Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 4

Ringkasan Milinda Panha 4

Bagian Empat

Landasan Indria



1. "Apakah 5 landasan indria dihasilkan oleh berbagai kamma, atau semuanya berasal hanya dari satu kamma?"

"Dari berbagai kamma, O Baginda".

"Berilah saya ilustrasi".

"Jika kita menanam 5 jenis biji-bijian di ladang, maka hasilnya juga akan 5 macam".



2. "Nagasena, mengapa orang tidak semuanya serupa; ada yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang, ada yang sakit-sakitan dan ada yang sehat, ada yang buruk rupa dan ada yang elok, ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang lahir di keluarga rendah dan ada yang di keluarga terhormat, ada yang tolol dan ada yang bijaksana?"

"Mengapa tidak semua sayuran serupa?"

"Karena berasal dari bibit yang berbeda".

"Demikian juga, O Baginda. Karena berbagai kamma-lah maka makhluk tidak semuanya sama. Karena ini telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Semua makhluk mempunyai kamma sebagai harta kekayaannya sendiri. Semua makhluk adalah pewaris darinya, dilahirkan karenanya, merupakan saudara dari kammanya sendiri, dan mempunyai kamma sebagai pelindungnya; kamma apa yang mereka perbuat itulah yang membedakan mereka ada dalam tingkatan yang tinggi atau rendah'".



3. "Anda katakan bahwa Anda meninggalkan kehidupan duniawi agar supaya penderitaan dapat dilenyapkan dan tidak ada lagi penderitaan yang muncul. Apakah hal ini dihasilkan oleh usaha sebelumnya, ataukah untuk diperjuangkan sekarang ini, saat ini?"

"Usaha sekarang ini berhubungan dengan apa yang masih harus dilakukan, usaha yang dahulu telah menyelesaikan apa yang harus dilakukannya".

"Berilah saya ilustrasi".

"Apakah ketika musuh menyerang baru Baginda memerintahkan para prajurit penjagaan, mendirikan kubu dan mengumpulkan makanan?"

"Tentu saja tidak, Yang Mulia".

"Demikian juga, usaha sekarang ini berurusan dengan apa yang masih harus dilakukan, usaha yang lalu telah menyelesaikan apa yang harus dilakukannya".



4. "Anda katakan bahwa api neraka dalam sekejap dapat menghancurkan batu karang sebesar rumah; tetapi Anda juga mengatakan bahwa makhluk apapun yang terlahir di neraka, meskipun terbakar selama ratusan ribu tahun, mereka tidak akan hancur. Bagaimana saya dapat mempercayai hal ini?"

"Meskipun makanan, tulang dan bahkan batu yang dimakan oleh berbagai makhluk betina dihancurkan di dalam perut mereka, tetapi embrionya tetap tidak hancur. Demikian juga makhluk di neraka tidak dapat hancur karena pengaruh kammanya".



5. "Anda katakan bahwa planet Bumi ini terletak di air, air terletak di udara, dan udara terletak di ruang. Ini juga saya tidak percaya".

Kemudian Bhikkhu Nagasena menerangkan kepada raja tentang daur filter-air yang ditopang oleh tekanan atmosir dan Raja Milinda menjadi yakin.



6. "Apakah berhentinya nafsu itu nibbana?"

"Ya, O Baginda. Semua makhluk yang tolol memanjakan diri dalam kenikmatan indera dan obyeknya; mereka menemukan kesenangan di dalamnya dan melekat padanya. Oleh karena itu mereka terhanyut oleh arus nafsu dan tidak terbebas dari kelahiran dan kematian. Siswa yang bijaksana tidak menyenangi kenikmatan indera dan obyeknya. Dan di dalam dirinya nafsu keinginan berhenti, kemelekatan berhenti, dumadi berhenti, kelahiran berhenti, usia tua, kematian, kesengsaraan, ratapan, penderitaan dan keputus-asaan berhenti dan tidak ada lagi hal itu. Dengan begitu berhentinya nafsu adalah nibbana".



7. "Apakah semua ornag mencapai nibbana?"

"Tidak semuanya, O Baginda. Tetapi siapapun yang bertingkah laku dengan benar, mengetahui apa yang seharusnya diketahui, mencerap apa yang seharusnya dicerap, meninggalkan apa yang seharusnya ditinggalkan, mengembangkan apa yang seharusnya dikembangkan dan menyadari apa yang seharusnya disadari; ia mencapai nibbana".



8. "Dapatkah orang yang belum mencapai nibbana mengetahui bahwa nibbana benar-benar membahagiakan?"

"Ya tentu saja, O Baginda. Seperti halnya orang yang belum pernah merasakan tangan dan kakinya putus dipotong dapat mengetahui betapa sakitnya kondisi itu karena mendengar jeritan kesakitan orang yang kehilangan anggota badannya; demikian juga orang yang belum pernah mencapai nibbana mengetahui betapa membahagiakannya kondisi itu karena mendengar kata-kata yang penuh sukacita dan mereka yang telah mencapainya".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar