Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

pencerahan sidartha gautama bab 11

pencerahan sidartha gautama bab 11

(6) Satu Minggu di Danau Mucalinda (Mucalinda-sattàha)

Setelah menghabiskan tujuh hari merenungkan Dhamma di bawah pohon banyan ajapala, Buddha pindah ke pohon mucalinda (Barringtonia acutangula) di sebelah timur pohon Mahàbodhi. Di bawah pohon mucalinda, Buddha duduk bersila menikmati kebahagiaan Kearahattaan.



Raja Naga memayungi Sang Buddha dari hujan lebat di danau Mucalinda

Pada waktu itu turun hujan yang sangat lebat (hujan lebat sebelum memasuki musim hujan) selama tujuh hari. (Hujan seperti ini hanya terjadi pada dua peristiwa! Satu ketika munculnya raja dunia, dan satu lagi saat munculnya seorang Buddha.) Ketika turun hujan lebat, raja nàga yang sangat sakti dan sangat berkuasa, Mucalinda, yang memerintah alam nàga di bawah danau di sana berpikir, “Hujan lebat ini turun segera setelah Buddha berdiam di wilayahku. Baik sekali jika tempat kediaman Buddha dapat mudah ditemukan.” Raja nàga sangat sakti untuk menciptakan sebuah istana dengan tujuh jenis permata namun ia mempertimbangkan bahwa “Tidaklah sangat bermanfaat jika aku menciptakan sebuah istana besar dari permata dan mendanakannya kepada Buddha. Aku akan menyumbangkan tenagaku kepada Buddha dengan tubuhku.” Jadi ia mengubah tubuhnya menjadi besar dan melingkari tubuh Buddha dalam tujuh lingkaran dan memayungi kepala Buddha dengan kepalanya yang mengembang sehingga Buddha tidak diserang oleh dingin, panas, gigitan serangga seperti nyamuk, lalat, dan lain-lain.

(7) Satu Minggu di Bawah Pohon Ràjàyatana (Ràjàyatana sattàha)

Setelah menghabiskan tujuh hari menikmati kebahagiaan Arahatta di bawah pohon mucalinda dan ketika tiba minggu ke tujuh, Buddha beranjak dari tempat itu dan pindah ke pohon Ràjàyatana (Buchaniania latifolia) di sebelah selatan pohon Mahàbodhi dan duduk di bawah pohon menikmati kebahagiaan Kearahattaan selama tujuh hari.

Ketika telah berlalu empat puluh sembilan hari, pada hari Rabu, tanggal lima di bulan âsàëha, selagi berdiam di Ràjàyatana, Sakka datang dan mendanakan buah obat myrobalan (Terminalia citrina) karena ia mengetahui keinginan Buddha untuk mencuci muka dan membersihkan diri. Buddha menerima buah itu. Segera setelah Buddha mengambil buah tersebut, Buddha menjawab panggilan alam (buang air). Setelah itu Sakka memberikan pembersih gigi dari alam nàga, dan air dari Danau Anotatta (untuk mencuci muka). Buddha menggunakan pembersih gigi, membersihkan mulut-Nya dan mencuci muka, dengan air dari Danau Anotatta, dengan tetap duduk di bawah pohon Ràjàyatana.

Dua Pedagang Bersaudara, Tapussa dan Bhallika, Menerima Perlindungan Ganda



Seorang Dewa memberitahu Tapussa dan Bhallika keberadaan Buddha sementara empat dewa catummaharajika mempersembahkani Buddha mangkuk dibawah pohon Ket

Kemudian dua pedagang bersaudara, Tapussa dan Bhallika, sedang melakukan perjalanan dengan lima ratus kereta dari rumah mereka di Ukkalàjanapada menuju Majjhima-Desa untuk berdagang. Saat mereka tiba di jalan besar di dekat pohon Ràjàyatana, kereta-kereta itu berhenti seolah-olah rodanya tertahan oleh lumpur walaupun tanah di jalan tersebut rata dan tidak becek. Dan ketika mereka terheran-heran, “Apa penyebabnya?” dan berdiskusi, satu dewa laki-laki yang memiliki hubungan yang erat dengan kedua pedagang bersaudara tersebut dalam kehidupan lampau menampakkan dirinya secara fisik dari atas sebuah pohon dan berkata, “Anak muda, tidak lama setelah mencapai Kebuddhaan, Buddha yang tenggelam dalam kebahagiaan Kearahattaan masih berdiam di bawah pohon Ràjàyatana saat ini tanpa makan selama empat puluh sembilan hari. Anak muda, berilah hormat kepada Buddha dengan memberikan dàna makanan. Ini akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam waktu yang lama kepada kalian.”



Pedagang Tapussa dan Bhallika mempersembahkan Kue Nasi dan Gumpalan Madu pada Buddha

Mendengar hal ini, mereka menjadi sangat bergembira dan mempertimbangkan, “Butuh waktu lama untuk menanak nasi.” Mereka mendatangi Buddha dengan membawa kue nasi dan gumpalan makanan dari madu yang menjadi bekal mereka. Setelah mendekati Buddha, mereka dengan penuh hormat bersujud kepada-Nya, dan berdiam di tempat yang sesuai. “Yang Mulia, sudilah Yang Mulia menerima kue nasi kami dan gumpalan makanan madu. Penerimaan-Mu akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam waktu yang lama kepada kami.”

Buddha bertanya-tanya, “Semua saudara-Ku, Buddha-Buddha masa lampau, tidak pernah menerima dàna makanan dengan tangan Mereka. Jadi, dengan apakah Aku harus menerima kue nasi dan gumpalan makanan madu yang dipersembahkan oleh kedua pedagang bersaudara ini?” (Karena mangkuk tanah yang didanakan oleh Brahmà Ghatikàra sewaktu Beliau melepaskan keduniawian telah lenyap pada hari Beliau menerima nasi susu dari Sujàtà).

Mengetahui pikiran Buddha, empat raja dewa dari empat arah, yaitu: Dhataratta, Virulhaka, Virupakkha, dan Kuvera dengan hormat menyerahkan empat mangkuk terbuat dari batu zamrud. Tetapi Buddha menolak menerima mangkuk tersebut. Sekali lagi, empat raja dewa tersebut menyerahkan empat mangkuk dari batu (alami) berwarna hijau daun. Empat mangkuk ini diterima oleh Buddha. Dan karena welas asih-Nya kepada para raja dewa tersebut, Buddha menumpuk empat mangkuk tersebut dan berkehendak, “Semoga empat mangkuk ini menjadi satu.” Segera empat mangkuk tersebut melebur menjadi satu mangkuk bersegi empat.



Tapussa & Bhallika ; 2 Pedagang Ummat Pertama

Kemudian Buddha menerima kue nasi dan gumpalan makanan madu dengan mangkuk dan memakannya dan memberikan khotbah yang sesuai untuk kedua pedagang bersaudara tersebut. Kemudian kedua pedagang bersaudara tersebut menyatakan berlindung kepada Buddha dan Dhamma (karena Sangha belum terbentuk pada waktu itu), dan dengan demikian menjadi siswa yang hanya mengucapkan dua kata perlindungan (Devàcika-sarana) yang ditujukan kepada Buddha dan Dhamma, dengan mengucapkan,

“Kami menyatakan berlindung, Yang Mulia, kepada Buddha dan Dhamma” (Ete mayam bhante Bhagavàntam saranam gacchàma Dhamman ca). (Kedua bersaudara ini adalah siswa pertama yang menyatakan berlindung dengan mengucapkan kedua kata ini.)

Setelah itu kedua pedagang bersaudara mengajukan permohonan dengan berkata, “Buddha Yang Mulia, berikanlah sesuatu kepada kami berkat welas asih-Mu sebagai objek pemujaan kami selamanya.” Buddha mengusap kepala-Nya dengan tangan kanan-Nya dan memberikan mereka relik dari rambut-Nya sesuai permintaan mereka. Kedua bersaudara tersebut sangat gembira menerima relik rambut Buddha, seolah-olah disiram air surga. Setelah menyelesaikan perdagangan, mereka kembali dan tiba di kota mereka Pukkharavati di distrik Ukkalà di mana mereka membangun cetiya untuk memuja relik rambut yang disimpan dalam peti emas.

BUDDHA MERENUNGKAN DHAMMA

Ketika itu, hari Kamis, tanggal enam bulan âsàlha, lima puluh hari setelah mencapai Kebuddhaan pada hari Rabu malam purnama bulan Vesàkha, setelah melewatkan Sattasattàha (empat puluh sembilan hari), Buddha bangkit dari duduk-Nya di bawah pohon Ràjàyatana, kemudian berjalan kembali menuju pohon banyan Ajapàla (gembala) dan berdiam di sana duduk bersila. Selanjutnya Buddha dalam kesunyian dan ketenangan merenungkan Kelompok Dhamma, Empat Kebenaran Mulia.

Selanjutnya, dua bait yang menakjubkan, yang belum pernah didengar sebelumnya, tiba-tiba muncul dengan jelas dalam batin Buddha, yaitu:

(1) Tidak ada manfaatnya mengajarkan Dhamma Empat Kebenaran Mulia kepada dewa dan manusia, yang telah Kuperoleh dengan usaha keras mengembangkan Kesempurnaan (Pàrami) pada saat ini di saat hanya ada perasaan welas asih-Ku yang merupakan penyebab internal (ajjhattika Nidàna) tetapi belum ada permohonan dari brahmà yang dipuja oleh dunia ini (Lokagaru), yang adalah penyebab eksternal (bàhira-Nidàna); Dhamma Empat Kebenaran Mulia ini tidaklah mudah dipahami dan sangatlah sulit bagi mereka yang diliputi oleh kejahatan dan terpengaruh keserakahan dan kebencian.

(2) Semua dewa dan manusia yang diliputi oleh kegelapan batin (avijjà), sehingga mereka tidak memiliki mata kebijaksanaan, terikat kepada kenikmatan indria (kàma-ràga), kelahiran yang berulang-ulang (bhava-ràga) dan pandangan salah (ditthi ràga), tidak akan dapat melihat Dhamma Empat Kebenaran Mulia, yang halus, dalam (bagaikan air yang tertahan di dalam tanah). Sulit terlihat (bagaikan biji mostar yang terhalang oleh Gunung Meru besar), kecil bagaikan sebuah atom, dan yang membawa menuju Nibbàna melawan arus sangsàra. (Pikiran seperti ini adalah wajar, dhammatà, yang terjadi pada semua Buddha).

Buddha yang merenungkan demikian merasa segan untuk mengajarkan Dhamma karena tiga alasan berikut: (1) batin makhluk-makhluk yang penuh dengan kotoran, (2) Dhamma yang sangat dalam, dan (3) Buddha sangat meninggikan Dhamma.

Mengajarkan Dhamma hanya setelah permohonan brahmà adalah suatu peristiwa yang wajar, dhammatà, bagi setiap Buddha. Alasan dari pengajaran Dhamma setelah permohonan dilakukan oleh brahmà adalah: di luar masa berkembangnya ajaran Buddha (sebelum munculnya Buddha), mereka yang taat dan bajik, apakah ia umat awam, petapa pengembara, samaõa atau brahmaõa, hanya memuja brahmà. Oleh karena itu, jika brahmà yang dihormati di dunia memperlihatkan penghormatan kepada Buddha dengan bersujud di depan Buddha, seluruh dunia juga akan berbuat serupa, memiliki keyakinan terhadap Buddha. Untuk alasan ini, adalah suatu kebiasaan dan kewajaran bagi Buddha untuk mengajarkan Dhamma hanya setelah permohonan diajukan oleh brahmà. Demikianlah, hanya setelah bàhira Nidàna, permohonan brahmà diajukan, Buddha bersedia mengajarkan Dhamma.

Brahmà Sahampati Memohon Pengajaran Dhamma

(Brahmà Sahampati yang agung adalah seorang Thera mulia bernama Sahaka pada masa Buddha Kassapa. Dalam kapasitasnya, ia berhasil mencapai Jhàna Pertama Råpàvacara dan karena ia meninggal dunia tanpa terjatuh dari Jhàna, ia terlahir di Alam Jhàna Pertama dan menjadi Mahàbrahmà yang memiliki umur kehidupan enam puluh empat antara kappa yang setara dengan satu asaïkhyeyya kappa. Ia disebut Brahmà Sahampati di alam brahmà tersebut. Saÿyutta Atthakatthà dan Sàrattha Tikà).

Ketika Buddha masih tidak berkeinginan untuk berusaha mengajarkan Dhamma, Mahàbrahmà Sahampati berpikir, “Nassati vata bho loko! Vinassati vata bho loko!” “O teman, dunia akan binasa! O teman, dunia akan binasa!” Buddha yang layak mendapat penghormatan oleh dewa dan manusia karena telah menembus pengetahuan semua Dhamma di dunia tidak sudi mengajarkan Dhamma!” Kemudian dalam sekejap, dengan kecepatan bagaikan seorang kuat yang merentangkan tangannya yang terlipat atau melipat tangannya yang terentang, Brahmà Sahampati lenyap dari alam brahmà bersama-sama dengan sepuluh ribu Mahàbrahmà lainnya, muncul di hadapan Buddha. Pada waktu itu, Mahàbrahmà Sahampati meletakkan selendangnya (selendang brahmà) di bahu kirinya dan berlutut dengan lutut kanannya menyentuh tanah (duduk cara brahmà). Bersujud kepada Buddha dengan mengangkat kedua tangannya yang dirangkapkan dan berkata:



Maha Brahma Sahampati memohon agar Buddha sudi mengajarkan Dhamma pada semua makhluk

“Buddha yang agung, sudilah Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà. Buddha agung yang memiliki bahasa yang baik, sudilah Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà. Ada banyak makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu kotoran di mata pengetahuan dan kebijaksanaan mereka. Jika makhluk-makhluk ini tidak berkesempatan mendengarkan Dhamma Buddha, mereka akan menderita kerugian besar karena tidak memperoleh Dhamma yang luar biasa Magga-Phala yang layak mereka dapatkan. Buddha yang mulia, akan terbukti bahwa ada dari mereka yang mampu memahami Dhamma yang Engkau ajarkan.”

Kemudian lagi, setelah mengucapkan dengan bahasa prosa biasa, Mahàbrahmà juga mengajukan permohonan dalam syair seperti berikut:

“Buddha yang agung, pada masa lampau sebelum kemunculan-Mu, di Negeri Magadha, terdapat ajaran salah yang tidak suci, yang diajarkan oleh enam guru berpandangan salah, seperti Påraõa Kassapa yang dinodai oleh lumpur kotoran. Dan oleh karena itu, sudilah membuka pintu gerbang Magga untuk memasuki Nibbàna yang abadi (yang tertutup sejak lenyapnya ajaran Buddha Kassapa). Izinkan semua makhluk mendengarkan Dhamma Empat Kebenaran Mulia yang terlihat jelas oleh-Mu yang bebas dari debu kilesa.

“Buddha yang mulia dan bijaksana, yang memiliki mata kebijaksanaan yang mampu melihat segala sesuatu! Bagaikan seorang yang memiliki pandangan mata yang tajam berdiri di puncak gunung dan melihat semua orang di sekelilingnya, demikian pula Engkau, Buddha yang mulia, karena telah terbebas dari kesedihan, naik ke menara Pa¤¤à dan melihat semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà, yang terjatuh ke dalam jurang kesedihan (karena dilindas oleh kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, dan lain-lain).

“Buddha yang mulia dan memiliki kecerdasan, yang hanya mengetahui kemenangan, tidak pernah kalah, dalam semua pertempuran! Bangunlah! Buddha yang mulia, yang bebas dari hutang kenikmatan indria, yang memiliki kebiasaan membebaskan makhluk-makhluk yang ingin mendengarkan dan mengikuti ajaran Buddha, dari perjalanan sulit berupa kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian dan bagaikan pemimpin rombongan, yang mengantar mereka dengan selamat menuju Nibbàna! Sudilah, mengembara di dunia ini dan mengumandangkan Dhamma dari Buddha yang agung, sudilah, mengajarkan Empat Kebenaran Mulia kepada semua makhluk manusia, dewa, dan brahmà. Buddha yang mulia, ada makhluk-makhluk yang dapat melihat dan memahami Dhamma yang Engkau ajarkan.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar