Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Sang Buddha Pelindungku - 5


1
Sang Buddha Pelindungku V
1. Perubahan Yasa Dan Teman-Temannya
Di kota Benares tinggallah seorang pemuda bernama Yasa, dari keluarga yang terhormat. Ia
adalah anak seorang jutawan yang baik hati. Seperti Pangeran Siddhartha ia juga mempunyai tiga
buah istana. Satu untuk musim dingin, satu untuk musim panas, dan istana yang satunya lagi
untuk musim hujan. Di istana untuk musim hujan, ia menghabiskan waktu selama empat bulan,
dihibur oleh pemusik-pemusik wanita yang cantik dan menarik, dan ia tidak pernah turun dari
tempat pembaringannya.
Pada suatu hari, Yasa yang telah memperoleh kepuasan tertinggi dari ke lima indranya tertidur di
tengah-tengah para penghiburnya. Para penghibur itu juga tertidur kecapaian. Lampu minyak di
ruangan itu menyala sepanjang malam.
Yasa terbangun lebih dahulu dari yang lain, dan melihat mereka masih tertidur dengan
nyenyaknya. Salah seorang pemusik wanita memeluk kecapi di bawah lengannya, dan di leher
pemusik yang lain tergeletak genderang. Di bawah lengan pemusik lainnya tergeletak sebuah alat
musik. Salah seorang diantaranya rambutnya kusut terurai dan air liur keluar mengalir dari
mulutnya. Beberapa diantaranya mengigau, berkata-kata sendiri. Bagi Yasa ruangan itu nampak
seperti kuburan, kemudian ia melihat bahwa semua itu tidak ada gunanya dan ia amat jijik
melihat semua itu. Ia lalu berkata: "Saya dalam bahaya dan saya menderita."
Yasa lalu memakai sandal emasnya dan berjalan menuju ke pintu. Makhluk-makhluk istimewa
(para dewa) membukakan pintu, di mana tidak ada lagi yang menghalangi pelepasan kehidupan
duniawi Yasa. Ketika ia sampai di pintu kota, para dewa kemudian membukakan lagi pintu
gerbang untuk Yasa, yang membantunya dalam melaksanakan pelepasan keduniawiannya.
Ketika Yasa tiba di Taman Rusa Isipatana, Sang Buddha sedang meditasi dengan sikap berjalan
bolak-balik di alam terbuka. Ketika Sang Guru Agung melihat Yasa mendatangi dari kejauhan,
Beliau berhenti bermeditasi dan duduk di tempat duduk yang telah tersedia. Setelah Yasa
mendekat, ia bergumam: "Saya dalam bahaya, dan saya sungguh-sungguh menderita."
Sang Buddha lalu berkata kepada Yasa: "O Yasa, di sini tidak ada bahaya dan tidak ada
penderitaan. Datanglah kemari, Aku akan mengajarkan Dhamma kepadamu."
Yasa amat gembira dan bahagia mendengar kata-kata: "Di sini tidak ada bahaya; di sini tidak ada
penderitaan." Kemudian ia melepaskan sandal emasnya dan menghampiri Sang Buddha. Setelah
ia bernamaskara, menghormat kepada Sang Buddha, ia lalu duduk di salah satu sisi. Kepadanya
Sang Buddha memberi penjelasan secara bertahap. Beliau menjelaskan tentang kedermawanan
(dana), kemoralan (sila), surga (sagga), kenikmatan nafsu indra yang buruk (kamadinava),
kebahagiaan meninggalkan kehidupan duniawi (nekkhammanisamsa).
Ketika Sang Buddha mengetahui pikiran Yasa mudah menerima, tidak kaku, jernih, bahagia, dan
gembira, Beliau mengajarkan kepadanya tentang pengertian doktrin dari semua Buddha, yang
dinamakan Empat Kesunyataan Mulia.
Ketika ibu Yasa memasuki rumahnya, ia tidak menemukan anaknya. Kemudian ia
memberitahukan kepada suaminya bahwa Yasa tidak ada di rumahnya. Ayah Yasa lalu
menyuruh pegawai-pegawainya mencari anaknya ke seluruh penjuru kota, dan ia sendiri keluar
mencari anaknya menuju Taman Rusa Isipatana. Ketika ia melihat jejak dari sandal emas
anaknya, ia lalu mengikutinya. Sang Buddha melihatnya dari kejauhan, dengan kemampuan
sprititualNya yang tinggi, Beliau membuat ayah Yasa tidak dapat melihat anaknya. Jutawan itu
menghampiri Sang Buddha, dan bertanya:
"Yang Mulia, apakah Anda melihat anak saya, Yasa?"
"Duduklah di sini, saudara", jawab Sang Buddha. "Kalau anda duduk di sini, anda akan dapat
melihat anakmu Yasa, yang juga duduk di sini."
Dengan perasaan senang dan bahagia dan berharap dapat bertemu dengan anaknya yang sedang
duduk di sana, jutawan itu lalu menghormat kepada Sang Buddha dan duduk di salah satu sisi.
Setelah ia duduk, Sang Buddha lalu menjelaskan AjaranNya. Setelah ia mengerti semua yang
Sang Buddha ajarkan, jutawan itu berkata:
"Luar biasa, Yang Mulia, luar biasa. Seperti membalikkan sesuatu yang di atas menjadi di
bawah; seperti membuka sesuatu hal yang tersembunyi; seperti menunjukkan jalan kepada orang
yang tersesat; seperti penerangan di dalam kegelapan sehingga mata dapat melihat, Yang Maha
Sempurna telah membabarkan dengan amat jelas AjaranNya. Kerena itu Yang Mulia, saya
berlindung kepada Buddha, Dhamma (Ajaran), dan kepada Sangha (Pasamuan Para Bhikkhu).
Semoga Yang Maha Sempurna menerima saya mulai sekarang sebagai pengikutMu." Ia menjadi
upasaka pertama yang berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Mendengar penjelasan yang diberikan kepada ayahnya, Yasa mencapai Tingkat Kesucian
Tertinggi, menjadi Arahat. Sesudah itu, Sang Buddha menjadikan Yasa dapat terlihat oleh
ayahnya. Dengan segera, jutawan itu dapat melihat anaknya yang sedang duduk di sana dan
berkata: "Anakku, Yasa, ibumu menangis terus menerus memikirkanmu. Maukah kamu
menyelamatkan hidupnya?"
Yasa lalu melihat Sang Buddha, yang menjelaskan kepada ayahnya bahwa anaknya sekarang
telah terbebas dari semua belenggu, dan bertanya apakah Yasa harus menerukan kehidupannya
sebagai perumah tangga. Jutawan itu menolak menjawab, dan mengundang Sang Buddha untuk
menerima dana di rumahnya bersama dengan Yasa. Sang Buddha menerima undangan itu
dengan berdiam diri.
Setelah jutawan itu pulang, Yasa memohon kepada Sang Buddha untuk menahbiskannya
menjadi calon bhikkhu (Pabbajja) dan Penahbisan Tertinggi (Upasampada). Kemudian Yasa
menerima Penahbisan Tertinggi (Upasampada) menjadi seorang bhikkhu. Dengan bhikkhu Yasa,
sekarang terdapat tujuh Arahat di dunia ini.
Menjelang tengah hari, Sang Buddha dengan diiringi oleh Yang Mulia Yasa, memasuki rumah
jutawan itu. Setelah Sang Buddha duduk, ibu Yasa, bersama dengan isteri Yasa, menghampiri
dan bernamaskara kepada Sang Guru dan duduk di salah satu sisi. Sesudah menjelaskan tentang
kedermawanan, kemoralan, dan sebagainya, Sang Buddha menjelaskan kepada mereka tentang
Empat Kesunyataan Mulia. Mereka mengerti dengan baik apa yang Sang Buddha jelaskan, dan
menyatakan untuk berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Keduanya mencapai
Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna), menjadi upasika-upasika pertama yang berlindung
kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Ayah, ibu, dan isteri Yang Mulia Yasa menjamu Sang Buddha dan Yang Mulia Yasa dengan
makanan dan minuman yang enak. Sang Buddha dilayani dengan penuh bakti, sesudah itu Sang
Guru Agung beserta Yang Mulia Yasa kembali ke Taman Rusa.
Keempat anak jutawan di Benares, bernama Vimala, Subahu, Punnaji, dan Gavampati, yang
menjadi teman Yang Mulia Yasa, mendengar bahwa temannya telah menyelamatkan hidupnya,
mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian menjadi seorang bhikkhu. Mereka
menyadari bahwa ajaran dan peraturan yang dilaksanakannya, dan penahbisan, bukanlah masalah
yang mudah dan umum. Mereka lalupergi ke tempat di mana Yang Mulia Yasa berada,
memberikan hormat dan duduk di salah satu sisi. Beliau lalu membawa mereka menemui Sang
Buddha dan memperkenalkan mereka dan memohon kepada Sang Guru Agung untuk
menerangkan Dhamma kepada teman-temannya.
Sesudah mendengarkan Ajaran yang Sang Buddha babarkan kepada mereka, tentang Empat
Kesunyataan Mulia yang mereka segera mengerti, mereka memohon untuk ditahbiskan menjadi
bhikkhu kepada Sang Buddha. Sang Buddha lalu menahbiskan mereka dan menjelaskan kepada
mereka peraturan-peraturan lainnya. Mereka kemudian menjadi Arahat, sehingga pada saat itu
terdapat sebelas Arahat.
Kemudian, kelima puluh teman-teman Yang Mulia Yasa, yang berasal dari keluarga-keluarga
terkemuka di berbagai daerah, menemui Yang Mulia Yasa dan mereka lalu diperkenalkan kepada
Sang Buddha. Setelah mendengarkan Dhamma, mereka semua lalu menerima Penahbisan
Tertinggi, menjadi anggota Sangha dan mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi, menjadi Arahat.
Sekarang jumlah Arahat di dunia ini semuanya berjumlah enam puluh satu, termasuk Sang
Buddha sendiri.


2. Uruvela Kassapa Damana
(Keyakinan Uruvela Kassapa)
Dalam melakukan perjalananNya, Sang Buddha tiba di Uruvela pada waktu yang tepat. Di
tempat itu tinggallah tiga orang pertapa yang mempunyai rambut yang kusut (Jatila). Mereka
adalah Uruvela Kassapa, Nadi Kassapa, dan Gaya Kassapa. Uruvela Kassapa adalah seorang
pemimpin, yang mengepalai dan memimpin lima ratus pertapa berambut kusut. Nadi Kassapa
adalah seorang pemimpin pula, yang mengepalai dan memimpin tiga ratus pertapa berambut
kusut. Demikian pula Gaya Kassapa adalah seorang pemimpin yang mengepalai dan memimpin
dua ratus pertapa berambut kusut.
Sang Buddha menemui pertapa Uruvela Kassapa dan berkata:
"Apabila tidak menyusahkanmu, bolehkah Saya bermalam di ruang perapian?"
"O Bhikkhu Yang Mulia, tidaklah menyusahkan bagi saya, tetapi ada seekor ular yang ganas,
berbisa dan mempunyai kemampuan yang tinggi di ruang perapian itu. Jangan sampai ular itu
menggangguMu."
Sang Buddha meminta izin untuk ketiga kalinya, dan Beliau menerima jawaban yang sama dari
pertapa tersebut. Kemudian Sang Buddha berkata:
"Ular itu tidak akan menggangguKu, Kassapa. Izinkanlah Saya tinggal satu malam di ruang
perapian itu."
Setelah memperoleh izin, Sang Buddha memasuki ruang perapian dan menebarkan alas tempat
duduk, dan Sang Guru kemudian duduk dengan tubuh dan pikiran yang tenang. Ular itu melihat
dengan rasa ingin tahu siapa yang memasuki ruangannya, dan ia mengeluarkan desisnya yang
mengeluarkan asap. Sang Buddha bermaksud untuk menghalangi kekuatan ular itu, dan Beliau
juga mengeluarkan asap yang lebih banyak. Ular itu kemudian menyemburkan api; dan Sang
Buddha juga melakukan hal yang sama.
Ketika para pertapa berambut kusut melihat ruang perapian itu bersinar terang, mereka mulai
berpikir bahwa tamu yang cakap ini, akan dihancurkan oleh ular tersebut. Tetapi, keesokan
paginya, Sang Buddha keluar dari ruang perapian dengan ular yang tergeletak di dalam
mangkukNya, dan berkata:
"Datanglah ke sini Kassapa, ularmu yang mempunyai kekuatan ini dikalahkan oleh kekuatannya
sendiri."
Lalu Uruvela Kassapa, pertapa berambut kusut ini berpikir:
"Dengan kemampuannya yang begitu luar biasa, sesungguhnya Beliau adalah Bhikkhu yang
hebat, ia menaklukkan ular itu dengan kekuatanNya, kekuatan terhadap ular yang ganas dan
berbisa itu. Sekalipun demikian, ia tidak dapat menjadi seorang Arahat (Orang Suci), seperti
diriku."
Karena ia sudah melihat kemampuan yang besar dari Sang Buddha, Uruvela Kassapa berkata:
"O Bhikkhu Yang Mulia, maukah kamu tinggal di sini? Saya akan menyediakan makanan
untukMu."
Kemudian Sang Buddha tinggal di hutan di dekat pertapaan Uruvela Kassapa. Pada malam itu,
empat dewa penjaga mendatangi Sang Buddha, menyinari hutan itu dengan sinar terang yang
memancar dari tubuhnya, dan sesudah menghormat kepada Sang Buddha mereka berdiri di
empat penjuru seperti pancaran sinar api yang tinggi.
Pada pagi harinya, Uruvela Kassapa mendatangi Sang Buddha dan mengundang untuk menerima
dana makanan, dan bertanya siapakah yang datang semalam, dan dijawab itu adalah empat dewa
penjaga. Ia berpendapat bahwa Sang Buddha adalah Bhikkhu yang hebat, meskipun Beliau
mempunyai kemampuan yang amat tinggi, tetapi Beliau bukanlah seorang Arahat, seperti
dirinya.
Pada suatu hari, Uruvela Kassapa mengatur upacara persembahan yang besar dengan
mengundang penduduk dari kerajaan Anga dan Magadha, dan menyediakan sejumlah besar
makanan dan minuman. Ia takut apabila Sang Buddha tampil dengan mempertunjukkan
kemampuan spiritualnya yang tinggi, maka ia akan kehilangan muka dari para pendukungnya,
dan berharap supaya Sang Buddha tidak tampil pada upacara persembahan itu.
Sang Buddha mengetahui terlebih dahulu apa yang dipikirkan dan diharapkan dari tuan rumah,
dan Beliau berjalan menuju Kuru (India Utara) untuk menerima dana makan siang yang Beliau
nikmati di dekat Danau Anottata. Pada keesokan paginya, Uruvela Kassapa mengunjungi Sang
Buddha dan bertanya mengapa kemarin Beliau tidak hadir pada upacara persembahan. Sang
Buddha menjawab bahwa Beliau telah mengetahui terlebih dahulu apa yang dipikirkan dan
diharapkan Uruvela Kassapa dan Beliau pergi menuju India Utara untuk menerima dana makan
siang.
Uruvela Kassapa mengakui Sang Buddha adalah orang yang memiliki kemampuan spriritual
tinggi, karena Beliau dapat membaca pikiran orang lain, tetapi ia tetap berpendapat bahwa
tamunya bukanlah seorang Arahat seperti dirinya.
Pada suatu hari, Sang Buddha ingin mencuci jubahNya, dan mencari sumber air yang jernih.
Raja Sakka mengetahui keinginan Sang Buddha, lalu menciptakan empang dengan air yang
jernih. Sesudah mencuci jubahNya, Sang Buddha mencari sebuah batu yang dapat digunakan
untuk menggosok. Raja Sakka lalu memberikan sebuah batu. Hal yang sama, ketika Sang
Buddha mencari tempat untuk menjemur jubah yang baru dicuci, sebuah cabang dari pohon
Kakudha dibengkokkan oleh dewa yang berada di pohon itu. akhirnya, ketika jubah itu
dibentangkan, Raja Sakka menyediakan papan batu yang besar.
Ketika Uruvela Kassapa mendatangi Sang Buddha keesokan paginya, ia melihat perbedaan di
tempat itu, dan mengajukan beberapa pertanyaan dan ia mendengar adanya bantuan dari para
dewa. Ia mengetahui kemampuan Sang Buddha yang amat tinggi, tetapi tetap menyatakan Beliau
bukanlah seorang Arahat seperti dirinya.
Pada suatu hari, Sang Buddha memperoleh sebuah apel merah dari pohon apel yang berada di
India (Jambudipa), asal dari pohon apel merah itu, yang amat terkenal dan Beliau
menawarkannya kepada Uruvela Kassapa. Hal yang sama pula, Beliau memperoleh sekuntum
bunga dari Parichattaka di alam surga. Sang Buddha dengan kemampuan yang amat tinggi
membuat lima ratus ikat kayu bakar terbelah-belah, lalu membakar ke lima ratus ikat kayu
tersebut, kemudian memadamkannya. Tidak ada seorang pertapapun yang mampu melakukan hal
yang sama. Uruvela Kassapa hanya dapat menciptakan kobaran api di kayu bakar itu. Meskipun
melihat hal demikian, Uruvela Kassapa tetap beranggapan Sang Buddha bukanlah seorang
Arahat, seperti dirinya.
Akhirnya, terjadi hujan amat lebat sepeti ditumpahkan dari langit, yang menyebabkan banjir
yang amat hebat. Tetapi tempat di mana Sang Buddha berada tidak tersentuh oleh banjir itu
sedikitpun. Uruvela Kassapa datang dengan sebuah perahu untuk menolong Sang Guru Agung,
tetapi ia amat keheranan ketika melihat Sang Buddha terbang ke angkasa dan turun ke atas
perahunya. Tetapi ia tetap saja beranggapan Sang Buddha bukanlah seorang Arahat seperti
dirinya.
Kemudian Sang Buddha menerangkan kepada Uruvela Kassapa, bahwa ia bukanlah seorang
Arahat dan tidak menempuh jalan yang benar untuk menuju kebebasan yang sempurna. Uruvela
Kassapa sadar, lalu menyatakan ia mencari perlindungan di bawah Sang Buddha, dan menjadi
murid Sang Buddha.
Sang Buddha mengingatkan kepadanya bahwa ia harus memikirkan kesejahteraan kelima ratus
muridnya. Ia lalu berbicara kepada kelima ratus muridnya, akhirnya Uruvela Kassapa beserta
murid-muridnya membuang semua pakaian pertapa mereka ke sungai dan menjadi murid Sang
Buddha.
Demikian pula Nadi Kassapa dengan ketiga ratus muridnya, juga Gaya Kassapa dengan kedua
ratus muridnya, menjadi murid Sang Buddha dan mereka semua ditahbiskan manjadi bhikkhu.
Sang Buddha dengan diiringi oleh murid-murid baruNya, lebih dari seribu bhikkhu, pergi ke
Gaya dan membabarkan khotbah tentang Api (Aditta Pariyaya).
Sesudah mendengarkan khotbah ini, semua bhikkhu baru tersebut mncapai Tingkat Kesucian
Tertinggi, menjadi Arahat.


3. Mempersembahkan Veluvana
Keesokan harinya, ketika Sang Buddha mengetahui sudah waktunya untuk makan siang, Beliau
memberitahukan kepada sekitar seribu muridNya, yang sebelumnya adalah pertapa berambut
kusut, untuk berjalan menerima dana makanan.
Sang Buddha tiba di istana Raja bersama dengan seribu muridNya, dan menempati tempat duduk
yang sudah disediakan. Raja Bimbisara mempersembahkan dana makan siang kepada Sang
Buddha beserta seribu muridNya makanan dan minuman yang terbaik, beliau lalu duduk di salah
satu sisi dan mulai berpikir:
"Dimanakah tempat untuk Sang Buddha berdiam, yang tidak terlalu jauh atau pun terlalu dekat
dengan penduduk, yang mudah dikunjungi oleh para pengikutNya, yang tidak berisik pada siang
dan malam hari dengan udara yang bersih dan cukup menunjang untuk menjauhkan diri dari
keramaian."
Raja Bimbisara berpikir bahwa Veluvana, Hutan Bambu, adalah sebuah tempat yang paling
cocok untuk maksud tersebut, dan ia berniat untuk menyerahkannya kepada Sang Buddha dan
persaudaraan para bhikkhu, anggota Sangha. Raja Bimbisara lalu mengambil sebuah kendi emas
dan menuang air sebagai tanda ia mempersembahkan Hutan Bambu itu dan berkata kepada Sang
Buddha:
"O Yang Mulia, saya mempersembahkan Hutan Bambu untuk persaudaraan para bhikkhu,
anggota Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha. Semoga Yang Maha Sempurna menerima
persembahan ini."
Sang Buddha menerangkan lebih mendalam kepada Raja tentang Dhamma yang mulia,
kemudian meninggalkan istana. Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada para
bhikkhu, dan menyetujui untuk menerima Hutan Bambu tersebut.


4. Pelimpahan Jasa Yang Pertama
Ketika Raja Bimbisara mempersembahkan dana pada hari pertama, delapan puluh empat ribu
mahluk peta (setan) yang merupakan leluhurnya, di dalam pembebasan dari perilaku mereka
yang buruk pada jaman Buddha Pussa, gagal untuk memperoleh jasa kebajikan yang dilakukan
oleh Raja Bimbisara. Mereka menanti sampai tiba malam hari, kemudian dengan penuh
kemarahan mereka membuat suara-suara yang menakutkan dan menampakkan diri mereka ke
hadapan Raja Bimbisara. Ketika Raja mengunjungi Veluvana keesokan harinya, ia menceritakan
apa yang terjadi semalam kepada Sang Buddha. Sang Guru Agung menjawab:
"Raja Mulia, sembilan puluh dua putaran waktu di masa yang lampau, pada jaman kehidupan
Buddha Pussa, para mahluk peta ini adalah leluhurmu. Mereka memakan makanan yang
seharusnya mereka persembahkan kepada anggota Sangha, karena perbuatan buruk yang mereka
lakukan itulah, yang menyebabkan mereka terlahir di Alam Peta (Alam Sengsara). Dengan
melalui begitu panjang lingkaran-lingkaran kelahiran, mereka bertanya kepada Buddha
Kakusandha, Buddha Konagamana, dan Buddha Kassapa kapan mereka akan memperoleh
makanan, para Buddha itu berkata bahwa mereka tidak akan mendapat makanan pada jaman
mereka, tetapi harus menunggu sampai Buddha yang akan datang muncul dan akan memperoleh
jawaban dariNya. Mereka terus menunggu, dan ketika Buddha Kassapa muncul, mereka bertanya
kepadaNya. Dan Sang Buddha Kassapa menjawab, "Kalian tidak akan mendapat makanan pada
jamanKu ini; tetapi sesudah Aku, akan muncul Buddha Gotama. Pada saat itulah keturunan
kalian yang bernama Bimbisara akan menjadi raja; ia akan mempersembahkan makanan kepada
Buddha Gotama dan pada waktu itulah kalian akan memperoleh makanan." Setelah menanti
dalam waktu yang amat panjang mereka berharap dengan gembira akan dapat menerima
pelimpahan jasa yang kamu lakukan; karena itulah mereka mengamuk dan bertindak seperti
semalam karena dana yang kamu berikan tidak dilimpahkan kepada mereka, dan mereka gagal
mendapatkan jasa buah kebajikan yang kamu lakukan."
"Tetapi, Yang Mulia, kalau saya mempersembahkan dana sekarang, apakah mereka akan
memperoleh jasa kebajikan ini?"
"Ya, Raja Mulia."
Pada keesokan harinya raja mengundang Sang Buddha beserta muridNya, untuk menerima
persembahan makanan dan minuman yang berlimpah-limpah, dan berkata:
"Yang Mulia, semoga makanan dan minuman yang saya persembahkan ini diterima pula oleh
mahluk-mahluk di alam peta."
Dan seketika itu pula, ketika Rja Bimbisara melimpahkan jasa kebajikan yang dilakukannya,
mahluk-mahluk di alam peta itu segera dapat menerima makanan dan minuman dengan penuh
kebahagiaan.
Pada keesokan harinya, para mahluk peta itu menampakkan dirinya dengan telanjang, tidak
berpakaian. Raja berkata kepada Sang Buddha:
"Hari ini, Yang Mulia, para mahkluk peta menampakkan dirinya dengan telanjang," dan ia
bertanya apa yang harus dilakukannya.
Sang Guru Agung menjawab :
"Raja Mulia, kamu memang belum memberikan mereka pakaian."
Pada keesokan harinya, Raja Bimbisara mempersembahkan jubah kepada Sang Buddha dan para
muridNya, lalu berkata :
"Semoga persembahan yang saya lakukan ini dapat diterima oleh para mahluk peta, berupa
pakaian."
Dengan seketika itu pula, setelah mereka memperoleh kebajikan yang dilakukan oleh
keturunannya ini, mereka langsung berpakaian indah, dan langsung pindah dari alam peta ke
alam surga.
Ketika Sang Buddha mengucapkan anumodana, Beliau lalu mengucapkan syair Tirokudda Sutta
:
Di luar dinding mereka berdiri dan menanti,
di persimpangan-persimpangan jalan,
mereka kembali ke rumah yang dulu dihuninya,
dan menanti di muka pintu.
Tetapi bila diadakan pesta yang meriah,
dengan makanan dan minuman yang berlimpah,
ternyata tidak seorang pun yang ingat kepada mahluk-mahluk itu,
yang merupakan leluhur mereka.
Hanya mereka yang hatinya penuh welas asih,
memberikan persembahan kepada sanak keluarganya,
berupa makanan dan minuman yang lezat,
baik, dan disukai pada waktu mereka masih hidup.
"Semoga buah jasa-jasa baik kita,
melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal.
Semoga mereka berbahagia."
Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul di tempat ini
dengan gembira akan memberikan restu mereka
karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.
"Semoga sanak keluargaku berusia panjang
sebab karena merekalah kami memperoleh sajian uang lezat ini."
"Karena kami diberi penghormatan yang tulus
maka yang memberinya pasti akan memperoleh
buah jasa yang setimpal
Karena di sini tidak ada pertanian
dan juga tidak ada peternakan
tidak ada perdagangan
juga tidak ada peredaran uang dan emas."
Sanak keluarga kita yang telah meninggal
hidup di sana dari pemberian kita di sini.
Bagaikan air mengalir dari atas bukit
turun ke bawah untuk mencapai lembah yang kosong,
demikian pula sesajian yang diberikan
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal
Bagaikan sungai, bila airnya penuh
akan mengalirkan airnya ke laut,
demikian pula sesajian yang diberikan
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal,
"Ia memberi kepadaku, ia bekerja untukku,
ia sanak keluargaku, ia sahabatku, kerabatku."
Memberikan sesajian kepada mereka yang telah meninggal dunia
dan mengingat kembali kepada apa yang biasa mereka lakukan.
Bukan ratap tangis,
bukan kesedihan hati,
bukan berkabung dengan cara apapun juga
untuk menolong mereka yang telah meninggal dunia
yang dilakukan sanak keluarga yang telah ditinggalkan.
Tetapi bila persembahan ini dengan penuh bakti
diberikan kepada Sangha atas nama mereka
dapat menolong mereka untuk waktu yang panjang
di kemudian hari maupun pada saat ini.
Telah diperlihatkan hakikat sesungguhnya
dari sesajian bagi sanak keluarga
dan bagaimana penghormatan yang lebih bernilai
dapat diberikan kepada mereka
serta bagaimana para bhikkhu mendapat kekuatan
dan bagaimana Anda sendiri dapat menimbun
buah karma yang baik.

Pada saat Sang Buddha selesai mengucapkan syair ini, delapan puluh empat ribu mahluk
memperoleh pengertian Dhamma Yang Mulia.


5. Kehidupan Upatissa (Sariputta) dan Kolita (Moggallana)
Sebelum Sang Buddha Gotama muncul di dunia ini, ada dua desa pertapa yang letaknya tidak
jauh dari Rajagaha, bernama Desa Upatissa dan Desa Kolita. Pada suatu hari seorang istri dari
seorang pertapa bernama Rupasari, yang tinggal di Desa Upatissa mempunyai sebuah tekad, dan
pada hari yang sama pula istri dari seorang pertapa bernama Moggali, yang tinggal di Desa
Kolita, juga mempunyai tekad yang sama. Selama tujuh generasi keua keluarga ini mengikat tali
persahabatan yang erat antara mereka. Kedua istri pertapa ini bertekad untuk melahirkan anak
pada hari yang sama. Pada bulan ke sepuluh, kedua ibu itu melahirkan bayi laki-laki.
Pada saat memberi nama kepada bayi laki-laki yang baru lahir, mereka memberi nama Upatissa
kepada bayi dari anak istri pertapa yang bernama Sari, sebab bayi itu adalah anak dari keluarga
terkemuka di Desa Upatissa. Dan kepada bayi laki-laki yang lain, karena ia anak dari keluarga
terkemuka di Desa Kolita, maka mereka memberi nama Kolita.
Kedua anak ini tumbuh dewasa bersama-sama, dan amat mahir di segala bidang, baik di bidang
seni maupun di bidang ilmu pengetahuan lainnya. Apabila pemuda Upatissa pergi ke sungai
ataupun ke taman untuk bermain-main, lima ratus tandu emas mengiringinya; lima ratus kereta
ataupun ke taman untuk bermain-main, lima ratus tandu emas mengiringinya; lima ratus kereta
kuda yang ditarik oleh kuda istimewa mengiringi pemuda Kolita. Kedua pemuda ini masingmasing
mempunyai lima ratus pengiring.
Pada waktu itu, berlangsung festival atau perayaan yang selalu dilaksanakan setiap tahun di
Rajagaha yang bernama Festival Atap Gunung. Tempat duduk untuk kedua pemuda itu sudah
disediakan, dan keduanya duduk bersama-sama menonton pertunjukan festival yang sedang
berlangsung. Kalau ada pertunjukan yang lucu, mereka tertawa bersama-sama; kalau ada
pertunjukan yang menyedihkan, mereka menangis; kalau waktunya memberikan dana,
merekapun berdana. Mereka menonton festival ini beberapa hari lamanya. Tetapi pada waktu
mereka sudah tumbuh menjadi pemuda yang bijaksana, mereka tidak lagi tertawa ketika mereka
harus tertawa, mereka tidak menangis walaupun mereka dapat menangis, dan apabila peserta
festival mencari dana, mereka tidak memberikannya.
Keduanya lalu berpikir :
"Mengapa kita kelihatan seperti ini? Sebelum seratus tahun berlalu, semua orang yang ada di sini
akan pergi dan tidak ada lagi yang dapat dilihat. Karena itulah kita harus mencari Jalan
Kebebasan."
Setelah berpikir demikian, mereka lalu duduk merenung. Kemudian Kolita berkata kepada
Upatissa :
"Sahabatku Upatissa, kamu kelihatannya tidak gembira dan senang dalam beberapa hari ini.
Malah kamu kelihatan susah dan sedih. Apa yang kamu pikirkan?"
"Sahabatku Kolita, saya berpikir, saya tidak memperoleh kepuasan hanya dengan melihat festival
ini. Semuanya tidak menyenangkan, karena itulah saya akan mencari Jalan Kebebasan untuk diri
saya sendiri. Tetapi, mengapa kamu juga kelihatan bersedih?"
Kolita menjawab dengan jawaban yang sama. Ketika Upatissa mengetahui bahwa pikiran Kolita
sama dengan pikirannya, ia berkata :
"Pikiran kita berdua sama. Marilah kita mencari Jalan Kebebasan dan mengundurkan diri dari
kehidupan duniawi bersama-sama. Di bawah bimbingan guru siapakah kita melepaskan
kehidupan duniawi ini?"
Pada saat itu, seorang pertapa bernama Sanjaya memasuki Kota Rajagaha disertai dengan
sejumlah besar murid-muridnya.
Upatissa dan Kolita berkata :
"Kita akan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi pertapa di bawah bimbingan Pertapa
Sanjaya."
Kemudian mereka melepaskan ke lima ratus pengiringnya dan berkata kepada mereka :
"Ambillah tandu-tandu dan kereta-kereta ini, pergilah kalian."
Bersama dengan ke lima ratus pengiring lainnya, mereka meninggalkan kehidupan duniawi dan
menjadi pertapa di bawah bimbingan Pertapa Sanjaya. Sejak saat kedua pemuda meninggalkan
kehidupan duniawi dan menjadi pertapa, maka Pertapa Sanjaya memetik keuntungan dan
ketenaran dari kedua pemuda ini. Tetapi, beberapa hari kemudian, mereka telah mempelajari
semua pelajaran dengan baik. Mereka lalu bertanya kepadanya :
"Guru, apakah ini semua pelajaran yang anda ketahui ataukah ada pelajaran lainnya?"
"Semuanya sudah aku ajarkan, kalian telah mengetahuinya."
Upatissa dan Kolita berpikir :
"Kalau hanya seperti ini, tidaklah menguntungkan bagi kita untuk tetap menjadi murid guru ini
lebih lama lagi. Jalan Kebebasan yang kita cari dengan meninggalkan kehidupan keduniawian,
tidak akan kita dapatkan dari guru ini. Tetapi Tanah Apel Merah (India) adalah negara yang luas.
Marilah kita melakukan perjalanan melalui desa-desa, kota-kota dan kerajaan-kerajaan. Kita akan
mencari guru yang dapat menerangkan Jalan Kebebasan yang kita cari."
Mulai saat itu, apabila mereka mendengar ada pertapa atau bhikkhu yang dapat memberikan
ajaran, mereka segera mencari dan menjadi muridnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh
Upatissa dan Kolita tidak ada seorang pun yang mampu menjawab, tetapi setiap pertanyaan yang
ditanyakan orang kepada mereka pasti dapat mereka jawab dengan baik. Jadi mereka berjalan
terus mengelilingi Tanah Apel Merah (India); mereka lalu mengulangi kembali perjalanan
mereka dan akhirnya kembali pulang ke daerahnya lagi. Sebelum berpisah, Upatissa berkata
kepada Kolita :
"Sahabatku Kolita, siapapun di antara kita berdua yang mendapatkan Kebebasan, harus segera
memberitahukan kepada yang lain."
Setelah membuat perjanjian ini mereka lalu berpisah. Ketika mereka hidup dengan perjanjian itu,
Sang Guru Agung setelah berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, tiba di Rajagaha,
menerima Vihara Veluvana dan Beliau berdiam di Veluvana. Sesudah itu Sang Guru Agung
mengirim ke enam puluh Arahat untuk mengajarkan Tiga Permata Mulia, dengan berkata :
"Pergilah, O Para Bhikkhu, ajarkan Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada
pertengahannya dan indah pada akhirnya ini kepada semua mahluk untuk kefaedahan dan
kebahagiaan mereka."
Salah satu dari ke lima Pertapa Pertama, Yang Mulia Assaji, balik kembali, masuk ke Rajagaha.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan membawa mangkuk dan jubahnya, Beliau memasuki
Rajagaha untuk menerima dana makanan. Pada pagi yang sama itu pula, Pertapa Upatissa sedang
makan pagi, meneruskan kehidupannya seperti pertapa, melihat Yang Mulia Assaji.
Ketika ia melihat Beliau, ia berpikir, 'Tidak pernah sebelumnya saya melihat seorang bhikkhu
seperti bhikkhu ini. Ia seharusnya adalah salah satu dari para bhikkhu yang telah mencapai
Tingkat Kesucian Tertinggi, menjadi Arahat di dunia ini, atau yang telah memasuki Jalan menuju
pencapaian Arahat. Sebaiknya saya mendekati dan bertanya kepadaNya, untuk kepentingan
siapakah, O Bhikkhu, Anda meninggalkan kehidupan duniawi? Siapakah guru Anda? Dan ajaran
siapakah yang Anda anut?'
Setelah berpikir demikian, ia lalu berpikir lagi, 'Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk
bertanya kepada bhikkhu ini, ia sedang mencari dana makanan dari rumah ke rumah, sebaiknya
saya ikuti saja bhikkhu ini, seperti dilakukan orang yang mencari berkah'
Pertapa Upatissa lalu memperhatikan Yang Mulia Assaji, yang setelah menerima dana makanan,
mencari tempat yang sejuk dan berpikir bahwa Beliau ingin duduk. Pertapa Upatissa lalu
menebarkan karpet di tanah dan mempersilakan Beliau duduk. Setelah Yang Mulia Assaji
menyelesaikan makannya, pertapa Upatissa menuangkan air minum dari kendi airnya. Sesudah ia
melakukan tugas-tugas seorang murid kepada gurunya, ia menyampaikan salam hormat dengan
penuh kebahagiaan dan berkata kepada Beliau :
"Tenang dan damai, O bhikkhu, kesadaran Anda penuh, kulit Anda terang dan bersih. Untuk
kepentingan siapakah, O bhikkhu, Anda meninggalkan kehidupan duniawi? Siapakah guru Anda?
Ajaran apakah yang Anda anut?"
Yang Mulia Assaji berpikir, 'Pertapa pengelana ini mempunyai kepercayaan berlawanan dengan
apa yang saya pelajari; karena itulah saya akan menunjukkan kepadanya inti ajaran Dhamma
Yang Mulia ini.'
Tetapi pertama-tama Beliau menerangkan bahwa Ia sendiri baru saja menjadi seorang bhikkhu,
lalu berkata :
"Saudaraku, Saya baru saja mulai dan belum lama menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu,
dan baru saja mempelajari Dhamma Yang Mulia (Ajaran dan Peraturan) ini; saya tidak mampu
untuk menjelaskannya panjang lebar."
Upatissa menjawab :
"Saya Upatissa, katakanlah banyak ataupun sedikit sesuai dengan kemampuan Anda, O bhikkhu;
saya akan berusaha untuk menyelami artinya dengan seratus ataupun seribu macam cara."
Kemudian ia berkata lagi :
"Katakanlah sedikit atau banyak;
Katakanlah hanya isi pokoknya saja;
Saya hanya butuh isi pokoknya saja;
Mengapa mengucapkan dengan banyak kata-kata?"
Yang Mulia Assaji lalu menjawab dengan baris pertama dari syair ini :
"Segala sesuatu dihasilkan dari sebuah sebab;
Sebab ini telah dikatakan oleh Sang Tathagata."
Setelah Pertapa Upatissa mendengar baris pertama ini, ia langsung mencapai Tingkat Kesucian
Pertama (Sotapana), sempurna di dalam seribu jalan. Segera setelah ia mencapai Tingkat
Kesucian Pertama, Yang Mulia Assaji lalu mengucapkan baris yang kedua :

"Dan juga bagaimana menghentikannya;
Hal ini juga telah dikatakan oleh Sang Tathagata."

Sesudah Pertapa Upatissa mencapai Tingkat Kesucian Pertama, Tingkat Kesucian Kedua
(Sakadagami) tidak muncul. Karena itulah ia berpikir, 'Pasti ada alasan untuk hal ini,' ia lalu
berkata kepada Yang Mulia Assaji :
"Jangan Anda ajarkan Dhamma ini lebih jauh lagi, ini sudah cukup. Di manakah Sang Guru
Agung berdiam?"
"Di Veluvana, saudaraku."
"Baiklah, Yang Mulia, silakah Anda meneruskan perjalanan Anda. Saya mempunyai seorang
sahabat, saya dan dia sudah membuat perjanjian apabila salah satu di antara kita mencapai
Kebebasan harus memberitahukan kepada yang lain. Saya harus menepati janji ini. Saya akan
membawa sahabat saya ini dan pergi menemui Sang Buddha, mengikuti jalan yang sama seperti
Yang Mulia ambil."
Setelah berkata demikian, Upatissa menjatuhkan dirinya dengan berlutut di depan kaki Yang
Mulia Assaji, memutarinya tiga kali sesuai arah jarum jam dan kemudian meninggalkan Yang
Mulia Assaji lalu pergi mencari sahabatnya, Pertapa Kolita.
Pertapa Kolita melihat sahabatnya datang menghampirinya, berpikir :
"Hari ini paras muka sahabatku ini bersinar terang tidak seperti hari-hari yang lalu, pasti ia telah
memperoleh Kebebasan."
Ia lalu bertanya kepada Pertapa Upatissa, apakah ia telah memperoleh Kebebasan. Upatissa
menjawab :
"Ya, saudaraku, saya telah memperoleh Kebebasan."
Setelah berkata demikian ia mengulangi syair yang dikatakan oleh Yang Mulia Assaji. Pada akhir
syair itu Kolita mencapai tingkat kesucian. Kemudian Kolita berkata :
"Sahabatku, di manakah Sang Guru Agung berdiam?"
"Di Veluvana, sahabatku. Dan saya diberitahu oleh guru kita, Yang Mulia Assaji."
"Baiklah, sahabatku, marilah kita pergi menemui Sang Guru Agung."
Pada saat itu, terlihat sifat yang berbeda dari Pertapa Upatissa yaitu ia selalu mengingat gurunya
dengan penuh rasa hormat. Karena itulah ia berkata kepada sahabatnya itu :
"Sahabatku, marilah kita memberitahukan hal ini kepada guru kita, Pertapa Sanjaya, bahwa kita
telah mencapai Kebebasan. Semoga ia tersadar dan mengerti. Tetapi apabila ia tidak dapat
mengerti, ia akan percaya bahwa apa yang kita katakan adalah benar; dan bila dengan segera ia
mendengar Ajaran Sang Buddha, ia akan memperoleh Jalan dan Tingkat Kesucian."
Kemudian kedua pertapa ini pergi mengunjungi Pertapa Sanjaya. Ketika Pertapa Sanjaya melihat
kedua muridnya, ia bertanya :
"Saudara-saudaraku, sudahkah kamu berhasil menemukan seseorang yang dapat menunjukkan
Jalan Kebebasan?"
"Ya guru, kami sudah menemukannya. Sang Buddha telah muncul di dunia ini, Dhamma telah
muncul, demikian juga Sangha telah muncul pula. Sedangkan anda sendiri, guruku, anda berjalan
di jalan yang tidak nyata dengan sia-sia. Marilah, guru, ikutlah bersama kami untuk menemui
Sang Guru Agung."
"Kamu boleh pergi; saya tidak dapat pergi."
"Apa alasan guru?"
"Pada masa sebelum ini saya telah menjadi seorang guru dengan murid yang begitu banyak.
Tidak pernah terlintas dalam pemikiran saya untuk kembali menjadi seorang murid. Saya tidak
dapat hidup sebagai seorang murid."
"Guru, jangan berpikiran seperti itu.
""Tidak apa-apa saudara, pergilah, saya tidak dapat pergi."
"Guru, pada saat Sang Buddha muncul di dunia ini, rakyat jelata akan membawa minyak wangi,
bunga rampai dan sebagainya di tangan mereka sendiri, kemudian pergi dan
mempersembahkannya sendiri kepada Sang Guru Agung. Marilah kita pergi ke sana. Apa yang
ingin anda lakukan?"
"Saudaraku, lebih banyak yang mana di dunia, orang bodoh atau orang bijaksana?"
"Guru, orang bodoh lebih banyak, dan orang bijaksana amat sedikit."
"Kalau demikian, biarlah orang bijaksana pergi menemui Sang Buddha Gotama dan biarkanlah
orang bodoh datang kepadaku yang bodoh ini. Kamu dapat pergi, saya tidak akan pergi."
"Kamu akan menjadi orang terkenal, guru!" kata kedua pertapa muda itu, kemudian mereka
pergi.
Setelah mereka pergi, murid-murid Pertapa Sanjaya terpecah dan dengan seketika hutan itu
menjadi sepi. Ketika Pertapa Sanjaya melihat hutan itu sepi, ia lalu muntah darah. Lima ratus
pertapa menyertai kedua pertapa itu memulai perjalanan menemui Sang Buddha. Dua ratus lima
puluh pertapa yang masih setia kepada Pertapa Sanjaya balik kembali; dan dua ratus lima puluh
pertapa lainnya diterima sebagai murid kedua pertapa itu, dan membawa mereka menuju
Veluvana.
Ketika itu Sang Buddha sedang duduk di tengah-tengah murid-muridNya membabarkan
Dhamma, Beliau melihat dua orang pertapa mendatangi dari kejauhan. Beliau lalu berkata kepada
murid-muridNya :
"O para bhikkhu, ada dua sahabat yang baru datang, Kolita dan Upatissa. Mereka akan menjadi
sepasang pengikutKu, menjadi seorang pemimpin dan seorang yang bijaksana."
Kedua pertapa itu lalu bernamaskara kepada Sang Guru Agung, dan duduk dengan penuh hormat
pada satu sisi, lalu berkata kepada Sang Buddha :
"Yang Mulia, kami ingin sekali diterima menjadi Anggota Sangha di bawah perlindungan Yang
Maha Sempurna; kami akan melaksanakan segala kewajiban kami."
Sang Guru Agung menjawab :
"Datanglah kemari, o bhikkhu! Dhamma telah diajarkan dengan baik. Jalanilah kehidupan suci,
maka pada akhirnya semua penderitaan dapat disingkirkan."
Dengan segera mereka memiliki mangkuk dan jubah yang diciptakan oleh kemampuan spiritual
yang tinggi, dan menjadikan tempat itu sebagai tempat para bhikkhu berdiam ratusan tahun
lamanya.
Bertambahnya jumlah murid-murid Sang Buddha, menyebabkan Sang Guru Agung
meningkatkan pembabaran Dhamma kepada mereka. Dengan perkecualian kedua Murid Utama
ini, semua murid Sang Buddha telah mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi, menjadi Arahat.
Kedua Murid Utama ini tidak dapat menyempurnakan meditasi yang membawa kepada Tingkat
Kesucian Tertinggi. Apa alasannya? Hal ini disebabkan karena luasnya kesempurnaan
pengetahuan kedua Murid Utama ini.
Saat itu, Yang Mulia Moggallana (Kolita) yang berdiam di dekat sebuah desa Kallavala di
Kerajaan Magadha menjadi segan dan malas pada hari ketujuh sesudah beliau menerima
pentahbisan menjadi bhikkhu. Kemudian Sang Guru Agung membangunkan semangatnya,
sehingga beliau membuang keseganan dan kemalasannya, dan mulai mempraktekkan rumusrumus
latihan meditasi tentang elemen (unsur) yang diberikan Sang Tathagata kepadanya.
Kemudian beliau dapat menyempurnakan meditasinya, yang membawanya kepada tiga tingkat
kesucian yang lebih tinggi dan mencapai Kesempurnaan Pengetahuan sebagai Murid Utama.
Demikian pula Yang Mulia Sariputta (Upatissa), beliau menghabiskan waktunya selama empat
belas hari setelah menerima pentahbisan menjadi bhikkhu oleh Sang Buddha bertempat tinggal di
Gua Sukarakhata dekat dengan Kota Rajagaha. Mendengar keterangan tentang Vedanapariggaha
Sutta dari anak laki-laki saudara perempuan beliau, yaitu Pertapa Dighanakha, beliau kemudian
mempergunakan sutta ini dalam mengembangkan latihan meditasinya, seperti seorang laki-laki
makan nasi yang dimasak oleh laki-laki lainnya. Akhirnya Beliau mencapai tujuan
Kesempurnaan Pengetahuan sebagai Murid Utama.
(Meskipun Yang Mulia Sariputta adalah seorang yang mempunyai kepandaian yang amat tinggi,
mengapa Beliau membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai Tingkat Kesempurnaan
Pengetahuan sebagai Murid Utama? Karena sebagai pemula Beliau amat teliti. Kita harus
mengerti sebabnya, diumpamakan seperti seorang raja yang ingin melaksanakan perjalanan, ia
memerintahkan pengawalnya untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, seperti ahli
penunggang gajah dan sebagainya. Sebaliknya dengan orang yang miskin, yang tidak punya apaapa,
ke manapun ia ingin pergi, dengan segera ia pergi tanpa ada kesibukan.)
Pada hari ketika Yang Mulia Sariputta dan Yang Mulia Moggallana ditahbiskan menjadi Anggota
Sangha, Sang Buddha mengumpulkan murid-muridNya di Veluvana dan menunjuk kedua
bhikkhu baru ini sebagai Murid Utama, kemudian membabarkan Patimokkha.


6. Penahbisan Rahula
Pada hari ketujuh, ibu Pangeran Rahula, Puteri Yasodhara, sedang mendandani sang pangeran
karena ia ingin mempertemukannya dengan Yang Maha Sempurna, ia berkata :
"Anakku sayang, pandanglah bhikkhu itu baik-baik. Beliau mempunyai pengikut dua ribu
bhikkhu, Beliau memiliki tubuh yang bersinar terang keemasan, memiliki tubuh yang indah
seperti Dewa Brahma. Bhikkhu ini adalah ayahmu. Ia mempunyai harta yang amat banyak. Sejak
waktu Beliau melakukan Pelepasan Tertinggi, kita tidak pernah bertemu denganNya.
Tanyakanlah kepadaNya warisanmu dengan berkata; Ayahku sayang, saya adalah seorang
Pangeran, dan setelah saya menerima Upacara pengangkatan kerajaan, saya akan menjadi Raja
Penguasa Dunia. Saya membutuhkan kekayaan. Anugerahkan kekayaan kepada saya; untuk
seorang anak supaya memiliki kekayaan, yang sebelumnya dimiliki oleh ayahnya."
Segera Pangeran Rahula menemui Yang Maha Sempurna yang sedang memerima dana makan
siang di istana. Pada waktu ia melihatNya, ia merasakan kehangatan cinta kasih dari ayahnya,
hatinya amat berbahagia. Pangeran Rahula berkata :
"Yang Mulia, kebahagiaan adalah bayanganmu."
Ketika Yang Maha Sempurna menyelesaikan makanNya, Beliau mengucapkan anumodana, lalu
bangun dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu. Pangeran Rahula mengikuti di
belakangNya, dan berkata terus-menerus :
"Yang Mulia, berikanlah harta warisan kepada saya; Yang Mulia berikanlah harta warisan kepada
saya."
Yang Maha Sempurna tidak menolak Pangeran Rahula, dan para pengawalpun tidak dapat
mencegahnya untuk mengikuti Beliau. Pangeran Rahula terus mengikuti Yang Maha Sempurna
sampau di Hutan Bambu. Kemudian Yang Maha Sempurna Berpikir, "Harta warisan yang dicari
anak ini tidak terelakkan akan membawanya kepada kehancuran di dalam kehidupannya nanti.
Mempertimbangkan hal ini, Saya akan menganugerahkan warisan Tujuh Harta Termulia yang
Saya dapatkan di bawah Pohon Bodhi; Saya akan membuatnya menjadi orang yang memperoleh
warisan yang tertinggi di dunia ini."
Beliau lalu mengizinkan Rahula menjadi seorang samanera. Ia baru berumur tujuh tahun, diterima
menjadi anggota Sangha.
Setelah Pangeran Rahula menjadi seorang samanera, Raja Suddhodhana, yang menjadi kakeknya,
merasakan kesedihan yang amat sangat. Karena ia tidak dapat mengatasi kesedihannya, ia lalu
mendatangi Sang Buddha dan berkata :
"Ketika Yang Mulia meninggalkan kehidupan dunawi ini, hal itu amat menyakitkan saya,
demikian pula ketika Ananda mengikutiMu, dan sekarang ini tentang Rahula. Cinta kasih kepada
seorang anak akan menembus ke kulit, terus akan menembus ke daging, urat, tulang dan sumsum.
O Yang Mulia, saya mohon Yang Maha Sempurna tidak mengizinkan seorang anak menjadi
calon Bhikkhu (Pabbajja) tanpa seizin orang tua mereka." (Sang Buddha mengizinkannya dan
membuat sebuah perturan di dalam Vinaya / Peraturan Kebhikkhuan).


7. Penahbisan Maha Pajapati Gotami
Ketika itu Sang Buddha sedang bersemayam di Nigrodharama (Taman Banyan), Raja
Suddhodhana telah mangkat. Permaisuri raja, yaitu Maha Pajapati Gotami, bibi Sang Buddha,
bersama-sama dengan lima ratus isteri pangeran datang menemui Beliau dan memohon kepada
Beliau supaya wanita dapat ditahbiskan menjadi bhikkhuni, dan menagujukan permohonan :
"Yang Mulia, akan menjadi baik, apabila seorang wanita diizinkan untuk meninggalkan
kehidupan berumah tangga dan memasuki kehidupan suci, menjalani Ajaran dan Peraturan yang
dipimpin oleh Sang Tathagata."
Tanpa menjelaskan alasannya, Sang Buddha langsung menolak, dengan berkata :
"Cukup, O Gotami, jangan mengajukan permohonan supaya wanita meninggalkan kehidupan
berumah tangga dan memasuki kehidupan suci, menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin
oleh sang Tathagata."
Untuk kedua dan ketiga kalinya Maha Pajapati Gotami mengulangi permohonannya, Sang
Buddha tetap memberikan jawaban yang sama.
Kemudian ketika Sang Buddha sedang berada di Kapilavatthu dalam perjalanannya menuju
Vesali, Beliau tinggal di sana pada waktu yang sesuai, saat itu Beliau berada di Mahavana (Hutan
Besar) di ruang Kutagara (Ruang Menara).
Ketika itu Maha Pajapati Gotami telah mencukur rambutnya, mengenakan jubah kuning, dengan
lima ratus wanita suku Sakya, dalam perjalanan menuju Vesali, mereka tiba di ruang Kutagara,
Mahavana. Maha Pajapati Gotami dengan kaki yang bengkak, penuh dengan debu, amat berduka,
sangat sedih dan penuh air mata, berdiri dengan menangis di depan pintu masuk ruangan. Yang
Mulia Ananda menemui mereka yang sedang menangis dan mendengarkan mengapa mereka
amat berduka, kemudian beliau menemui Sang Buddha dan berkata :
"Lihatlah, Yang Mulia, Maha Pajapati Gotami berdiri di luar pintu, dengan kaki bengkak, tubuh
yang berdebu dan amat sedih. Izinkanlah wanita meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki
kehidupan suci, dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Buddha.
Adalah baik, Yang Mulia, kalau wanita diizinkan meninggalkan kehidupan duniawi dan
memasuki kehidupan suci."
"Cukup Ananda, jangan meminta agar wanita meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki
kehidupan suci, dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin okeh Sang Tathagata,"
jawab Sang Buddha.
Untuk kedua dan ketiga kalinya, Yang Mulia Ananda atas nama para wanita memohon kepada
Sang Buddha, tetapi Beliau tetap tidak mengizinkan.
"Yang Mulia, apakah wanita mempunyai kemampuan, apabila mereka meninggalkan kehidupan
berumah tangga dan memasuki kehidupan suci, menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin
oleh Sang Tathagata, dapat mencapai Tingkat Kesucian Sotapanna, Sakadagami, Anagami,
mencapai Arahat?"
Sang Buddha menjawab, bahwa mereka mampu untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian.
Mendengar jawaban Sang Buddha ini, Yang Mulia Ananda mencoba untuk membujuk Yang
Maha Sempurna dengan berkata :
"Kalau demikian, Yang Mulia, mereka mampu untuk mencapai Tingkat Kesucian. Maha Pajapati
Gotami telah memberikan pengorbanan yang besar kepada Yang Mulia, sebagai ibu asuh,
perawat dan memberikan susunya, ia menyusui ketika ibu Yang Mulia meninggal dunia. Yang
Mulia, adalah baik apabila wanita diizinkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan
memasuki kehidupan suci dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang
Tathagata."
Akhirnya, setelah Yang Mulia Ananda mengajukan permohonan berkali-kali, Sang Buddha lalu
berkata :
"Ananda, kalau Maha Pajapati Gotami mau menerima Delapan Peraturan Utama, ia harus
melaksanakan peraturan ini sebagai persyaratan penahbisannya. Peraturan-peraturan ini harus
dihormati, dijaga, dihargai, dijunjung tinggi selama hidupnya dan tidak boleh dilanggar."
Yang Mulia Ananda lalu menyampaikan hal ini kepada Maha Pajapati Gotami, ia dengan gembira
menerima Delapan Peraturan Utama. Dengan diterimanya persyaratan ini, secara otomatis ia
sudah menerima Penahbisan Tertinggi, menjadi bhikkhuni.
Dengan munculnya Sangha Bhikkhuni, Sang Buddha lalu menyampaikan pandangan Beliau di
masa yang akan datang, dengan bersabda :
"Ananda, apabila wanita tidak diizinkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki
kehidupan suci dengan menjalani Ajaran dan Peraturan yang dipimpin oleh Sang Tathagata,
Kehidupan Suci akan berlangsung dalam masa yang lama sekali dan Dhamma Yang Mulia akan
bertahan seribu tahun lamanya. Tetapi, sejak wanita diizinkan meninggalakan kehidupan duniawi,
maka Kehidupan Suci tidak akan berlangsung lama dan Dhamma Uang Mulia hanya akan
bertahan selama lima ratus tahun."
Sang Buddha menambahkan :
"Seperti perumpamaan ini, Ananda, rumah yang dihuni oleh lebih banyak wanita dan laki-lakinya
sedikit maka akan mudah dirampok. Demikian pula di mana Ajaran dan Peraturan yang
mengizinkan wanita meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki kehidupan suci, maka
Kehidupan Suci tidak akan bertahan lama."
"Dan seperti seorang laki-laki yang akan membangun terlebih dahulu sebuah bendungan yang
besar sehingga dapat menampung air, demikian pula Tathagata membentenginya dengan Delapan
Peratiran Utama untuk Sangha Bhikkhuni, yang tidak boleh dilanggar selama hidup mereka."
Pernyataan ini, tentu saja tidak begitu menyenangkan bagi para wanita, Sang Buddha tidaklah
bermaksud untuk menghukum, tetapi memperhitungkan hal ini karena kelemahan fisik wanita itu
sendiri.
Meskipun ada beberapa alasan yang masuk akal, Sang Buddha dengan berat hati mengizinkan
wanita untuk ditahbiskan menjadi bhikkhuni, hal ini menunjukkan kebesaran hati Sang Buddha,
dan merupakan yang pertama kali di dalam sejarah dunia ini, terbentuknya Sangha Bhikkhuni
dengan peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan selama hidupnya.


8. Sangha Bhikkhuni
Setelah penahbisan Maha Pajapati Gotami menjadi bhikkhuni, pada saat itu pila sejumlah besar
wanita ikut memasuki Sangha Bhikkhuni. Banyak diantara mereka adalah wanita-wanita
terkemuka pada masa itu.

Yasodhara, ibu dari Yang Mulia Rahula, yang telah lama ingin sekali meninggalkan kehidupan
duniawi segera memasuki Sangha Bhikkhuni dan terkenal sebagai Bhaddakaccana.

Janapada Kalyani yang tidak jadi menikah dengan Pangeran Nanda karena menjadi bhikkhu
atas dorongan Sang Buddha ketika Beliau berkunjujng ke Kapilavatthu untuk pertama kalinya,
memasuki sangha Bhikkhuni bersama dengan Yasodhara.

Nanda, anak Maha Pajapati Gotami, memasuki Sangha Bhikkhuni ketika ia mengetahui bahwa
ibunya dan Yasodhara menjadi bhikkhuni. Ia sangat terkenal sebagai ratu yang amat cantik, dan
tidak ingin bertemu Sang Buddha karena Beliau diketahui tidak memandang tinggi kecantikan
seseorang, tetapi ia mendengar Ajaran Sang Buddha dari orang lain. Ketika Sang Buddha berkata
bahwa seseorang harus datang sendiri untuk mendengar AjaranNya, ia mendatangi Sang Buddha.
Di sana ia melihat seorang wanita yang lebih cantik dari dirinya sedang mengipasi Sang Buddha,
tetapi tidak berapa lama kemudian wanita itu menjadi tua dan keriput. Nanda memperhatikan
dengan seksama apa yang dilihatnya, dan akhirnya mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi,
menjadi Arahat.

Khema, mempunyai kulit bersinar keemasan, adalah seorang puteri dari kota Sagala yang
kemudian menjadi permaisuri Raja Bimbisara. Ia amat bangga dengan kecantikannya dan ia tidak
ingin menemui Sang Buddha yang ketika itu berada di Hutan Bambu, karena mendengar bahwa
Sang Buddha tidak memandang tinggi kecantikan seorang wanita. Ketika raja lalu meminta
pujangga membuat syair tentang keindahan Hutan Bambu, ia berminat untuk pergi dan melihat
keindahannya. Ketika ia tiba di Hutan Bambu itu, ia bertemu dengan Sang Buddha yang sedang
dikipasi oleh seorang dewi yang amat cantik, yang kehilangan kecantikannya dalam waktu yang
amat singkat. Ketika Sang Buddha membabarkan Dhamma kepadanya, ua menjadi Arahat, dan
sesudah itu ia memasuki Sangha Bhikkhuni.

Uppalavanna adalah gadis yang amat cantik dari sebuah keluarga jutawan. Karena banyak
pemuda kaya raya yang meminangnya untuk menjadi isteri, ayahnya berpikir untuk meminta
anak gadisnya menjadi bhikkhuni untuk menghindar dari pinangan para pemuda tersebut. Ia
menyetujui ide ayahnya ini dan memasuki Sangha Bhukkhuni. Ia menjadi Arahat setelah
merenungkan tentang sifat dari sumbu sebuah lampu. Ia mempunyai kesaktian dan menawarkan
diri untuk menunjukkan kesaktiannya dan membebaskan Sang Buddha untuk menunjukkan
kesaktian kembarnya di hadapan pertapa.

Bhadda Kapilani, isteri dari Piphali, yang kemudian menjadi Yang Mulia Mahakassapa,
meninggalkan rumah beserta suaminya. Karena tidak ada Sangha Bhikkhuni pada waktu itu,
maka ia menghabiskan waktunya menjadi pertapa wanita. Segera setelah Maha Pajapati Gotami
menjadi bhikkhuni, Baddha Kapilani lalu memasuki Sangha Bhikkhuni.
Banyak wanita terkemuka lainnya memasuki Sangha Bhikkhuni seperti Patacara, Dhammadinna,
Sona, Sakula, Kundala Kesa, Sigalamata dan Kisa Gotami.


9. Mempersembahkan Jetavana
Anathapindika, seorang donatur utama Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk menemui
Sang Guru Agung ketika Beliau sedang bersemayam di Veluvana (Hutan Bambu) di Rajagaha.
Anathapindika lahir di Savatthi, putera seorang milyuner yang bernama Sumana. Sebelumnya ia
bernama Sudattha, dan karena sifatnya yang dermawan, ia kemudian dikenal dengan nama
Anathapindika (Si Pemberi Makan Kepada Yang Tidak Mampu). Anathapindika seorang
pedagang yang sukses, yang bedagang dengan armada angkutan yang terdiri dari lima ratus
kendaraan.
Pada suatu hari, dia datang ke Rajagaha untuk suatu urusan dagang. Saudara perempuannya
adalah isteri pimpinan pedagang di Rajagaha. Ketika ia tiba di kediaman saudara perempuannya,
saudara iparnya tidak datang menyambutnya seperti biasanya dan ia melihat adiknya sedang
berada di halaman belakang, mempersiapkan suatu pesta. Para juru masak membuat hidangan
khusus dan para pelayan hilir mudik mempersiapkan suatu perjamuan penting. Tidak ada seorang
pun yang memperhatikan Anathapindika. Persiapan perjamuan itu begitu meriah, sehingga
Anathapindika mengira akan dilangsungkan suatu pesta pernikahan atau mereka akan menjamu
raja.
Pada saat pimpinan pedagang telah selesai mengatur persiapan perjamuan, dia menemui dan
menyalami Anathapindika. Tidak dapat dilukiskan betapa bahagianya Anathapindika ketika
mengetahui bahwa segala persiapan itu adalah untuk menyambut Sang Buddha pada kesokan
harinya. Dengan mendengar kata "Buddha" saja, sudah membuat Anathapindika tertarik dan
ingin menemui Sang Buddha. Anathapindika diberitahu bahwa Sang Buddha sedang berada di
Hutan Sitavana, yang letaknya tidak jauh dari tempat itu, dan besok ia dapat bertemu dengan
Sang Buddha. Ia lalu pergi tidur, Keinginannya untuk bertemu Sang Buddha begitu kuatnya,
sehingga ia tidak dapat tidur sepanjang malam dan terbangun pagi-pagi sekali dan segera
berangkat menuju Hutan Sitavana.
Karena keyakinannya yang besar kepada Sang Buddha, tampak cahaya memancar dari tubuhnya.
Di dalam perjalanannya ke tempat Sang Buddha berada, ia harus melewati kuburan. Ketika itu
masih gelap gulita, sehingga menimbulkan ketakutan di dalam dirinya. Ia berpikir untuk pulang
kembali. Namun Yakkha yang bernama Siraka, tanpa menampakkan diri memberinya semangat.
Ketakutan lenyap dan timbul keyakinannya yang kuat kepada Sang Buddha. Cahaya pagi hari
mulai muncul dan dengan penuh semangat ia melanjutkan perjalanannya. Kejadian ini terjadi
untuk kedua dan ketiga kalinya. Pada akhirnya ia tiba di hutan Sitavana di mana Sang Buddha
sedang bermeditasi berjalan bolak-balik dengan perlahan dan teratur, sedang menunggu
kedatangan Anathapindika. Sang Buddha menyapanya dengan nama keluarganya, Sudatta dan
memintanya untuk menghadap Beliau.
Anathapindika merasa gembira mendengar Sang Buddha memanggilnya demikian dan dengan
penuh hormat ia bertanya kepada Sang Buddha apakah Beliau tidur dengan perasaan bahagia.
Sang Buddha menjawab :
"Seseorang yang telah terbebas dari perbuatan jahat, tenang, terbebas dari kemelekatan, teguh
dan tidak melekat pada nafsu-nafsu keinginan, selalu tidur dengan nyenyak."
"Setelah memutuskan belenggu dan dapat mengendalikan nafsu keinginan, batinnya tenang dan
setelah mencapai bahagia, ia akan tidur dengan nyenyak."
Setelah mengucapkan kedua bait tersebut, Sang Buddha menguraikan Empat Kesunyataan Mulia
kepada Anathapindika. Pengertian tentang Ajaran ini bahwa segala yang muncul pasti akan
lenyap, menjadi terang dan jelas bagi Anathapindika. Dengan mendengar uraian Dhamma Yang
Mulia ini, Anathapindika menjadi Sotapanna ( pemenang arus, Tingkat Kesucian Pertama ), ia
lalu mengundang Sang Buddha beserta murid-murid Beliau untuk menerima persembahan dana
darinya pada keesokan harinya, di tempat kediaman saudara iparnya. Anathapindika kemudian
bernamaskara, memberikan hormatnya kepada Sang Buddha kemudian pulang.
Anathapindika kemudian mempersiapkan segala dana yang akan dipersembahkan kepada Sang
Buddha seorang diri, meskipun saudara iparnya ingin membantu. Setalah mempersembahkan
dana makanan Anathapindika mengundang Sang Buddha untuk melewatkan musim hujan di
Savatthi dan Sang Guru Agung menerimanya dan berkata :
"O, perumah tangga, Sang Tathagata menyukai tempat yang sepi."
Anathapindika mengerti permintaan yang terkandung di dalam persetujuan Sang Buddha, ia lalu
mencari tempat yang tenang dan sunyi di dekat Savatthi, di mana Sang Buddha dapat menetap. Ia
akhirnya menemukan tempat yang sesuai untuk Sang Buddha, yaitu taman milik Pangeran Jeta.
Pangeran Jeta memberitahu Anathapindika bahwa taman itu tidak dijual, walaupun ditutupi
dengan kepingan-kepingan emas. Anathapindika menyatakan keinginannya membeli taman itu
seharga yang dikatakan oleh Pangeran Jeta, tetapi Pangeran Jeta tetap tidak menyetujuinya.
Anathapindika lalu merundingkan kepada para pejabat istana tentang pernyataan Pangeran Jeta
yang akan menjual taman itu apabila ditutupi dengan kepingan uang emas dan para pejabat istana
menyetujui permintaan tersebut. Anathapindika lalu memerintahkan para pegawainya untuk
membawa beberapa kereta berisi kepingan-kepingan uang emas, dan menutupi Hutan Jeta itu
dengan kepingan uang emas yang dibawa. Ada sebagian kecil tanah hutan itu uang tidak tertutupi
dengan kepingan uang emas dan Pangeran Jeta yang melihat hal itu mengatakan bahwa bagian
tanah tersebut adalah persembahan darinya. Anathapindika menyetujui dan membangun pintu
gerbang dan sebuah bangunan.
Anathapindika lalu membangun Vihara Jetavana ini dengan indah, membangun ruangan-ruangan
untuk belajar, ruangan persembahan dana, perapian, gudang, kamar mandi, koridor, sumur,
kolam, kamar-kamar dengan penghangat ruangan, paviliun-paviliun. Milyuner ini menghabiskan
lima puluh empat kati kepingan emas untuk menyelesaikan bangunan di Vihara Jetavana ini.
Sang Buddha berdiam di Vihara Jetavana selama sembilan belas masa musim hujan, masa vassa.
Di Vihara Jetavana inilah Sang Buddha melewatkan sebagian besar masa hidup Beliau, dan di
tempat ini pula Sang Buddha banyak membabarkan Dhamma Yang Mulia.


10. Mukjizat Kembar di Bawah Pohon Mangga
A. Pindola Bharadvaja Mempertunjukkan Suatu Mukjizat.
Seorang bendahara dari Rajagaha pergi ke Sungai Gangga untuk melakukan olah raga di air. Agar
tidak terhanyut, dia menyimpan pakaian dan perhiasannya di dalam sebuah keranjang rotan.
Sementara itu sepotong akar pohon cendana merah yang tumbuh di tepi Sungai Gangga terjatuh
ke dalam sungai. Karena benturan batu-batu di dasar sungai, potongan akar itu patah menjadi
potongan-potongan kecil dan potongan akar sebesar guci air itu menjadi bulat dan halus karena
benturan batu dan terkikis oleh arus air sungai. Potongan akar kayu ini terbawa arus dan
tersangkut pada keranjang rotan milik Sang Bendahara.
"Apa ini?" tanya Sang Bendahara.
"Bagian dari sebatang pohon," kata temannya.
Sang Bendahara memerintahkan untuk membawa potongan akar kayu tersebut kepadanya.
"Jenis kayu apa ini?" pikir Sang Bendahara.
Untuk mengetahuinya, dia membelahnya dengan kapak dan menemukan bahwa potongan akar itu
adalah potongan akar pohon cendana yang berwarna merah. Dia lalu berpikir :
"Di rumah saya memiliki banyak kayu cendana merah, apa yang akan saya perbuat dengan
potongan kayu ini?"
Kemudian muncul dalam pikirannya :
"Banyak orang yang hidup di dunia ini berkata : 'Kami adalah para Arahat, kami adalah para
Arahat,' tetapi saya tidak mengenal seorang Arahatpun."
"Saya akan menggunakan mesin pemotong kayu untuk membuat sebuah mangkuk dan mangkuk
ini akan saya gantungkan di udara dengan seutas tali yang terbuat dari sambungan bambu dengan
ketinggian enam puluh cubit (30 meter) dari tanah."
"Kemudian akan saya buat pernyataan : bila memang ada seorang Arahat, silakan Beliau
melayang ke udara dan mengambil mangkuk tersebut."
"Bila ada yang berhasil mengambil mangkuk tersebut, saya akan menjadi muridnya, demikian
juga anak dan isteri saya."
Demikian dia membalikkan mangkuk tersebut dan menggantungkannya pada tali bambu dan
membuat pernyataan :
"Bila di dunia ini ada seseorang yang telah menjadi Arahat, silakan terbang ke udara dan
mengambil mangkuk itu."
Keenam guru pertapa seperti Purana Kassapa dan Makkhali Gosala, berkali-kali meminta
mangkuk tersebut, namun Sang Bendahara berkata bahwa siapapun di antara mereka dapat
mengambilnya melalui udara. Pada hari keenam, Nigantha Nathaputta mengutus beberapa orang
muridnya untuk meminta mangkuk tersebut dari Sang Bendahara. Para murid ini memberitahu
Sang Bendahara bahwa guru mereka tidak perlu melayang ke udara untuk hal sepele seperti
mengambil sebuah mangkuk, seharusnya mangkuk tersebut diserahkan kepada guru mereka
karena dialah yang berhak. Sang Bendahara tetap memberikan jawaban yang sama seperti
sebelumnya. Nigantha Nathaputta kemudian memberitahu murid-muridnya suatu rencana untuk
mengambil mangkuk tersebut. Ia akan mencoba terbang ke udara dengan mengangkat sebelah
tangan dan kakinya dan para muridnya harus memohon agar ia tidak perlu terbang ke udara untuk
hal sepele seperti itu dan para murid harus berusaha mencegahnya melakukan hal tersebut. Sesuai
rencana, ia pergi ke tempat mangkuk tersebut dan mengangkat tangan dan kakinya dengan
maksud untuk terbang ke udara, namun dia dicegah sesuai dengan rencana dan ia turun kembali.
Ia menemui Sang Bendahara dan meminta mangkuk tersebut, namun ia menerima jawaban yang
sama seperti sebelumnya. Demikianlah para pertapa mencoba selama enam hari untuk
mendapatkan mangkuk tersebut, namun mereka tidak berhasil.
Pada hari ketujuh Yang Mulia Moggallana dan Yang Mulia Pindolabharadvaja sedang keluar
untuk berpindapata di Rajagaha, mereka berdiri di atas sebuah batu karang datar dan mulai
memakai jubah mereka. Sekelompok orang memulai percakapan :
"Saudara, ada enam orang guru yang biasanya mengaku sebagai para Arahat, namun ketika Sang
Bendahara dari Rajagaha tujuh hari yang lalu menggantungkan sebuah mangkuk dan berkata
bahwa bila memang ada seorang Arahat, silakan terbang ke udara dan mengambil mangkuk
tersebut, tidak seorangpun di antara orang-orang yang mengaku sebagai Arahat tersebut yang
dapat terbang ke udara. Hari ini kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa di dunia ini tidak ada
Arahat."
Mendengar percakapan ini, Yang Mulia Moggallana berkata kepada Yang Mulia
Pindolabharadvaja :
"Saudara, Anda telah mendengar percakapan orang-orang itu, mereka berbicara seolah-olah
menantang Ajaran Sang Buddha."
"Karena Anda memiliki kemampuan batin yang tinggi, kemampuan supranatural yang hebat,
terbanglah ke udara dan ambil mangkuk tersebut."
"Saudara Moggallana, Andalah yang terkenal sebagi yang paling hebat di antara yang memiliki
kemampuan batin, ambillah mangkuk tersebut, bila Anda tidak mengambilnya, Saya yang akan
mengambilnya."
Yang Mulia Moggallana menjawab :
"Silakan saudara."
Demikianlah Yang Mulia Pindolabharadvaja memasuki keadaan kemampuan supranatural, ia
melingkari batu karang datar seluas 3 mil dengan ujung kakinya dan mengangkatnya ke atas
dengan mudah, semudah mengangkat kapas sutera, kemudian Ia berjalan tujuh kali mengelilingi
kota Rajagaha.
Sekarang kota Rajagaha luasnya persis 3 mil dan batu karang tersebut nampak menutupi kota.
Penduduk kota berpikir :
"Batu tersebut akan jatuh dan menimpa kita," dan dengan ketakutan mereka memakai nyiru di
atas kepala mereka dan bersembunyi. Kemudian untuk ketujuh kalinya Yang Mulia
Pindolabharadvaja mengelilingi kota, meminggirkan batu karang tersebut dan Beliau lalu
menampakkan diri di hadapan penduduk. Letika penduduk melihatNya, mereka berseru :
"Yang Mulia Pindolabharadvaja, tahanlah batu tersebut, janganlah menghancurkan kami."
Lalu Yang Mulia Pindolabharadvaja menendang batu tersebut kembali ke tempatnya semula,
kemudian Beliau berdiri di atas rumah Sang Bendahara. Ketika Sang Bendahara melihatNya, ia
lalu bernamaskara dan berkata :
"Yang Mulia, silakan turun."
Setelah Yang Mulia Pindolabharadvaja turun, Sang Bendahara menyediakan tempat duduk,
menurunkan mangkuknya dan mengisinya dengan empat macam minuman manis dan
memberikannya kepada Yang Mulia Pindolabharadvaja. Beliau lalu mengambil mangkukNya dan
berjalan menuju vihara. Para penduduk yang tidak dapat menyaksikan mukjizat tersebut karena
sedang berada di hutan atau di desa, berkumpul dan mulai mengikuti Yang Mulia
Pindolabharadvaja dan berkata kepada Beliau :
"Yang Mulia, tunjukkanlah mukjizat kepada kami."
Yang Mulia Pindolabharadvaja mengulangi mukjizat tersebut dan setelah itu melanjutkan
perjalanannya ke vihara.
Sang Buddha mendengar suara penduduk yang ramai bertepuk tangan, Beliau bertanya kepada
Yang Mulia Ananda :
"Ananda, kepada siapakah mereka sedang bertepuk tangan?"
Yang Mulia Ananda menjawab :
"Pindolabharadvaja telah terbang ke udara dan mengambil mangkuk yang terbuat dari kayu
cendana merah dan penduduk bertepuk tangan untuknya."
Sang Buddha lalu memanggil Yang Mulia Pindolabharadvaja untuk menghadap dan berkata :
"Apakah benar Engkau telah melakukan seperti yang telah dilaporkan?"
"Benar, Yang Mulia."
"Bharadvaja, mengapa Engkau melakukan hal ini?"
Sang Buddha lalu menegurnya dan menyuruhnya memecahkan mangkuk tersebut menjadi
potongan-potongan kecil dan menyuruhnya menyerahkan potongan-potongan kayu tersebut
kepada para bhikkhu untuk digiling dan dijadikan bubuk kayu cendana. Kemudian Sang Buddha
menetapkan peraturan yang melarang para bhikkhu mempraktekkan kekuatan supranatural untuk
tujuan-tujuan seperti itu di masa yang akan datang.


B. Sang Buddha Berjanji Akan Mempertunjukkan Suatu Mukjizat.
Ketika para pertapa mendengar sikap Sang Buddha terhadap kejadian pengambilan mangkuk oleh
Yang Mulia Pindolabharadvaja, mereka mengira Sang Buddha juga mematuhi peraturan yang
telah Beliau tetapkan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak mempertunjukkan mukjizat
sepele seperti pengambilan mangkuk, tetapi mereka telah siap untuk menunjukkan mukjizatmukjizat
untuk menandingi Sang Buddha.
Raja Bimbisara segera menemui Sang Buddha dan mendiskusikan pertanyaan tentang
pertunjukan kemampuan batin oleh Sang Buddha dan para bhikkhu. Sang Buddha lalu berjanji
bahwa Beliau sendiri akan mempertunjukkan suatu mukjizat dan mengatakan kepada Raja
Bimbisara bahwa Beliau mempunyai hak untuk melakukan hal tersebut. Sang Buddha
menjelaskan bahwa meskipun Beliau melarang para bhikkhu untuk mempertunjukkan
kemampuan batin, namun peraturan tersebut tidak berlaku bagi Sang Buddha. Sama seperti raja
dapat memakan buah mangga dari kebunnya sendiri, tapi akan menghukum siapapun yang
mengambil mangga tersebut.
Pada akhir diskusi, Sang Buddha berkata bahwa Beliau akan mempertunjukkan mukjizatmukjizat
pada bulan purnama di bulan Asadha, empat bulan kemudian, di tempat para Buddha di
masa lampau mempertunjukkan kemampuan batin mereka. Mendengar perkataan tersebut, para
pertapa berpikir bahwa mereka telah kalah, dan mereka membuntuti Sang Buddha dan berkata
bahwa sang Buddha berusaha menghindar dari mereka.
Pada waktunya, Sang Buddha tiba di Savatthi, demikian pula para pertapa. Para pertapa
mengumpulkan dana dari para pengikutnya dan mendirikan paviliun dengan pilar-pilar dari kayu
akasia dan ditutupi dengan bunga teratai. Setelah itu mereka duduk dan berkata :
"Di sini kami akan mempertunjukkan mukjizat."
Ketika Raja Pasenadi Kosala mendengar tentang pembangunan paviliun, ia menawarkan untuk
membangun sebuah paviliun untuk Sang Buddha, namun Sang Buddha menolaknya, karena Raja
Sakka, Raja Para Dewa telah berjanji akan membangun sebuah paviliun untuk Sang Buddha.
Ketika Sang Guru Agung ditanya di manakah tepatnya tempat untuk mempertunjukkan mukjizatmukjizat
tersebut, Sang Buddha berkata bahwa tempatnya adalah di bawah pohon mangga Ganda.
Ketika para pertapa mendengar bahwa Sang Buddha akan mempertunjukkan mukjizat Beliau di
bawah sebuah pohon mangga, mereka langsung mencabut sampai ke akar-akarnya semua pohon
mangga yang tumbuh di tempat itu, mereka bahkan mencabuti pohon mangga yang baru tumbuh
sehari dan membuangnya ke hutan.


C. Mukjizat-mukjizat Awal.
Pada saat bulan purnama di bulan Asadha, Sang Buddha memasuki kota. Pada hari yang sama,
tukang kebun raja bernama Ganda, melihat sebuah mangga yang telah ranum di dalam sebuah
keranjang daun yang dibuat oleh semut-semut merah, dan setelah mengusir burung gagak yang
berkerubung karena tertarik akan wanginya, Ganda memetik mangga itu dan bermaksud
membawanya kepada raja. Namun ketika melihat Sang Buddha di dalam perjalanan, ia lalu
berpikir :
"Bila raja memakan buah mangga ini, ia mungkin akan memberi saya delapan atau enam belas
keping uang, dan itu tidak akan cukup untuk membuat saya hidup selama satu kehidupan, namun
bila saya berikan mangga ini kepada Sang Guru, maka saya akan memperoleh keselamatan untuk
waktu yang tak terbatas."
Kemudian, ia mempersembahkan mangga itu kepada Sang Buddha.
Sang Buddha melihat kepada Yang Mulia Ananda, yang kemudian membuka pembungkus
bingkisan yang sedianya akan diserahkan kepada raja, dan meletakkan buah mangga itu di tangan
Sang Buddha. Sang Guru Agung lalu mengambil mangkukNya, menerima mangga itu dan
mengatakan akan duduk di tempat tersebut. Yang Mulia Ananda membentangkan jubah dan
menyiapkan tempat duduk. Ketika Sang Buddha telah duduk, Yang Mulia Ananda menuang air,
memeras mangga yang ranum itu, membuat sari buah mangga dan mempersembahkannya kepada
Sang Buddha. Setalah Sang Buddha meminum sari buah mangga tersebut, Beliau berkata kepada
Ganda :
"Galilah tanah di tempat ini dan tanamlah biji mangga ini."
Tukang kebun itu lalu melaksanakan seperti apa yang dikatakan oleh Sang Buddha.
Sang Buddha kemudian mencuci tangan Beliau di atas tempat di mana biji mangga itu ditanam.
Pada saat Beliau selesai mencuci tangan, tumbuhlah sebuah pohon mangga. Segeralah pohon
mangga itu penuh dengan bunga dan buah. Ketika raja mendengar bahwa sebuah pohon mangga
telah tumbuh secara ajaib, beliau memerintahkan bahwa tidak seorangpun boleh menebangnya
dan menempatkan penjagaan. Karena pohon mangga itu telah ditanam oleh tukang kebun yang
bernama Ganda, maka pohon mangga itu dikenal dengan nama Pohon Mangga Ganda. Pohon
mangga ini menghasilkan cukup banyak buah mangga untuk dinikmati penduduk. Mereka
menikmati buahnya yang ranum dan melemparkan biji-bijinya kepada para pertapa yang telah
mencabuti semua pohon mangga yang tumbuh di kota itu.
Raja Sakka, Raja Para Dewa memerintahkan Dewa Awan Angin :
"Cabut paviliun para pertapa dan lemparkan ke kolam penampungan limbah."
Dewa Awan Angin melaksanakan perintah Raja Sakka. Kemudian Raja Sakka memerintahkan
Dewa Matahari :
"Perhatikan lintasan matahari dan sengat mereka dengan panas matahari,"
Dewa Sakka kemudian memerintahkan kepada Dewa Awan Angin :
"Siapkan kereta angin dan luncurkan."
Kejadian ini membuat tubuh para pertapa berkeringat dan Dewa Awan Angin menaburi mereka
dengan hujan debu hingga mereka kelihatan seperti semut-semut merah. Dewa Sakka kemudian
menyuruh Dewa Awan Angin :
"Turunkan hujan lebat yang tak terhingga banyaknya."
Dewa Awan Angin melaksanakannya, sehingga para pertapa itu kelihatan seperti sapi-sapi
kudisan. Dengan tanpa pakaian mereka terpontang-panting melarikan diri.
Sementara para pertapa melarikan diri, seorang petani yang merupakan pendukung Purana
Kassapa berpikir :
"Besok adalah hari di mana para guru mulia akan mempertunjukkan mukjizat mereka. Saya harus
pergi menyaksikan mukjizat tersebut."
Setelah melepas kerbaunya, dengan membawa seutas tali, semangkuk sup yang telah dibelinya
pagi itu, ia pulang ke rumahnya. Ketika ia bertemu dengan Purana yang sedang melarikan diri, ia
berkata kepadanya :
"Yang Mulia, saya pikir saya akan pergi menyaksikan para guru yang mulia mempertunjukkan
mukjizat mereka. Ke manakah engkau akan pergi?"
Purana bertanya :
"Mengapa engkau harus menyaksikan suatu mukjizat? Berikan tempat air dan tali itu kepadaku."
Petani itu memberikannya. Purana membawa tempat air dan tali itu ke tepi sungai, ia mengikat
tali pada tempat air, kemudian diikatkan ke lehernya, lalu menjatuhkan dirinya ke dalam sungai.
Terdengar bunyi percikan air, Purana meninggal dan terlahir di neraka Avici.
Sang Buddha menciptakan suatu lintasan berhiaskan permata di udara untuk mempertunjukkan
mukjizat-mukjizat dan banyak orang berkumpul di sana. Para murid Sang Buddha ingin
membantu Beliau dengan menawarkan diri untuk mempertunjukkan mukjizat-mukjizat. Sang
Buddha menolak tawaran mereka dan menyatakan bahwa Beliau harus menunaikan tugas Beliau
sendiri.


D. Sang Buddha Mempertunjukkan Mukjizat Kembar.
Sambil berjalan bolak-balik sepanjang lintasan berhiaskan permata, Sang Buddha membabarkan
Dhamma kepada penduduk dan pada saat yang bersamaan Beliau memancarkan nyala api dan
semburan air dari pori-pori di seluruh tubuh Beliau. Karena melihat bahwa di antara sekian
banyak orang, tidak seorangpun selain Beliau sendiri yang dapat mengerti pikiran Beliau dan
dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Beliau, Sang Buddha lalu mempertunjukkan
kekuatan supranaturalNya, dan menciptakan kembaran Beliau sendiri. Kembaran Sang Buddha
tersebut mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan Sang Buddha menjawabnya. Bila kembaran
Beliau duduk, Sang Buddha berdiri dan Beliau berdiri bila kembaran Beliau duduk.
Demikianlah Sang Buddha membabarkan Dhamma dan mempertunjukkan muljizat-mukjizat,
sehingga banyak orang memperoleh pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.


11. Pembabaran Abhidhamma di Surga Tavatimsa
Setelah Sang Buddha memperlihatkan kesaktianNya, Beliau merenung dan mengetahui bahwa
Para Buddha sebelumNya sesudah memperlihatkan kesaktian akan pergi ke Surga Tavatimsa
untuk membabarkan Abhidhamma kepada ibuNya. Karena itulah Sang Buddha Gotama pergi ke
Surga Tavatimsa, duduk di Singgasana Batu Permata Kuning, Pamdukambla Sila, membabarkan
Abhidhamma kepada ibuNya yang telah menjadi dewa dan juga kepada para dewa lainnya.
Pada saat itu pula banyak umat yang mencari Sang Buddha, ingin bertemu, tetapi mereka tidak
menjumpaiNya, seperti juga rembulan yang baru saja terbenam. Mereka berpikir bahwa Sang
Buddha menyenangi kesunyian dan meninggalkan mereka pergi ke kerajaan atau negara lain dan
tidak akan kembali lagi, mereka mulai menangis dan meratap.
Mereka lalu bertanya kepada Yang Mulia Moggallana :
"Ke manakah Sang Guru pergi, Bhante?"
Meskipun Yang Mulia Moggallana sendiri mengetahui dengan baik ke mana Sang Guru pergi, ia
berpikir biarlah kesaktian siswa yang lainnya juga menjadi terkenal, maka Beliau menjawab :
"Tanyakan kepada Yang Mulia Anuruddha."
Kemudian mereka bertanya kepada Yang Mulia Anuruddha :
"Yang Mulia, ke manakah Sang Guru pergi?"
Yang Mulia Anuruddha menjawab :
"Beliau memasuki Surga Tavatimsa, duduk di Singgasana Batu Permata Kuning; membabarkan
Abhidhamma kepada ibuNya."
Abhidhamma kepada ibuNya."
"Kapan Sang Guru kembali, Bhante?"
"Sang Buddha akan membabarkan Abhidhamma selama tiga bulan dan Beliau akan kembali pada
hari Festival Pavarana."
Mereka lalu bersama-sama bertekad :
"Kami tidak akan pergi, sampai kami dapat bertemu Sang Guru Agung."
Kemudian mereka mendirikan tenda-tenda menunggu sampai Sang Buddha kembali.
Sebelum Sang Buddha pergi ke Surga Tavatimsa, Beliau telah meminta Yang Mulia Moggallana
untuk membabarkan Dhamma kepada masyarakat, dan meminta kepada Culla Anathapindika
untuk menyediakan makanan untuk mereka. Karena itulah, selama tiga bulan, Culla
Anathapindika menyediakan minuman dan makanan berupa bubur dan makanan padat lainnya,
juga dipenuhi bunga-bungaan, wangi-wangian dan hiasan-hiasan. Yang Mulia Moggallana
membabarkan Dhamma kepada mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari semua yang
datang untuk menyaksikan keajaiban ini.
Ketika Sang Buddha berada di Surga Tavatimsa, Beliau duduk di Singgasana Batu Permata
Kuning membabarkan Abhidhamma kepada ibuNya dan para dewa dari alam sepuluh ribu dewa
mengelilingi dan duduk di hadapanNya.
Pada saat Sang Buddha duduk, sinar beraneka warna memancar keluar dari seluruh tubuhNya,
menyinari seluruh dewa yang hadir, ibuNya keluar dari Istana Alam Dewa Tusita, menghampiri
Sang Buddha dan duduk di sisi sebelah kanan dan Ankura di sebelah kiriNya. Ketika kekuatan
para dewa itu bergabung, Ankura menyingkir dan duduk sejauh dua belas yojana.
Pada saat Indaka duduk di sisi kanan Sang Buddha, Beliau kemudian memperhatikan keduanya,
dan bercerita tentang masa lampau mereka, tentang perbuatan baik yang telah mereka perbuat
pada kehidupan yang lampau.
Sang Buddha duduk di tengah-tengah para dewa yang mengelilinginya dan untuk kebaikan dari
ibuNya, Sang Guru mulai menerangkan tentang Abhidhamma, dimulai dengan kata-kata :
"Segala sesuatu ada yang baik, segala sesuatu ada yang buruk, segala sesuatu ada yang tidak baik
juga tidak buruk."
Dan selama tiga bulan tanpa berhenti, Sang Buddha membabarkan Abhidhamma.
Ketika tiba waktunya untuk menerima dana makanan, Beliau menciptakan kembaranNya dan
berkata, "Ajarkanlah Dhamma sampai Aku kembali."
Beliau sendiri menuju ke Himalaya dan sesudah membersihkan gigi dan mulut dengan air dari
Danau Anotatta, Beliau menerima dana dari Uttarakuru, lalu duduk di sebuah taman dan mulai
menyantap makananNya.
Sementara itu Yang Mulia Sariputta pergi ke Surga Tavatimsa dan menunggu Sang Buddha.
Ketika Sang Guru menyelesaikan makanNya, Beliau membabarkan Abhidhamma kepada Yang
Mulia Sariputta. Sesudah mendengar sendiri dari mulut Sang Buddha, beliau kembali ke Alam
Manusia dan membabarkan Abhidhamma kepada lima ratus bhikkhu yang mengiringinya.
Kelima ratus bhikkhu inilah yang menerima untuk pertama kalinya Abhidhamma. Mereka disebut
Abhidhammabhanaka (Yang Mengerti Abhidhamma).
Sang Buddha melanjutkan pembabaran Abhidhamma selama tiga bulan lamanya. Pada akhir
pembabaran Abhidhamma ini, delapan ratus ribu dari jutaan dewa memperoleh pengertian yang
benar tentang Ajaran Sang Buddha, dan Maha Maya mencapai Tingkat Kesucian Pertama
(Sotapanna).


12. Devorohana Puja
Para penduduk mengetahui bahwa Festival Pavarana (batas akhir masa vassa) akan berlangsung
tujuh hari lagi, mereka lalu menemui Yang Mulia Moggallana dan memintanya untuk
memberitahukan kapan Sang Buddha akan turun dari surga Tavatimsa. Kemudian Yang Mulia
Moggallana naik ke Surga Tavatimsa dan bertanya kepada Sang Buddha di mana dan kapan Sang
Guru Agung akan turun dari Surga Tavatimsa. Waktu Sang Buddha mendengar dari Yang Mulia
Moggallana bahwa Yang Mulia Sariputta bertempat tinggal di pintu kota Samkassa, Sang Guru
berkata kepada Yang Mulia Moggallana bahwa Beliau akan turun dengan diiringi oleh para dewa
di pintu kota Samkassa tujuh hari lagi. Yang Mulia Moggallana lalu kembali menemui penduduk
yang berkumpul dan mengatakan apa yang disabdakan oleh Sang Buddha.
Ketika musim penghujan berlalu dan Festival Pavarana dirayakan penduduk, Sang Buddha
memberitahukan kepada Raja Para Dewa, Sakka :
"Raja Mulia, Saya ingin kembali ke alam manusia."
Raja Sakka lalu menciptakan tiga tangga, satu terbuat dari emas, satu terbuat dari permata, dan
tangga yang satunya lagi terbuat dari perak. Kaki tangga itu berada di pintu kota Samkassa dan
puncak tangga itu berada di hadapan puncak gunung Sineru. Di sisi sebelah kanan adalah tangga
yang terbuat dari emas untuk para dewa, di sisi sebelah kiri adalah tangga yang terbuat dari perak
untuk Maha Brahma dan keretanya. Dan tangga yang di tengah-tengah yang terbuat dari permata
untuk Sang Tathagata.
Pada saat itu Para Dewa, Maha Brahma dan Sang Buddha berdiri di puncak Gunung Sineru, lalu
Sang Buddha mempertontonkan Keajaiban Kembar, kemudian melihat ke atas. Beliau melihat
dengan jelas sembilan Alam Brahma dan ketika Beliau melihat ke bawah, Beliau juga melihat
dengan jelas seluruh neraka Avici. Kemudian Beliau melihat keempat penjuru alam semesta dan
empat alam yang berada di antaranya, Beliau melihat dengan jelas ribuan alam yang tak terhitung.
Para Dewa dan Maha Brahma melihat ke penduduk yang sedang berkumpul dan penduduk pun
dapat melihat Para Dewa dan Maha Brahma dari seluruh penjuru, melingkar sejauh tiga puluh
enam yojana, tidak ada satu dewapun yang terlihat melebihi keagungan Sang Buddha pada hari
itu, semua mahluk hanyalah menginginkan kehadiran Sang Guru Agung.
Para dewa turun dari tangga yang terbuat dari emas, Maha Brahma dan keretanya turun dari
tangga yang terbuat dari perak, dan Yang Maha Sempurna sendiri turun dari tangga yang terbuat
dari permata. Pancasika, pemusik dari surga mengambil kecapi yang berwarna kuning dari kayu
Vilva dan turun di sisi kanan Sang Buddha, menyampaikan penghormatannya kepada Sang Guru
Agung dengan memainkan kecapinya dengan suara yang merdu, musik dari surga, Matali, sais
kereta, turun di sisi kiri Sang Buddha, menyampaikan penghormatannya dengan menebarkan
wewangian, bunga rampai dan bunga-bungaan dari alam surga. Maha Brahma memegang sebuah
payung, Suyama mengipasi Sang Buddha. Dengan diiringi oleh Para Dewa dan Maha Brahma
inilah Sang Buddha turun dari Surga Tavatimsa dan menginjakkan kakinya di bumi, di pintu kota
Samkassa. Yang Mulia Sariputta menghampiri Sang Guru dan memberikan hormat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar