ) maupun Sama-Sati ( yang berisi latihan-latihan vipassana ), seseorang harus mengerti watak / karakter ( carita ) –nya masing-masing.

Untuk mengetahui carita, seseorang harus bermeditasi dan dengan jujur memahami karakter dirinya sendiri. Setelah ia menemukan karakter dirinya, ia harus bertujuan membebaskan dirinya dari karakternya tersebut, yang selama rentang tumimbal lahirnya berjalan bersamanya.

Sang Buddha mengajarkan, ada empat puluh (40 ) objek yang dapat dijadikan pokok landasan dalam latihan meditasi ketenangan / samatha ( Samatha Kamathana ). Keempat puluh pokok landasan pemusatan perhatian tersebut adalah sebagai berikut :

A. SEPULUH (10) KASINA ( Wujud Benda ), yaitu =

1. Pathavi kasina = wujud tanah
2. Apo kasina = wujud air
3. Teja kasina = wujud api
4. Vayo kasina = wujud udara atau angina
5. Nila kasina = wujud warna biru
6. Pita kasina = wujud warna kuning
7. Lohita kasina = wujud warna merah
8. Odata kasina = wujud warna putih
9. Aloka kasina = wujud cahaya
10.Akasa kasina = wujud ruangan terbatas 


B. SEPULUH (10) ASUBHA ( Wujud Kekotoran ), yaitu :

1. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak
2. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan
3. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah
4. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya
5. Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang
6. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur
7. Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur
8. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah
9. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung
10.Atthika = wujud tengkorak


C. SEPULUH (10) ANUSSATI ( Sepuluh macam perenungan ), yaitu :

1. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha
2. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma
3. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha
4. Silanussati = perenungan terhadap sila
5. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan
6. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa
7. Marananussati = perenungan terhadap kematian
8. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani
9. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan
10. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana


D. EMPAT (4) APPAMANNA ( Empat Keadaan Yang tidak terbatas ),yaitu :

1. Metta = cinta kasih yang universal, tanpa pamrih
2. Karuna = belas kasihan
3. Mudita = perasaan simpati
4. Upekkha = keseimbangan batin


E. SATU (1) AHARAPATIKULASANNA
(satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan)


F. SATU CATUDHATUVAVATTHANA
(satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani)


G. EMPAT (4) ARUPA (empat perenungan tanpa materi), yaitu :

1. Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina
2.
Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas
3.
Natthibhavapaññati = obyek kekosongan
4.
Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan

Sebagai suatu catatan, diantara empat-puluh (40) Kammatthana tersebut diatas, terdapat beberapa kammatthana yang dapat dijadikan objek meditasi oleh para yogi tanpa memperhatikan caritanya. Kammatthana tersebut ialah :

1. EMPAT MAHABHUTA , yaitu =
a. Pathavi kasina ( wujud tanah )
b. Apo kasina ( wujud air )
c. Tejo kasina ( wujud api )
d. Vayo kasina ( wujud angin / udara )

2. EMPAT ARUPA, yaitu =
a. Kasinugaghatimakasapaññatti ; obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina
b. Akasanancayatana-citta ; obyek kesadaran yang tanpa batas
c. Natthibhavapaññati ; obyek kekosongan
d. Akincaññayatana-citta ; obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan

3. ALO KASINA ; ialah objek meditasi berupa sinar atau cahaya.

4. AKASA KASINA ; ialah objek meditasi berupa angkasa.
MAJJHIMA PATIPADA
Majjhima patipada ialah praktek “Jalan-Tengah” yang diajarkan oleh Sang Buddha. Hingga saat ini, dikenal tiga macam praktek / “Jalan”, dan salah satu diantaranya adalah majjhima-patipada yang diajarkan oleh Sang Buddha, sebagai suatu solusi dari dua jalan yang bersifat ekstrim.Penjelasan mengenai majjhima-patipada dan kedua jalan lain yang bersifat ekstrim adalah sebagai berikut :

1. Atthakiramatanuyoga, ialah praktek dengan penyiksaan diri yang keras. Praktisi di jalan ini akan mengekang diri dengan sangat keras, misalnya makan dengan porsi sangat sedikit, tidur sedikit, praktek sepanjang hari, kadang-kadang tidak makan (puasa) selama tujuh hari, atau hingga empat-puluh hari. Praktisi di jalan ini juga ada yang menahan napas sekuat ia bertahan, setelah cukup lama baru ia akan menarik napas kembali; berulang kali ia akan melakukan hal itu dengan maksud agar cepat mencapai kesucian dan pembebasan. Sang Buddha sangat tidak menganjurkan praktek ini, karena praktek ini tidak bermanfaat bagi pembebasan, malah hanya akan menghasilkan pernderitaan baik fisik maupun batin. Sang Buddha sendiri pernah melakukan praktek tersebut, menahan nafas hingga keluar suara mendesis dari telinganya, puasa selama empat-puluh hari, menutup telinga hingga tidak mendengar suara dari luar. Dan kemudian Sang Buddha meninggalkan praktek ekstrim tersebut.

2. Kamas ukhanikanuyoga. Praktisi di jalan ini berkebalikan dengan praktisi di jalan sebelumnya, sebab praktisi di jalan ini justru mengumbar pikirannya sedemikian rupa sehingga sangat melekat kepada kenikmatan indriya. Praktisi di jalan ini menggunakan perumpamaan gelas yang diisi dengan air terus-menerus hingga akhirnya air tersebut tumpah-ruah, dan air di dalam gelas menjadi bersih. Praktik keliru ini masih banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan diri berjalan di jalan “Tantra”, yaitu praktek yoga melalui “pengumbaran” hubungan seksual ; meskipun demikian, praktek ini tidak menggambarkan “Tantrayana” yang sejati.

3. Majjhima Patipada. Ini adalah “Jalan-Tengah” yang diajarkan oleh Sang Buddha. Sebelum kemunculan beliau, jalan ini tidak dikenal, di belahan bumi manapun juga. Sang Buddha, melalui majjhima-patipada, mengajarkan para siswa untuk menghindari kedua ekstrim tersebut diatas, yaitu ekstrim penyiksaan diri di satu sisi, dan ekstrim pengumbaran hawa nafsu di sisi lain. Majjhima patipada mengajarkan kita untuk : Jangan terlalu menderita, jangan terlalu berbahagia, jangan malas, jangan terlalu duduk lama ( kalau lelah beristirahatlah ), jangan terlalu lama berdiri ( kalau lelah berjalanlah ). Praktek “pensucian-diri” ini haruslah disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tergantung kilesa ( kekotoran batin ) kita masing-masing. Yang penting dari “jalan” menuju Nibbana ini adalah, tersingkirnya kilesa dari diri kita masing-masing. Siksaan yang hebat tidak berarti kekotoran batin dengan sendirinya tersingkirkan, apalagi pemuasan hawa nafsu dan berbagai kemelekatan indria. Menurut majjhima-patipada, kita tidak perlu menyiksa diri dengan tidak makan selama berpuluh-puluh hari, karena ini hanya akan membuat tubuh tidak berdaya; makanlah sesuai dengan kebutuhan jasmani, tetapi hati-hati akan makanan yang dapat menimbulkan ketagihan dan kemelekatan, karena akan mempertebal kilesa ( kekotoran batin ). Sebaiknya kita juga memutuskan pergaulan dengan orang yang tidak sesuai dengan kita, misalnya orang-orang yang suka mabuk-mabukan, suka bicara kasar, suka hal-hal pornografi, dan lain-lain hal yang bersifat pengumbaran nafsu indriya, sebab ini akan mengacaukan praktek kita. Tinggallah dalam tempat yang sunyi, jangan membuang waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kesucian, senantiasa pikirkan dan renungkan dhamma. Praktek yang baik akan mendatangkan hasil ( phala ) paling rendah sampai Jhana-samapati dan yang paling tinggi sampai tujuan akhir ; NIBBANA ( Sanskrit : Nirvana ).

Terakhir, sebelum anda memulai praktik, ada hal yang ingin saya ingatka. Saat bermeditasi, kita akan mendapat halangan. Halangan tersebut berupa “Panca-Nivarana” dan “Dasa Palibodha”. Panca-nivarana sudah pernah saya terangkan sebelumnya. Pada kesempatan ini, saya akan menjelaskan mengenai “Dasa Palibodha”.

Sepuluh macam palibodha
Palibodha berarti gangguan dalam meditasi yang menyebabkan batin gelisah dan tidak mampu memusatkan pikiran pada obyek. Palibodha ini ada sepuluh macam, yaitu :

1. Avasa (tempat tinggal)
2. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab)
3. Labha (keuntungan)
4. Gana (murid dan teman)
5. Kamma (pekerjaan)
6. Addhana (perjalanan)
7. Ñati (orangtua, keluarga, dan saudara)
8. Abadha (penyakit)
9. Gantha (pelajaran)
10.Iddhi (kekuatan gaib)

Ketika melaksanakan meditasi, para yogi sering mendapat gangguan yang disebut palibodha. Contoh konkrit dari palibodha ini adalah : Ia merasa khawatir akan tempat tinggalnya, terikat dengan rumahnya , ia merasa khawatir akan pembantunya dan orang yang bertanggung jawab atas harta bendanya, Ia merasa khawatir akan persoalannya, apakah meditasi ini akan membawa keuntungan baginya, ia merasa khawatir akan murid-murid dan teman-temannya, ia merasa khawatir akan pekerjaannya yang belum selesai, ia merasa khawatir akan perjalanan jauh yang harus ditempuhnya, ia merasa khawatir akan orang tuanya, keluarganya, dan saudara-saudaranya, ia merasa khawatir akan kemungkinan timbulnya penyakit, ia merasa khawatir akan pelajaran yang ditinggalkannya, ia merasa khawatir akan bermacam-macam kekuatan magis yang dipertunjukkan, takut akan kemerosotan kekuatan magis yang telah dimilikinya. Palibodha tersebut harus dibasmi, agar kita dapat memusatkan pikiran dengan baik.

Demikianlah wacana ini saya sajikan untuk anda semua, semoga bermanfaat bagi perkembangan batin kita semua.

“ Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta!”
( Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia! )
Sadhu… Sadhu… Sadhu… .
– RATANA KUMARO / RATNA KUMARA / RATYA MARDIKA –
Semarang Barat, Minggu Pon, 25 Januari 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar