Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 5

Ringkasan Milinda Panha 5

Bagian Lima

Sang Buddha

1. "Pernahkah Anda atau gurumu melihat Sang Buddha?"

"Belum, Baginda raja nan agung".

"Kalau begitu Nagasena, tidak ada Buddha!"

"Tetapi apakah Baginda dan ayah Baginda sudah melihat Sungai Uha (induk Sungai Gangga—penerjemah) di Himalaya?"

"Belum, Yang Mulia".

"Kalau begitu, tepatkah kalau dikatakan bahwa Sungai Uha itu tidak ada?"

"Nagasena, Anda sangat cerdik menjawab".



2. "Apakah Sang Buddha tidak ada bandingnya?"

"Ya, Beliau tidak terbandingkan".

"Tetapi bagaimana Anda dapat berkata demikian, jika Anda belum pernah bertemu Beliau?"

"Sama seperti orang yang belum melihat samudra dapat mengetahui betapa luasnya samudra itu karena 5 sungai besar mengalir padanya tetapi permukaannya tidak naik; demikian juga saya tahu betapa tidak terbandingkannya Sang Buddha bila saya memikirkan guru-guru hebat yang telah saya temui, yang hanya merupakan murid Sang Buddha".



3. "Apakah orang lain dapat mengetahui bahwa Sang Buddha tidak ada bandingnya?"

"Ya, tentu saja".

"Bagaimana caranya?"

"Jaman dahulu hidup Tissa Thera, seorang yang ahli dalam tulis-menulis. Bagaimana orang dapat mengetahui tentang beliau?"

"Dari tulisannya".

"Demikian pula halnya, Baginda. Siapapun yang melihat Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha dapat mengetahui betapa tidak terbandingkannya Beliau itu".



4. "Sudahkah kamu, Nagasena, melihat apa kebenaran itu?"

"Kami, para murid, O Baginda, harus mengatur hidup kami sesuai dengan peraturan kebhikkhuan yangtelah diberikan oleh Sang Buddha, (sehingga tidak diperkenankan menceritakan tingkat pencapaian yang telah diperoleh —penerjemah)".



5. "Apakah mungkin ada kelahiran tanpa adanya perpindahan?"

"Ya, mungkin saja. Sama seperti orang dapat menyalakan lampu minyaknya dari nyala lampu minyak yang lain tanpa ada yang berpindah dari satu lampu ke lampu yang lain; atau seperti seorang murid dapat menghafal sebuah syair dari gurunya tanpa syair itu berpindah dari guru ke muridnya".



6. Lalu Milinda bertanya kembali, "Apakah ada sesuatu semacam 'Yang Mengetahui' (vedagu)?"

"Tidak dalam artinya yang sebenar-benarnya".



7. "Apakah ada makhluk yang berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain?"

"Tidak, tidak ada".

"Jika begitu, apakah tidak ada jalan agar terlepas dari hasil perbuatan jahat?"

"Ya, ada jalan keluarnya jikalau mereka tidak dilahirkan kembali, tetapi jika dilahirkan kembali maka tidak akan ada jalan keluar. Proses batin dan badan ini menghasilkan perbuatan baik yang suci maupun yang tidak suci, dan karena kamma tersebut maka proses batin dan badan lainnya terlahir lagi. Karena itulah batin dan badan ini tidak terbebas dari perbuatan jahatnya".

"Berilah saya ilustrasi".

"Jika seorang pencuri mencuri mangga orang lain, apakah ia patut dihukum?"

"Tentu saja".

"Tetapi mangga yang dicurinya bukanlah mangga yang ditanam oleh si pemilik; mengapa ia patut dihukum?"

"Karena mangga yang dicuri itu berasal dari mangga yang ditanam orang itu".

"Demikianlah juga, O Baginda. Proses batin dan badan ini melakukan perbuatan baik yang suci maupun yang tidak suci, dan oleh karena kamma tersebut maka proses batin dan badan lainnya terlahir lagi. Karena itulah maka batin dan badan ini tidak terbebas dari perbuatan jahatnya".



8. "Setelah perbuatan dilakukan oleh satu proses batin dan badan, dimana perbuatan itu berada?"

"Perbuatan tersebut mengikutinya, O Baginda. Seperti bayangan yang tidak pernah pergi. Namun orang tidak dapat menunjukkannya dan mengatakan, 'Perbuatan itu di sini atau di sana', sama seperti buah dari sebatang pohon tidak akan dapat ditunjukkan sebelum buah itu muncul".



9. "Apakah orang yang akan dilahirkan kembali tahu tentang hal ini?"

"Ya, ia tahu. Sama seperti seorang petani yang menanam benih di tanah, setelah melihat bahwa hujan cukup banyak, tahu bahwa panen akan tiba".



10. "Apakah ada orang seperti Sang Buddha?"

"Ya"

"Apakah ia dapat ditunjukkan berada di sini atau di sana?"

"Sang Buddha telah meninggal dunia dan tidak ada yang tersisa untuk membentuk individu lain. Beliau tidak dapat ditunjukkan berada di sini atau di sana, sama seperti nyala api yang telah padam tidak dapat dikatakan berada di sini atau di sana. Tetapi sejarah keberadaannya dapat dikenali dari ajaran yang telah dibabarkan oleh-Nya".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar