Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Persetujuan Dhamma (Saṁyutta Nikāya VI. 1) oleh "Bhikkhu Indadhiro"

Persetujuan Dhamma

Namo Tassa Bhagavāto Arahato Sammāsambuddhassa

”Terbukalah pintu gerbang tanpa-kematian (Amata) bagi mereka yang dapat mendengar, dan mempunyai keyakinan”

(Saṁyutta Nikāya VI. 1)

Ketika Sang Bhagavā baru saja mencapai Penerangan Sempurna, ketika Beliau sedang sendirian di tepi sungai Nerañjara, jalan pikiran ini muncul dalam benak Beliau:

”Dhamma yang telah Ku capai ini dalam, sulit dilihat, sulit disadari, damai, halus, melampaui jangkauan penalaran, lembut, hanya dapat dialami oleh orang bijaksana.”





”Namun generasi ini bergembira dalam kemelekatan, bergairah oleh kemelekatan, menyenangi kemelekatan. Bagi sebuah generasi yang bergembira dalam kemelekatan, bergairah oleh kemelekatan, menyenangi kemelekatan, sulit untuk melihat Sebab-musabab yang Saling Bergantungan (Paṭiccasamuppàda). Keadaan ini pun sulit untuk dilihat, yaitu diamnya semua kondisi, lepasnya segala keberadaan, lenyapnya kehausan, tiadanya nafsu, penghentian, Nibbāna.”

”Dan, bila aku mengajarkan Dhamma, dan bila orang-orang lain tidak mampu mengerti, itu akan melelahkan-Ku, menyulitkan-Ku."

Kemudian saja syair-syair ini, yang tidak pernah diucapkan pada masa lampau, yang tidak pernah didengar sebelumnya, timbul pada Sang Bhagavā:

”Mengapa kini mengajarkan apa yang sulit Ku capai. Dhamma ini tak mudah disadari oleh mereka yang takluk pada kebencian dan nafsu.”

”Apa yang halus, lembut, dalam, sulit untuk dilihat, yang pergi melawan arus -mereka yang bergembira dalam nafsu, terselubung dalam kegelapan total, takkan mampu melihat.”

Ketika Sang Bhagavā merenung demikian, pikirannya condong untuk tidak mengajarkan Dhamma. Kemudian Brahma Sahampati, setelah mengetahui dengan benaknya sendiri jalan pikiran dalam benak Sang Bhagavā, berpikir:

”Dunia kehilangan! Dunia runtuh! Pikiran dari Sang Tathāgata, Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna condong untuk berdiam dalam kenyamanan, untuk tidak mengajarkan Dhamma!”

Kemudian, seperti seorang laki-laki yang kuat bisa menjulurkan lengannya yang terlipat atau melipat lengannya yang terjulur, Brahma Sahampati lenyap dari alam Brahma dan muncul di hadapan Sang Bhagavā.

Mengatur jubah atasnya menutup satu bahu, ia berlutut dengan lutut kanannya di atas tanah, memberi hormat pada Sang Bhagavā dengan tangannya di depan dada, dan berkata:

"Bhante, sudilah Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma! Sudilah Sang Sugata mengajarkan Dhamma! Ada makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu di mata mereka. Ajarkanlah Dhamma demi kasih sayang kepada mereka."

Setelah mengatakannya, Brahma Sahampati melanjutkan demikian:

”Pada masa lampau di Magadha muncul Dhamma kotor yang ditemukan oleh orang bernoda. Bukakanlah pintu ketidakmatian (Amata)! Biarkanlah mereka mendengar Dhamma yang disadari oleh Yang Tak Bernoda!”

”Seperti layaknya orang berdiri di atas karang dapat melihat orang-orang sekitar di bawahnya, maka, O Yang Bijaksana, dengan melihat ke sekitar, dakilah istana yang diciptakan Dhamma. Bebas dari dukacita, pandangilah orang-orang yang terbenam dalam duka-cita, yang terhimpit oleh kelahiran dan penuaan.”

”Bangunlah, O Pahlawan, pemenang pertempuran! O Guru, mengembara tanpa beban dalam dunia. Ajarkanlah Dham-ma, O Sang Bhagavā, akan ada mereka yang bisa mengerti.”

Kemudian Sang Bhagavā, setelah memahami undangan Brah-ma, didorong rasa welas asih kepada makhluk-makhluk, menin-jau dunia dengan mata seorang Buddha.

Ketika melakukannya, Beliau melihat makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu di mata mereka dan yang banyak debu, yang memiliki daya-daya yang tajam dan yang tumpul, yang memiliki sifat-sifat yang baik dan yang buruk, yang mudah diajar dan yang sulit, beberapa dari mereka melihat aib dan bahaya di dunia seberang.

Seperti bunga teratai, beberapa tidak dapat muncul ke permukaan air; beberapa dapat berdiri pada tingkat yang rata dengan air; beberapa dapat muncul ke permukaan dan berdiri tanpa dilumuri oleh air.

Setelah melihat ini, Beliau menjawab Brahma Sahampati da-lam syair:

”Terbukalah pintu gerbang tanpa-kematian (Amata) bagi mereka yang dapat mendengar, dan mempunyai keyakinan. Men-cerap kesulitan, O Brahma, Aku dulu tidak mengajarkan umat manusia Dhamma yang halus, agung.”

Kemudian Brahma Sahampati berpikir,

”Sang Bhagavā telah memberi persetujuannya untuk mengajar Dhamma," memberi hormat kepada Sang Bhagavā dan, mengitari Beliau di sebelah kanan, lenyap dari sana.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar