Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 2

Ringkasan Milinda Panha 2

Bagian Dua

Kelahiran Kembali

1. "Orang yang terlahir kembali, Nagasena. Apakah dia orang yang sama atau berbeda?"

"Bukan yang sama dan bukan berbeda".

"Berilah saya ilustrasi".

"Sama halnya seperti susu yang pertama-tama berubah menjadi dadih, lalu menjadi mentega dan kemudian menjadi ghee; tidak benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega dan dadih tersebut sama dengan susu, tetapi semuanya itu berasal dari susu. Begitu juga tidaklah benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega dan dadih itu sesuatu yang bukan susu".



2. "Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali tahu tentang kenyataan ini?"

"Ya, Baginda".

"Bagaimana ia tahu?"

"Dengan lenyapnya semua yang menjadi penyebab atau kondisi dari kelahiran kembali. Seperti halnya seorang petani yang tidak membajak, menabur atau memanen akan tahu bahwa lumbungnya tidak akan terisi".



3. "Di dalam diri seseorang, Nagasena. Dimana pengetahuan (nyana) telah timbul, apakah kebijaksanaan (pannya) juga timbul?"

"Ya, Baginda".

"Apakah pengetahuan sama dengan kebijaksanaan?"

"Ya, Baginda".

"Kalau begitu, apakah dengan pengetahuan dan kebijaksanaan itu ada kemungkinan ia tidak tahu tentang suatu hal?"

"Ia akan tetap berada dalam ketidak-tahuan tentang hal-hal yang belum dipelajarinya. Akan tetapi mengenai hal yang telah dicapai oleh kebijaksanaan —yaitu pencerapan tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan ketidak-adanya-diri, ia tidak akan tidak tahu".

"Kalau begitu, apa yang terjadi pada pandangan kelirunya tentang hal-hal itu tadi?"

"Pada saat pengetahuan muncul, pandangan salahnya lenyap. Seperti ketika sinar menyala, maka kegelapan pun hilang".

"Tetapi apa yang terjadi pada kebijaksanaannya?"

"Ketika kebijaksanaan telah melakukan tugasnya, ia kemudian lenyap; tetapi pengertiannya tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan tidak-adanya-diri tidak lenyap".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya orang yang ingin menulis surat pada malam hari akan menyalakan lampu dan kemudian menulis surat tersebut. Setelah selesai ia akan memadamkan lampu. Tetapi meskipun lampu telah dipadamkan, suratnya tetap ada".



4. "Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali merasakan kesakitan?"

"Mungkin ia merasakan kesakitan secara fisik, O Baginda. Tetapi bukan kesakitan mental".

"Jika ia merasakan kesakitan fisik, mengapa ia tidak mati saja dan mencapai keadaan lenyapnya kemelekatan, dan menghentikan penderitaan?"

"Para arahat tidak memiliki kesukaan atau kebencian terhadap kehidupan. Ia tidak menggoncangkan pohon agar buahnya yang masih belum matang jatuh, melainkan menanti sehingga buahnya masak. Karena ini dikatakan oleh Bhante Sariputta —murid utama Sang Buddha:

'Bukanlah kematian, atau kelahiran yang saya nantikan; Seperti orang sewaan menanti gaji, saya menantikan waktuku. Bukan kematian dan kelahiran yang saya rindukan, waspada dan dengan jelas mengerti, begitulah saya menantikan waktuku'".



5. "Apakah perasaan yang menyenangkan itu bermanfaat, tidak bermanfaat, atau netral?"

"Mungkin salah satu di antara tiga itu".

"Tetapi, Yang Mulia. Tentunya jika kondisi yang bermanfaat itu tidak menyakitkan, sedangkan yang menyakitkan itu tidak bermanfaat, maka tidak akan mungkin ada keadaan yang bermanfaat yang sekaligus menyakitkan".

"Bagaimana pendapat Baginda jika ada orang yang memegang bola besi panas di tangan kanannya, dan di tangan satunya menggenggam bongkah es, apakah kedua-duanya akan menyakitkan orang itu?"

"Tentu saja".

"Kalau begitu hipotesa Baginda pasti keliru. Jika keduanya tidak sama-sama panas, tetapi rasa panas itu toh menyakitkan, atau jika keduanya tidak sama-sama dingin, tetapi rasa dingin itu toh menyakitkan, maka rasa sakit yang menyerang itu tidak datang dari rasa panas atau dingin".

"Saya tidak mampu berbantahan dengan Anda. Tolong jelaskan".

Kemudian Nagasena mengajar raja tentang Abhidhamma. "Ada 6 rasa senang yang berhubungan dengan kehidupan duniawi dan 6 yang berhubungan dengan kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; 6 kesengsaraan dalam kehidupan duniawi dan 6 dalam kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; dan 6 perasaan netral pada kedua-duanya. Semuanya ada 36. Kemudian ada 36 perasaan pada masa lampau, pada masa kini, dan pada masa yang akan datang. Jadi semuanya ada 108 perasaaan".



6. "Apakah yang terlahir kembali, Nagasena?"

"Badan dan batin".

"Apakah badan dan batin yang ini yang terlahir kembali?"

"Bukan, tetapi oleh karena badan dan batin inilah maka perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itulah maka badan dan batin yang lain terlahir kembali. Walaupun demikian, badan dan batin itu tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan yang lalu".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang. Setelah merasa hangat, mungkin orang itu meninggalkan api dalam keadaan menyala dan pergi. Kemudian, misalnya api tersebut menjalar dan membakar ladang orang lain lalu pemilik kebun itu menangkapnya serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut di depan raja. Bila ia berkata, 'Yang Mulia Baginda. Saya tidak membakar ladang orang ini. Saya tidak bersalah', apakah dia patut dihukum?"

"Tentu saja. Karena tak peduli apapun yang ia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya".

"Demikian juga, O Baginda. Dengan badan dan batin ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka badan dan batin baru terlahir lagi; tetapi badan dan batin tersebut tidak terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya".



7. "Apakah Anda, Nagasena. Akan terlahir kembali?"

"Apa gunanya menanyakan hal itu lagi? Bukankah saya katakan bahwa jika saya mati dengan kemelekatan di pikiran saya, maka saya akan terlahir kembali? Jika tidak, ya tidak".



8. "Anda tadi baru saja menjelaskan tentang badan dan batin. Apakah badan, dan apakah batin itu?"

"Apapun yang kasar adalah materi (badan), apapun yang halus, dan pikiran atau keadaan mental adalah mentalitas (batin)".

"Mengapa badan dan batin ini tidak dilahirkan secara terpisah?"

"Kondisi-kondisi ini saling berhubungan seperti halnya kuning telur dan kulitnya. Keduanya selalu timbul bersama dan karenanya mereka telah berhubungan sejak waktu yang lama sekali".



9. "Nagasena, ketika Anda mengatakan, 'Waktu yang lama sekali', apa artinya waktu itu? Apakah ada hal semacam itu?"

"Waktu berarti masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Bagi beberapa orang, waktu itu ada; bagi orang lain tidak. Dimana ada makhluk yang akan dilahirkan kembali, maka bagi mereka waktu itu ada; dimana ada makhluk yang tidak akan terlahir kembali, bagi mereka waktu itu tidak ada".

"Bagus sekali, Nagasena. Anda pandai menjawab".

****

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar