Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Sang Buddha Pembimbing Kita : Bhikkhu Cittānando

Sang Buddha Pembimbing Kita



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Agama Buddha bukan suatu agama kepercayaan, melainkan agama yang didasari oleh kemoralan, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Ajaran-ajarannya dihargai dunia karena memberikan alasan-alasan mengenai pengetahuan yang lebih luas dan menyingkirkan kepercayaan yang membuta.

Sayangnya beberapa dari kita telah melupakan prinsip-prinsip dasar dari warisan yang sangat berharga ini, mereka tidak tertarik belajar Dhamma dan mengabaikannya. Sementara yang lainnya hanya mengikuti kegiatan-kegiatan ritual belaka. Seharusnya dimengerti dan diingat bahwa kita menghormat kepada Sang Buddha hanya sebagai pernyataan rasa hormat dan terima kasih kepada Penemu-Jalan dan Guru pembimbing umat manusia, yang kita anggap sebagai ”contoh kesempurnaan sejati”. Sang Buddha-lah yang mengajarkan dan membabarkan Jalan Mulia dan kehidupan bahagia di dunia dan pencapaian kebahagiaan sejati dalam dunia ini dan selanjutnya. Beliau pulalah yang menemukan jalan menuju Nibbāna, yaitu keadaan lenyapnya penderitaan, satu-satunya bentuk kebebasan sejati.

Berapapun banyak atau seringnya kita memuja Sang Buddha, itu bukan merupakan cara yang menuntun kita ke jalan hidup seorang Buddhis. Untuk menjadi seorang Buddhis sejati, orang harus dengan tekun mengikuti prinsip-prinsip dasar dari ajaran-ajaran Buddha, mereka yang kenal akan literatur Buddhis mengakui fakta bahwa Buddha Dhamma mempertahankan banyak prinsip-prinsip agung. Karena itulah, banyak orang yang bukan Buddhis memuji Buddha Dhamma sebagai jalan hidup yang benar.

Buddhisme membimbing manusia menuju kedamaian, pengembangan moral dan berpikir secara logika. Juga, doktrin Buddhis merupakan sumber yang benar, yang mana didapati jawaban tepat bagi semua pertanyaan yang timbul pada pikiran manusia. Inilah satu-satunya doktrin yang menerangkan realita kehidupan secara sederhana dan jujur. Tanpa melebih-lebihkan dapat dinyatakan, dalam meningkatkan batin manusia, Buddhisme tak tertandingi.

Ajaran Sang Buddha ini akan mengajarkan cara hidup Buddhis kepada umat manusia. Jika mereka bertekad untuk menjalaninya, mereka akan memberi contoh kepada umat yang lainnya, dan menolong menjauhkan mereka dari kemerosotan moral yang melanda dunia.

Dalam membimbing umat manusia, Sang Buddha sering mempergunakan metode anupubbikatha untuk mengajar para siswa yang memiliki kemampuan untuk mencapai Penerangan tetapi masih memerlukan instruksi yang memberikan kemajuan sebelum mereka mampu untuk mengerti ajaran lebih maju yang berkenaan dengan Empat Kebenaran Mulia. Ajaran ini sebagai ajaran pemula bagi mereka yang tertarik belajar Dhamma.

Yang pertama dari lima langkah-langkah yang membawa kemajuan adalah Dāna-kathā: kemurahan hati, bentuk kasar dari pengorbanan untuk menghalang-halangi kekikiran yang mementingkan diri sendiri, memberikan sebagian dari miliknya untuk meringankan penderitaan orang lain.

Langkah kedua adalah Sīla-kathā: kemoralan, kemampuan untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerugian pada makhluk lain. Ini menumbuhkan penghormatan pada diri, harta dan hak-hak orang lain, dan menciptakan suatu masyarakat yang bersatu dan damai.

Langkah ketiga yang berguna bagi kemajuan batin adalah Sagga-kathā: Kebahagiaan di alam-alam surga, menerangkan alam-alam kedevaan dan kesenangan-kesenangan yang ada di sana sebagai hasil dari kemurahan hati dan menjalankan sila, sehingga menggembirakan para pendengarnya di dalam praktik yang telah disebutkan di atas.

Langkah selanjutnya adalah Kāmādinava-kathā: Bahaya di dalam kenikmatan kesenangan indera. Merupakan titik balik yang menarik perhatian dimana para pendengar, setelah demikian jauh tertarik di dalam kenikmatan indria, dikecewakan dengan keterangan yang merupakan kebalikan, yaitu tentang bahaya-bahaya dari kenafsuan, yang selalu laten dan meliputi di dalam apa yang disebut kenikmatan. Ini adalah suatu permulaan sikap batin yang negatif, yang bebas dari nafsu, yang cenderung untuk membuka libatan keinginan dan kemelekatan.

Akhirnya sampai pada segi yang positif dan langkah yang menentukan dari praktik yang berguna bagi perkembangan batin yaitu, Nekkhammānisasa-kathā: Faedah peninggalan kesenangan indera, peninggalan segala bentuk kesenangan indria. Ini adalah pasti, akibat yang wajar dari terbukanya ikatan dan batin mencari suatu nilai yang lebih tinggi karena kekecewaannya. Cara di atas yang membawa seorang pencari selangkah demi selangkah adalah suatu cara yang sempurna yang mempersiapkan seorang siswa untuk suatu kenaikan yang berangsur-angsur menuju puncak Penerangan. Dengan cara ini, seorang siswa pertama-tama menghilangkan semua kekikiran batin, dan kemudian melatih dirinya di dalam praktik pengendalian diri, dengan suatu harapan untuk memperoleh kesenangan indria, dan menjadi kecewa dan sebaliknya berusaha untuk meninggalkannya. Dengan memiliki sikap batin ini, seorang pencari tidak mempunyai suatu kesukaran untuk mengerti ajaran-ajaran yang mendalam. Pada tingkat ini suatu batin yang demikian adalah seperti selembar kain yang telah dibersihkan dari seluruh kekotoran-kekotoran dan noda-nodanya, siap untuk menjalani proses pencelupan dan secara sempurna akan mencelup warna apapun juga yang diberikan padanya.

(12 Oktober 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar