Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 3

Ringkasan Milinda Panha 3

Bagian Tiga

Permulaan Waktu



1. "Nagasena, apakah akar dari masa yang lalu, masa kini dan masa yang akan datang?"

"Kebodohan batin. Karena kebodohan batin maka terkondisilah bentuk-bentuk pikiran; bentuk-bentuk pikiran mengait kesadaran; karena bentuk-bentuk pikiran inilah maka timbul badan dan batin; karena badan dan batin maka timbullah 6 landasan indera; karena 6 landasan indera maka timbullah kontak; karena kontak maka timbullah perasaan; karena perasaan maka timbullah nafsu keinginan; karena nafsu keinginan maka timbullah kemelekatan; karena kemelekatan maka timbullah dumadi; karena dumadi maka timbullah kelahiran; karena kelahiran maka terkondisilah usia tua, kematian, kesedihan, ratapan, kepedihan, kesengsaraan dan keputus-asaan".



2. "Anda katakan bahwa asal-mula yang pertama dari segala sesuatu adalah tidak jelas. Berilah saya ilustrasi".

"Sang Buddha bersabda:

'Karena adanya landasan indera dan obyek indera maka timbullah kontak; karena adanya kontak, timbul perasaan; karena adanya perasaan, timbul nafsu keinginan; dan karena adanya nafsu keinginan, timbul tindakan (kamma). Lalu dari tindakan ini sekali lagi landasan indera dihasilkan'.

Nah, apakah bisa terdapat akhir dari rangkaian ini?"

"Tidak".

"Demikian juga, O Baginda. Maka asal-mula yang pertama dari segala sesuatunya itu tidak dapat dipahami".



3. "Apakah asal-mula yang pertama dari segala hal itu tidak diketahui?"

"Sebagian dapat diketahui, sebagian lagi tidak".

"Kalau begitu, manakah yang dapat diketahui dan manakah yang tidak?"

"Yang berkenaan dengan kondisi apapun yang mendahului kelahiran ini, bagi kita tampaknya seolah-olah tidak ada pendahulunya. Dalam hal ini maka asal mula pertamanya tidak diketahui. Sedangkan yang berkenaan dengan kondisi apapun yang belum timbul, dan setelah timbul segera menghilang lagi, maka asal-mula pertamanya dapat dikenali".



4. "Apakah ada bentukan-bentukan yang dihasilkan karena proses?"

"Tentu saja, O Baginda. Dimana ada mata dan juga bentuk maka ada penglihatan; dimana ada penglihatan maka ada kontak; dimana ada kontak maka ada perasaan; dimana ada perasaan maka ada nafsu keinginan; dimana ada nafsu keinginan maka ada kemelekatan; dimana ada kemelekatan maka ada dumadi; dan dimana ada dumadi maka ada kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, kesengsaraan, ratapan, kepedihan dan keputus-asaan. Tetapi dimana tidak ada mata dan bentuk maka tidak ada penglihatan; tidak ada kontak; tidak ada perasaan, tidak ada nafsu keinginan, tidak ada kemelekatan, tidak ada dumadi; dan dimana tidak ada dumadi maka tidak akan ada kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, kesengsaraan, kepedihan dan keputus-asaan".



5. "Apakah ada bentukan-bentukan yang tidak dihasilkan karena proses?"

"Tidak ada, O Baginda raja. Karena hanya dengan proses dumadilah mereka dihasilkan".

"Berilah saya ilustrasi".

"Apakah rumah yang Baginda tempati ini dihasilkan dari proses dumadi?"

"Semuanya, tidak ada yang tidak. Kayu ini dahulu berada di hutan, dan tanah liat ini ada di tanah. Hanya melalui usaha para pekerjalah rumah ini terwujud".

"Demikian jugalah, O Baginda. Tidak ada bentukan-bentukan yang tidak dihasilkan karena proses".



6. "Adakah, Nagasena. Sesuatu yang disebut 'Yang Mengetahui (vedagu)'?"

"Apakah itu?"

"Suatu prinsip atau inti yang hidup di dalam diri, yang dapat melihat, mendengar, mencicip, membau, merasakan dan membeda-bedakan segala sesuatu; sama seperti halnya kita yang saat ini duduk dapat melihat keluar lewat jendela manapun yang kita inginkan".

"Jika, O Baginda. Inti yang hidup di dalam diri itu dapat melihat, mendengar, mencicip, membau dan merasai benda-benda seperti yang Baginda katakan, dapat jugakah ia melihat dari telinga dan sebagainya?"

"Tidak, Yang Mulia".

"Kalau demikian, Baginda. Inti yang hidup yang di dalam diri itu tidak dapat menggunakan indera semaunya sendiri seperti kata Baginda. O Baginda, hanya karena adanya mata dan bentuklah maka penglihatan dan kondisi-kondisi lainnya timbul, yaitu: kontak, perasaan, pencerapan, niat, keterpusatan, vitalitas dan perhatian. Semuanya timbul secara sekaligus bersama dengan penyebabnya, dan karena itu 'Yang Mengetahui' tidak dapat ditemukan".



7. "Apakah kesadaran pikiran timbul tiap kali kesadaran mata timbul?"

"Ya, Baginda raja. Bila yang satu ada maka ada juga yang lainnya".

"Yang manakah timbul terlebih dahulu?"

"Pertama kesadaran mata, baru kemudian kesadaran pikiran".

"Apakah kesadaran mata mengeluarkan perintah kepada kesadaran pikiran, atau sebaliknya?"

"Tidak, tidak ada komunikasi di antara keduanya itu".

"Kalau begitu, Nagasena. Mengapa kesadaran pikiran timbul dimanapun ada keadaran mata?"

"Karena, O Baginda. Ada kecenderungan, keterbukaan, kebiasaan dan hubungan".

"Berilah saya ilustrasi".

"Jika kota tapal batas raja memiliki tembok yangkuat tetapi hanya ada satu pintu gerbang, lewat manakah orang yang akan keluar?"

"Melalui gerbang yang sama".

"Apakah orang pertama tadi memerintah orang kedua dengan mengatakan 'Keluarlah dengan cara yang sama denganku', atau apakah orang kedua mengatakan kepada yang pertama, 'Saya akan keluar dengan cara seperti kamu'?"

"Tidak, Yang Mulia. Tidak ada komunikasi di antara mereka berdua".

"Dengan cara seperti itulah kesadaran pikiran timbul dimana ada kesadaran mata, namun tidak ada komunikasi di antara mereka".



8. "Dimana ada kesadaran pikiran, Nagasena. Apakah selalu ada kontak dan perasaan?"

"Ya. Dimana ada kesadaran pikiran, ada kontak dan perasaan. Juga pencerapan, niat, pikiran terapan dan pikiran yang menopang".



9. "Apakah sifat khas dari kontak?"

"Sentuhan".

"Berilah saya ilustrasi".

"Bagaikan dua rusa bertubrukan kepala; mata adalah merupakan rusa yang satu, sedangkan obyek yang kelihatan adalah merupakan rusa yang lainnya. Tubrukan yang terjadi itu adalah kontak".



10. "Apakah sifat khas dari perasaan?"

"Yang dialami, O Baginda, dan dinikmati".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya seseorang yang telah melayani rajanya dan diganjar kedudukan, sesudahnya akan menikmati keuntungan karena jabatannya".



11. "Apakah sifat khas dari pencerapan?"

"Pengenalan, O Baginda raja. Tentang kebiruan, kekuningan atau kemerahan".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya bendahara raja yang mengenali barang-barang milik rajanya dengan cara melihat bentuk dan warnanya".



12. "Apakah sifat khas dari niat?"

"Dikandung, O Baginda, dan dipersiapkan".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya seseorang yang telah menyiapkan racun dan setelah meminumnya ia akan menderita kesakitan, demikian pula seseorang yang telah memikirkan suatu kejahatan dan kemudian melaksanakannya, maka sesudahnya ia akan menderita di neraka".



13. "Apakah sifat khas dari kesadaran?'

"Mengetahui, O Baginda".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya seorang penjaga di alun-alun kota akan mengetahui orang yang datang dan dari mana arah datangnya; begitu pula ketika seseorang melihat suatu obyek, mendengar suatu suara, mencium suatu aroma, mencicipi suatu citarasa, merasakan suatu sentuhan atau mengenali sebuah gagasan; dengan kesadaranlah ia mengetahuinya".



14. "Apakah sifat khas dari pikiran terapan?'

"Memasang, O Baginda".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya seorang tukang kayu memasang kayu yang sudah ditarik dengan sangat cermat ke dalam takik yang lainnya agar pas, demikianlah pemasangan merupakan sifat pikiran terapan".



15. "Apakah sifat khas dari pikiran yang menopang?'

"Memeriksanya berulang-ulang".

"Berilah saya ilustrasi".

"Pikiran terapan itu bagaikan pukulan pada gong; sementara pikiran yang menopang bagaikan gaungnya".



16. "Apakah mungkin dapat memisahkan kondisi-kondisi ini; dengan mengatakan, 'Ini adalah kontak, ini perasaan, ini pencerapan, ini niat, ini kesadaran, ini pikiran terapan, dan ini pikiran yang menopang'?"

"Tidak, Raja yang agung. Itu tidak dapat dilakukan. Jika seseorang menyiapkan sup yang terdiri dari dadih, garam, jahe dan lada, dia tidak dapat mengeluarkan citarasa dadih itu saja dan menunjukkan 'Inilah citarasa dadih' atau mengeluarkan citarasa garam dan mengatakan 'Inilah citarasa garam'. Walaupun demikian semua citarasa itu ada di dalam sup dengan ciri-cirinya sendiri".



17. Lalu Bhikkhu Nagasena bertanya, "Apakah garam, O Baginda, dapat dikenali oleh mata?"

"Ya, Yang Mulia".

"Berhati-hatilah, Baginda, pada apa yang Baginda katakan".

"Kalau begitu, garam dikenali oleh lidah".

"Ya, itu betul".

"Tetapi, Nagasena. Apakah hanya dengan lidah aja setiap garam dapat dikenali?"

"Ya, setiap jenis".

"Kalau demikian, mengapa sapi membawa segerobak penuh garam?"

"Karena tidak mungkin membawa garam itu sendiri. Sebagai contoh, garam juga mempunyai massa, tetapi garam tidak mungkin ditimbang. Orang hanya dapat menimbang massanya".

"Nagasena, sungguh cekatan Anda dalam perdebatan".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
Sunting · Hapus
Ringkasan Milinda Panha 2

Bagian Dua

Kelahiran Kembali



1. "Orang yang terlahir kembali, Nagasena. Apakah dia orang yang sama atau berbeda?"

"Bukan yang sama dan bukan berbeda".

"Berilah saya ilustrasi".

"Sama halnya seperti susu yang pertama-tama berubah menjadi dadih, lalu menjadi mentega dan kemudian menjadi ghee; tidak benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega dan dadih tersebut sama dengan susu, tetapi semuanya itu berasal dari susu. Begitu juga tidaklah benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega dan dadih itu sesuatu yang bukan susu".



2. "Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali tahu tentang kenyataan ini?"

"Ya, Baginda".

"Bagaimana ia tahu?"

"Dengan lenyapnya semua yang menjadi penyebab atau kondisi dari kelahiran kembali. Seperti halnya seorang petani yang tidak membajak, menabur atau memanen akan tahu bahwa lumbungnya tidak akan terisi".



3. "Di dalam diri seseorang, Nagasena. Dimana pengetahuan (nyana) telah timbul, apakah kebijaksanaan (pannya) juga timbul?"

"Ya, Baginda".

"Apakah pengetahuan sama dengan kebijaksanaan?"

"Ya, Baginda".

"Kalau begitu, apakah dengan pengetahuan dan kebijaksanaan itu ada kemungkinan ia tidak tahu tentang suatu hal?"

"Ia akan tetap berada dalam ketidak-tahuan tentang hal-hal yang belum dipelajarinya. Akan tetapi mengenai hal yang telah dicapai oleh kebijaksanaan —yaitu pencerapan tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan ketidak-adanya-diri, ia tidak akan tidak tahu".

"Kalau begitu, apa yang terjadi pada pandangan kelirunya tentang hal-hal itu tadi?"

"Pada saat pengetahuan muncul, pandangan salahnya lenyap. Seperti ketika sinar menyala, maka kegelapan pun hilang".

"Tetapi apa yang terjadi pada kebijaksanaannya?"

"Ketika kebijaksanaan telah melakukan tugasnya, ia kemudian lenyap; tetapi pengertiannya tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan tidak-adanya-diri tidak lenyap".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya orang yang ingin menulis surat pada malam hari akan menyalakan lampu dan kemudian menulis surat tersebut. Setelah selesai ia akan memadamkan lampu. Tetapi meskipun lampu telah dipadamkan, suratnya tetap ada".



4. "Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali merasakan kesakitan?"

"Mungkin ia merasakan kesakitan secara fisik, O Baginda. Tetapi bukan kesakitan mental".

"Jika ia merasakan kesakitan fisik, mengapa ia tidak mati saja dan mencapai keadaan lenyapnya kemelekatan, dan menghentikan penderitaan?"

"Para arahat tidak memiliki kesukaan atau kebencian terhadap kehidupan. Ia tidak menggoncangkan pohon agar buahnya yang masih belum matang jatuh, melainkan menanti sehingga buahnya masak. Karena ini dikatakan oleh Bhante Sariputta —murid utama Sang Buddha:

'Bukanlah kematian, atau kelahiran yang saya nantikan; Seperti orang sewaan menanti gaji, saya menantikan waktuku. Bukan kematian dan kelahiran yang saya rindukan, waspada dan dengan jelas mengerti, begitulah saya menantikan waktuku'".



5. "Apakah perasaan yang menyenangkan itu bermanfaat, tidak bermanfaat, atau netral?"

"Mungkin salah satu di antara tiga itu".

"Tetapi, Yang Mulia. Tentunya jika kondisi yang bermanfaat itu tidak menyakitkan, sedangkan yang menyakitkan itu tidak bermanfaat, maka tidak akan mungkin ada keadaan yang bermanfaat yang sekaligus menyakitkan".

"Bagaimana pendapat Baginda jika ada orang yang memegang bola besi panas di tangan kanannya, dan di tangan satunya menggenggam bongkah es, apakah kedua-duanya akan menyakitkan orang itu?"

"Tentu saja".

"Kalau begitu hipotesa Baginda pasti keliru. Jika keduanya tidak sama-sama panas, tetapi rasa panas itu toh menyakitkan, atau jika keduanya tidak sama-sama dingin, tetapi rasa dingin itu toh menyakitkan, maka rasa sakit yang menyerang itu tidak datang dari rasa panas atau dingin".

"Saya tidak mampu berbantahan dengan Anda. Tolong jelaskan".

Kemudian Nagasena mengajar raja tentang Abhidhamma. "Ada 6 rasa senang yang berhubungan dengan kehidupan duniawi dan 6 yang berhubungan dengan kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; 6 kesengsaraan dalam kehidupan duniawi dan 6 dalam kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; dan 6 perasaan netral pada kedua-duanya. Semuanya ada 36. Kemudian ada 36 perasaan pada masa lampau, pada masa kini, dan pada masa yang akan datang. Jadi semuanya ada 108 perasaaan".



6. "Apakah yang terlahir kembali, Nagasena?"

"Badan dan batin".

"Apakah badan dan batin yang ini yang terlahir kembali?"

"Bukan, tetapi oleh karena badan dan batin inilah maka perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itulah maka badan dan batin yang lain terlahir kembali. Walaupun demikian, badan dan batin itu tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan yang lalu".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang. Setelah merasa hangat, mungkin orang itu meninggalkan api dalam keadaan menyala dan pergi. Kemudian, misalnya api tersebut menjalar dan membakar ladang orang lain lalu pemilik kebun itu menangkapnya serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut di depan raja. Bila ia berkata, 'Yang Mulia Baginda. Saya tidak membakar ladang orang ini. Saya tidak bersalah', apakah dia patut dihukum?"

"Tentu saja. Karena tak peduli apapun yang ia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya".

"Demikian juga, O Baginda. Dengan badan dan batin ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka badan dan batin baru terlahir lagi; tetapi badan dan batin tersebut tidak terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya".



7. "Apakah Anda, Nagasena. Akan terlahir kembali?"

"Apa gunanya menanyakan hal itu lagi? Bukankah saya katakan bahwa jika saya mati dengan kemelekatan di pikiran saya, maka saya akan terlahir kembali? Jika tidak, ya tidak".



8. "Anda tadi baru saja menjelaskan tentang badan dan batin. Apakah badan, dan apakah batin itu?"

"Apapun yang kasar adalah materi (badan), apapun yang halus, dan pikiran atau keadaan mental adalah mentalitas (batin)".

"Mengapa badan dan batin ini tidak dilahirkan secara terpisah?"

"Kondisi-kondisi ini saling berhubungan seperti halnya kuning telur dan kulitnya. Keduanya selalu timbul bersama dan karenanya mereka telah berhubungan sejak waktu yang lama sekali".



9. "Nagasena, ketika Anda mengatakan, 'Waktu yang lama sekali', apa artinya waktu itu? Apakah ada hal semacam itu?"

"Waktu berarti masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Bagi beberapa orang, waktu itu ada; bagi orang lain tidak. Dimana ada makhluk yang akan dilahirkan kembali, maka bagi mereka waktu itu ada; dimana ada makhluk yang tidak akan terlahir kembali, bagi mereka waktu itu tidak ada".

"Bagus sekali, Nagasena. Anda pandai menjawab".

****

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar