Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Sang Buddha Pelindungku - 3

1
Sang Buddha Pelindungku III
1. SIGALOVADA SUTTA
Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu, di
Kandakavinapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala, putra kepala keluarga,
bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah,
sambil ber-anjali ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah
dan atas.
Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa
mangkukNya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapatta). Kemudian
Sang Bhagava melihat Sigala, putera kepala keluarga itu menyembah ke berbagai arah dan
bertanya :
"O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan
Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil ber-anjali, engkau menyembah ke berbagai
arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas?"
"Yang Mulia, ketika ayahku menjelang wafat, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke
enam arah. Demikianlah Yang Mulia, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan
menganggap suci kata-kata ayah itulah, maka saya bangun pagi-pagi sekali dan pergi
meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali, saya menyembah
ke enam arah."
Sang Buddha lalu berkata, "Tetapi anakKu, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak
seharusnya disembah dengan cara demikian."
Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :
"Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menyembah ke enam arah itu? Alangkah
baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan kepada saya, ajaran yang menguraikan
caranya menyembah ke enam arah itu sesuai dengan agama seorang Ariya."
"O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini. Karena
siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak
melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena
ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan, maka dengan menjauhi (nasevati)
empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya),
yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat penghancuran tubuhnya,
setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.
Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? Yaitu membunuh makhluk
hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong.
Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan jahat yang tidak ia lakukan?
Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan :
- atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
- atas dorongan kebencian (dosa gati),
- atas dorongan ketidak-tahuan (moha gati), dan
- atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
Tetapi karena para siswa Ariya tidak terseret oleh keempat dorongan-dorongan tersebut, maka ia
tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat."
Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut :
"Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian atau ketidak-tahuan atau
ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar,
bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap."
"Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian, atau ketidak-tahuan atau
ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya menjadi
sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang."
"Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu?"
Yaitu :
1. Gemar minum minuman yang memabukkan,
2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
3. Mengejar tempat-tempat hiburan,
4. Gemar berjudi,
5. Bergaul dengan teman-teman jahat,
6. Kebiasaan malas.
"O putera kepala keluarga, terdapat pula enam bahaya karena :
1. Gemar minum minuman yang memabukkan, yaitu :
--
---
-
Kerugian harta secara nyata,
Bertambahnya pertengkaran,
Tubuh mudah terserang penyakit,
Kehilangan sifat yang baik,
Terlihat tidak sopan,
Kecerdasan menjadi lemah.
2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, terdapat enam bahayanya, yaitu :
- Dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan yang belum terbukti,
- Menjadi sasaran desas-desus palsu,
- Ia akan menjumpai banyak kesulitan.
3. Mengejar tempat-tempat hiburan, bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berpikir :
- Dimanakah ada tari-tarian,
- Dimanakah ada nyanyi-nyanyian,
- Dimanakah ada pertunjukan musik,
- Dimanakah ada pembacaan deklamasi,
- Dimanakah ada permainan tambur,
- Dimanakah ada permainan genderang.
4. Gemar berjudi, bahaya-bahayanya adalah :
- Bila menang, ia memperoleh kebencian,
- Bila kalah, ia kehilangan harta kekayaannya,
- Kerugian harta benda secara nyata,
- Di pengadilan kata-katanya tidak berharga,
- Ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah,
- Ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari menantu, karena mereka akan
berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang isteri.
5. Bergaul dengan teman-teman jahat, bahaya-bahayanya adalah ia menjadi teman dan sahabat
dari :
- Setiap penjudi,
- Setiap orang yang gemar berfoya-foya,
- Setiap pemabuk,
- Setiap penipu,
- Setiap orang yang kejam.
6. Kebiasaan menganggur (malas), bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berkata :
- 'Terlalu dingin' dan ia tidak bekerja,
- 'Terlalu panas' dan ia tidak bekerja,
- 'Terlalu pagi' dan ia tidak bekerja,
- 'Terlalu siang' dan ia tidak bekerja,
- 'Aku terlalu lapar' dan ia tidak bekerja,
- 'Aku terlalu kenyang' dan ia tidak bekerja.

Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru
tidak ia peroleh dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis."
Sang Buddha kemudian menerangkan :
"O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang
berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
1. Orang yang tamak,
2. Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
3. Penjilat,
4. Kawan pemboros.

Terdapat pula empat dasar yang menyebabkan orang yang seharusnya dianggap sebagai
musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
Orang yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia tamak,
- Ia memberi sedikit dan meminta banyak,
- Ia melakukan kewajibannya karena takut,
1.
- Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.
Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu apapun, dengan ciri-ciri sebagai
berikut :
- Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
- Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
- Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
2.
- Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.
Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia menyetujui hal-hal yang salah,
- Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar,
- Ia akan memuji dirimu dihadapanmu,
3.
- Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum minuman keras,
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak
pantas,
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan,
4.
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi."
Sang Bhagava lalu mengucapkan syair berikut :
"Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan
dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau
senang, sahabat yang gembira dengan cara-cara jahat. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah
menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka
jalan yang berbahaya dan menakutkan."
"O putera kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati
tulus (suhada), yaitu :
1. Sahabat penolong,
2. Sahabat pada waktu senang dan susah,
3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik,
4. Sahabat yang bersimpati.
Atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus :
Sahabat penolong berhati tulus karena :
- Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,
- Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,
- Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,
1.
- Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan.
Sahabat pada waktu senang dan susah berhati tulus karena :
- Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu,
- Ia menjaga rahasia dirimu,
- Ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan,
2.
- Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.
Sahabat yang memberi nasehat yang baik, berhati tulus karena :
- Ia mencegah engkau berbuat jahat,
- Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar,
3.
- Ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar,
- Ia menunjukkan engkau jalan ke surga.
Sahabat yang bersimpati, berhati tulus karena :
- Ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu,
- Ia merasa senang atas kesejahteraanmu,
- Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu,
4.
- Ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu.
"O putera kepala keluarga, bagaimanakah caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu?
Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut :
1. Ibu dan ayah seperti arah Timur,
2. Para guru seperti arah Selatan,
3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat,
4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara,
5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah,
6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas."
"AnakKu, Sigala, putera kepala keluarga, dengarkanlah baik-baik keterangan ini :
Ibu dan ayah seperti arah Timur.
Ada lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur :
- Aku harus merawat mereka,
- Aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka,
- Aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga,
- Aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan,
1.
- Aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka
meninggal dunia.
Dalam lima cara inilah, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti
arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya dengan:
- Mencegah anaknya berbuat jahat,
- Mendorong mereka berbuat baik,
- Melatihnya dalam suatu profesi,
- Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
- Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.
O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya
seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka
kepadanya.
Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
Para guru seperti arah Selatan.
Ada lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan :
2.
- Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
- Dengan melayani mereka,
- Dengan bersemangat untuk belajar,
- Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
- Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.
Dalam lima cara inilah, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka
seperti arah Selatan, akan mencintai siswa-siswanya dengan:
- Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
- Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
- Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
- Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
- Menjaga keselamatannya di semua tempat.
O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru
mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara inilah guru-buru mencintai siswa-siswa
mereka.
Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
Isteri dan anak-anak seperti arah Barat.
Dengan lima cara seorang isteri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat :
- Dengan menghormati,
- Dengan bersikap ramah-tamah,
- Dengan kesetiaan,
- Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
3.
- Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya.
Dengan enam cara inilah, seorang isteri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti
arah Barat dengan :
- Mencintainya,
- Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
- Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
- Dengan kesetiaan,
- Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
- Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.
O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah seorang suami memperlakukan isterinya
seperti arah Barat. Dalam enam cara inilah seorang isteri mencintai suaminya
Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara.
Dengan lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawankawannya
seperti arah Utara dengan :
- Bermurah hati,
4.
- Berlaku ramah,
- Memberikan bantuan,
- Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
- Berbuat sebaik ucapannya.
Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang
diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya
dengan :
- Mereka melindunginya sewaktu ia lengah,
- Mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
- Mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
- Mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
- Mereka menghormati keluarganya.
O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan
sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara. Dalam lima cara inilah sahabatsahabat
dan kawan-kawan mencintainya.
Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah.
Dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawankaryawannya
seperti arah bawah :
- Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
- Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
- Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
- Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
5.
- Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.
Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan
yang diperlakukan demikian oleh majikan seperti arah bawah, akan mencintainya dengan
cara :
- Mereka bangun lebih pagi daripadanya,
- Mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
- Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
- Mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
- Dimanapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman
namanya.
O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayanpelayan
dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah. Dalam lima cara inilah pelayanpelayan
dan karyawan-karyawan mencintainya.
Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.
Dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana
seperti arah atas :
- Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
- Dengan cinta kasih dalam perkataan,
- Dengan cinta kasih dalam pikiran,
- Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
- Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.
Dalam enam cara inilah, o putera kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang
diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan
kecintaan mereka :
- Mereka mencegah ia berbuat jahat,
- Mereka menganjurkan ia barbuat baik,
- Mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
- Mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
- Mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
- Mereka menunjukkan ia jalan ke durga.
O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan
para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam cara inilah para pertapa dan
brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya.
Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya."
Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putera kepala keluarga itu, berkata dengan
amat gembira :
"Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sama halnya
seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang
tersembunyi, menunjukkkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam
kegelapan, agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya.
Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava
kepada saya. Dan sekarang, Yang Mulia, saya menyatakan berlindung kepada Buddha,
Dhamma serta Sangha. Semoga Yang Mulia berkenan menerima saya sebagai seorang upasaka,
yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha,
Dhamma serta Sangha."


2. MUSUH YANG BELUM LAHIR
Ketika itu, anak Raja Bimbisara, bernama Pangeran Ajatasattu, telah dewasa. Ia dipengaruhi
oleh Devadatta Thera, yang membujuknya untuk merampas takhta kerajaan dan membunuh
ayahnya. Pangeran Ajatasattu lalu merencanakan untuk menggulingkan takhta kerajaan
ayahnya, tetapi Raja Bimbisara yang mengetahui rencana anaknya yang jahat itu, tidak
menghukumnya, malahan Beliau menyerahkan takhta kerajaan itu seperti yang diinginkan
anaknya itu.
Tetapi Pangeran Ajatasattu yang jahat itu tidak puas, ia lalu menangkap dan memasukkan
ayahnya ke dalam penjara. Ia memerintahkan supaya ayahnya tidak diberi makan, ia ingin agar
ayahnya menderita sampai mati. Ia hanya mengijinkan ibunya yang bebas mengunjungi
ayahnya di penjara. Sang Ibu yang berbudi itu selalu membawakan makanan untuk suaminya
dengan menyembunyikannya di balik baju.
Setelah Pangeran mengetahuinya, ia lalu melarang ibunya membawakan makanan untuk
ayahnya. Kemudian dengan diam-diam, ia membawa makanan yang disembunyikan di dalam
kondenya. Tidak lama kemudian Pangeran mengetahuinya dan ia melarang dengan keras ibunya
membawakan makanan untuk ayahnya. Sang ibu lalu mencari siasat lain. Ia lalu membaluri
tubuhnya dengan campuran madu, keju, mentega dan gula cair. Bimbisara lalu menjilati tubuh
isterinya, sehingga ia dapat bertahan hidup.
Raja Ajatasattu setelah mengetahui apa yang dilakukan ibunya, lalu melarang ibunya datang
mengunjungi ayahnya. Hatinya hanya dipenuhi keinginan untuk melihat ayahnya menderita dan
mati karena penderitaannya itu.
Bimbisara yang tidak lagi mempunyai makanan untuk mempertahankan hidupnya, lalu
berlatih meditasi berjalan. Setiap hari ia selalu mengingat ajaran Sang Buddha dan berlatih
meditasi dengan rajin, akhirnya ia mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna), batinnya
tetap tenang dan bahagia.
Anak yang kejam itu heran, mengapa ayahnya belum mati juga. Setelah ia mengetahui
ayahnya selalu melatih meditasi berjalan, ia lalu mengirim tukang cukur untuk menyayat-nyayat
telapak kaki ayahnya, dan melumurinya dengan garam dan minyak lalu dipanggang di atas bara
api.
Bimbisara yang melihat tukang cukur datang, amat senang karena ia berpikir bahwa anaknya
mungkin sudah sadar dan menyesali perbuatannya yang jahat dan keji itu. Ia lalu mengirim
tukang cukur untuk memangkas rambut dan jenggotnya yang sudah panjang, sebelum
membebaskannya.
Tetapi harapan Bimbisara keliru, ia harus mengalami penderitaan yang luar biasa hebatnya.
Tukang cukur itu yang atas perintah Raja Ajatasattu, menyayat-nyayat telapak kakinya dan
melumurinya dengan garam dan minyak serta memanggangnya di atas bara api. Bimbisara yang
sudah amat lemah itu, tidak tahan lagi sehingga meninggal dunia. Bimbisara meninggal karena
penderitaannya di luar batas peri-kemanusiaan lagi, dan ia meninggal atas perintah anak
kandungnya sendiri.
Pada hari itu pula, anak Raja Ajatasattu lahir. Ia amat bahagia melihat anaknya yang baru
lahir itu. Ia merasakan cinta kasih sayang yang luar biasa kepada anaknya itu. Seketika itu pula
ia teringat kepada ayahnya sendiri, bahwa ayahnya pasti juga merasakan kasih sayang yang
sama ketika ia lahir. Dengan panik, ia lalu memerintahkan pengawalnya untuk segera berlari ke
penjara dan membebaskan ayahnya. Tetapi, sudah terlambat, ayahnya, Bimbisara baru saja
meninggal dunia. Ia amat menyesali perbuatan jahatnya. Ia lalu berpaling kepada ibunya dan
bertanya : "Oh ibu, apakah ayah amat menyayangiku ketika aku masih kecil?"
Ibunya lalu bercerita, ketika ia mengandung, ia ingin sekali menghisap darah dari tangan
kanan suaminya. Ia menyimpan keinginannya yang aneh itu, sebab ia tidak berani
mengatakannya. Karena keinginannya tidak terpenuhi, ia menjadi gelisah dan amat pucat,
badannya kurus sekali. Keadaannya bertambah lama bertambah buruk, Raja Bimbisara yang
kemudian mengetahui keinginan isterinya yaitu menghisap darah dari tangan kanannya, dengan
senang hati beliau memenuhi keinginan isterinya itu. Seorang peramal pandai lalu meramalkan,
bahwa anaknya yang di dalam kandungan itu kelak akan menjadi musuh ayahnya. Mendengar
ramalan itu, Ratu ingin menggugurkan kandungannya, tetapi Raja melarangnya. Ketika anak itu
lahir, Raja memberi nama Ajatasattu yang artinya : musuh yang belum lahir. Ratu sekali lagi
berusaha untuk menyingkirkan anak yang baru lahir itu karena takut akan ramalan tersebut.
Tetapi Bimbisara tetap melarangnya.
Pada suatu waktu, Pangeran Ajatasattu yang masih kecil itu menangis terus karena kesakitan,
jarinya bengkak dan amat sakit, karena bisul yang cukup parah. Ia menangis terus, tidak ada
seorangpun yang dapat mendiamkannya. Raja yang ketika itu sedang memimpin rapat di Ruang
Kerajaan, menunda rapatnya, dengan dikelilingi oleh para menteri dan pejabat istana, ia lalu
menggendong Pangeran kecil itu. Dengan tanpa ragu-ragu ia lalu menghisap jari Pangeran yang
sakit itu dengan mulutnya. Bisul itu lalu pecah, ia lalu menelan nanah yang keluar bersama
dengan darah itu. Pangeran segera berhenti menangis.
Raja Ajatasattu yang mendengar cerita dari ibunya, bagaimana ayahnya amat
menyayanginya, amat menyesal dengan kekejaman yang telah dilakukannya terhadap ayahnya
yang amat menyayanginya.
Kelahiran seorang anak seringkali membuat orang menyadari akan cinta kasih orangtua
terhadap dirinya.


3. ANAK YANG MEMBUNUH ORANGTUANYA
Kisah ini terdapat di dalam salah satu bagian dari Kitab Suci Tripitaka. Dikisahkan tentang
salah satu dari dua murid utama Sang Buddha Gotama, bernama Yang Mulia Moggallana.
Meskipun Beliau sudah mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi, Arahat, dan mempunyai
kemampuan fisik dan batin yang amat tinggi, tetapi Beliau meninggal dengan cara yang amat
menyedihkan, yaitu dikepung oleh para penjahat dan dipukuli sampai meninggal dunia.
Sang Buddha lalu menjelaskan perbuatan yang telah dilakukan oleh Yang Mulia Moggallana
pada salah satu kehidupannya yang lampau, sehingga ia harus menerima cara kematiannya
yang amat menyedihkan itu.
Pada masa lampau, terdapatlah seorang pemuda yang amat baik budi. Ia mengerjakan semua
pekerjaan rumah tangganya sendiri, seperti menanak nasi, membersihkan rumah serta merawat
kedua orangtua yang matanya buta itu dengan penuh kasih sayang.
Kedua orangtuanya mengkhawatirkan anaknya yang bekerja seorang diri, mereka lalu berkata
kepada anaknya :
"Anakku, kamu pasti terlalu capai mengerjakan semua pekerjaan seorang diri, baik di dalam
rumah maupun mencari kayu bakar di hutan. Kalau kamu setuju, kami akan melamarkan
seorang anak gadis untuk menjadi isterimu, supaya dapat membantu meringankan
pekerjaanmu."
Anak itu lalu menjawab :
"Ibu, saya tidak memerlukan bantuan apa-apa, saya sanggup mengerjakan semuanya. Selama
ayah dan ibu masih hidup, sayalah yang akan menjaga dan merawatmu dengan tanganku
sendiri."
Berkali-kali ia menolak usul kedua orangtuanya untuk mengambil seorang isteri. Tetapi ayah
dan ibunya terus mendesak, sehingga akhirnya ia diam saja dan menerima seorang gadis muda
untuk menjadi isterinya.
Hanya beberapa hari saja isterinya mau merawat kedua orangtuanya. Setelah itu ia berkata
kepada suaminya, bahwa ia tidak sanggup lagi untuk merawat kedua orangtua itu dan tidak
ingin hidup bersama mereka lagi, ia tidak senang dengan kehidupan seperti itu.
Dengan menunjukkan ketidak-senangannya, ia selalu berkata :
"Saya tidak sanggup untuk hidup lebih lama lagi bersama ayah dan ibumu yang buta itu."
Suaminya tidak menghiraukan ocehan isterinya, sampai pada suatu hari isteri muda itu
mengambil tanah merah, kulit kayu dan butir-butir gandum, ia menebarkannya dimana-mana, di
sekitar rumah itu. Ketika suaminya pulang dan bertanya, apa yang telah terjadi, isterinya
menjawab :
"Suamiku, semua ini adalah perbuatan orangtuamu yang buta itu, mereka mengotori seluruh
rumah ini, saya tidak sanggup lagi untuk hidup bersama mereka."
Ia katakan hal itu berulang-ulang, terus-menerus. Si Suami yang semula ragu-ragu, akhirnya
menjadi percaya dengan perkataan isterinya, dan sebagai seseorang yang belum mencapai
tingkat kesempurnaan, ia menjadi kesal dengan kedua orangtuanya.
"Isteriku, jangan khawatir," kata suaminya, "Saya akan menemukan jalan yang paling tepat
untuk membuang mereka."
Kemudian ia memberi makan kepada kedua orangtuanya sambil berkata :
"Ayah dan ibu, ada salah satu keluarga kita yang sangat mengharapkan kedatanganmu, marilah
kita datang mengunjungi mereka."
Ia lalu membantu kedua orangtuanya yang buta masuk ke dalam kereta, ia juga ikut pergi
bersama mereka. Ketika mereka berada di tengah hutan yang sangat lebat, ia berkata kepada
ayahnya :
"Ayah peganglah tali kekang ini, lembu-lembu ini dapat berjalan ke arah yang kita tuju dengan
baik, di sini banyak para perampok bersembunyi, menunggu orang-orang yang lewat. Saya
turun dulu melihat keadaan di sekitar tempat ini."
Ia lalu memberikan tali kekang itu kepada ayahnya, dan segera turun dari kereta,
diarahkannya kereta itu masuk ke dalam hutan yang amat lebat.
Anak muda itu mulai membuat keributan, teriakan-teriakan, amat berisik seolah-olah ada
segerombolan perampok yang akan menyerang. Ketika kedua orangtua mendengar suara yang
amat berisik itu, mereka ketakutan dan berpikir :
"Wah, ada segerombolan perampok yang akan menyerang kita." Mereka lalu berkata dengan
berteriak : "Anakku, kami sudah tua, cepatlah pergi, selamatkanlah dirimu, jangan perhatikan
kami lagi. Pergilah, cepat pergi....!"
Ketika kedua orangtua itu berteriak menyuruhnya pergi, anak laki-laki itu juga berteriakteriak
seperti teriakan perampok, ia lalu memukuli kedua orangtuanya itu sampai mati, dan
membuang mayatnya ke dalam hutan lebat.
Setelah melakukan perbuatan yang kejam itu, ia pulang ke rumah. Ia amat menyesali
perbuatannya.
Setelah menceritakan perbuatan Bhikkhu Moggallana di masa yang lampau, Sang Buddha
lalu berkata :
"O Para Bhikkhu, karena perbuatan buruk yang telah dilakukannya, pada salah satu
kehidupannya di masa yang lampau, dengan membunuh ayah dan ibunya yang buta, ia harus
menerima kematiannya dengan cara yang mengerikan seperti itu. Inilah kelahirannya yang
terakhir di dalam lingkaran Samsara ini, meskipun ia telah menjadi orang suci, ia tetap tidak
dapat melarikan diri dari akibat perbuatan buruk yang telah dilakukannya."


4. LELAKI TUA DAN TONGKAT
Pada suatu ketika, Sang Buddha bersemayam di Savatthi, terdapatlah sebuah keluarga yang
terdiri dari ayah, ibu beserta keempat anak laki-laki mereka. Harta keluarga itu berjumlah
sebanyak delapan ratus ribu keping uang.
Ketika usia anak-anak mereka sudah dewasa, mereka lalu mengatur perkawinannya dan
memberikan kepada masing-masing anak sejumlah seratus ribu keping uang. Tidak lama
kemudian ibu anak-anak itu meninggal dunia. Anak-anak itu mempunyai pikiran yang sama,
yaitu :
"Kalau ayah kawin lagi, maka harta keluarga kita akan dibagi juga kepada anak-anak dari isteri
mudanya dan tidak ada lagi yang tersisa untuk kita. Marilah saudara-saudaraku, kita harus
membantu ayah dan menenangkan hatinya."
Sambil menunggu waktu yang tepat, mereka lalu melayani ayah mereka dengan menyediakan
makanan-makanan yang enak-enak dan pakaian yang terbaik. Mereka juga memijati tangan kaki
serta mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga ayah mereka. Setelah mereka merasa
sekaranglah waktunya yang tepat, mereka lalu berkata :
"Ayah, kami berjanji akan merawat ayah selama hidupmu, berikanlah kekayaan ayah kepada
kami."
Si ayah menyetujui permintaan anak-anaknya itu. Ia lalu membagikan kepada mereka masingmasing
seratus ribu keping uang. Sekarang, laki-laki tua itu tidak mempunyai lagi uang yang
tersisa untuk dirinya. Semua kekayaan yang dimilikinya telah dibagikan kepada keempat
anaknya.
Untuk beberapa hari lamanya, anak laki-lakinya yang paling tua merawatnya dengan baik.
Sampai pada suatu hari, ketika orangtua itu setelah mandi di sungai dan pulang ke rumah
anaknya yang paling tua, menantu perempuannya sambil berdiri di depan pintu gerbang berkata
kepada ayah mertuanya :
"Ayah, apakah kamu memberikan kepada anakmu yang paling tua ini lebih banyak seratus atau
seribu keping uang daripada yang kamu berikan kepada anakmu yang lain? Kamu hanya
memberikan kepada setiap anak dua ratus ribu keping uang. Apakah kamu tidak tahu jalan ke
rumah anak-anakmu yang lain?"
Orangtua yang mendengar kata-kata yang kasar dari menantunya itu menjadi marah dan
berkata :
"Kamu ini perempuan jahat, tukang fitnah!"
Ia lalu pergi ke rumah anaknya yang kedua. Tetapi beberapa hari kemudian ia mengalami hal
yang sama di rumah anaknya yang kedua. Ia lalu pindah lagi ke rumah anaknya yang ketiga.
Tidak lama kemudian ia pindah lagi ke rumah anaknya yang bungsu, hal yang sama dialaminya
pula. Pada akhirnya, karena anak-anaknya tidak mau merawatnya lagi, ia tidak mempunyai lagi
tempat untuk berteduh dan meminta makanan dari rumah ke rumah, ia terlunta-lunta.
Lalu ia pergi menemui Sang Buddha dan menceritakan semua yang dialaminya. Sang Buddha
lalu memberinya nasehat :
"Baiklah saudara, pelajarilah syair ini. Apabila orang-orang sedang berkumpul bersama di
ruangan besar dan anak-anakmu ada di antara kerumunan orang-orang itu, katakanlah di depan
mereka syair ini :

Saya sangat menyayangi anak-anak saya
Saya amat bahagia ketika mereka lahir
Tetapi sekarang, karena dipengaruhi oleh isteri mereka
Mereka mengusir saya
Mereka adalah raksasa-raksasa
Yang menjelma menjadi anak-anak saya
Mereka membuang saya
di usia saya yang sudah tua ini
Kalau seekor kuda
sudah menjadi tua
Pemiliknya akan berhenti
memberinya makan
Hal yang sama juga terjadi
pada diri saya
Saya harus mengemis makanan
dari rumah ke rumah orang lain
Tongkat saya lebih berguna
daripada anak saya
Tongkat ini mengusir kerbau liar
dan anjing galak
Di kegelapan malam
tongkat ini selalu berada di depan saya
Yang menuntun saya untuk menghindari
lubang-lubang yang dalam
Dengan bantuan tongkat ini
saya tidak jatuh ke dalam lubang

Ketika orangtua itu tiba di kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul dan anak-anaknya
juga ada di antara kerumunan itu, ia lalu mengulang syair yang diajarkan Sang Buddha. Orangorang
yang mendengar syair itu menjadi marah kepada keempat anak laki-laki tua itu.
Mulai sejak itu berlakulah suatu hukum kemoralan. Apabila seseorang yang telah dirawat
oleh ayah dan ibunya dan ia tidak mau merawat kembali ayah dan ibunya yang sudah tua, maka
orang itu harus mati.
Anak-anak laki-laki tua itu dengan ketakutan segera berlutut di hadapan ayah mereka,
memohon ampun kepadanya supaya mereka tidak dihukum mati, dengan berkata :
"Ayah ampunilah segala kesalahan kami. Selamatkanlah jiwa kami."
Orangtua yang mendengar anak-anaknya memohon ampun atas segala kesalahan mereka,
menjadi lemah hatinya, ia lalu berkata kepada kerumunan orang-orang itu :
"Tuan-tuan, jangan bunuh anak-anak saya ini, mereka sudah berjanji akan merawat saya dengan
baik."
Kerumunan orang-orang lalu berkata kepada keempat anak laki-laki itu :
"Tuan-tuan, apabila mulai hari ini kalian tidak merawat ayah kalian dengan baik, kami akan
membunuh kalian."
Keempat anak laki-laki itu amat ketakutan, mereka lalu menggendong dan mendudukkan
ayahnya di sebuah kursi, lalu membawanya pulang. Mereka lalu membersihkan tubuh ayahnya,
memandikan dan memberinya bedak dan minyak wangi.
Setelah itu mereka lalu berkata kepada isteri mereka masing-masing :
"Mulai sekarang kamu harus merawat ayahku dengan baik, kalau kamu menolak, aku akan
menghukummu."
Cerita ini mengandung pesan yang cukup penting, bahwa seorang anak harus merawat
orantuanya yang sudah tua dengan penuh kasih, seperti orangtua merawat anaknya dengan
kasih sayang yang tidak mengenal batas.


5. IBU YANG TIDAK MAU MENYAKITI ANAKNYA
Pada suatu waktu, seorang ibu muda membawa anaknya yang masih bayi ke tempat kolam
pemandian umum. Setibanya di sana, ia memandikan anaknya, memakaikan baju dan
membaringkannya di tepi kolam itu. Si ibu muda itu juga ingin mandi. Ia lalu turun ke kolam,
anaknya berbaring sendirian di tepi kolam.
Seorang wanita melewati jalan di tepi kolam, ketika ia melihat bayi yang sedang terbaring
sendirian, ia tertarik dan berhenti, memperhatikan bayi mungil itu dengan seksama.
Melihat ibunya yang sedang mandi, wanita itu berkata : "Saudariku, saya senang melihat
bayimu ini. Bolehkah saya memegangnya sebentar saja?"
Si ibu muda tidak melarangnya.
Kemudian wanita itu bertanya lagi :
"Bolehkah saya menggendong bayi ini?"
Ibu muda itu menjawab : "Boleh saja, silahkan."
Wanita itu menggendong bayi itu sebentar, lalu dengan segera ia membawa anak itu pergi.
Si ibu muda yang melihat anaknya dibawa pergi oleh wanita itu, cepat-cepat keluar dari
kolam dan mengejar wanita yang membawa bayinya itu. Ibu muda itu lalu menarik tangan
wanita tersebut dan meminta bayinya, wanita itu tidak mau memberikannya, bahkan ia
mengakui bahwa bayi itu anaknya. Sebaliknya, ia malahan menuduh ibu muda itu mau mencuri
anaknya.
Kedua wanita itu bertengkar, memperebutkan bayi mungil itu. Akhirnya mereka sampai di
Gedung Pertemuan, dimana Pertapa Mahaushada berada, beliau adalah pertapa yang adil dan
bijaksana. Kedua wanita itu lalu menghadap kepada pertapa tersebut, dan menceritakan apa
yang telah terjadi.
Sesudah mendengar cerita keduanya, pertapa itu bertanya :
"Apakah kalian berdua akan dapat menerima keputusan saya?"
Mereka menjawab : "Ya, tuanku."
Pertapa itu lalu membuat sebuah garis lurus di tengah ruangan. Ia lalu membaringkan bayi itu
di tengah-tengah garis tersebut. Ia lalu meminta kedua wanita itu berdiri, yang satu di kepala si
bayi dan lainnya di kaki si bayi. Kemudian ia meminta kedua wanita itu mengangkat bayi
tersebut, wanita itu memegang kaki si bayi, dan ibu muda itu diminta untuk memegang lengan
bayinya.
Setelah kedua-duanya sudah memegang lengan dan kaki bayi tersebut, pertapa meminta
mereka untuk saling menarik lengan dan kaki bayi tersebut. Dengan segera bayi itu menangis
kesakitan. Ibu muda itu segera berhenti menarik dan melepaskan bayinya, ia menangis tersedusedu.
Pertapa Mahaushada berbalik ke kerumunan orang yang ada di ruangan gedung itu dan
bertanya : "Apakah kasih seorang ibu adalah kasih yang penuh dengan kelembutan terhadap
anaknya ataukah ada kasih yang lain?"
Mereka menjawab :
"Tentu saja, kasih seorang ibu, adalah kasih yang penuh dengan kelembutan terhadap anaknya."
Pertapa itu bertanya lagi :
"Kemudian, siapakah ibu yang sejati; wanita yang melepaskannya ataukah yang menariknya
dengan kencang?"
Orang-orang itu menjawab :
"Ibu sejati adalah wanita yang melepaskan anaknya, karena ia tidak ingin menyakitinya."
Segera saja ibu yang sejati itu mengambil anaknya dari wanita itu, lalu menciuminya dengan
penuh kasih. Setelah berterima kasih kepada pertapa yang bijaksana dan kepada orang-orang
yang ada di ruangan itu, kemudian ia pergi. Wanita yang mengambil bayi itu merasa malu dan
menyadari perbuatannya yang buruk. Ia amat menyesal.
Cerita ini menjelaskan tentang kebenaran yang abadi, bahwa seorang ibu tidak akan pernah
menginginkan anaknya menderita sedikitpun.
Di sini, ibu muda itu tidak ingin melukai anaknya meskipun ia menghadapi kenyataan, bahwa
anaknya akan dapat diambil oleh wanita lain.
Kasih seorang ibu adalah kasih sayang yang suci dan murni, ia selalu menginginkan
anaknya berbahagia.


6. PANGERAN YANG MENCABUT TANAMAN
Pada jaman dahulu, ada seorang pangeran yang tabiatnya amat buruk, ia amat keras kepala,
juga kejam kepada siapapun. Setiap orang amat takut kepadanya. Rakyat, pegawai-pegawai
istana, para menteri bahkan raja di kerajaan itu sekalipun takut kepadanya. Raja amat gelisah
memikirkan hal itu.
Raja lalu mengundang seorang pertapa yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Ia lalu
menjelaskan tingkah laku Pangeran kecil yang buruk itu dan memohon bantuan untuk
menyadarkannya. Pertapa itu lalu berkata kepada raja : "Yang Mulia, janganlah khawatir, saya
akan memperbaiki sifatnya yang buruk itu."
Pertapa bijaksana itu kemudian mengajak Pangeran kecil masuk ke sebuah taman. Sambil
berjalan-jalan di sekitar taman, pertapa itu kemudian menunjuk ke sebuah pohon yang masih
kecil. Pohon itu bernama pohon Neem.
Pertapa itu lalu meminta Pangeran untuk memetik selembar daun pohon tersebut dan
mencicipi rasanya. Pangeran lalu mencicipi daun pohon Neem itu ke dalam mulutnya, ia
merasakan daun pohon itu amat pahit, ia segera meludahkannya.
"kalau daunnya saja sudah begitu pahit ketika pohon ini masih kecil, bagaimana pahit
daunnya apabila pohon ini sudah benar-benar besar." kata Pangeran kecil itu.
"Saya tidak akan membiarkan pohon ini tumbuh menjadi besar." katanya kepada pertapa
bijaksana itu.
Dengan amat marah Pangeran lalu mencabut pohon itu lalu mematah-matahkannya, ia tetap
meludah karena pahitnya daun pohon itu masih terasa di lidahnya.
Pertapa bijaksana melihat tingkah lakunya itu tersenyum dan bertanya :
"Apakah daun pohon itu amat pahit, anakku?"
"Ya, pahit sekali," jawab Pangeran.
"Mengapa kamu mencabut dan mematah-matahkan batang pohon yang kecil itu?" tanya
pertapa itu lagi.
"Kalau daun saja sudah begitu pahit ketika pohon ini masih kecil, bagaimana pahitnya apabila
pohon ini sudah tumbuh menjadi besar? Saya mencabutnya supaya ia tidak tumbuh menjadi
pohon yang besar," jawab Pangeran.
Pertapa bijaksana itu lalu menganggukkan kepalanya dan berkata :
"Sekarang Pangeran, kamu juga seperti pohon kecil itu. Sebagai seorang Pangeran yang masih
kecil, kamu sudah begitu kejam. Apabila nanti kamu menjadi raja menggantikan ayahmu,
dapatkah kamu bayangkan bagaimana kejamnya kamu ini? Orang-orang akan
menghancurkanmu kalau kamu sudah kejam sejak kamu masih menjadi Pangeran kecil. Mereka
akan mengatakan seperti yang kamu katakan tentang pohon kecil itu. Kalau ia sudah begitu
kejam ketika ia masih kecil, bagaimana kejamnya ia apabila ia sudah menjadi seorang raja.
Mengertikah anakku?"
Pangeran itu segera menyadari apa yang dimaksud oleh pertapa itu. Ia lalu mengucapkan
terima kasih kepada pertapa mulia itu atas nasehatnya. Ia berjanji untuk mengubah tingkah
lakunya, untuk menjadi orang yang baik dan bijaksana.
Setelah Pangeran dewasa, menggantikan ayahnya yang sudah tua, menjadi raja, ia menjadi
raja yang adil dan bijaksana yang dicintai oleh seluruh rakyatnya.
Pesan moral dari cerita ini adalah kalau anak-anak mau mendengar nasehat-nasehat yang
baik dari orangtuanya dan orang yang lebih tua, dan mau memperbaiki tingkah lakunya yang
keliru, maka mereka akan mencapai hidup yang sukses dan bahagia di masa yang akan datang.


7. IBU YANG SALAH MENDIDIK ANAK
Pada masa lampau, tinggallah seorang janda yang mempunyai seorang anak laki-laki. Si ibu
amat sangat menyayangi anak satu-satunya itu. Anak itu bebas pergi ke mana saja dan bebas
melakukan apa saja yang diinginkannya. Ibunya tidak pernah melarangnya, malah memuji
semua perbuatannya, baik ataupun buruk. Anak itu mempunyai kebiasaan yang buruk, ia selalu
keluar rumah setiap malam.
Beberapa tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi seorang pemuda, ia tidak mempunyai
keahlian apapun untuk mencari pekerjaan, sehingga ia tidak mempunyai penghasilan untuk
membiayai kehidupannya. Karena itulah ia mulai melakukan pencurian kecil-kecilan. Pada
mulanya ia amat senang memperoleh hasil curian itu. Dan ketika ia pulang membawa hasil
curiannya, ibunya amat senang, memuji-muji perbuatannya itu. Ia malah bangga terhadap
anaknya dan mendorongnya untuk terus melakukan pekerjaannya sebagai pencuri.
Akhirnya ia menjadi pencuri ulung yang amat ditakuti oleh penduduk di sekitar tempat
tinggalnya. Polisi segera dikerahkan untuk menangkapnya. Tetapi ia tidak takut, ia tetap saja
melakukan pencurian. Tidak berapa lama kemudian ia tertangkap dan dibawa ke hadapan raja.
Sesudah diperiksa dan diadili, raja manyatakan ia bersalah karena telah merugikan banyak orang
dan ia dihukum mati.
Sebelum hukuman mati itu dilaksanakan, ia memohon kepada pengawal raja bahwa ia ingin
bertemu dengan ibunya untuk yang terakhir kalinya. Karena ini permintaan yang terakhir,
permohonan itu dikabulkan. Ibunya segera dibawa untuk menemuinya, si pencuri itu lalu
memeluk ibunya, dan dengan segera ia menggigit telinga ibunya.
Pengawal melaporkan kejadian itu kepada raja, dan si pencuri lalu dibawa menghadap raja.
Raja bertanya mengapa ia menggigit telinga ibunya. Si pencuri menjelaskan : "Yang Mulia Raja,
saya adalah anak satu-satunya. Ibu saya seharusnya mengajarkan kepada saya untuk menjadi
orang yang baik dan bersih. Tetapi sebaliknya ia malah mendorong saya untuk menjalani
kehidupan yang tidak bersih. Ia tidak pernah melarang saya berbuat buruk. Apabila ia
mengingatkan saya akibat dari perbuatan buruk yang saya lakukan, saya akan menjadi rakyat
yang baik, mengerti dan patuh terhadap hukum negara. Tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu.
Karena itulah saya akan mati dengan cara seperti ini. Saya pikir inilah saat yang terakhir kalinya,
saya harus mengajarkan kepadanya sebuah pelajaran, supaya ibu-ibu yang lain akan belajar dari
kejadian ini, bahwa mereka harus membimbing anak-anaknya menuju jalan yang bersih. Inilah
penjelasan saya Yang Mulia, mengapa saya menggigit telinga ibu saya."
Tidak diceritakan apa yang dikatakan oleh raja atas penjelasan pencuri itu, tetapi pesan yang
terkandung dari cerita ini adalah peringatan yang amat jelas bagi para orangtua untuk
mendidik anak-anaknya dengan baik.
Para orangtua harus menjaga tingkah laku anaknya, apalagi ketika mereka masih kecil, bila
mereka melakukan perbuatan yang kurang baik, orangtuanya harus segera mengingatkan
akibat perbuatan yang kurang baik itu, dan harus memperbaikinya.
Para orangtua juga harus memperingatkan untuk tidak mengulangi perbuatan buruk yang
dilakukan anak-anaknya, karena kalau perbuatan buruk yang dilakukan semasa kanak-kanak
tidak diperingatkan, maka perbuatan buruk itu akan berkembang menjadi perbuatan yang jahat
apabila mereka telah menjadi dewasa. Semua perbuatan jahat itu akan membawa kejatuhan
bagi orang itu dan juga akan menjatuhkan martabat orangtuanya.
Di dunia yang modern ini, dengan komunikasi yang begitu baik dan canggih, justru
hubungan orangtua dan anak menjadi renggang, tidak terjalin dengan baik, di kebanyakan
keluarga pada saat sekarang ini. Sebagai akibatnya orangtua tidak mengetahui kalau anakanaknya
menjadi tersesat.
Karena itu sangatlah penting bagi orangtua untuk menjalin komunikasi dan berdiskusi
dengan baik dengan anak-anaknya. Dengan komunikasi yang baik akan ditemukan suatu cara
terbaik untuk memecahkan berbagai masalah yang timbul, sehingga tidak berkembang menjadi
suatu krisis yang serius.


8. SEORANG KAKEK DALAM KERANJANG
Tersebutlah sebuah kisah yang amat terkenal di Asia, yang menceritakan tentang kekejaman
seorang lelaki terhadap ayah kandungnya sendiri.
Pada suatu ketika tinggallah sepasang suami isteri muda yang mempunyai seorang anak lakilaki
berusia sembilan tahun. Ayah si suami itu tinggal bersama mereka, ia sudah amat tua,
sangat lemah serta sulit untuk berjalan sendiri. Isteri muda itu amat tidak menyukai kehadiran
ayah mertuanya di antara mereka. Tetapi suaminya, amat menyayangi ayahnya dan selalu
menenangkan isterinya untuk merawat orangtuanya dengan baik.
Pada suatu malam, si isteri itu menunggu sampai anak laki-lakinya tidur nyenyak, ia lalu
meminta kepada suaminya untuk menyingkirkan ayah mertuanya itu dari rumahnya, apabila
suaminya ingin tetap hidup bersamanya.
Suaminya amat sedih dan merasa tidak berdaya menghadapi permintaan isterinya itu.
Akhirnya ia menyetujui permintaan isterinya, supaya kehidupan rumah tangganya tidak
terganggu lagi oleh ayahnya yang sudah tua renta itu.
Setelah yakin anaknya sudah tidur nyenyak, mereka lalu merencanakan bagaimana caranya
untuk membuang ayahnya itu. Si isteri berkata : "Besok pagi-pagi sekali, kamu harus katakan
kepada ayahmu, bahwa kamu akan membawanya ke tempat ziarah. Taruh saja dia di dalam
keranjang besar dan bawa dia ke dalam hutan lebat. Tinggalkan saja di sana, biar dimakan
binatang buas, setelah itu cepat-cepat pulang ke rumah."
Keesokkan paginya, anak laki-laki itu bangun pagi-pagi sekali. Seperti yang telah
direncanakan orangtuanya, si ayah membawa kakeknya yang dimasukkan ke dalam keranjang
besar dan pergi keluar. Anak itu lalu bertanya :
"Ayah, mau dibawa kemana kakekku ini?"
"Anakku, saya akan membawanya pergi berziarah."
"Baiklah ayah, tetapi jangan lupa ya membawa pulang kembali keranjang besar itu, karena
kalau nanti ayah sudah setua kakek, saya akan membawa ayah berziarah juga."
Kata-kata anak laki-laki itu menyadarkan mereka, pasangan suami isteri muda itu lalu
berubah pikiran. Mereka akhirnya merawat orangtua itu dengan baik.
Cerita ini menyinggung dengan tajam dan tepat nilai-nilai moral pada masa sekarang ini. Di
India, pada masa yang lampau, banyak cerita-cerita seperti ini. Dimana perhatian utama
adalah ketidak-puasan seorang anak terhadap orangtuanya dan hal ini diperbaiki oleh
cucunya. Cerita yang lain tentang hal seperti ini sebagai berikut.
Seorang ayah yang masih muda merencanakan membuang ayahnya yang sudah tua, si ayah
dimasukkan ke dalam sebuah kereta. Ia lalu membawanya ke kuburan. Cucunya juga ikut serta.
Ketika cucunya melihat ayahnya sedang menggali lubang kuburan untuk mengubur kakeknya,
anak kecil itu berkata kepada ayahnya :
" Ayah, tolong gali sebuah lubang lagi untuk kuburanmu sendiri. Nanti, kalau ayah sudah tua
saya tinggal mengubur ayah saja di situ, jadi saya tidak usah repot-repot menggali kuburan
untukmu."
Tentu saja hal ini menakutkan si ayah muda itu.
Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini adalah apa yang kita lakukan terhadap ayah,
akan terjadi pula pada diri kita sendiri, yang akan dilakukan oleh anak kita.
Ada cerita lain lagi, seorang kakek diberikan makanan dengan sebuah piring yang amat kotor,
ditaruh di atas tanah. Piring itu begitu kotornya sehingga tak seorang pun yang sanggup untuk
memakan makanan dari piring tersebut. Ketika anak laki-laki tua tersebut melihat bahwa tak ada
gunanya lagi untuk memberi makan kepada ayahnya, ia ingin membuangnya. Anaknya yang
masih muda lalu berkata :
"Ayah, piring tua itu jangan dibuang. Saya ingin menyimpannya."
Ayahnya bertanya : "Untuk apa?"
Anak muda itu berkata :
"Untuk apa....? Tentu saja untuk memberikan makanan ayah di atas piring itu kalau ayah sudah
setua kakek saya ini."
Inilah pelajaran untuk seorang ayah muda untuk lebih mengasihi dan merawat orangtuanya
yang sudah tua.


9. APAKAH SEORANG IBU PERNAH
MENAKAR AIR SUSUNYA?
Di Dalam puisi dan cerita-cerita rakyat di beberapa negara, banyak diceritakan masalah
tentang hubungan cinta dan tidak cinta antara orangtua dengan anak-anaknya. Ada beberapa
negara di dunia ini tidak mempunyai cerita-cerita rakyat yang berkenaan dengan
penggambaran hubungan cinta kasih antara orangtua dengan anak-anaknya. Dan mereka
hanya menekankan tentang cinta kasih kepada semua orang, yang tentu saja termasuk orangtua
mereka juga. Banyak sekali orang yang menangis ketika mendengar dan membaca puisi dan
cerita-cerita yang menggambarkan tentang hubungan cinta kasih antara orangtua dengan
anak. Ada satu cerita berasal dari sebuah puisi yang amat terkenal di Srilanka. Puisi yang asli
terdiri dari empat bait, yang dapat mengubah seseorang menjadi penuh belas kasih. Ceritanya
sebagai berikut :
Pada suatu ketika, hiduplah seorang ibu yang membesarkan anak laki-lakinya. Dengan
melalui berbagai penderitaan akhirnya ibu tua itu berhasil menghantarkan anak laki-lakinya
mencapai kehidupan yang sukses. Anak laki-laki itu lalu menikah dan mempunyai rumah
sendiri. Setelah ia berkeluarga dan mempunyai kehidupan yang cukup baik, tetapi ia tidak
pernah menengok kepada kedua orangtuanya yang sudah tua itu. Ayah dan ibu tua itu sudah
lama amat menderita, mereka tidak mempunyai makanan dan pakaian yang cukup.
Pada suatu hari karena mereka sudah amat kelaparan, tidak mempunyai lagi makanan yang
dapat dimakan, ibu tua itu merasa ia dapat meminta pertolongan dari anaknya. Dengan badan
yang sudah membungkuk, ia berjalan perlahan-lahan menuju ke rumah anaknya untuk meminta
makanan. Anak laki-laki itu yang melihat ibunya datang segera bersembunyi di dalam rumah. Ia
diam saja di dalam rumah dan tidak mau keluar menemui ibunya, ia lalu menyuruh isterinya
keluar untuk menemui ibunya.
Di depan pintu rumah, ibu tua itu berkata kepada menantu perempuannya, bahwa ia amat
lapar dan membutuhkan makanan. Menantunya tanpa berkata sepatah katapun lalu masuk ke
dalam rumah dan membawa sebuah keranjang, lalu diberikannya kepada mertuanya, yang berisi
dua liter gandum.
Tetapi ibu mertua yang sedang kelaparan itu, tentu saja tidak dapat memakan gandum yang
belum dimasak itu. Ia harus memasaknya terlebih dahulu, dan membutuhkan waktu yang cukup
lama sampai gandum itu matang dan dapat dimakan. Sedangkan ia sudah amat lapar, dan
membutuhkan makanan yang sudah matang supaya dapat segera dimakan untuk menghilangkan
rasa laparnya.
Ibu tua itu menerima keranjang yang berisi gandum itu dengan perasaan sedih, ia tidak
bahagia. Ia menghadapi kenyataan yang pahit, ia hanya menerima dua liter gandum, pemberian
dari anak laki-lakinya yang amat sangat dikasihinya. Anak laki-lakinya itu tidak mau keluar
menemuinya ketika ia datang, hatinya amat kecewa dan sedih sekali.
Diceritakan, ibu tua itu lalu mengucapkan syair ketika ia menerima gandum itu,
"Saya datang ke depan pintu rumah anakku
karena saya amat lapar dan hampir mati
Tetapi saya hanya memperoleh dua liter gandum
Saya ragu-ragu,
apakah saya harus menerimanya atau tidak
Oh anakku sayang
apakah saya pernah menakar air susuku ketika menyusuimu?"
Cerita selanjutnya : ternyata menantunya itu amat marah mendengar kata-katanya. Ia merasa
kata-kata itu ditujukan untuk dirinya. Dengan marah ia lalu berkata :
"Hai nenek tua, ibuku sendiri yang telah membesarkanku, dan tidak akan membiarkan aku
menderita sedikitpun, tidak ribut ketika ia datang, dan hanya kami berikan seliter gandum. Kami
kan sudah memberikanmu dua liter gandum, tetapi kamu malah berkata-kata seperti itu.
Sudahlah nenek tua, pergilah dari tempat ini sekarang juga!"
Anak laki-laki itu tidak berusaha meredakan pertentangan antara ibu dan isterinya, ia hanya
diam saja.
Tetapi sejak saat itu setelah mendengar puisi yang diucapkan si ibu tua, orang-orang menjadi
merasa ngeri dan takut apabila sudah tua nanti, akan menghadapi keadaan seperti yang dialami
oleh ibu tua itu.
Cerita ini menekankan tentang kewajiban seorang anak untuk merawat ayah dan ibunya
yang sudah tua, seperti ayah dan ibu merawat anaknya dengan penuh kasih yang tanpa batas
ketika mereka masih kecil. Jadi seorang anak harus berbakti dengan merawat orangtua mereka,
dengan penuh hormat dan dengan cinta kasih yang tulus ikhlas.


10. LAGU PUJIAN UNTUK IBU
Di dalam Sona Nanda Jataka, Boddhisatta menyanyikan lagu pujian untuk ibu, sebagai
berikut :
Ia baik hati dan penuh perhatian kepada kita
Ia menyusui kita dengan air susunya
Seorang ibu adalah jalan menuju ke surga
Ia amat menyayangi kita
Ia merawat dan memelihara kita
dengan kasih sayang
Ia selalu berdoa untuk kebahagiaan kita
Ia selalu bersujud di setiap tempat suci
mendoakan anak-anaknya
Ia selalu melindungi anak-anaknya
Apabila musim berganti
ia menunggu saat
untuk memberikan hadiah kepada anak-anaknya
Ia mempelajari bintang-bintang
mencari bimbingan mereka
untuk diberikan kepada anak-anaknya
Pada saat ini, ia bersama anaknya
Kerinduannya makin bertambah besar
Janin tumbuh di dalam kandungannya
dengan penuh cinta kasih
dan menjadi teman yang baik bagi si ibu
Ia memberi kekuatan untuk anaknya
Mulai saat ia mengetahui
ia akan menjadi seorang ibu
Ia menenangkan dan
membujuk anaknya yang sedang menangis
dengan menyusuinya dan dengan bersenandung
Belaian dan popok
di tangan ibu yang lembut
dapat menenangkan anaknya yang sedang rewel
Seorang ibu ingin melihat
anaknya betul-betul suci
tanpa mengalami badai kehidupan
atau kesulitan yang dihadapi anaknya
Ia merawat anak-anaknya
seperti seorang perawat yang ahli
Apa saja yang ia dan suaminya miliki,
ia pasti akan menyimpan untuk anaknya
mungkin anaknya akan membutuhkannya
di suatu ketika nanti.
Ia berpikir : "Pada suatu hari nanti anakku sayang
semua ini akan menjadi milikmu"
Ibu yang selalu khawatir, akan selalu
memberitahukan anaknya
untuk berbuat kebaikan
"Lakukan ini atau itu anakku sayang," katanya
Meskipun anaknya sudah dewasa
seorang ibu tetap merasa khawatir
Kalau seorang anak dibimbing
oleh seorang ibu yang selalu cemas
dan mengambil alih semua kesulitan anaknya
apakah kelalaian ibu itu dapat menyebabkan
timbulnya kejahatan di kemudian hari?
Kalau seorang anak melakukan kesalahan
karena ibunya membimbingnya
dengan cara seperti itu
bagaimanakah kehidupan anak itu
di masa depan?
Siapapun yang mengabaikan ibunya,
akan selalu menyesali perbuatan buruknya,
Anak-anak akan selalu memandang
ayah dan ibunya dengan penuh hormat
Seorang laki-laki yang bijaksana
akan selalu menghargai
orang yang menghormati orangtuanya
Pertapa-pertapa jaman dahulu
menjelaskan bahwa orangtua itu
sebagai Dewa Brahma
Anak-anak yang bijaksana
akan menghormati mereka
dan melayani orangtuanya
Anak-anak selalu menyediakan
semua barang-barang yang mereka butuhkan :
makanan, minuman
pakaian dan tempat tinggal
Anak-anak harus memandikan mereka.
Anak-anak yang merawat orangtua mereka
dengan cara seperti itu
maka kehidupan yang berhasil
di dunia ini akan dapat dicapai
dan sesudah mati anak-anak itu
akan bahagia di alam surga
Pada suatu peritiwa, seorang dewa
bertanya kepada Sang Buddha :
"Siapakah teman yang paling baik bagi
orang yang ada di rumah?"
"Ibu adalah teman yang paling baik di
rumah," jawab Sang Buddha Gotama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar