Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Sutta Majjhima Nikaya I; NAGARAVINDEYYA SUTTA (petunjuk mengenai pertapa dan brahmana yang pantas dihormati)

NAGARAVINDEYYA SUTTA

Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya I,
Oleh : Tim Penerjemah Tripitaka,
Penerbit : Yayasan Pancaran Dharma, Jakarta, 1992

1. Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Kosala bersama sekumpulan besar bhikkhu sangha dan akhirnya Beliau tiba di sebuah desa kasta brahmana yang dinamakan Nagaravinda.

2. Perumah-tangga kasta brahmana dari Nagaravinda telah mendengar: “Seorang bhikkhu yang disebut Gotama, tampaknya, seorang putra suku Sakya yang meninggalkan suku Sakya, sedang berada di negeri Kosala bersama sekumpulan besar bhikkhu sangha dan telah datang ke Sala. Sekarang sebuah berita baik tentang Gotama telah tersebar yang menyatakan: ‘Demikianlah Sang Bhagava, Beliau seorang arahat dan telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan dan prilakunya, mulia, mengetahui segenap alam, guru manusia tanpa banding, guru para dewa dan manusia, yang mencapai pencerahan agung, yang patut dimuliakan. Beliau menggambarkan dunia ini bersama para dewanya, para Mara dan Brahmana, generasi ini dengan para bhikkhu dan brahmana, para raja dan manusianya, yang telah beliau sadari sendiri melalui pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma dengan indah pada awalnya, indah pada pertengahan dan indah pula pada akhirnya dengan arti dan ungkapan (yang benar). Beliau menegaskan sebuah kehidupan mulia yang dikhotbahkan dengan sempurna dan murni.’ Sekarang sungguh baik menemui para Arahat demikian.”

3. Kemudian, para perumah-tangga kasta brahmana dari Nagaravinda berkunjung kepada Sang Bhagava dan beberapa di antara mereka memberi hormat kepada Sang Bhagava dan duduk di satu sisi, beberapa yang lain bertukar salam dengan Beliau, dan setelah tegur sapa sopan santun dan bersahabat disampaikan, mereka duduk di satu sisi; beberapa di antara mereka mengangkat dan merangkapkan tangannya dalam sikap menghormat kepada Sang Bhagava dan duduk di satu sisi; beberapa yang lain menyebutkan nama dan suku mereka di hadapan Sang Bhagava dan duduk di satu sisi. Setelah mereka duduk, Sang Bhagava berkata kepadanya:

4. “Para perumah-tangga, apabila para pengembara dari sekte lain bertanya kepadamu: ‘Para perumah-tangga, para bhikkhu dan para brahmana macam apa yang seharusnya tidak dipuja, dihormati, dijunjung dan dimuliakan?’ Kamu yang ditanya demikian, dapat menjawab kepada pengembara sekte lain itu demikian: ‘Para bhikkhu dan para brahmana yang belum terbebas dari nafsu rendah, kebencian dan kegelapan batin berkenaan dengan bentuk-bentuk yang diterima oleh mata, yang pikirannya tidak tenang, yang perbuatan jasmani, ucapan dan pikirannya sekarang baik dan sekarang tidak baik, para bhikkhu dan brahmana demikian tak patut dipuja, dihormati, dijunjung dan dimuliakan. Mengapa demikian? Karena kita pun tidak terlepas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin berkenaan dengan bentuk-bentuk yang diterima oleh mata, pikiran kita tidak tenang, perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran kita sekarang baik dan sekarang buruk. Oleh karena itu, apabila kita tak melihat prilaku yang lebih baik pada para bhikkhu dan brahmana itu, mereka tak patut dipuja, dihormati, dijunjung dan dimuliakan.
Para bhikkhu dan brahmana yang tidak terbebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin berkenaan dengan suara-suara yang diterima melalui telinga …
Para bhikkhu dan brahmana yang tidak terbebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin berkenaan dengan penciuman obyek yang diterima melalui hidung …
Para bhikkhu dan brahmana yang tidak terbebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin berkenaan dengan objek rasa yang diterima melalui lidah …
Para bhikkhu dan brahmana yang tidak terbebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin berkenaan dengan sentuhan melalui jasmani …
Para bhikkhu dan brahmana yang tidak terbebas dari keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin berkenaan dengan dhamma melalui pikiran … maka mereka tidak patut dipuja, dihormati, dijunjung dan dimuliakan.’ Kamu, apabila ditanya demikian, dapat menjawab seperti itu kepada para pengembara sekte-sekte lain tersebut.

5. Namun, para perumah-tangga, apabila para pengembara dari sekte-sekte lain itu bertanya kepadamu: ‘Para perumah-tangga, para bhikkhu dan brahmana macam apa yang patut dipuja, dihormati, dijunjung, dan dimuliakan?’ Kamu, yang ditanya demikian, dapat menjawab kepada para pengembara sekte-sekte lain tersebut demikian: ‘Para bhikkhu dan para brahmana yang terbebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin berkenaan dengan bentuk-bentuk yang diterima melalui mata, yang pikirannya tenang, yang perbuatan jasmani, ucapan dan pikirannya baik, para bhikkhu dan brahmana demikianlah yang patut dipuja, dihormati dijunjung dan dimuliakan. Mengapa demikian? Karena kita tidak terlepas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin berkenaan dengan bentuk yang diterima melalui mata, pikiran kita tidak tenang, perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran kita sekarang baik dan sekarang buruk. Oleh sebab itu, karena kita melihat prilaku yang lebih baik pada para bhikkhu dan brahmana ini, mereka patut dipuja, dihormati, dijunjung dan dimuliakan.
Para bhikkhu dan para brahmana yang telah terlepas dari keserakahan, kebencian-dan kegelapan batin berkenaan dengan suara yang diterima melalui telinga …
… berkenaan dengan obyek penciuman yang diterima melalui hidung …
… berkenaan dengan obyek rasa yang diterima melalui lidah …
… berkenaan dengan sentuhan yang diterima melalui badan jasmani …
… berkenaan dengan dhamma melalui batin … mereka patut dipuja, dihormati, dijunjung dan dimuliakan.
Kamu, apabila ditanya demikian, dapat menjawab seperti itu kepada para pengembara sekte-sekte lain tersebut.

6. Para perumah-tangga, apabila para pengembara dari sekte-sekte lain ini bertanya: ‘Tetapi, apa bukti kepastian yang telah kamu jumpai pada orang yang kamu muliakan itu sehingga kamu mengatakan demikian, tentu orang-orang mulia ini telah terlepas dari keserakahan atau telah berjalan di atas jalan yang menghancurkan keserakahan; mereka telah terlepas dari kebencian atau telah berada pada jalan yang menghancurkan kebencian; mereka telah terlepas dari kegelapan batin atau telah berada pada jalan yang menghancurkan kegelapan batin?’ Kamu yang ditanya demikian, dapat menjawab kepada mereka berikut: ‘Selama para orang mulia ini sering tinggal di belantara lebat terpencil di dalam hutan. Karena di sana tak ada bentuk-bentuk yang diterima melalui mata yang kapan saja mereka melihatnya, mereka akan menikmatinya. Karena di sana tak ada suara-suara yang didengar oleh telinga … tak ada obyek bau yang yang diterima oleh hidung … tidak ada obyek rasa yang dikecap oleh lidah … tak ada sentuhan yang diterima oleh badan jasmani, yang kapan saja mereka menyentuhnya, mereka akan menikmatinya. Itulah bukti-bukti dan kepastian-kepastian berkenaan dengan para orang mulia, yang menyebabkan saya mengatakan bahwa mereka demikian: ‘Tentu para mulia ini telah terlepas dari keserakahan … kebencian …kebodohan batin atau mereka berada pada jalan yang menghancurkan kebodohan batin.’ Kamu yang ditanya demikian, dapat menjawab kepada para pengembara sekte-sekte lain itu demikian.”

7-8. Setelah hal tersebut dikatakan, para perumah tangga kasta brahmana dari Nagaravinda berkata: “Mengagumkan, Yang Mulia Gotama! … Menakjubkan, Yang Mulia Gotama! Dhamma telah dibabarkan dengan jelas dalam berbagai cara oleh Yang Mulia Gotama, Beliau telah menegakkan sesuatu yang roboh, menyingkapkan yang tersembunyi, memperlihatkan jalan kepada yang tersesat, menegakkan lampu dalam kegelapan kepada mereka sehingga melihat bentuk.
Kami berlindung kepada Yang Mulia Gotama, kepada Dhamma dan kepada Sangha Bhikkhu. Mulai hari ini harap Yang Mulia Gotama menerima kami sebagai pengikut yang berlindung untuk selama-lamanya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar