Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Kebahagiaan Itu Dibuat, Bukan Dicari : Bhikkhu Atthadhiro

Kebahagiaan Itu Dibuat, Bukan Dicari



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Na kahāpaṇa vassena, Titti kāmesu vijjati
Appasādā dukhā kāmā, Iti viññāya paṇḍito

Nafsu keinginan tidak pernah terpuaskan, meskipun oleh hujan emas.
Orang bijaksana memahami bahwa nafsu keinginan memang membawa sedikit kepuasan,
namun akan lebih banyak membawa penderitaan.
(Dhammapada 14:8)

Banyak di antara kita yang menginginkan sebuah kebahagiaan. Terkadang kita melakukan apa saja atas nama kebahagiaan, tetapi bukan kebahagiaan yang kita dapatkan, justru malah sebaliknya. Apakah kebahagiaan itu sesuatu yang sulit didapatkan?

Bagi kita pencari kebahagiaan, tentu kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Tetapi bagi kita pembuat kebahagiaan, tentu kebahagiaan adalah sesuatu yang mudah untuk didapatkan. Lalu apa yang membedakan antara pencari kebahagiaan dan pembuat kebahagiaan? Yang membedakan adalah asal mula munculnya kebahagiaan itu. Jika pencari kebahagiaan, kebahagiaan muncul dari luar diri atau obyek yang di luar. Tetapi jika pembuat kebahagiaan, kebahagiaan muncul dari dalam diri.

Mengingat bahwa segala yang kita dapatkan selalu mengalami proses perubahan yang mungkin menciptakan ketidak-bahagiaan, maka yang terbaik bagi kita adalah menjadi pembuat kebahagiaan, bukan pencari kebahagiaan.

Untuk menjadi pembuat kebahagiaan, Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada kita, salah satunya adalah memiliki kepuasan dan sedikit keinginan.


Kepuasan

Kepuasan adalah puas dengan apa yang telah dimiliki sehingga tidak menginginkan milik orang lain. Dalam kehidupan nyata kepuasan dianggap kurang begitu penting, apalagi kita yang hidup dalam era modern seperti ini yang selalu dituntut untuk memuaskan keinginan. Padahal keinginan itu sesungguhnya tidak ada habisnya, semakin dikejar justru semakin jauh. Karena keinginan itu, kurang lebih seperti kalau kita lari di atas treadmil, semakin kita lari kencang maka semakin cepat kita lelah. Itulah gambaran tentang keinginan, maka kita perlu membuat sebuah kepuasaan.

Kepuasan muncul bukan karena mendapat apa yang kita inginkan, melainkan puas dengan apa yang telah diperoleh. Sebagai orang yang berkeluarga tentu puas dengan pasangan yang telah dimiliki. Puas dengan apa yang diberikan pasangan hidupnya.

Bagi keluarga yang menginginkan adanya kebahagiaan, kesetiaan, dan kejujuran, maka milikilah kepuasan. Kebahagiaan muncul karena adanya kepuasan. Kesetiaan muncul karena kepuasan, orang tidak setia karena tidak memiliki kepuasan. Kejujuran akan muncul juga karena kepuasan. Sebagai contoh, orang yang korupsi besar-besaran bukan karena ia orang tidak mampu tetapi karena tidak adanya kepuasan, maka ia menipu, tidak jujur dan melakukan kecurangan. Inilah pentingnya sebuah kepuasan.

Bagi yang berjalan dalam kehidupan spiritual, kepuasan sangat memberi pengaruh besar. Batin akan mudah maju karena adanya kepuasan, sehingga pikiran ini tidak banyak berpikir melainkan akan mudah tenang dan mudah dikendalikan. Sebaliknya jika tidak ada kepuasan, pikiran akan terus mengembara dengan terus berpikir, sehingga akan sulit konsentrasi dan mungkin akan tersiksa oleh pikirannya sendiri.

Terkadang orang merasa tidak puas karena ia selalu membandingkan dengan yang di luar. Yang menjadi pembanding adalah sesuatu yang lebih tinggi darinya. Seperti pepatah yang sering kita dengar: ”rumput tetangga tampak hijau”. Tetapi jika orang membandingkan dengan yang lebih rendah darinya, maka ia akan sadar karena ia beruntung sehingga ia akan puas.


Sedikit keinginan

Sedikit keinginan bisa diartikan punya keinginan tetapi tahu batas-batasannya. Dengan demikian kita tidak selalu berupaya menuruti semua keinginan kita. Tetapi ada pertimbangan-pertimbangan sebelum memenuhi keinginan itu. Biasanya pertimbangan itu semacam mengetahui tentang: untung dan ruginya, baik dan buruknya, kemudian apakah itu pantas atau tidak jika dilakukan, kemudian tahu seberapa besar kemampuan yang dimiliki. Secara mudah bisa diartikan memenuhi keinginan berdasarkan kebijaksanaan.

Dalam berkeluarga sedikit keinginan sangat perlu dikembangkan, karena orang berkeluarga pada dasarnya ingin bahagia. Tetapi jika banyak keinginan dan keinginan itu tidak terpenuhi, maka kebahagiaan tidak tercipta. Dengan sedikit keinginan maka keluarga akan bahagia.

Bagi orang-orang yang berjalan dalam kehidupan spiritual, sedikit keinginan juga bisa diartikan mudah untuk dirawat, tidak merepotkan orang lain. Dengan demikian, maka akan mudah untuk membantu ketenangan batin. Tetapi jika memiliki keinginan seyogianya memiliki keinginan dengan ”sedikit keinginan”. Keinginan itu adalah hal-hal yang membantu menuju kesempurnaan batin sehingga mampu melenyapkan lobha, dosa, dan moha.
 
Marilah kita menanamkan kepuasan dan sedikit keinginan dalam diri kita masing-masing, sehingga kita akan selalu berbahagia dimanapun dan kapanpun .
( 20 Desember 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar