Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 1

Ringkasan Milinda Panha 1

Bagian

Satu Jiwa

Raja Milinda pergi menemui Bhikkhu Nagasena dan setelah saling mengucapkan salam persahabatan, raja duduk dengan hormat di satu sisi. Milinda mulai bertanya:

1. "Bagaimana Yang Mulia disebut dan siapakah nama Anda?"

"Baginda, saya disebut Nagasena tetapi itu hanyalah rujukan dalam penggunaan sehari-hari, karena sebenarnya tidak ada individu permanen yang dapat ditemukan".

Kemudian Milinda memanggil orang-orang Yunani Bactria dan para bhikkhu untuk menjadi saksi: "Nagasena ini berkata bahwa tidak ada individu permanen yang tersirat dalam namanya. Apakah mungkin hal seperti itu diterima?"

Kemudian ia berbalik kepada Nagasena dan berkata, "Jika, Yang Mulia Nagasena, hal tersebut benar, lalu siapakah yang memberi Anda jubah, makan dan tempat tinggal? Siapa yang menjalani kehidupan dengan benar ini? Atau juga, siapa yang membunuh makhluk hidup, mencuri, berzinah, berbohong dan mabuk-mabukan? Jika apa yang anda katakan itu benar maka tidak akan ada perbuatan yang baik atau perbuatan yang tercela, tidak akan ada pelaku kejahatan atau pelaku kebaikan, dan tidak ada hasil kamma. Jika, Yang Mulia, seseorang membunuh Anda maka tidak akan ada pembunuh, dan itu juga berarti bahwa tidak ada mahaguru atau guru dalam Sangha Anda. Anda berkata bahwa Anda disebut Nagasena; sekarang, apakah Nagasena itu? Apakah rambutnya?"

"Saya tidak mengatakan demikian, Raja Yang Agung".

"Kalau begitu, apakah kukunya, giginya, kulitnya atau bagian tubuhnya yang lain?"

"Tentu saja tidak".

"Atau apakah tubuhnya, atau perasaannya, atau pencerapannya, atau bentuk-bentuk pikirannya, atau kesadarannya? Ataukah semua tadi digabungkan? Ataukah sesuatu di luar semua itu tadi yang disebut Nagasena?"

Dan masih saja Nagasena menjawab: "Bukan semuanya itu".

"Kalau begitu Nagasena, kalau boleh saya berkata, saya tidak dapat menemukan Nagasena itu. Nagasena hanyalah omong kosong. Tetapi siapakah yang kami lihat di depan mata ini? Kebohonganlah yang telah dikatakan Yang Mulia".

"Baginda, tuan telah dibesarkan dalam kemewahan sejak dilahirkan. Bagaimanakah tadi Baginda datang kemari, berjalan kaki atau naik kereta?"

"Naik kereta, Yang Mulia".

"Kalau begitu, tolong jelaskan, apakah kereta itu. Apakah porosnya? Apakah rodanya, atau sasisnya, atau kendalinya, atau kuknya yang disebut kereta? Atau gabungan semuanya itu, atau sesuatu di luar semua itu?"

"Bukan semua itu, Yang Mulia".

"Kalau begitu, Baginda, kereta ini hanyalah omong kosong. Baginda berkata dusta ketika berkata datang kemari naik kereta. Baginda adalah raja yang besar di India. Siapa yang Baginda takuti sehingga Baginda berdusta?"

Dan Nagasena kemudian memanggil orang-orang Yunani Bactria dan para bhikkhu untuk menjadi saksi: "Raja Milinda ini telah berkata bahwa beliau datang kemari naik kereta, tetapi ketika ditanya 'Apakah kereta itu?' Beliau tidak dapat menunjukkannya. Dapatkah hal ini diterima?"

Kemudian secara serempak ke-500 orang Yunani Bactria itu bersama-sama berteriak kepada raja, "Jawablah bila Baginda bisa!"

"Yang Mulia, saya telah berkata benar. Karena mempunyai semua bagian itulah maka ia disebut kereta".

"Bagus sekali. Baginda akhirnya sudah dapat menangkap artinya dengan benar. Demikian juga karena ke-32 jenis zat organ materi dalam tubuh manusia dan 5 unsur makhluklah saya disebut Nagasena. Seperti yang telah dikatakan oleh Bhikkhuni Vajira di hadapan Sang Buddha Yang Agung, 'Seperti halnya ada berbagai bagian itu maka kata "kereta" digunakan, demikian juga bila ada unsur-unsur makhluk maka kata "makhluk" digunakan'".

"Sangat indah Nagasena, sungguh luar biasa mengagumkannya penyelesaian teka-teki ini olehmu, meskipun sulit. Seandainya Sang Buddha berada di sinipun Beliau pasti akan menyetujui jawabanmu".


2. "Berapa musim penghujan (masa vassa) yang telah Anda jalani, Nagasena?"

"Tujuh, Baginda".

"Tetapi bagaimana dapat Anda katakan tujuh; apakah Anda yang tujuh atau jumlahnya yang tujuh?"

Lalu Nagasena menjawab, "Bayangan Baginda sekarang ada di tanah. Apakah Baginda rajanya atau bayangan itu rajanya?"

"Sayalah rajanya, Nagasena, tetapi bayangan itu ada karena saya".

"Demikian juga, O Baginda raja. Jumlah tahunnya tujuh, saya tidaklah tujuh. Tetapi karena sayalah angka tujuh itu ada dan menjadi milik saya, sama seperti bayangan itu menjadi milik Baginda".

"Sungguh hebat, Nagasena, dan sangat luar biasa. Dengan baik teka-teki ini telah Anda selesaikan, meskipun sulit".



3. Kemudian raja berkata, "Yang Mulia, maukah Anda berdiskusi dengan saya lagi?"

"Jika Baginda ingin berdiskusi sebagai orang terpelajar, saya mau; tetapi jika Baginda ingin berdiskusi sebagai raja, tidak".

"Bagaimana orang terpelajar berdiskusi?"

"Bila orang terpelajar berdiskusi akan ada kesimpulan, penyelesaian kekusutan; yang salah ditunjukkan kesalahannya dan ia mengakui kesalahannya tanpa marah".

"Dan bagaimana raja berdiskusi?"

"Bila raja mendiskusikan suatu masalah dan beliau mengemukakan suatu pandangan, jika ada yang berbeda pendapat dengan raja maka raja akan menghukum orang itu".

"Baiklah, kalau begitu sebagai orang terpelajarlah saya akan berdiskusi. Silahkan Yang Mulia berkata-kata tanpa rasa takut".

"Dengan senang hati, Bagainda raja".

"Nagasena, saya akan bertanya", kata raja.

"Bertanyalah, Baginda".

"Saya telah bertanya, Yang Mulia".

"Kalau demikian saya telah menjawab".

"Apa yang telah Anda jawab?"

"Apa yang telah Baginda tanyakan?"

Dengan berpikir, "Bhikkhu ini benar-benar seorang terpelajar yang hebat, ia cukup mampu mendiskusikan apapun juga denganku", sang raja menyuruh Devamantiya —menterinya, untuk mengundang Nagasena ke istana bersama dengan para bhikkhu lainnya. Raja lalu pergi dengan bergumam: "Nagasena, Nagasena".


4. Maka Devamantiya, Anantakaya dan Mankura pergi ke pertapaan Nagasena untuk menemani para bhikkhu pergi ke istana. Ketika mereka berjalan menuju ke istana, Anantakaya berkata kepada Nagasena, "Yang Mulia, bila saya mengatakan 'Nagasena', apakah sebenarnya Nagasena itu?"

"Anda pikir apa Nagasena itu?"

"Jiwa, nafas di dalam yang keluar dan masuk".

"Jika nafas itu, setelah keluar, tidak lagi masuk, apakah orang itu masih akan hidup?"

"Tentu saja tidak".

"Tetapi setelah para peniup trompet, misalnya, meniup trompetnya, apakah nafas mereka kembali pada mereka?"

"Tidak Bhante, tidak".

"Kalau begitu kenapa mereka tidak mati?"

"Saya tidak mampu berbantahan dengan Bhante. Tolong jelaskanlah bagaimana".

"Tidak ada jiwa di dalam nafas. Proses menarik dan menghembuskan nafas ini hanyalah tenaga unsur pokok dari kerangka tubuh".

Kemudian Bhiikkhu Nagasena berbicara tentang Abhidhamma dan Anatakaya merasa puas dengan penjelasannya.


5. Kemudian, setelah para bhikkhu tiba di istana dan selesai makan, sang raja duduk di tempat rendah dan bertanya, "Apakah yang harus kita diskusikan?"

"Marilah kita berdiskusi tentang Dhamma".

Dan sang raja berkata, "Apa tujuan Yang Mulia meninggalkan kehidupan duniawi, dan apa tujuan akhir yang ingin dicapai?"

"Kami meninggalkan kehidupan duniawi dengan tujuan agar penderitaan lenyap dan tidak ada penderitaan lain yang muncul; lenyapnya nafsu secara total tanpa bekas adalah tujuan akhir kami".

"Yang Mulia, apakah setiap orang masuk Sangha untuk tujuan yang sangat mulia tersebut?"

"Tidak. Ada yang masuk untuk menghindari kekejaman raja, ada yang agar bebas dari perampok, ada yang untuk menghindari hutangnya, dan ada yang untuk mencari nafkah. Tetapi mereka yang masuk dengan tujuan yang benar melakukan hal itu agar nafsu dapat sepenuhnya terhenti".

6. Sang raja berkata, "Apakah orang yang tidak dilahirkan lagi setelah mati?"

"Ya, ada. Orang yang tidak lagi mempunyai kekotoran batin tidak akan dilahirkan lagi setelah mati; yang masih mempunyai kekotoran batin akan dilahirkan lagi".

"Apakah Anda akan dilahirkan kembali?"

"Jika saya mati dengan membawa kemelekatan dalam pikiran, ya; tetapi kalau tidak, tidak".

7. "Apakah seseorang yang terbebas dari kelahiran kembali melakukannya karena kekuatan panalarannya?"

"Ia bisa terbebas karena penalaran dan juga karena kebijaksanaan, keyakinan nilai-nilai luhur, kewaspadaan, semangat dan konsentrasi".

"Apakah penalaran sama dengan kebijsaksanaan?"

"Tidak. Binatang memiliki penalaran tetapi tidak memiliki kebijaksanaan".


8. "Bhikkhu Nagasena, apakah ciri khas penalaran; dan apakah ciri khas kebijaksanaan?"

"Memegang adalah ciri penalaran, memotong adalah ciri kebijaksanaan".

"Berilah saya ilustrasi".

"Bagaimana petani gandum memanen gandumnya?"

"Mereka memegang batang-batang gandum dengan tangan kirinya, dan dengan sabit di tangan kanannya, mereka memotong gandum tersebut".

"Demikian juga halnya, O Baginda raja. Para pertapa memegang pikirannya dengan panalaran dan memotong kegelapan batin dengan kebijaksanaan".

9. "Bhikkhu Nagasena, apakah ciri khas nilai-nilai luhur (sila)?"

"Menopang, O Baginda. Karena nilai-nilai luhurlah dasar dari semua sifat yang baik, yakni:

a. 5 faktor pengontrol dan 5 kekuatan moral (keyakinan, semangat, kewaspadaan, konsentrasi, dan kebijaksanaan). b. 7 faktor penerangan (kewaspadaan, penyelidikan, semangat, sukacita, ketenangan, konsentrasi dan keseimbangan batin). c. 8 faktor Jalan Tengah Yang Mulia (pandangan, pikiran, perkataan, tindakan, mata pencaharian, usaha, kewaspadaan dan konsentrasi yang benar). d. 4 dasar kewaspadaan (kewaspadaan pada tubuh, perasaan, pikiran, obyek pikiran). e. 4 usaha benar (usaha untuk mencegah dan menghilangkan keadaan yang tidak baik serta usaha untuk mengembangkan dan mempertahankan keadaan yang baik). f. 4 dasar keberhasilan (semangat, energi, keuletan, kebijaksanaan). g. 4 penyerapan (4 tahap keterpusatan atau jhana). h. 8 kebebasan (8 tingkat dalam pelepasan pikiran dengan konsentrasi yang sangat kuat). i. 4 jenis konsentrasi (meditasi untuk cinta kasih, welas asih, sukacita simpati dan keseimbangan, dan j. 8 pencapaian yang agung (4 jhana arupa dan 4 jhana rupa).

Semua sifat yang baik itu mempunyai nilai-nilai luhur sebagai pendukungnya. Dan dalam diri orang yang mengembangkan diri, bila dia menggunakan nilai-nilai luhur sebagai pondasinya, kondisi-kondisi yang baik ini tidak akan berkurang".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya semua bentuk kehidupan hewan dan tumbuhan bergantung pada tanah sebagai pendukungnya, demikian juga seorang pertapa, dengan nilai-nilai luhur sebagai pendukungnya, mengembangkan 5 faktor pengontrol dan sebagainya itu. Dan ini telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Bila seseorang yang bijaksana, yang nilai-nilai luhurnya telah terbentuk kokoh, mengembangkan konsentrasi dan pengertian, maka sebagai bhikkhu yang sangat rajin dan cerdik, ia berhasil menguraikan kekusutan ini'".

10. "Apakah ciri khas dari keyajinan (saddha)?"

"Kejernihan dan inspirasi. Sementara keyakinan muncul di pikiran, cadar 5 kendala (panca nirvarana) tertembus, lalu pikiran menjadi terang, tenang dan tidak terganggu. Dengan demikian keyakinan menjadi jelas. Dan inspirasi adalah tanda ketika sang meditator, karena paham bagaimana pikiran orang lain telah terbebas, kemudian terinspirasi untuk mencapai apa yang masih belum dapat dicapainya, untuk mengalami apa yang masih belum pernah dirasakannya, dan untuk merealisasikan apa yang masih belum dimengertinya. Karena ini telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Dengan keyakinan ia menyeberangi banjir, dengan kewaspadaan duniawi samudera kehidupan, dengan ketetapan hati semua penderitaan ia tenangkan, dengan kebijaksanaan ia dimurnikan'".

11. "Dan apa, Yang Mulia, sifat khas semangat (viriya)?"

"Pengertian, O Baginda. Sehingga semua sifat baik yang ditopang semangat tidak menjadi pudar".

"Berilah saya ilustrasi".

"Sama seperti halnya ketika tentaranya telah dipukul mundur oleh pasukan musuhnya yang lebih besar, seorang raja akan mengingat-ingat siapa sekutu yang bisa diharapkan untuk menguatkan pasukannya sehingga dapat mengalahkan pasukan musuh yang kuat itu. Dengan begitu penguatan adalah ciri semangat. Karena ini telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Seorang murid mulia yang penuh semangat, O bhikkhu, menyingkirkan yang tidak baik dan menanam yang bajik, menghindari yang salah dan mengembangkan yang tidak salah, dengan begitu dia menjaga agar pikirannya murni'".

12. "Nagasena, apakah ciri khas dari kewaspadaan (sati)?"

"Mencatat dan menyimpan dalam pikiran. Sementara kesadaran timbul di dalam pikiran para pertapa, secara berulang-ulang ia mencatat apa yang baik dan apa yang tidak baik, apa yang tidak salah dan apa yang salah, apa yang tidak penting dan apa yang penting, sifat-sifat pikiran yang terang dan gelap dan sebagainya.

Dia akan berpikir, 'Ini adalah 4 dasar kewaspadaan, ini adalah 4 usaha yang benar, ini adalah 4 dasar keberhasilan, ini adalah 5 faktor pengontrol, ini adalah 5 kekuatan moral, ini adalah 7 faktor penerangan, ini adalah 8 faktor Jalan Mulia, ini adalah ketenangan, ini adalah pandangan terang, ini adalah pengetahuan, dan ini adalah kebebasan'.

Dengan demikian ia akan mengembangkan semua sifat yang baik dan menghindari sifat-sifat yang harus dihindari".

"Berilah saya ilustrasi".

"Sama halnya seperti bendahara raja yang mengingatkan tuannya tentang besarnya pasukan raja dan jumlah kekayaan yang ada".

"Bagaimana 'menyimpan dalam ingatan' dapat menjadi tanda kewaspadaan?"

"Sementara kewaspadaan muncul di pikiran, orang akan mencari kategori tentang sifat-sifat yang baik dan sebaliknya. Dia akan berpikir, 'Sifat-sifat yang ini menguntungkan dan yang ini merugikan'. Dengan demikian dia akan membuat apa yang jelek dalam dirinya lenyap serta menyimpan apa yang baik".

"Berilah saya ilustrasi".

"Sama halnya seperti perdana menteri raja yang memberi nasehat tentang tindakan yang benar. Dan ini telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'O, para bhikkhu. Kewaspadaan, saya katakan, sangatlah membantu di manapun'".

13. "Dan apa, Nagasena, ciri khas dari konsentrasi (samadhi)?"

"Menjadi pemimpin, O raja. Semua sifat yang bagus mempunyai konsentrasi sebagai pemimpinnya; sifat-sifat baik mengarah padanya, dan menuju ke situ".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya kalau sebuah rumah yang miring dan menuju ke suatu titik, yaitu titik yang tertinggi dari atap, demikian juga semua sifat yang baik mengarah dan memusat pada konsentrasi. Dan ini telah doisabdakan oleh Sang Buddha:

'Bhikkhu, kembangkanlah konsentrasi, seorang bhikkhu yang terkonsentrasi melihat segala sesuatunya sebagaimana adanya'".

14. "Apa, Nagasena, ciri khas dari kebijaksanaan (pannya)?"

"Penerangan, O Baginda. Ketika kebijaksanaan timbul di dalam pikiran, ia mengusir kegelapan dari kebodohan batin, membuat radiasi pandangan terang timbul, membuat sinar pengetahuan memancar dan membuat Kesunyataan Mulia menjadi jelas. Demikian juga sang meditator mencerap dengan kebijaksanaan yang paling terang: ketidak-kekalan. ketidak-puasan, dan tidak-adanya diri dalam segala bentuk".

"Berilah saya ilustrasi".

"Sama halnya seperti lampu, O Baginda. Yang berada di ruangan yang gelap akan menerangi dan membuat obyek yang ada menjadi jelas terlihat".

15. "Sifat-sifat yag sangat berbeda ini, Nagasena, apakah membuahkan hasil yang sama?"

"Ya, yaitu penghancuran kekotoran batin dalam pikiran. Sama halnya seperti berbagai bagian pasukan tentara seperti gajah, kavaleri, kereta perang dan pemanah membuahkan satu hasil, yaitu penaklukkan tentara musuh".

"Penjelasan yang baik, Nagasena. Anda pandai menjawab".

****
Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar