Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

pencerahan sidartha gautama bab 6

pencerahan sidartha gautama bab 6

LIMA MIMPI BODDHISATTA

(1) Beliau bermimpi bahwa Beliau sedang tertidur di atas permukaan tanah, dengan Pegunungan Himalaya sebagai bantalnya, tangan kiri-Nya di Samudra Timur, tangan kanan-Nya di Samudra Barat dan kedua kaki-Nya di Samudra Selatan. Mimpi pertama menandakan pencapaian Kemahatahuan, menjadi Buddha di antara manusia, dewa, dan brahmà.

(2) Beliau bermimpi bahwa sejenis rumput yang disebut tiriya dengan tangkai merah berukuran sebuah gandar sapi muncul dari pusar-Nya dan sewaktu Beliau melihat, rumput tersebut tumbuh, pertama berukuran setengah lengan, kemudian satu lengan, satu fathom (1 fathom = 1.8 meter), satu ta, satu gavuta, setengah yojanà, satu yojanà dan seterusnya. Tumbuh tinggi dan lebih tinggi hingga mencapai langit, angkasa luas, seribu yojanà ke atas dan diam di sana. Mimpi kedua ini menandakan bahwa Beliau akan mampu mengajar Jalan Berfaktor Delapan, (Atthangika Magga), yang adalah Jalan Tengah (Majjhima Patipadà), kepada umat manusia dan dewa.

(3) Beliau bermimpi, ada sekumpulan ulat berbadan putih dan kepala hitam perlahan-lahan merayap ke atas kaki-Nya, menutupi dari ujung kaki hingga ke lutut-Nya. Mimpi ketiga ini menandakan banyaknya orang (berkepala hitam) yang mengenakan pakaian putih menghormati dan berlindung (Màhasaranàgaåmana) kepada Buddha.

(4) Beliau bermimpi, empat jenis burung berwarna biru, keemasan, merah, dan abu-abu terbang datang dari empat penjuru dan sewaktu mereka turun dan berdiri di atas kedua kaki-Nya, semua burung-burung itu berubah menjadi putih. Mimpi keempat menandakan kasta-kasta dari empat kasta dalam masyarakat, yaitu, kasta kesatria, ajaran Buddha, menjadi bhikkhu dan mencapai Kearahattaan.

(5) Beliau bermimpi bahwa Beliau sedang berjalan mondar-mandir, ke sana kemari di setumpukan kotoran setinggi gunung tanpa menjadi kotor. Mimpi kelima ini menandakan perolehan empat kebutuhan, yaitu: jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan, dan memanfaatkannya tanpa terikat dan melekat pada mereka.

BODDHISATTA MENAFSIRKAN LIMA MIMPI-NYA SENDIRI

Bodhisatta, bangun dari tidur-Nya dan duduk bersila setelah mengalami lima mimpi ini kemudian berpikir; “Jika Aku mengalami mimpi ini sewaktu masih berada di Kota Kapilavatthu, Aku dapat menceritakannya kepada ayah-Ku Raja Suddhodana; Aku dapat menceritakannya kepada ibu-Ku jika ia masih hidup, di Hutan Uruvela, tidak ada yang akan mendengarkan mimpi-Ku dan menafsirkannya untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membaca pertanda ini.”

Dan kemudian, Beliau menafsirkan-Nya sebagai berikut: Mimpi pertama menandakan pencapaian manfaat ini dan itu; mimpi kedua menandakan manfaat ini dan itu dan seterusnya seperti yang telah dijelaskan di atas.

DANA NASI SUSU GHANA OLEH SUJATA



Dana Nasi Susu Ghana dari Sujata

Setelah mengalami lima mimpi dan menafsirkan sendiri mimpi tersebut, Bodhisatta berkesimpulan:” Pasti Aku akan mencapai Kebuddhaan hari ini juga.” Dan pada saat fajar menyingsing (pagi hari purnama), Beliau membersihkan badan-Nya dan pergi dari tempat itu, dan ketika Beliau tiba di pohon banyan yang setiap tahunnya dikunjungi oleh Sujàtà, putri seorang kaya, Beliau berhenti dan duduk di bawah pohon itu menghadap ke timur sambil menunggu waktu untuk mengumpulkan dàna makanan, dan pada saat itu seluruh pohon banyan itu bersinar terang dengan cahaya yang memancar dari tubuh-Nya.

Pada waktu itu, di Kota Sena, yang terletak di tepi Hutan Uruvela, Sujàtà, putri seorang kaya bernama Senàni, saat usianya menginjak dewasa, berdoa di bawah pohon banyan, “O dewa penjaga pohon banyan, jika aku menikah dengan seorang kaya dari kasta yang sama, aku akan mempersembahkan dàna nasi susu ghana.” Doa Sujàtà telah terkabul. Jadi putri orang kaya, Sujàtà menepati janjinya untuk mempersembahkan nasi susu ghana pada hari purnama di bulan Vesàkha setiap tahunnya.

Persiapan yang dilakukan oleh Sujàtà untuk mengadakan upacara persembahan kepada dewa penjaga pohon banyan pada hari purnama di bulan Vesàkha ketika Bodhisatta telah menyelesaikan enam tahun praktik dukkaracariya adalah sebagai berikut:

(1) Pertama-tama ia membiarkan seribu ekor sapi susu merumput di hutan, kemudian susu yang diperoleh dari seribu ekor sapi susu ini diberikan sebagai makanan bagi lima ratus sapi susu lainnya.

(2) Susu yang berasal dari lima ratus sapi susu itu, diberikan sebagai makanan bagi dua ratus lima puluh sapi susu lainnya lagi.

(3) Susu yang berasal dari dua ratus lima puluh sapi susu itu, diberikan sebagai makanan bagi seratus dua puluh lima sapi susu lainnya lagi

(4) Susu yang berasal dari seratus dua puluh lima sapi itu diberikan sebagai makanan kepada enam puluh empat sapi susu lainnya.

(5) Susu yang berasal dari enam puluh empat sapi itu diberikan sebagai makanan kepada tiga puluh dua sapi susu lain.

(6) Susu yang berasal dari tiga puluh dua sapi itu diberikan sebagai makanan bagi enam belas sapi lain.

(7) Susu yang berasal dari enam belas sapi susu itu, diberikan sebagai makanan bagi delapan sapi lain.

Demikianlah, Sujàtà mengambil langkah-langkah ini untuk memperoleh susu yang lezat dan bergizi untuk membuat nasi susu.

Dengan tujuan, “Aku akan melakukan persembahan nasi susu ghana pagi-pagi hari ini.” Sujàtà bangun pagi-pagi pada hari purnama di bulan Vesàkha kemudian memerah delapan sapi susu itu. Anak-anak sapi (yang tidak diikat dengan tali) tidak berani mendekati sapi-sapi ibunya. Anehnya ketika mangkuk susu ditempatkan tepat di bawah ambing sapi, susu mengalir deras terus menerus meskipun tidak diperah. Sujàtà, menyaksikan peristiwa ajaib ini, mengulurkan tangannya menuangkan susu yang mengalir terus-menerus tersebut ke dalam kendi baru dan menyalakan api dengan tangan lainnya, mulai memasak nasi susu ghana.

BANTUAN DARI PARA DEWA DAN BRAHMA

Saat nasi susu ghana sedang dimasak, (1) gelembung-gelembung besar bermunculan banyak berputar searah jarum jam, namun tidak setetes pun tumpah; (2) tidak ada asap sedikit pun yang naik ke atas tungku; (3) empat raja dewa, penjaga dunia datang dan berdiri menjaga tungku; (4) brahmà agung menutupi kendi nasi susu ghana dengan payung; (5) Sakka mengatur kayu-kayu bakar merata agar api menyala dengan merata; (6) dengan kekuatan batinnya para dewa mengumpulkan bahan-bahan makanan bergizi tinggi yang biasanya dimakan oleh dewa dan manusia dari empat benua dan dua ribu pulau-pulau kecil di sekelilingnya; mereka melakukan hal itu seolah-olah mengumpulkan madu dari sarang lebah yang tergantung di dahan-dahan pohon; dan mereka menuangkan bahan-bahan makanan bergizi yang terkumpul ini ke dalam panci nasi susu ghana.

Melihat banyak keajaiban dalam sehari seperti yang dijelaskan di atas, di tempat di mana nasi susu tersebut dimasak, Sujàtà memanggil pelayannya, Punnà, dan memerintahkan, “Punnà, hari ini dewa penjaga pohon banyan, sedang berbaik hati. Selama dua puluh tahun ini, aku belum pernah menyaksikan peristiwa-peristiwa ajaib ini. Cepat pergi bersihkan pohon banyan, tempat tinggal dewa penjaga.” Punnà si pelayan menjawab, “ Baiklah, Nyonya.” Ia segera pergi ke dekat pohon dan melihat Bodhisatta duduk di bawah pohon menghadap ke timur dan melihat seluruh pohon bercahaya kuning keemasan dengan cahaya yang terpancar dari tubuh Bodhisatta. Ketakutan dan berpikir, “Hari ini dewa penjaga pohon banyan telah turun ke bawah pohon; kelihatannya Beliau duduk di sana untuk menerima dàna dengan tangannya sendiri.” Ia tergesa-gesa kembali ke rumah dan melaporkan hal ini kepada Sujàtà.

Mendengar kata-kata pelayannya, Sujàtà menjadi sangat gembira dan berkata, “Sejak hari ini, engkau menjadi putri tertuaku,” kemudian memberikan pakaian dan perhiasan yang sesuai sebagai seorang anak perempuan.

Sudah menjadi tradisi (dhammata) bagi seorang Bodhisatta untuk menerima persembahan nasi susu ghana pada hari Beliau akan mencapai Kebuddhaan; dan menerima makanan ini hanya menggunakan cangkir emas seharga satu lakh. Sujàtà, berpikir, “Aku harus menempatkan nasi susu ghana ini dalam cangkir emas,” mengambil sebuah cangkir berharga satu lakh dari dalam kamarnya. Kemudian ia menuangkan nasi susu ghana yang telah matang ke dalam cangkir dengan memiringkan pancinya. Semua nasi susu ghana tersebut masuk ke dalam cangkir sampai tetes terakhir bagaikan tetesan air yang mengalir dari daun teratai paduma. Seluruh nasi susu ghana mengisi cangkir tersebut sampai penuh, tidak lebih tidak kurang.

Cangkir emas berisi nasi susu ghana tersebut ditutup dengan sebuah cangkir emas yang lain lagi dan dibungkus dengan kain putih yang bersih. Dan setelah berdandan dan menghias diri dengan pakaian lengkap, ia membawa cangkir emas di atas kepalanya dan pergi ke dekat pohon banyan. Ia sangat gembira melihat Bodhisatta dan menganggapnya sebagai dewa penjaga pohon banyan, ia berlutut penuh hormat. Kemudian ia menurunkan cangkir emas dari kepalanya, membukanya dan membawa cangkir emas harum, dan mendekati Bodhisatta dan berdiri di dekat-Nya.



Sujata mempersembahkan Dana Nasi Susu Ghana

Mangkuk tanah liat, yang dipersembahkan kepada Bodhisatta oleh Brahmà Ghatikàra pada waktu melepaskan keduniawian dan dengan setia menemani-Nya selama enam tahun dukkaracariya, menghilang secara misterius pada saat istri orang kaya, Sujàtà datang memberikan nasi susu ghana. Karena tidak melihat mangkuk-Nya, Bodhisatta mengulurkan tangan kanan-Nya untuk menerima dàna tersebut. Sujàta menyerahkan dàna makanan ghana dalam cangkir emas dan meletakkannya di tangan Bodhisatta. Bodhisatta menatap Sujàtà, yang memahami maksud tatapan tersebut, kemudian Sujàtà berkata, “ O Yang Mulia, aku mendanakan nasi susu dalam cangkir emas, terimalah beserta cangkir emas ini dan pergilah ke mana pun Engkau suka.” Kemudian ia mengucapkan doa, “Keinginanku telah terkabul, semoga keinginan-Mu terkabul pula!” Kemudian ia pergi tanpa sedikit pun memikirkan cangkir emas seharga satu lakh tersebut seolah-olah hanya sehelai daun kering.

Bodhisatta juga bangkit dari duduk-Nya, setelah mengelilingi pohon banyan dengan hormat, Beliau berjalan menuju tepi Sungai Neranjarà, membawa cangkir emas berisi nasi susu ghana. Di Sungai Neranjarà terdapat sebuah tangga bernama Suppatitthita, tempat banyak Bodhisatta turun dan mandi pada hari pencapaian Kebuddhaan. Bodhisatta meninggalkan cangkir emas-Nya di tangga, setelah selesai mandi, Beliau naik dan duduk menghadap ke timur di bawah keteduhan sebatang pohon. Kemudian, Beliau menyiapkan empat puluh sembilan gumpalan nasi susu ghana, tidak lebih tidak kurang, berukuran sebesar biji kacang palmyra (bukan sebesar kacang palmyra) dan kemudian memakan semuanya tanpa meminum air. Gumpalan nasi susu ghana tersebut akan menjadi nutrisi (àhàra) untuk mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh-Nya selama empat puluh sembilan hari (sattasattàha), kemudian berdiam di sekeliling pohon Bodhi setelah mencapai Pencerahan Sempurna. Selama empat puluh sembilan hari, Buddha diam dalam kebahagiaan Jhàna dan buahnya, tanpa memakan makanan apa pun, tanpa mandi, tanpa mencuci muka, dan tanpa membersihkan tubuh-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar