Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Memahami Tujuan Hidup (Dhammapada 112) oleh "Bhikkhu Chandaviro "

Memahami Tujuan Hidup

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Yo ca vassasataṁ jῑve, kusῑto hῑnavῑrῑyo

Ekāhaṁ jῑvitaṁ seyyo, vῑriyaṁ ārabhato daḷhaṁ

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan tidak bersemangat,

maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang berjuang dengan penuh semangat.

(Dhammapada 112)

Sampai sekarang ini mungkin kita sering melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas sehingga hasilnya pun tidak begitu memuaskan. Sebagai contoh: pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa saya datang ke vihara? Untuk apa saya pergi ke vihara? Atau mungkin ada orang lain bertanya kepada kita, untuk apa anda pergi ke vihara?

Jika diri kita saja tidak tahu jawabannya, maka berarti apa yang kita lakukan selama ini tidak punya tujuan yang jelas. Jika kita melakukannya tanpa tujuan yang jelas, berarti kita melakukannya sesuka hati kita, akhirnya tidak ada semangat dan motivasi dalam berbuat kebajikan.

Contoh yang lain adalah: seperti kita bekerja, kita sekolah, kita berbisnis, dan lain sebagainya. Jika kita kerja tanpa tujuan, maka kita bekerja semau kita, tetapi kalau mengerti tujuan bekerja, berbisnis, sekolah dan lain-lain tadi adalah untuk mencapai kebahagiaan hidup, mencapai kesejahteraan hidup, maka kita akan bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya.

Sebagai umat awam yang belum menikah, mungkin punya keinginan untuk mencari pasangan hidup. Dan jika dia tidak mengerti lebih jauh untuk apa mencari pasangan hidup, berarti tidak ada hal yang harus dicapai dalam hidup berkeluarga tersebut. Lalu apa tujuan mencari pasangan hidup? Jawaban secara umum kemungkinan adalah untuk mendapatkan keturunan, ingin membahagiakan orangtua, ingin membangun rumah tangga yang baik dan lain-lain.

Dalam Dhammacakkappavaṭṭhāna Sutta, Sang Buddha menguraikan bagaimana caranya agar kita terbebas dari penderitaan. Cara menghilangkan penderitaan adalah melenyapkan nafsu keinginan yang tidak benar (tanha), setelah itu baru melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu: Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Pencaharian Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar. Dari apa yang diuraikan dalam jalan mulia tersebut maka sangat jelas bahwa Sang Buddha mengajarkan Dhamma tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan, baik kebahagiaan duniawi (lokiya) maupun kebahagiaan di luar duniawi (lokuttara).

Di dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menjelaskan bahwa sebagai perumah tangga umumnya adalah ingin mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Di sini disebutkan bahwa untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan sebagai perumah tangga, hendaknya memiliki empat iddhipada atau empat syarat agar tercapai kesuksesan dalam bekerja atau berusaha, yaitu:

1. Chanda yaitu merasa puas dan gembira ketika mengerjakan sesuatu atau pekerjaan.

2. Viriya yaitu usaha yang bersemangat dalam mengerjakan sesuatu atau pekerjaan.

3. Citta yaitu memperhatikan dengan sungguh-sungguh ketika melakukan suatu pekerjaan, tanpa melalaikannya.

4. Vimaṁsa yaitu yang terbaik dari pekerjaan yang sedang dikerjakan (A.IV.285)

Selain hal di atas, untuk mencapai kebahagiaan duniawi, selanjutnya Sang Buddha menyampaikan berkenaan dengan empat macam kebahagiaan yaitu:

1. Atthi Sukha: bahagia karena dapat bekerja dan bahagia karena memiliki harta kekayaan.

2. Bhoga Sukha: kebahagiaan karena dapat mempergunakan kekayaan.

3. Anana Sukha: kebahagiaan karena terbebas dari utang.

4. Anavajja Sukha: kebahagiaan karena memiliki kekayaan yang tidak didapat dari hasil kejahatan. (A.IV)

Untuk menjaga kebahagiaan yang terkumpul agar tidak lenyap, maka diperlukan kunci keunggulan kualitas sebagai berikut:

1. Kejujuran

2. Tidak menyerah pada kegagalan, yang merupakan awal keberhasilan.

3. Mempunyai niat baik

4. Memiliki pola pikir kekinian

5. Komitmen/tekad

6. Tanggung jawab

7. Sikap luwes

8. Hidup seimbang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar