Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Mengatasi Lobha - Dosa - Moha. Dapatkah? : Bhikkhu Cittagutto Thera

Mengatasi Lobha - Dosa - Moha. Dapatkah?



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Anavassutacittassa - ananvāhatacetaso
Puññanapāpapahnassa - natthi jāgarato bhayan’ti

Orang yang pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian,
telah mengatasi keadaan baik dan buruk;
maka orang yang selalu sadar seperti itu tidak ada lagi ketakutan.
(Dhammapada 39)

Pada umumnya orang masih merasa khawatir dan takut atas hal-hal tertentu yang buruk akan menimpa dirinya dan justru mengejar hal-hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari, demikianlah memang kenyataannya. Lalu, bagaimana kemungkinan-kemungkinan orang tertentu yang sudah tidak merasa takut lagi terhadap permasalahan hidup seperti itu? Mari kita telusuri uraian lebih lanjut.
Hidup Disertai Lobha - Dosa - Moha

Istilah lobha, dosa, moha atau dalam bahasa Indonesia disebut keserakahan, kebenacian, kebodohan batin, adalah sebutan-sebutan yang sudah sangat dikenal oleh semua kalangan tokoh maupun umat Buddha secara nasional bahkan internasional. Meskipun demikian, tidak demikian dengan istilah itu terhadap maksud dan pengertian yang sesungguhnya dikandung di dalamnya.

Segala bentuk sikap dan tindakan apa yang dilakukan oleh setiap individu dalam berbuat sesuatu didahului dan disertai oleh ketiga unsur tersebut di atas. Seperti yang kita temukan terdapat dalam Aṅguttara Nikāya III.33 dikatakan bahwa ada tiga penyebab asal mula tindakan, yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha). Selanjutnya dikatakan bahwa, ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan keserakahan, terlahir dari keserakahan, disebabkan oleh keserakahan, muncul dari keserakahan, akan masak di mana pun individu itu terlahir, dan di mana pun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya’.

Selanjutnya dikatakan bahwa, ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan kebencian, terlahir dari kebencian, disebabkan oleh kebencian, muncul dari kebencian, akan masak di mana pun individu itu terlahir, dan di mana pun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya’.

Selanjutnya dikatakan bahwa, ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan kebodohan batin, terlahir dari kebodohan batin, disebabkan oleh kebodohan batin, muncul dari kebodohan batin, akan masak di mana pun individu itu terlahir, dan di mana pun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya’.

Lebih lanjut dalam Aṅguttara Nikāya III.33 itu dikatakan bahwa, sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan diletakkan di ladang yang subur, ditabur di tanah yang sudah dipersiapkan dengan baik: jika ada cukup hujan, benih-benih ini akan tumbuh, menjadi tinggi dan amat subur.

Persoalan-persoalan apa saja dalam hidup setiap orang apabila masih disertai dengan unsur-unsur lobha, dosa, atau moha, memang berat dan sulit untuk mengatasinya. Namun, akan berbeda apabila unsur-unsur tersebut dapat dikikis secara total.

Hidup Tanpa Lobha - Dosa - Moha

Di kalangan tokoh atau pun umat Buddha tertentu, istilah keserakahan (lobha), kebencian (dosa), kebodohan batin (moha) tidak hanya dikenal dan populer di kalangan mereka, tetapi juga ada di antara mereka yang cukup mengenal dan memahami makna dan arti dari istilah-istilah itu dalam praktik kehidupan sehari-hari di masyarakat luas. Artinya ada di antara mereka meskipun sedikit, orang tertentu yang mengerti dan mengenal apa sebenarnya arti dari istilah keserakahan, kebencian, kebodohan batin itu. Bagaimana semua itu bisa timbul, berkembang dan menjadi sangat kuat dalam batin seseorang. Orang seperti ini dapat diketahui dalam bersikap terkait dengan bahaya laten lobha, dosa, moha ini, seperti apa. Mereka bisa saja berbuat sesuatu tetapi tidak dengan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, tetapi dengan amat sangat tulus dan ikhlas menyadari dan melepaskan apa pun yang mungkin harus diberikan kepada orang lain. Atau kejadian apa yang menimpa diri dan keluarganya dalam hidup, masih bisa memaklumi dan menyadari itu sebagai hal yang wajar terjadi, terhadap hal itu mereka tidak terlalu memper-masalahkan.

Dalam Aṅguttara Nikāya III.33 dikatakan bahwa, ada tiga penyebab lain asal mula tindakan, yaitu tanpa keserakahan, tanpa kebencian dan tanpa kebodohan batin. Dikatakan lebih lanjut bahwa, ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa keserakahan, terlahir dari tanpa keserakahan, disebabkan oleh tanpa keserakahan, muncul dari tanpa keserakahan, ... ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa kebencian, terlahir dari tanpa kebencian, disebabkan oleh tanpa kebencian, muncul dari tanpa kebencian, ... ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa kebodohan batin, terlahir dari tanpa kebodohan batin, disebabkan oleh tanpa kebodohan batin, muncul dari tanpa kebodohan batin, maka begitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin telah lenyap, tindakan itu ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul-punggur pohon palem, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa mendatang.

Sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan diletakkan di ladang yang subur: jika seseorang membakarnya sehingga menjadi abu, kemudian menampi abu itu di angin yang kencang atau membiarkannya terbawa arus yang mengalir deras, maka benih-benih itu akan langsung hancur, lenyap sepenuhnya, tak mampu bertunas dan tak lagi bisa muncul di masa mendatang.

Demikian pula, jika tindakan yang dilakukan dengan tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kegelapan batin, begitu keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin itu telah lenyap, tindakan ini ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul-punggur pohon palem, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa mendatang.


Kumpulan Kebajikan Sebagai Modal

Secara logika, apa yang dijelaskan di atas sebagai pohon yang mampu tumbuh subur, suatu tindakan baik yang dilakukan dengan tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin, akan menjadi tumpukan modal besar untuk berjuang mengatasi baik dan buruk. Seseorang seharusnya dapat memahami bahwa dengan mengumpulkan kebajikan dan berusaha untuk tidak menambah kejahatan/keburukan, tentu akan membuat diri akan mempunyai peluang untuk mempelajari dan melakukan hal-hal seperti:

1. Menjaga agar tidak berbuat jahat
2. Menambah kebaikan
3. Menjaga agar batin tidak dikuasai nafsu keserakahan dan kebencian
4. Membersihkan batin hingga tuntas sampai pengikisan akar-akar semua tindakan.

Setelah berbuat sesuatu tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin, kemudian semua keserakahan, kebencian, kebodohan batin yang tersisa sebelumnya telah habis, maka semua telah terpotong habis, tidak ada lagi sisa sedikitpun.
Berjuanglah untuk mengatasi semua itu.

Sumber:
- Nidana Sutta – Thanisaro
2. Petikan Aṅguttara Nikāya, Klaten, Maret 2003
(13 desember 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar