Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Sang Buddha Pelindungku - 2


1
Sang Buddha Pelindungku II
1. Murid Pemberontak
Ketika itu Yang Mulia Kassapa sedang berdiam di Gua Pipphali. Ia mempunyai dua orang
murid yang selalu melayaninya. Salah seorang muridnya amat setia dan selalu melaksanakan
tugasnya dengan baik. Tetapi murid yang satunya, selalu lalai dan malas dalam melaksanakan
tugas-tugasnya. Ia selalu mengambil keuntungan dari pekerjaan yang dilakukan oleh temannya,
dengan mengakui pekerjaan temannya sebagai pekerjaannya sendiri.
Contohnya, apabila temannya telah menyediakan air untuk mencuci muka dan menyiapkan
tusuk gigi, kalau ia tahu, murid yang tidak setia ini akan melaporkan kepada Gurunya, dengan
berkata :
"Yang Mulia, air untuk mencuci muka sudah tersedia, dan ini tusuk giginya. Silahkan
mencuci muka"
Apabila waktunya untuk mandi tiba, ia juga akan melakukan taktik yang sama.
Murid yang setia, melihat tingkah laku temannya yang mencari keuntungan untuk dirinya
sendiri, lalu berpikir :
"Temanku ini selalu melalaikan pekerjaannya dan selalu mencari keuntungan dari apa yang
saya kerjakan. Baiklah, saya akan memperhatikannya".
Ketika murid yang malas ini tertidur sesudah makan siang, ia lalu memanaskan air untuk
mandi, dan menuangkannya ke dalam tempayan air di ruang belakang. Ia hanya menyisakan
sedikit air dalam ketel.
Sore harinya ketika murid yang malas ini bangun, ia melihat air di dalam ketel itu sudah
panas, ia pikir :
"Pasti teman saya ini sudah memanaskan air dan menaruhnya di kamar mandi".
Jadi ia cepat-cepat menghadap Gurunya, sambil berlutut ia berkata:
"Yang Mulia, air untuk mandi sudah tersedia di kamar mandi, silahkan mandi".
Setelah berkata demikian, ia mengiringi Gurunya ke kamar mandi.
Tetapi Yang Mulia Kassapa melihat air mandinya tidak ada, ia bertanya :
"Muridku, dimana air mandinya?".
Si murid lalu pergi ke dapur, dan ia melihat air yang ada di dalam ketel itu hampir kosong.
"Lihat apa yang dilakukan olehnya!", ia amat marah.
"Ia dengan sengaja mengisi ketel itu dengan sedikit air, dan menaruhnya di atas tungku,
kemudian ia pergi, kemanakah dia? Saya pikir air mandinya sudah penuh, sehingga saya katakan
kepada Yang Mulia, air mandi sudah tersedia".
Dengan rasa marah ia mengambil kendi dan menuju ke sungai. Ketika si murid yang malas itu
kembali dan menuangkan air ke bak mandi, Yang Mulia Kassapa berpikir :
"Saya kira anak muda itu telah memanaskan air untuk saya, ketika ia datang dan mengatakan
airnya sudah siap di kamar mandi, silahkan mandi. Tetapi sekarang, dengan penuh kejengkelan,
ia mengambil kendi dan mengisinya di sungai. Apa artinya ini?".
Sesudah mempertimbangkan beberapa hal, Yang Mulia Kassapa sampai pada suatu kesimpulan,
"Selama ini anak muda ini selalu melalaikan tugas-tugasnya, dan mengambil keuntungan dari
pekerjaan yang dilakukan oleh temannya".
Pada waktu murid yang malas itu kembali dan duduk, Yang Mulia Kassapa menegurnya dengan
berkata :
"Muridku, seorang bhikkhu seharusnya tidak mengatakan bahwa saya telah melakukan suatu
pekerjaan, kalau ia tidak betul-betul mengerjakannya. Contohnya, kamu baru saja datang pada
saya dan berkata, "Yang Mulia, air sudah tersedia di kamar mandi, silahkan mandi", tetapi ketika
saya masuk ke kamar mandi airnya tidak ada, dan dengan penuh kejengkelan kamu mengambil
kendi dan pergi ke luar. Seseorang yang sudah menjadi bhikkhu seharusnya tidak melakukan hal
itu".
Murid itu amat tersinggung, ia lalu berkata sendiri :
"Lihat apa Yang Mulia perbuat! Mengapa ia berkata begitu hanya karena air mandinya
sedikit".
Hari-hari berikutnya ia menolak untuk berkumpul dengan para bhikkhu lain, untuk duduk
bersama Gurunya dalam suatu ruangan.
Suatu ketika ia pergi mengunjungi rumah pengikut Yang Mulia Kassapa. Umat itu bertanya :
"Yang Mulia, dimanakah Guru Anda?".
"Oh, Yang Mulia Kassapa sedang tidak sehat, jadi Beliau berdiam di Vihara".
"Bagaimana keadaan Beliau sekarang?".
"Berikanlah makanan untuknya, supaya Beliau sehat kembali", kata murid itu seolah-olah
Gurunya memintanya untuk berbuat demikian.
Dengan segera beberapa umat membuatkan makanan seperti yang diminta, dan memberikan
pada si murid untuk disampaikan kepada Yang Mulia Kassapa. Si murid itu lalu mengambil
makanan itu, tetapi dimakannya sendiri dalam perjalanan pulang menuju Vihara.
Suatu ketika, Yang Mulia Kassapa menerima jubah dari para pengikutnya. Jubah itu
ukurannya amat besar, Beliau menghadiahkan jubah itu kepada murid yang menyertainya, ia lalu
mencelup jubah itu dan mengubahnya menjadi jubah yang ukurannya sesuai dengan tubuhnya.
Beberapa hari kemudian Yang Mulia Kassapa mengunjungi rumah umat-umatnya.
"Yang Mulia", kata mereka,
"Muridmu mengatakan pada kami, bahwa Yang Mulia tidak sehat dan segera kami buatkan
makanan seperti yang diusulkannya, dan mengirimkan kepada Yang Mulia. Ternyata sesudah
makan makanan itu, Yang Mulia sehat kembali".
Mendengar hal itu Yang Mulia Kassapa hanya diam saja.
Malam harinya, murid yang tidak setia itu datang. Setelah menghormat, ia pun duduk. Yang
Mulia Kassapa lalu berkata :
"Muridku, saya mendapat informasi tentang hal yang telah kamu lakukan beberapa hari yang
lalu. Bukanlah tingkah laku yang baik bagi orang yang telah meninggalkan keduniawian. Kamu
seharusnya tidak boleh makan makanan yang kamu peroleh dengan memberikan penjelasan yang
keliru pada orang lain".
Si murid yang tidak setia itu amat marah. Iapun menyusun rencana untuk membalas dendam
pada Gurunya. Ia berkata sendiri :
"Beberapa hari yang lalu, hanya karena air mandinya sedikit, ia katakan saya ini pembohong.
Hari ini, hanya karena saya makan makanan dari umatnya yang diberikan kepada saya, ia katakan
'seharusnya kamu tidak makan makanan yang kamu peroleh dengan memberikan penjelasan yang
keliru pada orang lain'. Disamping itu, Beliau memberikan satu set jubah kepada muridnya yang
lain. Oh, Yang Mulia telah memperlakukan saya dengan amat buruk! Saya akan mencari jalan
untuk menghancurkanNya!".
Keesokkan paginya, ketika Yang Mulia Kassapa pergi ke desa berpindapatta, murid yang
tidak setia itu tinggal sendirian di Vihara. Ia mengambil tongkat, menghancurkan semua
perabotan yang ada, yang biasa digunakan untuk makan dan minum, lalu membakar pondok
tempat tinggal Gurunya. Barang yang tidak habis terbakar, dihancurkannya dengan palu. Lalu
iapun melarikan diri.
Ketika mati, ia terlahir kembali di neraka yang paling dalam, yaitu Neraka Avici, karena
menerima semua akibat perbuatan buruk yang telah dilakukannya.

2. Seorang Pertapa bernama Pathika
Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, di Savatthi. Di desa
sekitar Vihara, ada seorang ibu rumah tangga yang menganggap seorang pertapa, bernama
Pathika, sebagai guru tempatnya bertanya tentang segala macam hal. Ibu itu menyediakan segala
macam kebutuhannya dan menganggap pertapa itu seperti anaknya sendiri.
Pada suatu hari, seorang tetangga di sebelah rumahnya dengan bersemangat bercerita bahwa
ia baru saja mengunjungi dan mendengarkan Sang Buddha mengajarkan Dhamma. Ia berkata :
"Oh ibu, Ajaran yang Sang Buddha katakan itu, luar biasa indahnya, saya amat bahagia
mendengarkannya."
Si ibu yang mendengar bahwa tetangganya begitu memuja dan mengagumi Sang Buddha,
menyebabkan ia juga ingin pergi ke vihara, menemui dan mendengarkan sendiri Ajaran Sang
Buddha.
Ia lalu bertanya kepada pertapa Pathika :
"Yang Mulia, saya ingin pergi mengunjungi dan mendengarkan Ajaran Sang Buddha."
Pertapa Pathika yang mendengar ibu itu ingin pergi ke vihara, segera melarangnya :
"Jangan pergi!"
Ibu itu lalu berpikir :
"Kalau pertapa guruku ini, melarang saya pergi ke vihara mendengarkan Ajaran Sang
Buddha, alangkah baiknya kalau saya dapat mengundang Sang Buddha datang ke rumah dan
saya mendengarkan AjaranNya di sini saja."
Demikianlah, ketika malam hari tiba, ibu itu lalu memanggil anak laki-lakinya, ia berkata :
"Anakku, pergilah ke vihara Jetavana undanglah Sang Buddha untuk datang ke rumah kita
dan menerima persembahan makanan, besok pagi."
Anak itu segera pergi, tetapi sebelum ia pergi ke vihara, ia menemui pertapa Pathika terlebih
dahulu. Pertapa itu bertanya :
"Kamu mau pergi kemana?"
"Ibu menyuruh saya mengundang Sang Buddha untuk datang ke rumah besok pagi."
"Jangan pergi"
"Yang Mulia, kalau saya tidak pergi, ibu saya pasti marah."
"Kamu biarkan makanan-makanan yang enak itu dipersembahkan kepada Sang Buddha?"
"Bagaimanapun saya harus pergi, kalau tidak ibu pasti menghukum saya, saya takut."
"Baik, pergilah. Tetapi kalau kamu pergi dan mengundang Sang Buddha, jangan katakan
'Rumah saya ada di sini, di jalan ini dan sebagainya'. Tetapi kamu harus katakan rumahmu di
sana, di daerah sana dan sebagainya. Setelah selesai kamu pulang seolah-olah rumahmu di
daerah sana, lalu lari ke jalan lain, dan segera datang ke sini."
"Baiklah," kata anak laki-laki itu.
Anak itu segera pergi setelah mendengar petunjuk dari pertapa itu. Ia pergi ke vihara menemui
Sang Buddha dan menyampaikan undangan ibunya seperti yang diajarkan oleh pertapa itu
kepadanya. Ia lalu cepat-cepat pulang dan menemui pertapa itu lagi.
Pertapa itu bertanya :
"Apa yang kamu katakan?"
"Seperti yang anda katakan, Yang Mulia", jawab anak laki-laki itu.
"Bagus! ......... anak pintar! Kamu telah melaksanakan tugasmu dengan baik. Besok kita
dapat makanan enak yang seharusnya diberikan kepada Sang Buddha."
Keesokkan paginya, pertapa Pathika datang ke rumah ibu itu dan duduk di ruang belakang
bersama si anak laki-laki.
Tetangga di sekitar rumah ibu itu, yang mengetahui kedatangan Sang Buddha menghias
rumah mereka dengan bunga-bunga beraneka warna. Ibu itu lalu menyiapkan tempat duduk
yang terbaik untuk Sang Buddha.
Sang Buddha yang menerima undangan ibu itu pada pagi harinya langsung datang ke rumah
ibu yang baik hati tersebut, dengan membawa jubah dan mangkuknya. (Sang Buddha dapat
mengetahui rumah ibu yang baik hati itu, meskipun anak laki-lakinya memberikan alamat yang
salah)
Si ibu menyambut kedatangan Sang Guru Agung dengan amat gembira. Ia memberikan
hormat, mempersilahkan Sang Buddha masuk ke rumahnya, dan mempersilahkan duduk di
tempat yang sudah disediakannya. Ia mempersembahkan minuman dan makanan yang enak.
Selesai makan, Sang Buddha mengucapkan anumodana (terima kasih) dengan memberikan
khotbah melalui suaraNya yang amat lembut. Setelah mendengar Dhamma yang dikatakan oleh
Sang Buddha sendiri, ibu itu amatlah gembira dan bahagia, ia bertepuk tangan dan berkata :
"Oh, Yang Mulia, amat indah, amat indah kata-kata Yang Mulia ucapkan."
Pertapa Pathika ketika mendengar ibu itu bertepuk tangan dengan gembira dan memuji-muji
Sang Buddha, amatlah marah dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, sambil berdiri, ia lalu
berkata :
"Ibu itu bukan pengikutku lagi!"
Ia lalu berjalan ke ruang tengah, dan berkata :
"Hai ibu! Kamu rugi bertepuk tangan untuk dia!"
Ia lalu memaki-maki, mencerca dan pergi keluar rumah dengan amat marah. Ibu itu amat
malu serta bingung mendengar kata-kata pertapa Pathika, sehingga ia tidak dapat memusatkan
pikirannya lagi.
Sang Buddha yang mengetahui hal itu, lalu bertanya :
"Ibu, apakah kamu tidak dapat memusatkan pikiranmu lagi?"
"Ya, Yang Mulia, maafkan saya, saya amat malu dan bingung mendengar kata-kata pertapa
tadi," jawab ibu itu.
Sang Buddha lalu berkata :
"Ibu, kamu tidak perlu memperhatikan apa yang dikatakan oleh pertapa seperti itu, tetapi
perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan belum dikerjakan oleh dirimu sendiri."
Sang Buddha lalu mengucapkan syair :
"Jangan memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah dikerjakan atau belum
dikerjakan oleh orang lain.
Tetapi perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri
sendiri."
(Dhammapada, Puppha Vagga no. 7)

3. Pertengkaran Antar Suku
Pada suatu waktu, ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara Suku Sakya, Beliau
menghentikan pertengkaran antara dua sanak keluargaNya, yaitu Suku Sakya dan Suku Koliya.
Cerita ini dimulai ketika Suku Koliya dan Suku Sakya memperebutkan air Sungai Rohini,
yang digunakan untuk mengairi ladang-ladang mereka. Air sungai ini dibendung dalam sebuah
dam atau waduk yang dibangun di antara kedua kota, yaitu kota Kapilavastu dan kota Koliya.
Waktu itu Bulan Jettamula, kedua suku itu sedang menuai hasil ladang mereka. Banyak
pekerja harian dikerahkan untuk menuai hasil tanaman mereka. Ketika mereka sedang menuai
panen di tepi sungai itu, penduduk Koliya yang sedang bekerja, berkata :
"Apabila air sungai ini dibagi dua, tentu saja tidak cukup untuk mengairi ladang-ladang kita.
Sedangkan ladang-ladang kita ini menggunakan sistem pengairan tunggal. Seharusnya, kitalah
yang menguasai air sungai ini."
Penduduk Suku Sakya yang mendengar kata-kata mereka, lalu menjawab :
"Hai, kalian jangan berkata begitu! Ladang-ladang kami juga menggunakan sistem
pengairan tunggal, seharusnya kamilah yang memiliki air sungai ini."
"Enak saja! Kami tidak akan berikan air sungai ini kepadamu!"
Lama kelamaan, pembicaraan mereka makin sengit, saling mengejek dan menjelek-jelekkan
pihak lainnya sehingga timbul pertengkaran, mereka mulai saling memukul. Pekerja-pekerja
yang lain mulai saling menyerang, akhirnya menjadi pertengkaran besar. Pertengkaran itu
menjadi semakin buruk, karena mereka saling mengejek dan menjelek-jelekkan pihak lainnya.
Pekerja-pekerja suku Koliya berkata :
"Hai, penderita kusta! bawa anak dan istrimu pergi dari sini! Kami tidak mau dirugikan oleh
gajah, kuda dan senjata-senjata yang dimiliki orang-orang buangan miskin seperti kalian ini,
yang hidup hanya di bawah pohon Jujube seperti binatang!"
Karena pertengkaran semakin sengit, akhirnya masing-masing pihak lalu melaporkan
pertengkaran ini kepada pimpinan mereka, yang melaporkan lagi ke atasannya. Dan seterusnya
sampai akhirnya laporan pertengkaran ini sampai ke istana Raja. Kedua pihak kerajaan ini
segera menyiapkan bala tentara perangnya untuk menyerang pihak lainnya. Dengan segera Suku
Sakya yang datang bersama bala tentaranya berteriak :
"Hai, orang-orang Koliya, kami akan tunjukkan kekuatan dan kekuasaan kami, yang kalian
katakan kami tinggal bersama dengan saudara perempuan kami."
Bala tentara Suku Koliya yang datang juga berteriak :
"Hai, orang-orang Sakya! Kami tidak takut! Akan kami tunjukkan kekuatan dan kekuasaan
kami, meskipun kami hidup miskin di bawah pohon Jujube."
Ketika itu Sang Buddha melihat dengan Mata BuddhaNya, mengetahui bahwa kedua sanak
saudara itu ingin berperang. Beliau berpikir :
"Kalau Aku tidak pergi kepada mereka, mereka akan saling menghancurkan. Adalah
tugasKu untuk menghentikan pertempuran mereka."
Sang Buddha dengan kekuatan kesaktiannya, terbang di udara menuju tempat di mana kedua
sanak keluargaNya akan bertempur. Beliau lalu duduk dengan posisi meditasi, mengambang di
udara di tengah-tengah Sungai Rohini. Ketika Raja dari kedua pihak itu melihat Sang Buddha
berada di udara, di tengah-tengah Sungai Rohini, dengan segera mereka membuang senjatanya
dan langsung bernamaskara pada Sang Buddha, diikuti oleh seluruh bala tentaranya.
Sang Buddha bertanya :
"Apa yang kalian pertengkarkan, O Raja Mulia?"
"Kami tidak tahu, Yang Mulia."
"Siapa yang tahu?"
"Pemimpin tentara mungkin tahu."
Pemimpin tentara kemudian berkata :
"Raja Muda mungkin tahu."
Sang Buddha bertanya pada pimpinan dari kedua pihak itu, satu demi satu, akhirnya sampailah
kepada pekerja harian. Pekerja harian itu menjawab :
"Pertengkaran ini hanya karena air sungai Rohini, Yang Mulia."
Kemudian Sang Buddha bertanya pada kedua Raja itu :
"Berapakah nilai air sungai itu, Raja Mulia?"
"Sangat kecil nilainya, Yang Mulia."
"Berapa besarkah nilai Khattiya (Negeri) ini, Raja Mulia?"
"Khattiya ini tidak ternilai, Yang Mulia."
"Bukanlah hal yang baik dan pantas apabila hanya karena air yang sedikit ini kalian
menghancurkan Khattiya yang tidak ternilai ini."
Kedua pihak itu diam seribu bahasa. Sang Buddha berkata lagi :
"O, Raja Mulia, mengapa kalian bertindak seperti ini? Apabila saya tidak ada di sini
sekarang, kalian akan bertempur, membuat sungai ini berlimbah darah. Kalian tidak pantas
bertindak demikian. Kalian hidup bermusuhan, menuruti hati yang diliputi lima jenis nafsu
kebencian. Saya hidup bebas dari kebencian. Kalian hidup menderita karena sakit yang
disebabkan oleh nafsu kejahatan. Saya hidup bebas dari penyakit. Kalian hidup dipenuhi
keinginan, dengan memuaskan lima jenis hawa nafsu keserakahan. Saya hidup bebas dari segala
nafsu keserakahan."
Setelah bersabda demikian, Sang Buddha mengucapkan syair-syair ini :

"Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci,
di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci."
(Dhammapada, Sukha Vagga no. 1)
"Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang berpenyakit,
di antara orang-orang yang berpenyakit kita hidup tanpa penyakit."
(Dhammapada, Sukha Vagga no. 2)
"Sungguh bahagia kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah, di
antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan."
(Dhammapada, Sukha Vagga no. 3)

Setelah mendengar sabda-sabda Sang Buddha, kedua belah pihak merasa malu dengan apa
yang mereka lakukan. Akhirnya kedua sanak keluarga itu berdamai, membagi air Sungai Rohini
itu dengan adil, untuk mengairi ladang kedua belah pihak. Mereka lalu hidup berdampingan
dengan damai, karena kebencian dan iri hati sudah lenyap dari hati mereka.

4. Sang Buddha, Gajah dan Monyet
"Disinilah saya tinggal, dikelilingi sekumpulan gajah, gajah-gajah betina, anak-anak gajah
dan gajah-gajah muda. Mereka mengunyah-ngunyah ujung-ujung rumput yang ingin saya
makan, mereka memakan daun-daun dari ranting-ranting pohon yang saya patahkan; mereka
mengeruhkan air minum saya. Ketika saya masuk atau keluar dari sungai, gajah-gajah betina
menggosok-gosokkan badannya ke badan saya. Karena itulah saya memisahkan diri dari
kumpulan gajah-gajah dan lebih baik hidup sendirian."
Oleh karena itu gajah yang baik hati ini memisahkan diri dari kumpulannya dan berjalan
mendekati Hutan Lindung. Gajah itu bernama Parileyyaka.
Di dalam Hutan Lindung, Sang Buddha sedang berdiam seorang diri, menarik gajah itu
untuk berjalan menuju pohon Sala, tempat Sang Buddha duduk.
Setibanya di hadapan Sang Buddha, gajah itu memberi hormat kepada Sang Buddha. Ia
melihat ke sekeliling, mencari sapu karena ia ingin membersihkan tempat di sekitar Sang
Buddha duduk. Karena tidak ada sapu, ia mematahkan ranting pohon untuk dijadikan sapu dan
membersihkan tempat itu. Kemudian ia mengambil kendi air dengan belalainya dan menyiapkan
air minum. Apabila dibutuhkan air panas, ia akan menyiapkan air panas. (Bagaimana
mungkin?). Caranya, pertama-tama ia membuat percikan api dengan menggosok-gosokkan kayu
dengan belalainya, kemudian ia menaruh ranting-ranting pohon di atas percikan api itu, sehingga
ia mempunyai api. Lalu ia memanaskan batu-batu kecil di dalam api. Digelindingkannya batubatu
kecil yang sudah panas itu dengan tongkat ke dalam lekukan. Di atas lubang kecil di antara
batu yang besar, ditaruhnya kendi air. Dengan belalainya, ia memeriksa, apabila air sudah cukup
panas, ia segera menghadap kepada Sang Buddha. Sang Buddha lalu bertanya :
"Parileyyaka, apakah ini air panasmu?"
Kemudian Sang Buddha mandi dengan air panas yang dibuat si gajah. Kemudian Gajah
Parileyyaka mencari dan membawakan buah-buahan segar dan mempersembahkannya kepada
Sang Buddha.
Apabila Sang Buddha masuk ke desa untuk pindapatta, gajah itu akan membawakan
mangkuk dan jubah, yang ditaruh di atas kepalanya. Dan ia pun mengiringiNya. Ketika Sang
Buddha tiba di tepi desa, Beliau mengambil mangkuk dan jubahNya dengan berkata :
"Parileyyaka, lebih baik kamu jangan ikut. Berikanlah mangkuk dan jubahKu."
Sang Buddha memasuki desa, dan si gajah Parileyyaka tetap menunggu dengan setia sampai
Sang Buddha kembali. Ketika Sang Guru kembali, ia akan menyambut dan membawakan
mangkuk serta jubah seperti yang ia lakukan sebelumnya, menaruhnya di tempat Sang Buddha
duduk, memberi hormat dan mengipas-ngipas dengan ranting pohon supaya Sang Guru merasa
nyaman.
Jika malam tiba, untuk melindungi Sang Buddha dari binatang buas, ia akan berjaga-jaga
dengan belalainya yang besar, sambil berkata sendiri :
"Saya akan melindungi Sang Guru."
Ia lalu berjalan bolak balik sampai pagi hari. (Sejak saat itulah hutan itu disebut "Hutan
Lindung").
Pada pagi harinya, gajah itu lalu menyiapkan air untuk mencuci muka, sebelum ia melaksanakan
tugas-tugasnya yang lain.
Suatu ketika, seekor monyet melihat perbuatan yang dilakukan gajah Parileyyaka setiap hari,
melaksanakan tugasnya, melayani Sang Buddha. Ia lalu berkata sendiri :
"Saya juga ingin melakukan hal yang sama."
Pada suatu hari, ketika ia bergelayutan di antara pepohonan di hutan, ia melihat sarang madu
yang telah ditinggalkan oleh tawon-tawonnya. Ia mengambil sarang madu itu dan menaruhnya
di atas selembar daun dan dipersembahkannya ke hadapan Sang Buddha. Sang Buddha
mengambilnya.
Monyet itu memperhatikan, apakah Sang Guru makan sarang madu itu atau tidak. Ia
memandangi Sang Guru yang setelah mengambil sarang madu itu, lalu meletakkannya kembali,
sambil tetap berdiam diri.
"Apa yang terjadi?" pikir monyet itu.
Ia mengambil tongkat kecil, sarang madu itu diambilnya dan diperhatikan dengan seksama.
Dengan membolak-balikkannya, ia memperhatikan kembali dengan teliti. Ternyata di dalam
sarang madu banyak terdapat telur-telur serangga. Ia kemudian mengeluarkan telur-telur itu
dengan hati-hati sekali. Setelah benar-benar bersih, dipersembahkannya kembali sarang madu
itu kepada Sang Buddha. Maka, Sang Buddha berkenan menyantap sarang madu itu.
Si monyet amat bahagia melihat Sang Buddha makan sarang madu yang
dipersembahkannya. Ia meloncat-loncat di antara cabang-cabang pohon, dan menari-nari dengan
gembira. Tiba-tiba cabang pohon yang dipegangnya itu patah, sehingga ia jatuh dan tertimpa
batang pohon itu. Ia pun mati.
Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya kepada Sang Buddha, ia terlahir
kembali di Alam Surga.
Di Kota Savatthi, Jutawan Anathapindika, Ibu Visakha, para pengikut setia Sang Buddha
dan orang-orang penting lainnya mengirimkan pesan kepada Bhikkhu Ananda.
"Yang Mulia, kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru."
Lima ratus bhikkhu yang datang dari berbagai daerah datang menemui Bhikkhu Ananda, yang
ketika itu sedang musim hujan, mereka juga mengajukan permohonan :
"Saudaraku Ananda, telah lama sekali kami mendengarkan Dhamma dari Sang Guru sendiri.
Sekarang kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru Agung kita, untuk mendengarkan Ajaran
dari Beliau sendiri."
Bhikkhu Ananda mengajak para bhikkhu itu bersama-sama menuju Hutan Lindung. Ketika
mereka telah mencapai tepi hutan, Bhikkhu Ananda berpikir :
"Sang Guru sedang hidup menyendiri selama tiga bulan ini. Jadi belum tentu tepat apabila
saya mengajak para bhikkhu ini untuk mengunjungiNya."
Maka, Bhikkhu Ananda masuk ke dalam Hutan Lindung itu seorang diri, meninggalkan
kelima ratus bhikkhu itu di tepi hutan dan menghadap Sang Buddha terlebih dahulu.
Gajah Parileyyaka melihat ada seorang bhikkhu datang menghampiri Sang Buddha. Ia
segera mengambil tongkat dan menyerbu ke Bhikkhu Ananda. Sang Buddha yang melihatnya,
berkata :
"Kembalilah Parileyyaka, jangan mengusirnya. Ia adalah murid seorang Buddha."
Gajah itu membuang tongkatnya dan memohon ijin untuk membawakan mangkuk dan jubah
Bhikkhu Ananda. Tetapi Bhikkhu Ananda menolaknya.
Gajah itu lalu berpikir :
"Apabila ia betul-betul mengetahui sopan santun, ia tidak akan menaruh segala keperluan
miliknya di tempat Sang Guru duduk."
Bhikkhu Ananda lalu menaruh mangkuk dan jubahnya di tanah. (Untuk yang mengetahui
peraturan, seorang bhikkhu tidak diperkenankan menaruh keperluan-keperluan miliknya sendiri
di tempat duduk atau tempat tidur Gurunya). Setelah memberi hormat, Bhikkhu Ananda duduk
di salah satu sisi. Sang Buddha bertanya :
"Ananda, apakah kamu datang sendiri?"
Bhikkhu Ananda menjelaskan bahwa ia datang bersama lima ratus bhikkhu. Sang Buddha
bertanya :
"Di manakah mereka berada?"
"Di tepi hutan, Yang Mulia."
"Saya tidak mengerti bagaimana perasaanmu meninggalkan saudara-saudaramu di tepi hutan
dan datang seorang diri. Ajaklah mereka masuk."
Bhikkhu Ananda mentaati perintah Sang Buddha. Ia menjemput ke lima ratus bhikkhu itu
masuk ke dalam Hutan Lindung.
Sang Buddha menyambut ke lima ratus muridNya dengan gembira. Setelah memberi
hormat, para bhikkhu itu berkata :
"Yang Mulia, Yang Maha Sempurna adalah seorang Buddha yang penuh dengan kelembutan
dan penuh dengan cinta kasih. Amatlah sulit hidup di hutan ini seorang diri selama tiga bulan.
Lagipula tidak ada seorangpun yang melayani semua kebutuhan Yang mulia. Tidak ada yang
menyediakan air mandi atau menyediakan kebutuhan-kebutuhan lainnya."
Sang Buddha menjawab :
"Para bhikkhu, gajah Parileyyaka ini yang melayani semua kebutuhanKu. Apabila seseorang
yang telah memperoleh pengalaman hidup berkelompok, dan tidak cocok untuk hidup di dalam
kelompoknya, kadang-kadang lebih baik baginya untuk hidup seorang diri."
Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu mengucapkan tiga syair :

"Apabila dalam pengembaraanmu engkau dapat menemukan seorang sahabat yang
berkelakuan baik, pandai dan bijaksana, maka hendaknya engkau berjalan bersamanya dengan
senang hati dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 9 )
"Apabila dalam pengembaraanmu engkau tidak menemukan seorang sahabat yang
berkelakuan baik, pandai dan bijaksana maka hendaknya engkau berjalan seorang diri, seperti
seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya, atau seperti gajah yang
mengembara seorang diri di dalam hutan."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 10 )
"Lebih baik mengembara seorang diri, dan tidak bergaul dengan orang bodoh. Pergiah
seorang diri dan jangan berbuat jahat; hiduplah dengan bebas (tidak banyak kebutuhan),
seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 11 )

Pada akhir syair ke tiga, ke lima ratus bhikkhu itu mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi
menjadi Arahat.
Bhikkhu Ananda lalu menyampaikan pesan-pesan dari Jutawan Anathapindika, Ibu Visakha
dan umat-umat lainnya, dengan berkata :
"Yang Mulia, lima puluh juta umat Yang Mulia yang dipimpin oleh Anathapindika
mengharapkan Anda kembali."
"Baiklah," kata Sang Buddha, "Ambillah mangkuk dan jubah."
Bhikkhu Ananda serta para bhikkhu lainnya mengambil mangkuk dan jubah, lalu pergi
keluar. Gajah Parileyyaka pergi dan berdiri di tengah jalan.
"Yang Mulia, apa yang gajah itu perbuat?"
"O Para Bhikkhu, ia ingin berdana kepada kalian. Sudah cukup lama ia melayaniKu,
janganlah melukai hatinya. Kembalilah!", Sang Buddha beserta murid-muridNya balik kembali.
Gajah itu lalu masuk ke dalam hutan, kembali dengan membawa pisang dan buah-buahan
lainnya, mempersembahkannya kepada para bhikkhu. Kelima ratus bhikkhu itu tidak dapat
menghabiskan buah-buahan yang dipersembahkan gajah itu.
Selesai makan, Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahNya. Beliau melangkah keluar,
diikuti oleh murid-muridNya. Gajah Parileyyaka lalu menyelinap di antara para bhikkhu yang
sedang berjalan, kemudian di depan Sang Buddha dan para bhikkhu, ia berdiri menghalangi
jalan.
"Yang Mulia, apa yang dilakukannya?"
"Para Bhikkhu, berjalanlah terus. Ia ingin Aku kembali."
Sang Buddha lalu berkata :
"Parileyyaka, Aku pergi sekarang, tidak akan kembali lagi. Kamu tidak dapat mengharapkan
pada kehidupanmu yang sekarang ini dapat memperoleh Pandangan Terang, melaksanakan Jalan
Tengah ataupun mencapai Tingkat Kesucian. Berhentilah!"
Ketika gajah itu mendengar kata-kata Sang Buddha, ia memasukkan belalai ke dalam
mulutnya. Ia mundur perlahan-lahan dan menangis, sambil tetap mengikuti Sang Buddha yang
terus berjalan keluar hutan. (Dapatkah ia membuat Sang Buddha kembali, sehingga ia dapat
melayaninya sampai di akhir hidupnya?)
Ketika Sang Buddha telah sampai di tepi desa, Beliau berkata :
"Parileyyaka, kalau kamu mengikutiKu lebih jauh lagi, tidak aman untukmu sendiri,
kehidupan manusia amat berbahaya untukmu. Berhentilah!"
Gajah itu berhenti berjalan, ia menangis sambil memandangi kepergian Sang Buddha.
Ketika Sang Buddha hilang dari pandangannya, karena amat sedihnya, iapun mati. Tetapi
karena perbuatan baik yang telah dilakukannya, dengan melayani Sang Buddha, ia terlahir
kembali di Alam Surga, bernama Dewa Parileyyaka.

5. Sesudah Badai Berlalu ..... Tenang
Ketika itu Sang Buddha sedang bersemayam di Savatthi. Disana tinggal seorang ibu yang
sering dipanggil dengan Kanamata atau ibu Kana. Ibu ini pengikut setia Sang Buddha, ia
mempunyai seorang anak perempuan bernama Kana. Anak perempuannya ini sudah menikah
dengan seorang laki-laki dari lain desa.
Pada suatu waktu, Kana datang menengok ibunya. Beberapa hari kemudian suaminya
mengirim pesan, supaya istrinya segera pulang ke rumah. Ibunya berkata :
"Tunggulah sampai esok hari", karena ia ingin membuat kue-kue untuk menantunya.
Keesokkan harinya, Ibu Kana membuat kue, tetapi pagi itu lewat empat bhikkhu di depan
pintu rumahnya untuk pindapatta. Ibu Kana lalu memberikan kue-kue itu kepada keempat
bhikkhu itu. Keempat bhikkhu yang sudah menerima kue, bercerita kepada bhikkhu lainnya
bahwa kue dari Ibu Kana enak sekali.
Jadi, para bhikkhu yang lain juga berpindapatta kesana. Ibu Kana sebagai pengikut setia
Sang Buddha, memberikan kue-kue yang dimasaknya. Akhirnya kue itu habis, tidak ada lagi
yang tersisa untuk dibawa pulang anak perempuannya, Kana tidak jadi pulang ke rumahnya
pada hari itu.
Hari berikutnya, hal yang sama terjadi lagi, Ibu Kana membuat kue-kue, dan para bhikkhu
berpindapatta lagi ke rumahnya, dan Ibu Kana memberikan kue-kuenya, akhirnya kue yang
dimasaknya itu habis lagi, dan anak perempuannya tidak jadi pulang lagi.
Pada hari ketiga, suami Kana mengirimkan pesan apabila pada hari itu Kana tidak pulang
ke rumah, ia akan mencari isteri lagi.
Tetapi pada hari ketiga Kana tetap tidak bisa pulang karena kue yang dimasak ibunya habis
lagi sebab para bhikkhu pada hari itu berpindapatta ke rumah ibunya.
Kemudian suami Kana yang menunggu istrinya tidak pulang-pulang, mengambil istri lagi.
Kana menjadi amat marah kepada para bhikkhu.
"Bhikkhu-bhikkhu ini telah menghancurkan rumah tanggaku."
Sejak saat itu apabila ia bertemu dengan para bhikkhu, ia selalu mencaci maki dan berlaku
kasar. Akibatnya para bhikkhu tidak berani melalui jalan di depan rumah Ibu Kana lagi.
Sang Buddha yang mengetahui hal itu, lalu pergi ke rumah Ibu Kana. Ibu Kana segera
menyambut kedatangan Sang Buddha dan mempersilahkan Sang Guru Agung untuk duduk.
Setelah memberikan hormat, ia lalu mempersembahkan bubur dan makanan-makanan lainnya.
Selesai makan, Sang Buddha bertanya kepada Ibu Kana :
"Mana Kana?"
"Yang Mulia, ketika ia melihat Yang Mulia, ia merasa susah dan sekarang menangis."
"Apa alasannya?"
"Yang Mulia, ia telah mencaci dan berlaku kasar kepada para bhikkhu. Jadi ketika ia
melihat Yang Mulia datang kesini, ia merasa amat susah dan sekarang ia menangis."
Sang Guru Agung memanggil Kana dan bertanya :
"Kana, mengapa ketika kamu melihatKu, kamu menjadi susah dan menyembunyikan diri
sambil menangis?"
Kemudian ibunya menceritakan apa yang telah terjadi kepada Sang Buddha. Sang Buddha
lalu berkata :
"Ibu Kana, apakah kamu memberikan kepada murid-muridKu apa-apa yang mereka terima,
atau tidak?"
"Saya memberikan kepada mereka apa-apa yang mereka terima, Yang Mulia."
"Apabila murid-muridKu mendatangi rumahmu ketika mereka berpindapatta dan menerima
dana yang kamu berikan, apakah murid-muridKu melakukan kesalahan?"
"Tidak, Yang Mulia, mereka tidak melakukan kesalahan, Kana sendiri yang bersalah."
Sang Buddha kembali bertanya kepada Kana :
"Kana, saya mengetahui murid-muridKu mendatangi rumahmu ketika mereka berpindapatta
dan ibumu memberikan kue-kue kepada mereka, apakah murid-muridKu melakukan
kesalahan?"
"Mereka tidak bersalah Yang Mulia, saya sendiri yang bersalah."
Setelah Kana menyadari kesalahannya, ia lalu memberikan hormatnya, dan mohon maaf
atas kesalahan yang telah dilakukannya. Sang Buddha lalu memberikan nasehat dan
mengajarkan Dhamma kepada Kana. Pada akhir khotbah, Kana mencapai Tingkat Kesucian
Pertama (Sotapanna). Sang Buddha lalu bangun dari tempat duduk, dan pulang kembali ke
Vihara Jetavana.
Dalam perjalanan pulang menuju ke Vihara Jetavana, seorang Raja melihat Sang Buddha
sedang berjalan melewati Istananya, Raja kemudian bertanya kepada pembantunya :
"Bukankah itu Sang Buddha?"
"Ya betul, Yang Mulia."
Lalu Raja itu mengirimkan salah satu pembantu utamanya untuk mengundang Sang Buddha
mampir ke istananya :
"Katakan kepada Sang Guru Agung, saya ingin menyampaikan hormat saya kepadaNya."
Ketika Sang Buddha tiba di istana, Raja menyambutnya, memberi hormat dan berkata :
"Yang Mulia, dari manakah Anda?"
"Saya baru saja dari rumah Ibu Kana, Yang Mulia Raja."
"Mengapa Anda pergi kesana, Yang Mulia?"
"Saya mendapat informasi Kana mencaci maki dan berlaku kasar terhadap para bhikkhu,
karena itulah Saya pergi ke sana."
"Dapatkah Anda hentikan kemarahannya, Yang Mulia?"
"Tentu saja Yang Mulia Raja, ia sudah menghentikan kemarahannya, kini ia telah menjadi
pemilik dari kekayaan yang melebihi kekayaan duniawi."
"Oh, luar biasa Yang Mulia, Anda telah membuatnya menjadi pemilik kekayaan yang
melebihi kekayaan dunia, saya ingin membuatnya menjadi pemilik kekayaan di dunia ini."
Setelah Raja memberikan hormatnya kepada Sang Buddha, lalu Sang Buddha melanjutkan
perjalanan menuju ke Vihara Jetavana.
Sang Raja lalu mengirim kereta kencana yang sangat indah ke rumah Kana,
mengundangnya untuk datang, dan menganggap Kana sebagai anaknya sendiri. Ia lalu
mengumumkan :
"Siapakah yang ingin mengambil Kana, anak perempuanku ini?"
Ada seorang bijaksana yang kaya raya, yang mempunyai segalanya, menjawab :
"Yang Mulia, saya ingin mengambil anak perempuanmu itu."
Setelah berkata demikian, ia lalu membawa pulang Kana, memberikan semua kekuasaan
dan kekayaan yang dimilikinya kepada Kana dan berkata :
"Anakku, lakukanlah perbuatan baik sesuai dengan keinginanmu."
Sejak itu Kana selalu berdana kepada semua bhikkhu yang datang untuk berpindapatta di ke
empat pintu rumahnya. Ia lalu mencari bhikkhu yang lebih banyak lagi, karena ia ingin berdana
lebih banyak lagi tetapi ia gagal menemukannya. Persediaan makanannya bertumpuk, baik
makanan keras maupun lembut, selalu tersedia di rumah dan makanan itu mengalir keluar dari
rumahnya seperti air bah saja.
Para bhikkhu lalu membicarakan kejadian ini di salah satu ruangan vihara.
"Beberapa waktu yang lalu, saudara, empat saudara kita melukai perasaan Kana. Tetapi
Kana yang meskipun merasa terluka, ia mendapat berkah dan perlindungan langsung dari Sang
Guru sendiri. Sang Guru telah membuat pintu rumahnya amat berharga untuk para bhikkhu
yang datang. Sekarang ia tidak dapat menemukan bhikkhu atau bhikkhuni yang lebih banyak
untuk dilayaninya. Oh, sungguh luar biasa kekuatan Guru Agung kita ini!"
Sang Buddha lalu datang dan mengucapkan syair :
"Bagaikan danau yang dalam, airnya jernih dan tenang, demikian pula bathin para
bijaksana menjadi tenteram karena mendengarkan Dhamma."
(Dhammapada, Pandita Vagga no. 7)

6. "Engkau akan segera meninggal"
Pada waktu itu, Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi.
Ketika itu lewatlah seorang pedagang kaya raya bernama Mahadhana. Ia membawa lima ratus
kereta yang dipenuhi berbagai macam bahan baju yang indah-indah, yang dicelup dengan
wewangian. Ia berangkat dari Benares untuk berdagang, menjual barang dagangannya itu ke
Savatthi.
Ketika ia sampai di tepi sungai besar di dekat Savatthi, karena lelah, ia lalu memutuskan :
"Besok sajalah saya menyeberangi sungai ini, karena saya amat lelah." Ia lalu menempatkan
kereta-keretanya di tepi sungai dan bermalam disana. Ternyata pada malam itu turun hujan
lebat, kilat menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Selama tujuh hari, hujan turun amat
lebatnya, sehingga air sungai meluap, dan selama tujuh hari itu pula penduduk di sekitar tempat
tersebut tidak dapat bekerja, hanya berdiam di dalam rumah saja. Akibatnya, Mahadhana si
pedagang itu kehilangan kesempatan untuk menjual barang dagangannya.
Pedagang itu berpikir :
"Saya datang dari tempat yang jauh, kalau saya pulang kembali saya akan rugi besar, kalau
begitu biar sajalah saya tetap disini selama musim hujan, musim gugur dan musim panas,
sampai barang dagangan saya habis terjual."
Sang Guru Agung ketika itu sedang menerima dana dari umatnya dan berjalan melewati
kota. Beliau tersenyum karena mengetahui tekad si pedagang. Bhikkhu Ananda yang
mengiringiNya bertanya :
"Mengapa Yang Mulia tersenyum?"
Sang Buddha lalu berkata :
"Ananda, apakah engkau melihat pedagang yang kaya raya itu?"
"Ya, saya melihatnya, Yang Mulia."
"Ia tidak menyadari bahwa kehidupannya hampir berakhir, padahal ia mengambil keputusan
untuk tinggal disana sepanjang tahun ini, untuk menjual barang dagangannya."
"Tetapi, Yang Mulia, apakah benar hidupnya akan segera berakhir?"
"Ya, Ananda, ia hidup tinggal tujuh hari lagi, kemudian ia akan mati dimakan seekor ikan
besar."
Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair :

"Berbuatlah untuk dirimu sendiri, dan apa yang dapat dilakukan pada hari ini.
Siapa yang mengetahui bahwa pada esok hari kematian akan datang?
Kita tidak dapat melawan kematian dan bukanlah pemilik kematian."
"Kebahagiaan adalah orang-orang yang hidup bersemangat pada siang dan malam
hari, tidak khawatir meskipun ia hidup hanya satu malam. Ia amat tenang dan
bijaksana."

"Yang Mulia, saya akan pergi menemuinya dan mengatakan hal ini kepadanya."
"Pergilah Ananda."
Bhikkhu Ananda segera pergi mengunjungi Mahadhana. Pedagang kaya raya itu menyambut
Bhikkhu Ananda dengan penuh hormat. Ia lalu mempersembahkan dana makanan dan lainnya.
Setelah itu Bhikkhu Ananda bertanya :
"Berapa lamakah anda berniat tinggal disini?"
"Yang Mulia, saya datang dari tempat yang jauh, kalau sekarang saya kembali, saya akan
menderita kerugian besar, jadi lebih baik saya tetap tinggal disini sepanjang tahun, setelah saya
berhasil menjual barang dagangan ini, saya akan segera pulang."
"Saudara, apabila seseorang mengetahui kehidupannya akan segera berakhir, tentu saja amat
sulit bagi orang itu untuk menerima kenyataan ini, tetapi bagaimanapun juga hal ini harus kita
perhatikan."
"Mengapa, Yang Mulia, apakah hidup saya hampir berakhir?"
"Ya, saudara, kamu hanya akan hidup tujuh hari lagi, kamu akan segera meninggal."
Mahadhana yang mendengar berita itu amat kaget, gelisah, bingung dan juga sedih. Setelah
ia berhasil mengatasi segala kekacauan perasaannya, ia lalu mengundang Sangha yang dipimpin
oleh Sang Buddha untuk menerima dana yang dipersembahkannya.
Selama tujuh hari berturut-turut, Sang Buddha menerima undangannya. Pada hari ketujuh,
Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahnya, lalu mengucapkan terima kasih dengan
berkata :
"Anakku, seseorang yang bijaksana tidak akan pernah membiarkan dirinya berpikir,
'Disinilah saya akan tinggal selama musim hujan, musim gugur dan musim panas. Saya akan
melakukan pekerjaan ini dan saya akan melakukan pekerjaan itu'. lebih baik seseorang
bermeditasi pada akhir kehidupannya."
Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :

"Di sini aku berdiam selama musim hujan, di sini aku berdiam selama musim gugur dan
musim panas, demikianlah pikiran orang bodoh yang tidak menyadari bahaya
(kematian)."
(Dhammapada, Magga Vagga no. 14)

Ketika Sang Buddha mengakhiri ucapannya pedagang itu memperoleh Tingkat Kesucian;
demikian pula orang-orang yang hadir di sana memperoleh manfaat yang besar bagi diri mereka
masing-masing setelah mendengarkan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha sendiri.
Pedagang itu mengantarkan Sang Buddha pergi setelah itu ia kembali ke tempatnya.
"Oh, kepalaku ini sakit, pasti ada yang kurang beres," katanya.
Ia berbaring di tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia. Tetapi karena
perbuatan baik yang amat besar telah dilakukannya di akhir kehidupannya, ia terlahir kembali
di Alam Surga Tusita.

7. Tabib dan Seorang Wanita
(CERITA TENTANG BHIKKHU CAKKHUPALA)
Ketika Sang Buddha bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi, datanglah seorang Bhikkhu
yang bernama Cakkhupala, matanya buta. Ia menghadap Sang Buddha dan memberi hormat.
Pada malam itu, ketika ia melatih meditasi dengan berjalan, karena matanya buta, dengan
tidak sengaja ia menginjak beberapa serangga, sehingga serangga-serangga itu mati.
Keesokkan paginya, beberapa orang bhikkhu menemukan beberapa serangga yang mati.
Mereka berpikir bahwa Bhikkhu Cakkhupala menginjak-injak serangga-serangga tersebut.
Mereka melaporkan hal ini kepada Sang Buddha.
Sang Buddha bertanya, apakah mereka melihat sendiri Bhikkhu Cakkhupala membunuh
serangga itu. Ketika mereka menjawab tidak melihat, Sang Buddha lalu berkata :
"Seperti kalian yang tidak melihatnya membunuh ia juga tidak melihat serangga-serangga
tersebut. Disamping itu, sebagai seorang yang telah mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi
(Arahat), ia tidak lagi mempunyai keinginan untuk membunuh makhluk hidup, jadi ia tetap
suci."
Para bhikkhu lalu bertanya mengapa Bhikkhu Cakkhupala buta. Sang Buddha bercerita :
Pada masa lampau, ketika Raja Kasi memerintah di Benares, terdapatlah seorang tabib.
Tabib itu setiap hari pergi ke desa-desa dan ke kota-kota untuk mengobati orang-orang sakit
yang membutuhkan pertolongannya.
Pada suatu hari, ia melihat seorang wanita yang matanya sakit. Tabib itu bertanya :
"Mata kamu kenapa?"
"Mata saya sakit, tuan."
"Saya akan mengobati matamu."
"Silahkan, tuan."
"Apa yang akan kamu berikan kepada saya?"
"Kalau tuan berhasil menyembuhkan mata saya, maka saya beserta anak-anak saya akan
menjadi pembantumu."
"Baiklah," kata tabib itu.
Kemudian ia membuat obat yang cocok untuk mata wanita itu. Dengan obat yang diberikan
oleh tabib itu sekali saja, wanita itu sembuh dan sehat kembali. Mengalami kejadian ini, wanita
itu berpikir :
"Saya sudah berjanji kepada tabib itu untuk menjadi pembantunya beserta anak-anak saya,
kalau mata saya sembuh. Tetapi ia tidak ramah kepada saya. Lebih baik saya tipu dia saja."
Ketika tabib itu datang dan bertanya bagaimana keadaan matanya, wanita itu menjawab :
"Tuan, sebelumnya mata saya sakitnya hanya sedikit; tetapi sekarang kelihatannya malah
bertambah buruk dari pada sebelumnya."
Tabib itu lalu berpikir :
"Wanita ini berbohong karena dia tidak mau memberikan saya sesuatu, padahal ia sudah
berjanji untuk menjadi pembantu saya beserta anak-anaknya, kalau matanya sembuh. Baiklah,
sekarang saya tidak menginginkan imbalan apa-apa darinya; saya akan membuatkan obat
supaya matanya menjadi buta."
Lalu ia pulang ke rumah dan menceritakan hal itu kepada isterinya. Isterinya diam saja.
Kemudian ia membuat obat tetes mata, setelah selesai ia pergi ke rumah wanita itu dan
memintanya untuk meneteskan obat itu ke matanya. Tanpa banyak tanya, wanita itu menuruti
perintahnya. Setelah ia meneteskan obat mata itu ke matanya, seketika itu juga mata wanita itu
menjadi buta. Tabib itu adalah Bhikkhu Cakkhupala.
"O Para Bhikkhu, perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh anakKu, mengikutinya di
kemudian hari. Perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh seseorang akan mengikutinya,
seperti roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya."
Setelah menceritakan hal tersebut, Sang Buddha mengucapkan syair :
"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah
pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan
mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkan bendanya."
( Dhammapada, Yamaka Vagga no. 2 )

8. Anak Muda dan Hantu
Pada saat itu Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi. Ada seorang
pemahat kayu yang mempunyai seorang anak laki-laki. Mereka tinggal di Rajagaha. Anak
pemahat kayu ini mempunyai seorang teman yang umurnya sebaya, kedua anak itu selalu
menggunakan seluruh waktu luangnya untuk bermain bola.
Pemahat kayu ini adalah pengikut setia Sang Buddha, demikian pula anaknya. Tetapi teman
anak muda itu adalah anak seorang pertapa. Anak pemahat kayu ini selalu melatih meditasi
terhadap Sang Buddha dalam setiap tindakannya, kalau ia melempar bola ia selalu berkata :
"Terpujilah Sang Buddha!" dengan konsentrasi penuh. Tetapi temannya selalu
mengucapkan pujian terhadap para pertapa dan kalau ia melempar bola ia selalu berkata :
"Terpujilah Sang Pertapa".
Ketika mereka bermain bola, anak pemahat kayu yang setia kepada Sang Buddha selalu
menang dan sebaliknya anak pertapa itu selalu kalah. Anak pertapa itu lalu memperhatikan
kelakuan temannya, ia lalu berpikir :
"Temanku ini selalu mempraktekkan segala sesuatunya dalam bentuk meditasi, ia selalu
mengucapkan kata-kata itu bila ia melempar bola. Apa yang dia lakukan selalu lebih baik dari
pada saya. Ah, saya ingin mengikutinya." Sejak saat itu ia mulai membiasakan dirinya untuk
melatih meditasi terhadap Sang Buddha.
Pada suatu hari, si pemahat kayu menyiapkan kereta yang dihela oleh seekor sapi untuk
mengambil kayu bakar di hutan. Ia mengajak anaknya untuk ikut bersamanya. Dalam
perjalanan pulang, setelah selesai mengambil kayu bakar di hutan, di pinggir sebuah kota, ada
sebidang tanah kosong. Disana terdapat air yang dapat digunakan untuk minum, jadi ia
melepaskan sapinya untuk minum. Mereka sendiri melepaskan lelah sambil menghabiskan
perbekalan makanan mereka.
Ketika malam tiba, ternyata sapi mereka mengikuti sekawanan binatang yang memasuki
kota. Dengan membawa keretanya, anak muda itu mencari sapinya yang hilang. Setelah
menemukan sapinya, ia hendak pulang dan keluar dari kota itu. Namun ternyata ia tidak
menemukan pintu kota. Pintu kota sudah ditutup. Karena hari sudah menjelang tengah malam
dan ia sangat lelah, akhirnya anak muda itu berbaring di bawah keretanya dan tertidurlah ia.
Pada waktu itu, penduduk Rajagaha sedang dicengkeram ketakutan karena ada beberapa
hantu yang selalu mengganggu ketentraman mereka. Tanah yang ditempati anak muda itu,
adalah tempat hantu-hantu itu berkumpul. ketika anak muda tertidur di sana, dua hantu
melihatnya. Salah satu dari hantu itu mempunyai pandangan salah dan hantu yang lain
mempunyai pandangan kolot. Hantu yang mempunyai pandangan salah itu berkata kepada
temannya :
"Orang ini mangsa kita, mari kita makan!"
Hantu kolot itu menjawab :
"Cukup! Buang jauh-jauh pikiran jelekmu itu!"
Sebaliknya, hantu yang kolot itu malah menjaga anak muda tersebut. Tetapi temannya yang
berpandangan salah tidak dapat menerima kata-katanya, ia lalu memegang kaki anak muda itu
dan mencoba untuk melemparkannya.
Sebagaimana latihan meditasi yang selalu dipraktekkannya, ketika kakinya dipegang, anak
muda itupun berteriak :
"Terpujilah Sang Buddha"
Hantu-hantu itu amat kaget, mereka ketakutan dan mundur ke belakang. Hantu yang kolot itu
berkata :
"Kita telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak kita lakukan. Kita harus menerima
hukumannya."
Setelah berkata demikian, hantu yang kolot itu berjaga-jaga di sekitar anak muda itu. Hantu
yang lain lalu memasuki kota menuju istana. Ia mengambil piring emas raja dan memenuhinya
dengan makanan dan membawanya kembali ke tempat anak muda itu tertidur. Kedua hantu
itupun melayani anak muda tersebut. Dengan mewujudkan diri sebagai ayah dan ibunya,
mereka membangunkannya, menyediakan makanan dan menyuruhnya makan.
Dengan kekuatan gaib yang dimilikinya sebagai hantu, mereka menulis surat di atas piring
emas raja, menceritakan apa yang telah mereka lakukan dengan berkata :
"Hanya rajalah yang dapat membaca kata-kata di atas piring ini. Orang lain tidak dapat
membacanya."
Mereka meletakkan piring tersebut di dalam kereta anak muda itu, dan berjaga-jaga di
sekitar tempat itu. ketika menjelang pagi mereka pun pergi.
Pagi harinya beredar berita :
"Piring Raja hilang dicuri orang. Cari pencurinya!"
Pintu kota segera ditutup, dan para penduduk pun mencari piring itu ke pelosok kota. Tetapi
mereka tidak dapat menemukannya. Mereka terus mencari. Ke luar kota, kemana saja, dan
akhirnya piring Raja itu ditemukan di dalam kereta kayu si anak muda.
Anak muda itu ditahan, ia dituduh sebagai pencuri piring emas raja. "Inilah pencurinya!"
Mereka membawa anak muda itu ke istana, menghadap raja. Ketika raja membaca surat
yang ditulis oleh hantu di atas piring itu, ia bertanya kepada anak muda itu :
"Anakku, apa artinya ini?"
"Saya tidak tahu, Yang Mulia," jawab anak itu.
"Ibu dan ayah saya datang tadi malam. Mereka membawakan saya makanan dan berjagajaga
di sekitar saya. Saya pikir 'Ayah dan ibu saya ini pasti melindungi saya dari kejahatan,
membebaskan saya dari ketakutan', sehingga saya tertidur. Hanya itu yang saya tahu, Tuanku."
Pada saat itu pula, ayah dan ibu anak muda itu datang ke istana. Ketika Raja mendengar apa
yang telah terjadi, ia membawa ketiganya pergi bersamanya menghadap Sang Buddha, dan
menceritakan seluruh kejadian itu.
"Yang Mulia," tanya raja, "Apakah meditasi kepada Sang Buddha merupakan suatu
perlindungan? Ataukah meditasi kepada AjaranMu dan bentuk-bentuk meditasi lainnya juga
merupakan perlindungan?"
Sang Buddha menjawab :
"Yang Mulia Raja, meditasi kepada Buddha bukan hanya berarti perlindungan saja. Tetapi
siapa saja yang melatih meditasi dengan disiplin, melatih salah satu diantara Enam Bentuk
Meditasi, ia tidak lagi memerlukan perlindungan lainnya atau mencari pertahanan dari
serangan-serangan luar."
Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu menjelaskan Enam Bentuk Meditasi dengan
mengucapkan syair-syair ini :

"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 7 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Dhamma dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 8 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Sangha dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 9 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat badan jasmani dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 10 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka bergembira dalam keadaan bebas dari kekejaman."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 11 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka bergembira dalam ketentraman samadhi."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 12 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar