Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Untuk Apa Kekayaan Itu? : Bhikkhu Abhayanando

Untuk Apa Kekayaan Itu?



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Santuṭṭhī Paramaṁ Dhanaṁ

Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga


(Dhammapada XV: 8)

Suatu hari di sebuah kampung ada rumah yang terbakar. Pemilik rumah tersebut adalah orang yang kaya raya. Walaupun orang tersebut kaya, tetapi tidak memiliki kepedulian kepada orang yang membutuhkan, bahkan untuk dirinya sendiri sangat kikir.

Pada saat terjadi kebakaran, ia sibuk mengumpulkan hartanya. Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri, padahal yang ia lakukan sangat membahayakan dirinya karena api semakin membesar.
Ia tidak peduli teriakan banyak orang. Teriakan itu dianggap sebagai angin lalu. Ia tetap mengumpulkan barang-barang yang menjadi miliknya. Ia berpikir, “Kalau hartaku terbakar, maka aku tidak memiliki apa-apa lagi.”

Karena kecerobohan orang tersebut, akhirnya ia harus terbakar bersama kekayaannya. Orang tersebut mati sia-sia hanya karena mempertahankan kekayaan miliknya. Seharusnya itu tidak terjadi kalau orang tersebut mempunyai pemahaman terhadap arti dari kekayaan itu sendiri.

Tindakan itu tentu bukanlah tindakan bijak. Namun terkadang banyak orang terjebak dengan tindakan seperti itu. Materi dianggap sesuatu yang nilainya paling tinggi. Materi dianggap sebagai satu-satunya kebahagiaan dalam dunia ini. Mereka tidak menyadari, bahwa materi hanyalah sarana untuk menunjang kehidupan dan untuk memperbaiki kualitas hidup.

”Kepuasan adalah kekayaan yang paling tinggi”, kata Buddha. Kebanyakan orang tidak memiliki rasa puas. Segala sesuatu yang sudah didapatkan tidak pernah disyukuri. Kepuasan sulit muncul, yang muncul adalah ketidakpuasan, padahal ketidakpuasan akan membuat seseorang jauh dari kebahagiaan. Inilah yang dinamakan kebodohan. Kebodohan, ketamakan membutakan mereka sehingga menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang lebih dibandingkan dengan kekayaan mental.

Mengapa bisa terjadi seperti itu? Budaya meterialistis melanda kehidupan ini. Materi menjadi ukuran kehidupan. Materi boleh dicari dan dimiliki, hanya saja harus diimbangi dengan pengertian yang benar. Jangan melekati materi karena akan menjerumuskan diri sendiri. Ingat! Kekayaan bukan satu-satunya kebahagiaan di kehidupan ini. Materi hanyalah salah satu dari berbagai kebahagiaan yang ada dalam kehidupan ini. Ia sifatnya semu dan bisa berubah setiap saat.

Kekayaan dapat membuat seseorang merasa bahagia. Pernyataan itu tidak bisa dipungkiri. Kekayaan akan membuat seseorang bahagia jika digunakan secara benar, tetapi akan terjadi sebaliknya jika kekayaan tersebut tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Jika digunakan secara tidak benar, maka akan membuat orang tersebut merosot.

Sang Buddha memberikan cara untuk mengumpulkan kekayaan. Di samping mengajarkan bagaimana mengumpulkan kekayaan, Sang Buddha juga mengajarkan bagaimana menjaga kekayaan dan bagaimana supaya kekayaan tersebut membawa kebahagiaan bagi pemiliknya. Dhamma tidak anti kekayaan, hanya saja Dhamma merupakan dasar bagaimana mengumpulkan kekayaan dan menggunakan kekayaan dengan benar.

Kekayaan yang kita miliki seharusnya dipergunakan secara baik dan benar. Sang Buddha telah memberi cara mempergunakan kekayaan secara benar. Di samping untuk kepentingan diri sendiri, seharusnya kekayaan juga digunakan untuk kepentingan orang lain, bahkan semua makhluk. Dengan demikian bukan kita saja yang menikmati materi, tetapi orang lain pun juga merasakan kebahagiaan yang juga kita rasakan.

Sang Buddha telah memberikan cara mengatur kekayaan yang diperoleh. Cara mengatur kekayaan tersebut terdapat dalam Sigalovāda Sutta, sebagai berikut:
”Ekena bhoge bhuñjeyya, dvīhi kammaṁ payojaye; catutthañca idhāpeyya, āpadāsu bhavissatī’ti” “Satu bagian untuk dinikmati, dua bagian untuk ditanamkan dalam modalnya, bagian keempat disimpan untuk menghadapi masa depan yang sulit”

Kekayaan bukan sesuatu yang kotor. Dhamma tidak anti kekayaan. Dhamma selalu mengingatkan pada semua orang untuk memahami makna yang sebenarnya dari kekayaan yang dimiliki. Kekayaan seharusnya dipergunakan dengan benar dan bukan untuk kepentingan pribadi. Kekayaan seharusnya dapat membawa pemiliknya merasa bahagia, demikian pula orang lain, dan bahkan semua makhluk juga bisa merasakan hal yang sama.

Selamat bekerja dan berjuang! Semoga kebahagiaan menjadi milik kita semua untuk selama-lamanya.
(14 Oktober 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar