Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Penghidupan yang Salah : Bhikkhu Jayaratano

Penghidupan yang Salah



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Anupāyena yo attha, Icchati so vihaññati

Orang yang menginginkan hasil yang dituju dengan cara yang salah niscaya akan menderita.
Khuddaka Nikāya, Jātaka (bagian pertama), Vedabbajātaka

Dewasa ini semua orang dituntut untuk bekerja. Penyebab utamanya adalah kebutuhan pokok yang hanya bisa didapatkan jika ada pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan. Apalagi adanya pernyataan yang mengatakan bahwa ”di dunia ini tidak ada yang gratis”, semuanya harus berusaha, sehingga tidak sedikit orang yang berusaha pada jalur yang tidak tepat, yang juga disebabkan oleh adanya iming-iming kerja yang santai dan tidak memerlukan tenaga, modal, dan pemikiran yang besar namun dapat memberikan hasil yang menggiurkan. Banyak alasan orang terjerumus dalam penghidupan yang salah, dengan berbagai dalil mempertahankan pekerjaannya walaupun sudah banyak yang menjadi korban. Anak-anak, pelajar, remaja, dewasa, wanita, orangtua menjadi korban dari usaha-usaha yang salah, seperti memperjualbelikan benda-benda atau zat yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran (mabuk). Kalau kita tidak hati-hati, kurang pengetahuan, wawasan, pengertian, pemahaman, dan kurang pengalaman bukan tidak mungkin kita akan terlibat dalam usaha yang tidak benar. Oleh karena itu, sangat penting dan bermanfaat bahwa belajar, diskusi, dan melaksanakan Dhamma yang sudah kita ketahui agar mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.

Sang Buddha, walaupun Beliau telah mencapai tujuan yang tertinggi, yaitu telah terbebas dari penderitaan dengan melenyapkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Beliau sangat memperhatikan dan peduli kepada semua makhluk terutama manusia, karena manusia dapat belajar dengan lebih baik daripada binatang. Dhamma yang Sang Buddha ajarkan bukan hanya untuk para petapa, melainkan juga untuk para perumah tangga. Oleh sebab Beliau memahami munculnya petapa dikarenakan adanya keluarga yang membentuk masyarakat, dan antara petapa dan perumah tangga memiliki hubungan timbal balik yang dapat memberikan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Banyak sekali ajaran-ajaran Sang Buddha yang langsung mengarah pada kehidupan perumah tangga, agar terjadi pemahaman tentang suatu pekerjaan yang dapat dilakukan dan pekerjaan yang seharusnya dihindari atau ditinggalkan. Sang Buddha melihat bahwa orang yang memilih hidup sebagai perumah tangga memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Tanggung jawab terhadap anak-anak, suami-istri, orangtua, saudara, kerabat, sampai kepada teman-teman adalah suatu tanggung jawab yang harus dibantu dan disokong dengan pekerjaan yang dilakukan. Sebaliknya, Sang Buddha menganjurkan untuk menghindari atau meninggalkan usaha, pekerjaan, aktivitas, maupun penghidupan salah yang dapat menyebabkan penderitaan dengan teraniaya dan terbunuhnya suatu makhluk hidup. Dalam Aguttara Nikāya V (kelompok lima), Sang Buddha menjelaskan mengenai aktivitas, usaha, ataupun pekerjaan yang harus dihindari dan ditinggalkan oleh perumah tangga: ”Inilah, para bhikkhu, lima perdagangan yang seharusnya tidak dijalankan oleh seorang pengikut awam (perumah tangga): berdagang senjata, makhluk hidup, daging, benda-benda yang memabukkan, dan racun (V, 177). Mengapa, Sang Buddha menganjurkan kita untuk menghindari kelima macam perdagangan tersebut? Karena secara tidak langsung kelima macam perdagangan itu akan mengkondisikan terjadinya pelangggaran sīla pertama dari Pañcasīla Buddhis, pembunuhan makhluk hidup. Di samping itu, bila kita menghindari dan meninggalkan kelima perdagangan itu kita dapat mempraktikkan faktor kelima dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu mata pencaharian benar (sammā-ājīva).

Kelima perdagangan yang harus dihindari tersebut adalah;

1. Menghindari perdagangan senjata; hal ini dapat mencegah tindak kekerasan, di dalam lingkungan rumah tangga maupun masyarakat. Menciptakan ketenangan, keamanan, dan kedamaian di lingkungan kita.

2. Menghindari perdagangan makhluk hidup; ulasan Aguttara Nikāya menjelaskan bahwa berdagang makhluk hidup (sattavāija), seperti menjual manusia, perbudakan, atau perdagangan anak; menjual binatang atau memelihara binatang untuk disembelih dapat dimasukkan dalam kategori ini.

3. Menghindari perdagangan daging; usaha ini merupakan penerapan dari Pañcasīla Buddhis yang pertama, yaitu menghindari pembunuhan makhluk hidup. Bila kita berdagang daging, secara langsung maupun tidak langsung kita menyebabkan terjadinya pembunuhan agar mendapatkan daging untuk dijual.

4. Menghindari perdagangan benda-benda yang memabukkan; dalam hal ini adalah alkohol dan kelompok dari barang-barang narkotik. Bila dikonsumsi secara langsung ataupun perlahan-lahan, zat-zat tersebut akan menyebabkan penurunan kesadaran sehingga perbuatan yang dilakukan oleh orang yang mabuk akan membahayakan dirinya dan orang lain.

5. Menghindari perdagangan racun; racun adalah zat yang digunakan untuk melumpuhkan dan membunuh makhluk secara halus maupun secara paksa, menyebabkan sang korban akan sangat menderita sebelum meninggal.


Itulah lima macam perdagangan yang harus kita hindari dan hendaknya tidak terlibat di dalam penghidupan yang salah.Kita pun seharusnya tidak mendorong orang lain untuk melakukannya. Yang sering kali menjadi pertanyaan, pembahasan, maupun diskusi adalah persoalan tentang makan daging. Dalam Jīvaka Sutta, Majjhima Nikāya, Sutta No. 55, Jīvaka Komārabhacca bertanya kepada Sang Buddha perihal makanan yang berasal dari daging.

Sang Buddha menjawab, ”Jīvaka, aku katakan bahwa ada tiga hal di mana daging harus tidak dimakan; bila terlihat, terdengar, atau dicurigai (bahwa makhluk hidup itu telah disembelih untuk bhikkhu). Aku katakan bahwa daging itu harus tidak dimakan di dalam tiga hal ini. 

Aku katakan bahwa ada tiga hal di mana daging boleh dimakan; bila tidak terlihat, tidak terdengar, atau tidak dicurigai (bahwa makhluk hidup itu telah disembelih untuk bhikkhu). 

Aku katakan bahwa daging itu boleh dimakan dalam tiga hal ini.” Hal tersebut secara jelas dan tegas menyatakan peraturan tentang makan daging yang ditentukan oleh Sang Buddha untuk Saïgha. 

Perlu dicatat bahwa Sang Buddha tidak mengharuskan para bhikkhu menjalankan diet vegetarian. 

Beliau mengizinkan mereka (para bhikkhu) makan daging jika mereka yakin bahwa tidak ada binatang yang khusus disembelih untuk memberi mereka makan. 

Daging semacam itu disebut tikoiparisuddha, ”murni dalam tiga aspek,” karena tidak dilihat, tidak didengar, dan tidak dicurigai berasal dari binatang yang khusus dibunuh untuk bhikkhu tersebut. 

Peraturan bagi umat Buddha tentang menjauhkan diri dari perbuatan mengambil kehidupan berarti melarang membunuh untuk makanannya, tetapi tidak dilarang membeli daging dari binatang yang telah mati. 

Bukan berarti kita menyetujui pembunuhan, namun yang ditekankan dalam peraturan itu adalah kita tidak membunuh sendiri, memesan, atau menyuruh orang lain untuk membunuh. Karena kita tidak terlibat pembunuhan, 

maka tiga hal tersebut dapat diterapkan oleh perumah tangga dengan sungguh-sungguh tanpa harus membohongi orang lain dan pihak lain, yang pada intinya tidak membunuh sendiri dan dengan berbagai macam cara atau dalil menyuruh orang lain membunuh binatang untuk dimakan. 

Di samping kita menghindari pembunuhan, secara tidak langsung kita telah mengembangkan mettā (cinta kasih) yang universal kepada semua makhluk.

Tentunya, dalam menyikapi semua itu kembali pada pribadi masing-masing berdasarkan pengertian, pemahaman, pengetahuan, dan pengalaman yang telah dilakukan. 

Kita pun tahu bahwa setiap makhluk akan mewarisi perbuatannya (kamma) masing-masing. 

Dengan demikian sangatlah penting bagi kita dalam belajar sesuatu dengan baik dan benar secara luas serta mendalam, sehingga hidup kita lebih terarah, semakin maju dan meningkat dalam Dhamma di kehidupan ini maupun kehidupan selanjutnya.

(30-03-2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar