Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Apa Yang Kita Cari Dalam Hidup Ini? : Bhikkhu Chandaviro

Apa Yang Kita Cari Dalam Hidup Ini?



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Sabbe sattā sadā hontu, Averā sukhajivino.
Khemappadañca pappontu, Tesāsā sijjhatamṁ subhā.

Semoga semua mahluk senantiasa bebas dari kebencian
serta hidup dalam kebahagiaan. Semoga mereka mendapatkan jalan kedamaian.
Semoga cita-cita luhur mereka tercapai.
(Pattidāna)


Selama ini kita tidak pernah menyadari dan membuat ke-simpulan untuk bertanya, apa yang kita cari dalam hidup ini? Memang pertanyaan yang mudah dan sederhana tapi memerlukan jawaban yang luas. Sebetulnya dalam pengertian umum kita hidup mempunyai banyak tujuan dan cita-cita. Setiap orang mempunyai tujuan hidup yang berbeda. Demikian juga setiap orang mem-punyai cita-cita yang bermacam-macam, ada yang ingin jadi artis, ingin jadi penyanyi, ingin jadi pilot, ingin jadi dokter, ingin jadi polisi, ingin jadi orang terkenal, ingin jadi orang hebat dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana menurut Dhamma yang telah di ajarkan oleh guru Agung kita? Di dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menyebutkan manusia memiliki tujuan, ada yang dicari, ada pe-nopang, ada keinginan dan juga cita-cita. Sang Buddha me-ngelompokkan manusia menjadi enam kelompok, yaitu:

1. Ksatria
Keyakinan adalah tujuan dari seorang ksatria. Yang dicari adalah pengetahuan, penopangnya adalah kekuatan, keinginannya adalah meng-atur bumi, dan cita-citanya adalah kedaulatan.

2. Brahmana
Kekayaan adalah tujuan dari seorang brahmana. Yang di-cari adalah pengetahuan, pe-nopangnya adalah teks-teks suci, keinginannya adalah kurban-kurban, dan cita-cita-nya adalah pencapaian ke-hidupan alam brahma.

3. Perumah tangga
Kekayaan adalah tujuan dari seorang perumah tangga. Yang dicari adalah pengetahu-an, penopangnya adalah ke-terampilan, keinginanya ada-lah bekerja, dan cita-citanya adalah menyelesaikan pe-kerjaannya.

4. Wanita
Seorang pria adalah tujuan dari seorang wanita. Yang dicari adalah perhiasan, pe-nopangnya adalah putra-putri (anak), keinginannya adalah tidak dimadu, dan cita-citanya adalah mendominasi.

5. Pencuri
Mencuri adalah tujuan dari seorang pencuri. Yang dicari adalah tempat persembunyi-an, penopangnya adalah sen-jata-senjata, keinginanya adalah kegelapan, dan cita-cita-nya adalah tidak ditangkap.

6. Petapa
Kesabaran dan kemurnian adalah tujuan dari seorang petapa. Yang dicari adalah pengetahuan, penopangnya adalah moralitas, keinginanya adalah tidak terhalang, dan cita-citanya adalah pe-realisasian Nibbāna.

Dari semua cita-cita manusia di atas tidak ada kelompok orang yang bercita-cita menjadi sengsara. Semua bercita-cita untuk men-dapatkan yang terbaik di antara yang baik-baik, apa pun kehidupan orang itu.

Dengan demikian dapat kita tarik kesimpulan bahwa dari semua hal di atas tujuan dan cita-cita manusia adalah untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.

Kadang-kadang untuk men-capai yang ingin diraih, manusia menggunakan berbagai macam cara. Ada dengan cara baik dan ada juga dengan cara yang kurang baik.

Sedangkan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai Sang Buddha menerangkan di dalam Maṅgala Sutta yaitu: Hendaknya kita memiliki pengetahuan luas dan berketerampilan, bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak melakukan pekerjaan tercela, terlatih baik dalam tata susila, dan bertutur kata dengan baik, itulah berkah utama.

Selanjutnya masih dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menjelaskan bahwa sebagai pe-rumah tangga umumnya adalah ingin mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Di sini disebut-kan bahwa untuk mencapai ke-sejahteraan dan kebahagiaan se-bagai perumah tangga hendaknya memiliki (Empat Iddhipāda) atau empat syarat agar tercapai ke-suksesan dalam bekerja atau berusaha yaitu:
1. Chanda yaitu merasa puas dan gembira ketika mengerja-kan sesuatu atau pekerjaan.
2. Viriya yaitu usaha yang ber-semangat dalam mengerjakan sesuatu atau pekerjaan.
3. Citta yaitu memperhatikan dengan sunggug-sungguh ke-tika melakukan suatu pekerja-an, tanpa melalaikannya.
4. Vimaṁsā yaitu yang terbaik dari pekerjaan yang sedang dikerjakan. (A.IV.285)


Selain hal di atas untuk men-capai kebahagiaan duniawi selanjutnya Sang Buddha me-nyampaikan berkenaan dengan empat macam kebahagiaan yaitu:
1. Atthi – Sukha : kebahagiaan karena dapat bekerja dan bahagia karena memiliki harta kekayaan.
2. Bhoga – Sukha : Kebahagiaan karena dapat mempergunakan kekayaan.
3. Anaṇa – Sukha : Kebahagiaan karena terbebas dari utang.
4. Anavajja – Sukha : kebahagia-an karena tidak didapat dari hasil kejahatan. (A.IV)

Sebagai kesimpulan dari se-mua apa yang kita kerjakan dan perjuangkan tadi tujuanya adalah untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagian hidup. Tapi yang di anjurkan oleh Sang Buddha hendaknya kita tidak saja hanya untuk mencapai kebahagiaan duniawi tetapi juga selalu berjuang untuk mencapai kebahagian ter-tinggi di atas duniawi yaitu men-capai pembebasan atau Nibbāna.

Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā.
(27 Desember 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar