Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 6

Ringkasan Milinda Panha 6

Bagian Enam

Kemelekatan



1. "Apakah tubuh ini, Nagasena, berharga bagi para pertapa?"

"Tidak, Raja nan agung".

"Kalau begitu, mengapa para pertapa merawat dan memberi perhatian pada tubuh?"

"Kami merawat dan menjaga tubuh ini sama seperti kalau kita merawat luka. Bukan karena luka itu berharga bagi kita, tetapi hanya supaya daging baru dapat tumbuh kembali. Karena hal ini telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Tubuh ini berbau busuk. Seperti tinja, seperti tempat kakus; Tubuh yang oleh para bijaksana. Dikutuk ini, adalah sumber kesukaan bagi tolol.

Sebuah tumor dimana 9 lubang berdiam. Terbungkus dalam mantel kulit yang berkeringat. Dan meneteskan kotoran pada tiap sisinya; Mencemari udara dengan bau busuk ke mana-mana.

Seandainya saja secara kebetulan harus terjadi. Apa yang tersimpan di dalam jadi keluar. Tentu orang akan membutuhkan cambuk. Untuk mengalahkan dan mengusir anjing dan gagak'. (Visudhimagga 196).



2. "Jika Sang Buddha itu Maha-tahu mengapa Beliau menetapkan peraturan Sangha baru setelah terjadi sesuatu peristiwa?"

"Beliau baru dapat menetapkan peraturan ketika dibutuhkan, sama seperti seorang dokter baru menuliskan resep bagi pasiennya ketika dibutuhkan, walaupun ia telah mengetahui semua obat sebelum suatu penyakit menyerang".



3. "Jika Sang Buddha dimuliakan dengan 32 tanda manusia yang luar biasa, mengapa orang tuanya tidak memilikinya juga?"

"Sama halnya seperti bunga teratai yang terlahir di lumpur dan menjadi sempurna di air tidak menyerupai lumpur dan air, demikian juga Sang Buddha tidak sama dengan orang tuanya".



4. "Apakah Sang Buddha seorang Brahmacari, seorang yang tidak menikah?"

"Ya".

"Kalau begitu ia pengikut Brahma!"

"Meskipun suara gajah sama seperti suara bangau, gajah bukanlah pengikut bangau. Katakan pada saya, Raja nan agung. Apakah seorang Brahma itu mempunyai kecerdasan (buddhi)?"

"Ya".

"Kalau begitu pastilah ia pengikut Sang Buddha!"



5. "Apakah penahbisan bhikkhu itu sesuatu yang baik?"

"Ya".

"Tetapi, apakah Sang Buddha menjalaninya, atau tidak?"

"Raja nan agung, ketika Sang Buddha mencapai Penerangan Sempurna di kaki pohon Bodhi, itulah penahbisan Beliau. Tidak ada penganugerahan penahbisan bagi Beliau dari orang lain seperti yang Beliau berikan kepada murid-muridNya".



6. "Bagi siapakah air mata itu merupakan kesembuhan: baik orang yang menangis karena kematian ibunya, atau bagi orang yang menangis karena cintanya pada kebenaran?"

"Air mata yang pertama, O Baginda, ternoda dan panas oleh kemelekatan, tetapi air mata yang kedua itu tak ternoda serta sejuk. Terdapat penyembuhan dalam kesejukan dan ketenangan, tetapi dalam panas dan nafsu tidak akan mungkin ada penyembuhan".



7. "Apakah perbedaan antara orang yang dipenuhi kemelekatan dengan orang yang telah terbebas dari kemelekatan?"

"Yang pertama diperbudak, O Baginda. Sedangkan yang kedua tidak".

"Apa artinya?"

"Yang pertama dipenuhi keinginan, sedang yang kedua tidak".

"Tetapi kedua-duanya menyukai makanan yang enak, dan kedua-duanya tidak suka makanan yang tidak enak".

"Orang yang melekat, O Baginda, memakan makanannya dengan merasakan baik citarasanya maupun kemelekatan pada citarasa itu, tetapi orang yang tidak melekat merasakan hanya citarasa makanan itu dan tidak merasakan kemelekatan yang timbul dari citarasa makanan tersebut".



8. "Di manakah kebijaksanaan bertempat tinggal?"

"Tidak di manapun, O Baginda raja".

"Kalau begitu kebijaksanaan itu tidak ada".

"Di manakah angin bertempat tinggal?"

"Tidak di manapun".

"Kalau begitu angin itu tidak ada!"

"Anda sangat cerdik dalam menjawab, Nagasena".



9. "Apa yang dimaksud dengan lingkaran kelahiran kembali (samsara)?"

"Siapapun yang dilahirkan di sini, mati di sini dan dilahirkan di tempat lain. Setelah dilahirkan di sana, mereka mati dan dilahirkan di tempat lain".



10. "Dengan apakah kita mengingat perbuatan yang telah dilakukan di masa yang lalu?"

"Dengan ingatan (sati)".

"Apakah bukan dengan pikiran (citta) kita mengingat kembali?"

"Apakah Baginda raja ingat sesuatu urusan yang pernah Baginda lakukan tetapi kemudian terlupakan?"

"Ya".

"Apakah waktu itu Baginda tanpa pikiran?"

"Tidak. Tetapi ingatan saya yang tak mampu".

"Kalau begitu mengapa Baginda katakan bahwa dengan pikiran kita mengingat kembali?'



11. "Apakah ingatan selalu timbul dengan sendirinya, atau dipengaruhi oleh saran dari luar?"

"Kedua-duanya, O Baginda raja".

"Tetapi apakah bukan berarti bahwa pada dasarnya semua ingatan itu bersifat subyektif?"

"Jika, O Baginda. Tidak ada bagian ingatan yang ditanamkan maka orang tidak perlu berlatih atau bersekolah, dan guru tidak akan ada gunanya. Tetapi keadaan sebaliknyalah yangterjadi".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar