Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

pencerahan sidartha gautama bab 12 (end)

pencerahan sidartha gautama bab 12 (end)

Buddha Mengamati Dunia Makhluk-makhluk

Ketika Brahmà Sahampati telah mengajukan permohonan untuk mengajarkan Dhamma, dua kondisi, yaitu, bàhira Nidàna dan ajjhattika Nidàna telah terpenuhi, dan kemudian Beliau mengamati dunia makhluk-makhluk dengan sepasang Mata-Buddha (Buddha-cakkhu): Pengetahuan atas keinginan tersembunyi atau kecenderungan atau sebaliknya, sifat-sifat indria (Indriya-paropariyatta Nàna).



Perumpamaan empat jenis teratai

Dalam pengamatannya, Beliau melihat jelas berbagai jenis makhluk yang berbeda-beda (seperti empat jenis bunga teratai): ada sebuah kolam yang berisi bunga teratai biru, merah, dan putih, empat jenis teratai ini—

(1) jenis bunga teratai yang hidup dalam air, tumbuh dalam air, dan masih berada di bawah permukaan air,

(2) jenis bunga teratai tumbuh dalam air, berkembang dalam air, dan akhirnya diam persis di permukaan air,

(3) jenis bunga teratai yang hidup dalam air, berkembang dalam air, dan akhirnya diam tinggi di atas permukaan air, sama sekali tidak basah dan tidak ada air yang menempel di bunga teratai tersebut. (Dari ketiga jenis bunga teratai ini, teratai no. 3 yang berada tinggi di atas permukaan air akan mekar pada hari itu juga; teratai no. 2 yang berada persis di permukaan air akan mekar keesokan harinya, dan teratai no. 1 yang masih berada di bawah air, akan mekar pada hari ketiga).

(4) Selain tiga jenis teratai ini, ada teratai jenis keempat yang tidak akan muncul di atas permukaan air dan tidak akan mekar; teratai jenis ini adalah teratai sakit dan akhirnya hanya menjadi makanan bagi ikan dan kura-kura.

Bagaikan empat jenis teratai ini, ada makhluk-makhluk yang memiliki sedikit atau sama sekali tidak ada debu kilesa di mata kebijaksanaannya; makhluk-makhluk yang memiliki banyak debu di mata kebijaksanaannya; makhluk-makhluk yang lima kelompok keyakinan, ketekunan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang tajam dan matang; makhluk-makhluk yang kelima kelompok tadi tumpul dan tidak matang; makhluk-makhluk yang memiliki watak-watak seperti keyakinan, dan lain-lain, cukup baik atau tidak cukup baik; makhluk-makhluk yang dapat dengan mudah memahami Dhamma yang diajarkan dan makhluk-makhluk yang tidak dapat memahami; makhluk-makhluk yang memandang hal-hal duniawi seperti kelompok kehidupan, semua bentuk kemelekatan, perbuatan jahat, kehendak-kehendak, dan tindakan yang akan menyebabkan kelahiran kembali, sebagai kelompok yang menakutkan dan berbahaya bagaikan musuh yang memegang pedang yang bersiap-siap untuk menyerang, dan makhluk-makhluk yang tidak memiliki pandangan seperti itu.

Setelah merenungkan dan melihat, Buddha memberikan persetujuan kepada Mahàbrahmà Sahampati dalam syair berikut:

“O Mahàbrahmà Sahampati, Aku tidak menutup pintu Magga bagi para dewa dan manusia untuk memasuki Nibbàna Abadi dan mencapai Kebebasan. (Pintu itu senantiasa terbuka). Semoga dewa dan manusia yang memiliki pendengaran yang baik (sotapasàda) memperlihatkan keyakinan terhadap-Ku.”

“O Mahàbrahmà Sahampati, Aku belum mengajarkan Dhamma mulia yang telah Kuperoleh kepada manusia, dewa, dan brahmà dalam beberapa hari ini. Hal ini karena pada waktu itu, dua Nidàna untuk mengajarkan Dhamma belum terpenuhi dan karena Aku melihat bahwa, bahkan jika Dhamma diajarkan, tidak akan bermanfaat bagi mereka, hanya melelahkan-Ku saja.”

Setelah itu, Mahàbrahmà Sahampati merasa sangat gembira dan berseru, “Buddha telah menyetujui untuk mengajarkan Dhamma!” Kemudian, setelah bersujud dan mengelilingi Buddha, ia menghilang dari tempat itu (dan pulang ke alam brahmà).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar