Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Makna Paritta

DISADUR DARI :
Buku Efficacy Of Parittas
By
Venerable Sri S.V. Pandit P.
Pemaratana Nayako Thero
Makna Paritta
Judul Asli : Efficacy Of Parritas
Alih Bahasa : Marlin ST.
Sampul dan tata letak : Adiniaga
Diterbitkan oleh :
Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka
Jl. Kenari Gg. Tanjung I No. 231
Telp. / Fax : 0274 – 542919
Yogyakarta 55165
Cetakan Pertama, November 2005
UNTUK KALANGAN SENDIRI


Apakah manfaat paritta? Bagaimana dan
darimana paritta‐paritta berasal? Apa arti paritta
dalam keberadaan tingkat spiritual kita? Dan mungkin,
pertanyaan penting yang banyak ditanyakan adalah:
Apakah terdapat kebenaran dalam paritta? Jika ada,
pada bagian mana dari Tripitaka dapat kita temui
jawaban cemerlang terhadap pertanyaan‐pertanyaan
ini?
Bukanlah suatu hal yang mengejutkan bahwa
banyak orang, bahkan yang berada dalam lingkaran
komunitas Buddhis, menghina dan mengejek orang
yang melaksanakan pembacaan paritta sebagai suatu
bentuk praktek atau sebagai sebuah alat untuk
memberikan pelayanan kepada orang banyak dan
umat Buddhis. Dalam sebuah kehidupan sosial dan
komunitas yang padat akan intelektual, dan banyak
menderita dari kebiasaan‐kebiasaan yang telah ada,
opini‐opini keras dan prasangka‐prasangka, serta
pemikiran yang terlalu menggunakan rasionalitas,

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 2

tidaklah heran karenanya bila banyak orang yang buta
dan tuli akan makna dan nilai dari paritta.
Kumpulan‐kumpulan dari Lima Nikāya
Sebelum kita memeriksa dengan cermat
pertanyaan‐pertanyaan di atas, marilah kita
mempelajari beberapa macam kategori‐kategori yang
terdapat dalam buku Paritta. Di masa‐masa lampau,
para Arahat mengumpulkan beberapa Sutta dari Sutta
Pitaka dan menyatukannya menjadi sebuah buku
Paritta tersendiri yang disebut, “Catubhanavara Pali”.
Dalam bahasa Sinhala/Sri Langka disebut sebagai
“Mahapirith Potha”. Dalam kumpulan‐kumpulan
Paritta ini, terdapat 29 bagian mulai dari
Saranagamana hingga Atanatiya Sutta – kesemuanya
tercantum atau terdapat dalam “Catubhanavara Pali”
ini. Sutta‐sutta ini, yang dikumpulkan dari Sutta Pitaka,
adalah sebagai berikut:
1). Dīgha nikāya – Mahāsamaya‐Atanatiya
2). Majjhima nikāya – Isigili Sutta‐Sacca Vibhanga Sutta

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 3

3). Samyutta nikāya – Dhajagga Sutta, Bojjhanga
Suttas, Dhamma Cakkappavattana Sutta
4). Anguttara nikāya – Dasadhamma Sutta, Khandha
Paritta, Girimananda Sutta
5). Khuddaka nikāya – Mora Paritta, Mangala, Ratana,
Karaniya Metā, Parabhava, Alavaka dan Vasala
Sutta.
Dalam buku Maha Paritta, terdapat berbagai
macam syair yang digubah oleh para Arahat dan Guruguru
masa lampau. Karenanya tidaklah heran apabila
menemukan berbagai tipe syair‐syair dan prosa‐prosa
yang berbeda di dalamnya.
Sudah merupakan pengetahuan yang umum
dalam lingkungan Umat Buddha, bahwa Paritta‐paritta
diucapkan oleh Sang Buddha sepanjang masa hidup
Beliau. Berbagai kejadian/peristiwa menarik yang
terjadi dalam kehidupan sehari‐hari Beliau menjadi
penyebab munculnya berbagai Parittta yang kemudian
dibabarkan oleh Sang Buddha untuk tujuan
perlindungan –tidak hanya dalam kehidupan sekarang,
akan tetapi juga dalam kehidupan berikutnya. Hal ini

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 4

terutama terjadi, ketika masyarakat pada zaman
kehidupan Sang Buddha, mengalami penderitaan
karena penyakit‐penyaki, wabah penyakit/epidemi,
kelaparan yang merajarela, dan bahkan bencana yang
disebabkan oleh pengaruh dari makhluk‐makhluk
halus yang jahat. Karena itu, bukanlah suatu takhayul
atau pun kepercayaan belaka, bahwa pembacaan
Sutta‐sutta ini diketahui dapat digunakan untuk
menangkis malapetaka dan memberikan pertolongan
kepada rakyat atau orang‐orang biasa yang dirundung
oleh kemalangan.
Kekuatan Paritta
Contoh yang sempurna dari Sutta‐sutta yang
diketahui oleh umum dan dihapalkan dengan penuh
khidmat adalah Ratana Sutta. Bila Sivali Paritta
seringkali diucapkan untuk memperoleh berkah
keuntungan dan kemakmuran, maka Ratana Sutta
seringkali digunakan dan dibacakan untuk
mengatasi/menghindari kesulitan‐kesulitan
perorangan maupun pengaruh‐pengaruh jahat.

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 5

Diantara umat Buddha yang wanita, Angulimala Paritta
dikenal karena pengaruh‐pengaruhnya yang sangat
kuat untuk membantu kelahiran, terutama sekali
digunakan untuk mengatasi bahaya‐bahaya komplikasi
pada saat melahirkan. Untuk tujuan ini Paritta
biasanya dibacakan sebanyak 108 kali di atas
semangkuk air, yang kemudian diberikan kepada sang
calon itu.
Kritikan dan ejekan terhadap praktek‐praktek
religius pembacaan paritta tanpa mengerti
pendekatan psikologi mereka atau asal mula kebiasaan
ini, hanyalah akan memperlihatkan sebuah
ketidaktahuan yang terang‐terangan dan kebodohan.
Dengan menyangkal arti penting atau berkah yang
terdapat didalam paritta‐paritta ini sama artinya
dengan menyangkal kreatifitas dan intuisi terdalam
yang berada di dalam pikiran kita. Dengan melakukan
sendiri/mengalami sendiri membaca Paritta dengan
penuh kesungguhan dan keyakinan akan memberikan
pengaruh‐pengaruh khusus terhadap kerangka dasar
berpikir kita. Mengubah kerangka berpikir dari dalam
batin dan pembacaan paritta yang dilakukan secara

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 6

terus‐menerus dapat menghasilkan suatu tingkat
konsentrasi yang dapat membawa kita pada dimensi
kesadaran yang lebih tinggi dan mempengaruhi
kekuatan‐kekuatan baik yang berada di luar diri kita.
Karenanya bukanlah suatu hal yang sia‐sia
sebagaimana yang ada dalam contoh yang pertama,
khususnya bagi orang‐orang barat.
Di negara‐negara Buddhis khususnya di Sri
Langka, pembacaan Paritta‐paritta merupakan sebuah
peristiwa besar. Sebuah pendopo (paviliun) atau
Mandapa dibangun dengan penuh ketelitian dan
kesabaran di salah satu tempat upacara. Pendopo
bersegi delapan dengan sebuah canopy (tudung) putih
ini dihias indah dengan bunga‐bunga dan dedaunan
sirih, demikian pula dengan dinding‐dinding
disekelilingnya. Di dalam pendopo yang berfungsi
sebagai tempat duduk para bhikkhu inilah upacara
pembacaan paritta diadakan –yang mungkin
berlangsung selama satu malam, 3 malam, atau
bahkan selama 7 malam.

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 7

Pembacaan Paritta Sepanjang Malam
Minimal 8 orang bhikkhu senior diperlukan
untuk mengadakan sebuah Upacara Pembacaan
Paritta Sepanjang Malam. Upacara dimulai dengan
sebuah prosesi yang dipimpin oleh para bhikkhu,
sambil membawa Buku Paritta dan Relik‐relik Buddha.
Sejumlah besar umat akan mengikuti prosesi ini hingga
ke Mandapa. Sesampai di Mandapa, diadakanlah
“Buddha Puja” secara tradisional yaitu
mempersembahkan bunga kepada Sang Tiratana
(Buddha, Dhamma, Sangha), dan menyalakan lampulampu
minyak di sekeliling pendopo.
Sebuah mangkok berisi air kemudian
ditempatkan di Mandapa, di depan para Bhikkhu yang
telah duduk. Seutas benang diikatkan pada mangkok
air tersebut. Dengan benang yang sama pula, Buku
Paritta dan relik‐relik Sang Buddha dililitkan dan
kemudian ujung benang ini dipegang oleh para
Bhikkhu. Seutas benang lainnya kemudian dipegang
oleh para umat. Mereka diminta untuk memegang
benang ini sepanjang Pembacaan Paritta ini

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 8

berlangsung. Bagi umat awam, dipahami bahwa
benang yang dipegang ini berfungsi sebagai sebuah
medium dalam menyebarkan getaran pengaruhpengaruh
dari Pembacaan Paritta. Dengan sikap yang
tenang, para bhikkhu mengadakan upacara tersebut
dengan batin/pikiran yang dipenuhi oleh ‘saddha’ dan
cinta kasih. Sesungguhnya dalam cara yang tepat inilah
para umat akan memperoleh berkah penuh dari
mengadakan sebuah Upacara Pembacaan Paritta.
Pada saat awal dan akhir dari Pembacaan
Paritta Sepanjang Malam, merupakan suatu hal yang
biasa bahwa semua bhikkhu harus berada di dalam
Mandapa untuk membacakan Sutta‐sutta secara
bersama‐sama. Sepasang bhikkhu yang ditunjuk,
kemudian akan membacakan Sutta‐sutta hingga pada
Atanatiya Sutta. Adalah sebuah tradisi bahwa
Atanatiya Sutta harus dibacakan dengan suara keras
oleh empat orang Bhikkhu secara bergantian. Hingga
akhirnya, pada saat subuh menjelang, pembacaan
paritta terakhir akan dilakukan oleh semua bhikkhu
yang berkumpul tersebut. Kegiatan yang terakhir
adalah pemercikan Air Paritta dan Benang Suci.

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 9

Sutta‐sutta seperti Mangala Sutta, Ratana
Sutta (Khotbah tentang Permata‐permata) dan Metta
Sutta (Khotbah tentang cinta kasih) sangat populer di
kalangan umat Buddhis dan seringkali dibacakan
dengan penuh bakti dan keyakinan. Semua Sutta
memiliki asal mula masing‐masing pada masa
kehidupan Sang Buddha. Khotbah‐khotbah atau Suttasutta
ini merupakan hasil yang terjadi secara alami dari
berbagai tindakan Sang Buddha dalam menyelesaikan
permasalahan‐permasalahan yang Beliau jumpai
sepanjang masa hidupNya, dan orang‐orang akan
memperoleh keuntungan‐keuntungan besar dalam
melaksanakan nasehat Sang Buddha serta akan
memperoleh perlindungan sebagai buah dari
kebajikan‐kebajikan yang terkandung didalamnya.
Khotbah‐khotbah ini merupakan hasil yang terjadi
secara alami dari berbagai kejadian yang
mempengaruhi Sang Buddha dan dalam proses
campur tangannya, orang‐orang memperoleh
manfaat‐manfaat yang luar biasa berupa nasehat yang
bisa dijalankan dan memperoleh perlindungan sebagai

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 10

hasil dari kebajikan‐kebajikan yang terkandung
didalamnya.
Ratana Sutta
Ratana Sutta adalah sebuah contoh yang
sangat bagus, diantara khotbah‐khotbah seperti yang
digambarkan diatas, yang memiliki asal mula sendiri
pada masa Sang Buddha hidup di kota Vesali yang
makmur. Sutta ini dianggap sebagai sebuah Sutta yang
memiliki kekuatan besar dalam menolong penduduk
Vesali menanggulangi bencana kelaparan, makhlukmakhluk
halus jahat, dan malapetaka. Bahkan hingga
sekarang, umat Buddhis di seluruh dunia memberikan
penghormatan besar terhadap Sutta ini, membacanya
setiap hari dan memperoleh berkah serta
perlindungan darinya dalam kehidupan sehari‐hari.
Sutta ini muncul pada suatu masa, ketika kota
makmur Vesali berada pada suatu kondisi
kemerosotan dimana penduduknya terancam oleh
bencana kelaparan, makhluk‐makhluk halus jahat,
serta wabah penyakit. Malapetaka ini memuncak

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 11

hingga banyak kematian terjadi dan diperburuk
dengan para makhluk‐makhluk halus jahat yang selalu
menghantui karena tertarik pada mayat‐mayat yang
membusuk. Rasa panik menyerang kota. Pada masa
kritis tersebut, dua orang bangsawan Licchavi beserta
sekelompok besar pengikutnya pergi menemui sang
Buddha yang sedang berdiam di Rajagaha dengan
tujuan meminta pertolongannya.
Sang Buddha, setelah mendengar dukacita
dan keputusasaan mereka, dengan penuh simpati dan
belas kasih menerima undangan bangsawan tersebut.
Sang Buddha beserta serombongan besar Bhikkhu
segera meninggalkan Rajagaha menuju Vesali.
Dikatakan bahwa Yang Mulia Ananda Thera ikut dalam
rombongan ini. Setelah menyeberangi sungai Gangga,
mereka akhirnya mencapai kota. Sebuah fenomena
yang aneh terjadi. Turunlah hujan yang amat deras
menyapu dengan bersih mayat‐mayat yang telah
membusuk dari kota dan menghilangkan bau udara
yang tidak sedap. Kemudian Sang Buddha dengan
penuh welas asih membacakan Ratana Sutta untuk
penduduk kota Vesali. Yang Mulia Ananda Thera

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 12

diinstruksikan untuk mengulang membaca Ratana
Sutta untuk penduduk di seluruh penjuru kota Vesali.
Air yang telah diberkahi kemudian dipercikkan dari
mangkuk milik Sang Buddha. Oleh karena kekuatan
kebahagiaan Sutta, semua makhluk halus jahat
meninggalkan kota dan penduduk segera terbebas dari
pengaruh jahat dan keji mereka. Berakhirlah bencana
dan malapetaka pada kota tersebut.
Pemberkahan dan perlindungan yang berasal
dari Ratana Sutta yang dibacakan pada masa Sang
Buddha masih hidup, tetap dapat digunakan hingga
saat ini. Ratana Sutta yang diuraikan oleh Sang Buddha
kepada para penduduk Vesali yang sedang berkumpul
di Balai Umum sebenarnya telah diuraikan secara
persis sebanyak tak terhingga kali oleh Buddha Buddha
sebelumnya. Makna dan arti sutta ini telah dijelaskan
dalam berbagai pertemuan oleh komunitas Bhikkhu
pada masa ini dalam berbagai kesempatan. Umat
Buddhis terus memperoleh manfaat dari pembacaan
dan praktek ajaran‐ajaran yang terdapat dalam Sutta
ini.

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 13

Istilah Pali ‘Ratana’ dikenal sebagai ‘Permata
Mulia’. Dikenal demikian tertuju kepada Buddha,
Dhamma, dan Sangha. Kumpulan kebajikan‐kebajikan
dari Tiga Mustika ini mengundang para bijaksana
untuk mempraktekkan ajaran sebagai sebuah alat
untuk menyeberangi lautan kehidupan dan kematian,
menuju pada tujuan utama, Nibbana.
Dalam Permata Mulia –termuat berbagai
sifat‐sifat bajik yang dapat dipraktekkan para bijaksana
dalam kehidupan sehari‐hari mereka. Adalah melalui
pengendalian nafsu pikiran hingga sampai pada
gerbang ketenangseimbangan sebagai buah pikiran
konsentrasi, dimana jalan kematian telah dihilangkan
setahap demi setahap. Melalui perolehan insight
dengan cara setahap demi setahap menghapus
kepercayaan akan adanya roh yang kekal, keraguraguan,
dan kemelekatan pada ritual dan upacara,
para bijaksana telah sepenuhnya terbebaskan dari
empat alam menyedihkan. Makhluk bumi dan makhluk
angkasa diundang untuk membagikan berkah dan
kebahagiaan dari Khotbah Ratana. Dikatakan bahwa
bahkan Raja para dewa, Sakka, mengulang tiga syair

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 14

terakhir dari Sutta tersebut dan ikut mendatangi Sang
Buddha bersama para pengikut nya di Vesali pada saat
khotbah penutupan terakhir yang diselenggarakan di
Balai Umum.
Karaniyamettā Sutta
Sutta lain yang sama terkenal dan pentingnya
adalah Mettā Sutta (Khotbah Cinta Kasih). Khotbah ini
dikenal secara luas tidak hanya sebagai sebuah sumber
perlindungan akan tetapi juga sebagai sebuah objek
meditasi. Manfaat dari praktek cinta kasih sangatlah
tidak terbatas. Ia tidak hanya membawa berkah bagi
diri sendiri akan tetapi bagi semua makhluk di alam
semesta.
Khotbah Cinta Kasih diajarkan oleh Buddha
kepada 500 orang bhikkhu setelah banyak diantara
bhikkhu tersebut mengalami berbagai kesulitan ketika
sedang berlatih meditasi di tengah‐tengah lingkungan
yang tidak menyenangkan dalam sebuah hutan. Pada
saat yang kedua, para Bhikkhu mendekati tempat yang
sama dan melanjutkan meditasi, mereka tidak lagi

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 15

diganggu oleh para dewa. Tidak seperti sebelumnya,
para dewa yang terganggu karena para Bhikkhu
mengambil tempat mereka, kemudian merasa senang
karena vibrasi dari pancaran cinta kasih dan niat baik
yang tersebar di penjuru udara.
Dalam beberapa bagian dari Sutta tersebut,
dapat ditemukan kebajikan‐kebajikan yang hendaknya
dipraktekkan oleh siapa saja yang bersungguh‐sungguh
ingin menjalani kehidupan spiritual di tengah‐tengah
kerja keras dan perjuangan demi kehidupan bermateri.
Hal ini meliputi pikiran, ucapan, dan tindakan benar,
tanpa niat jahat, ketidakjujuran, dan kemarahan,
melainkan diisi dengan niat baik dan cinta kasih.
“Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya
melindungi anaknya yang tunggal, demikianlah
hendaknya seseorang memancarkan kasih sayangnya
tanpa batas terhadap semua makhluk”.
Dikatakan bahwa selama masa Vassa, para
bhikkhu yang pada mulanya mengalami kesulitankesulitan
dalam bermeditasi sebagai akibat dari
gangguan para dewa, mencapai tingkat arahat dengan
bantuan berkah dari Karaniyametta Sutta.

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 16

Sebuah kecaman pedas juga telah dilontarkan
kepada para bhikkhu yang menggunakan Parittaparitta,
atau membagikan pasir perlindungan, benang
dan objek‐objek penghormatan lainya untuk tujuan
perlindungan dan berkah. Bahkan para sarjana
Buddhis, ahli teori, dan para intelektual, menolak
bahwa barang dapat diisi dengan energi‐energi psikis –
walaupun kenyataannya adalah bahwa hal‐hal ini telah
didemontrasikan melalui eksperimen dalam
psychometry.
Telapatta Jātaka
Dalam Telapatta Jātaka, Sang Buddha
menceritakan sebuah kisah, mengenai salah satu
kelahiran Beliau di masa lampau, ketika Beliau
dilahirkan sebagai seorang pangeran, bagaimana ia
terlindungi dari pengaruh‐pengaruh jahat raksasa oleh
pasir perlindungan dan benang yang diberikan oleh
seorang Pacceka Buddha kepadanya. Dan dengan
bantuan benda‐benda ini bagaimana ia akhirnya

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 17

mencapai tempat tujuan dan menjadi seorang raja,
dimana kelima temannya terbunuh dalam perjalanan.
Telepatta Jataka diceritakan oleh Sang
Buddha ketika sedang berdiam di sebuah hutan dekat
kota Desaka dalam kerajaan Sumbha. Kisah nya adalah
sebagai berikut:
“Pada suatu waktu, ketika Brahmadatta
berkuasa di Benares, Sang Bodhisatta yang merupakan
putra termuda yang ke‐seratus dari sang raja, tumbuh
menjadi seorang pemuda dewasa. Pada saat itu,
terdapatlah Pacceka Buddha yang dimohon untuk
datang menerima makan siang mereka di istana, dan
sang Bodhisatta melayani mereka.
Dengan memiliki begitu banyak saudara, sang
Bodhisatta merasa cemas apakah ia akan dapat
memperoleh mahkota raja dari ayahnya dalam kota
tersebut. Dia kemudian memutuskan untuk bertanya
kepada para Pacceka buddha mengenai nasib nya dan
untuk meminta nasehat‐nasehat mereka mengenai hal
ini.
“Ketika pacceka buddha tiba di istana untuk
rutinitas sedekah mengelilingi kota mereka, sang

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 18

Bodhisatta mengurusi kebutuhan mereka, dan sambil
melakukan hal ini, ia menanyakan kepada mereka
dengan sebuah pembukaan yang sopan.
Dan Buddha menjawab, “Pangeran, kamu
tidak akan pernah menjadi raja di kota ini. tetapi di
Gandhara, dua ribu liga dari sini, berdirilah kota
Takkasila. Jika kamu mencapai kota tersebut dalam
tujuh hari maka kamu akan menjadi raja di sana.”
Meskipun demikian, mereka memperingatkan
sang Bodhisatta bahwa jalan menuju hutan besar
mengandung resiko yang besar. Raksasa‐raksasa yang
memakan daging manusia sangat banyak dan mereka
telah memasang perangkap‐perangkap yang mirip
dengan perkampungan maupun perumahan di
sepanjang jalan. Sang Buddha menambahkan bahwa
terhadap sedikit harapan untuk menghindari rute ini,
akan tetapi hal ini akan mengambil jarak dua kali lebih
jauh yaitu dengan memutari hutan sehingga si
pangeran tidak akan pernah tepat waktu untuk sampai
di Takkasila.
Setelah mendengarkan peringatan dan
nasehat Pacceka Buddha, si pangeran mendapatkan

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 19

sesuatu dari Pacceka Buddha untuk memastikan
keselamatan dan keberhasilannya dalam perjalanan.
Kemudian, setelah memperoleh seutas benang dan
pasir berkah, sang pangeran memohon pamit kepada
Buddha dan kemudian kepada orang tuanya.
Mendengar bahwa sang pangerean pergi untuk
berjuang menjadi raja di Kota Takkasila, lima orang
dari teman‐teman nya memohon untuk diperbolehkan
ikut dengannya.
“Kamu mungkin tidak akan dapat ikut dengan
saya,” jawab sang Bodhisatta; “seperti yang telah
dikatakan kepada saya, bahwa jalan yang akan
ditempuh penuh dengan para raksasa yang memikat
indera manusia, dan menghancurkan siapa saja yang
mengalah pada bujuk rayuan mereka. Sangatlah besar
bahaya yang akan dihadapi, tetapi aku akan tetap
pergi sendiri,” dia memperingatkan.
Kecantikan Para Raksasa Pemakan Manusia
Mengesampingkan peringatan sang pangeran,
kelima orang teman nya tetap ikut dalam perjalanan

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 20

tersebut, dan segera mereka semua berangkat menuju
ke Kota Takkasila. Mereka, bagaimanapun juga berjanji
kepada sang pangeran bahwa mereka tidak akan
menoleh pada bujuk rayu ancaman para raksasa dan
jatuh ke dalam perangkap mereka.
Segera mereka menemui para raksasa yang
telah menunggu di jalan dalam desa‐desa mereka.
Satu dari lima teman sang Bodhisatta, seorang
pencinta kecantikan, terpikat pada kecantikan si
raksasa dan berjalan di bagian paling belakang dari
rombongan.
“Mengapa kamu berjalan di belakang?” tanya
sang bodhisatta. Si pecinta kecantikan memberikan
alasan bahwa kakinya terluka dan meminta untuk
beristirahat di antara para raksasa tersebut.
Sebagai hasil dari menuruti inderanya, si
pecinta kecantikan akhirnya dimakan oleh si raksasa,
yang telah menggodanya. Segera, satu demi satu dari
teman‐teman sang bodhisatta jatuh kedalam
perangkap para raksasa karena kelemahan
penguasaan akan indera‐indera mereka. Mereka
adalah para pecinta musik, pecinta hal‐hal yang

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 21

berbau harum, pecinta makanan, dan terakhir pecinta
kenyamanan –kesemua dari mereka tewas dan
menjadi korban dari para raksasa.
Hanya tinggal sang Bodhisatta sendiri yang
meneruskan perjalanan. Salah seorang dari raksasa
tersebut terus mengikuti sang Bodhisatta, dengan
sangat percaya bahwa ia dapat memakan sang
Bodhisatta nantinya. Sepanjang jalan, si raksasa
membuat orang‐orang di sepanjang jalan yang dilewati
sang Bodhisatta percaya bahwa ia adalah istri dari sang
Bodhisatta. Dia bahkan pura‐pura hamil dan kemudian
terlihat seperti wanita yang telah melahirkan seorang
anak. Dengan menggendong seorang anak di pinggul,
dia mengikuti sang Bodhisatta. Pada setiap
kesempatan, sang Bodhisatta menolak tuduhantuduhan
dan menunjukkan bahwa wanita tersebut
adalah seorang raksasa.
Ketika tiba di gerbang kota Takkasila, sang
Bodhisatta memasuki sebuah rumah peristirahatan
dan duduk. Si raksasa, setelah memutuskan untuk
memakan sang pangeran, mengikutinya menuju ke
rumah peristirahatan tetapi ia tidak dapat masuk

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 22

karena kegunaan dan kekuatan dari benang dan pasir
berkah yang diberikan oleh Pacceka Buddha.
Karenanya si raksasa menampakkan dirinya dalam
bentuk kecantikan yang luar biasa dan berdiri di
ambang pintu.
Kemudian terjadilah, suatu waktu ketika Raja
Takkasila sedang dalam perjalanannya menuju ke
taman indah miliknya, beliau bertemu dengan raksasa
yang sangat cantik ini. Terpikat pada kecantikan dan
kecintaannya, sang raja mengirimkan seorang
pelayannya untuk mencari tahu apakah raksasa
tersebut telah menikah atau belum.
“Iya, Tuan, suami saya sedang duduk di balik
bilik tersebut,” si raksasa menjawab si pelayan.
“Dia bukan istriku,” tolak sang Bodhisatta.
“Dia adalah seorang raksasa dan telah memakan lima
orang teman saya.”
Dan seperti sebelumnya, si raksasa berkata,
“Oh Tuanku, seorang pria yang baik, kemarahan akan
menyebabkan laki‐laki mengucapkan apa saja yang
datang dari kepala mereka.”

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 23

Sang raja meskipun telah mendengar
informasi tersebut dari pelayannya, tidak menanggapi
ucapan sang Bodhisatta sebagai sesuatu yang serius
dan mengutus pelayannya untuk menjemput si
raksasa. Sang raja mendudukan si raksasa di atas
punggung seekor gajah dan membawanya pulang ke
istana setelah menjalani prosesi yang khidmat
mengelilingi kota. Saking terlenanya terhadap bujuk
rayu si raksasa, sang raja akhirnya menyerahkan
kekuasaan mengenai segala sesuatu di dalam istana
dan mengijinkannya untuk memerintah. Suatu malam,
ia mencuri keluar dari istana sementara sang raja
sedang tertidur lelap dan menuju ke kota bersama
serombongan raksasa lainnya. Dalam perjalanan
kembali menuju ke istana, melahap semua yang ada di
sepanjang perjalanan mereka, bahkan tidak
meninggalkan seekor burung atau seekor anjing. Si
wanita raksasa itu sendiri membunuh dan memakan
sang raja, hanya meninggalkan tulang‐tulangnya.
Keesokan harinya, rakyat kota menemukan
bahwa pintu‐pintu gerbang tertutup tatkala mereka
penuh dengan tangisan ketidaksabaran mereka. Ketika

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 24

memasuki istana, mereka menemukan tulang‐tulang
manusia berserakan di sekitarnya.
Sementara itu, sang Bodhisatta yang sedang
berdiri di rumah peristirahatan, dengan tangan
memegang pedang menunggu fajar dan terlindungi
oleh pasir berkah di kepalanya dan benang berkah
disekeliling lehernya.
Rakyat Takkasila kemudian mengadakan
pertemuan untuk menunjuk seorang raja yang baru,
dan sang Bodhisatta terpilih karena rakyat berpikir
bahwa, “seorang manusia yang dapat mengendalikan
nafsu‐nafsu indera untuk tidak terjerat pada si raksasa
yang terus mengikutinya dalam kecantikkannya yang
luar biasa, adalah seorang yang mulia dan setia,
dipenuhi dengan kebijaksanaan. Jika orang seperti ini
menjadi raja, maka ia akan dapat memerintah seluruh
penjuru kerajaan dengan baik.”
Demikianlah, sang Bodhisatta yang terpilih
menjadi raja kemudian dikawal menuju ibukota dan
kemudian dipakaikan berbagai perhiasan dan
dinyatakan sebagai raja Takkasila.

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 25

Tanya Jawab Antara Raja Milinda dan Yang Mulia
Nagasena
Menurut kitab Milindha Pañha (Pertanyaanpertanyaan
Raja Milinda), dinyatakan secara jelas
mengenai sifat dari “Makna Paritta” dan dinyatakan
juga jenis‐jenis orang yang dapat memperoleh dan
yang tidak dapat memperoleh manfaat dari paritta.
Dilema Raja Milinda dalam memahami
kekuatan pengaruh paritta dan hubungannya dengan
seseorang yang dapat dan yang tidak dapat
memperoleh manfaat darinya, terangkum dalam
percakapannya dengan Yang Mulia Nagasena sebagai
berikut:
Milinda: “Yang Mulia Nagasena, telah
dikatakan oleh Yang Terberkahi –
Tidak di dalam langit, tidak di tengah‐tengah
samudra,
Tidak di dalam belahan gunung terpencil,
Tidak ada satu pun tempat di penjuru dunia
ini,

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 26

Dapat ditemukan tempat dimana seseorang
dapat lari dari perangkap kematian.’
“Tetapi di pihak lain, peran Paritta
disebarluaskan oleh Sang Bhgava –sebagai contoh,
Ratana Sutta dan Khanda Paritta dan Mora Paritta dan
Dhajagga Paritta dan Atanatiya Paritta dan Angulimala
Paritta. Jika, Nagasena, seseorang tidak dapat
melarikan diri dari perangkap kematian, walaupun
dengan pergi ke surga, atau dengan pergi ke tengahtengah
samudra, atau dengan pergi ke istana‐istana
tertinggi yang mewah, atau bahkan ke gua‐gua atau
lungau‐lungau atau lereng‐lereng yang curam, atau
lubang‐lubang di pegunungan, maka upacara Paritta
tidaklah akan berguna. Akan tetapi apabila dengan
pembacaan Paritta maka seseorang dapat terlepas dari
kematian, maka pernyataan dalam syair yang saya
kutip tersebut adalah salah. Ini sungguh merupakan
sebuah masalah (“berkepala dua”), sungguh‐sungguh
merupakan sebuah masalah yang sulit. Saya serahkan
pertanyaan ini kepada mu dan berikanlah
penyelesaiannya.”

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 27

Nagasena: “Sang Buddha, O Raja, memang
telah mengajarkan syair yang telah Anda kutip, dan
Beliau juga mendukung upacara Paritta. Tetapi syairsyair
Paritta ini hanyalah berarti bagi mereka yang
masih memiliki sisa porsi kehidupan untuk dijalankan,
bagi mereka yang masih memiliki porsi hidup, dan
mengendalikan diri mereka dari Karma buruk. Tidak
ada satupun upacara atau sarana buatan yang dapat
digunakan untuk memperpanjang kehidupan bagi
seseorang yang masa hidup nya telah berakhir. Seperti
halnya, O Raja, sebuah batang kayu yang telah kering
dan mati, tumpul dan tidak bergetah, semua bentuk
kehidupan telah pergi meninggalkannya, telah
mencapai akhir dari waktu hidupnya, ‐Yang Mulia
dapat memberikan beribu‐ribu ember air untuk
menyiramnya, tetapi ia tidak akan pernah menjadi
segar lagi atau menumbuhkan tunas dan daun‐daun
lagi. Demikian juga halnya, tidak ada satu upacara atau
sarana buatan apapun, tidak obat‐obatan dan tidak
juga Paritta, yang dapat memperpanjang kehidupan
seseorang yang porsi hidup telah habis baginya. Semua
ilmu pengobatan di dunia menjadi tidak berguna, O

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 28

Raja, bagi orang yang seperti ini, tetapi Paritta adalah
sebuah perlindungan dan bantuan bagi seseorang yang
masih memiliki porsi hidup, yang masih penuh akan
kehidupan, dan mengendalikan diri mereka dari
berbuat karma‐karma jahat. Dan inilah kegunaan
Paritta yang telah diajarkan oleh Sang Bhagava.
Layaknya, O Raja, seorang petani menjaga butir padi
nya ketika matang dan mati dan bersiap‐siap untuk
panen dari arus air, tetapi ia membuat padi tumbuh
dengan cara memberikannya air ketika ia masih muda,
dan berwarna gelap seperti awan, dan penuh akan
kehidupan –demikian juga halnya, O Raja, maka
upacara Paritta dapat dikeluarkan dan diabaikan
dalam kasus seseorang yang telah mencapai akhir
porsi hidupnya, tetapi bagi seseorang yang masih
memiliki porsi hidup untuk dijalankan serta fisik yang
sehat dan kuat, bagi mereka syair‐syair Paritta
mungkin dapat digunakan, dan mereka akan
memperoleh manfaat darinya.”
Milinda: “Tetapi, Nagasena, jika seseorang
yang masih memiliki porsi hidup maka akan tetap
hidup, dan bagi seseorang yang telah habis porsi

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 29

hidupnya maka akan meninggal, bukankah ini berarti
bahwa obat‐obatan dan syair‐syair Paritta tidaklah
berguna.”
Nagasena: “Pernahkah Anda melihat, O Raja,
kasus dimana sebuah penyakit disembuhkan oleh
obat‐obatan?”
Milinda: “Ya, beberapa ratus kali.”
Nagasena: “Bila demikian, O Raja, pernyataan
Anda mengenai manfaat syair‐syair Paritta dan obatobatan
pastilah salah.”
Milinda: “Saya pernah melihat, Nagasena,
para dokter membagikan obat‐obatan untuk pasien
minum atau oleskan pada tubuh, dan dengan cara ini
penyakit‐penyakit tersebut dapat disembuhkan.”
Nagasena: “Demikianlah, O Raja, ketika suara
orang yang mengulang syair‐syair Paritta terdengar,
meskipun lidah menjadi kering, hati menjadi sedikit
berdentam, dan kerongkongan menjadi haus, tetapi
melalui pengulangan syair‐syair inilah maka semua
penyakit dapat dihilangkan, semua malapetaka dapat
diusir pergi. Apakah Anda pernah melihat, O Raja,
seorang laki‐laki yang digigit oleh ular kemudian diisap

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 30

racunnya (oleh ular yang telah menggigit tersebut)
atau memberikan salep di atas dan di bawah lubang
gigitan?”
Milinda: “Pernah, itu adalah hal yang biasa
terjadi di dunia saat ini.”
Nagasena: “Maka apa yang Anda katakan
bahwa syair Paritta dan obat‐obatan adalah serupa
dan tidak berguna adalah salah. Dan ketika syair
paritta telah dibacakan oleh seseorang, seekor ular,
yang telah siap untuk menggigit, akan tidak jadi
menggigitnya, melainkan menutup rahangnya – sama
halnya seperti perampok yang telah mempersiapkan
pentungannya untuk memukulNya menjadi tidak jadi
dipukulkan; mereka menurunkan pentungan dan
memperlakukanNya dengan baik –sama halnya dengan
seekor gajah yang berahi yang berlari kearahNya akan
berhenti di hadapannya –sama halnya dengan hutan
yang terbakar oleh api yang bergelora akan padam
seketika ketika berada di hadapanNya –sama halnya
dengan racun ganas yang termakan oleh Sang Buddha
akan menjadi tidak berbahaya, dan berubah menjadi
makanan –sama halnya dengan seorang pembunuh

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 31

yang berniat untuk membunuhNya kemudian bahkan
menjadi pelayannya –sama halnya dengan perangkap
yang telah diinjakNya menjadi tidak tersentuh.
“Dan lagi O Raja, apakah Anda pernah
mendengar seorang pemburu yang selama tujuh ratus
tahun gagal melempar jaringnya kepada seekor merak
yang sedang membaca syair‐syair Paritta, tetapi
kemudian berhasil pada suatu hari ketika sang merak
lupa membaca Paritta?”
Milinda: “Iya, saya telah mendengar tentang
hal tersebut. Kemasyhuran cerita itu telah menyebar
hingga ke penjuru dunia.”
Nagasena: “Maka ucapan Anda bahwa syairsyair
Paritta dan obat‐obatan tidak berguna pastilah
salah. Dan pernahkah Anda mendengar mengenai
Danava yang demi menjaga istrinya, ia memasukkan
istrinya ke dalam sebuah kotak, dan kemudian
menelannya, dan membawa istrinya di dalam perut.
Dan bagaimana Vidyadhara memasuki mulutnya, dan
bermain dengan istrinya. Dan bagaimana ketika
Danava ketika menyadari hal tersebut, memuntahkan
kotak tersebut, dan membukanya, dan pada saat ia

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 32

melakukan hal tersebut, Vidyadhara dapat melarikan
diri bersama dengan istrinya?”
Milinda: “Iya, saya telah mendengar tentang
cerita tersebut. Kemasyhuran cerita itu telah
menyebar ke seluruh penjuru dunia.”
Nagasena: “Bila demikian, bukankah
Vidyadhara dapat melarikan diri berkat kekuatan
Paritta?”
Milinda: “Iya, demikianlah yang terjadi.”
Nagasena: “Bila demikian, maka pastilah ada
kekuatan dalam Paritta. Dan pernahkah Anda
mendengar bahwa Vidyadhara lainnya yang masuk ke
tempat tinggal selir‐selir Raja Benares, dan melakukan
hubungan seksual dengan Sang Ratu, dan kemudian
tertangkap, dan kemudian menjadi tidak terlihat, dan
melarikan diri?”
Milinda: “Iya, saya telah mendengar cerita
tersebut.”
Nagasena: “Bukankah ia dapat melarikan diri
dari penangkapan karena kekuatan akan Paritta?”
Milinda: “Iya.”

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 33

Nagasena: “Karenanya, O Raja, pastilah ada
kekuatan di dalam Paritta.”
Milinda: “Yang Mulia Nagasena, apakah
Paritta merupakan perlindungan bagi setiap orang?”
Nagasena: “Bagi beberapa iya, tidak bagi
lainnya.”
Milinda: “Berarti syair‐syair Paritta tidaklah
selalu berguna?”
Nagasena: “Apakah makanan menjaga semua
orang tetap hidup?”
Milinda: “Hanya bagi beberapa orang, lainnya
tidak.”
Nagasena: “Mengapa demikian?”
Milinda: “Karena seseorang bisa meninggal
karena makan terlalu banyak, ataupun manusia
meninggal karena penyakit korela.”
Nagasena: “Kalau begitu, bukankah makanan
tidak dapat menjamin manusia untuk tetap hidup?”
Milinda: “Terdapat dua alasan seseorang
dapat meninggal meskipun ada makanan, yaitu hancur
karena mabuk di dalamnya (terhadap makanan), dan
kelemahan pencernaan. Dan bahkan makanan sehat

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 34

pun dapat menjadi teracuni oleh mantera‐mantera
jahat.
Nagasena: “Demikian juga halnya, O Raja,
Paritta dapat menjadi perlindungan bagi sebagian
orang, tetapi tidak bagi yang lainnya. Terdapat tiga
alasan mengapa Paritta tidak dapat menjadi
perlindungan –Karma Penghancur, perbuatan jahat,
dan ketidakyakinan. Paritta yang merupakan
perlindungan bagi para mahluk menjadi kehilangan
kekuatannya dikarenakan perbuatan mahluk‐mahluk
itu sendiri. Sama halnya, O Raja, seorang ibu dengan
penuh cinta merawat anak yang berada dalam
kandungannya, dan kemudian terus merawatnya
dengan penuh perhatian. Setelah kelahiran anak
tersebut, sang ibu akan menjaga anaknya bersih dari
debu, noda, dan ingus, dan meminyakinya dengan
parfum‐parfum terbaik dan termahal, dan ketika orang
lain menjelekkan atau menyerangnya maka dia akan
melawan mereka, dan dengan penuh rasa senang
menggendong anaknya sebelum ia bisa berjalan.
Tetapi ketika sang anak nakal, atau pulang terlambat,
maka sang ibu akan memukul anaknya dengan rotan

Makna Paritta
Efficacy Of Parittas 35

atau tongkat di lutut atau di tangannya. Sekarang,
pada keadaan seperti itu, akankah sang ibu membela
sang anak, menggendongnya, dan memeluknya saat
itu?”
Milinda: “Tidak.”
Nagasena: “Mengapa tidak?”
Milinda: “Karena si anak laki‐laki sedang
melakukan kesalahan.”
Nagasena: “Sama halnya, O Raja, syair‐syair
Paritta yang merupakan perlindungan bagi seseorang,
karena kesalahannya sendiri, dapat balik
menghukumnya.”
Milinda: “Sangat bagus, Nagasena! Masalah
telah terselesaikan, hutan‐hutan menjadi bersinar,
kegelapan menjadi terang, jaringan desas desus
menjadi terungkap –dan oleh dirimu, O pemimpin
terbaik dari berbagai aliran!”

LEMBAR SPONSORSHIP

Dana Dhamma adalah dana yang tertinggi
Sang Buddha
Jika Anda berniat untuk menyebarkan Dhamma, yang
merupakan dana yang tertinggi, dengan cara menyokong
biaya percetakan dan pengiriman buku‐buku dana (free
distribution), maka Dana Anda bisa dikirimkan ke :
Rek BCA : 0600410041
Cab. Pingit Yogyakarta
a.n. CAROLINE EVA MURSITO
atau
Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka
Jl. Kenari Gg. Tanjung I No. 231
Yogyakarta ‐ 55165
Telp/ Fax (0274) 542919
Keterangan lebih lanjut, hubungi :
Vidyāsenā Production
08995066277
Email : bursa_vp@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar