Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

pencerahan sidartha gautama bab 5

pencerahan sidartha gautama bab 5

SEPULUH BALA TENTARA MARA



Mara dan Bala tentaranya mendatangi Boddhisatta

(1) “Wahai Màra, ada objek-objek indria (vatthu-kàma), bergerak atau tidak bergerak, dan kotoran indria (kilesa-kàma) yang adalah kemelekatan terhadap objek-objek indria ini; dua bentuk indria ini menyebabkan para perumah tangga menjadi bodoh sehingga tidak menyadari kebenaran. Oleh karena itu, dua ini, vatthu-kàma dan kilesa-kàma adalah bala tentara pertama. Ada para perumah tangga yang mati dalam keduniawian (putthujjhana) di tengah-tengah harta duniawi (gihibhoga) karena mereka tidak dapat melepaskannya meskipun mereka mengetahui jarangnya kemunculan seorang Buddha (Buddh’uppàda dullabha) dan sulitnya menjalani hidup bertapa (pabbajitabhàva dullabha). Sebagai petapa, kebutuhan-kebutuhan seperti jubah, mangkuk, vihàra, taman, tempat tidur, dipan, selimut yang dapat dilekati dan dinikmati adalah merupakan materi-materi indria. Dan ada beberapa petapa yang mati dalam keduniawian di tengah-tengah harta benda indria milik vihàra dalam bentuk empat kebutuhan yaitu: tempat tinggal, pakaian, makanan, dan obat-obatan yang dipersembahkan oleh umat awam. Mereka meninggal dunia dengan cara demikian karena mereka tidak sanggup melepaskan harta benda tersebut meskipun mereka telah memelajari pada waktu penahbisan tentang bagaimana memanfaatkan bawah pohon sebagai tempat tinggal, jubah dari potongan-potongan kain, dàna makanan, dan menggunakan air seni sapi yang bau sebagai obat. Para perumah tangga dan petapa ini meninggal dunia saat bertemu dengan bala tentara pertama Màra yaitu indria (kàma). (Dikutip dari terjemahan nissaya dari Paddhana Sutta oleh Ledi Sayadaw.)

(2) “Walaupun mereka telah menjalani kehidupan pertapaan setelah bertekad melepaskan gilibhoga, beberapa cenderung terganggu atau dirusak oleh kebencian (arati) dan ketidakpuasan (ukkanthita) sehingga tidak merasa berbahagia menjadi petapa, tidak berbahagia dalam belajar atau berlatih, tidak berbahagia dalam bertempat tinggal di kesunyian hutan, dan tidak berbahagia dalam meditasi konsentrasi (samatha) dan meditasi Pandangan Cerah (Vipassanà). Oleh karena itu arati dan ukkanthita merupakan bala tentara kedua Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara kedua dari Màra ini.)

(3) “Walaupun beberapa petapa telah mengatasi bala tentara kedua, sewaktu menjalani praktik menyiksa diri dhutaïga, dan karena aturan-aturan keras dari dhutaïga yang memaksa mereka untuk makan makanan apa pun yang tersedia dari segala jenis yang dicampur menjadi satu. Beberapa tidak dapat makan dengan puas (seperti sapi yang haus memuaskan dahaganya sewaktu berkubang di dalam air); dan tidak terpuaskan sehingga menjadi lapar lagi, menderita bagaikan cacing tanah gila yang menggelepar jika terkena garam. Karena dahaga dan lapar, khuppipàsa, mereka menjadi tidak tertarik kepada pertapaan dan menjadi berkeinginan untuk mengambil makanan sebanyak-banyaknya. Khuppipàsa ini adalah bala tentara ketiga Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara ketiga dari Màra ini.)

(4) “Ketika mereka menderita lapar dan haus, beberapa dari mereka menjadi sangat lemah secara fisik dan batin dan menjadi sangat ketakutan. Mereka menjadi kehilangan kepercayaan diri, malas, dan tidak berbahagia. Karena kelelahan (tandi) mereka tidak mampu menjalani kehidupan pertapaan mereka. Tandi ini adalah bala tentara keempat dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara keempat dari Màra ini.)

(5) “Karena tidak mengalami kemajuan dalam usaha spiritualnya dan menjadi malas dan putus asa, mereka mulai merasa bosan dan terjatuh dalam kekecewaan. Sejak saat kemalasan dan kelembaman (thina-middha) berkembang, mereka mulai tidur-tiduran di dalam vihàra, berguling-guling dari satu sisi ke sisi lain dan tidur menelungkup. Thina-middha ini adalah bala tentara kelima dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara kelima dari Màra ini.)

(6) “Tidur yang berlebih-lebihan karena kemalasan menyebabkan kebuntuan dalam meditasi mereka dan ketumpulan dalam pikiran. Diliputi oleh kemelekatan mereka menjadi lemah dan bingung karena hal-hal sepele ini dan itu. Karena rasa takut (bhiru) berkembang dalam keguncangan dari ketakutan mereka; dan dengan hati yang bergetar mereka menganggap tunggul kayu sebagai gajah, seekor macan sebagai raksana. Bhiru ini adalah bala tentara keenam dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara keenam dari Màra ini.)

(7) “Walaupun mereka berlatih meditasi setelah mengatasi rasa takut dan memperoleh dorongan melalui latihan, jalan untuk mencapai Jhàna dan mencapai Magga telah tenggelam. Karena keraguan (vicikicchà) berkembang dan mereka tidak yakin apakah mereka telah berada pada Jalan atau tidak, berada dalam praktik maupun teori. Keraguan (vicikicchà) ini adalah bala tentara ketujuh dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara ketujuh dari Màra ini.)

(8) “Setelah berhasil melenyapkan vicikicchà, beberapa orang terus menerus berusaha siang dan malam tanpa putus. Begitu tanda-tanda tidak lazim muncul dalam meditasi mereka, mereka mulai menganggap tinggi diri mereka. Karena keangkuhan dan kesombongan (makkha-thamba) mereka berkembang, mereka tidak dapat menerima pendapat orang lain; mereka merusak reputasi baik mereka; mereka tidak menghormati saudara tua mereka; bersikap tidak sabar. Makkha-thamba ini adalah bala tentara kedelapan dari Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara kedelapan dari Màra ini.)

(9) “Jika mereka meneruskan bermeditasi, setelah melenyapkan makkha-thamba, mereka bahkan melihat lebih banyak tanda-tanda yang tidak lazim dan menjadi bangga akan kemajuan yang mereka muncul sebagai berikut: mereka menjadi gembira dan bersukacita karena memperoleh banyak hadiah; mereka gembira dan bersukacita karena terkenal di empat penjuru; mereka gembira dan bersukacita karena memperoleh hal-hal menakjubkan yang tidak pernah dialami oleh orang lain; dan mereka gembira dan bersukacita karena kemasyhuran dan pengikut yang banyak yang diperoleh melalui khotbah-khotbah mengenai ajaran yang salah dan keangkuhan yang diperlihatkan melalui keinginan jahat dan kemelekatan untuk meningkatkan keuntungan mereka. Kelompok faktor-faktor taõhà-màna adalah bala tentara kesembilan Màra. (Beberapa petapa mati tenggelam dalam lautan bala tentara kesembilan dari Màra ini.)

(10)“Beberapa petapa yang menghadapi sembilan kelompok di atas mempraktikkan pemujaan dan penghormatan diri sendiri yaitu; mereka selalu mencela (att’uukkamsa) dan merendahkan orang lain (paravambhana). Dua ini, att’uukkamsa dan paravambhana, adalah bala tentara kesepuluh Màra.

“Wahai Màra, Engkau yang dengan kekuatan menghalang-halangi Pembebasan manusia, dewa, dan brahmà dari lingkaran penderitaan dan Engkau yang memiliki kekuatan yang besar! Sepuluh faktor ini yaitu kamà, arati, dan lain-lain, yang adalah pemimpin bala tentaramu. Wahai Màra, hatimu yang bukan putih tetapi hitam legam, dan penuh dengan kemelekatan yang sangat kuat! Mereka juga adalah senjatamu, meriammu, dan bahan peledakmu yang membunuh para petapa dalam perjalanannya. Para umat awam yang memiliki keyakinan, kemauan, usaha, dan kebijaksanaan yang rendah dan memiliki sedikit dorongan untuk dapat mengalahkan seranganmu dan menjauhkan diri darinya. Hanya mereka, para petualang sejati, yang memiliki keyakinan, kemauan, usaha, dan kebijaksanaan yang besar, tidak akan menganggap engkau bahkan sebagai sehelai rumput; mereka dapat bertarung bertahan dan melarikan diri. Pelarian diri ini setelah bertarung dan mempertahankan diri dapat mengantar menuju kebahagiaan Jalan dan Buahnya, Nibbàna, dari ancaman pedang, tombak dan senjata-senjata lainnya milik para pasukan dari sepuluh bala tentaramu, duhai Màra Jahat.”

“Wahai Màra, Aku ingin engkau mengenal-Ku sebagai berikut:

‘Pangeran Siddhattha ini, sebagai manusia mulia, pahlawan sejati, setelah tiba di medan pertempuran, tidak akan mundur selangkahpun; Beliau adalah seorang jenderal yang memakai hiasan bunga keberanian di kepala-Nya, bunga rumput mu¤ja yang dianggap sebagai pertanda baik dan berani, spanduk, dan bendera kemenangan. (Biasa dipakai oleh pejuang-pejuang berani, yang tidak mengenal mundur, yang mengikatkan rumput-rumput mu¤ja di kepalanya, di bendera (spanduk)nya atau senjatanya untuk menunjukkan bahwa ia adalah pemberani yang tidak mengenal mundur. Bagaikan pemimpin pasukan yang disebut jenderal). Jika Aku harus mundur dari medan pertempuran dan dikalahkan olehmu dan tetap hidup di dunia, hal demikian sangatlah memalukan, merusak, tidak terhormat, dan menjijikkan. Oleh karena itu, kenalilah Aku sebagai seseorang yang menyakini: ‘Lebih baik mati di medan pertempuran daripada menyerah di depan bala tentaramu.’

‘Karena di dunia ini, beberapa petapa dan brahmana yang maju ke medan perang di garis depan dengan mengenakan jubah kuning dan melengkapi diri mereka dengan perlengkapan-perlengkapan sebagai senjata perang tetapi tidak memiliki kekuatan yang mampu mengalahkan sepuluh bala tentaramu. Dengan demikian mereka bagaikan memasuki kegelapan total tanpa mempersiapkan cahaya seperti kebajikan moralitas, dan lain-lain. Ketika mereka diserang oleh sepuluh bala tentaramu, Màra, tanpa alat apa pun mereka dapat mengetahui jalan permata Roda Dhamma yaitu, Tujuh Faktor Pencerahan Sempurna (Bojjhanga) yang merupakan jalan mulia yang dijalani oleh para Buddha, Pacceka Buddha, dan para mulia lainnya dalam mencapai Nibbàna. (Oleh karena itu Aku ingin engkau menganggap-Ku sebagai seseorang yang akan bertempur dan menghancurkan sepuluh bala tentaramu dan mengibarkan bendera kemenangan.)’”

Mendengar kata-kata berani yang diucapkan oleh Bodhisatta, Màra pergi dari tempat itu tanpa bisa memberikan jawaban apa-apa.

PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN SETELAH MENGUBAH CARA BERLATIH

Setelah Bodhisatta menyelesaikan praktik penyiksaan diri, dukkaracariya, selama enam tahun, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, saat itu adalah awal bulan Vesàkha (April-Mei) setelah bulan Citta (Maret-April) tahun 103 Mahà Era. Pada waktu itu Bodhisatta berpikir:

“Para samana dan brahmana pada masa-masa lampau dalam praktik penyiksaan diri hanya mampu melewati penderitaan sekeras ini. Mereka tidak mampu melewati penderitaan yang lebih keras dari yang Kualami sekarang. Para samana dan brahmana sekarang juga mempraktikkan penyiksaan diri sekeras apa yang Kualami sekarang. Mereka tidak dapat melewati lebih dari apa yang Kualami sekarang. (Kerasnya usaha yang Kulakukan tidak mungkin berkurang bahkan bisa lebih dari kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh para samaõa dan brahmana pada masa lampau, pada masa depan, dan masa sekarang. Aku telah berusaha keras mempraktikkan penyiksaan diri dengan sungguh-sungguh selama enam tahun.)

Meskipun Aku telah berusaha sungguh-sungguh dengan cara demikian, Aku tetap tidak mencapai Pencerahan Sempurna, Sabbannuta Nàna; Aku belum menembus Ke-Buddha-an. Mungkin ada cara lain untuk mempraktikkan jalan lain untuk mencapai Pencerahan Sempurna, Sabbannuta Nàna, untuk menembus Kebuddhaan.”

Pada waktu merenungkan demikian, Beliau teringat bahwa Beliau pernah mengembangkan dan mencapai Jhàna Pertama ànàpàna ketika duduk di bawah keteduhan pohon jambu (Eugenia jambolana) sewaktu upacara pembajakan sawah yang diselenggarakan oleh ayah-Nya, Raja Suddhodana, Beliau menyadari kemudian bahwa praktik Jhàna Pertama ànàpàna pasti adalah jalan yang benar, cara yang benar untuk mencapai Sabbannuta Nàna (Ke-Maha-Tahu-an), penembusan Kebuddhaan. Beliau merenungkan lebih jauh, “Mengapa Aku takut akan kebahagiaan Jhàna yang diperoleh dari meditasi konsentrasi ànàpàna; itu adalah kebahagiaan yang muncul secara murni dari melepaskan keduniawian (nekkhamma) dan sama sekali tidak melekat pada objek-objek nafsu materi dan kenikmatan indria. Aku seharusnya tidak takut akan kebahagiaan Jhàna dari meditasi konsentrasi ànàpàna.”

Beliau kembali merenungkan, “Aku tidak akan mampu mengembangkan meditasi konsentrasi ànàpàna itu dengan tubuh-Ku yang lelah dan lemah ini. Lebih baik jika Aku memakan makanan yang padat dan kasar seperti nasi untuk memulihkan dan menyegarkan tubuh yang kurus ini sebelum Aku berusaha mencapai Jhàna melalui meditasi konsentrasi ànàpàna.”

Setelah mempertimbangkan demikian, Bodhisatta mengambil mangkuk-Nya pergi ke Kota Sena untuk mengumpulkan dàna makanan untuk memulihkan tubuh-Nya dengan makanan apa pun yang Beliau terima. Dalam dua atau tiga hari Beliau memperoleh kembali kekuatan dan tanda-tanda fisik utama dari seorang manusia luar biasa (Mahàpurisa Lakkhanà) yang telah lenyap saat Beliau mempraktikkan dukkaracariya dan kemudian muncul kembali dengan jelas dalam bentuk aslinya. Pada waktu itu tubuh fisik Bodhisatta terlihat kuning segar seperti warna emas.

BODDHISATTA MENINGGALKAN PENGIKUT-NYA KELOMPOK LIMA BIKKHU ( PANCAVAGGIYA )

Adalah ciri alami (dhammatà), bahwa ketika seorang Bodhisatta mendekati mencapai Kebuddhaan setelah menyelesaikan praktik dukkaracariya, para bhikkhu pelayan-Nya akan meninggalkan-Nya untuk alasan tertentu atau Bodhisatta meninggalkan mereka. Demikianlah, ketika Bodhisatta mulai memulihkan tubuh-Nya dengan berbagai makanan, nasi kasar, dan lain-lain yang Beliau terima, kelompok lima bhikkhu tersebut menjadi muak dan menggerutu, “Bhikkhu Gotama telah menjadi seseorang yang berlatih untuk memperoleh kekayaan materi; Beliau telah menjadi orang yang meninggalkan latihan meditasi dan kembali mengumpulkan materi.”

Mengikuti ciri alami tersebut, mereka meninggalkan Bodhisatta dan pergi menuju Isipatana, Taman Rusa, dekat Vàràõasã, di mana khotbah pertama, Roda Dhamma, disampaikan oleh semua Buddha. (Adalah ciri-ciri bahwa para bhikkhu pelayan akan meninggalkan Bodhisatta yang dalam waktu menjelang tercapainya Kebuddhaan dan pergi menuju Taman Rusa di mana semua Buddha akan menyampaikan khotbah pertama, Dhammacakka).

Kelompok lima bhikkhu meninggalkan Bodhisatta pada awal bulan Citta dan pindah ke Migadàya, Taman Rusa. Waktu itu sebenarnya adalah tepat pada waktu Bodhisatta telah menyelesaikan latihan dukkaracariya. Ketika para pelayan bhikkhu meninggalkan-Nya, Bodhisatta hidup menyendiri memperoleh tingkat kesunyian yang mendukung kemajuan dan memperkuat konsentrasi-Nya. Demikianlah Beliau hidup dalam kesunyian total selama lima belas hari, dan mempraktikkan meditasi dan memperoleh kemajuan. Bodhisatta mulia bermimpi lima mimpi luar biasa setelah tengah malam menjelang fajar pada tanggal empat belas di bulan Vesàkha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar