Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Meningkatkan Kualitas Diri Dengan Berpikir Benar : Bhikkhu Abhayanando

Meningkatkan Kualitas Diri Dengan Berpikir Benar


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Bukan ibu maupun ayah,
juga bukan sanak keluarga yang dapat melakukan hal ini,
karena pikiran yang terarah dengan benar,
yang dapat meningkatkan kualitas seseorang.
(Dhammapada, Cittavagga-43)


Pada suatu hari ada yang bertanya kepada saya, ”usaha apa yang harus kita lakukan supaya dapat meningkatkan kualitas diri?”. Kemudian saya berusaha menjawab, dan jawaban yang saya simpulkan adalah manusia harus berupaya untuk belajar dan praktik Dhamma, salah satunya adalah dengan mengarahkan pikiran dengan benar.

Banyak orang berharap kualitas hidupnya meningkat, baik yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya batiniah. Untuk meningkat-kan kualitas hidup yang sifatnya duniawi manusia harus memiliki pengetahuan dan juga ketrampilan yang kemudian diupayakan dalam bentuk bekerja sesuai bidang masing-masing. Faktor yang lain yang tidak kalah penting adalah senang dengan pekerjaan yang dilakukan, memiliki semangat, fokus ketika bekerja, ulet, sabar dan selalu mengevalusi apa yang sudah dilakukan. Semua faktor itu akan mengkondisikan tercapainya kebahagiaan duniawi.

Bukan berarti tidak ada masalah yang dihadapi dalam mem-perjuangkannya. Walaupun harus berhadapan dengan masalah, yang penting bagi mereka yang berjuang harus tetap ingat dengan tujuan utama dan jangan sampai larut dan tenggelam dalam permasalahan tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan sikap mental yang positif. Bagaimana sikap mental positif itu bisa ber-kembang dalam diri seseorang?

Kehidupan ini tidak dapat dilepaskan dengan harapan untuk meningkatkan kualiatas diri. Salah satu caranya adalah berupaya agar pikiran ini tetap sehat. Pikiran yang sehat dapat membantu seseorang ketika dalam keadaan kalut atau mengalami luka batin. Banyak orang berkata, ”untuk memiliki pikiran yang sehat tidaklah mudah.” Kenapa tidak mudah? Karena pikiran itu sifatnya sulit untuk dikendalikan. Pikiran itu lembut dan licin. Pikiran lebih suka hal-hal yang menyenang-kan dibandingkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Itulah sebagian dari sifat pikiran.

Oleh karena itu, Sang Buddha selalu mengingatkan agar manusia harus menjaga pikiran. Pikiran yang terjaga akan selalu sehat dan jauh dari penyakit batin. Pikiran yang terjaga akan membuat seseorang memiliki sikap mental positif. Pikiran memang sulit dikendalikan, maka harus ada upaya untuk mengendalikannya. Pikiran memang liar tetapi harus ada upaya untuk menjinakannya. Pikiran yang senang pada objek-objek yang menyenangkan harus diarahkan dengan benar.

Kenapa pikiran harus dijaga dan dirawat? Pikiran itu adalah sumber dari kejahatan, kebaikan dan kesucian. Pikiran yang tidak diarahkan dengan baik akan membuat seseorang menjadi merosot sedang-kan pikiran yang diarahkan dengan baik akan meningkat kualitas hidup seseorang. Ingat dalam Dhammapada, Yamakavagga syair 1 dan 2 meng-uraikan bahwa pikiran itu pelopor, pemimpin, dan penentu. Jika pikiran itu sebagai pemimpin, pelopor, dan penentu, maka pikiran itu pengaruh-nya sangat kuat terhadap ucapan dan tindakan seseorang. Kalau pikiran itu terjaga dengan benar, maka ucapan dan tindakan seseorang juga akan mengarah pada kebaikan. Sebaliknya, jika pikiran itu tidak terjaga dengan baik, maka orang tersebut akan mengalami kemerosotan.

Dari uraian di atas jelas bahwa mengarahkan pikiran ke arah yang benar itu sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Pertanyaannya, ”apa itu pikiran benar dan bagaimana mengarahkan pikiran ke arah yang benar?” Apa yang anda lakukan ketika anda dalam keadaan bermasalah? Kebanyakan orang cenderung berpikir buruk dan sebagian kecil yang berpikir positif. Kenapa? Karena pikiran yang belum terjaga dengan baik, sehingga tidak menuju ke arah yang benar. Berpikir yang benar adalah berpikir yang sesuai Dhamma diantaranya pikiran yang lepas dari ego (nekkhamma), pikiran memaafkan (khamanasila), pikiran berterima kasih (katavedita), berpikir tidak jahat (avyapada), dan berpikir tanpa kekerasan (avihimsa).

Kalau manusia dapat berpikir seperti di atas alangkah indahnya kehidupan ini. Kehidupan ini akan dipenuhi dengan manusia yang selalu berpikir dengan benar. Pikiran benar menjauhkan manusia dari kebencian, kekerasan, perilaku jahat, dan hal-hal buruk lainnya. Inilah kualitas diri yang diharapkan manusia. Kualitas diri tidak dapat dilepaskan dengan pikiran yang diarahkan dengan benar.

Untuk mendapatkan pikiran yang seperti itu (pikiran benar), tidaklah mudah karena melalui proses perjuangan gigih. Banyak kesulitan yang akan dihadapi ketika berupaya memperjuangkan pikiran yang benar. Banyak orang yang kemudian menyerah kalah terhadap kesulitan dan akhirnya gagal. Orang yang memiliki sikap mental seperti itu selamanya tidak akan dapat meningkatkan kualitas diri. Teruslah berjuang walau harus berhadapan dengan kesulitan. Ingatlah dengan baik-baik dan selalu merenungkan bahwa pikiran yang benar akan membuat kualitas diri meningkat sedang pikiran yang tidak terjaga akan membuat kualitas seseorang merosot.

Sumber:
- Dhammasari; MP. Sumedha Vidyadharma
- Dasar Pandangan Agama Buddha; Ven. S. Dhammika
- Dhammapada; Yayasan Dhammadipa Arama
(6 Desember 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar